iklan keren

Senin, 09 Mei 2011

PERSIAPAN MENGHADAPI BULAN RAMADHAN

PERSIAPAN  MENGHADAPI  BULAN  RAMADHAN

I.      BULAN RAMADHAN
Bulan Ramadhan yang insya Allah sebentar lagi akan kita masuki, adalah bulan yang sangat mulia, bulan tarbiyah (pembinaan) untuk mencapai derajat yang paling tinggi, paling mulia: derajat taqwa.
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa.” (QS Al Baqarah: 183).
Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu adalah yang paling bertaqwa.(QS Al Hujurat: 13).
Predikat taqwa ini tidak mudah untuk diperoleh. Ia baru akan diperoleh manakala seseorang melakukan persiapan yang cukup, dan mengisi bulan Ramadhan itu dengan berbagai kegiatan yang baik dan mensikapinya dengan benar.

II.     MINIMAL ADA TIGA HAL YANG PERLU DIPERSIAPKAN
Minimal ada tiga hal yang perlu dipersiapkan dalam menyongsong bulan Ramadhan yang penuh berkah itu:

a.        Persiapan Ruh dan Jasad.
Dengan cara mengkondisikan diri agar pada bulan Sya'ban (bulan sebelum Ramadhan) kita telah terbiasa dengan berpuasa. Sehingga kondisi ruhiyah imaniyah meningkat, dan tubuh sudah terlatih berpuasa Dengan kondisi seperti ini, maka ketika kita memasuki bulan Ramadhan, kondisi ruh dan iman telah membaik, yang selanjutnya dapat langsung menyambut bulanRamadhan yang mulia ini dengan amal dan kegiatan yang dianjurkan. Di sisi lain, tidak akan terjadi lagi gejolak phisik dan proses penyesuaian yang kadang-kadang dirasakan oleh orang-orang yang pertama kali berpuasa,
seperti: lemah badan, demam atau panas dingin dan sebagainya.
Rasulullah saw menganjurkan kepada kita agar kita memperbanyak puasa sunnah pada bulan Sya'ban ini dengan cara memberikan contoh langsung dan aplikatif. 'Aisyah Radhiyallahu 'anha berkata: "Rasulullah saw berpuasa, sampai-sampai kami mengiranya tidak pernah meninggalkannya".
Demikian dalam riwayat Bukhari dan Muslim. Dalam riwayat lain dikatakan  bahwa:
"Beliau melakukan puasa sunnah bulan Sya'ban sebulan penuh, beliau sambung bulan itu dengan Ramadhan". (Hadits shahih diriwayatkan oleh para ulama' hadits, lihat Riyadhush-Shalihin, Fathul Bari, Sunan At-Tirmidzi dan lain-lain).
Anjuran tersebut dikuatkan lagi dengan menyebutkan keutamaan bulan Sya'ban.
Usamah bin Zaid pernah bertanya kepada Rasulullah saw. Katanya: "Ya Rasulullah, saya tidak melihat engkau berpuasa pada bulan-bulan yang lain sebanyak puasa di bulan Sya'ban ini? Beliau saw menjawab: "Itulah bulan yang  dilupakan orang, antara Rajab dan Ramadhan, bulan ditingkatkannya amal perbuatan kepada Allah swt Rabbul 'Alamin. Dan aku ingin amalku diangkat sedang aku dalam keadaan berpuasa". (HR An-Nasa-i).

b.       Persiapan Materi.
Bulan Ramadhan merupakan bulan muwaasah (bulan santunan). Sangat dianjurkan memberi santunan kepada orang lain, betapapun kecilnya. Pahala yang sangat besar akan didapat oleh orang yang tidak punya, manakala ia memberi kepada orang lain yang berpuasa, sekalipun Cuma sebuah kurma, seteguk air atau sesendok mentega.
Rasulullah saw pada bulan Ramadhan ini sangat dermawan, sangat pemurah.Digambarkan bahwa sentuhan kebaikan dan santunan Rasulullah saw kepada masyarakat sampai merata, lebih merata ketimbang sentuhan angin terhadap benda-benda di sekitarnya.Hal ini sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Abbas RadhiyaLlahu 'anhu:
"Sungguh, Rasulullah saw saat bertemu dengan malaikat Jibril, lebih derma dari pada angin yang dilepaskan". (HR Muttafaqun 'alaih).
Santunan dan sikap ini sudah barang tentu tidak dapat dilakukan dengan baik kecuali manakala jauh sebelum Ramadhan telah ada persiapan-persiapan materi yang memadai.

c.        Persiapan Fikri (Persepsi).
Minimal persiapan fikri ini meliputi dua hal, yaitu:
1.        Mempunyai persepsi yang utuh tentang Ramadhan dan keutamaan bulan Ramadhan.
2.   Dapat memanfaatkan dan mengisi bulan Ramadhan dengan kegiatan-kegiatan yang secara logis dan konkrit mengantarkannya untuk mencapai ketaqwaan.

III.    KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN
a.         Bulan Tarbiyah (pembinaan) untuk mencapai derajat taqwa.
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa.” (QS Al Baqarah: 183).


b.        Bulan diturunkannya Al Qur'an.
“Bulan Ramadhan, yang pada bulan itu Al Qur'an diturunkan sebagai petunjuk buat manusia dan penjelasan tentang petunjuk itu, dan sebagai pemisah (yang haq dan yang batil).” (QS Al Baqarah: 185).
c.         Bulan yang paling utama, bulan penuh berkah.
Bulan yang paling utama adalah bulan Ramadhan, dan hari yang paling utama adalah hari Jum'at (HR At-Thabarani)[1].
Dari Ubadah bin Ash-Shamit, bahwa Rasulullah saw -pada suatu hari, ketika Ramadhan telah tiba- bersabda: Ramadhan telah datang kepada kalian, bulan yang penuh berkah, pada bulan itu Allah swt memberikan naungan-Nya kepada kalian. Dia turunkan Rahmat-Nya, Dia hapuskan kesalahan-kesalahan, dan Dia kabulkan do'a. pada bulan itu Allah swt akan melihat kalian berpacu melakukan kebaikan. Para malaikat berbangga dengan kalian, dan perlihatkanlah kebaikan diri kalian kepada Allah. Sesungguhnya orang yang celaka adalah orang yang pada bulan itu tidak mendapat Rahmat Allah swt". (HR Ath-Thabarani)[2].
d.         Bulan ampunan dosa, bulan peluang emas melakukan ketaatan.
Rasulullah saw bersabda:
Shalat lima waktu, dari Jum'at ke Jum'at, dari Ramadhan ke Ramadhan, dapat menghapuskan dosa-dosa, apabila dosa-dosa besar dihindari. (HR Muslim).
Barang siapa yang melakukan ibadah di malam hari bulan Ramadhan, karena iman dan mengharapkan ridha Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu diampuni. (Muttafaqun 'alaih).
Apabila Ramadhan datang, maka pintu-pintu syurga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan syaithon-syaithon dibelenggu. (Muttafqun 'alaih).
e.         Bulan dilipat gandakannya amal shaleh.
Rabb-Mu berkata: "Setiap perbuatan baik dilipat gandakan pahalanya sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat, kecuali puasa, puasa itu untuk-Ku, dan Akulah yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai yang melindungi dari api neraka. Bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah lebih wangi dari pada parfum misik. Apabila orang bodoh berlaku jahil kepada seseorang diantara kamu yang tengah berpuasa, hendaknya ia katakan: "Aku sedang berpuasa, aku sedang berpuasa". (HR At-Tirmidzi).
f.         Khutbah Rasulullah saw menyongsong bulan suci Ramadhan sebagai bulan mulia, bulan ibadah, bulan santunan.
Dari Salman RadhiyaLlahu 'anhu, katanya: Rasulullah saw berkhutbah di tengah-tengah kami pada akhir bulan Sya'ban, beliau saw bersabda: "Hai manusia, bulan yang agung, bulan yang penuh berkah telah menaungi. Bulan
yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Bulan yang padanya Allah mewajibkan berpuasa. Qiyamullail disunnahkan. Barang siapa yang pada bulan itu mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu kebaikan, nilainya seperti orang yang melakukan perbuatan yang diwajibkan pada bulan lainnya. Dan barang siapa yang melakukan suatu kewajiban pada bulan itu, nilainya sama dengan tujuh puluh kali lipat dari kewajiban yang dilakukannya pada bulan lainnya. Bulan Ramadhan adalah bulan sabar, sabar itu balasannya syurga, Ramadhan adalah bulan santunan.
Bulan ditambahkannya rizqi orang mukmin. Siapa yang memberikan makanan untuk berbuka kepada seorang  yang berpuasa, balasannya adalah ampunan terhadap dosa-dosanya, dirinya dibebaskan dari neraka, dan dia mendapatkan pahala sebesar yang didapat oleh orang yang berpuasa, tanpa mengurangi pahala orang tersebut. Sahabat berkomentar, kata mereka: "Ya Rasulullah, tidak setiap kami memiliki makanan untuk berbuka yang dapat diberikan kepada orang yang berpuasa? Sabda Rasulullah saw: "Pahal tersebut akan diberikan Allah, meskipun yang diberikan untuk berbuka bagi yang berpuasa hanya satu buah kurma, atau seteguk air, atau sesendok mentega.
Bulan Ramadhan awalnya rahmat, tengahnya ampunan dan akhirnya pembebasan dari neraka, siapa yang memberikan keringanan bagi hamba sahayanya pada bulan itu, Allah akan ampuni dosanya, dan dia dibebaskan dari neraka.
Pada bulan ini, perbanyaklah empat hal, dua diantaranya membuat kamu diridhai Rabbmu, dan dua yang lainnya sesuatu yang sangat kamu butuhkan.
Dua hal yang membuat kamu diridhai Rabbmu adalah:
i.     Bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah, dan
ii.   Kamu meminta ampunan kepada-Nya.
Sedangkan dua hal lainnya yang sangat kamu butuhkan adalah:
i.    Kamu meminta syurga kepada Allah, dan
ii.  Kamu minta dilindungi dari neraka.
Siapa yang memberikan minum kepada orang yang berpuasa, Allah akan memberikan minuman kepadanya dari telagaku yang tidak akan menjadi haus sampai dia masuk syurga". (HR Ibnu Khuzaimah).
g.        Ramadhan bulan jihad, bulan kemenangan.
Sejarah mencatat, bahwa pada bulan suci Ramadhan inilah beberapa kesuksesan dan kemenangan besar diraih ummat Islam, yang sekaligus membuktikan bahwa Ramadhan bukan bulan malas dan lemah, tapi merupakan bulankuat, bulan jihad, bulan kemenangan.
Perang Badar Kubro yang diabadikan dalam Al Qur'an sebagai yaumul furqan (hari pembeda antara kebenaran dan kebatilan), dan ummat Islam saat itu meraih kemenangan besar, terjadi pada tanggal 17 Ramadhan tahun 2 Hijriyah. Dan saat itu, gembong kebatilan: Abu Jahal, terbunuh.
Pada bulan Ramadhan pula fathu Makkah (pembukaan Makkah) terjadi, yang dibadaikan dalam Al Qur'an sebagai Fathan Mubiiina (kemenangan yang nyata), tepatnya pada tanggal 10 Ramadhan tahun 8 (delapan) Hijriyah.
Serangkaian peristiwa besar lainnya juga terjadi pada bulan Ramadhan, seperti: beberapa pertempuran dalam perang Tabuk, terjadi pada bulan Ramadhan tahun 9 (sembilan) Hijriyah.
Tersebarnya Islam di Yaman pada bulan Ramadhan tahun 10 Hijriyah.
Khalid bin Al Walid menghancurkan berhala Uzza pada tanggal 25 Ramadhan tahun 8 (delapan) Hijriyah.
Dihancurkannya berhala Latta pada bulan Ramadhan tahun 9 Hijriyah.
Ditaklukkannya Andalus (Spanyol sekarang) di bawah pimpinan Thariq bin Ziyad pada tanggal 28 Ramadhan tahun 92 Hijriyah.
Peperangan 'Ain Jalut, dimana untuk pertama kalinya pasukan Islam berhasil mengalahkan bangsa Mongol Tartar, yang sebelumnya sempat dianggap mustahil, juga terjadi pada bulan Ramadhan tahun 658 Hijriyah.
Dan masih banyak lagi yang lainnya.


IV.    ADAB DAN KIAT MENGISI RAMADHAN
1.        Puasa yang baik dilakukan dengan motivasi karena Allah.
Semua amal ibnu Adam adalah untuknya, satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipatnya sampai tujuh ratus kali lipat, Allah SWT berfirman: kecuali puasa, ia adalah untuk-KU, dan AKU yang akan membalasnya, sesungguhnya ia telah meninggalkan syahwatnya, makanannya, dan minumannya demi AKU, orang yang berpuasa memiliki dua kegembiraan, sekali waktu berbuka dan sekali lagi waktu bertemu Robbnya, sungguh bau tidak sedap mulut orang yang berpuasa itu lebih wangi disisi Allah SWT daripada minyak misik. (lihat Shahih Bukhari hadits no: 1904, dan lihat Shahih Muslim hadits no: 163 bab keutamaan puasa dengan sedikit diringkas).

2.         Disunnahkan bagi yang berpuasa agar memperlambat makan sahur, dan mempercepat berbuka.
Bersahurlah, sesungguhnya dalam sahur itu ada keberkahan. (HR Muslim).
Mintalah pertolongan dengan makan sahur agar dapat berpuasa disiang harinya, dan dengan tidur siang, agar dapat qiyamul-lail di malam hari. (HR Ala Hakim).[3]
Ada tiga hal yang dicintai Allah 'Azza wa jalla: menyegerakan berbuka, mengakhirkan sahur dan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri ketika shalat. (HR Ath-Thabarani)[4].
Manusia akan selalu dalam keadaan baik, selama mereka menyegerakan berbuka. (HR Muslim).

3.         Berdo'a ketika berbuka.
Bagi orang yang berpuasa ketika ia berbuka, do'anya tidak ditolak (HR Ibnu Majah).
"Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, dan dengan rizqi-Mu aku berbuka, kepada-Mu aku bertawakkal, kepada-Mu aku beriman, dahaga telah hilang, urat-uratpun telah membasah dan pahala telah Engkau tetapkan insya Allah ta'ala. Ya Allah yang Maha Luas karunia-Nya, ampunilah aku, segala puji bagi Allah, yang telah memberikan pertolongan kepadaku, sehingga aku dapat berpuasa dan yang telah memberikan rizqi kepadaku, sehingga aku dapat berbuka".[5]

4.         Memberikan makanan untuk orang yang berbuka puasa.
"Barang siapa yang memberikan makanan untuk berbuka bagi yang berpuasa, maka dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa dan yang berpuasa itu tidak dikurangi pahalanya sedikitpun" (HR Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban)[6].

5.       Menjaga mata, telinga danlidah serta anggota-anggota tubuh lainnya dari perbuatan yang tidak ada faedahnya, dan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan dosa.
"Barang siapa yang tidak menjauhkan kata-kata dan perbuatan bohong, maka Allah tidak menerima puasanya". (HR Bukhari).
"Bisa jadi orang  yang qiyamul-lail itu hanya mendapatkan meleknya saja dan bisa jadi orang yang berpuasa itu hanya mendapatkan lapar dan hausnya  saja" (HR Ahmad, Ath-Thabarani dan Al Baihaqi dari Ibnu Umar, juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Abu Hurairah dengan redaksi sedkit berbeda).

6.    Memberikan perhatian yang lebih besar, baik moral ataupun material kepada keluarga dan sanak famili serta memperbanyak sedekah kepada fakir miskin.
"Rasulullah saw adalah orang yang paling dermawan, dan beliau saw lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan, ketika bertemu Jibril 'Alaihis-Salam, sungguh, kedermawanan beliau saat itu lebih kuat daripada angin yang bertiup" (HR Muttafaqun 'alaih).

7.      Meningkatkan kajian tentang Islam, tadarrus, tilawah dan tela'ah Al Qur'an, dzikir, do'a dan amal-amal kebajikan lainnya (QS Al Baqarah: 183 - 187).
"Dan Jibril 'Alaihis-Salam menjumpai nabi saw pada setiap malam bulan Ramadhan, danbeliau mengajaknya bertadarrus Al Qur'an". (HR Muttafaqun 'alaih).



8.      I'tikaf pada 'Asyrul Awakhir (10 hari terakhir bulan Ramadhan) dan meningkatkan aktifitas ibadah pada hari-hari tersebut.
"Nabi saw apabila memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, beliau menghidupkan malam (dengan ibadah), beliau membangunkan keluarganya dan beliau menjauh dari istrinya".

9.      Meningkatkan kesadaran bermuroqobah, merasa diawasi terus oleh Allah swt yang Maha Mengetahui, dan selalu menyadari bahwa diri kita t engah berpuasa, tengah beribadah dalam rangka mencapai ketaqwaan.
"Dan agar kamu mengagungkan Allah sesuai dengan apa yang ditunjukkan kepadamu" (QS Al Baqarah: 185).

10.   Pandai menentukan skala prioritas amal islami dengan mengutamakan amal-yang lebih penting, lebih banyak manfaatnya dan lebih cepat mengantarkannya ke syurga, baik berupa berjuang di jalan Allah dalam menegakkan kalimat-Nya ataupun berinfaq fi sabilillah, seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah saw dan sahabat-sahabatnya.
Ketika orang-orang minta dispensasi dari berinfaq dan berjihad, Rasulullah saw bersabda: "Tidak bershodaqah, dan tidak berjihad? Jadi, dengan apa kamu ingin masuk syurga? 

---------------------------------

[1] Al Haitsami berkata: "Abu Ubaidah (seorang perawi yang dalam sanad)
tidakmendengar dari bapaknya. Dalam kitab Kanzul 'Ummal disebutkan:
diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, Ath-Thabarani dan Al Baihaqi dari Ibnu Mas'ud secara mauquf).

[2] Al Haitsami berkata: "Di dalam sanadnya terdapat Muhammad bin Abi Qais, saya tidak menemukan ulama' yang menyebutkan biografinya".

Namun, ada hadits lain yang menjelaskan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah, diriwayatkan oleh Ahmad, An-Nasa-i dan Al Baihaqi.
Imam As-Suyuthi menilainya Hasan. Al Manawi (yang mensyarah kitab As-Suyuthi berkata: "Di dalam sanadnya ada 'Atha' bin As-Saib, di dalam kitab Al Kasyif disebutkan bahwa ia adalah seorang yang tsiqah yang buruk hafalannya pada akhir hayatnya. Imam Ahmad berkata: Siapa yang meriwayatkan darinya pada masa dahulu (sebelum tuanya) maka haditsnya shahih).

Makna yang menunjukkan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah diperkuat oleh banyak hadits shahih. Pembicaraan para ulama' yang saya sebutkan itu hanya berkait dengan riwayat ini saja.

[3] Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari berkata: "Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah, dan di dalam sanadnya ada Zum'ah bin Shalih, padanya terdapat kelemahan". (lihat Fathul Bari saat mensyarah Bab tidur siang sehabis Jum'atan).

[4] Al Imam Al Manawi, yang mensyarah al Jami' Ash-Shaghir karya As-Suyuthi berkata: "Diriwayatkan juga oleh Ad-Dailami, Al Haitsami
berkata:
Di dalam sanadnya ada Umar bin Abdullah bin Ya'la, dan dia adalah seorang yang lemah".

[5] Ini adalah gabungan dari beberapa do'a yang ma'tsur, baik dari nabi saw atau dari para sahabatnya.

[6] Imam As-Suyuthi menilainya shahih.


Tidak ada komentar: