Klik dong

Rabu, 02 Mei 2012

Sikap Tawakkal


Sikap Tawakkal
"Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Dia akan mencukupkan (keperluannya). Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu" (QS At -Talaq, 65:3)
Pentingnya Sikap Tawakkal
Diantara ciri-ciri kokohnya keimanan seseorang kepada Allah swt, adalah sikap pasrahnya yang kuat kepada keputusan Allah swt, dalam segala urusan hidupnya, baik dikala senang ataupun diwaktu susah. Ia yakin bahkan Allah swt Maha Pengatur, Maha Kuasa dan Maha Bijaksana dalam melakukan dan menentukan apa saja, termasuk dalam hal memberikan rizki kepada seseorang ataupun mencabutnya, memberikan kemenangan kepada sesuatu golongan atau menimpakan kekalahan kepadanya, mengangkat seseorang untuk menduduki sesuatu jabatan atau mencopotnya dan menjatuhkannya.
Sikap seorang muslim yang pasrah terhadap keputusan dan ketentuan Allah swt, seperti ini, adalah merupakan sikap tawakkal.
Tawakkal merupakan bekal hidup seseorang yang beriman yang bisa menjadikan dirinya tabah dalam menghadapi apapun bentuk cobaan atau musibah yang menimpanya. Dengan sikap tawakkal, seorang mukmin akan merasa tenang dalam hidupnya. Bila ia mendapatkan kebaikan, ia sadar bahwa Allah-lah yang memberinya, untuk itu ia bersyukur. Bila ditimpa kesulitan atau mengalami musibah, ia sadar bahwa itu datang dari Allah sebagai batu ujian , dan ia yakin bahwa dibalik kesulitan dan musibah itu pasti ada hikmah dan kemaslahatan yang dikehendaki oleh-Nya. Untuk itu ia akan bersabar dan bertawakal (QS. At-Taubah 9:51)
Seorang mukmin dalam situasi apapun dan bagaimanpun kritisnya, ia akan tetap percaya akan kemahkuasaan Allah swt. Ia akan memohon pertolongan-Nya, maka dirinya akan tentram, jiwanya tenang, sikapnya tabah. Segala sepak terjangnya hanya bersandar kepada Allah swt. Sebab tanpa pertolongan Allah swt tindakan apapun yang dilakukan, sistem apapun yang dijalankan, strategi apapun yang diterapkan, tak akan banyak artinya, meskipun dikemas dengan rapi dan teratur. Untuk itulah Allah swt senantiasa memperingatkan orang beriman untuk jangan terpukau dengan kekayaan, kepintaran, kecerdasan, kekuasaan karena semua itu tidak akan banyak berpengaruh, bila tidak ada pertolongan atau bantuan dari Allah swt (QS. At Taubah, 9:25-26)
Bukan Sikap Menyerah Tanpa Usaha
Tawakkal itu bukan sikap menyerah atau pasrah, atau bersikap masa bodoh atau berpangku tangan tanpa berusaha dan bekerja dengan keras. Tawakkal adalah usaha maksimal seorang mukmin sambil yakin akan adanya pertolongan Allah swt (QS Al-Ankabut, 29:58-59). Tertinggalnya posisi umat Islam dewasa ini, bila dibandingkan dengan umat lainnya, baik dalam percaturan perpolitikan secara makro dan berskala international, ataupun disektor perekonomian dan dibidang disiplin ilmu dan teknologi, tak lain karena kekeliruan sebagian kaum muslimin dalam menyikapi dan memahami arti tawakkal. Mereka menganggap bahwa tawakkal ialah sikap masa bodoh dan pasrah sepenuhnya kepada Allah swt, tanpa adanya usaha maksimal, tanpa berjuang, tanpa bekerja keras. Mereka menyalah artikan konteks hadist Nabi saw yang berbunyi :
"Jika kamu bertawakkal kepada Allah dengan sepenuh tawakkal, maka Dia pasti akan memberimu rizki, sebagaimana Dia memberi rizki kepada seekor burung, ia pergi meninggalkan sarangnya dalam keadaan kosong (lapar), dan pulang kembali kesarangnya dalam keadaan penuh temboloknya (kenyang)" (HR Turmuzi dan Ibnu Majjah).
Padahal arti dan maksud dari hadist tersebut, bahwa pergi dan pulangnya burung itu, jelas dalam rangka usaha dan kerja mencari rizki. Jika burung itu hanya duduk dan diam saja disarangnya, tanpa beranjak pergi dan terbang mencari rizki, tentu makanan itu tak akan mungkin datang dengan sendirinya kesarangnya.
Tawakkal Pijakan Para Nabi Dalam Berjuang
Sikap tawakkal adalah pegangan dan pijakan para Nabi dalam berjuang menegakan keadilan dan memperjuangkan kebenaran, demi melaksanakan ajaran Allah swt. Kalimat yang selalu dikumandangkan dalam setiap menghadapi tantangan atau ancaman dari lawan atau musuh yang menteror atau mengintimidasinya ialah : "Bagaimana mungkin kami tidak bertawakkal kepada Allah padahal Dia telah menunjukan jalan kepada kami, dan kami akan sungguh-sungguh bersabar terhadap gangguan - ganguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakkal itu berserah diri" (QS. Ibrahim, 14:12).
Oleh karena itu, maka mempersenjatai diri untuk menghadapi setiap ancaman dan tantangan yang datang dari musuh, merupakan sikap tawakkal (QS Al-Anfal, 8:60)
Tetap terus melakukan shalat dalam situasi perang, dengan cara - cara dan aturan tertentu yang telah digariskan, agar tidak diserang pihak musuh, merupakan sikap tawakkal (QS, An- Nisa, 102) Sikap tertap waspada, tidak lalai serta siap siaga dalam menghadapi setiap kemungkinan adanya berita buruk, teror atau intimidasi dari pihak -pihak yang menghendaki desintegrasi dan berkehendak untuk memecah belah umat Islam merupakan sikap tawakkal (QS An-Nisa, 4:71).
Bahkan sikap preventif dari bahaya wabah suatu penyakit yang berbahaya dan menular, dengan cara mengggalakan gerakan menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan merupakan sikap tawakal. Rasulullah saw, telah bersabda : "Bila kamu mendengar ada suatu wabah penyakit berbahaya di suatu daerah, padahal kamu sedang berada didaerah itu maka kamu jangan keluar kedaerah lain." (HR Bukhari).
Sabda Nabi ini merupakan tonggak sejarah kesehatan yang telah dicanangkan oleh Islam sejak lima belas abad yang lalu sebelum bangsa - bangsa lain mencanangkannya. Ini suatu bukti jelas betapa Islam demikian peduli terhadap kesehatan para pemeluknya dan terhadap lingkungaannya, secara keseluruhan.
Pengaruh Sikap Tawakkal
Betapa sikap tawakkal ini dapat menanamkan pengaruh dan efek yang positif, baik dalam pribadi maupun pihak lain, pernah diceritakan oleh Prof Dr Yusuf Qardhawi dalam kitab Ats-Tsaqafah al-Arabiyah Al-Islamiyah Bainal Ashalah wal-Mu'asarah, dimana diuraikan bahwa ketika beliau menghadiri suatu persidangan yang diselenggarakan oleh orang-orang muslim Italy, beliau berjumpa dengan seorang Italy yang telah memeluk Islam dan menceritakan sebab-musabab masuk Islam. Ia berkata : Saya pernah berjumpa seorang muslim Marocco yang sedang berjualan barang-barang kelontong dengan gerobak dorong dimusim salju. Ia pergi hilir mudik dengan menjajakan dagangannya tanpa menghiraukan udara yang dingin menusuk tulang. Orang Italy bertanya kepadanya : Apa yang mendorong anda untuk berjualan dalam cuaca yang sangat dingin ini ? si pedagang menjawab : Untuk mencari rizki Allah. Ia bertanya lagi : "Apakah rizki dari berjualan ini mencukupi", jawabnya "Alhamdulillah, segala puji bagi Allah dari hasil berjualan ini, sebagian saya pergunakan untuk biaya hidup di Italy ini, dan sebagian saya kirimkan kepada keluarga dan ayah bunda di Marocco". Ia bertanya " Apakah anda bertanggung jawab terhadap kehidupan mereka ?" Si pedagang menjawab : "Keridhaan Allah berada diatas keridhaan mereka (orangtua) dan memelihara silaturrahmi akan memberikan keberkatan dalam hidup ". Orang italy berkata : "Ini berarti anda ridha dan suka dengan kehidupan yang sedang anda jalani". Ia menjawab : "Ya saya ridha dan menerima dan saya senantiasa terus bertawakkal kepada Allah swt, semoga Dia selalu melimpahkan nik'mat karunia-Nya kepada saya". Orang Italy bertanya lagi : "Siapa yang mengajarimu semua ini" ?, "Agamaku, Islam yang telah mengajariku terhadap semua ini" jawabnya lugas. Orang Italy bertanya pula : "Bagaimana caranya bila saya ingin mempelajari agama yang anda anut itu ?", si pedagang menjawab : "Saya ini orang awam, tidak berpendidikan tinggi, jika anda ingin mempelajari tentang Islam, kiranya anda bisa bertanya kepada pengurus mesjid disebelah sana, dan bila anda mau, saya bisa mengantarkannya kesana untuk menemui pengurus mesjid itu". Maka mereka berdua pergi ke Mesjid tersebut. Selang beberapa waktu kemudian, orang Italy itu masuk Islam dan selanjutnya giat mempelajari ajaran -ajaran Islam dengan tekun, hingga akhirnya ia menjadi aktivis dakwah yang potensial menyiarkan agama Islam dinegrinya Italy.
Wallahu a'lam bish-shawab.

Tidak ada komentar: