Senin, 11 Juni 2012

17 Ramadhan Nuzulul Qur^an?


17 Ramadhan Nuzulul Qur^an? 

Hari ini 17 Ramadhan yang dianggap sebagai hari diturunkannya Al Quran, Nuzulu lQur^an. Judul di atas ditutup dengan tanda tanya, yang tentu bermakna: Benarkah Al Qur^an itu diturunkan Allah pada 17 Ramadhan? 
Pendekatan Ilmiyah, yang sumber informasinya adalah alam, pada zaman Yunani Kuno mempunyai kelemahan. Seperti diketahui, para pakar Yunani Kuno memperkembang tradisi keilmuan orang Mesir Kuno dan Sumaria yang hanya berasaskan intizhar (observasi), dengan penambahan unsur penafsiran terhadap hasil observasi itu. Ini melahirkan teori-teori ilmiyah yang spekulatif. Mengapa spekulatif, oleh karena teori-teori hasil penafsiran itu tidak diuji-coba. Dalam seri 020 telah dijelaskan bahwa para pakar Yunani Kuno di bidang fisika tidak mungkin dapat melakukan uji-coba teori hasil penafsiran itu, oleh karena matematika di zaman Yunani Kuno belum mampu untuk dapat dipakai sebagai ilmu penunjang untuk kebutuhan uji-coba itu. Jadi kelemahan Pendekatan Ilmiyah di zaman Yunani Kuno ialah teori-teori yang ditelurkan oleh para pakar itu spekulatif sifatnya karena tidak dapat dibuktikan kebenarannya melalui uji-coba. Maka terjadilah keadaan status quo yang berwujud: Menurut pendapat Anaxagoras demikian, menurut pendapat Socrates demikian, dan seterusnya. Itulah sebabnya sains di zaman Yunani Kuno tidak dapat diaplikasikan dalam teknologi, sehingga teknologi tidak mungkin dapat berkembang. 
Apa yang terjadi sampai sekarang ini dalam Pendekatan Kitabiyah (Scriptural Approach), yang sumber informasinya adalah wahyu, keadaannya sama betul dengan Pendekatan Ilmiyah dalam zaman Yunani Kuno. Yakni hanya sampai dalam tahap penafsiran saja. Hanya berhenti dalam keadaan status quo, menurut qaul (pendapat) si fulan begini dan menurut qaul si fulan yang lain begitu. Tidak ada lanjutannya berupa uji-coba. Jangan salah faham, yang diuji-coba bukan tentang kebenaran ayat Al Qur^an. Al Qur^an adalah sumber informasi wahyu, yang bersumber dari Sumber dari segala sumber, Yang Maha Mutlak. Kebenaran Al Qur^an, yang bersumber dari Yang Maha Mutlak tidak membutuhkan uji-coba karena kebenarannya adalah mutlak. Yang mebutuhkan uji-coba adalah hasil penafsiran orang terhadap Al Qur^an, dan inilah yang diabaikan dalam Pendekatan Kitabiyah, termasuk antara lain hasil penafsiran bahwa Nuzulu lQur^an itu adalah pada 17 Ramadhan, yang menjadi topik dalam seri 023 ini. 
*** 
Al Quran tidak membedakan pengertian ayat, baik yang dimaksud dengan alam, yang disebut ayat kawniyah, maupun yang dimaksud dengan isi Al Qur^an, yaitu ayat qawliyah. (kawniyah dari kaana = jadi dan qawliyah dari qaala = sabda). Dalam kedua ayat di bawah ini jelas Al Quran tidak membedakan pengertian ayat, baik sebagai ayat kawniyah maupun ayat qawliyah: 
....... wa laa tasytaruw bia-ya-tiy tsamanan qaliylan ....... artinya: ...... Dan janganlah engkau menjual ayat-ayatKu dengan harga murah .....(S.Al Baqarah, 41) ....wa yunzilu mina ssamaai ma-an fa yuhyiy bihi l.ardha ba'da mawtihaa inna fiy dza-lika la.a-ya-tin liqaumin ya'qiluwn, artinya: diturunkanNya hujan dari langit, dan dengan itu dihidupkanNya bumi sesudah matinya, sesungguhnya dalam hal ini adalah ayat-ayat bagi kaum yang mempergunakan akalnya (Ar Rum 24). 
Oleh karena Al Qur^an tidak membedakan antara ayat Al Quran dengan ayat alam, maka tidak ada alasan untuk tidak mengaplikasikan metode uji-coba dalam Pendekatan Kitabiyah yang sumber informasinya wahyu, sebagaimana halnya dengan pengaplikasian metode uji-coba dalam Pendekatan Ilmiyah, yang sumber informasinya adalah alam. Namun perlu ditekankan di sini, bahwa tentu tidak semua penafsiran itu dapat diuji-coba, baik itu penafsiran terhadap sumber informasi wahyu, maupun penafsiran terhadap sumber informasi alam. 
Marilah kita mulai dengan menjelaskan hasil penafsiran S. Al Anfal, ayat 41 yang membuahkan sebuah teori bahwa Nuzulu lQur^an itu terjadi pada 17 Ramadhan. Wa in kuntum amantum biLla-hi wa maa anzalnaa 'ala- 'abdinaa yawma lfurqaana yawma ltaqa ljam'an, artinya: Jika kamu beriman kepada Allah dan (beriman kepada) apa yang kuturunkan kepada hambaku (Muhammad) pada Hari Al Furqaan, hari bertemunya dua pasukan. 
Pada umumnya ditafsirkan, bahwa yang diturunkan Allah itu adalah Al Qur^an, dan Hari Al Furqan, hari bertemunya dua pasukan adalah Perang Badar. Dan menurut catatan sejarah, Perang Badar terjadi pada 17 Ramadhan. Jadi Nuzulu lQur^an adalah pada 17 Ramadhan. 
Dalam penafsiran ini ada 3 tahap pemikiran/perbuatan manusia. Tahap pertama berupa pemikiran, bahwa maa/apa diartikan sebagai Al Quran. Tahap kedua adalah juga pemikiran, yaitu bertemunya dua pasukan adalah Perang Badar. Tahap ketiga adalah perbuatan, yaitu pencatatan/ingatan sejarah, bahwa Perang Badar itu adalah pada 17 Ramadhan. Penafsiran inilah, yang berupa tiga tahap pendapat manusia itu yang perlu diuji-coba, yang dirujukkan kepada Al Qur^an dan Al Hadits yang Shahih. 
Bahwa Al Qur^an diturunkan dalam bulan Ramadhan itu benar, sebab hal itu dibenarkan oleh S. Al Baqarah, ayat 185: Syahru Ramadhaana lladziy unzila fiyhi lQur^an .... artinya: Bulan Ramadhan yaitu diturunkan di dalamnya Al Qur^an ... 
Sekarang mengenai tanggal. Ini tidak disebutkan secara langsung dalam Al Qur^an, melainkan berupa isyarat, yaitu dalam S. Al Qadar ayat 1: Innaa anzalnaahu fiy laylati lqadri, artinya: Sesungguhnya Kami turunkan dia pada Malam Qadar. Isyarat Al Qur^an itu diperjelas oleh sabda Rasulullah SAW: taharraw laylata lqadri fi l'asyri l.awaakhir min ramadhaan, artinya: Carilah olehmu Malam Qadar pada sepuluh malam terakhir dalam bulan Ramadhan. Hadits di atas itu adalah hadits shahih, yaitu Shahih Bukhari. 
Bilangan 17 tidak termasuk dalam daerah antara 21 dengan 30, kalau jumlah hari bulan Ramadhan 30 hari, atau di antara 20 dengan 29, kalau bulan Ramadhan itu hanya terdiri dari 29 hari. Hasil uji-coba menolak penafsiran tanggal 17 di atas itu. 
Mungkin ada yang bertanya, buat apa dipermasalahkan tanggal 17 atau bukan. Yang perlu diperhatikan adalah isi Al Qur^an itu dan pengamalannya. Memang memperhatikan isi Al Qur^an dan mengamalkannya itu sangat perlu. Namun kemurnian aqiedah itu adalah hal yang tidak kurang pentingnya. Dengan metode uji-coba ini berhasil diungkapkan, bahwa penafsiran tanggal 17 ini bertentangan dengan hadits shahih. Kalau kita ngotot mengatakan bahwa Nuzulu lQur^an itu 17 Ramadhan, itu berarti kita lebih percaya kepada pencatat tanggal kejadian perang Badar yang kita tidak tahu siapa dia ketimbang sabda Rasulullah SAW. Lalu rusaklah syahadat kita, karena hanya Asyhadu alla ilaha illaLlah, tanpa asyhadu anna MuhammadarRasululLah, dan apakah itu tidak termasuk penganut Inkar Sunnah? 
Lalu, tanggal berapakah Nuzulu lQur^an itu? Jawabnya adalah itu merupakan rahasia Allah SWT. Pokoknya terletak salah satu malam di antara 10 malam terakhir dalam bulan Ramadhan, seperti Shahih Bukahri itu. Rahasia Allah ini ada hikmahnya. Kita lebih intensif beribadah pada 10 malam terakhir bulan Ramadhan, karena salah satu malam di antara 10 malam itu adalah Laylatu lQadri, yang kalau kita beribadat pada waktu itu nilainya lebih dari 1000 bulan, khairun min alfi syahrin. Bayangkan, satu malam dinilai 1000 bulan, 1000:12 = 83,3 tahun. Inilah hikmahnya, yaitu meningkatkan kwalitas nilai ibadah kita, seakan-akan umur kita diperpanjang menjadi 83,3 tahun setiap bulan Ramadhan, apabila kesempatan itu dapat kita pergunakan. WaLlahu a'lamu bishshawab. 

Tidak ada komentar: