iklan keren

Selasa, 03 April 2012

Mengapa Ada Banyak Agama di Dunia



Mengapa Ada Banyak Agama di Dunia 


  Seorang manusia tidak bisa memilih, di negeri mana ia dilahirkan, dan siapa
  orang tuanya. Yang ia dapatkan hanyalah kenyataan, bahwa di negerinya,
  kebanyakan orang memeluk agama atau keyakinan (ideologi) tertentu, dan
  orang tuanyapun mendidiknya sejak kecil dengan suatu pandangan hidup
  tertentu.

  Namun hampir setiap manusia yang normal ternyata memiliki suatu naluri
  (instinkt), yakni suatu saat akan menanyakan, apakah keyakinan yang
  dianutnya saat itu benar atau salah. Dia akan mulai membandingkan
  ajaran-ajaran agama atau ideologi yang dikenalnya. Bagaimanapun juga
  keberhasilan pencariannya ini sangat bergantung dari informasi yang datang
  ke padanya. Kalau informasi pengganggu (noise) yang datang kepadanya
  terlalu kuat, misalnya adanya teror atau propaganda yang gencar dari
  pihak-pihak tertentu, bisa jadi sebelum menemukan kebenaran itu, ia sudah
  berhenti pada keyakinan tertentu yang dianggapnya enak (meski sebenarnya
  sesat).

  MEMBANDINGKAN SUMBER AJARAN TIAP AGAMA
  (Aspek theologis)

  Kebenaran suatu ajaran bisa direlatifkan dengan mudah bila hanya didasari
  oleh suatu asumsi. Dan kenyataan, hampir setiap pengertian buatan manusia
  adalah relatif. Para filosof mengatakan, bahwa suatu definisi hanyalah
  konsensus dari beberapa orang pada saat tertentu di tempat tertentu yang
  memiliki pengalaman yang mirip. Maka tak heran, bahwa untuk beberapa
  pengertian yang sering kita dengar saja (seperti "demokrasi", "hak asasi
  manusia", dll), antar bangsa (dengan latar belakang kultur yang berbeda)
  dan antar generasi (dengan pengalaman sejarah yang berbeda), bisa berbeda
  pula pemahamannya.

  Karena itu pulalah, ada ajaran yang cepat ditelan musim. Seseorang yang
  memegang ajaran seperti ini, jelas suatu saat akan goyah. Sebagai contoh
  adalah kaum komunis. Usia ajaran ini ternyata tidak bertahan lebih dari
  satu abad. Demikian pula dengan ajaran banyak sekte keagamaan atau aliran
  kepercayaan.

  Untuk menghindari ajaran yang salah, manusia pertama-tama harus melihat
  sumber ajaran itu. Apakah ajaran itu bersumber dari dasar-dasar yang rapuh?

  Dalam hal ini, agama-agama yang sudah cukup tua agak "mengundang" untuk
  dipelajari, karena mereka menunjukkan sudah "tahan bantingan" untuk kurun
  waktu yang sangat lama. Namun demikian tetap perlu dipertanyakan, akankah
  ajaran-ajaran "kuno" ini mampu survive menghadapi zaman post moden dengan
  kehebatan pemikirannya seperti dewasa ini?

  Di zaman modern ini orang tidak bisa begitu saja "dikelabuhi". Kita tidak
  bisa begitu saja bilang: "Agama X ini benar, karena kitab sucinya bilang
  begitu .... ". Dan: "Kitab ini benar, karena masih asli dari pembawanya.
  Dan kebenaran pembawa ajaran ini dijamin di kitab itu...".

  Logika "circular" (berputar-putar) ini tidak bisa memuaskan kehausan iman
  manusia modern. Suatu "teori kebenaran" hanya akan bertahan, kalau ia tidak
  bisa difalsifikasi (tidak bisa dibuktikan bahwa ia salah). Hal ini karena
  suatu proses falsifikasi, cukup memerlukan satu bukti. Sedang suatu proses
  pembenaran, memerlukan seluruh bukti, yang tentu saja sulit, karena kita
  sering tidak tahu, berapa jumlah bukti yang dibutuhkan.

  Suatu ajaran bisa dianggap benar, bila ia:

     * stabil intern - ajarannya harmoni, tidak bertentangan satu dengan yang
       lain.
     * stabil extern - ajarannya tidak bisa disalahkan dengan bukti-bukti
       dari luar (misalnya dengan fakta-fakta ilmu alam).

  Dalam hal ini tentu saja kita harus bertolak dari ajaran yang murni (ajaran
  Das Sollen), yakni yang ada di sumber-sumber ajaran itu sendiri (kitab-kita
  suci), dan bukan ajaran yang sedang dipraktekkan oleh pemeluknya, yang
  mungkin saja tidak mempraktekkan ajarannya dengan benar (ajaran Das Sein).

  MEMBANDINGKAN ISI AJARAN TIAP AGAMA
  (Aspek ethis)

  Selain mengkaji keabsahan sumber ajaran, suatu langkah pembandingan antar
  ajaran adalah juga melihat seberapa jauh isi suatu ajaran mengcover
  permasalahan kehidupan manusia. Apakah suatu ajaran hanya menekankan di
  satu sisi saja (misalnya sisi duniawi saja, atau sisi rohani saja), ataukah
  bersifat menyeluruh, baik duniawi maupun rohani?

  Suatu agama yang tidak bersifat menyeluruh akan mengakibatkan dualisme
  dalam pemikiran. Di satu sisi orang harus berfikir agamis, di sisi lain
  orang harus memilih jalan pragmatis, yang tak jarang bertentangan dengan
  fikiran agamis itu.

  Mungkinkah melegitimasi ajaran suatu agama dengan agama lainnya.

  Sering pemeluk suatu ajaran mencoba meligitimasi kebenaran ajarannya dengan
  mengutip statement ajaran lain.

  Yang perlu ditinjau adalah, sejauh mana percobaan legitimasi ini dapat
  dinalar dengan logika. Memang, tidak menutup kemungkinan, bahwa suatu hal
  yang baru membenarkan teori lama yang sudah ada. Penerbangan ke bulan
  menambah bukti kebenaran teori bahwa bumi itu bulat. Namun bila penganut
  teori lama melegitimasi diri dengan bukti-bukti baru, sementara mereka
  menganggap orang yang percaya pada bukti-bukti baru itu keliru, tentu ada
  yang tidak logis di sini.

  Bila ada ajaran A, B, dan C, yang timbulnya di dunia urut satu demi satu,
  maka A hanya bisa membenarkan B, bila penganut A nantinya harus berganti
  menjadi penganut B. Inilah yang terjadi dengan ajaran Muhammad, yang sudah
  diramalkan dalam Kitab Taurat dan Injil.

  Hal yang sebaliknya, yaitu A membenarkan diri dengan B, namun tidak menjadi
  penganut B, tentu akan janggal sekali. Karena itu, penganut agama sebelum
  Islam, tidak layak membenarkan dirinya dengan menggunakan ajaran Islam,
  bila mereka tidak lalu beralih menjadi muslim.

  Namun ajaran yang lebih baru tidak tentu lebih benar. Karena itu, terhadap
  ajaran C, bisa saja B membenarkan (dengan konsekuensi penganut B berubah
  menjadi C dan meninggalkan B), atau menganggap C bagian dari B (jadi B dan
  C sama-sama benar), atau C salah. Hal ini berlaku terhadap agama-agama yang
  timbul setelah kenabian Muhammad. Ketika ajaran Qadiyan muncul, ada orang
  Islam yang pindah menjadi Qadiyan (dan keluar dari Islam), ada yang
  menganggap Qadiyan bagian dari Islam, ada pula yang menolaknya, karena
  menganggap keliru.

  MENGAPA ADA BANYAK AGAMA

  Orang sering menganggap mudah fenomena ini dengan mengatakan: "Banyak jalan
  menuju Tuhan" atau "Sungai-sungai kelihatan berbeda kalau dilihat hulunya,
  namun satu kalau dilihat muaranya". Pada prinsipnya mereka menganggap semua
  agama baik dan benar, dan karena itu tidak perlu dipersoalkan.

  Memang kita tidak akan debat kusir soal agama. Namun kita tentu akan
  menjaga, minimal keluarga kita, agar menganut ajaran yang benar.

  "Banyak jalan menuju Tuhan". Koq tahu? Kalau dikatakan "Banyak jalan menuju
  Roma" kita tentu bisa menerima, karena banyak informasi dari sana, dan
  mungkin ada kawan kita sendiri yang pernah ke Roma dan pulang bercerita ke
  kita. Namun kepada Tuhan? Orang-orang yang pergi menghadap Tuhan (artinya
  mati), ternyata tidak pernah kembali lagi. Orang yang menghadap Tuhan dan
  kembali lagi ya para nabi itu. Lagi pula toh tidak semua jalan itu lempang
  dan lurus. Kalau ada banyak jalan menuju Tuhan, kenapa kita tidak memilih
  jalan yang lurus, jelas dan tidak penuh duri-duri penyesat?

  Demikian juga, memang agama-agama di dunia ini bisa diibaratkan dengan
  sungai-sungai. Namun ternyata ada sungai yang tidak bermuara di laut, namun
  di danau garam (sungai Jordan misalnya). Atau sungai-sungai itu tercemar di
  perjalanan, dipakai untuk irigasi dsb, sehingga tidak pernah mencapai laut.

  Ajaran-ajaran yang benar dari Tuhan memang merupakan sungai-sungai yang
  mengalir ke muara yang sama. Namun ajaran-ajaran yang sesat, yang
  dibuat-buat manusia, tidak akan mencapai Tuhan, karena yang dituju memang
  bukan Tuhan. Di zaman modern ini banyak "agama kontemporer" semacam ini.
  Ada yang memuja Mao Tse Tung, Lenin ataupun (John) Lennon. Bukankah
  kapitalisme, komunisme maupun kult musik tertentu sering disebut sebagai
  agama abad-20?

  EVOLUSI ISLAM

  Sementara itu, beberapa ajaran agama yang klasik (seperti Hindu, Budha,
  Yahudi, Nasrani dll) bisa jadi memang berasal dari seorang utusan Tuhan di
  zaman dulu. Kondisi dan situasi yang berbeda saat ajaran itu diturunkan,
  membuat ajaran yang diperlukan juga berbeda. Sedang kebudayaan manusia
  mengalami perkembangan (evolusi).

  Akhirnya evolusi itu sampai pada satu titik, di mana suatu ajaran yang
  bersifat universal (sesuai untuk seluruh manusia) dan komprehensif (sesuai
  untuk seluruh masa) tiba saatnya. Ibarat sungai, ajaran berbagai agama yang
  ada di dunia ini laksana anak-anak sungai yang mengalir ke sebuah sungai
  yang besar.

  Agama-agama selain Islam sesungguhnya hanya diperuntukkan untuk suatu kaum
  tertentu, di daerah tertentu dan pada masa tertentu. Hal ini disebutkan
  oleh kitab-kitab mereka, yang merupakan tanda-tanda dari Tuhan yang sampai
  pada saat ini - di luar soal bahwa banyak kitab-kitab itu kini tidak lagi
  teruji autentitasnya.
  ---------------------------------------------------------------------------

  KEASLIAN DAN KEBENARAN
  ---------------------------------------------------------------------------

  Keaslian tidak selalu Kebenaran. Dan Kebenaran tidak selalu memerlukan
  bukti sejarah yang asli. Hampir setiap orang Indonesia pasti mengenal lagu
  Indonesia Raya. Tapi masih adakah naskah asli Indonesia Raya yang digubah
  W.R. Supratman itu?

  Naskah asli itu ternyata tidak terlalu penting, bila lagu tersebut tidak
  pernah dilupakan, karena dilagukan atau didengar oleh jutaan orang
  Indonesia, hampir setiap hari. Demikian juga yang terjadi dengan Al-Qur'an.
  Sebenarnya tidak penting, apakah naskah Al-Qur'an yang asli ditulis ketika
  Nabi masih hidup itu masih ada atau tidak. (Naskah yang ada hingga saat ini
  adalah naskah yang ditulis pada zaman Abu Bakar). Al-Qur'an dihafalkan,
  dibaca dalam shalat, dan didengarkan di mana-mana oleh ratusan juta ummat
  Islam di dunia setiap hari. Kalau ada yang mencoba merangkai kata-kata baru
  di dalam Al-Qur'an, pasti akan ketahuan, seperti kita juga pasti akan tahu,
  bila ada selipan kata-kata baru dalam lagu Indonesia Raya.






Tidak ada komentar: