Minggu, 08 Mei 2011

KUNCI MENGATASI KRISIS BANGSA

KUNCI MENGATASI KRISIS BANGSA
Allahu Akbar 3X
Kaum Muslimin Jamaah Shalat Idul Adha Yang Dimuliakan Allah.
Dua bulan sepuluh hari yang lalu, kita merayakan kemenangan dalam melawan godaan syaitan selama bulan Ramadhan dengan takbir, tahlil dan tahmid serta shalat Idul Fitri 1420 H. Hari ini bersamaan dengan sekitar tiga sampai empat juta jamaah haji dari seluruh dunia yang sedang menyelesaikan rangkaian ibadah haji di Tanah suci, kita berkumpul di tempat ini dalam pelaksanaan shalat Idul Adha yang disebut juga dengan hari raya kurban, karena setelah shalat ini hingga tanggal 13 Zulhijjah mendatang, kaum muslimin yang memiliki kemampuan materi amat ditekankan untuk berkurban dengan menyembelih hewan kurban sebagai simbol dari semangat dan kemauan untuk berkorban di jalan Allah Subhanahu wa ta’aala. Manakala seorang muslim memiliki kemampuan untuk berkurban, tapi ternyata dia tidak mau berkurban, Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wa sallam menyatakan tidak pantas dirinya berada di masjid Allah, hal ini terdapat dalam satu haditsnya:
Barangsiapa yang memiliki kemampuan untuk berkurban, tapi tidak dilakukannya, janganlah dia mendekati tempat shalat kami (HR. Ibnu Majah dan Hakim dari Abu Hurairah).Dua peristiwa penting Idul Fitri dan Idul Adha yang berjarak sekitar 70 hari itu memberikan isyarat kepada kita bahwa orang-orang yang mau berkorban dengan segala potensi yang dimilikinya untuk memperbaiki kondisi umat Islam pada khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya adalah orang-orang yang kembali kepada fitrah dan memiliki kesucian jiwa. Tanpa jiwa yang fitrah itu, pengorbanan hanya ada dalam kata-kata, bahkan menggerogoti nilai-nilai pengorbanan yang telah dilakukan orang lain, serta pengorbanan yang dilakukan dirinya sendiri.
Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Kaum Muslimin Rahimakumullah.
Dalam kesempatan khutbah yang singkat ini, ada dua pembicaraan yang tidak bisa kita abaikan begitu saja dalam momentum Idul Adha, yakni masalah pengorbanan dan ibadah haji yang sedang ditunaikan umat Islam di Tanah suci. Dua masalah ini tidak mungkin dilepaskan dari pembicaraan tentang Nabi Ibrahim alahis salam, Ismail alahis salam dan Siti Hajar. Karena itu ibadah haji merupakan rekonstruksi dari perjalanan hidup keluarga Nabi Ibrahim yang amat mengagumkan sehingga kita harus mengambil keteladanan yang sebesar-besarnya, Allah berfirman:
Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia (QS 60:4).Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.
PENGORBANAN DAN PERBAIKAN UMAT.
Dalam dunia apapun, pengorbanan amat diperlukan. Jangankan di jalan yang haq, di jalan yang bathil orang-orang kafirpun berkorban, termasuk dengan harta yang mereka miliki, Allah berfirman:
Sesungguhnya orang-orang kafir itu menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah (QS 8:36).Berkorban adalah mengeluarkan dan menyerahkan apa yang kita miliki meskipun sebenarnya amat kita butuhkan, namun karena hal itu diperlukan oleh orang lain, maka meskipun kita menyenangi dan membutuhkannya kita serahkan hal itu pada orang lain untuk dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Karena itu, untuk memperbaiki krisis bangsa, kebijakan pertama yang dilakukan Umar bin Abdul Aziz ketika diangkat menjadi khalifah adalah menyangkut pengorbanan bagi dirinya, yakni dengan menyerahkan harta yang dimilikinya kepada negara dalam hal ini baitul maal, bandingkan dengan pemimpin pada zaman sekarang yang justeru mengutamakan kienaikan gaji daripada berkorban.
Dengan demikian berkorban di jalan Allah adalah memberikan sesuatu yang sebenarnya kita butuhkan untuk digunakan di jalan Allah, bukan memberikan sesuatu yang memang sudah tidak kita perlukan lagi, atau mengorbankan sesuatu yang bersifat sisa, waktu sisa, tenaga sisa, dana sisa dan sebagainya.
Kondisi umat Islam khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya masih berada dalam krisis yang berkepanjangan, krisis ini sebenarnya bukan krisis ekonomi, apalagi krisis politik, krisis ekonomi hanyalah ekses dari krisis yang sesungguhnya, yakni krisis moral atau krisis akhlak dan krisis akhlak itu sendiri berawal dari krisis iman atau krisis aqidah. Untuk bisa mengatasi krisis, diperlukan pengorbanan yang sebesar-besarnya. Namun dalam hidup ini, kita temukan begitu banyak orang yang tidak mau berkorban. Yang perlu kita ketahui dan kita hindari adalah apa yang menjadi sebab sehingga seseorang tidak mau berkorban. Sekurang-kurangnya ada dua sebab penting mengapa seseorang tidak mau berkorban. Pertama, terlalu cinta pada dunia sehingga kecintaannya kepada diri, anak, isteri, suami, harta sama dengan kecintaannya kepada Allah, bahkan melebihi dari kecintaannya kepada Allah, padahal bagi seorang mu’min sejati, tidak boleh kecintaannya kepada yang lain menyamakan kecintaannya kepada Allah apalagi kalau melebihi, Allah berfirman:
Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang yang beriman, amat sangat cintanya kepada Allah (QS 2:165).Sebab kedua mengapa orang tidak mau berkorban adalah karena memiliki rasa takut yang mendominasi jiwanya sehingga takutnya lebih besar daripada beraninya, orang seperti ini adalah orang yang takut mati, takut kehilangan popularitas, takut miskin, takut kehilangan jabatan dan ketakutan-ketakutan lainnya, bagi orang yang betul-betul beriman, dia tidak akan didominasi oleh rasa takut, bahkan seandainya resiko betul-betul menimpa dirinya, maka dia tidak akan berduka cita, tidak akan menyesal atas hal-hal yang tidak menyenangkan yang menimpa dirinya, Allah berfirman:
Sesungguhnya orang yang mengatakan: "Tuhan kami adalah Allah" kemudian mereka istiqamah, maka tidak akan ada rasa takut dan tidak berduka cita (QS 46:13).Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Kaum Muslimin Yang Berbahagia.
HAJI MEMENUHI PANGGILAN ILAHI
Haji adalah memenuhi panggilan Allah, namun esensi yang sesungguhnya bukanlah semata-mata memenuhi panggilan untuk berkunjung ke Baitullah Makkah guna melaksanakan serangkaian pelaksanaan ibadah haji, tapi ada makna-makna tertentu karena haji itu sendiri mengandung makna-makna simbolik yang harus dipahami dengan baik sehingga pengaruh poisitifnya bisa diwujudkan hingga seorang haji mencapai ketundukan saat kembali kepada Allah yang sesungguhnya, yakni kematian, itulah diantara maksud mengapa ibadah haji diwajibkan hanya sekali dalam seumur hidup manusia.
Sekurang-kurangnya, ada lima makna memenuhi panggilan yang harus ditunjukkan oleh seorang haji sesudah peklasanaan hajinya. Pertama adalah panggilan untuk terikat kepada ketentuan Allah sehingga apabila Allah menyeru kepada orang yang beriman untuk menjalani kehidupan sebagaimana yang telah disyari’atkan-Nya, maka jawaban yang dilontarkannya adalah sami’na wa atha’na (kami dengar dan kami taati), itu sebabnya selama menunaikan ibadah haji, para jamaah dididik untuk menuruti dan melaksanakan apa saja yang diperintah datidak mempersoalkannya s, tawaf dilaksanakan, sa’i dilaksanakan, wuquf di Arafah dilaksanakan, melontar dilaksanakan dan begitulah seterusnya, kesiapan untuk berhukum pada hukum Allah ini tergambar dalam firman Allah:
Sesungguhnya jawaban orang yang beriman bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) diantara mereka ialah ucapan: "kami mendengar, dan kami patuh", Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung (QS 24:51).Kedua
Makna panggilan ketiga yang bisa kita tangkap dari ibadah haji adalah panggilan untuk memiliki semangat berjamaah dan bersatu padu, hal ini karena ibadah haji telah mendidik para hujjaj untuk memiliki kebersamaan dan persatuan sebagaimana yang telah dilambangkan dengan pakaian ihram yang sama, tak berjahit dan berwarna putih, ibadah di tempat yang sama dengan gerakan yang sama, bahkan kebersamaan ini tidak hanya dilatih dari para hujjaj yang menunaikan haji di Tanah suci, tapi juga kita yang berada di negeri-negeri lain, misalnya kita berpuasa kemarin pada hari Arafah, penyembelihan hewan qurban hingga hari tasrik nanti yang kesemua itu terkait erat dengan pelasanaan ibadah haji. Dalam kondisi masyarakat dan bangsa yang masih memprihatinkan, amat diperlukan kuatnya ukhuwah dan persatuan dikalangan umat Islam yang menjadi mayoritas dari bangsa Indonesia. Dalam skala kecil sudah saatnya masjid-masjid kita membangun jaringan hubungan dan kekuatan antar masjid sehingga manakala kepengurusan masjid solid, antar masjid yang satu dengan yang lainnya terjalin hubungan kerjasama yang harmonis, akan sangat banyak persoalan-persoalan umat yang bisa diatasi. Oleh karena itu, kita patut prihatin kalau masjid belum berfungsi sebagaimana Rasulullah dengan para sahabatnya telah memfungsikan masjid sebagai pusat pembinaan dan pengembangan umat. Selanjutnya dalam skala yang lebih besar kita berharap dalam masalah-masalah politik umat Islam juga bisa bersatu padu, kalau belum bisa bersatu dalam wujud satu partai, paling tidak dalam satu visi dan misi untuk sama-sama berjuang menjadikan dunia politik untuk kepentingan tegaknya nilai-nilai Islam bukan Islam untuk kepentingan politik. Keharusan kita untuk bersatu padu dalam perjuangan menegakkan agama Allah ini akan membuat Allah cinta kepada kita semua, dan kalau Allah sudah mencintai kita tak mungkin persoalan-persoalan umat yang kita hadapi tidak kita temukan jalan keluar untuk mengatasinya, Allah berfirman:
Sesungguhnya Allah mencintai orang yang berjuang di jalan-Nya dalam suatu barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh (QS 61:4).Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Jamaah Shalat Id Rahimakumullah.
Keempat
Maka tatkala anak itu sampai (baligh) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka fikirkanlah apa pendapatmu". Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu ; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar" (QS 37:102).Keteladanan lain yang bisa kita peroleh dari keluarga Nabi Ibrahim as adalah betapa tangguhnya mereka dalam menghadapi godaan-godaan syaitan sehingga berbagai manuver syaitan untuk menyesatkannya berhasil dihalau, bahkan betul-betul diperangi yang dalam ibadah haji dilambangkan dengan melontar jumrah. Melawan dan menghalau godaan syaitan memang perkara yang berat, karena itu pengalaman para hujjaj menunjukkan bahwa dalam seluruh rangkaian ibadah haji, melontar jumrah merupakan yang paling berat, bahkan tidak sedikit jamaah haji yang meninggal dunia pada saat suasana melontar ini. Oleh karena itu, terhadap syaitan yang merupakan musuh abadi, kita harus betul-betul siap untuk selalu berperang 24 jam setiap harinya manakala kita ingin menjadi muslim yang sejati, Allah berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan, sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu (QS 2:208).Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Kaum Muslimin Yang Dimuliakan Allah.
Kelima
Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan berserah diri (QS 3:102).Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Sidang Shalat Id Rahimakumullah.
Akhirnya menjadi jelas bagi kita bahwa apabila hikmah haji dan kurban bisa kita tangkap seluas-luas dan sebanyak-banyaknya, akan memberikan pengaruh yang sangat positif bagi upaya perbaikan kondisi umat Islam pada khususnya dan bangsa Indonesia ada umumnya, karena itu momen-momen penting seperti ini harus kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk mengambil ibroh atau pelajaran dan hikmah yang sebesar-besarnya.
Untuk mengakhiri ibadah shalat Idul Adha kita pagi ini, marilah kita sama-sama berdo’a.
atau yang terakhir yang ingin kita bahas dalam kesempatan khutbah yang singkat ini tentang makna panggilan haji adalah panggilan untuk menghadap Allah dalam arti mati, hal ini karena seorang haji memang dilatih untuk meninggalkan harta, pekerjaan, kampung halaman dan keluarganya untuk menghadap Allah, bahkan pakaian yang dikenakannya adalah kain ihram yang berwarna putih dan tak berjahit, seperti pakaian yang akan dikenakannya saat hendak dikuburkan setelah kematiannya atau disebut juga dengan kain kafan. Oleh karena itu, seorang haji mestinya sudah lebih siap untuk menghadapi kematian, namun karena kematian itu tidak hanya menimpa kepada seorang yang sudah haji saja, maka setiap muslim berarti harus selalu siap menghadapi kematian, siap dengan iman, taqwa dan amal shaleh yang sebanyak-banyaknya, hal ini karena mati bukanlah akhir dari segalanya, tapi mati justeru awal dari kehidupan yang baru yakni kehidupan akhirat yang merupakan pertanggung jawaban dan hasil dari kehidupan kita di dunia ini. Karena itu tidak terlalu penting, kapan seseorang akan mencapai kematian, sudah haji atau belum kecuali bagi yang memang sudah mampu, tapi yang penting adalah apakah pada saat kematian itu kita berada dalam ketundukan kepada Allah atau tidak. Karena harapan Allah kita mati selalu dalam ketundukan kepada-Nya, itu berarti 24 jam setiap harinya kita harus selalu berada dalam ketundukan kepada Allah, karena kematian itu bisa datang kepada kita kapan saja, Allah berfirman:
yang merupakan makna dari memenuhi panggilan dalam ibadah haji adalah panggilan untuk meneladani generasi yang shaleh, yakni Nabi Ibrahim, Ismail dan Siti Hajar. Mereka adalah orang-orang yang memiliki kepekaan dan ketajaman jiwa yang luar biasa sehingga hanya dengan mimpi, Nabi Ibrahim menangkap isyarat bahwa dia mendapat perintah Allah untuk menyembelih anaknya Ismail. Sementara Ismail hanya dengan ayahnya bercerita bahwa dia mimpi menyembelih Ismail, hal itu ditangkap sebagai suatu isyarat bahwa mimpi itu merupakan perintah Allah, hal ini tergambar dalam firman Allah yang menceritakan persoalan ini:
yang merupakan makna panggilan bagi seorang haji adalah untuk berkorban di jalan Allah, hal ini karena ibadah haji memang ibadah yang menuntut adanya pengorbanan, takibadah ini bisa terlaksana kecuali dengan adanya pengorbanan, baik harta, jiwa, tenaga, waktu hingga perasaan dan pikiran. Oleh karena itu seorang haji semestinya selalu terpanggil untuk berkorban guna mencapai syiar dan tegaknya nilai-nilai Islam serta mengatasi persoalan-persoalan umat yang begitu banyak; ada persoalan umat Islam di Ambon dan Maluku yang menuntut perhatian kita yang begitu besar, karena hingga hari ini konflik di sana bukan hanya belum berhenti tapi malah semakin parah dan telah terjadi perang terbuka yang semakin sulit untuk dihentikan meskipun sorotan media sudah berkurang sehingga kita menganggap kasus Maluku dan Ambon telah berakhir. Seandainya konflik itu sudah berakhir, tetap saja trauma dan penderitaan saudara kita kaum muslimin di sana masih menjadi pekerjaan yang amat besar, belum lagi dengan persoalan-persoalan masyarakat muslim akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan.

Tidak ada komentar: