Rabu, 02 Mei 2012

Hawa Nafsu


Hawa Nafsu
Hawa nafsu adalah kecenderungan jiwa kepada sesuatu, baik itu berupa kebaikan atau keburukan. Setiap ayat Al Qur'an yang menyebutkan tentang hawa nafsu, selalu dalam bentuk pencelaan, di samping mengingatkan agar kita tidak mengikuti dan cenderung kepadanya.

Demikian halnya dengan hadits nabawi, jika berbicara mengenai hawa nafsu senantiasa mengatakannya sebagai hal yang tercela. Kecuali pada sebagian hadits, misalnya sabda Rasul Shallallahu 'Alaihi Wasallam, "Tidaklah beriman salah seorang dari kalian, sehingga hawa nafsunya tunduk terhadap apa yang aku bawa." Hawa nafsu adalah sesembahan selain Allah yang paling buruk. Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Di kolong langit ini, tidak ada tuhan yang disembah yang lebih besar dalam pandangan Allah selain dari hawa nafsu yang dituruti." (HR. Ahmad) Yang demikian itu, karena hawa nafsu mampu mengubah banyak jiwa manusia dari baik menjadi buruk, dari adil menjadi zhalim, dari tauhid menjadi syirik, dari lurus menjadi bengkok, dan dari sunnah menjadi bid'ah. Oleh sebab itu, para ahli bid'ah disebut dengan hamba hawa nafsu. "Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmuNya, dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?" (Al Jatsiyah: 23). "Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadikan pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu)." (Al Furqan: 43-44)
Dalam Al Qur'an terkadang Allah Ta'ala mengumpamakan para ahli bid'ah dan yang selalu memperturutkan hawa nafsunya dengan anjing, keledai atau dengan binatang ternak. "Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat kami (pengetahu-an tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri daripada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya kami tinggikan (derajatnya) dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zhalim." ( Al A'raf : 175-177). Di ayat lain Allah Ta'ala berfirman: "Seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut, lari dari singa."(Al Mudatstsir: 50-51)
Allah Ta'ala memperingatkan nabi-Nya Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wasallam supaya tidak menuruti hawa nafsu orang-orang musyrik. Allah Ta'ala berfirman, "Maka karena itu serulah (mereka kepada agama itu) dan tetaplah sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah : "Aku beriman kepada semua kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil diantara kamu sekalian." (Asy Syura: 15) Juga agar tidak mengikuti hawa nafsu orang-orang yahudi dan nashrani. "Orang-orang yahudi dan nashrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)." Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu." (Al Baqarah: 120)
Selanjutnya Allah menjelaskan penyimpangan dan kebejatan orang-orang musyrik dalam firmanNya, "Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang (yahudi dan nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil), semua ayat (keterangan), mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamupun tidak akan mengikuti kiblat mereka. Dan sebagian merekapun tidak akan meng-ikuti kiblat sebagian yang lain. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zhalim." (Al Baqarah: 145)
Allah memerintahkan melalui kitab dan lisan RasulNya, agar kita menentukan hukum di antara manusia dengan adil. Di samping memperingatkan kita agar tidak mengikuti hawa nafsu dengan cenderung kepada salah seorang yang berselisih secara tidak benar. "Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan."(An Nisa': 135)
Allah memberitahukan bahwa mengikuti hawa nafsu akan menyesatkan seseorang dari jalanNya. "Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, maka ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah." (Shad :26) Kemudian Allah menjelaskan kesudahan orang-orang yang tersesat dari jalanNya, dengan firmanNya, "Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan." (Shad: 26)
Dalam Al Musnad dijelaskan bahwa Anas Radhiallahu 'Anhu berkata, Rasul Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Ada tiga buah perkara yang mem-binasakan dan tiga perkara lain yang menyelamatkan. Adapun yang membi-nasakan yaitu; kikir yang dituruti, hawa nafsu yang diikuti, dan 'ujub (bangga) terhadap diri sendiri. Sedangkan yang menyelamatkan yaitu bertakwa kepada Allah, baik dalam keadaan rahasia atau terang-terangan, adil ketika marah atau ridha (senang) dan berlaku sederhana, baik ketika miskin atau kaya."
Ibnul Qayyim dalam kitabnya Raudhatul Muhibbin menyebutkan, "Sesungguhnya orang yang mengikuti hawa nafsunya tidak berhak untuk ditaati, tidak boleh menjadi imam dan tidaka boleh diikuti. Allah Ta'ala memecatnya dari imamah (kepemimpinan), serta melarang kita mentaatinya." Adapun pemecatannya dari imamah adalah berdasarkan firman Allah Ta'ala, "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia," Ibrahim berkata: (Dan saya mohon juga) dari keturunanku. Allah berfirman: "JanjiKu ini tidak mengenai orang-orang yang zhalim."(Al Baqarah:124)
Dan setiap orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa diragukan lagi, ia adalah termasuk orang-orang yang zhalim, Allah berfirman, "Tetapi orang-orang yang zhalim, mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan." (Ar Ruum: 29) Adapun larangan mentaati orang yang mengikuti hawa nafsu terdapat dalam firman Allah, "Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas."(Al Kahfi:28)
Dalam kitab yang sama, Ibnul Qayyim berkata, "Sesungguhnya hawa nafsu itu adalah suatu larangan, yang dengannya sekeliling neraka Jahannam dikitari. Maka barang siapa terjerumus ke dalam hawa nafsu maka ia terjerumus kedalam api Jahannam. Disebutkan dalam Shahihain, bahwasanya Rasul Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Surga itu dikelilingi dengan hal-hal yang dibenci dan neraka itu dikelilingi dengan berbagai (nafsu) syahwat." Dalam sebuah hadits marfu' dari Abu Hurairah diriwayatkan, "Ketika Allah menciptakan surga, Ia mengutus Jibril ke sana. Allah berfirman, "Lihatlah ke sana dan lihatlah apa-apa yang Aku sediakan untuk para penghuninya." Lalu Jibril mendatangi dan melihatnya, juga melihat apa yang disediakan Allah untuk para penghuninya, lalu ia berkata, "Demi kemuliaan dan keagunganMu, tidaklah salah seorang dari hambaMu mendengar tentang beritanya kecuali (akan) memasukinya." Kemudian Allah memerintahkannya (surga) sehingga ia dikelilingi dengan hal-hal yang dibenci, lalu Allah berfirman kepada Jibril, "Kembalilah dan lihatlah surga." lalu ia kembali dan melihat kepadanya, sedang ia telah dikelilingi dengan hal-hal yang dibenci, maka Jibril berkata, "Demi kemuliaan dan keagunganMu, sungguh aku takutkan tak seorangpun akan memasukinya. Lalu Allah berfirman kepadanya, "Pergilah ke neraka dan lihatlah ia sekaligus apa yang Kusediakan untuk para penghuninya." Lalu Jibril datang melihat neraka dan apa yang disediakan untuk para penghuni nya. Neraka itu sebagiannya tersusun atas sebagian yang lain, ia lalu berkata, "Demi kemuliaan dan kebesaranMu, tidaklah seseorang mendengar tentang-nya kemudian (mau) memasukinya." Kemudian Allah menyuruhnya, lalu neraka itu dikelillingi dengan (nafsu) shahwat, lalu Allah berfirman kepada Jibril, "Kembali dan lihatlah padanya. " Kemudian Jibril kembali melihat neraka, lalu ia berkata, "Demi kemuliaan dan keagunganMu, sungguh aku takutkan tak seorangpun akan selamat dari padanya." Imam Tirmidzi berkata, hadits ini adalah hasan shahih.
Ibnul Qayyim dalam soal keutamaan melawan hawa nafsu berkomentar, "Sesungguhnya melawan hawa nafsu bagi seorang hamba melahirkan suatu kekuatan di badan, hati dan lisannya." Sebagian salaf berkata, "Orang yang bisa mengalahkan nafsunya lebih kuat daripada orang yang menaklukkan sebuah kota dengan seorang diri." Dalam hadits shahih disebutkan, "Tidaklah orang yang kuat itu yang menang dalam bergulat, tetapi orang yang kuat adalah orang yang dapat menguasai hawa nafsunya ketika ia marah."
Semoga Allah menjauhkan kita dari kesalahan, kealpaan dan cinta kepada hawa nafsu. Semoga pula Ia menjadikan kita di antara orang-orang yang takut dan bertakwa kepadaNya. Amin ....

Tidak ada komentar: