Kamis, 03 Mei 2012

Hikmah Puasa Ramadan


Hikmah Puasa Ramadan


"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagian negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagiaanmu dari kenikmatan dunia." (Qashas: 77).
Hikmah yang diperoleh dari ajaran berpuasa Ramadan, nilai kesalehan selalu berada pada jaringan sosial masyarakat, dilandasi oleh kualitas iman dan takwa. Sehingga, dalam kalbu kita tumbuh pribadi yang kuat, senantiasa ikhlas beramal dan bukan pribadi yang selalu menjadi beban orang lain.
Kondisi sekarang, kesalehan sosial yang berwujud rasa peduli terhadap merebaknya kemiskinan, terlihat jelas konteksnya. Seperti tidak menentunya kondisi perekonomian rakyat, anjloknya nilai rupiah, yang dirasakan pahit bagi masyarakat golongan bawah. Situasi perekonomian yang tidak jelas juntrungnya di berbagai aspek kehidupan, menumbuhkan nafsu egoistis di kalangan masyarakat tingkat menengah ke atas, menjauhkan diri dari nilai-nilai kemanusiaan, menggiringnya ke sikap apatisme.
Esensi ajaran Islam tidak mengajarkan manusia bersikap masa bodoh terhadap masyarakat lingkungan, lebih-lebih terhadap mereka yang hidup kekurangan dan miskin. Islam tidak boleh membiarkan umatnya hidup serba kekurangan, melainkan dijadikan manusia itu menjadi mahluk yang hidup dalam keseimbangan antara keperluan duniawiyah dan ukhrawiyah.
Karena itu, hikmah puasa Ramadan secara kondusif melahirkan dua dimensi keberkahan kehidupan dunia dan akhirat. Secara fisik, dengan berpuasa seseorang harus mampu mengendalikan nafsu sekularitas, hedonistis, egoistis maupun sikap hidup kompetitif konsumtif, agar hidup ini senantiasa dihayati sebagai rahmat dan nikmat dari Allah SWT. Mereka harus menahan rasa lapar dan haus, tidak melakukan hubungan badan dengan istri dari waktu fajar hingga matahari tenggelam di petang hari, serta tidak melakukan perbuatan jahat, tidak mengeluarkan kata-kata kotor, menahan emosi dan nafsu amarah serta berbagai perbuatan tercela lainnya.
Secara psikologis, seseorang yang berpuasa Ramadan menyatukan dirinya dalam kondisi penderitaan akibat rasa lapar dan haus, yang selama itu lebih banyak diderita oleh fakir miskin, yang dalam hidupnya selalu terbelenggu oleh kemiskinan.
Esensi puasa Ramadan juga memberikan nilai ajaran, agar orang yang beriman dan bertakwa mengikuti tuntunan Nabi saw, yang hidupnya amat sederhana dan selalu bersikap lugu dalam segala aspek kehidupannya. Beliau menganjurkan kepada umat Islam, "berhentilah kamu makan sebelum kenyang." Contoh sederhana tsb mudah didengar, tapi terasa berat dilaksanakan, jika seseorang tengah bersantap dengan makanan lezat. Memang, itulah tuntunan yang memiliki bobot kesadaran diri tinggi terhadap lingkungan masyarakat miskin yang berada di lingkungannya.
Di bagian lain, Nabi saw mencontohkan, "berbuka puasalah kamu dengan tiga butir kurma dan seteguk air minum, setelah itu bersegeralah salat magrib." Kaitannya dengan itu, Nabi Saw menganjurkan agar selalu gemar memberi makan (berbuka) untuk tetangga yang miskin.
Fenomena kesadaran fitrah di atas, dalam puasa Ramadan saat ini, diharapkan mampu membentuk rasa keterikatan jiwa dan moral untuk memihak kepada kaum dhuafa, fakir miskin. Pendekatan ini harus diartikulasikan pada pola pikir dan pola tindak ke dalam bingkai amal saleh, mampu melebur ke dalam pola kehidupan kaum mustadh'afin. Seperti dicontohkan Nabi SAW saat membebaskan budak, masyarakat kecil dan golongan lemah yang tertindas dengan membangkitkan 'harga diri' dan nilai kemanusiaan. Nabi SAW bisa hidup di tengah mereka, dalam kondisi sama-sama lapar, tidur di atas pelepah daun kurma.
Begitu dekatnya Nabi Saw dengan orang-orang miskin, sampai-sampai beliau mendapat julukan Abul Masakin (Bapak orang miskin). Ketika ada seorang sahabat bertanya terhadap keberadaan dirinya, beliau menjawab, "carilah aku di tengah orang-orang yang lemah di antara kalian." Isyarat yang diberikan Nabi Saw ini menggugah seorang pemikir Islam dari Turki, Hilmi H. Isyik mengatakan, "Orang yang bersikap masa bodoh terahdap orang-orang miskin di sekitarnya, tidak mungkin ia menjadi seorang muslim yang baik."
Pengertian di atas mengambil esensi dari Sabda Nabi Saw yang maksudnya, setiap orang muslim jangan mengabaikan dasar pokok iman, ibadah dan akhlak. Kalau hal itu terabaikan, amal atau muamalat duniawi akan menyimpang, tidak terkontrol, nafsu kemurkaannya tidak terkendali, sehingga orang akan berperilaku sekehendaknya sendiri, tanpa memperdulikan lingkungan dan penderitaan orang lain. Dampaknya, dapat menghancurkan sikap toleransi dan solidaritas sesama umat Muslim.
Nabi Saw bersabda, "Barangsiapa tidak merasa terlibat dengan permasalahan umat Islam, dia bukanlah dari golonganku." Ini jelas memperingatkan, permasalahan umat Muhammad yang tumbuh di dunia bukan hanya ibadah salat dan puasa saja, juga luluh ke dalam nasib penderitaan sesama umat.
Konteksnya dengan puasa Ramadan, Nabi saw menegaskan, "begitu banyak orang berpuasa, tapi yang dihasilkannya hanya rasa lapar dan haus semata-mata."
Sabda ini mengandung arti, hikmah puasa Ramadan bukan sekadar menahan rasa lapar dan haus, menahan nafsu dan keinginan hedonistis, melainkan secara esensial mengandung makna penghayatan rohani amat yang dalam, yakni ekspresi jiwa dan konsentrasi mental secara utuh dan solid, di mana sendi-sendi mental dan jiwa terperas ke dalam fitrah diri, meluruskan disiplin pribadi dengan baik.
Semua rangkuman di atas merupakan intisari dari firman Allah Swt, "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana di wajibkan atas orang-orang sebelum kami, agar kamu bertakwa." (Al-Baqarah: 183).
Di sinilah kekuatan iman dan takwa seorang Muslim, diuji. Sehingga, jelas nilai takwa seorang Muslim terangkat pada derajat hidup manusia ke dalam orientasi kehidupan duniawi, sekaligus memperoleh justifikasi etis keakhiratan.
Allah Swt berfirman, "Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagian negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagiaanmu dari kenikmatan dunia." (QS. Qashas : 77).
Dari sana pula pendekatan yang fleksibel sesama umat dijalin dengan batas pengertian tertentu, yakni berpegang pada pokok akidah yang kita yakini, sehingga upaya mengangkat kemiskinan terwujud dengan semangat kebersamaan dan solidaritas yang tinggi dalam implementasi wadah puasa Ramadan yang penuh rahmat, ampunan dan barakah.

Tidak ada komentar: