Klik dong

Kamis, 03 Mei 2012

TUJUAN HIDUP MUSLIM


TUJUAN HIDUP MUSLIM
Dengan segala kesungguhan hati disertai semangat taat kepada Allah, mari kita manfaatkan kesempatan yang baik ini untuk menambah taqwa kita kepada Allah. Semoga segala amal Ibadah kita dapat mendekatkan diri kita kepada-Nya untuk mendapatkan ampunan dan maghfirah-Nya.
Dalam surat Al-Baqarah ayat 202, Allah berfirman :
?Dan diantara mereka ada yang mendo'a : '' Ya Tuhan Kami , berilah kami kebaikan didunia dan kebaikan diakhirat dan pelihara kami dari siksa Neraka. Merekalah Orang-orang yang mendapat kebahagian dari apa yang mereka usahakan, dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.''

Firman Allah diatas menjelaskan kepada kita tentang nasib baik bagi orang-orang yang berusaha dan senantiasa berdo'a untuk mendapat keselamatan akhirat. Sebenarnya, itulah tujuan utama seorang muslim, ialah diselamatkannya dari api neraka. Hakikat dan tujuan hidup inilah yang merupakan kendali agar dalam hidupnya, manusia akan berhati-hati, dia tidak akan berbuat semaunya sendiri.
Kita menyadari, bahwa kehidupan dunia adalah sangat sementara, karena kita semua pada saatnya nanti akan dipanggil kembali oleh Allah untuk meneruskan hidup di alam abadi di akhirat nanti. Oleh sebab itu, Islam memerintah umatnya guna mempersiapkan diri dengan bekal yang cukup untuk kehidupan yang tak terbatas, tentang kehidupan dunia, dengan jelas Allah menjelaskan dalam Al-qur'an Surat Al-Hadid ayat 20 sebagai berikut :
"Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu adalah permainan. dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian menjadi hancur. Dan akhIrat dan nanti ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaannya dan kehidupan ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu."

Jika Allah swt melukiskan kehidupan dunia ini dengan perumpamaan yang rendah, bukanlah maksudnya untuk meremehkan sama sekali kehidupan dunias ini. Akan tetapi, sebagai satu peringatan zaman sampai manusia menyangkutkan hatinya kepada kenikmatan yang sifatnya sementara.
Pada ayat tadi sekaligus digambarkan pula tentang kenikmatan kehidupan di alam akhirat kelak bagi orang-otrrang yang berbuat kebajikan di dunia ini, suatu kehidupan yang penuh kasih sayang, penuh ampunan, dan penuh ridho Ilahi.
Menurut sudut pandang Islam, diperlukan suatu tata hidup yang seimbang antara kebutuhan-kebutuhan dunia dan akhirat. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Qashash ayat 77 :
?Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu berupa kebahagiaan negeri akherat, tetapi janganlah kamu melupakan bagianmu dari kenikmatan duniawi, dan berbuat baiklah kepada orang lain sebagaiman a Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kamu kerusakan di muka bumi sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.?

Seorang muslim yang betul-betul beriman, tidaklah akan terpesona oleh kemewahan dan kenikmatan hidup di dunia. Sebab dia yakin bahwa semua itu akan sirna dan lenyap. Ia ingin mendapatkan kenikmatan dunia dengan berusaha sekuat tenaga, tetapi dia juga berusaha sekuat tenaga untuk menabung amal shaleh dan beribadat bagi kebahagiaannya nanti di akherat. Dan itulah kiranya sabda Rasulullah Saw :
?Berusahalah untuk urusan duniamu seolah-olah kamu akan hidup selama-lamanya, dan berusahalah untuk urusan akheratmu seolah-olah kamu akan mati besok pagi.? (Hadits).

Hadits di atas jelas menganjurkan keseimbangan usaha duniawi dan ukhrawi juga merupakan peringatan, bahwa amal-amal yang kita kerjakan di dunia, sangat mempengaruhi keadaan kita di akhirat kelak, bahagia atau celaka.
Dalam kehidupan dunia yang sementara, tidak sedikit manusia yang terbujuk dan terpikat, ia lupa akan hakikat dan tujuan hidupnya, lalu terjerumuslah ia ke lembah kesesatan dan kehancuran. Ia berusaha menikmati manisnya dunia sepuas-puasnya, dan bersedia melakukan berbagai cara untuk mendapatkan kenikmatan itu. Ia tak segan berbohong, melakukan pemerasan dan penindasan terhadap sesama, dan lain sebagainya. Jika sudah demikian, hilanglah rasa kasih sayang dan persaudaraan seseorang, lalu hilanglah imannya kepada Allah. Padahal, salah satu ciri orang yang beriman adalah adanya rasa kasih sayang kepada sesama hamba Allah, sebagaimana disabdakan oleh Nabi kita Muhammad saw :
?Tidak beriman seorang diantara kamu sehingga ia mencintai saudaranya, seperti ia mencintai dirinya sendiri.? (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits di atas menerangkan dengan jelas, bahwa kasih sayang sesama hamba Allah, atau lebih tegasnya sesama muslim merupakan ukuran iman seseorang.
Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa penyakit yang sangat berbahaya dalam kehidupan masyarakat ialah hilangnya rasa kasih sayang dan persaudaraan.
Islam memberikan nasehat bagi orang-orang yang tersesat, sebagaimana sabda nabi :
?Agama adalah nasehat.? (HR. Muslim).

Islam juga memberikan petuah bahwa sesungguhnya kehidupan di dunia hanya sementara dan merupakan permainan yang mengandung tipu daya. Seorang muslim yang yakin akan senantiasa tetap akan berpegang teguh terhadap pedoman agama, untuk menuju kebahagiaan hakiki. Berbahagialah orang yang menyadari hakikat dan tujuan hidupnya, dan berusaha menjalani hidupnya dengan berpegang erat pada pedoman agama berupa tuntutan Allah dan rasul-Nya. Karena hanya dengan dua tuntunan itu seorang muslim akan selamat di dunia dan di akhirat. Rasulullah bersabda dalam satu hadits :
?Aku telah meninggalkan untukmu dua perkara, jika kamu betul-betul berpegang teguh akan dua tinggalan tersebut, kamu tak akan tersesat selama-lamanya. Dua tinggalan itu ialah kitab Allah dan sunnah Rasulnya.?

Hadits di atas menjelaskan, bahwasanya Al-quran dan Al-hadits merupakan pedoman bagi seorang muslim yang sudah dijamin kebenarannya. Barang siapa yang senantiasa taat mengikuti ajaran-ajaran Al-quran dan Al ?hadits tidak akan sesat dan celaka untuk selama-lamanya. Al-quran dan Al-hadits menuntun kita dalam hubungan horisontal dengan sesama manusia dan dalam hubungan vertikal kepada Allah Swt. Ketika seseorang senantiasa bersandar pada dua tinggalan itu, ia akan menunjukkan perangai terpuji. Suatu perangai yang menjadi jaminan baginya untuk mendapatkan tempat yang terpuji pula baik di dunia maupun di akhirat.

Tidak ada komentar: