Minggu, 22 April 2012

Adab Doa dan Faedahnya


Adab Doa dan Faedahnya


"Berdoalah kepada Tuhanmu dengan merendahkan diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kalian berbuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya, dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan penuh harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik." (Al-A'raaf: 55 -- 56).
Ada beberapa point penting yang dapat kita petik dari firman Allah di atas, yaitu sebagai berikut:

  1. Berdoa hanya kepada Allah Ta'ala, karena hanya Allah semata yang berhak disembah, dan doa adalah termasuk ibadah yang merupakan perwujudan dari penyembahan kepada Allah. Bahkan, inti ibadah itu sendiri adalah doa.
  2. Merendahkan diri dalam berdoa adalah suatu yang mutlak wajib, karena manusia itu lemah, jadi sudah sewajarnya kita menampakkan kelemahan kita di hadapan Allah Yang Maha Kuasa, Pencipta alam semesta, disertai dengan rasa takut tidak diterima dan rasa penuh harap akan diterima, akan memberi nilai tak ternilai dalam sebuah doa.
  3. Berdoa dengan suara yang lemah lembut, bukan keras-keras yang mengganggu, apalagi berirama seperti mendendangkan lagu-lagu.
  4. Jangan melampaui batas yang Allah tentukan.
  5. Jangan berbuat kerusakan di muka bumi dengan segala bentuk kerusakan, kecil maupun besar.
  6. Perintah berbuat baik selain berdoa, karena rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. Jika ada yang berdoa namun masih suka berbuat kemungkaran adalah sangat wajar kalau doanya tidak dikabulkan.

Selain itu, ada beberapa faidah tentang menyembunyikan doa atau mengucapkannya dengan suara yang lemah lembut sebagaimana disebutkan Ibnu Qayyim dalam tafsirnya:

  1. Mencerminkan iman yang lebih besar. Sebab, orang yang berdoa tahu bahwa Allah pasti mendengar doanya yang diucapkan dengan suara lembut itu, karena Allah Maha Mndengar lagi Maha Mengetahui.
  2. Mencerminkan adab dan pengagungan yang lebih besar. Ketika engkau menyampaikan permohonan dan permintaan kepada seorang raja, engkau tentu tidak menyampaikannya dengan suara yang keras, tetapi engkau akan merendahkan volume suaramu dan memelankannya sebatas raja bisa mendengarnya. Sesungguhnya Allah mempunyai perumpamaan yang lebih tinggi. Jika Allah mendengar doa dengan suara yang lembut, maka tidak ada adab yang lebih tepat di hadapan-Nya selain dengan merendahkan suara ketika berdoa kepada-Nya.
  3. Melembutkan suara lebih pas untuk merendahkan diri dan khusyu'. Padahal, merendahkan diri dan khusyu' itu merupakan roh doa, inti, dan maksudnya. Orang yang khusyu' dan merendahkan diri memohon layaknya orang yang hina dan miskin yang hatinya lembut, anggota tubuhnya tunduk dan suaranya lemah, sampai-sampai kehinaan, kemiskinan, dan kelemahan hatinya membuat lidahnya seakan kelu tak mampu berucap kata. Hatinya meminta dan berharap. Karena kehinaan dan ketundukkannya, lidahnya menjadi diam tak bergerak. Keadaan ini sama sekali tidak akan terjadi jika suara dinyaringkan ketika berdoa.
  4. Lebih menggambarkan keikhlasan.
  5. Lebih dapat menyatukan hati dengan Allah dalam doa. Sebaliknya, menyaringkan suara bisa memisahkan hati dan menjauhkannya dari Allah. Dengan melemahkan suara lebih mudah untuk memuji-Nya, membebaskan hasrat dan tujuan kepada Dzat yang dimohon kepada-Nya.
  6. Yang ini termasuk rahasia doa yang sangat mengagumkan, bahwa melembutkan suara dalam berdoa menunjukkan kedekatan pelakunya dengan Allah. Karena kedekatan dan kebersamaan inilah, dia memohon kepada Allah. Dia menyampaikan permohonan layaknya bisikan seseorang kepada orang yang sangat dekat dengannya, bukan seruan seseorang kepada orang yang jauh darinya. Karena itu, Allah memuji hamba-Nya, Nabi Zakariya, dengan firmannya yang artinya, "Yaitu tatkala ia berdoa kepada Rabbnya dengan suara yang lembut." (Maryam: 3). Selagi hati merasakan kedekatan dengan Allah, bahwasanya Allahlah yang paling dekat dengannya dari segala seuatu, tentu ia akan melembutkan doanya semaksimal mungkin.
  7. Lebih menggambarkan keberlangsungan permintaan dan permohonan, karena dengan begitu lisan tidak mudah jenuh dan anggota tubuh tidak mudah letih.
  8. Menyembunyikan doa lebih menjauhkan berbagai macam penghalang, kekalutan dan hal-hal yang melemahkan.
  9. Nikmat yang paling agung ialah menghadap kepada Allah, beribadah kepada-Nya dan menyendiri dengan-Nya, disamping setiap nikmat ada pendengki menurut takarannya, besar maupun kecil. Tidak ada nikmat yang lebih besar daripada nikmat ini. Maka, tidak ada yang lebih menyelamatkan diri orang yang didengki selain dengan menyembunyikan nikmatnya dari orang yang mendengkinya, dan tidak menampakkannya.

Kesimpulannya, marilah kita dengan cara-cara yang ditentukan Allah dan rasul-Nya agar doa kita terijabah dan diterima. Kalau kita mau berpikir dan merenung sejenak, mengapa begitu banyak doa yang sudah kita panjatkan untuk kebaikan bangsa ini, namun sepertinya ijabah menjadi hal langka dan sulit dijangkau, padahal ia dekat. Kita rupanya masih berdoa dengan cara kita sendiri, kita masih banyak berbuat maksiyat daripada mematuhi perintah Allah dan rasul-Nya. Mengabulkan adalah hak mutlak Allah semata, agar permohonan dikabulkan, mohonlah dengan cara yang Allah tentukan. Wallahu a'lam.

Tidak ada komentar: