Senin, 16 Juli 2012

Tegar dalam Menghadapi Ujian

Tegar dalam Menghadapi Ujian


Ma'asyiral muslimin rakhimakumullah!
Kehidupan manusia di dunia ini tidak akan terlepas dari ujian, karena ujian adalah sunnah Allah, sebagaimana yang ditegaskan dalam firman-Nya: "Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman," sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta." (Al-Ankabut: 2--3).
Dalam ayat di atas Allah SWT menyatakan bahwa keimanan yang telah kita ikrarkan akan diuji oleh Allah SWT. Ujian itu bisa berbentuk sakit, miskin, kematian, rasa takut, bencana alam, godaan kekafiran, dan lain sebagainya. Dari ujian yang diberikan ini akan dapat diketahui apakah keimanan yang kita ikrarkan itu benar atau dusta.
Ma'asyiral muslimin rakhimakumullah!
Keimanan bagi seorang muslim adalah sesuatu yang sangat bernilai harganya. Dengan keimanan, amalan dan perbuatan seseorang menjadi bernilai di hadapan Allah SWT. Karena itu, Islam menganjurkan agar seorang muslim mempertahankan keimanan ini dari segala hal yang dapat menghancurkannya. Jangan sampai hanya karena perkara dunia, lalu kita harus menggadaikan keimanan kita.
Dalam hal ini, Rasulullah saw telah memberikan contoh kepada kita betapa beliau tegar dan tegas dalam mempertahankan keimanan ini. Ketika Rasulullah saw mendapat tawaran dari orang kafir untuk mengadakan ibadah bersama, satu hari bersama orang muslim dan hari yang lain bersama orang kafir, maka dengan tegas Rasulullah menolak tawaran yang merusak keimanan ini. Hal ini sebagaimana wahyu yang telah Allah SWT turunkan kepada beliau dalam surat Al-Kafirun ayat 1--6, "Katakanlah hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang aku sembah, Dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah, Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah, untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku."
Demikian pula yang dikatakan oleh Rasulullah saw manakala pamannya, Abu Thalib, menyampaikan permintaan orang kafir agar beliau menghentikan dakwahnya. Maka, beliau bersabda, "Demi Allah, wahai pamanku, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan perkara ini, maka aku tidak akan meninggalkannnya, sehingga Allah menampakkannya atau menghancurkan yang lain." Kita bisa melihat betapa tegasnya Rasulullah saw dalam mempertahankan keimanan ini.
Maka, apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw ini kemudian memberikan pengaruh yang cukup lekat di hati dan sanubari para sahabat, sebagaimana yang terjadi dalam Perang Khandaq. Di saat orang munafik hampir saja mengadakan perdamaian dengan kabilah Banu Ghatfan dengan memberi sepertiga hasil kurma Madinah. Maka, berkatalah dua Sa'ad, yaitu Sa'ad bin Muaz, pemuka suku Aus, dan Sa'ad bin Ubadah, pemuka suku Khazraj: "Ya Rasulullah, dahulu ketika kami dan mereka masih dalam keadaan menyekutukan Allah dan menyembah berhala dan mereka tidak pernah menerima kurma dari kami selain dengan jalan hutang atau beli. Apakah kini setelah Allah memuliakan kami dengan Islam dengan memberi petunjuk kami kepada Islam serta kami bangga dengan engkau dan Allah akan kami berikan harta kami kepada mereka? Demi Allah, kami tidak perlu berdamai. Demi Allah, kami tidak rela memberikan kepada mereka sesuatu selain pedang, sampai Allah memutuskan sesuatu antara kami dan mereka."
Peristiwa ini lalu dikomentari dalam beberapa kitab tafsir: "Tidaklah Rasulullah saw meridhai perdamaian itu, melainkan beliau ingin menguji keteguhan orang-orang Anshar, ketabahan hati, dan kekuatan izzahnya. Maka, Rasulullah saw melihat pada dua Sa'ad ini apa yang menyenangkan hatinya."
Demikian pula yang dilakukan oleh Ka'ab bin Malik manakala diboikot oleh kaum muslimin karena tidak ikut serta dalam perang Tabuk. Selama 50 hari tak ada seorang pun yang menyapa, menegur, memberi salam, dan menjawab salamnya. Maka bumi ini terasa begitu sempit baginya. Lalu manakala ia tengah berjalan-jalan di pasar, ia mendapati seorang petani dari Syam yang biasa menjual makanan di pasar Madinah bertanya: "Siapakah yang suka menunjukkah kepada saya Ka'ab bin Malik." Maka semua orang yang ditanya menunjuk kepada saya. Kemudian orang itu mendekati saya sambil membawa sepucuk surat dari Raja Ghassan yang didalamnya berisi, " Sebenarnya saya telah mendengar bahwa kamu telah diboikot oleh teman-temanmu dan Allah tidak menjadikan kamu orang yang terhina, maka datanglah kepada kami tentu kami akan menerimamu. Apakah yang dilakukan oleh Ka'ab mendapat tawaran seperti itu? Apakah ia akan menjual agamanya, apakah dia akan bergabung dengan orang-orang kafir dan mencari kemulaian di sana, sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang?" Tidak, tetapi yang dikatan oleh Ka'ab adalah: "Ini juga sebagai ujian." Lalu ia pergi ke tempat api dan membakar surat itu. Mengapa ia membakar surat itu? karena ia tahu bahwa Rasulullah saw adalah sumber kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Ma'asyiral muslimin rakhimakumullah!
Dalam surat Al-Baqarah Allah SWT berfirman: "Sekali-kali orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela terhadap kamu, sehingga kamu mengikuti agama mereka."
Dalam ayat di atas jelas bahwa upaya orang-orang Nasrani dan Yahudi untuk menghancurkan keimanan kita akan senantiasa terus ada. Maka, yang terpenting bagi kita adalah tetap tegar untuk mempertahankan keimanan ini. Sekian, wallahu a'lam.

Tidak ada komentar: