Klik dong

Rabu, 25 April 2012

Melawan Ambisi Amerika


Melawan Ambisi Amerika

Maasyiral muslimin rakhimakumullah!
Kondisi umat Islam hari ini tidak bisa lepas dari perhatian kaum muslimin. Apa yang menimpa kaum muslimin di dunia barat dan timur membuat kaum muslimin yang lain ikut berpartisipasi dan memberikan pertolongan.
Kalau kita melihat sejarah masa lalu, kita akan mengerti bahwa wilayah kekuasaan kaum muslimin amatlah luas. Namun, setelah kekhilafahan Islam runtuh pada tahun 1942, kaum Salib dan Yahudi berusaha membagi dan memecah wilayah Islam menjadi negara-negara kecil. Kekayaannya diambil dan di dalamnya diterapkan undang-undang dan peraturan yang bertentangan dengan Islam. Hal-hal yang bisa menimbulkan kelemahan, mereka sebarkan, sementara hal-hal yang mendatangkan kekuatan, mereka jauhkan. Inilah perkara yang menjadi perhatian kaum muslimin tersebut.
Namun, yang terpenting bagi kita, wahai kaum muslimin, adalah melihat persoalan di atas dari kaca mata akidah dan syariat. Tidaklah benar apa yang dikatakan sebagian orang bahwa Kristen dunia yang tersimbolkan dalam diri Amerika Serikat ingin memerangi negara muslim "hanya" karena minyak atau kekayaan lain yang telah Allah khususkan kepada mereka.
Sesungguhnya pokok persoalannya adalah persoalan akidah. Peperangan yang saat ini tengah dikobarkan oleh negara Salib dan Yahudi memiliki tujuan akidah. Mereka rela menjelajahi daratan, lautan, dan memobilisasi tentara semuanya bertujuan akidah. Mereka ingin menyerang Irak, lalu setelah itu menyusul negara muslim lainnya. Mereka mendirikan bangunan dan asrama-asrama militer di Somalia, Djobuti, dan Kenya. Apakah ini hanya dalam rangka memburu kekayaan saja? Karena alasan politik? Demi Allah, tidak. Kita mempercayai benar apa yang telah difirmankan oleh Allah Azza wa Jalla yang artinya,
"Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup."
"Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Sebagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran...."
Mereka tidak sekedar ingin merampas kekayaaan kaum muslimin, menguasai harta dan wilayahnya. Tidak, demi Allah. Tetapi, yang mereka inginkan adalah agar kaum muslimin lepas dari agamanya, kehilanganan kekayaannya dan mengambil sesuatu yang rendah sebagai ganti dari sesuatu yang baik. Kalau tidak demikian--wahai kaum muslimin rakhimakumullah--dengan apakah kita akan menafsirkan semangat negara-negara salib yang telah mendirikan sebuah organisasi dunia menyerupai PBB. Dengan apakan kita akan menafsirkan keinginan keras mereka untuk memaksakan negara-negara Islam agar menyepakati perjanjian yang menghancurkan keluarga, pribadi laki-laki maupun perempuan. Mereka ingin menghancurkan masyarakat, menyebarkan kekejian dan menduduki wilayah-wilayah kaum muslimin, sehingga kaum muslimin tidak lagi berbicara tentang halal dan haram dan menganggap semuanya adalah mubah dan boleh. Mengapa mereka sangat bersemangat untuk memaksakan semuanya itu ke dalam negara muslim? Apakah itu berkaitan dengan politik? ekonomi? militer? Mereka ingin merobohkan masyarat muslim, menjadikannya sebagai hal yang sia-sia dan umum. Mereka tidak mengatahui halal dan haram, mana yang berbahaya dan mana yang tidak berbahaya. Mereka hidup seperti hewan, sebagaimana orang Salib dan Yahudi itu telah hidup dalam negaranya. Mereka menghendaki agar kaum muslimin melepaskan diennya secara menyeluruh. "Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup."
Mereka berusaha agar kaum muslimin tidak memiliki kekuatan. Mereka mengatakan kita harus menyerang Irak untuk melucuti semua persenjataan, yang mereka sebut sebagai senjata pemusnah masal. Mereka tidak ingin kaum muslimin memiliki senjata. Sisa kekuatan Irak sekarang adalah 400.000 orang pasukan, 2500 tank, 300 pesawat tempur, 1500 pasukan arteleri. Inilah kekuatan yang tersisa bagi kaum muslimin. Namun, mereka ingin melenyapkan ini semua, agar negara Yahudi menjadi negara yang terkuat. Kaum Salib ingin menjatuhkan Irak bukan karena aturan ba'atsnya, tetapi karena di dalamnya terdapat kaum muslimin. Irak adalah sebuah negara yang mayoritas penduduknya adalah kaum muslimin. Sebuah negara yang memiliki sejarah panjang dan peradaban yang mengakar. Dahulu kala Baghdad adalah ibu kota kekhilafahan Islam dalam masa yang panjang. Kaum salib menginginkan agar sejarah, peradaban, dan warisan kebudayaan kaum muslimin lenyap. Mereka tidak ingin hati kaum muslimin rindu kepada sejarah yang mengakar dan memukau itu. Mereka ingin menghancurkan Irak, kemudian mereka akan mengatakan bahwa serangan mereka terhadap Irak adalah untuk melucuti senjata pemusnah masalnya. Ironis memang, padahal negara-negara seperti Yahudi, Amerika Serikat, Prancis, Inggris, bahkan sosialis Rusia dan Cina diberi kebebasan penuh memiliki senjata apa pun. Tetapi, mengapa kaum muslimin tidak diperbolehkan.
Kaum muslimin tidak diperbolehkan memiliki senjata. Hari ini adalah Irak. Besok mungkin Pakistan. Sedangkan kemarin adalah Sudan dan Afghanistan. Begitulah sebagaimana firman Allah SWT, "Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup." Inilah fakta dan kenyataan yang ada dan gamblang di depan mata kita, setiap orang yang berakal bisa melihat fenomena ini, lalu apakah yang harus kita lakukan? Kalau kita mengetahui obat niscaya kita mengetahui. Fenomena yang menyedihkan ini mestinya membangkitkan pertanyaan pada diri seorang muslim: apa yang harus saya lakukan? Tidak cukup hanya mengubah peraturan dan menyesalkan penghianatan para penguasa Islam yang mendukung kaum kafir dalam memerangi kaum muslimin. Tidak hanya cukup seperti itu, tetapi hendaklah setiap kita bertanya apa peranan saya? Apa kewajiban saya?
Maasyiral muslimin rakhimakumullah!
Untuk menjawab pertanyaan ini, terlebih dahulu kita harus mengetahui tujuan akidah dalam peperangan ini. Yaitu, perang antarakidah, perang antaragama, bukan perang antaranegara. Negara yang satu dinamakan Irak, sedangkan yang lain dinamakan Amerika Serikat, Inggris, dan sebagianya. Demi Allah, tidak demikian. Namun, yang terjadi adalah perang antara Islam dan kafir, antara petunjuk dan kesesatan.
Marilah kita melihat propaganda yang dilakukan Amerika Serikat melalui surat kabar, media infomasi, dan lesan para pemimpinnya. Mereka mengatakan bahwa Arab Saudi adalah tempat yang teduh bagi teroris. Mengapa mereka mengatakan seperti ini? Karena, mereka melihat bahwa sekolah-sekolah yang ada di Saudi mengajarkan anak didiknya untuk mempelajari dan membaca firman Allah dan sabda Rasul-Nya. Mengajarkan mereka agar mengetahui yang halal dan haram, benar dan salah, hak dan batil. Menurut mereka semua itu adalah terorisme. Mengajarkan Islam adalah terorisme, membaca Alquran adalah terorisme, memelihara jenggot adalah terorisme. Semua bagian dari Islam menurut mereka adalah terorisme.
Perang yang terjadi adalah perang akidah dan perang agama. Jangan sekali-kali orang mengira bahwa fenomena di atas adalah perang terhadap sebuah kelompok atau organisasi, perang terhadap Alqaeda sebagaimana yang mereka katakan. Itu semua, demi Allah, adalah perang terhadap Islam secara keseluruhan, prinsipnya maupun cabangnya, keseluruhan maupun sebagiannya. Mereka tidak ingin bila semua manusia mengerti dan mempelajari sedikit pun dari agama ini. Begitula mereka melakukan serangan secara umum, inilah perang akidah yang harus dipahami oleh setiap kaum muslimin.
Maasyiral muslimin rakhimakumullah!
Yang kedua adalah akidah wala' dan bara' yang telah lenyap dan diabaikan oleh kebanyakan kaum muslimin sehingga mereka terjerumus dalam kasih sayang kepada orang kafir. Ini tidak terjadi pada skala negara, tetapi pada skala pribadi dan masyarakat. Masyarakat tidak lagi memilah-milah dan membedakan mana yang kafir dan mana yang mukmin. Kita tidak pernah lagi mendengar orang berkata ini mukmin dan itu kafir. Mereka menganggap bahwa semuanya adalah sama, yaitu sebagai warga negara. Padahal, Alquran telah menetapkan bahwa manusia terbagi antara muslim dan kafir. Islam telah menetapkan perbedaan di antara keduanya dan menghilangkan persamaan. Pemahaman inilah yang ingin dihapuskan oleh orang kafir. Mereka ingin menghapuskan akidah wala' dan bara' dari jiwa kaum muslimin.
Hari ini Amerika telah menabuh genderang perang dan mengumumkan bahwa mereka akan menyerang Irak, menghancurkan tentaranya dan mengubah peraturannya. Tetapi, mengapa negara-negara Islam yang ada di Jazirah Arab, bahkan termasuk Indonesia justru menandatangani kerja sama militer dengan negara musuh tersebut. Mereka mengumumkan dengan rasa bangga penghianatan besar mereka itu.
Allah SWT berfirman, "Hai orang yang beriman janganlah kamu memanggil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpinmu; sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu memanggil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim."
Mereka beralasan bahwa yang mereka lakukan bukanlah bentuk partisipasi dan pertolongan kepada kaum kafir. Tetapi, mereka melakukan itu karena takut mendapatkan musibah. Allah SWT berfirman, "Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata, 'Kami takut akan mendapat bencana.' Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya) atau suatu keputusan dari sisi-Nya. Maka, karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka."
Mereka melakukan hal itu karena mereka telah terbiasa dengan kemunafikan, dan beragantung kepada negara musuh tersebut. Mereka adalah orang yang secara zahir tumbuh dan berkembang dalam keadaan Islam tetapi mereka tidak meyakininya. Inilah kenyataan yang sekarang tengah terjadi.
Maasyiral muslimin rakhimakumullah!
Ada sunah Allah yang telah ditetapkan, sebagaimana tersebut dalam sabda Rasulullah saw., "Sesungguhnya Allah menangguhkan orang zalim, sehingga ketika Allah mengazabnya, Ia tidak melepaskannya." Kemudian beliau membacakan firman Allah SWT,
"Begitulah azab Rabmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras."
Allahlah yang telah mengazab Amerika pada tanggal 11 September lalu, yang menimbulkan ketakutan luar biasa kepada pemimpin dan masyarakat Amerika. Allah Azza wa Jalla telah menghinakan Qarun, Firaun, dan Haman, maka Ia pun Maha Mampu untuk menghinakan Bush dan orang-orang yang ada di sekitarnya dan mengikuti dirinya. Mereka adalah para pemimpin muslim yang berwali kepada Amerika dan memeberikan kemudahan kepadanya dengan memberikan tempat dan fasilitas untuk menyerang kaum muslimim. Kemarin di Afghanistan dan Sudan, sedangkan besok di Irak. Allah SWT akan menjadikan Amerika sebab untuk menghinakan para pemimpin tersebut dan ini adalah sunatullah. Rasulullah saw. bersabda, "Barangsiapa yang menolong orang zalim, Allah akan mengalahkannya." Allah menimpakan musibah yang satu dengan yang lainnya, kemudian yang satu merasa dendam. Orang zalim dendam kepada orang zalim. Kemudian keduanya pun saling mendendam dan begitulah seterusnya.
Maasyiral muslimin rakhimakumullah!
Akidah wala' dan bara' inilah yang harus kita realisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai dasar dalam mendidik anak-anak dan menumbuhkan generasi yang berakidah kuat dan meyakini bahwa di bumi ini ada orang kafir dan orang muslim. Dan, antara keduanya akan saling bertolak belakang dan berlawanan.
Maasyiral muslimin rakhimakumullah!
Yang ketiga adalah bersatu. Marilah kita bersatu, berkumpul, dan saling membantu. Marilah kita mulai dari diri kita sendiri. Wahai para penghuni dan pemakmur masjid, wahai para pembaca Alquran, wahai orang yang duduk di halaqah ilmu dan zikir. Satukanlah hati kalian. Realisasikanlah rasa kasih sayangmu kepada saudara kalian. Adalah Rasulullah saw. memulai hal ini dari saf salat. Beliau bersabda, "Jagalah pundak dan kaki kalian." "Benar-benar luruskanlah saf kalian atau Allah akan benar-benar membuat kalian menjadi berselisih." Bagaimana mungkin kita akan meminta negara dan pemerintah untuk bersatu dan berpegang teguh, sementara kita ketika di masjid, di rumah Allah masih berselisih, saling membenci dan saling meninggalkan. Keadaan kita seperti keadaan seekor kambing yang akan disembelih oleh tukang jagal, tetapi ia justru sibuk dengan perkelahian bersama teman-temannya. Inilah keadaan kita sekarang. Tidak ada seorang pun yang menyelisihi bahwa kita kaum muslimin pada hakikatnya adalah besar dan lurus. Lurus dalam akidah, agama, dan keimanan. Namun, setelah itu kita sibuk dengan hal-hal yang tidak prinsip. Kamu berkata begitu dan aku berkata begini. Dan kita membuat umat ini sibuk dengan apa yang kita katakan tersebut.
Allah SWT berfirman, "Berpegang teguhlah dengan tali Allah dan jangan bercerai-berai."
Ini adalah pengobatan yang utama, yaitu bersatu dan berpegang teguh dengan Alquran, sunah, akhlak din, dan ketentuan syar'i. Tampakkanlah kelemahlembutan dan kasih sayang kepada saudaramu. Berbahagialah karena kebahagiaannya dan bersedihlah karena kesedihannya. Di samping itu, munculkanlah rasa perlawanan dan permusuhan kepada musuh-musuh kalian. Bencilah mereka dan buanglah rasa cinta dan kasih sayang untuk mereka.
Allah Ta'ala berfirman, "Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka." Inilah yang harus kita terapkan wahai kaum muslimin rakhimakumullah.
Ketika Perang Badar usai, Mushab bin Umair melewati saudaranya, Abu Aziz bin Umair yang tengah ditawan salah seorang Anshar. Lalu ia berkata kepada orang Anshar tersebut, "Ikatlah yang kuat, karena ibunya orang kaya yang akan menebusnya." Kontan Abu Aziz, saudaranya tersebut berkata, "Mengapa engkau berkata demikian? Aku adalah saudaramu, engkau Mush'ab bin Umair sedangkan aku Abu Aziz bin Umair." Mush'ab berkata, "Sesungguhnya engkau bukan saudaraku, saudaraku adalah orang Anshar ini. Islam telah memutuskan ikatan persaudaraan di antara kita." Inilah pemahaman yang harus kita bangun wahai maasyiral muslimin rakhimakumullah. Kepada saudaramu yang ruku dan sujud bersamamu, mengahadap kiblat yang sama denganmu, maka jadikanlah mereka sebagai saudara yang engkau cintai. Adapun musuhmu, maka jadikanlah ia sebagai musuh, yaitu siapa saja yang menentang Allah dan Rasulnya dan siapa saja yang kafir kepada Allah dan Rasul-Nya.
Maasyiral muslimin rakhimakummulah!
Yang terakhir adalah berdoa. Marilah kita mendoakan saudara kita yang tengah mendapat musibah dan berada dalam ancaman kekafiran. Mereka berada di bawah cengkeramaan penguasa zalim dan hukum yang menyimpang. Marilah kita berdoa untuk saudara-saudara kita kaum muslimin yang ada di Irak. Negara yang di dalamnya terdapat Baghdad sebagai pusat kekuasaan Islam. Kota yang telah banyak melahirkan para ulama, fuqaha dan orang-orang cerdas. Kita memohon kepada Allah semoga Allah menolong orang yang menolong din-Nya dan menghancurkan oang yang menghancurkan din-Nya. Ya Allah, hancurkanlah Amerika beserta orang-orang yang mengikutinya dan membantunya. Wallahu a'lam.

Sejenak Bersama Surat Al-Mulk


Sejenak Bersama Surat Al-Mulk

Maasyiral muslimin rakhimakumullah!
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menurunkan kepada kita Alquran sebagai cahaya, rahmat, obat dari penyakit hati dan badan, penerang jalan manusia, dan penjelas dari perselisihan yang ada ditengah mereka. Alquran memuat kisah orang terdahulu, dan berita bagi orang yang mengikutinya. Di dalamnya terdapat penjelasan mengenai hukum-hukum syariat: halal dan haram.
Alquran memiliki kekhususan yang dijelaskan oleh Rasulullah saw. Beliau mengajarkan kepada kita bahwa di dalam Alquran terdapat banyak surah yang dapat memenuhi kebutuhan, dan menghilangkan kesempitan. Memberitahukan kepada kita bahwa di dalam Alquran terdapat banyak surah yang satu melebihi yang lain meskipun semuanya adalah firman Allah Azza wa Jalla.
Maasyiral muslimin rakhimakumullah!
Salah satu surah yang memiliki kekhususan tersebut adalah sebuah surah yang berisi 30 ayat. Allah menurunkan surah tersebut di hati Muhammad sebelum beliau hijrah ke Madinah. Surah Mekah ini berisi tentang persoalan akidah, hujah orang kafir, perdebatan orang musyrik, keadaan penduduk surga dan kenikmatan yang ada di dalamnya, serta keadaan penduduk neraka dan azab yang ada di dalamnya.
Rasulullah saw. telah memberitahukan bahwa surah yang diberkahi ini merupakan pencegah, penjaga, penyelamat, dan pemberi syafa'at. Ia akan memberikan syafaat kepada pemilik(pembaca)nya, menyelamatkan dari azab kubur, dan membelanya didepan Rab-Nya Azza Wa Jalla pada hari kiamat kelak.
Surah agung itu adalah surah al-Mulk. Rasulullah saw. bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan pemilik sunan yang empat, dari Abu Hurairah: "Sesungguhnya surah yang berisi tiga puluh ayat ini akan memintakan syafaat bagi pemiliknya maka dia pun diberi ampunan."
Dari Ibnu Abbas berkata, seorang laki-laki mendirikan kemah diatas kuburan yang tidak disadarinya. Lalu ia mendengar suara manusia tengah membaca surah al-Mulk hingga selesai. Lalu ia mendatangi Rasulullah saw. dan menceritakan kejadiannya: "Wahai Rasulullah, aku mendirikan kemah diatas sebuah kuburan, tapi saya tidak menyadari kalau itu adalah kuburan. Lalu saya mendengar suara seseorang tengah membaca surah al-Mulk hingga selesai. Rasulullah saw. bersabda, "Itu adalah penghalang yang akan menyelamatkan pemiliknya dari azab kubur." (HR Tirmidzi).
Dari Jabir bin Abdillah berkata, "Rasululullah tidak tidur pada malam hari sehingga dia membaca (Alif Laam Miim, Tanzil) dan (Tabaaraka Biyadihil Mulku)." (HR Tirmidzi).
Adalah Ibnu Abbas r.a. memberi pengajaran kepada seseorang dengan bertanya, "Maukah engkau aku hadiahi sebuah hadis?" Laki-laki tersebut menjawab, "Ya," Ibnu Abbas berkata, "Bacalah (tabaarakalladzi biyadihil mulku) dan ajarkanlah kepada keluargamu, semua anak-anakmu, bayi-bayimu, dan tetanggamu. Karena, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah saw. bersabda:"Aku suka kalau surah itu berada dalam hati setiap orang dari umatku."
Inilah surah yang diberkahi yang semestinya kita selalu membacanya. Kita lantunkan dengan lesan, kita perhatikan dengan hati dan kita ajarkan kepada anak-anak dan istri kita. Marilah kita baca surah tersebut pada setiap malam. Mudah-mudahan Allah Azza wa Jalla memberikan syafaatnya kepada kita lalu kita akan diselamatkan dari azab kubur dan kedahsyatan hari kiamat.
Inilah surah yang diberkahi, wahai kaum muslimin rakhimakumullah. Surah yang berjalan sebagai surah makki dalam memberikan penjelasan tentang qudrah Allah Azza wa Jalla, berbicara tentang kebesaran-Nya dan menetapkan kenabian Muhammad saw. Surah ini dimulai dengan pujian kepada Allah Azza wa Jalla.
Tabaarakalladzii biyadihil mulku wa huwa 'alaa kulli syai-in qadiir (Maha Suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu).
Biyadihil mulku (Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan).
Artinya, Allah memiliki kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya. Dialah pemilik penciptaan dan perintah. Dialah yang memberi makan dan bukan yang diberi makan. Yang memberi balasan bukan yang diberi balasan; Maha Pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi sangat kokoh. Ditangan-Nyalah kerajaan setiap sesuatu. Pencipta segala sesuatu. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada sesuatu pun yang ada di langit dan di bumi yang dapat melemahkannya. Apabila Ia menghendaki sesuatu, ia berkata, "Kun" (jadilah), maka terjadilah.
Alladzii khalaqal mauta wal hayaata liyabluwakum ayyukum ahsanu 'amalaa wa huwal 'aziizul ghafuur (Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun).
Allah menghinakan hamba-Nya dengan kematian, meskipun ia menjadi penguasa manusia, jabatannya telah memuncak; hartanya melimpah ruah; kekuatannya kokoh; dan umurnya panjang. Maka, akhirnya ia akan tetap mati. Ujung-ujungnya kehancuran dan ketidakadaan. Ruhnya dipisahkan dengan badannya. Dan setelah itu ia akan memasuki kehidupan yang kekal. Di dalamnya tidak ada tidur dan kematian. Apabila seorang tergolong ahli jannah, ia akan berada dalam kenikmatan yang kekal dan tidak akan hilang. Begitu pula bila ia tergolong penduduk neraka (na'udzubillahi min dzalik), maka sesungguhnya mereka: "Tidak dibinasakan sehingga mereka mati dan tidak (pula) diringankan dari mereka azabnya." "Di dalamnya mereka tidak mati, tidak juga hidup." Mereka akan berada dalam azab yang abadi, kekal selama-lamanya, dan tidak berubah.
Allah menciptkan kematian dan kehidupan untuk menguji siapa di antara kita yang lebih baik amalnya. Tidak semua hamba Allah sama. Ada yang kafir, ada pula yang mukmin; ada yang baik, ada pula yang jahat. Allah SWT ingin menguji mereka siapa di antara mereka yang lebih baik amalnya. Yang paling ikhlas dan benar. Ikhlas adalah tidak meyekutukan Allah dengan sesuatu pun, sedangkan benar adalah sesuai dengan apa yang dituntunkan oleh Rasulullah saw. Allah SWT berfirman, "Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabnya, hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya."
Liyabluwakum ayyukum ahsanu 'amalaa wa huwal 'aziizul ghafuur (Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan, Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun).
Dialah Yang Maha Besar Lagi Mulia, Yang Ditaati dan Ditakuti. Bersamaan dengan itu Dia Maha Pengampun kepada siapa saja yang bermaksiat dan bertobat, kepada orang yang melampaui batas kemudian bertobat. Dan, Dialah Yang Maha Perkasa Lagi Maha Pengampun.
Alladzii khalaqa sab'a samawaatin thibaaqaa maa taraa fi khalqir rahman min tafawut (Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang).
Hai orang musyrik; hai orang kafir; hai orang yang ragu-ragu; hai orang yang menentang Rasulullah saw.; hai orang yang kafir kepada agama-Nya! Lihatlah di atasmu; lihatlah ke langit-langit itu; lihatlah dengan saksama dan penuh perhatian! Bukan seperti penglihatan para binatang. Lihatlah ke langit-langit itu, apakah engkau mendapati sesuatu yang tidak seimbang? Apakah engkau mendapatinya berlubang, retak, dan lemah?
Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rab Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang, berselisih, ataupun kacau. Tidak, tetapi ia adalah langit yang sempurna, tebal dan kuat. Lihatlah kepadanya dan bandingkanlah keadaanmu dengan keadaannya.
"Apakah kamu yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit? Allah telah membangunnya, Apakah kamu yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit? Allah telah membangunnya, dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita dan menjadikan siangnya terang benderang. Dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita dan menjadikan siangnya terang benderang. Ia memancarkan darinya mata air dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya."
"Maka, apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikit pun. Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata, untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah)."
"Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya. Dan, bumi itu Kami hamparkan, maka sebaik-baik yang menghamparkan (adalah Kami)."
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas kamu tujuh buah jalan (tujuh buah langit). dan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan (Kami)."
"Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang, dan telah memeliharanya (sebenar-benarnya) dari setiap setan yang sangat durhaka, setan-setan itu tidak dapat mendengar-dengarkan (pembicaraan) para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru. Untuk mengusir mereka dan bagi mereka siksaan yang kekal,"
Marilah kita perhatikan langit yang berlapis-lapis ini, marilah kita perhatikan kebesaran ciptaan-Nya.
"Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat?"
Ia tidak memiliki tiang, bagaimana Allah meninggikannya? Bagaimana Allah menjadikannya kuat, tebal, dan sama. Yang di dalamnya tidak ada lubang dan retak. Inilah kekuasaan Allah Azza wa Jalla.
"Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka, lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian, pandanglah sekali lagi, niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat, dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah."
"Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan," Qatadah r.a. berkata, "Allah menciptakan langit-langit dan di dalamnya terdapat bintang-bintang untuk tiga tabiat. Pertama, hiasan langit dunia. Kedua, alat-alat pelempar setan. Ketiga, tanda-tanda yang memberikan petunjuk, "Dan dengan bintang mereka mendapatkan petunjuk." Barangsiapa yang berbicara di luar itu, ia telah membebani dirinya dengan sesuatu yang tidak diketahuinya."
Barangsiapa yang berkeyakinan bahwa bintang-bintang memiliki pengaruh terhadap kejadian di dunia, bahwa hujan turun atau kekeringan terjadi, rezeki dibentangkan atau disempitkan karena pengaruh bintang tersebut, ia telah membebani dengan sesuatu yang tidak semestinya dan berkata atas nama Allah apa yang tidak diketahuinya.
"Dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala."
Yaitu para setan yang mencuri pendengaran dan menyesatkan para hamba. Mendorong mereka agar berbuat maksiat. Menganjurkakannya berbuat kejelekan, dan menghiasi kebatilan sehingga tampak indah. Menyuruh mereka berbuat munkar dan mencegahnya dari berbuat makruf serta menahannya untuk taat kepada Allah. Allah Azza wa Jalla telah menyiapkan untuk mereka ini neraka jahanam dan itulah sejelek-jelek tempat kembali. Siksa neraka yang menyala-nyala, yang diperuntukkan untuk setan jin dan manusia. Allah menyiapkan untuk mereka jahanam dan itulah sejelek-jelek tempat kembali.
"Dan orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, memperoleh azab Jahannam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya, mereka mendengar suara neraka yang mengerikan, sedang neraka itu menggelegak."
"Hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah."
Hampir bagian-bagian langit itu terputus dan terbagi karena besarnya kemarahan terhadap orang-orang yang kafir kepada Allah, menentang Rasulullah dan membunuh para wali-Nya. Neraka jahanam hampir-hampir pecah karena marah terhadap orang-orang kafir.
Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla membakar api neraka 1000 tahun sehingga memutih. Kemudian Allah membakarnya lagi 1000 tahun sehingga memerah. Kemudian Allah membakarnya 1000 tahun sehingga menghitam. Ia adalah hitam yang gelap"
Kullamaa Ulqiya Fiiha Faujun
"Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir)"
"Penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka, "Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?"
Pertanyaan yang bernada menjelekkan dan mencela. Apakah belum pernah datang kepadamu (di dunia) seorang pemberi peringatan? Apakah belum pernah datang kepadamu seorang rasul? Apakah belum pernah datang kepadamu seorang yang mengingatkan dirimu? Orang yang menjelaskan syariat, agama, halal, dan haram kepadamu? Apakah belum pernah datang seorang pemberi peringatan kepadamu?
"Mereka menjawab: 'Benar ada, sesungguhnya telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kami mendustakannya dan kami katakan: 'Allah tidak menurunkan sesuatu pun, kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar'."
Mereka menghadapi para utusan Allah dengan akhlak yang buruk dan tidak mempunyai rasa malu. "Kamu wahai para rasul, tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar. Kamu adalah oang yang tersesat dan menyimpang. Biarkanlah kami dan berhala yang kami sembah. Biarkanlah kami mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram. Kemudian setelah itu mereka mengakui bahwa dirinya bukanlah orang-orang yang berakal. Mereka tidaklah memiliki kemampuan untuk memisahkan antara yang jelek dengan yang baik.
"Dan mereka berkata: 'Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala. Mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala."
"Orang-orang kafir dibawa ke neraka jahannam berombong-rombongan. Sehingga, apabila mereka sampai ke neraka itu, dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: 'Apakah belum pernah datang kepadamu rasul-rasul di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan hari ini?" Mereka menjawab: 'Benar (telah datang).' Tetapi, telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang yang kafir. Dikatakan (kepada mereka): 'Masukilah ke pintu-pintu neraka Jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya.' Maka, neraka Jahannam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri."
Mereka mempersaksikan diri mereka sendiri bahwa mereka adalah tuli, buta, dan bisu. Mereka adalah orang-orang gila. Mereka tidak mendengarkan al-Haq. Tidak pula membicarakan al-Haq. Mereka tidak melihat petunjuk-petunjuknya.
"Mereka mengakui dosa mereka. Maka, kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala."
Adapun orang mukmin yang baik, yang saleh, mereka mengagungkan Allah dengan seagung-agungnya. Mereka mengetahui din dan syariat-Nya. Mereka menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram. Mereka tidak hanya takut kepada Allah ketika berada di tengah banyak orang, tetapi juga ketika sendirian, ketika dalam keadaan dhahir maupun bathin.
"Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Rabnya yang tidak nampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar."
Orang yang takut kepada Rabnya, meskipun berada di tengah manusia, meskipun ketika sendirian, pintu terkunci dan tabir dibentangkan. Maka, bagi mereka pahala yang besar.
Rasulullah saw. bersabda, "Ada tujuh golongan yang berada dalam naungan Allah pada hari tidak ada nauangan, kecuali naungan-Nya."
Apakah yang menjadi pembagi yang ikut dalam tujuh golongan tersebut. Golongan yang berbahagia, golongan yang mendapatkan keutamaan itu? Tidak lain adalah Mereka yang takut kepada Rab-nya, sebagaiman tidak ada yang melihat kecuali hanya Dia; tidak ada yang mendengar kecuali hanya Dia; dan tidak ada yang mengamati kecuali hanya dia. Yaitu, "seorang laki-laki yang berzikir kepada Allah dalam kesendirian, kemudian bercucuran air matanya. Dan, seorang laki-laki yang dipanggil wanita yang cantik dan berkedudukan." Di sana tidak ada polisi yang mengawasinya. Tidak ada mata yang melihatnya. "Maka ia menjawab, "Sesungguhnya saya takut kepada Allah dan seorang laki-laki yang menyedekahkan hartanya kemudian ia menyembunyikannya." Laki-laki yang berurusan dengan Allah. Laki-laki yang tidak ingin riya' (dilihat orang) ataupun sum'ah (didengar orang). "Maka kemudian ia menyembunyikan sedekahnya itu, sehinggga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya." Ketujuh golongan ini adalah orang yang takut kepada Allah, yang tidak nampak oleh mereka. "Bagi mereka pahala yang besar."
Kemudian Rab kita Jalla Jalaaluhu mengancam manusia, semua manusia. "Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah, sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati. Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan), dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?"
Wahai Hamba Allah, janganlah engkau mengira, engkau hanya berurusan dengan manusia yang hanya bisa melihat yang dhahir. Janganlah engkau mengira engkau hanya berurusan dengan makhluk yang kemampuan dan wawasannya terbatas. Tidak, demi Allah, tetapi engkau berurusan dengan Rab Yang Maha Mengetahui Lagi Maha Bijaksana, Maha Halus Lagi Maha Mengetahui.
"Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi."
"Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati."
"Tidak ada tersembunyi dari-Nya seberat zarrah pun yang ada di langit dan yang ada di bumi, dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar."
Ketahuilah dengan yakin bahwa yang tersembunyi di sisi Allah nampak jelas. Sesuatu yang engkau rahasiakan dan sembunyikan, maka di sisi Allah nampak jelas dan terang.
"(Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertobat, masukilah surga itu dengan aman, itulah hari kekekalan."
Kaum muslimin yang berbahagia!
Surah yang agung ini bacalah dan hafalkanlah. Bersemangatlah untuk membacanya pada setiap malam. Ajarkanlah surah itu kepada istri dan anak kalian serta siapa saja yang menjadi tanggungan kalian. Niscaya kalian akan bahagia, selamat, dan sukses. Kita memohon kepada Allah Yang Maha Agung agar menjadikan Alquran ini bersemi di hati kita, menjadi cahaya dada kita, pelenyap duka kita dan penghilang kesedihan kita. Ya Allah, ajarkanlah kepada kami apa yang tidak kami ketahui dari Alquran. Ingatkanlah apa yang kami lupa dan anugerahilah kepada kami untuk membacanya pada penghujung malam dan siang, dalam rangka untuk mencari rida-Mu, amin.

Bumi Ini Milik Kita


Bumi Ini Milik Kita

Maasyiral muslimin rahimakumullah!
Allah Azza wa Jalla telah berfirman yang artinya, "Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah Kami tulis dalam Lauhul Mahfudz, bahwasanya bumi ini diwarisi hamba-hamba-Ku yang saleh. Sesungguhnya (apa yang disebutkan) dalam (surah) ini, benar-benar menjadi peringatan bagi kaum yang menyembah Allah. Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam." (Al-anbiya: 105--107).
Dalam kitab tafsir disebutkan maksud dari kata hamba-hamba-Ku yang saleh adalah umat Islam. Sementara maksud dari kata peringatan bagi kaum yang menyembah Allah adalah para pengikut Rasulullah saw., seorang rasul yang diutus untuk seluruh alam, rahmatan lil 'alamin.
Dalam ayat di atas jelas bahwa yang berhak mewarisi bumi ini adalah umat Islam. Namun, upaya apa saja yang harus ditempuh agar umat Islam mewarisi bumi tersebut? Allah SWT telah menetapkan bahwa kepemilikan terhadap bumi tersebut sangatlah berkaitan dengan kebaikan, ibadah, dan ketaatan. Ini adalah sunah Allah.
Kalau kita melihat sejarah para salafus saleh, kita dapati mereka telah berhasil mewarisi bumi ini dengan kebaikan dan ketaatan yang mereka lakukan. Mereka beribadah kepada Allah dengan apa yang telah disyariatkan dan dicintai-Nya. Mereka lebih mementingkan rida Allah ketimbang kemurkaan setan dan tangan-tangannya. Mereka berhasil menundukkan hawa nafsu. Mereka mendengarkan firman Allah dengan telinga penuh perhatian dan hati yang tunduk, sementara badannya sibuk dengan zikir dan beribadah kepada-Nya. Mereka lebih takut kepada maksiat ketimbang kepada para musuh. Karena, maksiat menurut keyakinan mereka akan menghalangi dirinya dari taufik Allah. Mereka juga meyakini bahwa pertolongan itu ada di tangan Allah. Allah berfirman, "Dan tidaklah pertolongan itu melainkan dari sisi Allah." (Ali-Imran: 126). Pertolongan adalah hadiah yang diberikan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang saleh.
Maasyiral muslimin rahimakumullah!
Marilah kita melihat pesan Umar al-Faruq yang disampaikan kepada Sa'ad bin Abi Waqqas, komandan pasukan muslim, "Saya memerintahkan kepadamu dan para tentaramu agar bertakwa kepada Allah dalam segala keadaan. Karena, takwa kepada Allah adalah sebaik-baik persiapan melawan musuh dan sekuat-kuat siasat dalam memeranginya. Saya memerintahkan kepadamu dan orang-orang bersamamu agar benar-benar lebih menjaga diri dari perbuatan maksiat daripada musuh kalian. Karena, dosa tentara itu lebih mereka takuti daripada para musuhnya. Sesungguhnya kemenangan kaum muslimin diperoleh dari perbuatan maksiat musuh kalian. Kalau tidak karena itu, niscaya kita tidak memiliki kekuatan. Karena, jumlah kita tidaklah sebanyak jumlah mereka dan persiapan kita tidaklah sebaik persiapan mereka. Maka, bila jumlah maksiat kita sama dengan jumlah maksiat yang diperbuat musuh, kekuatan mereka lebih dominan daripada kekuatan kita. Karena, kita tidak mengalahkan mereka dengan kelebihan dan kekuatan yang kita miliki. Maka, mintalah pertolongan kepada Allah terhadap diri kalian sebagaimana engkau meminta pertolongan atas musuh kalian."
Maasyiral muslimin rahimakumullah!
Hari ini tentara maksiat itu tengah menyerang umat Islam lebih keras daripada tentara musuh. Allah SWT berfirman: "Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melata pun...." Maka, bila umat ini belum bisa meninggalkan maksiat sebagaimana telah dilakukan oleh umat-umat terdahulu, niscaya umat ini akan hancur.
Hari ini kemungkaran dan kemaksiatan telah menyebar di mana-mana. Zina, riba, wanita "telanjang", pembunuhan, khamr, judi, dan kemaksiatan lainnya adalah pemandangan yang bisa dengan mudah kita jumpai di tengah kehidupan kita. Tentunya hal ini mengingatkan kita akan sabda Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar. Beliau bersabda, "Bagaimana (kondisi) kalian bila terjerumus ke dalam lima perkara yang aku berlindung kepada Allah SWT agar kalian tidak terjerumus di dalamnya. (Pertama), bila sebuah kaum telah melakukan zina secara terang-terangan, Allah akan menimpakan mereka penyakit pes dan rasa lapar yang belum pernah terjadi pada umat sebelumnya. (Kedua), bila sebuah kaum telah melarang zakat, Allah akan menahan air hujan dari langit. Dan kalaulah tidak karena binatang, niscaya Allah tidak akan menurunkannya. (Ketiga), tidaklah sebuah kaum mengurangi timbangan, kecuali akan ditimpakan kepada mereka musibah bertahun-tahun, bekal makanan yang sulit, dan penguasa yang zalim. (Keempat), seseorang yang menggunakan hukum selain Allah, niscaya mereka akan dikuasai para musuhnya dan mereka akan mengambil apa yang ada dalam tangannya. (Kelima), tidaklah (sebuah kaum) melenyapkan Kitab Allah dan sunah nabi-Nya kecuali Allah akan menimpakan di antara mereka (sesuatu) yang paling buruk. "
Maasyiral muslimin rahimakumullah!
Barangkali kemaksiatan ini telah muncul di tengah-tengah umat kita hari ini. Marilah kita berlindung kepada Allah dari fitnah yang nampak maupun yang tersembunyi. Wallahu a'lam. (Anam).

Membebaskan Kaum Muslim yang Tertawan


Membebaskan Kaum Muslim yang Tertawan


Maasyiral muslimin rahimakumullah!
Din Islam adalah din yang berdimensi sosial. Din yang mengajarkan kepada pemeluknya untuk menanggung anak yatim, memberi pertolongan kepada orang yang membutuhkan, melepaskan orang yang ditahan, memberi pertolongan kepada musafir, menjenguk orang sakit, membantu orang yang kesempitan dan membebaskan kesulitan mereka. Inilah karateristik Islam yang bersifat kasih sayang dan penuh rasa persaudaraan.
Namun, bencana bagi kaum muslimin, bila mereka melalaikan salah satu atau keseluruhan sifat di atas. Orang fakir menjadi terlantar, hidup sendiri tanpa ada yang memperhatikan keadaannya. Orang sakit tidak ada yang menjenguk, sehingga tak ada orang yang menghibur dan mendoakannya. Para musafir terlantar karena tidak ada orang yang memberinya bekal atau bantuan yang diperlukannya dan orang yang tengah berada dalam kesempitan hanya bisa termangu karena tidak ada orang yang melepaskannya dari kesempatan itu dan seterusnya. Tak ada orang yang memperhatikan mereka semua. Maka, kemudian mereka menempuh jalan yang dilarang syariat untuk memenuhi kebutuhannya itu. Mereka mencuri, merampok, korupsi, mengambil riba, dan sebagainya. Itulah dampaknya bila kaum muslimin meninggalkan sisi sosial dalam kehidupan dinnya.

Lebih menyedihkan lagi bila kemudian kondisi umat ini dimanfaatkan oleh orang Nasrani. Mereka datang ke daerah-daerah miskin kaum muslimin dan memberikan bantuan kepada mereka. Ini adalah kondisi yang jelas harus mendapatkan perhatian dari kaum muslimin.
Maasyiral muslimin rahimakumulah!
Hari ini perang antara Islam dan kafir, antara hak dan batil telah dikobarkan. Genderang telah ditabuh. Kaum muslimin di seluruh pelosok dunia tengah berjihad melawan kaum kafir. Kita bisa melihat di Chechnya, Pilipina, Afghanistan, Sudan, Palestina, Kashmir, dan di Irak. Korban sudah banyak berjatuhan. Sudah berapa banyak wanita menjadi janda, anak-anak menjadi yatim dan orang-orang ditawan. Lalu, apa yang harus kita lakukan terhadap mereka itu. Apa hak mereka atas kita?
Hak mereka atas kita adalah membebaskan mereka. Rasulullah saw. bersabda, "Lepaskanlah orang yang ditahan, penuhilah orang yang memanggil, berilah makan orang yang lapar dan jenguklah orang sakit." (HR Bukhari).
Karena pentingnya persoalan ini, Imam Bukhari memberikan bab khusus dalam kitab shahihnya dengan judul Membebaskan Tawanan. Salah satu isinya adalah hadis sebagaimana tersebut di atas.
Imam Malik berkata, "Merupakan kewajiban bagi manusia untuk membebaskan para tawanan dengan seluruh harta mereka." Ucapan Imam Malik ini tidak bertentangan dengan sabda Rasulullah saw.: "Bebaskanlah tawanan."
Ibnu Taimiyah Rahimahullah telah menulis surah yang panjang yang ditujukan kepada Sirjiwan, pembesar Nasrani, berkaitan dengan kaum muslimin yang ditawan. Ia menulis, "Sungguh aneh kaum Nashrani, mereka menangkap sekelompok kaum dengan cara curang maupun tidak curang, padahal kaum itu tidak memerangi mereka dan al-Masih sendiri telah berakata, 'Siapa yang menampar pipi kananmu, maka berikanlah pipi kirimu, dan siapa yang mengambil selendangmu maka berikanlah pakaianmu.' Dan setiap kali tawanan itu bertambah, maka akan bertambahlah kemarahan Allah dan kaum muslimin. Maka bagaiman mungkin hanya bersikap diam terhadap tawanan kaum muslimin di Qobros (Cyprus), terlebih mereka adalah kaum fakir, lemah dan tidak ada penanggung bagi mereka...." (Al-Fatawa 28/625).
Selanjutnya, Ibnu Taimiyah menjelaskan perbedaan perlakuan kaum muslimin terhadap Nasrani yang berada di bawah kekuasaannya dengan perlakuan kaum Nasrani terhadap kaum muslimin yang berada di bawah kekuasaannya. Ia berkata, "Apakah penguasa itu tidak menyadari bahwa ditangan kita terdapat orang-orang Nashrani ahli dzimmah dan amman yang jumlah mereka tidak terhitung banyaknya, dan perlakuan kita terhadap mereka sudah diketahui. Maka bagaimanakah mereka memperlakukan kaum muslimin dengan perlakuan yang bertentangan dengan agama dan perilaku? (Al-Fatawa 28/622).
Maasyiral muslimin rakhimakumullah!
Kita telah mengetahui sikap dan perkataan para ulama terhadap tawanan kaum muslimin, lalu bagaimanakah sikap dan perkataan para pemimpin dan penguasa terhadap para tawanan itu? Umar bin Abdul Aziz, yang dianggap sebagai khalifah kelima dari khulafaur rasyidin menulis kepada sebagian anak buahnya agar mereka mengumpulkan segala hartanya dan menebus tawanan muslimin.
Hakam bin Hisyam, salah seorang pemimpin Andalusia (Spanyol), mendengar seorang muslimah ditawan dan menyeru: "Tolonglah wahai Hakam," ia merasa itu adalah persoalan besar. Maka dengan segera ia mengumpulkan tentaranya lalu pergi ke Negara eropa tahun 1906 dan melakukan serangan, serta berhasil membuka beberapa benteng. Banyak dari kaum lelaki terbunuh dan kaum wanita ditawan. Lalu sampailah ia ke tempat wanita tersebut ditawan. Hakam lalu membebaskannya dan membiarkannya pulang dengan merdeka ke tempat tinggalnya di Cordoba.
Yang lain adalah Manshur bin Abi Amir. Ia sebagaimana dikatakan Imam Adz-Dzahabi, seorang pahlawan pemberani, ahli perang dan juga seorang alim. Telah banyak wilayah ia taklukan. Ia juga telah memenuhi bumi Andalus dengan tawanan dan ghanimah. Ia telah banyak berperang dengan kaum Nashrani, sehingga debu hasil peperangannya itu bisa terwujud sebuah batu bata.... (Siyarul A'lam Nubala 17/15, 16, 123, 124).
Pahlawan pemberani disifati oleh Imam Dzahabi sebagai orang yang memiliki sikap yang mengagumkan dalam membebaskan kaum muslimin yang tertawan. Imam Dzahabi berkata, "Suatu ketika Manshur baru saja tiba dari sebuah peperangan, lalu ia mendengar seorang wanita berkata di dalam tempat tinggalnya, 'Wahai Manshur, apakah engkau membiarkan manusia berbahagia sedangkan diriku menangis dalam kesedihan? Ketahuilah, anakku tengah ditawan di negara Romawi.' Maka dengan serta merta Manshur menggerakkan kudanya dan menyuruh manusia pergi berperang menuju tempat anak wanita itu berada." (Siyaru A'lamin Nubala 17/125,216).
Maasyiral muslimin rakhimakumullah!
Demikianlah sikap para pendahulu kita, baik ulama maupun pemimpinnya. Mereka memiliki perhatian dan kepedulian yang cukup besar untuk membebaskan tawanan kaum muslimin. Meneriakkan panggilan dan menyambut panggilan itu. Menulis surah dan menyiapkan pasukan untuk membebaskan kaum muslimin yang tertawan.
Kemudian waktu pun berlalu, dan hari ini kita mendapati betapa kaum muslimin telah menutup mata terhadap kaum muslimin lain yang tertawan oleh kaum kuffar. Mereka dibiarkan berada di balik jeruji besi yang gelap gulita, penuh penderitaan, dan kezaliman dari musuh-musuhnya. Mereka berteriak dan memanggil, tetapi tak satu pun kaum muslimin yang menjawab panggilan mereka itu. Di manakah kepedulian dan rasa persaudaraanmu wahai kaum muslimin? Di sana saudaramu tengah menderita dan dizalimi oleh musuh-musuhnya. Bantulah mereka.
Wahai Allah, bebaskanlah kesempitan orang yang memiliki kesempitan. Wahai Allah, bebaskanlah tawanan orang-orang muslim. Peliharalah din dan keyakinan mereka, janganlah Engkau biarkan mereka menjadi fitnah orang-orang kafir. Amin. Wallahu a'lam.

Islam Will Never Die


Islam Will Never Die

Maasyiral muslimin rakhimakumullah!
Tahun baru hijriah baru beberapa hari kita lalui. Tentunya tidak salah jika kita mengambil kembali pelajaran atas peristiwa hijrahnya Rasulullah saw. dari kota Mekah ke Madinah 1424 tahun silam itu. Marilah kita belajar kepada Rasulullah saw. bagaimana menjadi orang amanat, memenuhi janji, dan pemberani!
Pertemuan orang kafir di Darun Nadwah, MPR orang kafir saat itu, telah menelorkan keputusan membunuh Rasulullah saw. Untuk mewujudkan hal ini, Abu Jahal sebagai pemimpin orang kafir mengumpulkan pemuda dan bodyguardnya. Maka, terkumpulah 20 pemuda yang diberi tugas mengepung rumah Rasulullah saw., rumah petunjuk dan kebenaran, rumah dari sahabat malaikat Jibril, tamu dari Israfil dan Izrail, dan rumah yang Allah telah berfirman kepadanya, yang artinya, "Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami."
Sementara itu, Rasulullah saw. memberi tahu Ali apa yang akan dilakukanya. Lalu, beliau berkata kepadanya, "Ali, tidurlah kamu malam ini di atas pembaringanku." Ali menjawab, "Jiwaku akan menjadi tebusanmu wahai Rasulullah." Allah kemudian memberitahukan apa yang terjadi di Darudnadwah tersebut. Allah berfirman yang artinya, "Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya." Tujuan mereka sangat jelas, yaitu menangkap, membunuh, atau mengusir Rasulullah saw. Berangkatlah ke- 20 orang itu untuk mengepung rumah Rasulullah saw. Lalu, siapakah yang menjaga dan melindungi Rasulullah?

Maasyiral muslimin rakhimakumullah!
Di dalam rumah Rasulullah saw. terlihat tengah memuji, berzikir, dan bertasbih kepada Allah SWT. Suara kebenaran senantiasa akan meninggi dengan zikir kepada Allah, sementara suara kebatilan hanya mengancam dan menakut-nakuti. Dan, datanglah waktu yang ditunggu-tunggu itu. Ali pun telah menempati pembaringan beliau. Rasulullah saw. pun keluar dari rumahnya dan hanya bersenjatakan iman dan ayat-ayat Allah. Beliau kemudian membaca awal surah Yasin sampai pada pada firman Allah Tabaraka wa Ta'ala yang berbunyi artinya, "Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat." Dengan qudrah dan kehendak Allah, ayat-ayat itu membuat mata orang-orang yang mengepung tertutup dan tak bisa melihat. Siapakah yang membuat mereka tak bisa melihat (?) tidak lain adalah Allah SWT. Allah berfirman yang artinya, "Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri. Dan, Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia."
Maasyiral muslimin rakhimakumullah!
Perhatikanlah firman Allah yang berbunyi Faaghsyainaahum (Maka Kami tutup [mata] mereka), Allah tidak menggunakan lafaz Faamnaahum (Kami buat mereka tidur), karena kalau mereka tidur, mereka bisa jadi akan terbangun manakala mendengar suara gerakan. Akan tetapi, Aghsyainaahum (Kami tutup mata mereka), mengapa? Karena, mereka adalah orang yang zalim dan berdosa. Maka, Rasulullah saw. pun bisa melewati mereka dengan leluasa dan kemudian pergi menuju rumah sahabatnya, Abu Bakar. Para pengepung itu baru sadar ketika salah seorang penggembala kambing membangunkannya pada pagi hari. Mereka pun bergegas masuk ke rumah Rasululalh saw., mencari tempat tidur Rasulullah saw., dan menangkapnya. Tetapi, apa yang terjadi? mereka terkejut, karena yang mereka tangkap bukan Rasulullah, melainkan Ali, sepupunya. Mereka kecewa besar dan bertanya-tanya ke mana Muhammad?
Matahari pagi pun terbit di ufuk timur dan bumi tersinari dengan cahaya Rab-Nya. Para penduduk masih tertidur, sementara Rasululalh saw. bersama Abu Bakar telah pergi meninggalkan mereka, menempuh jalan yang telah ditentukan. Kafilah tauhid telah berlalu, kafilah Islam telah berjalan meskipun serigala menggonggong di tengah jalan.
Maasyiral muslimin rahimakumullah!
Islam akan terus berjalan, tetapi ia tidak pernah tercerai berai. Mengapa? karena Islam adalah din Allah Tabaraka wa Ta'ala Yang Maha Hidup lagi tak pernah mati. Rasulullah bersama Abu Bakar kemudian masuk dalam sebuah gua. Allah SWT berfirman, "Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad), maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah), sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: 'Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita'."
Maka, janganlah kalian bersedih hati, wahai kaum muslimin di seluruh penjuru dunia. Karena, Allah senantiasa bersama kita. "Dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan, kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."

Ini adalah perhatian Allah Tabaraka wa Ta'ala untuk melindungi Rasulullah saw. dan sahabatnya. Perhatian yang Allah berikan kepada orang-orang yang berjalan di jalan-Nya. Sesungguhnya peperangan yang saat ini tengah berkobar bukanlah hanya peperangan politik sebagaimana dipahami orang yang berpikiran pendek, tetapi ia adalah perang akidah, perang antar hak dan batil.
Maasyiral muslimin rakhimakumullah!
Hari ini perhatian umat Islam di seluruh dunia tengah terpusat ke Irak. Negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim dan memiliki peradaban Islam yang tinggi sebentar lagi akan dihancurkan oleh AS. Sebenarnya apa yang dilakukan oleh AS dan dibantu oleh Inggris adalah bentuk dari perang salib baru. Mereka tidak semata ingin menyerang Irak, tetapi hendak mengembalikan imperium dan kekuasaannya di wilayah Teluk dan Timur Tengah. Berikut adalah tujuan dari perang salib sebagaimana telah digembor-gemborkan oleh pemimpin mereka:

  1. Menguasai ladang minyak dan sumber daya alam lainnya.
  2. Menjauhkan masyarkat dari nilai agama melalui pendidikan, pengajaran, dan kebudayaan, sebagaimana telah berhasil mereka lakukan terhadap negara Turki.
  3. Menghancurkan Islam. Setelah Irak, sasaran berikutnya adalah Arab Saudi. Karena, menurut pendapat pemikir dan tokoh politiknya, Islam bermula dari Mekah, maka ia juga harus dihancurkan.
  4. Memberi kesempatan kepada Israel untuk mewujudkan mimpinya, membangun Israel raya dan mengumpulan seluruh warga Yahudi di dalamnya.
Maasyiral muslimin rakhimakumullah!
Persengkokolan untuk menghancurkan Islam akan terus oleh kaum kafir. Namun, kapankah Islam akan hancur dan mati? Ketahuilah, Islam tidak akan mati. Islam akan terus hidup dan ada meskipun kaum kafir itu telah bekerja keras untuk merobohkannya. Islam will never die! Wallahu a'lam.

Salat dan Kekuatan Iman


Salat dan Kekuatan Iman

Maasyiral muslimin rakhimakumullah!
Dalam sebuah riwayat, amirul mukminin Umar bin Khattab r.a., berkata, "Tatkala sepuluh ayat pertama dari surah Al-Mukminun turun, Rasulullah saw. mengangkat kedua tangannya ke langit seraya berdoa, 'Ya Allah, tambahilah kami dan jangan kurangi kami, muliakan kami dan jangan hinakan kami, berilah kami dan jangan halangi kami, utamakan kami dan jangan utamakan yang lain mendahului kami, dan jadikanlah supaya kami rida kepada-Mu dan Engkau rida kepada kami.' Setelah itu, beliau menghadap para sahabat dan berkata, 'Allah telah menurunkan sepuluh ayat, barang siapa yang beramal dengannya maka Allah akan memasukkannya ke surga Firdaus yang tinggi'."
Maasyiral muslimin rakhimakumullah!
Sepuluh ayat itu adalah, "Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu dalam salatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara salatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. "
Dan, marilah kita sejenak menyelami ayat tersebut beserta para pemilik keimanan yang dijanjikan Allah meraih kesuksesan, kebaikan, dan keberhasilan. Mereka adalah orang yang menang, beruntung, dan berbahagia. Mereka adalah orang yang beriman kepada Allah, malaikat, kitab, rasul, hari akhir serta qadha dan qadar yang baik maupun yang buruk.
Maasyiral muslimin rakhimakumullah!
Suatu hari, Rasulullah saw. memasuki sekumpulan sahabat, lalu beliau bertanya kepada mereka, "Apakah kalian orang yang beriman?" Umar menjawab, "Ya, kami adalah orang yang beriman wahai Rasulullah." Kemudian beliau bertanya, "Apa tanda keimanan kalian?" Umar menjawab, "Kami bersabar terhadap cobaan, rida dengan qadha, dan bersyukur terhadap kelapangan hidup. Maka Rasulullah saw. bersabda, "Kalian adalah orang yang beriman. Demi pemilik Kakbah, iman adalah sabar, syukur dan rida."
Dalam sebuah hadis qudsi Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman, "Apabila Aku menguji hamba-Ku pada harta atau anak atau jiwanya, kemudian ia menerima dengan kesabaran yang baik, maka pada hari kiamat Aku merasa malu darinya untuk memberikan timbangan atau membentangkan pengadilan kepadanya, kemudian Aku akan memasukkannya ke janah tanpa hisab. Demi izah-Ku dan kebesaran-Ku Aku tidak akan mengeluarkan seorang hamba dari dunia ini dan Aku senang menyayanginya, sehingga Aku akan penuhi segala keburukan yang telah diperbuatnya dengan penyakit di badan atau kesempitan rezeki atau musibah harta atau anaknya meskipun keburukan itu sebesar biji atom. Seandainya kejelekan itu masih tersisa, maka akan Aku keraskan sakratul mautnya sehingga ia menjumpai-Ku seperti hari ketika ia dilahirkan ibunya."
Maasyiral muslimin rakhimakumullah!
Mungkin kita masih teringat dengan Urwah bin Zubeir yang betisnya terkena pedang tajam, lalu para tabib berkata kepadanya, "Tidak ada cara untuk mengobati, kecuali dengan memotongnya," Lantas apakah yang akan dilakukan Urwah? Ia tengah berhadapan dengan ketentuan Allah dan tidak ada cara untuk menghindari, kecuali hanya dengan kesabaran.
Tabib lalu menyarankan agar Urwah menggunakan sesuatu yang bisa menghilangkan rasa sakit tatkala betisnya dipotong, tetapi apa jawab Urwah? Ia berkata, "Demi Allah, saya tidak akan menggunakan sesuatu yang menghalangi akalku berzikir kepada Allah Tabaraka wa Ta'ala. Urwah lalu berkata kepada para Tabib, "Bila saya telah menjalankan salat kemudian saya sudah dalam kondisi duduk untuk membaca dan bertasyahud, potonglah betisku karena sesungguhnya saat itu saya merasa berada di hadapan Allah, tidak ada dalam hatiku, kecuali Allah Tabaraka wa Ta'ala. Urwah kemudian melaksanakan salat dan salatnya merupakan contoh yang istimewa."
Imam Hatim al-Ashim suatu hari ditanya, "Bagaimana kondisimu ketika engkau melaksanakan salat, wahai Hatim?" Ia menjawab, "Ketika saya melaksanakan salat, saya jadikan Kakbah ada di hadapanku, kematian di belakanku, ash-Shirath di bawah dua telapak kakiku, jannah di sebelah kananku, neraka ada disebelah kiriku dan saya merasa Allah mengawasiku, lalu saya sempurnakan ruku dan sujudnya, kemudian bila saya telah mengucapkan salam saya tidak mengetahui apakah Allah akan menerima atau menolaknya."
Dalam sebuah riwayat, seorang wanita datang menjumpai Musa a.s. seraya berkata, "Saya telah melakukan dosa besar, maka adakah pintu tobat untukku?" Musa lalu bertanya, "Apa dosamu wahai hamba Allah?" Ia menjawab, "Saya telah berzina dan melahirkan anak, lalu anak itu saya bunuh." Musa berkata, "Pergilah engkau dari sisiku, saya takut azab Allah akan menimpaku lantara dosamu. Maka, wanita itu pergi meninggalkan Musa dengan menangis dan kondisi yang menyedihkan. Setelah wanita keluar, turunlah wahyu kepada Musa melalui Jibril, "Wahai Musa, Allah Ta'ala berfirman kepadamu, 'Apakah engkau menolaknya, padahal ia ingin bertaubat? Apakah kamu tidak mengetahui dosa yang lebih besar daripada itu'?" Musa bertanya, "Apakah dosa yang lebih besar daripada itu?" Jibril menjawab, "Orang yang meninggalkan salat dengan sengaja."
Maasyiral muslimin rakhimakumullah!
Di tengah-tengah kita ada seorang muslim yang tidak masuk masjid, kecuali pada hari besar, bulan Ramadan ataupun hari Jumat. Bahkan, ada muslim yang selama hidupnya tidak pernah mrmasuki masjid, kecuali hanya sekali saja, yaitu saat ia akan dikuburkan. Ia masuk masjid bukan untuk salat, tetapi untuk disalatkan.
Allah lalu berfirman yang artinya, "(Yaitu) orang-orang yang khusyu dalam salatnya." Maksud ayat ini adalah mereka memasuki salat sebagaimana manusia memasukkan pakaian ke dalam tubuhnya. Bila baju itu akan melindungi pemakainya dari panas dan dingin, salat akan melindungi pemiliknya dari azab jahannam. Khusyu adalah datangnya hati dan tenangnya anggota tubuh. Aisyah r.a. berkata, "Adalah Rasulullah saw. menceritakan kepada kami dan kami pun bercerita kepadanya, beliau berkata kepada kami dan kami pun berkata kepadanya. Apabila tiba waktu salat, beliau seakan tidak mengenali kami dan kami pun tidak mengenalinya. Itulah khusyu wahai hamba Allah."
Marilah kita kembali kepada kisah Urwah di atas. Para tabib berkata kepadanya, "Bagaimana kami akan memotong betismu wahai Urwah?" Ia menjawab, "Apabila saya memulai salat." Salatlah Urwah dan ia membentangkan betisnya, sedang dia dalam keadaan duduk membaca tasyahud, dan setelah mengucapkan dua salam, ia menanyakan kondisinya, "Apakah kalian telah selesai memotong?' Mereka menjawab, "Ya." Mereka lalu membawa Urwah ke rumahnya sementara darah masih menetes dari betisnya. Sesampai di rumah, Urwah lalu memanggil anak-anaknya, tetapi yang datang hanya seorang. Lalu, ia bertanya, "Apa yang terjadi?" Mereka menjawab, "Semoga Allah membesarkan pahalamu wahai Urwah, anakmu yang besar meninggal." Lalu, Urwah bertanya, "Apa yang terjadi?" Lihatlah kepada kekuatan iman, bagaimana ia membuat keajaiban, mendatangkan mukjizat dan menggerakkan gunung. Urwah berkata, "Apakah ia menampar pipi, merobek saku, menyeru dengan seruan jahiliyah, ataukah berkata dengan sebuah ucapan yang menyebabkan Allah Ta'ala marah kepada-Nya?"
Betis di hadapannya belum pula dikafani dan dikuburkan, darahnya juga masih mengalir, tetapi apa yang dikatakannya? Ia menghadap kepada Allah, lalu berkata, "Wahai Rab, Engkau telah memberiku rezeki dua orang anak dan kini Engkau telah mengambil salah satunya dan meninggalkan yang satu. Maka, segala puji untuk-Mu atas apa yang telah engkau ambil dan segala syukur untukmu atas apa yang engkau tinggalkan. Engkau telah memberiku dua betis, satu telah Engkau ambil dan satu engkau sisakan. Maka, segala puji untukmu atas apa yang Engkau ambil dan segala syukur untukmu atas apa yang engkau tinggalkan. Kemudian, ia mengambil betis yang telah dipotong dan dipandanginya." Lalu, ia berkata, "Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, sesungguhnya saya tidak berjalan denganmu ke tempat yang dimurkai Allah."
Inilah iman, inilah penyerahan kepada Allah Yang Maha Esa. Beginilah nabi kita mengajari kita untuk bersabar terhadap musibah, bersabar ketika mendapat kesulitan. Kita sangat membutuhkan untuk mencontoh Rasulullah saw. dan para sahabatnya karena mereka adalah teladan. Maha benar Allah Tabaraka wa Ta'ala dengan firmannya, "Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) hari kemudian. Dan barangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Maha Kaya lagi terpuji."
Ya Allah, kepadamulah kami bertawakal. Kepadamulah kami kembali, dan Engkaulah tempat kembali. Ya Allah, janganlah engkau jadikan kami fitnah atas orang-orang kafir, ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Perkasa Lagi Maha Bijaksana. Wallahu a'lam.

Umat Islam adalah Umat yang Satu


Umat Islam adalah Umat yang Satu

Maasyiral muslimin rakhimakumullah!
Allah telah berfirman, Inna haadzihi ummatakum ummataw wahidah wa ana rabbukum fa'buduun (Sesungguhnya [agama tauhid] ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Rabbmu, maka sembahlah Aku).
Dalam surah Al-Mukminun Allah juga berfirman, Wa inna hadzihi ummatakum ummataw wahidah wa ana rabbukum fattaqun (Sesungguhnya [agama tauhid] ini adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Rabmu, maka bertakwalah kepada-Ku).
Kedua ayat mulia di atas menunjukkan kepada kita bahwa umat Islam adalah umat yang satu. Ayat di atas juga menyatakan bahwa pengikat kesatuan umat adalah takwa dan ibadah. Hal ini sekaligus menegaskan bahwa mewujudkan kesatuan umat adalah kewajiban seluruh kaum muslimin secara akidah maupun ibadah.
Maasyiral muslimin rakhimakumullah!
Umat ini adalah umat yang satu, yaitu satu akidah dan satu syariah. Wilayah kaum muslimin juga satu, yaitu wilayah khilafah Islamiyah. Wilayah yang terdiri dari banyak negara, tetapi tidak ada sekat antara satu dengan lainnya. Seseorang bebas keluar masuk ke negara lain tanpa harus membawa paspor atau visa. Islam juga dikendalikan oleh satu pemimpin, yaitu khalifah atau amirul mukminin. Baik rakyat maupun pemimpin dalam kekhilafahan ini semuanya tunduk kepada Alquran dan sunah Rasulullah. Sehinngga, Islam terlihat begitu besar, berwibawa, kokoh, dan kuat.
Namun, hari ini semuanya telah berubah. Ketika khalifah terakhir, yaitu khalifah Utsmani di Turki, runtuh pada tahun 1924, Inggris beserta sekutunya bersegera membagi dan memecah wilayah kaum muslimin menjadi negara-negara kecil yang berjumlah cukup banyak. Di antaranya Qatar, UEA, Syiria, Yaman, Irak, Iran, Kuwait, Oman, Saudi, dan sebagainya. Antara satu negara dengan negara lain dibuat batas wilayah. Seseorang tidak boleh masuk ke wilayah lain, kecualai harus disertai dengan paspor atau visa. Selain menerapkan hukum kafir, mereka juga menanamkan doktrin kesukuan dan nasionalisme.
Sesungguhnya batas-batas wilayah yang ada di dunia Islam adalah batas-batas yang tidak sesuai dengan syariah Islam. Hal ini dilakukan oleh kaum kafir agar umat Islam terpecah-pecah, lemah, dan mudah ditundukkan.
Maasyiral muslimin rakhimakumullah!
Hari ini kita sangat membutuhkan kesatuan dan persatuan umat. Ini adalah kewajiban kita, Allah juga melarang kita berbantah-bantahan karena itu akan menghilangkan kekuatan kita. Allah SWT berfirman, Wa athi'ullaaha wa athi'ur rasuul walaa tanaaza'uu fatafsyaluu wa tadzhaba riihukum washbiruu fa innallaaha ma'ashaabiriin (Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar).
Sesungguhnya serigala di dunia Barat telah bersiap-siaga untuk menerkam kita, kaum muslimin. Mereka akan memakan kita satu per satu. Mungkin kita teringat dengan sabda Rasulullah saw yang artinya, "Tidaklah tiga desa atau penduduk badui yang di dalamnya tidak menegakkan salat, kecuali setan akan menguasai mereka. Hendaknya kalian dengan jamaah, karena serigala itu akan memakan anjing yang sendirian."
Engkau benar, wahai Rasulullah! Serigala akan menyergap kambing yang menyendiri dan keluar dari gerombolannya. Apa yang digambarkan oleh Rasulullah sangat sesuai dengan kondisi umat Islam hari ini.
Maasyiral muslimin rakhimakumullah!
Hari ini, saudara kita yang ada di Irak tengah mendapat musibah. Ini adalah bagian dari konspirasi kaum kafir yang dipimpin Amerika untuk menguasai satu per satu negara Islam. Setelah Irak, mungkin Sudan, terus Palestina, terus Saudi, dan seterusnya. Maka, sebagai umat yang satu, marilah kita merapatkan barisan dan berdoa untuk kemenangan kaum muslimin.
Allahumma a'izzil islaama wal muslimiin wakhdzul man khadzalal Islaama wal muslimiin (Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslim dan hinakanlah orang yang menghinakan Islam dan kaum muslimin), amin. Wallahu a'lam.

Kegagalan Jangan Membuatmu Berputus Asa


Kegagalan Jangan Membuatmu Berputus Asa

Maasyiral muslimin rakhimakumullah!
Allah SWT telah berfirman, Alladziina qaala lahumunnaasu innannaasa qad jama?uu lakum fakhsauhum fazaadahum iimaana wa qaaluu hasbunallaahu wa ni?mal wakiil. Fanqalabuu bini?matim minallaahi wa fadhlin lam yamsashum suu-un wat taba?uu ridlwaanallaahi wallaahu dzuu fadzlin ?adziim. Innamaa dzaalikumus syaithaanu yukhawwifu auliyaa-ah falaa takhaafuhum wa khaafuuni inkuntum mukminin. (yaitu) orang-orang yang menaati Allah dan Rasul yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, ?Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,? maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, ?Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung. Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridaan Allah, dan Allah mempunyai karunia yang besar. Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Qurasy) karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kamu benar-benar orang yang beriman.
Maasyiral muslimin rakhimakumullah!
Seusai Perang Uhud pada tahun ke-3 Hijrah dan kaum muslimin telah mendapatkan apa yang mereka dapatkan, Abu Sufyan pemimpin kaum musyrik berseru kepada Rasulullah, ?Ya Muhammad, jika engkau mau, maka tempat pertemuan kita selanjutnya adalah Badar.? Rasulullah saw. pun menjawab, ?Ya, insya Allah Taala."
Setibanya di Madinah Rasulullah saw. merasa khawatir kalau-kalau orang musyrik datang ke Madinah untuk menyempurnakan kemenangan mereka. Menyikapai hal ini, Rasulullah saw. lantas memanggil para sahabatnya agar segera keluar di belakang musuh. Beliau juga memerintahkan agar yang menyertai dirinya hanyalah yang ikut dalam satu peperangan saja. Para sahabat pun menyambut perintah itu dengan penuh kekuatan diri dan kebulatan tekad setelah mereka mendapatkan luka. Mereka terus berjalan hingga akhirnya mereka sampai sebuah tempat yang disebut dengan Hamra? al-Asad.
Apa yang dikhawatirkan Rasulullah terbukti. Orang-orang musyrik tengah mempersiapkan diri menuju Madinah al-Munawarah. Namun, ketika mereka mengetahui bahwa Nabi telah keluar dari Madinah menuju Mekah dan mengira yang datang bersama Rasulullah adalah orang yang tidak ikut dalam perang sebelumnya serta Allah memberikan rasa takut kepada hati meraka, maka mereka pun bergegas kembali menuju Mekah.
Maasyiral muslimin rakhimakumullah!
Ketika Rasulullah saw. berada di Hamra? al-Asad beliau menangkap seorang penyair yang bernama Abi Izzah. Abi Izzah ini seringkali mencela Rasulullah saw. dengan syair-syairnya dan memberi semangat kaum musyrikin untuk melawan kaum muslimin.
Rasulullah akhirnya memberikan kebaikan kepadanya, manakala terjadi perjanjian dengan Rasulullah bahwa dia tidak akan lagi melantunkan syair yang memberi semanagat kaum musyrikin untuk membunuh kaum muslimin. Namun, Abi Izzah melanggar janji ini. Maka, Rasulullah memerintahkan agar Abi Izzah dibunuh. Abi Izzah lalu bertawasul kepada Rasulullah saw agar memberikan kebaikan kepada dirinya sekali lagi. Rasulullah saw. menjawab, ?Tidak demi Allah, Janganlah kau bersihkan kedua pipimu dengan Kakbah. Engkau telah menipu Muhammad dua kali. Seorang mukmin tidak terjerumus ke dalam lubang yang sama dua kali.? Perang di Hamra al-Asad diangggap sebagai jawaban atas apa yang diperoleh kaum muslimin dalam Perang Uhud.
Maasyiral muslimin rakhimakumullah!
Peristiwa di atas adalah pelajaran yang jelas dan gamblang bagi kaum muslimin dalam segala kondisi, yang tidak tertipu oleh aktivitas kaum munafik, musyrik, dan orang yang melanggar perjanjian. Seorang mukmin hendaknya tidak terjerumus ke dalam sebuah lubang yang sama dua kali.
Maasyiral muslimin rakhimakumullah!
Dalam Perang Badar, Abu Sufyan berupaya menangguhkan pasukan kaum muslimin dan melakukan perang urat syaraf, namun upaya ini menemui kegagalan.
Kaum muslimin terus datang ke Badar dengan senantiasa melantunkan, ?Hasbunallaahu wa ni?mal wakiil (Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung). Maka, bertambahlah keimanan orang mukmin. Maka, hendaknya kita melantunkan, ?Hasbunallaahu wa ni?mal wakiil (Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung), terlebih saat ini kita berada dalam perkara yang besar. Allah adalah pelindung kita, Allahlah yang akan mencukupi kita dan Allahlah yang akan menjadi penolong kita. Dalam sebuah hadis diriwayatkan, ?Jika kalian berada dalam perkara yang besar, maka katakanlah Hasbunallaahu wa ni?mal wakiil.? Adalah Nabi Ibrahim a.s. juga melantunkan ucapan ini ketika dilempar ke dalam api.
Maasyiral muslimin rakhimakumullah!
Kaum muslimin telah keluar dan berdiam di Badar selama tiga hari. Mereka melakukan aktivitas perdaganagan dengan aman dan tenteram. Mereka pulang dengan membawa ghanimah dengan selamat, sebagaimana yang ditunjukkan Allah dalam firman-Nya, ?Alladziina qaala lahumunnaasu innannaasa qad jama?uu lakum fakhsauhum fazaadahum iimaana wa qaaluu hasbunallaahu wa ni?mal wakiil. ([yaitu] orang-orang yang menaati Allah dan Rasul yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, ?Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,? maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, ?Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung).
Ayat yang mulia di atas mengajak kita agar berdiam diri, tegar, dan tetap kokoh dalam posisi atau tempat yang sulit. Ayat tersebut juga mengajak kepada kita untuk senantiasa bertawakal kepada Allah menyandarkan takutnya hanya kepada-Nya karena tidak ada tempat berlindung kecuali hanya Dia, Allah SWT. Karena, bila rasa takut seorang mukmin kepada Allah itu telah melekat dalam dirinya, Allah akan menundukkan semua makhluk kepadanya.
Maasyiral muslimin rakhimakumullah!
Kaum muslimin tidak berputus asa terhadap kejadian yang menimpa mereka pada Perang Uhud. Mereka tidak tidur, tenang, melarikan diri dari tanggung jawab, memusuhi jabatan dan singgasana, menuduh satu dengan lainnya dari belakang, maupun menolong Parsi atau Rum. Mereka tidak pula melakukan konferensi politik, badan keamanan, maupun pernyataan atas nama bangsa sebagaimana yang dilakukan oleh dunia Islam saat ini.
Maasyiral muslimin rakhimakumullah!
Pada masa lampau kaum muslimin telah mengalami ujian yang begitu berat kerika Perang Tatar dan Salib berkecamuk. Nenek moyang kita bisa melampui kesulitan itu dengan tegar, kokoh, dan pengorbanan. Hal ini karena mereka bertakwa kepada Allah dan hanya takut kepada-Nya. Dalam sebuah riwayat, Imam Hasan Bashri bertanya kepada seseorang, ?Bagaimana rasa takutmu kepada Allah? Maka, orang yang bertanya berkata, ?Apabila saya berada dalam sebuah kapal laut, lalu kapal itu hancur dan meninggalkan satu papan, lalu aku menggantungkan diriku dengan papan itu. Dan, engkau berada dalam ombak yang besar, maka bagaimanakan perasaanmu? Ia menjawab, ?Saya sangat takut." Maka, Hasan al-Bashri berkata,? Begitulah rasa takutku kepada Allah siang dan malam.
Maasyiral muslimin rakhimakumullah!
Hari ini umat Islam tengah mengalami ujian dan cobaan, meskipun demikian hal ini tidak menghilangkan rasa kepercayaan kita kepada Allah Azza wa Jalla. Dan, janganlah berputus asa karena Allah SWT telah berfiman yang artinya, ?Janganlah berputus asa terhadap rahmat Allah, sesungguhnya tidak berputus asa terhadap rahmat Allah, kecuali orang-orang yang kafir.? Wallahu a?lam.

Menuju Surga


Menuju Surga

Maasyiral muslimin rahimakumullah!
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari disebutkan bahwa ketika meletus Perang Badar, Rasulullah saw. berada dalam kubahnya dan berdoa, "Ya Allah, sesungguhnya saya mengingatkan janji-Mu, ya Allah jika Engkau menghendaki (kekalahan dalam Perang Badar) niscaya Engkau tidak akan disembah setelah hari ini selama-lamanya."
Abu Bakar kemudian memegang tangan Rasulullah saw. dan berkata, "Cukup Engkau ya Rasulullah, Engkau telah mendesak Allah, Engkau telah mendesak Rab, saat itu Rasulullah saw. menggunakan baju besi. Kemudian, beliau keluar dan membacakan ayat yang artinya, 'Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang. Sebenarnya hari kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka dan kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit'." (Al-Qamar: 45--46).
Maasyiral muslimin rakhimakumullah!
Ingatlah, sesungguhnya kekalahan itu tidak akan turun kepada orang-orang mukmin yang benar, tetapi ia akan turun kepada orang yang menentang Allah dan sombong kepada-Nya. Kekalahan itu akan turun kepada orang-orang munafik yang memerangi Allah Tabaraka wa Taala.
Ingatlah, bahwa umat Islam tidak akan tinggi, kecuali satu bendera yang ditulis kalimat Laa ilaaha Illallah Muhammad Rasulullah. Meskipun peristiwa sebelum ataupun sesudah perang telah berubah, ia tetap berpegang teguh kepada prinsip meskipun peristiwa telah berubah.
Ingatlah, bahwa kondisi kita pada hari ini tidak diridai Allah dan Rasul-Nya, kita hampir tidak mempercayai bahwa kalau umat ini adalah umat Muhamad. Apakah ini umat yang bertauhid? Apakah ini umat Islam?
Bila engkau berkunjung ke makam Muhammad saw. dan engkau melihat tempat tinggal yang besar, air matamu mengalir karena kewibawaan Rasululullah di antara dinding dan kamar-kamar.
Maka, katakanlah kepada Rasulullah, "Wahai sebaik-baik utusan, aku memberi tahu kepadamu akan kerugian yang tengah terjadi. Rakyatmu di timur dan barat bagaikan ashabul kahfi. Mereka memiliki keimanan serta dua cahaya Quran dan sunah, maka bagaimanakah keadaaan mereka bila tidak ada cahaya?"
Maasyiral muslimin rakhimakumullah!
Seorang sahabat besar Anas bin Nadhr r.a. tengah bersiap-siap pergi menuju Perang Uhud. Di tengah perjalanan ia berjumpa dengan sahabat besar lainnya, Sa'ad bin Mu'adz yang bertanya kepadanya, "Hendak ke manakah engkau Anas? Ia berkata, "Saya hendak ke Uhud, sesungguhnya saya mencium bau surga ada di Uhud."
"Hendak ke Uhud, sesungguhnya di sana saya mencium bau surga." Sebuah pernyataan yang keluar dari hati yang dipenuhi dengan rasa cinta kepada Allah SWT. Dari hati yang mengenal Allah.
"Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah-lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui." (Al-Maidah: 54).
Hendak kemanakah engkau wahai Anas? Hendak ke Uhud, sesungguhnya di sana saya mencium bau surga. Sebuah jiwa yang penuh dengan ketenangan dan kebenaran. Sesungguhnya Allah telah mengajari mereka untuk menjadi yang terbesar dari peristiwa yang tengah terjadi, meskipun kayu bakar terasa amat panas, musibah dan kesulitan terasa begitu berat.
"Jika kamu (pada Perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itu pun (pada Perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim, dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir. Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar." (Ali Imron: 140--142).
Allah telah mengajari mereka agar menjadi yang terbesar dari hari-hari yang sulit.
Sesungguhnya risalah Islam bukanlah sekadar kata-kata. Risalah Islam adalah pendidikan, pemusatan, dan pengarahan. Bagaimana kita mendidik kaum lelaki bila kita lalai mendidik hati dan membangun jiwa? Untuk memasuki peperangan, kita harus membangun hati kita. Dengarkanlah apa yang dikatakan Anas bin Nadhir r.a. Anas yang telah menorehkan sejarah dengan kedua lututnya dan meletakkan dunia di bawah kedua telapak kakinya. "Sesungguhnya saya mendapatkan bau surga di Uhud." Ia telah terjun ke medan perang sebagai dan meninggal dalam keadaan syahid. Orang-orang kemudian datang untuk mengenali jasadnya, tetapi mereka kesulitan untuk mengenalinya, lantaran banyaknya luka dalam tubuhnya. Lebih dari 80 luka antara sabetan pedang, tusukan anak panah, dan lemparan tombak berkumpul dalam tubuhnya. Tanda-tanda untuk mengenali jasadnya telah berubah, karena dahsyatnya luka yang menimpa dirinya. Tatkala ia terkena lemparan tombak ia berkata, "Laa ilaaha illallah Muhammad rasulullah."
Sesungguhnya luka itu meskipun banyak dan dahsyat, namun ia tidak merasakan rasa sakit, ia tengah berada dalam rasa dingin dan damai.
Kemudian, datanglah saudara perempuan Anas untuk mengenal jasadnya, ia kemudian mengamati jasad yang mulia itu, tetapi ia tidak dapat mengenalinya, kecuali dengan jari-jari tangannya.
Ia berkata, "Sesungguhnya dia adalah saudaraku, namun siapakah yang telah mengirimkan jasad sang syahid? Sesungguhnya yang telah mengirimkan jasadnya adalah para malaikat. Allah Azza wa Jalla berduka cita terhadap kaum mukminin, dan Jibril membawa duka cita kepada mereka dan Nabi kita yang mulia mengumumkannya. Allah SWT berfirman, "Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya)." (Al-Ahzab: 23).
Sesungguhnya kita membutuhkan kaum lelaki yang mengenal Allah. Manakala Shalahuddin al-Ayyubi terjun ke medan perang melawan tentara Eropa, ia senantiasa mengerjakan salat sebelum subuh dan berdoa memohon kemenangan atas kaum mukminin. Ia berkata, "Mintalah doa pada waktu sahur untuk mengalahkan musuh-musuh Allah."
Suatu saat Shalahuddin duduk di antara para sahabatnya, saat itu masjid Al-Aqsa masih dalam genggaman kaum salib. Ia duduk terdiam. Para sahabatnya lalu berkata kepadanya, "Mengapa Anda tidak tersenyum, wahai Shalahuddin? Ia berkata, "Saya takut Allah melihat saya tersenyum, sementara Masjidil Aqsa masih di tangan kaum salib."
Maasyiral muslimin rakhimakumullah!
Sesungguhnya musuh-musuh Islam datang untuk menghancurkan dan merusak. Sementara, Islam datang untuk membangun dan mengadakan kemakmuran. Para sahabat Rasulullah saw. tidak pernah berjalan dengan meraba-raba dalam kegelapan, namun ia berjalan dalam garis yang jelas dan benar.
Engkau, wahai kaum muslimin, janganlah putus asa dari rahmat Allah, janganlah putus asa dari rahmat Allah, karana kemenangan itu pasti akan datang. Allah SWT telah berfirman, "Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman." (Ar-Rum: 45).
"Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa." (Al-Hajj: 40).
Sesungguhnya telah datAng waktu untuk kembali kepada Allah Azza wa Jalla. Karena banyaknya dosa akan menyempitkan rezeki, merusak akhlak, menghilangkan perilaku, dan mencabut rahmat dari dada para hamba.
Hamba Allah, jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu, dan tolonglah (agama) Allah, niscaya Allah akan menolong kalian. Ingatlah Allah, niscaya Allah akan mengingat kalian, dan bersyukurlah kepada Allah, niscaya ia akan menambah kalian. Allah Akbar, Allah akan memberikan pertolongan. Allah akan memberikan kemenangan. Allah akan menghinakan orang yang kafir dan memuliakan orang yang menolong kaum mukmin. Wallahu a'lam.

Kembali Kepada Allah SWT


Kembali Kepada Allah SWT

Maasyiral muslimin rahimakumullah!
Sesungguhnya umat yang jauh dari manhaj Alquran dan sunah adalah umat yang akan menuai kehancuran dan azab. Kita sebagai bangsa muslim, meskipun mendapat perlakuan zalim dari musuh-musuh Islam, masih saja banyak di antara kita yang berkecimpung dalam kesesatan dan enggan kembali kepada Allah Tabaraka wa Taala. Mereka ini adalah orang-orang yang ikut berpartisipasi dalam menzalimi pihak lain. Akibatnya, kerusakan tersebar di tengah kaum muslimin, pencurian merajalela, minum-minuman keras merebak, tempat-tempat bahaya menjadi sasaran, para wanita keluar dengan telanjang tanpa rasa malu dan perlindungan, dan zina pun marak. Padahal, Rasululah saw. telah bersabda yang artinya, "Apabila riba dan zina telah nampak dalam sebuah desa, mereka telah halal untuk mendapatkan azab Allah."
Maasyiral muslimin rahimakumullah!
Apabila kita berkeinginan untuk merealisasikan prinsip ideal dalam sebuah masyarakat, tidak ada jalan lain kecuali kembali kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya. Wahai Rab kami, terimalah amalan kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dan terimalah taubat kami karena sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.
Maasyiral muslimin rahimakumullah!
Marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing. Apakah di sana ada kesempurnaan, sementara jiwa kita dipenuhi dengan rasa iri, kebencian, dan permusuhan? Apakah di sana ada kesempurnaan, sementara kita masih mabuk dalam luapan minuman keras? Apakah di sana ada kesempurnaan, sementara kita memakan daging sebagian kita dengan sebagian yang lain?
Bila kita ingin mengobati itu semua, merilah kita kembali kepada Allah Tabaraka wa Taala. Marilah kita lantunkan kalimat lailaaha Illallah muhammadar rasulullah. Marilah kita perbaiki hubungan kita dengan Allah. Marilah kita mendidik diri kita dan anak-anak kita dengan pendidikan Islam. Marilah kita tolong-menolong atas dasar kebaikan dan takwa dan jangan tolong menolong atas dasar dosa dan permusuhan.
Marilah kita mengambil pelajaran dan nasihat dari para sahabat besar yang telah dididik Rasulullah saw. Di antaranya adalah seorang sahabat wanita mulia, Sahlah binti Mulhan, yang ketika menikah maharnya adalah kalimat tauhid "laa ilaaha illallah". Sebuah kalimat yang mampu menggoncang gunung-gunung.
Nabi Musa a.s. berkata, "Ya Rab, ajarilah aku sesuatu yang dengannya aku berdoa kepada-Mu dan menyebut-MU." Allah Tabaraka wa Taala berfirman, "Katakanlah, laa ilaaha illallah." Musa berkata, "Wahai Rab, semua hamba-Mu mengatakannya." Maka, Allah yang telah meninggikan langit tanpa tiang berfirman, "Hai Musa, demi izah dan kebesaran-Ku, seandainya langit yang tujuh dan siapa yang ada di dalamnya dan bumi-bumi dan siapa yang ada di dalamnya diletakkan dalam sebuah telapak dan saya meletakkan laa ilaaha illallah dalam telapak yang lain, maka akan condonglah telapak yang terdapat kalimat lailaaha lllallah."
Maasyiral muslimin rahimakumullah!
Sahabat mulia, Sahlah binti Mulhan, menikah dengan Abu Thalhah dan Allah menganugerakan kepada mereka seorang anak. Mereka memberi nama anak ini dengan Umair. Suatu hari anak tersebut sakit keras. Sebelum Abu Thalhah berangkat bekerja, ia mencium anak itu. Tidak berapa lama kemudian Allah Yang Maha Kuasa pun memanggilnya. Marilah kita melihat apa yang dilakukan Sayyidah Sahlah r.a. ketika kematian telah menjemput anaknya! Apakah ia merobek-robek pakaiannya, apakah ia menampar pipinya? Apakah ia menyeru dengan seruan jahiliyah? Tidak, namun yang ia katakan adalah innaa lillaahi wa innaa ilaihi raajiuun (sesungguhnya kita semuanya milik Allah, dan kita semua akan kembali kepadanya), tidak ada tempat lari dari pertemuan kepada Allah.

"Kuburan adalah pintu dan semua manusia akan memasukinya. Wahai umurku, setelah pintu niscaya terdapat rumah. Rumah itu adalah rumah kenikmatan jika aku berbuat dengan yang apa diridhai Allah, namun bila aku menyelisihinya, neraka adalah tempat tinggalnya. Keduanya adalah tempat kembali. Tidak ada manusia yang tinggal selain di kedua tempat tersebut, maka lihatlah dirimu, rumah manakah yang engkau pilih? Seorang hamba bila beramal dan memberikan pemberian, maka tidak ada baginya kecuali surga Firdaus, sementara Rab itu Maha Pengampun."
Sahlah kemudian memandikan jasad anaknya, mengafani, dan menyolatkannya, setelah itu mengkuburkannya. Lalu, pada malam harinya suaminya pulang dari bekerja. Ia lalu mempersiapkan dirinya dan makanan untuk suaminya. Suaminya pun menikmati makanan yang dihidangkannya, lalu ia bertanya, "Bagaimanakah keadaan Umair, wahai istriku?" Perkataan yang sungguh menakjubkan, namun jawaban yang diberikan Sahlah jauh lebih menakjubkan. "Bagaimana keadaaannya?" Maka bagaimanakah jawaban yang diberikan sahabat yang telah mengikat tangan Rasulullah saw. ini? Ia berkata, "Wahai Abu Thalhah, sesungguhnya Umair tengah menikmati malam harinya, ia tidak merasakah lelah, ia tengah tidur dengan tenang."
Manakala Rasulullah saw. berada dalam sakaratul maut ia membasuh wajahnya dengan air yang dingin. Beliau berkata, "Subhanallah (maha suci Allah) sesungguhnya kematian saat-saat sekarat. Ya Allah, mudahkanlah sakaratul maut untuk kami." Saat itu sayyidah Fathimah tengah menangis, "Alangkah sedihnya wahai ayahanda." Rasulullah saw. kemudian bersabda, "Wahai Fathimah, tidak ada kesedihan atas ayahmu setelah hari ini."
Bilal bin Rabah tatkala berada dalam sakaratul maut, istrinya berkata, "Alangkah sedihnya." Bilal kemudian membuka matanya dan berkata, "Katakanlah, 'Alangkah gembiranya saya akan berjumpa denga para kekasihku, muhammad dan para sahabatnya'."
Maasyiral muslimin rahimakumullah!
Tatkala Ibrahim a.s. tengah tidur di atas kasur kematiannya, datanglah malaikat pencabut nyawa. Ibrahim lalu berkata kepadanya, "Engkau datang ataukah akan menyabut nyawa wahai malaikat maut?" Malaikat maut menjawab, "Saya datang untuk mencabut nyawamu wahai kekasih Ar-Rahman." Maka, berkatalah Ibrahim, "Wahai malaikat maut, apa pendapatmu tentang seorang kekasih yang mematikan kekasihnya?" Maka, Allah Tabaraka wa Taala mewahyukan jawaban kepada malaikat maut. Berkatalah malaikat maut, "Wahai kekasih Ar-Rahman, As-Salam (Allah) membacakan salam kepadamu dan berkata kepadamu, 'Apakah pendapatmu tentang seorang kekasih yang enggan bertemu dengan kekasihnya?' Allah berfirman yang artinya, 'Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya, Itulah yang kamu selalu daripadanya'." (Qaf: 19).
Marilah kita kembali kepada kisah Abu Thalhah, "Bagaimana keadaan Umair?" Sahlah lalu berkata kepadanya, "Ia tidur malam dengan tenang dan tidak merasakan lelah." Seandainya Sahlah adalah salah satu wanita yang hidup pada masa sekarang, maka dunia telah berbalik, atas menjadi bawah.
Akidah adalah dasar utama untuk mendidik jiwa. Akidah inilah yang mendidik jiwa merasakan pengawasan Allah SWT. Setelah itu mereka berdua tidur. Ketika Abu Thalhah hendak berangkat salat fajar ke masjid, ia bertanya kepada istrinya, "Di manakah Umair? Saya hendak menciumnya." Maka apakah jawaban yang diberikan Sahlah, apakah ia akan berdusta? Sungguh mereka tidak mengenal perkataan dusta dan bohong. Rasululalh telah mendidik mereka. Ia menjawab, "Wahai Abu Thalhah, sesungguhnya saya dalam kesedihan." Abu Thalhah bertanya, "Mengapa?" Ia menjawab, "Tetangga telah meminjamkan sesuatu kepdaku, tetapi ia kemudian mengambilnya kembali." Abu Talhah berkata, "Apakah engkau akan sedih bila mereka mengambil titipanya?" Maka berkatalah Sahlah, "Apakah engkau akan sedih wahai Abu Thalhah bila Allah mengambil titipan-Nya dari kita?"
Maka saat itu tidak terdengar dari lisan Abu Thalhah, melainkan kalimat innaa lillaahi wa innaa ilaihi raajiun. Ia kemudian pergi ke masjid untuk menunaikan salat fajar berjamaah bersama Rasulullah saw. Setalah salat usai, ia menceritakan ucapan istrinya kepada Rasulullah. Maka, nampaklah senyum keridaan dari kedua bibir beliau, atas apa yang telah diperbuat Sahlah r.a., lalu beliau mendoakan Abu Thalhah. Doa yang membuka pintu langit yang tinggi. "Semoga Allah memberkahi malam kalian berdua wahai Aba Thalhah"
Maasyiral muslimin rahimakumullah!
Seorang perawi hadis berkata, "Setelah itu saya menyaksikan Abu Thalhah memiliki 10 anak laki-laki yang semuanya hafal Alquran dan tidak ada di antara mereka yang memiliki kendaraan, bangunan, atau harta yang berlimpah. Sesungguhnya mereka menjaga kitab Allah Tabaraka wa Taala. Ini adalah kemuliaan dan ini adalah izah. Ini adalah doa Rasulullah saw. untuk Aba Thalhah."
Maasyiral muslimin rahimakumullah!
Seandainya para wanita di dunia ini seperti Sahlah, niscaya kaum wanita akan melebihi kaum pria. Wallahu a'lam bish-shawab