Klik dong

Minggu, 06 Mei 2012

Tasawuf dalam Pandangan Ibnu Taimiyah dan Hasan al-Banna


Tasawuf dalam Pandangan Ibnu Taimiyah dan Hasan al-Banna

Telah sering kita mengangkat pembicaraan mengenai tasawuf. Dan telah muncul banyak versi dan persepsi mengenai tema ini. Terhitung sejak kemunculannya yang pertama hingga sekarang ini, tak terhitung lagi kelompok/aliran yang mengidentifikasi dirinya sebagai ahli tasawuf. Sehingga makin kaburlah pemahaman, dan kebenaran pun semakin sulit dilacak.
Sampai akhirnya munculla dua kelompok yang sama-sama ekstrem dalam hal menyikapi tasawuf ini. Satu kelompok adalah mereka yang memuji secara berlebih-lebihan, kelompok yang lain mencerca dan mencela habis-habisan.
Untuk itu mendesak kiranya bagi generasi ini untuk menjernihkan duduk perkara dan mengembalikan segala sesuatunya pada tempat semula. Di antara cara yang paling selamat adalah dengan cara kita mengambil pendapat dari para ulama yang ahli dalam masalah ini serta mempunyai integritas dan otoritas keilmuan yang sekiranya dapat dipertanggungjawabkan.
Berikut akan kita simak pendapat dua imam (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Imam As-Syahid) mengenai masalah ini.
Pendapat Ibnu Taimiyah
Tasawuf muncul pertama kali di Basrah. Syaikhul Islam pernah berkata:
"Pertama kali muncul tasawuf itu di Basrah. Sedang orang yang pertama kali membangun tasawuf adalah shahabat-shahabat Abdul Wahid bin Zaid. Beliau sendiri adalah salah satu dari shahabat Hasan. Ketika itu di Basrah ada fenomena ekstrem dalam hal zuhud, ibadah, khauf, dan sebagainya yang tidak ada bandingannya selama ini." (Al-Fatawa, Jilid 11. hal. 6-7).
Syaikhul Islam telah mengambil pendapat terkuat mengenai penamaan tasawuf, yakni berasal dari pakaian yang bernama shuf.
Seputar Kerancuan Tasawuf
Bermula dari sekelompok orang yang ingin menjalani kehidupan ini dengan sikap zuhud. Mereka begitu berlebihan dalam memahami dan memraktikkan semua ini sehingga melahirkan perilaku yang tidak pernah dikenal pada zaman shahabat generasi pertama Islam, tidak juga pada masa tabi'Imam Nasa'i. Memang diantara mereka ada yang tetap istiqamah dan bersikap tawazun, namun banyak juga yang berlebihan. Diantara mereka ada yang mukhlish, ada juga yang dusta. Ada yang alim dan takwa, ada pula yang jahil. Oleh karenanya tumpang tindihlah antara pujian disatu sisi dan celaan di sisi yang lain.
Syaikhul Islam berkata: "Orang-orang berselisih pendapat mengenai tasawuf. Sebagian mencela tasawuf seraya berkata: Mereka adalah ahli bid'ah yang telah keluar dari Sunnah. Dari para imam yang mewakili kelompok ini kita dapatkan banyak fatwa yang kemudian banyak diikuti oleh kelompok lain terutama dari kalangan ahli fiqh dan ilmu kalam.
Sementara kelompok yang lain memujinya secara berlebihan seraya mengatakan bahwa ahli tasawuf adalah makhluk yang paling mulia dan paling sempurna setelah Nabi." (Al-Fatawa, Jilid 11, hal. 18).
"Apa yang dikemukakan kedua kelompok di atas sama-sama tercelanya. Yang benar adalah: Mereka itu orang-orang yang taat kepada Allah sebagaimana para ahli taat lainnya. Ada sebagian mereka yang ada di depan karena kesungguhan ketaatannya, dan ada juga yang cukupan. Selain dari keduanya, ada juga orang yang berusaha namun jatuh dalam kekeliruan sehingga banyak berbuat dosa. Sedangkan diantara orang-orang yang menisbatkan diri kepada golongan mereka (ahli tasawuf) ada yang menganiaya diri sendiri dan suka berbuat maksiat kepada Rabbnya." (Al-Fatawa, Jilid 11. hal. 16-17).
Tasawuf Hakekatnya Baik
Beliau menjelaskan bahwa tasawuf itu asalnya baik. Ia berakar dari sikap zuhud, ibadah, tazkiyatun nafs, shidiq dan ikhlas.
Tasawuf bagi mereka memiliki beberapa prinsip yang telah dikenal (ma'ruf), yang telah jelas batas-batas dan asal-uslnya. Seperti yang mereka katakana bahwa shufi (ahli tasawuf) adalah orang yang bersih dari kotoran dan sarat dengan muatan piker. Baginya sama saja antara emas dan batu.
Tasawuf juga berarti menyembunyikan ma'na dan menghindari pengakuan manusia atau yang semisalnya. Mereka menghendaki dari ma'na tasawuf itu shidiq. ((Al-Fatawa, Jilid 11. hal.16-17).
Lambat laun bergeserlah kesucian pemahaman dan konsep dasar ini kepada pemahaman yang juz'iyah (parsial) dan rancu. Masuklah orang-orang atau kelompok yang menisbatkan sebagai shufi namun menyimpang dari prinsip semula. Mulailah praktek bid'ah dan khurafat masuk di dalamnya. Yang bahkan diingkari sendiri oleh tokoh-tokoh yang lurus di antara mereka sendiri.
Beberapa kalangan dari ahli bid'ah dan zindiq telah menisbatkan dirinya pada tasawuf, namun dikalangan tokohnya yang lurus mereka tidak dianggapnya. Seperti Al-Hallaj misalnya, banyak dari tokoh tasawuf yang mengingkarinya dan mengeluarkannya dari shaf mereka. Juga Junaid bin Sayyidut Thaifah dan lain sebagainya, sebagaimana tersebut dalam kitab Thabaqat Shufiyyah oleh Syaikh Abu Abdir Rahman as-Sulami?(Al-Fatawa, Jilid 11, hal. 18).
Maka secara garis besar tasawuf terbagi dua:

  1. Tasawuf Ahli Ilmu dan Istiqamah
    Tokoh-tokohnya adalh Fudhail bin Iyadh, Ibrahim bin Adham. Abu Sulaiaman ad-Darani, Ma'ruf al-Karkhi. Junaid bin Muhammad, Sahl bin Abdullah at-Tastari, dan lain sebagainya. Semoga Allah memberikan ridha-Nya kepada mereka.
  2. Tasawuf Filsafat, Bid'ah dan Zindiq

Tasawuf serupa ini yang memunculkan ajaran-ajaran aneh semisal wihdatul wujud, hulul dan ittihad (kesendirian total).
Do'a al-amwat (do'anya orang mati), mendakwakan diri tahu hal ghaib, dan sebagainya yang nyata-nyata bertentangan dengan syari'at.
Pendapat Imam Syahid
Imam Syahid adalah mujahid sekaligus mujaddid besar abad ini. Beliau seorang yang tegas dan keras dalam menyikapi penyelewengan dalam masalah din. Namun kelembutan hati dankemuliaan akhlak beliau menjadikan ketegasan itu sesuatu yang bijaksana. Bahkan sangat bijaksana sehingga beliau dicintai sekaligus disegani oleh semua kalangan. Melengkapi itu semua, beliau juga seorang yang alim, sehingga semua pendapat dan pendiriannya atas dasar ilmu dan hujjah yang jelas sehingga tidak menyeleweng dari syari'at.
Beliau mema'nai tasawuf dalam kerangka ma'na yang shahih sesuai Al-Kitab dan Sunnah. Beliau memuji hal-hal yang patut dipuji dan mencela sesuatu yang memang tercela. Bersama jamaah yang dirintisnya, beliau menjadikan tasawuf (yang lurus) sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari bangunan Islam yang syamil. Tercermin dari doktrin yang beliau pancangkan bahwa jamaah ini merupakan:

  1. Da'wah Salafiyyah. Karena dia mengacu pada Al-Qur'an dan Sunnah serta menjadikan salafus shalih sebagai sumber keteladanan.
  2. Thariqah Sunniyah. Karena dia akan membawa kepada beramal sesuai dengan bimbingan sunnah dalam segala hal khususnya dalam aqidah dan ibadah.
  3. Hakekat Shufiyyah. Karena mereka mengetahui bahwa asas kebajikan adalah kebersihan jiwa, kesucian hati, kemurnian niat, melatih amal, cinta kepada Allah dan mengikatkan diri pada kebaikan.
  4. Hai'ah Siasiyyah.
  5. Jama'ah riyadhiyah.
  6. Rabithah Ilmiyah Tsaqafiyah.
  7. Syirkah Iqtishadiyah dan seterusnya.

Tasawuf dan Jihad
Tasawuf tidaklah identik dengan ketidakpedulian terhadap dunia luar dan meninggalkan jihad. Bahkan tokoh-tokoh besar dari tasawuf yang lurus sepanjang sejarah banyak terlibat dalam jihad fi sabilillah.
Untuk melengkapi pembicaraan ini, baiklah saya kemukakan dihadapan anda semua bahwa kaum Muslimin sepanjang masa tidak pernah lepas dari jihad. Baik ulama, para shufi dan anggota masyarakat yang lainnya. Sebutlah misalnya Abdullah bin Mubarak. Seorang ulama yang faqih, zuhud dan ahli ibadah. Sebagian besar dari umur beliau adalah digunakan untuk berjihad. Juga tokoh shufi Abdul Wahid bin Zaid, seorang shufi besar yang zuhud. Ada lagi Syaqiq al Bakhla, Syaikh shufi yang menggerakkan murid-muridnya mengangkat senjata dalam jihad. Ada pula al-Badrl 'Aini, pensyarah Shahih Bukhari yang faqih dan ahli hadits. Dia mengajar setahun, berperang setahun dan berhaji setahun?Juga Imam Syafi'i yang masyur itu. Beliau adalah ahli melempar. Demikian para salafush shalih pendahulu kita?(M. Rasail, hal. 260).
Salah seorang pelopor tasawuf adalah Imam Hasan al Bashri. Yang menyeru kepada dzikrullah, dzikrul maut, tazkiyatun nafw. Dan sikap zuhud menuju taat dan takwa kepada Allah. Itulah satu bentuk aliran tasawuf yang beliau menamakan sebagai ilmu tarbiyah was suluk (ilmu pembinaan dan tingkah laku). Tidak disangsikan lagi bahwa ini termasuk bagian inti dari ajaran Islam. Dan harus diakui bahwa tasawuf semacam ini telah berhasil mengobati penyakit kejiwaan sampai batas yang tidak dapat dicapai oleh cara selainnya.
Kalaupun kemudian muncul sikap-sikap berlebihan, maka dia adalah tasawuf yang tersesat. Dan diakui memang hal demikian telah banyak terjadi bahkan tasawuf juga telah tercemar oleh filsafat dan logika yang menyesatkan. Kita prihatin terhadap yang demikian, tanpa harus menutup mata dari kebaikan-kebaikan yang ada.
Imam Syahid Seorang Sufi
Sekiranya kita bersepakat untuk memaknai tasawuf dalam ma'nanya yang lurus, maka akan kita dapatkan bahwa Imam Shahid adalah salah seorang ahlinya. Sebagian umur beiau telah dilewatkan sebagai anggota sebuah aliran sufi yang bernama Thariqah al-Hashifiyah. Untuk itu, biarlah beliau sendiri menceritakanihwalnya.
"Saya secara rrutin mengamalkan wazhifah ar-Ruzuqiyah (semacam wirid pagi dan petang). Dan saya juga mendapatkan ayah saya menyusun hal serupa dengan menunjukkan dalil-dalil yang keseluruhannya diambil dari Kitabullah dan Sunnah yang shahih. Tidak ada di sana kalimat yang aneh-aneh, ungkapan filsafat atau lainnya yang tidak mengandung do'a." (Mudzakirat Da'wah wad Da'iyah, hal.11).
selanjutnya beliau juga bercerita tentang Syaikh Hasanain al Hashaf sebagai pendirinya serta bagaimana pola dakwahnya.
"Suatu saat Syaikh mengunjungi seorang yang bernama Basya, dia seorang Perdana Menteri. Kemudian masuklah seorang ulama, memberi salam kemudian membungkuk sampai hampir seperti ruku'. Maka bangkirlah Syaikh dengan marah dan memukul kedua pipi ulama tersebut dengan keras seraya berkata: "Hai berdirilah! Sesungguhnya ruku' itu tidak boleh dilakukan kecuali kepada Allah. Janganlah engkau menghinakan agama dan ilmu supaya engkau tidak dihinakan Allah." Dan tidak sepatah katapun terucap kala itu, baik dari sang alim maupun dari Perdna Menteri.
Pada saat yang lain, beliau menunjungi masjid Husain dengan sebagian muridnya. Ia berdiri di atas kubur membacakan do'a-do'a ma'tsur. Kemudian salah seorang muridnya berkata: "Ya Syaikh, mintalah kepada Sayyidina Husain agar dia meridhai saya." Serta merta dengan marah beliau menjawab: "Yang meridhao saya, kamu dan dia hanyalah Allah."
Inilah dia thariqah yang lurus, jauh dari segala penyimpangan terhadap syara'. Di sini pulalah telah ditanam dan dibesarkan jiwa dan akhlak Imam Syahid.
Akhirnya jelaslah bagi kita bahwa kedua Imam lagi-lagi bertemu pemahaman dalam masalah tasawuf ini. Keduanya berpihak kepada pemahaman dan perilaku yang lurus dalam masalah ini. Serta menyeru untuk menjauhi segala bentuk penyimpangan dan penyelewengan dari patokan yang ada dalam Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. Maka marilah kita pun memahami permasalahan sebagaimana pemahaman kedua beliau. Semoga ampunan dan rahmat Allah atas keduanya. Amin.

Tidak ada komentar: