Klik dong

Kamis, 03 Mei 2012

TASAWUF ( 2 )


TASAWUF ( 2 )

Langkah-langkah untuk menjadi Sufi
Sebagaimana sudah maklum bahwa menurut pandangan sebagian sufi, apabila seorang muslim ingin menjadi seorang sufi, maka ia harus menjalani langkah-langkah sbb;
1. Syariat. Dalam tataran ini muslim yang bersangkutan harus belajar fiqih yang meliputi ibadah, muamalah, munakahat, mewaris, jinayat (pidana), dan khilafah (Purwadaksi,1983:14-15). Kajian fiqih yang demikian sudah dirumuskan dan dituangkan dalam "Fiqih Madzhab Empat". Idealnya seorang kandidat salik yang mau memasuki tarekat hendaknya memahami dan mengerti kajian fiqih empat madzhab itu bahkan ditambah lagi dengan fiqih Jakfari yang lazimnya dianut oleh jamaah Syiah. Sekurang-kurangnya ia memahami fiqih satu madzhab, misalnya fiqih Syafii. Lazimnya para sufi dalam hal fiqih ini, menganut salah satu madzhab dari empat madzhab yang tersedia.
2. Tarikat. Perkataan tarikat dalam istilah tasawuf artinya wadah tempat mendidik dan melatih para salik. Komponen-komponen tarikat terdiri dari (1) guru tarikat atau guru rohani yang disebut mursyid atau syekh. Kualitas seorang syekh harus memiliki ilmu syariat dan hakekat secara lengkap. Pemikirannya dan tutur katanya serta perilakunya dalam banyak hal harus mencerminkan akhlak yang terpuji. (2) Salik atau murid tarikat; (3) suluk, yaitu amalan dan wirid atau perbuatan yang harus dikerjakan oleh salik berdasarkan perintah syekh; (4) zawiyah, yaitu majlis, tempat para salik mengamalkan suluk. Disamping itu ada satu syarat yang harus dipenuhi oleh kandidat salik yaitu baiat antara dia dan syekh. Baiat itu sendiri ada dua macam yaitu ;
  1. Baiat suwariyah, yaitu baiat bagi seorang kandidat salik yang hanya sekedar ia mengakui bahwa syekh yang membaiatnya ialah gurunya tempat ia berkonsultasi dan syekh itupun mengakui, orang tersebut adalah muridnya. Ia tidak perlu meninggalkan keluarganya untuk menetap tinggal dalam zawiyah tarikat itu untuk terus menerus bersuluk atau berdzikir. Ia boleh tinggal dirumahnya dan bekerja sehari-hari sesuai dengan tugasnya. Ia sekadar mengamalkan wirid yang diberikan oleh gurunya itu pada malam-malam tertentu dan bertawassul kepada gurunya itu. Ia dan keluarganya bersilaturrahmi kepada gurunya itu sewaktu-waktu pula. Apabila ia memperoleh kesulitan dalam hidup ini, ia berkonsultasi dengan gurunya itu pula.
  2. Baiat ma`nawiyah, yaitu baiat bagi seorang kandidat salik yang bersedia untuk dididik dan dilatih menjadi sufi yang arif bi I-lah (as-Samman,1908:10-11 dan Purwadaksi,1992:431). Kesediaan salik untuk dididik menjadi sufi itupun sudah barang tentu berdasarkan pengamatan dan keputusan guru tarikat itu. Salik yang masuk tarikat melalui baiat yang demikian harus meninggalkan anak-istri dan tugas keduniaan. Ia berkhalwat dalam zawiyah tarikat didalam penegelolaan syekhnya. Khalwat ini bisa berlangsung selama beberapa tahun bahkan belasan tahun. Muhammad Ibn Abdillah yang kemudian menjadi khatamu I-anbiya wa I-mursalin berkhalwat di Gua Hira selama 20 tahun. Ia berhenti berkhalwat sesudah ia mencapai tingkat ma`rifat dan hakikat, yaitu dengan wahyu turunnya surat al-Alaq lima ayat berturut-turut yang disampaikan oleh Jibril. Pertemuannya dengan malaikat Jibril adalah ma`rifat sedangkan wahyu yang diterimanya merupakan hakikat.
3. Ma`rifat. Perkataan ma`rifat secara bahasa artinya pengetahuan atau ilmu. Dalam istilah tasawuf berarti mengenal atau melihat alam ghaib seperti syurga atau neraka, bertemu dengan para nabi, para malaikat, para auliya dll yang semuanya itu terjadi bukan dalam mimpi. Dalam hal ini saya mengajukan contoh pengalaman Syekh Muhammad Samman, seorang sufi abad ke-18 di Madinah sebagaimana tergambar dalam naskah melayu yang berjudul "Hikayat Syekh Muhammad Samman". Didalamnya ia mengatakan bahwa sesudah sholat shubuh ia merasa ruhnya keluar dari jasadnya, kemudian ruhnya naik kelangit pertama hingga langit ketujuh. Disana ia bertemu dengan Nabi Ibrahim a.s dan bercakap-cakap dengannya sedangkan ia tetap dalam keadaan ingat (Purwadaksi,1993:438).
4. Hakikat. Perkataan hakikat dalam istilah tasawuf ialah esensi atau pangkal dari semua alam yang maujud baik yang ghaib ataupun yang syahadah, yaitu Nur Muhammad atau hakikat Muhammad, tatkala Tuhan menuturkan sabda kun! (jadilah) maka tampillah Nur Muhammad yang merupakan mazharu-Haqqi Ta`ala. Dengan demikian maka mazhar (tampak sehingga bisa dikenal) pula (1) zat, yaitu Nur Muhammad yang berupa zat Allah ; (2) asma, yaitu nama Allah; (3) sifat, yaitu kamalu I-lah (kesempurnaan Allah) dan (4) af `alu I-Lah (perbuatan Allah). Keempat hal tersebut merupakan percikan terang dari Allah (tajalli) Allah pada Nur Muhammad itu (Purwadaksi,1992:411-412). Menurut Ibn Arabi wujud Nur Muhammad ini apabila dilihat dari segi zatnya ia adalah Allah (al-Haqq), tetapi apabila dilihat dari sifat-sifat dan asma-asmanya ia adalah fi`il-Nya (al-Khalq) (Afifi jilid I,1946:25), sedangkan Allah itu mahasuci dan Maha Tinggi, tidak ada lafal dan kata-kata maupun kalimat yang memadai untuk menyifatinya (Afifi jilid II,1946:188). (Masa Depan Tarikat di Indonesia, Dr. P.A. Purwadaksi, hal. 4-7)
Macam-macam Tarekat:
Kalau kita lihat perkembangan tasawuf dari awal tadi terlihat berbagai macam versi tasawuf dari yang benar kepada yang menyimpang dari yang sunni (kalau betul) kepada yang bidie. Kita lihat pemaparan beberapa ulama dibawah ini .
Ibnu Taimiyah membagi sufi menjadi 3 macam ;
  1. Sufiyah haqoiq, yaitu mereka yang full timer beribadah dan berdzikir serta zuhud terhadap dunia.
  2. Sufiyah Arzaak, yaitu mereka yang sibuk mencari rizki tetapi tetap melakukan kewajiban sebagai muslim dan meninggalkan larangan Allah SWT serta menjaga sopan santun Islam dan jauh dari bid`ah.
  3. Sufiyah rusuum, yaitu mereka yang berpakaian seperti sufi tetapi sedikit amalannya, orang kira itulah sufi tetapi mereka bukan sufi yang sebenarnya. (Majmu fatawa 11/hal 12-20 secara ringkas).
Al Hajwairi berpendapat sufi ada 3;
  1. Sufi, yaitu orang yang full timer beribadah kepada Allah dan jauh dari pengaruh dunia.
  2. Mutasowwif, yaitu orang sufi yang bermujahadah mencapai tempat pertama.
  3. Al Mustasawwif, yaitu orang yang menyerupai sufi dari kalangan penguasa, pengusaha dan kalangan elit tapi mereka tidak banyak amalnya. (Kasyful Mahjub I/hal 231)
Sementara Arrazi membagi sufi menjadi enam;
  1. Ashhabul Aadat, mereka yang hanya memperhatikan pakaian dan penampilan.
  2. Ashhabul ibadat, mereka yang banyak beribadah dan jauh dari dunia.
  3. Ashhabul Hakikah, mereka yang sudah selesai melaksanakan perintah wajib tidak melaksanakan yang sunnah tetapi berfikir terhadap ciptaan Allah dan tenggelam dengan dzikir kepada-Nya.
  4. Annuriyah, mereka yang berpandangan bahwa hijab ( tirai pendinding ) ada dua bersifat cahaya dan api. Bersifat cahaya merupakan upaya untuk memiliki sifat-sifat terpuji sedangkan bersifat api menghindari sifat-sifat tercela seperti dengki, marah, tamak dll.
  5. Al Hululiyah, mereka yang berkeyakinan hulul atau ittihad (wihdatul wujud) dan tidak memperhatikan peranan akal samasekali.
  6. Al-Mubahiyah, mereka yang mengaku cinta kepada Allah SWT tetapi melanggar ajaran Allah SWT, mereka ini yang paling buruk karena beranggapan Allah SWT telah mengangkat taklif kepada mereka. (Itiqodaat firaqul muslimin wal musyrikin hal 115-117, dinukl dari Madhohir inhirafat oleh Idris Mahmud hal 51)
Sedangkan Muhammad bin Saad menyebutkan empat macam sufi;

  1. Zahidun wariuun, yaitu mereka yang hidup secara Islam dengan zuhud dan wara`.
  2. Ghulat Mulhidun, yaitu mereka yang berlebihan sampai ketingkat atheis.
  3. Mutawassilun Gholuum, yaitu mereka yang berlebihan dalam bertawassul.
  4. Muqollidun Murtaziqun, yaitu mereka yang mengaku sufi untuk mendapat dunia dan pengaruh. (Assy'iris Shufi, hal. 9)
Penilaian
Untuk menghindari agar kita tidak terjerumus dalam kubangan kesesatan, maka kita perlu berhati-hati dalam menilai apalagi mengikuti tasawuf agar tidak salah jalan. Nasehat pakar sufi modern, Dr.Abdurrahman Badawi dalam bukunya Tarikh Tasawuf Islami, menyebutkan bahwa titik tolak tasawuf itu ada tiga macam ;
  1. Berdasarkan Kitabullah dan Sunnar Rasulullah SAW serta salaf sholeh secara benar bukan sekedar pengakuan.
  2. Berdasarkan penafsiran manusiawi yang tidak jarang menyimpang.
  3. Berdasarkan kecenderungan pribadi terlepas dari ajaran Islam.
Tentunya kita mengikuti yang pertama meskipun lebih baik kita menggunakan istilah Al Qur`an yaitu Tazkiyah (lihat QS.As-Syam:9 dan Al Jumu`ah:2). Intinya agar kita zuhud dan wara` dari kemewahan dunia dan bersungguh-sungguh mencapai kenikmatan akhirat. Hal itu dengan cara mengikuti petunjuk Rasulullah SAW baik perbuatan, ucapan atau persetujuannya, karena petunjuk Beliau adalah sebaik-baik petunjuk dan ajaran beliau telah sempurna (lihat QS.Al Maidah:3). Wallahu A`lam.

Tidak ada komentar: