Minggu, 06 Mei 2012

Rahasia Keampuhan Dukun (Paranormal) dan Pandangan Islam terhadapnya


Rahasia Keampuhan Dukun (Paranormal) dan Pandangan Islam terhadapnya

Telah diriwayatkan di zaman salaf bahwa suatu ketika ada seorang penyihir (atau lebih pasnya untuk hari ini adalah tukang sulap) yang memancangkan seutas tali antara tiang dengan tiang di depan masjid, lalu dia perintahkan seekor gajah untuk meleatinya dan gajah itupun mampu melakukannya. Bukan hanya itu, dia juga menggelinding di tanah, namun tatkala dia katakan "Bangun...!" maka bangunlah orang tadi dan kepalanya pulih seperti semula.
Melihat adegan tersebut, Jundub bin Ka'ab menyibak kerumunan orang-orang yang menonton hingga mendapatkan penyulap tadi lalu beliau memukulnya hingga tersungkur, lalu beliau katakan, "Bangun...!" ternyata ia tidak bisa bangun. Begitulah perlakuan para salaf terhadap para penipu dan penyihir. Kekuatan dan tipuan bangsa jin atau syaitan tak berdaya menghadapi orang-orang mulia pilihan Allah.
Secara umum profesi "dukun" sebenarnya telah memiliki konotasi buruk sejak zaman jahiliyah, sehingga tatkala orang-orang musrik jahiliyah ingin menjauhkan manusia dari Nabi, mereka sebarkan isu dan mereka memberikan gelar "kahin" (dukun) atau "sihir" (tukang sihir) agar orang-orang manjauh dari Nabi. Begitu pula tatkala datangnya cahaya Islam, tukang sihir dan dukun menempati track record yang buruk dalam pandangan Islam.
Di jaman modern ini dukun lebih dikenal dengan istilah ngetrennya "paranormal", dan keberadaan mereka mendapat tempat terhormat dalam masyarakat baik yang berprofesi sebagai tukang ramal, tukang sulap, pemimpin adat sampai pada dukun yang melakukan pengobatan alternatif yang menggunakan jin sebagai prewangan (khadam/partner).
Para Dukun Mendapat Informasi dari Jin
"Telah mengabarkan kepada kami Ali bin Abdillah dari Hisyam bin Yusuf dari Ma'mar dari Az-Zuhri dari Urwah bin Zubeir dari Aisyah r.a. berkata, "Orang-orang bertanya kepada Rasulullah SAW tentang para dukun," beliau bersabda, "Tidak ada apa-apanya." Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, mereka kadang-kadang bisa menceritakan sesuatu yang benar kepada kami. Maka Rasulullah SAW bersabda, "Kalimat tersebut berasal dari kebenaran yang dicuri oleh jin, kemudian dibisikkan ke telinga para walinya (dukun). Maka para dukun tersebut mencampurkan kalimat yang benar tersebut dengan seratus kedustaan."
(HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad)
Hadits tersebut sejara jelas membuka kedok dan rahasia "keampuhan" dukun yang banyak mengecoh orang-orang yang menyandarkan harapan, keselamatan dan kebahagiaan hidupnya kepada selain Allah. Dalam hadits ini terungkap pula teka-teki di balik kemampuan dukun yang terkadang dapat menebak peristiwa yang akan terjadi. Dijelaskan pula dalam hadits ini dari mana sumber ilmu paranormal (dukun).
Pelajaran yang dapat dipetik dari petunjuk Rasulullah SAW tersebut diatas adalah:

  1. Terkadang dukun mendapat kabar yang benar dari jin. Akan tetapi kedustaan yang dibawa sebenarnya jauh lebih besar dan lebih sering
    Imam Bukhari meriwayatkan pula dalam bab lain, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Apabila Allah memutuskan perkara di langit, para malaikat memukul-mukulkan sayapnya dalam keadaan tunduk mendengarkan firman Allah laksana gemerincingnya rantai besi yang terjatuh pada batu yang licin. Maka rasa takut telah hilang dari hati malaikat, mereka bertanya: Apa yang telah ditetapkan oleh Rabbmu? Malaikat menjawab kepada yang lain, "Allah berfirman tentang kebenaran, sedangkan Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar. Maka di saat ada setan-setan pencuri dengan membentuk formasi demikian (yakni bertumpuk satu sama lain), Sufyan memperagakan dengan menyusun telapak tangannya dan membentangkan jari-jarinya.
    Kemudian setan pencuri dengar itu berhasil mencuri dengar kalimat yang benar, lalu ia sampaikan kepada setan di bawahnya, setan yang dibawahnya tersebut mengabarkan lagi kepada yang dibawahnya lagi sampai akhirnya yang paling bawah menyampaikan hingga sampai ke lidah tukang sihir atau dukun. Bisa jadi sebelum setan sempat menyampaikan berita yang benar tersebut keburu disambar oleh bintang api. Tetapi boleh jadi pula setan berhasil menyampaikan hasil curiannya sebelum disambar api. Kemudian setan menambahi kalimat yang benar tersebut dengan seratus kedustaan. Lalu dikatakan oleh orang-orang: "Bukankah ia (dukun) telah mengatakan kita hari begini dan begini, demikian dan demikian? Maka dukun pun dipercaya karena kalimat yang benar yang dicuri dari langit." (HR. Bukhari).
  2. Kebanyakan manusia cenderung lebih mudah tergoda untuk menerima kebatilan. Jika sekali saja dukun terbukti benar, maka jiwa akan terpengaruh untuk selalu menganggap setiap apa yang dikatakan dukun adalah benar, sementara mereka melupakan kedustaan-kedustaan yang telah mereka perbuat
    Taruhlah seorang dukun meramal sebanyak seratus kali, lalu jin yang bekerja untuknya berhasil mencuri dengar sekali saja, hingga dia memberitahukan sesuatu yang benar. Maka hal ini mengandung ketakjuban banyak orang higga dikiranya setiap kali dia ngomong mesti benar. Padahal yang benar hanya satu persen, sekian persennya "kebetulan" benar dan sekian persen lagi salah.
    Contoh yang sangat mudah, mendekati tanggal 9-9-1999 yang lalu para dukun, tukang ramal atau paranormal mensosialisasikan besar-besaran, diantaranya lewat tabloid posmo, bahwa hari itu adalah hari kiamat. Ada pula yang meramalkan Soeharto meninggal ditembak pada tahun 2000 dan sebagainya yang ternyata jauh dari kenyataan. Namun alangkah anehnya, orang-orang belum merasa jera dan kapok dikibuli oleh para penipu itu.
  3. Tepatnya ramalan dukun bukanlah indikasi benarnya perbuatan tersebut secara syar'i
    Dari pintu inilah banyak orang-orang jahil tergelincir, jika apa yang mereka usahakan yakni dengan mendatangi dukun jika kebetulan terwujud, mereka menyangka bahwa hal itu merupakan indikasi keridlaan Allah karen tercapainya cita-citanya. Hal ini pula yang menggeincirkan banyak orang yang berdo'a dengan cara-cara bid'ah dan syirik seperti berdo'a kepada Allah melalui perantara penghuni kuburan nenek moyangnya atau orang shaleh. Ketika kebetulan tercapai, mereka menyangka bahwa apa yang mereka tempuh berarti benar dan diridlaai Allah, padahal bisa jadi hal itu adalah istidraj, Allah SWT berfirman, yang artinya:
    "Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang kami berikan kepada mereka itu berarti Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sesungguhnya mereka tidak sadar."
    (Q. S. Al-Mukmin: 55-56)

Kesimpulannya, bahwa tepatnya ramalan dukun, tercapainya tujuan melalui perantaraan dukun ataupun terkabulnya do'a bukanlah merupakan indikasi keridlaan Allah dan lurus di atas syare'at.
Syaikhul Islam mengisahkan di dalam kitabnya "Iqtadha'us Shirathil Mustaqim" suatu kisah yang amat berharga untuk kita ambil pelajarannya.
Suatu ketika orang-orang kafir dari golongan Nasrani berhasil mengepung kota kaum muslimin namun mereka kehabisan persediaan air minum. Lalu mereka melobi kepada kaum muslimin agar mau memberikan air kepada mereka dengan jaminan mereka akan meninggalkan kota kaum muslimin. Maka musyawarahlah para pemimpin kaum muslimin. Mereka berkata, "Biarlah mereka kehausan dan lemah kekuatan mereka lalu kita serang mereka." Kemudian orang-orang Nashrani berdo'a kepada Allah agar menurunkan hujan atas mereka dan tiba-tiba hujan pun turun. Maka menjadi bingunglah orang-orang awam dari kaum muslimin melihat fenomena tersebut yang mana do'a orang kafir dikabulkan oleh Allah. Maka berkatlah amir kepada seorang yang alim, 'Berilah pengertian kepada manusia.' Lalu disiapkanlah mimbar untuk beliau lalu beliau berkhutbah: "Ya Allah, sesungguhnya kami mengetahui bahwa orang-orang kafir tersebut adalah termasuk yang rizkinya menjadi tanggungan-Mu sebagaimana Engkau firmankan dalam kitab-Mu: "Dan tiada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rizkinya..."(Q. S. Hud: 6) Mereka berdo'a kepada-Mu dalam keadaan terjepit, sedangkan Engkau mengabulkan do'a orang-orang yang dalam keadaan terjepit jika mereka memohon kepada-Mu, karena itulah Engkau menurunkan hujan bagi mereka karena semata-mata Engkaulah yang menanggung rizki mereka dan karena mereka berdo'a kepada-Mu dalam keadaan terjepit, bukan karena Engkau mencintai mereka, bukan pula karena Engkau mencintai agama mereka. Sekarang kami berharap agar Engkau menunjukkan kepada kami tanda-tanda kekuasaan-Mu sehingga menjadi teguhlah keimanan hamba-hamba-Mu yang beriman..." Maka sebentar kemudian Allah mengirimkan badai atas orang-orang kafir dan binasalah mereka.
Sisi Kelam Kehidupan Para Dukun
Tidak banyak orang yang tahu bahwa di balik keampuhan dan kesaktian para dukun, ternyata ada sisi kelam dalam kehidupan mereka di dunia dan juga di akherat (jika mereka tidak bertaubat).
Bagaimana tidak untuk dapat bernego dengan para jin yang menjadi mitra kerjanya itu mereka harus rela menggadaikan kebahagiaan akheratnya dengan cara menanggalkan tauhid.
Bukan rahasia lagi bahwa untuk memperoleh kapasitas ilmu klenik yang tinggi mereka harus melakukan bentuk kesyirikan, kezaliman ataupun kemaksiatan kepada Allah. Ada yang menyembelih untuk jin, ada yang menjadikan para gdis sebagai tumbal, ada yang harus melakukan puasa-puasa bid'ah dan bahkan ada yang harus menjadikan mushaf Al-Qur'an sebagi alas kaki tatkala buang air besar, inna lillaahi wa inna ilaihi raji'uun.

Referensi:

  1. Fathul Bari, Ibnu Hajar Al-Asqalani
  2. Iqtidha' Ash shirat Al-Mustaqim, Ibnu Taimiyah
  3. Fathul Majid Syarh Kitab at-Tauhid, Alu Syaikh
  4. Tafsir Al-Qur'an, Ibnu Katsir

Tidak ada komentar: