Jumat, 06 Mei 2011

REDUP


REDUP



Saat cahya bintang itu meredup mungkin kabut terlalu tebal melingkupinya hingga dia perlukan pundak seorang sahabat untuk meluruhkan mendung dalam hatinya. Ataukah bintang itu sebenarnya hanya butuh waktu bertapa sejenak dari kebisingan dunia hingga jiwanya kembali tersucikan setelah khalwat dengan pemilik cahaya abadi. Barangkali bintang itu sebenarnya ingin mengungkapkan semua rahasia tapi malu karena dia adalah BINTANG, hingga hanya goresan-goresan kalimat tidak jelas menghiasi buku hariannya.
*

"Sudah terlalu banyak," guman kakak lirih memotong ceritaku. Sekilas lepas beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkanku di antara hamparan ilalang bukit belakang tempat singgah kami.
Langit belum bersih dari sisa-sisa keangkuhan mentari tapi bulan sudah datang menyiratkan keindahannya. Bulan. Indah siapapun kan datang menyapa bahkan merayu, tapi dia bulan masih dalam kekokohan dirinya, tak tersentuh. Suci diantara kepulan awan hingga tetap suci diantara bintang-bintang.
Aku iri padanya. Dia bulan dan aku hanya hamba yang dhoif. Fuih, dia sudah meninggi. Kembali lagi kuharus menghadapai dunia. Yup hidup harus terus berjalan. Meskipun tak secerah mentari pagi.

*

"Menikahlah denganku," kalimat singkatnya hampir saja membuat tubuhku yang lemah jatuh. Ya Robbi cobaan apa lagi ini, gumanku dalam hati. Aku hanya diam. Entah mengapa beberapa hari ini datang sms dari nomor-nomor baru yang tidak aku kenal. Kubiarkan saja teronggok hingga nomor lain memecah kebisuan. Setengah enggan ku angkat. "menikahlah denganku," pintanya lagi. Dan sekali lagi aku terjebak dalam kebekuan diri. Hingga tanpa sadar kumatikan hp dalam genggaman. Aku tidak ingin berurusan dengan hal-hal seperti ini lagi. Pernikahan, mendengar kalimat itu siapapun akan tertarik. Tapi, aku hanya merasakan nyeri tanpa batas.
Mereka bilang aku terlalu perfeksionis, maunya sempurna. Tapi adakah makhluk yang sempurna? Mereka balik bertanya dengan senyum sinis ke arahku. Entahlah mereka bukan aku. Aku hanya hamba dhoif. Hamba yang berharap bertemu dengan bintang yang menentramkan, air yang menyejukkan, ataupun matahari yang menghangatkan.

*

Episode hidup ini semakin lama semakin lambat atokah mungkin sebaliknya ?, cepat hingga tak mampu ku mengikutinya? Sehari ini hanya air mata yang menetes.
"Ada apa lagi," aku hanya tersenyum menjawab kalimat singkatnya. Pertemuan singkat disela-sela jam kerja selalu saja jadi momen istirahat yang melegakan. Dia memang bukan kakakku tapi dialah bidadari yang diturunkan Allah untuk menemaniku di antara sibuknya pulau perbatasan negara, Batam. "Kalo tidak ada apa-apa kenapa matanya bengkak?" tanyanya penuh selidik menatapku tajam. Hem… alasan apa lagi yang akan aku berikan. Kembali aku tersenyum. "Tidak apa-apa," gelengku. Bila dia tahu apa yang sebenar mungkin dia akan kecewa. Karena kisah ini hanya bermula dan bercerita tentang cinta, siapa yang belum pernah merasakannya?. Entah jatuh cinta pada bunga, lebah, kumbang ataupun pada bintang. Begitu pula denganku. Malu sebenarnya untuk mengakuinya. Aku telah jatuh cinta pada seorang yang bukan suamiku. Salahkah ?. Sebuah ketundukkan yang liar, kesempurnaan rasa yang tidak bermuara pada cintaNya. Bercerita tentangnya takkan habis kalimat yang ada. Selalu saja mengalir, pelan tapi pasti. "Nanti mau kemana?" kalimatnya memecah kebisuan. "Masjid," jawabku pendek. Terbayang tumpukan amanah yang harus segera diselesaikan, reportase, kumpulan surat-surat untuk majelis taklim ataupun editing buletin pt ini. "Nanti kakak ikut pengajian di masjid, kita ketemu disana ya," Entah mengapa ada ketenangan saat dia berbicara. Tiba-tiba kurasakan nyeri di dada. Bayangan itu terlintas di benakku. Dia!. Dia yang menari-nari di hatiku beberapa waktu. Tapi dia pula yang tidak mungkin kumiliki. Semenjak pertemuan kami, perpisahan yang aku inginkan hingga akhirnya dia menemukanku dan ungkapkan keinginannya untuk mengenal lebih jauh sosokku. Dia bilang taaruf. Bahagia yang tak terkira. Dia, lelaki biasa yang terkadang terlihat manja sedang mencoba dewasa. Dia tidak setinggi teman-teman sekerjaku memang, tapi entahlah dia istimewa. Prosesnya begitu cepat dari biodata hingga dialog masa depan. Entah apa yang salah hingga semuapun berakhir singkat. Dia, lelaki biasa itu menolakku!.

*

"Ukhtiku, hubungan itu harus berakhir," lembut tapi pasti azi melepas kepergianku di sukarno hatta dengan kalimat singkatnya di hp. Azi sahabat baik, tempat kucurahkan semua rasa. Hubunganku dengan seorang ikhwan sebatas persaudaraan biasa, tiada yang luar biasa. Hingga tiba-tiba namanya sering kusebut dalam pembicaraan kami. "Anti jatuh cinta?," kalimat azi menyadarkanku. Entahlah. Sebuah konsekuensi besar yang harus kuterima bila hal itu benar adanya. -Apa susahnya melepaskan bukankah takdirnya berada dalam genggamanNya. Sebelum burung besi itu membawaku ke Hang Nadim, kukirimkan pesan singkat pada akhiku, "Ana pergi sejenak, tak lama. Biar melati itu kembali suci". Semenjak itu kuganti simpatiku dengan IM3.

*

Kakak masih menungguku setia. Mushola sempit di antara dormitori, tempat kutumpahkan air mata yang menyesakkan dada semakin terasa pengap. Aku kecewa. Setiap kali teringat lelaki biasa itu, aku kecewa. "Mengapa kau jadi lemah," lembut kalimat kakak menusuk hatiku. Yup, Mengapa ku menjadi lemah. "Kemarin ada temen kakak yang baca tulisanmu, dia menyukainya." "Tulisan tentang cinta yang menguatkan jiwa, yang menenangkan nurani dan membasuh lembut hati, katanya temen kakak." Dia tersenyum manis. Kembali air mataku berderai. Mengapa kakak masih saja menghiburku. Bukankah lelaki yang pernah masuk dalam kehidupannyapun berpaling dan memilihku. Meski aku telah meminta lelaki itu kembali padanya tapi entahlah mengapa semua terlihat sia-sia.
Terkadang ku berfikir mengapa mereka tertarik pada bunga yang belum tentu indah. Terkadang sesal menyeruak diantara langkah-langkah kecilku di batam ini. Pilihan-pilihan jiwa mendekat di sekitarku tapi mengapa hatiku hanya tertarik padanya, lelaki yang biasa. Berdosakah aku telah menolak mereka?.

*

Mentari kali ini bersinar, indah sekali. Sejuknya pagi dan kicauan burung terdengar merdu. Entah rahasia apa yang tersimpan di alam kali ini. Hanya saja, hari ini hatiku terasa bahagia, penuh cinta. Begitu banyak cinta melingkupiku, lalu mengapa aku harus berduka. Ada cinta kakak yang akan menemaniku, ada cinta keluarga yang akan melindungiku, ada cinta saudara seperjuangan yang akan mengokohkanku, ada cinta di alam yang senantiasa menghiburku. Ada cinta dimana-mana. Kuserahkan semua pada KehendakNya. Jikalau hati ini ragu tidak akan ku melangkah walaupun sedetik. Tapi aku percaya bahwa tabir yang memisahkan antara aku dan keberhasilan hanyalah keputusasaan.*

*

"Bagaimana?" Tanya ummi sekali lagi. Kembali lagi kisah itu berulang-ulang. Tapi ini berbeda. Dia mungkin tak seistimewa yang lainnya hanya dia seorang yang berbekal Surat Kuasa dari ummi, wanita yang kucintai. Entah mengapa aku hanya bisa sembunyi pada diam. Sekilas kulihat senyum ummi, semburat kecewa. Detik terus bergulir dan masih belum ada keputusan dariku. Kuingat goresan bait-bait puisi yang kutulis saat melepaskan lelaki biasa itu lewat sms singkat di Sukarno Hatta,
Dunia…
Jangan pernah kau tangisi
Jangan lagi kau sesali
Jangan lagi kau cemburui
Dan
Jangan lagi kau cintai
Dunia…
Tak lebih dari bangkai khidmir yang hina
Tak lebih dari tempat persinggahan sementara
Tak lebih dari detik2 tanpa makna
Entah ummi mendengar atau tidak saat kubisikkan lirih,"Ummi aku ingin menjadi bintang"
*. Kalimat Hasan albanna

Tidak ada komentar: