Selasa, 17 Juli 2012

Khutbah Idul Fitri: Akhir Zaman

Khutbah Idul Fitri: Akhir Zaman

Tidak ada sutradara manapun yang menulis skenario untuk mengecewakan para
penonton. Sutradara selalu memastikan bahwa jagoan atau the Good Guys keluar
sebagai pemenang atas para penjahat (the Bad Guys). SubhaanAllah, apalagi Allah
Ta’ala, sebaik-baiknya Penulis Skenario. Pastilah Allah berrencana memenangkan
tentaraNya atas tentara Dajjal atau hizbusy-syaithan.....
----------

Jamaah sholat Idhul Fitri rahimakumullah
Marilah kita senantiasa mengungkapkan rasa terima-kasih kepada Allah SWT semata.
Allah telah melimpahkan kepada kita sedemikian banyak ni’mat. Jauh lebih banyak
ni’mat yang telah kita terima dibandingkan kesadaran dan kesanggupan kita untuk
bersyukur. Di antaranya, marilah kita ber-terimakasih kepada-Nya atas ni’mat yang
paling istimewa yang telah kita terima selama ini, padahal tidak semua manusia
memperolehnya. Dan terkadang kitapun bertanya-tanya mengapa kita termasuk yang
memperolehnya? Itulah ni’mat iman dan Islam, yang dengannya hidup kita menjadi jelas,
terarah dan berma’na.
Sesudah itu, marilah kita ber-terimakasih pula kepada Allahu ta’ala atas limpahan ni’mat
sehat-wal’aafiat. Ni’mat yang memudahkan dan melancarkan segenap urusan hidup kita
di dunia. Semoga kesehatan kita kian hari kian mendekatkan diri dengan Allahu ta’ala.
Dan semoga saudara-saudara kita yang sedang diuji Allah melalui aneka jenis penyakit
sanggup bersabar menghadapi penderitaannya…bersama keluarga yang mengurusnya,
sehingga kesabaran itu mengubah penyakit mereka menjadi penghapus dosa dan
kesalahan. Amien, amien ya rabbal ‘aalamien.
Selanjutnya khotib mengajak jamaah sekalian untuk senantiasa berdoa kepada Allah swt
agar Dia melimpahkan setinggi-tingginya penghargaan dan penghormatan, yang biasa
kita kenal dengan istilah sholawat dan salam-sejahtera kepada pemimpin kita bersama,
teladan kita bersama… imamul muttaqin pemimpin orang-orang bertaqwa dan qaa-idil
mujahidin panglima para mujahid yang sebenar-benarnya nabiyullah Muhammad
Sallalahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, para shohabatnya dan para pengikutnya yang
setia hingga akhir zaman. Dan kita berdo’a kepada Allah swt, semoga kita yang hadir di
tempat yang baik ini dipandang Allah swt layak dihimpun bersama mereka dalam kafilah
panjang penuh berkah. Amien, amien ya rabbal ‘aalaamien.
Kita baru saja meninggalkan suatu bulan amat mulia, bulan rahmat- keampunan yang
membuahkan taqwa dan mengembalikan fitrah. Bulan ujian kesabaran-ujian tenggang
rasa-solidaritas, bulan dosa diampuni, kesalahan dimaafkan dan kotoran dicuci. Bulan di
dalamnya terdapat suatu malam nilainya lebih baik dari seribu bulan. Bulan penuh berkah
dan janji dijauhkan dari api neraka. Bulan yang disebut oleh Ulama Yusuf al-Qardhawy
hafizhohullah sebagai madrasah mutamaiyyizah atau lembaga pendidikan istimewa bagi
orang beriman. Mudah-mudahan kita semua termasuk golongan hamba-hamba Allah
yang berhasil lulus menjadi muttaqin. Amiin…
Kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah,
Bulan Ramadhan merupakan musim ketaatan atau maushimut-thoah. Setiap tahun di
bulan Ramadhan umat Islam di seantero dunia mengalami transformasi penampilan.
Yang biasanya di luar bulan Ramadhan jarang sholat ke masjid, tiba-tiba mendapati
dirinya mengayunkan langkah kaki dengan ringannya ke masjid, musholla atau surau.
Itulah sebabnya kita temui masjid lebih semarak di bulan suci tersebut.
Yang biasanya di luar bulan Ramadhan terasa berat untuk ber-infaq atau mengeluarkan
sedekah, tiba-tiba mendapati diri menjadi dermawan dengan merogoh kantong atau
membuka dompet membagi sebagian rizqi kepada fihak lain yang membutuhkan.
Muslimah yang biasanya di luar bulan Ramadhan tidak pernah peduli menutup aurat
tubuhnya, seketika dengan semangat menampilkan dirinya ber-jilbab tiap kali berjumpa
dengan lelaki yang bukan muhrimnya di bulan penuh rahmat tersebut.
Benarlah Rasulullah saw ketika bersabda
“Bilamana tiba bulan Ramadhan pintu-pintu rahmat (surga) dibuka lebar-lebar, pintupintu
jahannam ditutup rapat-rapat dan para syetan dibelenggu. ” (HR Bukhary-Muslim)
“Kami menjadi saksi, ya Allah, benarnya ucapan Nabi-Mu saw di akhir zaman ini. Kami
membukitikan bahwa setiap Ramadhan datang umat Islam mengalami peningkatan gairah
ketaatan, ketaqwaan dan perbuatan ma’ruf. Dan sebaliknya terjadi penurunan kadar
kemaksiatan, kekufuran dan munkar. Pantaslah bilamana seorang mu’min sejati sangat
menginginkan andai Ramadhan berlangsung sepanjang tahun. Ya Allah, saksikanlah,
betapa sedihnya kami berpisah dengan bulan agung lagi penuh berkah ini. Ya Allah, kami
sangat ingin menyaksikan masjid-masjid kami menjadi penuh dan semarak sepanjang
tahun, diri-diri kami menjadi dermawan dan cinta memberi kepada kaum dhuafa, fuqara
wal-masaakin sepanjang tahun serta saudara-saudara muslimat kami berjilbab dengan
anggunnya sepanjang tahun. ”
Jamaah sholat Idhul Fitri rahimakumullah
Sepanjang perjalanan zaman Allah SWT senantiasa memperlihatkan sifat-sifat utamanya,
yakni Ar-Rahman (Maha Pengasih) dan Ar-Rahim (Maha Penyayang). Tidak pernah
sesaatpun Allah Ta’ala biarkan umat manusia hidup di dunia dalam kegelapan dan
ketidak-jelasan. Allah Ta’ala selalu memberikan petunjuk dan bimbingan-Nya kepada
hamba-hambaNya. Allah Ta’ala mewujudkan hal ini melalui pengiriman para utusan-Nya
di setiap kelompok umat manusia di sepanjang zaman.
“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan),
"Sembahlah Allah (semata), dan jauhilah Thaghut (Syaithan) itu”(QS An-Nahl ayat 36)
Tidak ada seorang Nabi ataupun Rasul yang diutus Allah Ta’ala kepada ummat manusia
bersuku-bangsa apapun sepanjang zaman kapanpun di negeri manapun, kecuali beliau
pasti menyampaikan seruan abadi yang seragam tersebut: “Sembahlah Allah (semata) dan
jauhilah Thaghut (Syaithan) itu. ” Demikianlah seruan yang disampaikan oleh Nabi
Adam as kepada ummatnya, Nabi Nuh as kepada umatnya, Nabi Ibrahim as, Nabi Musa
as serta Nabi Isa as kepada masing-masing ummat mereka. Bahkan segenap Nabiyullah -
yang 25 namanya diperkenalkan Allah Ta’ala kepada kita di dalam Al-Qur’an maupun
yang lainnya yang kita tidak tahu nama-nama mereka tetapi dikatakan oleh para ulama
jumlah mereka mungkin mencapai 124. 000 itu- semuanya juga telah menyampaikan
seruan abadi tersebut.
Hingga tibalah giliran utusan Allah Ta’ala yang terakhir yakni Nabiyullah Muhammad
saw. Beliau merupakan penutup dari rangkaian para Nabi dan Rasul ‘alaihimus-salaam.
“Muhammad itu sekali-kali bukanlah ayah dari seorang lelaki di antara kalian, tetapi ia
adalah Rasul Allah dan Penutup Nabi-Nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala
sesuatu. ” (QS Al-Ahzab ayat 40)
Berarti kesimpulannya ialah:
1. Karena Nabi Muhammad saw merupakan Penutup para Nabi, berarti tidak bakal ada
lagi Nabi setelahnya yang diutus Allah Ta’ala untuk membawa ajaran baru bagi ummat
manusia
2. Barangsiapa yang lahir dan hidup setelah diutusnya Nabi Muhammad saw (Penutup
para Nabi) pantas dijuluki sebagai Ummat Muhammad saw, baik ia muslim maupun kafir
3. Ummat Muhammad saw merupakan Penutup Para Ummat atau Ummat Akhir Zaman
yang dipimpin oleh Nabi Akhir Zaman. So, we are the last of mankind living in the end
of time. Kita adalah sisa-sisa terakhir ummat manusia menjalani hidup di ujung
parjalanan zaman.
4. Kalaupun aqidah iman-Islam kita mengajarkan bahwa kelak di akhir zaman akan
diturunkan seorang Nabiyullah yang selama ini dipelihara Allah Ta’ala di langit selama
ribuan tahun, yakni Nabi Isa Al-Masih putra Maryam as, maka itu bukan berarti ia akan
datang membawa ajaran baru. Bahkan kehadirannya kelak adalah sebagai pengikut &
pengokoh ajaran Nabi Muhammad saw. Ia akan mengajak ahli-kitab, kaum Yahudi dan
Nasrani untuk memeluk ajaran Nabi Muhammad saw, ajaran Islam. Sebab semua Nabi
dan Rasul para utusan Allah pada hakikatnya selalu mengajak manusia kepada ajaran
Islam Tauhid, yaitu mengesakan Allah Ta’ala semata.
Jamaah sholat Idhul Fitri rahimakumullah
Kesadaran bahwa kita merupakan Ummat Akhir Zaman atau The Last of Mankind Living
in the End of Time merupakan perkara penting. Sebab hal ini akan membawa kita pada
keyakinan bahwa Hari Akhir telah dekat kedatangannya. Bahkan Allah Ta’ala berfirman
sebagai berikut:
"Manusia bertanya kepadamu tentang hari akhir. Katakanlah, "Sesungguhnya
pengetahuan tentang hari akhir itu hanya di sisi Allah." Dan tahukah kamu (hai
Muhammad), boleh jadi hari akhir itu sudah dekat waktunya. ”(QS Al-Ahzab 63)
Dan Rasulullah saw sendiri bersabda:
“Aku diutus sebelum kedatangan Hari Akhir sebagaimana jari telunjuk ini mendahului
jari tengahku. ” (HR Muslim 4141)
Saudaraku, sudahkah kita mempersiapkan diri untuk menghadapinya? Bila Hari Akhir
udah dekat waktunya -bahkan semenjak diutusnya Nabi Muhammad saw 15 abad yang
lalu- pantaslah Allah Ta’ala menyuruh kita mempersiapkan diri menghadapi hari esok
yang perintahnya diletakkan di antara dua kali penyebutan perintah bertaqwa kepadaNya:
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri
memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertaqwalah kepada
Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. ” (QS AlHasyr
ayat 18)
“Ya Allah, jadikanlah ibadah shiyam dan qiyam Ramadhan kami benar-benar
menghasilkan taqwa yang memadai untuk membekali kami menghadapi tanda demi tanda
Akhir Zaman yang terus berdatangan. Kami sadar bahwa semakin mendekati Hari Akhir
tentunya ujian dan fitnah yang datang akan kian berat. Yaa muuqallibal-quluub tsabbit
quluubanaa ‘ala diinika. Ya Allah Yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami
di atas ajaranMu. ”
Jamaah sholat Idhul Fitri rahimakumullah
Rasulullah saw menjelaskan kepada kita sejak 15 abad yang lalu bahwa Ummat Islam
yang hidup di Era Akhir Zaman ini akan mengalami perjalanan sejarah yang mengandung
lima babak.
“(1) Babak Kenabian akan berlangsung di tengah kalian selama masa yang Allah
kehendaki kemudian Allah mencabutnya jika Allah menghendaki untuk mencabutnya.
(2) Kemudian babak keKhalifahan yang mengikuti pola (manhaj) Kenabian berlangsung
di tengah kalian selama masa yang Allah kehendaki kemudian Allah mencabutnya jika
Allah menghendaki untuk mencabutnya.
(3) Kemudian babak Raja-raja yang menggigit berlangsung di tengah kalian selama masa
yang Allah kehendaki kemudian Allah mencabutnya jika Allah menghendaki untuk
mencabutnya.
(4) Kemudian babak Raja-raja yang memaksakan kehendak(para diktator) berlangsung di
tengah kalian selama masa yang Allah kehendaki kemudian Allah mencabutnya jika
Allah menghendaki untuk mencabutnya.
(5) Kemudian babak keKhalifahan yang mengikuti pola (manhaj) Kenabian kemudian
Nabi diam. ” (HR Ahmad 17680)
Hadits ini menguraikan Ringkasan Perjalanan Sejarah Ummat Islam yang terdiri dari
lima babak sebagai berikut:
Babak I=> Kenabian
Babak II=> Kekhalifahan mengikuti pola (Manhaj) Kenabian
Babak III=> Raja-raja yang Menggigit
Babak IV=> Raja-raja yang Memaksakan kehendak (diktator)
Babak V=> Kekhalifahan mengikuti pola (Manhaj) Kenabian
Jamaah sholat Idhul Fitri rahimakumullah
Babak pertama atau babak Kenabian ة=< ?ُA@B ا adalah masa di mana ummat Islam langsung
dipimpin oleh Nabiyullah Muhammad saw secara langsung. Babak ini berlangsung
singkat yaitu 23 tahun (13 tahun Sebelum Hijrah hingga 10 Hijriah), tidak sampai
seperempat abad lamanya. Tetapi ia merupakan masa yang singkat namun diberkahi
Allah Ta’ala. Ketika Nabi saw baru diutus pada usia 40 tahun jazirah Arab sedang
tenggelam di dalam nilai-nilai zhulumat al-jaahiliyyah (kegelapan nilai-nilai jahiliah).
Sementara tatkala Nabi saw wafat pada usia 63 tahun telah terjadi transformasi sosial
secara total sehingga jazirah Arab menjadi bersinar di bawah naungan Nurul Islam
(Cahaya Ajaran Allah Ta’ala Al-Islam). SubhaanAllah. Babak pertama sudah berlalu,
saudaraku.
Babak kedua atau babak Kekhalifahan mengikuti pola (Manhaj) Kenabian adalah masa di
mana setelah wafatnya Nabi Muhammad saw ummat dipimpin oleh para sahabat mulia
yang dijuluki Khulafaa Ar-Rasyidin (para khalifah yang jujur, adil dan istiqomah
mengikuti Allah dan RasulNya). Masa ini ditandai kepemimpinan sahabat-sahabat utama,
yakni Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Al-Khattab, Ustman bin ‘Affan dan Ali bin Abi
Tholib radhiyAllahu ‘anhum ajmaa’iin (semoga Allah meridhai keempatnya tanpa
kecuali). Babak ini juga berlangsung singkat yaitu 30 tahun (tahun 10 H hingga 40 H),
seperempat abad lebih sebagaimana prediksi Nabiyullah Muhammad saw:
“Era Al-Khilafah di dalam ummatku berlangsung tugapuluh tahun, kemudian sesudah itu
muncullah era kerajaan demi kerajaan. ”(HR At-Tirmidzi 2152)
Babak kedua sudah berlalu, saudaraku.
Kemudian muncullah babak ketiga atau babak kepemimpinan Raja-raja yang Menggigit.
Ia adalah masa di mana ummat Islam dipimpin dengan pola kerajaan selama masa yang
cukup lama yaitu sejak tahun 40 H hingga tahun 1342 H atau sekitar 14 abad, tepatnya
selama 1302 tahun. Babak ini terutama ditandai dengan berdirinya tiga kerajaan Islam
besar-besar yaitu Daulat Bani Umayyah lalu Daulat Bani Abbasiyyah kemudian
Kesultanan Utsmani Turki yang di dalam berbagai kitab sejarah dunia (barat) lebih
dikenal dengan The Ottoman Empire.
Mengapa pada masa ini para pemimpin ummat dijuluki oleh Nabiyullah Muhammad saw
sebagai “para raja yang menggigit”, padahal ummat masih menyebut mereka sebagai
khalifah, institusi negara Islam masih bernama khilafah dan Al-Qur’an serta Sunnah Nabi
saw masih dijunjung tinggi? Karena ketika itu suksesi pergantian kepemimpinan seorang
khalifah kepada khalifah berikutnya menggunakan pola keturunan alias pola kerajaan.
Sementara disebut “menggigit” karena para raja tersebut “menggigit” Al-Qur’an dan
Sunnah, turun sedikit kualitasnya dibandingkan babak sebelumnya di mana para
Khulafaa Ar-Rasyidin “menggenggam” Al-Qur’an dan Sunnah secara kuat dan mantap.
Oleh karenanya, babak ketiga ini jelas babak yang lebih buruk daripada babak kedua.
Namun ia masih jauh lebih baik daripada babak keempat, sebab setidaknya ia masih
mampu memelihara ummat Islam berada di dalam satu kesatuan Jama’atul Muslimin
yang tunggal dengan wilayah geografis Daulah Islamiyyah yang tunggal serta
kepemimpinan yang memiliki otoritas tunggal. Pada masa ini tidak ditemukan kasus
perbedaan penetapan tanggal jatuhnya hari Raya Idul Fitri, karena masih ada Final
Decision Maker yang menyelesaikan berbagai perbedaan hasil ru’yatul hilal yang muncul
di tengah ummat. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Babak ketigapun sudah berlalu
dan menjadi sejarah, saudaraku.
Jamaah sholat Idhul Fitri rahimakumullah
Setelah perjalanan sejarah Ummat Islam melalui babak pertama, kedua dan ketiga, maka
Nabiyullah Muhammad saw selanjutnya memberitakan akan datangnya babak keempat
yaitu babak kepemimpinan Raja-raja yang memaksakan kehendak(para diktator). Ini
adalah babak yang diawali semenjak runtuhnya kekhalifahan kesultanan Ustmani Turki
pada tahun 1924 atau 1342 H. Babak ini ditandai dengan runtuhnya kesatuan Ummat
Islam dengan kesatuan wilayah dan kepemimpinannya. Ummat Islam menjalani
kehidupan laksana anak-anak ayam kehilangan induk. Dunia Islam terurai menjadi
kepingan-kepingan negeri yang memiliki arah dan sistem beraneka jenis yang pada
umumnya jauh dari arah dan sistem Islam. Mulailah dunia memiliki para pemimpin dan
penguasa yang memaksakan kehendak seraya mengabaikan kehendak Allah dan
RasulNya. Nasionalisme dan sekularisme menjadi dominan pada tataran kehidupan
sosial-kemasyarakatan, sementara identitas dan ideologi Islam cenderung dilokalisasi
pada tataran kehidupan individual semata.
Pada babak keempat ummat Islam menjalani the darkest ages of the Islamic history (masa
paling kelam dalam sejarah Islam). Ini sudah merupakan skenario Ilahi dalam rangka
menyadarkan kita akan benarnya firman Allah Ta’ala sebagai berikut:
“Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun
(pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran)
itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)…” (QS Ali
Imran ayat 140)
Ada harinya orang-orang beriman mengalami kejayaan dan memiliki peradaban yang
kuat, sementara ada harinya mereka merasakan kekalahan, keterpurukan dan ketidakjelasan
peradaban. Ada pula harinya orang-orang kafir berjaya, memiliki peradaban
bahkan berlaku semena-mena dan ada harinya mereka keok, kalah serta tidak berdaya
menyebarluaskan budaya maksiat dan kekufurannya. Itulah sunnatullah yang mesti
berlaku dalam kehidupan di dunia yang fana ini.
Yang penting bagi kita adalah setelah menyadari kita berada pada posisi terpuruk
sekarang ini seyogyanya kita bersungguh-sungguh memelihara kesabaran dan konsistensi
(istiqomah) dalam menjalankan kehidupan berpandukan ajaran Islam. Kita tidak mungkin
banyak berharap dalam situasi di mana para sedang merajalela menguasai dunia dewasa
ini. Kondisi ini bahkan telah dinubuwwahkan oleh Rasulullah saw melalui berbagai
Tanda-tanda Akhir Zaman (EFGHB اط ا JK ا ) yang begitu banyak bermunculan di era kita
sekarang ini.
Bahkan jika kita cermati hadits mengenai perjalanan sejarah Ummat Islam riwayat Imam
Ahmad di atas sudah sepatutnya kita mengembangkan optimisme –selain sabar dan
istiqomah- karena babak keempat bukanlah babak final perjalanan nasib ummat Islam.
Masih ada satu babak lagi yang perlu dijemput oleh ummat Islam. Itulah babak kelima di
mana bakal tegak kembali era kepemimpinan orang-orang sekaliber Abu Bakar, Umar,
Ustman dan Ali, yaitu Kekhalifahan mengikuti pola (Manhaj) Kenabian. Suatu era yang
barangkali tidak terbayangkan bagi siapapun yang telah begitu dahsyat terperangkap
dalam kesenangan menipu babak keempat sekarang ini. Era yang sudah pasti dinantikan
oleh setiap muslim-mu’min yang merindukan tegakknya keadilan dan kejujuran hakiki.
Jamaah sholat Idhul Fitri rahimakumullah
Marilah kita persiapkan diri seoptimal mungkin untuk menghadapi babak final, babak
kelima tersebut. Mari kita kenali, fahami dan persiapkan diri menghadapi Tanda-tanda
Akhir Zaman yang bakal memenuhi panggung sandiwara dunia di masa peralihan babak
keempat menuju babak kelima Ummat Akhir Zaman ini. Pastikan keberfihakan kita
kepada Imam Mahdi dan Nabiyullah Isa Al-Masih as. Pastikan penolakan kita masuk ke
dalam pasukan para penguasa diktator babak keempat apalagi ke dalam pasukan Dajjal,
fitnah terbesar di Akhir Zaman kata Nabi saw.
Ibarat sebuah film, dunia saat ini telah berada pada episode menjelang The End.
Bayangkan, sudahlah kita dijuluki Ummat Akhir Zaman, lalu dari lima babak perjalanan
Ummat Akhir Zaman yang beriman ini, kita berada di babak keempat pula. Berarti, kita
wajib mempersiapkan diri menyongsong babak final Akhir Zaman. Masa transisi dari
babak keempat menuju babak kelima kata Nabi saw bakal diwarnai banyak ujian dan
fitnah yang kian menghebat sehingga sebagian ulama menyebutnya sebagai era Huruhara
Akhir Zaman.
Tidak ada sutradara manapun yang menulis skenario untuk mengecewakan para
penonton. Sutradara selalu memastikan bahwa jagoan atau the Good Guys keluar sebagai
pemenang atas para penjahat (the Bad Guys). SubhaanAllah, apalagi Allah Ta’ala,
sebaik-baiknya Penulis Skenario. Pastilah Allah berrencana memenangkan tentaraNya
atas tentara Dajjal atau hizbusy-syaithan.
Namun, sebagaimana semua film pada umumnya, mustahil jagoan menang sebelum
melalui episode yang paling seru dan dahsyat. Artinya, mustahil babak kelima akan
datang bila Ummat Islam berharap mencapainya sekedar dengan berjalan melalui tamantaman
bunga. Sudah sewajarnya bilamana peralihan babak keempat menuju babak kelima
melewati bukit-bukit berbatu dan jurang-jurang curam diwarnai deraian airmata bahkan
sangat mungkin bersimbah darah. Sebab mustahil para penguasa diktator babak keempat
akan menyerahkan begitu saja kepemimpinan kepada orang-orang beriman dan beramal
sholeh kecuali melalui sebuah perlawanan yang keras. Satu hal yang pasti, masa transisi
itu mustahil sekedar melalui meja perundingan, apalagi sekedar melalui permainan
pertarungan “kotak suara”.
Wallahu ‘alam bish-shawwaab.

Tidak ada komentar: