Minggu, 04 Januari 2015

Warning Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam Pada Umatnya



Warning Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam Pada Umatnya

Segala puji hanya bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla, kami memuji -Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada -Nya, kami berlindung kepada -Nya dari kejahatan diri-diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah Shubhanahu wa ta’alla beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah Shubhanahu wa ta’alla sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.
Aku bersaksi bahwasanya tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah Shubhanahu wa ta’alla semata, yang tidak ada sekutu bagi -Nya. Dan aku juga bersaksi bahwasannya Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam adalah hamba dan Rasul -Nya. Amma Ba'du:
Upaya Nabi Membendung Seluruh Pintu-Pintu Kesyirikan:
Didalam pembahasan ini mempunyai beberapa sub judul yang saling terkait, yaitu:
1.         Upaya Nabi membendung seluruh pintu-pintu kesyirikan yang berkaitan dengan Dzat yang diibadahi, nama-nama -Nya, sifat-sifat -Nya, dan seluruh perbuatan -Nya.
2.         Upaya Nabi membendung seluruh pintu-pintu kesyirikan yang berkaitan dengan peribadahan kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dan bermuamalah dengan -Nya.
3.         Upaya Nabi menutup sarana-sarana lisan ataupun perbuatan yang mengakibatkan terjadinya kesyirikan, lebih khusus kepada syirik ashghar, dan keluarnya peringatan dari Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam
4.         Penjelasan atas syubhat bahwa umat ini tidak akan terjerumus dalam kesyirikan serta bantahannya.









 Pembahasan Pertama
Upaya Nabi Membendung Seluruh Pintu-pintu Kesyirikan yang Berkaitan Dengan Dzat yang di ibadahi, Nama-nama -Nya, Sifat-sifat -Nya, dan Seluruh Perbuatan -Nya.

Pembahasan ini membawahi dua sub pembahasan :
Pertama: Upaya untuk menutup seluruh pintu-pintu kesyirikan yang berupa ta’thil.
Sebelumnya, Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam telah menerangkan pada kita tentang hakekat kesyirikan, memperingatkan, melarang darinya, menjelaskan jenis-jenisnya, dan bahayanya bagi manusia, serta akibatnya yang begitu menyakitkan di dunia dan di akhirat. Hal tersebut  beliau lakukan dikarenakan kekhawatiran Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam terhadap umatnya agar tidak terjerumus dalam kesyirikan, sebagaimana telah berlalu penjelasannya pada pasal pertama. Selain itu Nabi juga menjelaskan dan melarang seluruh hal yang dapat mendekatkan kepada syirik. Atau segala hal yang dapat sebagai penutup celah kesyirikan kepada Allah ta’ala. Sebagai bentuk penjagaan terhadap tauhid, dan penutup celah bagi seluruh bentuk-bentuk kesyirikan.
Dari sisi ini, kita melihat bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam begitu keras usahanya menutup seluruh pintu-pintu kesyirikan dalam bentuk ta’thil (pengingkaran). Baik dalam nama-nama Allah Shubhanahu wa ta’alla atau sifat-sifat -Nya, ataukah dalam perbuatan-perbuatan -Nya. Termasuk dalil-dalil yang paling penting dalam hal ini yaitu penjelasan Nabi mengenai tauhid rububiyah, dan pendalilannya terhadap tauhid uluhiyah[1]. Penyebutan ini dimaksudkan agar setiap jiwa siap menjawab panggilan fitrah dan akalnya dalam bab ini.
Sesungguhnya kesyirikan dalam jenis ini, walaupun belum tersebar secara meluas pada zaman Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam, namun, beliau menjelaskannya agar bisa dijadikan sebagai acuan bagi umatnya. Agar mereka tidak terjatuh di dalamnya, atau untuk menghadapi orang-orang yang terkena ujian, dengan terjatuh dalam lembah kesyirikan. Karena akan datang zaman dimana umat ini akan terjatuh dalam kesyirikan, sebagaimana keadaan zaman kita ini. Yang mana banyak tersebar kemurtadan, dan pengingkaran terhadap rububiyah Allah ta’ala, seperti yang terjadi pada pengikut paham komunisme, wujudiyun, sekulerisme yang ingkar, dan orang-orang pengikut paham materialisme yang mengingkari setiap hal yang tidak bisa dilihat. Oleh karena itu, termasuk hal yang sangat urgen adalah memperhatikan jenis tauhid ini.
Maka Pada kesempatan ini saya akan memaparkan beberapa contoh tentang penjagaan nabi terhadap tauhid, dan upaya untuk menutup seluruh pintu-pintu kesyirikan bentuk ta’thil dalam rububiyah.
1.         Disebutkan oleh ayat-ayat al-Qur’an yang menunjukkan akan hal tersebut. Allah ta’ala berfirman;
﴿ أَمۡ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ ٣٥ ]الطور : 35[
“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)”. (QS ath-Thur : 35

Dalam ayat yang lain ;

﴿ أَفِي ٱللَّهِ شَكّ فَاطِرِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ   ]إبراهيم : 10[
"Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi?”. (QS Ibrahim : 10)

2.         Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam menyebutkan adanya perasaan was-was yang menimpa jiwa manusia, dan isyarat tentang tata cara untuk menghentikan penyakit yang sangat akut tersebut. Yaitu dengan tidak memberikan kesempatan bagi perasaan was-was tersebut untuk tumbuh dalam hati. Dan mengarahkan kepada was-was positif yang diperbolehkan bagi umat ini. Diantara tindakan preventif tersebut, misalnya ialah:
Sabda Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «إِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْتِي أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ: مَنْ خَلَقَ السَّمَاءَ. فَيَقُولُ: اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فَيَقُولُ: مَنْ خَلَقَ الْأَرْضَ. فَيَقُولُ: اللَّهُ. فَيَقُولُ: مَنْ خَلَقَ اللَّهَ. فَلْيَقُلْ: آمَنّا بِاللَّهِ وَبِرُسُلِهِ» [أخرجه احمد ]
Sesungghnya setan mendatangi salah seorang dari kalian dan berkata, ”Siapa yang menciptakan langit? Dijawab, ”Allah”. Lantas setan bertanya lagi, ”Siapa yang menciptakan bumi?”. Dijawab, ”Allah”. Setan bertanya lagi, ”Siapa yang menciptakan Allah?”.  Maka katakanlah, ”Kami  beriman kepada Allah dan rasul -Nya”.

Dalam sebuah riwayat disebutkan

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « فإذا وجد ذلك أحدكم فليقل آمنت بالله ورسوله » [أخرجه الطبراني]
Apabila salah seorang dari kalian mendapati hal seperti itu maka katakanlah, ”Saya beriman kepada Allah dan rasul  -Nya”.

Dalam riwayat yang lain       

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « فَإِذَا بَلَغَ ذَلِكَ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ وَلْيَنْتَهِ » [أخرجه البخاري ومسلم ]
”Apabila sampai pada hal tersebut hendaknya (engkau) berlindung kepada Allah dan menghentikannya”.

Disebuah riwayat beliau mengatakan:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « فإذا وجد أحدكم ذلك فليقل آمنت بالله ورسله » [أخرجه أبو يعلى ]
”Barangsiapa yang mendapatkan hal itu hendaknya mengatakan,”Saya beriman kepada Allah”.

Dalam redaksi lain, beliau mengatakan:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « فإذا قالوا ذلك فقولوا { الله أحد الله الصمد لم يلد ولم يولد ولم يكن له كفوا أحد } ثم ليتفل عن يساره ثلاثا وليستعذ  بالله  من الشيطان » [أخرجه الترمذي]
”Jika setan membisiki seperti itu, maka katakanlah “Allahu Ahad, Allahus Shamad, Lam yalid walam yulad, walam yakun lahu kufuwan ahad”. Kemudian meludah kearah kirinya, dan meminta perlindungan (isti’adzah, pent.) kepada Allah dari setan". [2]

Perhatikanlah pembaca yang mulia, bagaimana Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam menutup pintu ta’thil, dan keraguan pada Rabb seluruh manusia. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, beliau berkata, "Seorang lelaki mendatangi Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam sembari berkata, "Wahai Rasulullah! aku mendapati sesuatu dalam dadaku, yang mana menjadi arang lebih aku senangi daripada mengatakannya”.  Maka Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam mengatakan, "Allahu Akbar, segala puji bagi Allah yang telah mengembalikan perasaan was-wasmu ". 
Lihatlah bagaimana tindakan preventif Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam dalam mengobati keraguan yang menimpa dalam perkara rububiyah. Dimana beliau memerintahkan agar mengembalikannya kepada rasa was-was sehingga tidak menetap di dalam hatinya. Dengan hal ini tertutuplah pintu kesyirikan kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla.
Termasuk contoh, bentuk penjagaan Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam terhadap tauhid asma’ wa sifat dan upaya beliau menyumbat seluruh jenis kesyirikan ta’thil ialah penjelasan beliau yang  lengkap dan komprehensif tentang perkara ini. Dikatakan oleh Syaikul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam bukunya al-Hamawiyah al-Kubro, beliau menjelaskan, ”Sesungguhnya Allah ta’ala mengutus Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam dengan petunjuk dan agama yang lurus. Untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya dengan izin Tuhannya, menuju jalan Allah yang Maha perkasa lagi Maha terpuji.
Bersamaan dengan hal ini serta yang lainya sangat mustahil beliau meninggalkan bab yang berkaitan dengan iman kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla, pengetahuan tentang -Nya yang bercampur dan meragukan, dan tidak membedakan apa yang wajib bagi –Nya dari nama-nama yang baik dan  sifat-sifat -Nya yang tinggi, apa yang boleh dikerjakan, dan apa yang tidak diperbolehkan. Karena pengetahuan tentang hal tersebut merupakan pokok agama, dan asas hidayah. Termasuk hal yang mustahil juga ketika Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam sudah mengajari segala sesuatu terhadap umatnya, sampai-sampai dalam urusan kotoran, akan tetapi meninggalkan pengajaran tentang apa yang dikatakan oleh umatnya dengan lisan-lisan mereka, yang diyakini oleh hatinya tentang Rabbnya, dan yang disembahnya yaitu Rabbul ‘alamin. Dimana pengetahuan tentang hal itu adalah puncak pengetahuan. Dan inilah kesimpulan dakwah para Nabi, dan intisari risalah ilahiyah”.[3]
Berikut contoh-contoh mengenai penjelasan ini yang ada dalam al-Qur'an:
Allah ta’ala berfirman;
﴿ وَلِلَّهِ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ فَٱدۡعُوهُ بِهَاۖ وَذَرُواْ ٱلَّذِينَ يُلۡحِدُونَ فِيٓ أَسۡمَٰٓئِهِۦۚ سَيُجۡزَوۡنَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ١٨٠   ]الأعراف : 180[
“Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada -Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama -Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan”. (QS al-A’raf : 180).

Allah ta’ala berfirman;
﴿  قُلِ ٱدۡعُواْ ٱللَّهَ أَوِ ٱدۡعُواْ ٱلرَّحۡمَٰنَۖ أَيّا مَّا تَدۡعُواْ فَلَهُ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰۚ وَلَا تَجۡهَرۡ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتۡ بِهَا وَٱبۡتَغِ بَيۡنَ ذَٰلِكَ سَبِيلا ١١٠  ]الإسراء : 110[
“Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu". (QS al-Isra’ : 110).

Sabda Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam;
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةً إِلَّا وَاحِدًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الجَنَّةَ  » [أخرجه البخاري ]
“Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, seratus kurang satu. Barangsiapa yang menghitungnya maka ia akan masuk surga”.[4]

Dalam sebuah hadits disebutkan;
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «مَا أَصَابَ أَحَدًا قَطُّ هَمٌّ وَلَا حَزَنٌ فَقَالَ: اللَّهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ  ابْنُ عَبْدِكَ  ابْنُ أَمَتِكَ  نَاصِيَتِي بِيَدِكَ, مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ  عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ  أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ  أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ  أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ  أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ  أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي وَنُورَ صَدْرِي وَجِلَاءَ حُزْنِي وَذَهَابَ هَمِّي إِلَّا أَذْهَبَ اللَّهُ هَمَّهُ وَحُزْنَهُ, وَأَبْدَلَهُ مَكَانَهُ فَرَحًا » [ أخرجه احمد ]
“Tidaklah ada sesuatu yang menggelisahkan dan kesedihan yang menimpa seorang muslim, kemudian ia membaca doa, ”Ya Allah sesungguhnya aku adalah hamba -Mu, anak hamba -Mu, dan anak umat -Mu. Keningku berada di tangan -Mu, berlalu hukum -Mu atasku, yang adil dalam penyelesaiannya. Aku memohon kepada -Mu dengan semua nama yang Engkau miliki. Yang Engkau namai diri       -Mu dengannya. Atau Engkau turunkan dalam kitabmu. Atau yang Engkau ajarkan kepada hamba -Mu. Atau yang Engkau simpan dalam ilmu ghaib di sisi -Mu. Engkau jadikan al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, dan cahaya bagi penglihatanku, penerang kesedihanku, dan penghilang kegundahanku”. Kecuali Allah akan menghilangkan kegundahan, dan kesedihannya, serta mengantikannya dengan kebahagiaan”.[5]
Nama-nama Allah Shubhanahu wa ta’alla yang baik dan sifat-sifat      -Nya yang tinggi terdapat dalam kitab dan sunah tanpa ada yang menyerupai dengan yang lain, dan tidak menjurus kepada ta’thil dan kekufuran[6]. Semua ini menjelaskan  tentang tauhid jenis ini, dan upaya menutup seluruh celah menuju kesyirikan.[7]
Kedua: Upaya Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam untuk menutup seluruh pintu syirik, berupa sesembahan-sesembahan dalam rububiyah dan kekhususan Allah Shubhanahu wa ta’alla. Di antara contoh-contohnya adalah sebagai berikut :
1.     Penjelasan Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam tentang kekhususan rububiyah, dan penafian yang beliau sampaikan dan dari seluruh makhuk. Hal itu, baik yang terdapat dalam ayat-ayat al-Qur'an ataupun dalam hadits-haditsnya. Di antaranya :
a.     Firman Allah azza wa jalla:
﴿  قُلۡ إِنِّي لَآ أَمۡلِكُ لَكُمۡ ضَرّا وَلَا رَشَدا ٢١ قُلۡ إِنِّي لَن يُجِيرَنِي مِنَ ٱللَّهِ أَحَد وَلَنۡ أَجِدَ مِن دُونِهِۦ مُلۡتَحَدًا ٢٢ ]الجن : 21-22[
Katakanlah: "Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudharatanpun kepadamu dan tidak (pula) suatu kemanfaatan" Katakanlah: "Sesungguhnya aku sekali-kali tiada seorangpun dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali aku tiada akan memperoleh tempat berlindung selain daripada -Nya" (QS al-Jin : 21-22).

b.     Firman Allah jalla wa ‘ala:
﴿  قُلۡ فَمَن يَمۡلِكُ لَكُم مِّنَ ٱللَّهِ شَيۡ‍ًٔا إِنۡ أَرَادَ بِكُمۡ ضَرًّا أَوۡ أَرَادَ بِكُمۡ نَفۡعَۢاۚ بَلۡ كَانَ ٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرَۢا ١١   ]الفتح : 11[
Katakanlah: "Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia menghendaki kemudharatan bagimu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu. Sebenarnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS al-Fath : 11).

c.     Ayat Allah ta’ala yang berbunyi:

﴿  قُل لَّآ أَقُولُ لَكُمۡ عِندِي خَزَآئِنُ ٱللَّهِ وَلَآ أَعۡلَمُ ٱلۡغَيۡبَ   ]الأنعام : 50[
Katakanlah: Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib”. (QS al-An’am : 50).





d.     Firman Allah ta’ala:
﴿  وَعِندَهُۥ مَفَاتِحُ ٱلۡغَيۡبِ لَا يَعۡلَمُهَآ إِلَّا هُوَۚ   ]الأنعام : 59[
Dan pada sisi Allah -lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri”. (QS al-An’am : 59).

e.     Allah azza wa jalla mengatakan dalam firman -Nya:

﴿  قُل لَّآ أَمۡلِكُ لِنَفۡسِي نَفۡعا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَآءَ ٱللَّهُۚ وَلَوۡ كُنتُ أَعۡلَمُ ٱلۡغَيۡبَ لَٱسۡتَكۡثَرۡتُ مِنَ ٱلۡخَيۡرِ وَمَا مَسَّنِيَ ٱلسُّوٓءُۚ إِنۡ أَنَا۠ إِلَّا نَذِير وَبَشِير لِّقَوۡم يُؤۡمِنُونَ  ١٨٨ ]الأعراف : 188[
Katakanlah: "Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman". (QS al-A’raf : 188).

f.      Firman Allah ta'ala yang mengabadikan ucapan nabi Nuh ‘alaihi salam:
﴿  وَلَآ أَقُولُ لَكُمۡ عِندِي خَزَآئِنُ ٱللَّهِ وَلَآ أَعۡلَمُ ٱلۡغَيۡبَ ]هود : 31[
Dan aku tidak mengatakan kepada kamu (bahwa): "Aku mempunyai gudang-gudang rezeki dan kekayaan dari Allah, dan aku tiada mengetahui yang ghaib". (QS Hud : 31).

g.     Firman Allah ta’ala:
﴿  قُل لَّا يَعۡلَمُ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ٱلۡغَيۡبَ إِلَّا ٱللَّهُۚ ]النمل : 65[
Katakanlah: "Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah". (QS an-Naml : 65).

Demikian pula terdapat hadits-hadits Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam yang menerangkan tindakan preventif guna mencegah perbuatan syirik. Di antaranya :
1.     Sabda Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam yang berbunyi:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ » [أخرجه البخاري ومسلم ]
“Tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya dan tidak ada thiyarah (percaya terhadap mitos, pent)[8].

2.     Sabda Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam ketika keluar menemui sahabatnya yang sedang berselisih mempermasalahkan takdir:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « ألهذا خلقتم  أم بهذا أمرتم! لا تضربوا كتاب الله بعضه ببعض  انظر ما أمرتم به فاتبعوه و ما نهيتم عنه فاجتنبوه  » [أخرجه البخاري ]
Apakah karena permasalahan ini (takdir) kalian diciptakan, apakah dengan ini kalian diperintahkan?! Janganlah kalian mempertentangkan al-Qur’an satu dengan yang lain. Lihatlah apa yang diperintahkan untuk kalian maka ikutilah, dan lihatlah apa yang dilarang bagi kalian kemudian jauhilah”.[9]
3.     Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَفَاتِيحُ الْغَيْبِ خَمْسٌ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا اللَّهُ » [أخرجه البخاري ]
Kunci-kunci perkara gaib ada lima, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah”.[10]

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « قَالَ اللَّهُ عز وجل: الْعَظَمَةُ إِزَارِي والْكِبْرِيَاءُ رِدَائِي فَمَنْ نَازَعَنِي وَاحِدًا مِنْهُمَا أَدْخَلْتُهُ جَهَنَّمَ » [أخرجه مسلم]
”Allah ta’ala berfirman : “Kemuliaan adalah izarku, dan kesombongan adalah selendangku, barangsiapa yang menggunakan salah satunya akan Aku adzab”.[11]

4.     Perkataan Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُونَ » [أخرجه البخاري ومسلم ]
Sesungguhnya orang yang paling dahsyat adzabnya pada hari kiamat adalah orang-orang yang menggambar makhluk bernyawa”.[12]

5.     Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذَهَبَ يَخْلُقُ خَلْقًا كَخَلْقِى فَلْيَخْلُقُوا ذَرَّةً أَوْ لِيَخْلُقُوا حَبَّةً أَوْ لِيَخْلُقُوا شَعِيرَةً » [أخرجه البخاري ومسلم]
Allah azza wa jalla berfirman dalam hadits qudsi, "Siapakah yang lebih dzalim dibandingkan orang yang membuat sesuatu menyerupai ciptaan -Ku (makhluk bernyawa, pent). Hendaknya ia membuat jagung, atau biji, atau gandum".[13]
6.     Sabda Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam ketika mendengar seorang budak wanita mengatakan:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « و فينا نبي يعلم ما في غد. لا تقولي هكذا  و قولي ما كنت تقولين » [أخرجه البخاري ]
Di antara kami ada seorang nabi yang mengetahui apa yang akan terjadi pada hari esok”. Rasulullah menimpali, ”Jangan berkata seperti itu, tapi berkatalah sebagaimana biasanya”.[14]

Ini adalah beberapa contoh yang menunjukan tindakan preventif Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam dalam membendung seluruh pintu-pintu kesyirikan yang berupa membuat sekutu bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam rububiyah. Di sana ada contoh yang lain, seperti larangan dari thiyarah (percaya mitos), ramalan bintang, sihir, memakai jimat dan rukyah yang dilarang, meminta hujan kepada bintang. Seluruhnya merupakan upaya Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam untuk menutup seluruh pintu-pintu kesyirikan yang berupa pernyekutuan terhadap Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam rububiyah. Sudah berlalu penjelasannya dan pendalilannya atas hal itu dari sabda Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam dalam pasal pertama[15]. Maka tidak kami ulas kembali pada pasal ini.



Pembahasan Kedua

Upaya Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam membendung seluruh pintu-pintu kesyirikaan yang berkaitan dengan peribadahan kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dan bermuamalah kepada        -Nya.

Di antara bentuk-bentuk upaya yang beliau lakukan adalah sebagai berikut :
1.     Bahwa Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam telah melarang untuk menyanjung dirinya secara berlebih-lebihan, yang dapat mengakibatkan peribadahan kepada dirinya. Beliau bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لاَ تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ. فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ  فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ  وَرَسُولُهُ » [أخرجه البخاري ]
"Janganlah kalian memujiku secara berlebih-lebihan sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Nasrani terhadap Isa bin Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, maka panggilah, "Hamba Allah dan rasul -Nya".[16]

Berlebih-lebihan dalam pengagungan terhadap Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam menyebabkan hati merasa takut, dan berharap terhadap beliau. Maka hal itu memalingkan suatu hak yang seharusnya menjadi milik Allah ta’ala[17].
2.     Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam melarang untuk membuat bangunan di atas kuburan dan menjadikannya sebagai hari perayaan, begitu juga beliau melarang menjadikannya sebagai masjid. Tatkala Ummu Salamah radhiyallahu 'anha menceritakan bahwa ia melihat gereja di Habasyah yang di dalamnya banyak terdapat gambar-gambar, maka beliau bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أُولَئِكَ قَوْمٌ إِذَا مَاتَ فِيهِمْ الْعَبْدُ الصَّالِحُ أَوْ الرَّجُلُ الصَّالِحُ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ الصُّوَرَ أُولَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ » [أخرجه البخاري ومسلم ]
"Mereka adalah suatu kaum yang apabila ada orang shaleh yang meninggal, segera membangun masjid di atas kuburannya dan menggambar gambarnya. Merekalah makhluk yang paling jelek di sisi Allah".[18]

Sebelum meninggal, tepatnya lima hari sebelumnya Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنِّي أَبْرَأُ إِلَى اللهِ أَنْ يَكُونَ لِي مِنْكُمْ خَلِيلٌ  فَإِنَّ اللهِ تَعَالَى قَدِ اتَّخَذَنِي خَلِيلًا  كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا  وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنْ أُمَّتِي خَلِيلًا لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيلًا  أَلَا وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيهِمْ مَسَاجِدَ  أَلَا فَلَا تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ  إِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ » [أخرجه مسلم]
Sesungguhnya aku memohon kepada Allah agar menjadikan bagiku seorang kekasih di antara kalian. Allah telah menjadikanku kekasih      -Nya sebagaimana Dia menjadikan Ibrahim sebagai kekasih. Andai saja aku boleh mengambil seorang kekasih dari umatku, tentu akan aku jadikan Abu Bakar sebagai kekasih. Ketahuilah, orang-orang sebelum kalian menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid. Maka janganlah kalian menjadikan kuburan sebagai masjid. Aku melarang hal tersebut".[19]

Dalam sebuah riwayat Beliau melarang kita semua dengan sabdanya:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قُبُورًا وَلَا تَجْعَلُوا قَبْرِي عِيدًا  وَصَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ تَبْلُغُنِي حَيْثُ كُنْتُم » [أخرجه أحمد]
“Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan, dan jangan kalian jadikan kuburanku sebagai id. Bershalawatlah kalian kepadaku! Sesungguhnya shalawat kalian sampai kepadaku dimanapun kalian berada”.[20]
Dalam hadits lain Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam melarang untuk mengapur kuburan, sebagaimana diberitakan oleh Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu, "Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam melarang untuk mengapur kubur, duduk diatasnya, serta membikin bangunan di atasnya.”[21] Begitu juga beliau melarang shalat di samping kubur. Baik kuburan tersebut di dalam masjid ataupun diluarnya. Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam,
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لاَ تَجْلِسُوا عَلَى الْقُبُورِ وَلاَ تُصَلُّوا إِلَيْهَا » [ أخرجه البخاري ومسلم ]
"Janganlah kalian duduk di atas kuburan dan jangan shalat menghadap kepada kuburan". [22]

Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam melarang dari hal-hal tersebut secara keseluruhan yang menyebabkan pengagungan terhadap kuburan. Agar tidak menyebabkan peribadahan kepada kuburan itu, dan meminta kebutuhan-kebutuhan kepada orang-orang mati. Hal itu menunjukkan bahwa inilah yang dimaksudkan dengan apa yang ditunjukkan oleh perbuatan umat-umat terdahulu. Dan juga, hal ini adalah pokok permulaan terjadinya syirik dalam kehidupan manusia sebagaimana telah lewat penjelasannya [23].
Imam Ibnu Qudamah[24] memberikan alasan terhadap larangan Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam agar tidak menjadikan kuburan sebagai masjid atau mushalla. Beliau menjelaskan, "Karena mengkhususkan kuburan untuk shalat di sana, telah menyerupai pengagungan terhadap berhala dengan bersujud dan mendekatkan diri kepadanya. Telah diriwayatkan kepada kami bahwa awal mula peribadahan terhadap berhala adalah pengagungan terhadap mayit. Dengan cara menjadikannya dalam bentuk gambar-gambar, dan shalat di sisi kuburannya". [25]
3.     Larangan untuk memenuhi nadzar dengan menyembelih kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla di tempat yang biasa digunakan untuk menyembelih kepada selain -Nya. Atau tempat perayaan-perayaan jahiliyah.

Dari Tsabit bin Dhahak[26], ia berkata,
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « نَذَرَ رَجُلٌ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ يَنْحَرَ إِبِلا بِبُوَانَةَ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: هَلْ كَانَ فِيهَا وَثَنٌ مِنْ أَوْثَانِ الْجَاهِلِيَّةِ يَعْبُدُ ؟ ، قَالُوا : لاَ قَالَ : فَهَلْ كَانَ فِيهَا عِيدٌ مِنْ أَعْيَادِهِمْ ؟ ، قَالُوا : لاَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم : أَوْفِ بِنَذْرِكَ ، فَإِنَّهُ لاَ وَفَاءَ لِنَذْرٍ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ وَلا فِيمَا لاَ يَمْلِكُ ابْنُ آدَمَ » [أخرجه البخاري ]
"Ada seoang lelaki yang bernadzar untuk menyembelih onta di Buwanah[27]. Lalu lelaki itu bertanya kepada nabi. Beliau menjawab, ”Apakah di sana terdapat berhala-berhala jahiliyah yang disembah? Mereka menjawab, "Tidak". Rasulullah melanjutkan pertanyaannya, "Apakah tempat itu digunakan sebagai ied (perayaan) dari perayaan mereka? Mereka menjawab, "Tidak". Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: "Laksanakan nadzarmu, karena tidak boleh melaksanakan nadzar dalam rangka kemaksiatan kepada Allah dan hal yang tidak sanggup dilakukan oleh anak Adam". [28]

Sabdanya Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam diakhir hadits ini,  "Karena tidak boleh melaksanakan nadzar dalam rangka kemaksiatan keapada Allah". Memberikan sebuah pelajaran bahwa pelaksanaan nadzar di tempat yang terdapat perkara jahiliyah merupakan bentuk kemaksiatan kepada Allah azza wa jalla. Maka dalam hal ini terkandung isyarat adanya upaya beliau untuk menutup celah terjadinya perbuatan syirik, dan menjauhkan kaum muslimin agar tidak bertasyabuh (menyerupai) dengan orang-orang musyrik dalam mengagungkan berhala-berhala mereka[29].
4.     Larangan shalat ketika matahari terbit dan ketika matahari tenggelam. Sebagai tindakan preventif bagi ibadah sholat dan orang yang mengerjakan shalat di kalangan muslimin dari menyerupai orang-orang kafir. Tatkala mereka sujud terhadap matahari, dan ibadah yang mereka kerjakan pada matahari, dan setan.
Di antara contohnya adalah sabda Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam yang berkaitan dengan masalah ini:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « صَلِّ صَلَاةَ الصُّبْحِ, ثُمَّ أَقْصِرْ عَنِ الصَّلَاةِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ حَتَّى تَرْتَفِعَ فَإِنَّهَا تَطْلُعُ حِينَ تَطْلُعُ بَيْنَ قَرْنَيْ شَيْطَانٍ, وَحِينَئِذٍ يَسْجُدُ لَهَا الْكُفَّارُ..... حَتَّى تُصَلِّيَ الْعَصْرَ ثُمَّ أَقْصِرْ عَنِ الصَّلَاةِ حَتَّى تَغْرُبَ الشَّمْسُ فَإِنَّهَا تَغْرُبُ بَيْنَ قَرْنَيْ شَيْطَانٍ وَحِينَئِذٍ يَسْجُدُ لَهَا الْكُفَّار  » [أخرجه البخاري ]
"Shalatlah subuh, kemudian tahanlah untuk tidak melakukan shalat ketika matahari terbit hingga meninggi, karena matahari terbit di antara dua tanduk setan. Ketika itu kaum kafir bersujud kepada matahari (hingga sabda beliau) Sampai engkau shalat Ashar, kemudian tahanlah untuk tidak melakukan shalat hingga matahari tenggelam. Karena matahari terbenam di antara dua tanduk setan. Dan ketika itu kaum kafir biasa sujud kepadanya".[30]

5.     Larangan agar tidak shalat menghadap pada sesuatu yang di ibadahi selain Allah Shubhanahu wa ta’alla. Dan dianjurkan bagi orang yang shalat menghadap ke tiang atau batang kayu, atau pohon, agar menjadikannya di sebelah sampingnya. Dan tidak menuju langsung ke arahnya. Sebagai upaya agar tidak bertasyabuh dengan cara sujud kepada selain Allah ta’ala[31].
6.     Perintah untuk menghancurkan kubah dan masjid yang dibangun di atas kuburan serta perintah untuk meratakannya. Di antaranya adalah apa yang dikatakan oleh Abul Hayaj al-Asadiy[32], ia berkata, "Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu pernah berpesan kepadaku, "Maukah engkau aku utus dengan perintah yang dititahkan kepadaku oleh Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam. Yaitu janganlah engkau tinggalkan berhala kecuali engkau hancurkan, dan kuburan yang tinggi kecuali engkau ratakan".[33]
7.     Peringatan keras terhadap praktek ziarah kubur dengan maksud untuk shalat di masjid yang dibangun di atas kuburan, atau berdoa di sisi kubur, dengan sangkaan bahwa hal ini membuat doa lebih cepat untuk dikabulkan, atau dengan maksud mencari berkah, atau menjadikannya sebagai hari perayaan, atau pergi berhaji ke kuburan dengan secara sengaja sambil menyiapkan bekal perjalanan menuju kuburan tersebut. Termasuk juga berziarah dengan maksud untuk beribadah kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla di sisi kuburan, dengan melakukan segala bentuk ibadah seperti menyembelih, bernadzar, iktikaf, membaca al-Qur’an, atau yang lainnya. Sebab semua itu termasuk kategori sebab terbesar terjadinya penyembahan dan peribadatan padanya [34]. Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda;
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ: المَسْجِدِ الحَرَامِ, وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, وَمَسْجِدِ الأَقْصَى » [أخرجه البخاري ]
"Tidak diperbolehkan secara sengaja melakukan ziarah kecuali ke tiga masjid, Masjidil haram, Masjid Rasulullah (Nabawi), dan Masjidil Aqsha".[35]

Masuk dalam larangan ini adalah ziarah kubur dan tempat-tempat bersejarah. Lafadz di atas bisa masuk dalam larangan atau penafian. Ada riwayat lain[36] yang menerangkan dengan lafadz larangan. Sehingga redaksi tersebut menjadi jelas menunjukkan pada larangan. Oleh karena itu para sahabat memahaminya sebagai larangan. Sebagaimana tertera dalam al-Muwatha’, al-Musnad, dan as-Sunan dari Bashrah bin Abi Bashrah al-Ghifari[37], bahwasanya ia berkata kepada Abu Hurairah dimana ia baru pergi dari bukit Thur, "Seandainya aku menemuimu sebelum engkau pergi ke bukit itu niscaya engkau tidak akan pergi. Aku mendengar Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ: المَسْجِدِ الحَرَامِ وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَسْجِدِ الأَقْصَى » [أخرجه البخاري ]
"Janganlah engkau sengaja menyiapkan tunggangan untuk pergi kecuali ke tiga masjid, Masjidil haram, Masjidku ini dan Masjidil Aqsha"













Pembahasan Ketiga
Tindakan preventif yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam untuk menutup sarana perbuatan syirik yang muncul baik dari lisan ataupun perbuatan -lebih khusus syirik kecil-

Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam telah melarang segala sesuatu yang menyebabkan seorang hamba mempunyai persangkaan yang buruk terhadap Rabbul ‘alamin, dan pengagungan yang tidak semestinya kepada -Nya. Sebagaimana beliau juga melarang dari ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan yang ada di dalamnya unsur penyamaan antara Allah Shubhanahu wa ta’alla dan makhluk -Nya. Walaupun orang yang melakukannya tadi tidak bermaksud untuk menyamakannya. Dan berikut akan saya sebutkan pembahasannya dalam beberapa sub pembahasan.

Sub pembahasan awal: Peringatan Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam terhadap umatnya agar tidak terjatuh dalam syirik kecil yang berkaitan dengan lisan. Diantara contoh yang berkaitan dengan masalah ini ialah:
1.     Bersumpah dengan selain nama Allah tabaraka wa ta'ala .[38] Banyak sekali larangan yang datang dari Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam berkaitan dengan sumpah yang diucapkan dengan menyebut nama selain nama Allah Shubhanahu wa ta’alla, yang tertera dalam sabda-sabdanya. Misalnya
a.     Sabda Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam;

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أَلاَ إِنَّ اللَّهَ يَنْهَاكُمْ أَنْ تَحْلِفُوا بِآبَائِكُمْ فَمَنْ كَانَ حَالِفًا فَلْيَحْلِفْ بِاللَّهِ وَإِلَّا فَلْيَصْمُت » [أخرجه البخاري ومسلم]
"Ketahuilah! Sesungguhnya Allah melarang kalian untuk bersumpah atas nama bapak-bapak kalian. Barangsiapa yang ingin bersumpah, hendaknya ia bersumpah dengan nama Allah atau sebaiknya diam". [39]

b.     Rasulallah Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ اللَّهَ يَنْهَاكُمْ أَنْ تَحْلِفُوا بِآبَائِكُمْ » [ أخرجه البخاري ]
Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla melarang kalian untuk bersumpah dengan nama bapak-bapak kalian". [40]

c.     Beliau juga pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ كَانَ حَالِفًا فَلَا يَحْلِفْ إِلَّا بِاللَّهِ » [ أخرجه البخاري ومسلم ]
 "Barangsiapa yang ingin bersumpah, janganlah ia bersumpah kecuali dengan nama Allah".[41]

d.     Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda;

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لَا تَحْلِفْ بِأَبِيكَ  فَإِنَّهُ مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ كفر أو أَشْرَكَ » [أخرجه أحمد]
"Janganlah kalian bersumpah dengan nama bapak kalian. Karena sesungguhnya orang yang bersumpah dengan selain nama Allah telah berbuat kufur atau syirik". [42]

e.     Dalam hadits yang lain Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam menegaskan,

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لَا تَحْلِفُوا بِالطَّوَاغِيتِ ولا بِآبَائِكُمْ » [أخرجه مسلم ]
"Janganlah kalian bersumpah dengan nama-nama thaghut dan nama bapak-bapak kalian". [43]

f.      Dalam redaksi yang lain Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam mengatakan,

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لاَ تحلفوا بآبائكم ولا بأمهاتكم ولا بالأنداد  » [أخرجه أبو داود والنسائي]
"Janganlah kalian bersumpah dengan nama bapak-bapak kalian, atau ibu-ibu kalian, dan sesembahan-sesembahan selain Allah".[44]

g.     Dalam kesempatan yang lain Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam juga memperingatkan dengan sabdanya:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ حَلَفَ بِالْأَمَانَةِ فَلَيْسَ مِنَّا » [ أخرجه البخاري ]
"Barangsiapa bersumpah dengan amanah, maka bukan termasuk golongan  kami". [45]

h.     Beliau juga pernah bersabda;

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ حَلَفَ مِنْكُمْ فَقَالَ فِي حَلِفِهِ: بِاللَّاتِ وَالعُزَّى, فَلْيَقُلْ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّه » [أخرجه البخاري]
"Barangsiapa yang bersumpah dan berkata dalam sumpahnya, "Demi Latta dan Uzza".  Maka hendaklah ia berkata, "Laa ilaha illallah". [46]
Kemudian ada seorang Yahudi yang datang kepada Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam sembari berkata, "Sesungguhnya kalian berbuat syirik….kalian berkata, "Demi Ka’bah". Maka Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam memerintahkan mereka apabila ingin bersumpah untuk berkata, "Demi Rabb Ka’bah". [47]
Inti dari penjelasan riwayat-riwayat diatas ialah penjelasan tindakan preventif yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam agar umatnya tidak terjerumus dalam lembah syirik.

2.     Mempersekutukan Allah Shubhanahu wa ta’alla dengan seseorang walaupun hanya sekadar ucapan.
Banyak larangan yang ada mengenai cara penyekutuan Allah Shubhanahu wa ta’alla dengan cara seperti ini, yaitu yang ada dalam ucapan, walaupun tidak dimaksudkan untuk menyekutukan Allah ta'ala [48]. Misalnya :
a.     Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لَا تَقُولُوا مَا شَاءَ اللَّهُ وَشَاءَ فُلَانٌ وَلَكِنْ قُولُوا مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ شَاءَ فُلَانٌ » [أخرجه أبو داود]
"Janganlah kalian mengucapkan, "Ini karena kehendak Allah dan kehendak fulan". Akan tetapi ucapkanlah, "Ini karena kehendak Allah kemudian karena kehendak fulan".[49]

b.     Pernah suatu ketika ada seorang Yahudi mendatangi Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam lalu mengatakan, "Sesungguhnya kalian berbuat syirik dengan berkata Ini karena kehendak Allah Shubhanahu wa ta’alla dan kehendakmu". Maka Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam memerintahkan umatnya untuk berkata, "Ini karena kehendak Allah Shubhanahu wa ta’alla kemudian karena kehendakmu". [50]
c.     Sabda Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam;

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إنكم قلتم كلمة كان يمنعني كذا و كذا أن أنهاكم عنها قال رسول فلا تقولوا : ما شاء الله و شاء محمد و لكن قولوا : ما شاء الله وحده» [أخرجه أحمد]
"Sesungguhnya kalian mengatakan sebuah kalimat yang dahulu aku terhalang karena suatu hal untuk melarangnya. Maka janganlah kalian mengatakan, "Ini karena kehendak Allah dan kehendak Muhammad, akan tetapi katakan, "Ini karena kehendak Allah saja".[51]

d.     Sabda Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam kepada orang yang berkata kepadanya,
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « ما شاء الله وشئت. قال: أجعلتني لله ندا بل ما شاء الله وحده » [ أخرجه أحمد ]
"Ini karena kehendak Allah dan kehendakmu".  Nabi menukas, "Apakah engaku menjadikan aku sekutu bagi Allah? Katakan Ini karena kehendak Allah semata". [52]

Dalam redaksi lain disebutkan;
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أجعلتني لله عدلا بل ما شاء الله وحده » [ أخرجه البخاري ]
"Apakah engkau ingin menjadikan aku sepadan dengan Allah, akan tetapi katakan, "Ini karena kehendak Allah semata". [53]

Maksud dari pemaparan riwayat-riwayat diatas ialah penjelasan mengenai peringatan keras yang dilakkukan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam agar umatnya tidak terjerumus dalam berbagai jenis syirik asghar (kecil).
3.     Adanya peringatan keras untuk tidak mengerjakan syirik kecil yang terkandung  didalamnya bentuk penentangan terhadap kekhususan yang dimiliki oleh Allah azza wa jalla secara jelas, walaupun tidak dimaksudkan seperti itu. Di antara contohnya adalah:
Sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إن أخنع الأسماء عند الله رجل يسمى بشاهان شاه - أي ملك الملوك- لا ملك إلا الله  » [رواه مسلم]
"Sesungguhnya sejelek-jelek nama di sisi Allah adalah seseorang yang bernama  "Syahan Syah" yang berarti raja diraja, tidak ada raja selain Allah". (HR. Muslim)

Dalam sebuah lafadz dikatakan, "Orang yang paling membuat Allah Shubhanahu wa ta’alla marah adalah seseorang yang bergelar raja diraja". [54]
Dalam sebuah hadits Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda;

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لاَ يَقُلْ أَحَدُكُمْ: أَطْعِمْ رَبَّكَ وَضِّئْ رَبَّكَ  اسْقِ رَبَّك  وَلْيَقُلْ: سَيِّدِي مَوْلاَيَ  وَلاَ يَقُلْ أَحَدُكُمْ : عَبْدِي أَمَتِي  وَلْيَقُلْ: فَتَايَ وَفَتَاتِي وَغُلاَمِي » [ أخرجه البخاري ومسلم ]
"Janganlah salah seorang dari kalian mengatakan, "Beri makan rabbmu (tuanmu, pen), wudhuilah rabbmu (tuanmu, pen). Katakanlah, "Sayyidku dan Maulaku". Dan jangan katakana, "Hamba laki-lakiku, hamba perempuanku". Hendaklah mengatakan, "laki-lakiku, perempuanku, dan anak kecilku".[55]

4.     Peringatan dari menyandarkan beberapa kejadian-kejadian kepada selain Allah Shubhanahu wa ta’alla, karena menyerupai penentangan terhadap takdir.Di antara bentuk-bentuknya adalah:
Rasulallah Shallallahu ’alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ  خَيْرٌ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ. وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ  وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ  فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا  وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ  فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ »
[ أخرجه مسلم ]
“Mukmin yang kuat lelbih baik daripada mukmin yang lemah, kedua-duanya memiliki kebaikan. Dan bersemangatlah terhadap hal yang bermanfaat bagimu, minta tolonglah kepada Allah dan jangan lemah. Apabila kau ditimpa sesuatu jangan kau katakan,”Seandainya aku tadi berbuat begini dan begini”. Akan tetapi katakanlah Ini adalah takdir Allah dan Dia berbuat sesuai yang dikehendaki -Nya. Karena kata “seandainya” bisa membuka pintu masuk bagi perbuatan setan".[56]

Begitu juga sabda Nabi Muhammad Shallallahu’alaihiwasallam;
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أَرْبَعٌ فِي أُمَّتِي مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ  لَا يَتْرُكُونَهُنَّ: -و ذكر منهن- الْاسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُوم »
[ أخرجه البخاري ]
"Ada empat hal dari perkara jahiliyah yang ada pada umatku, beliau menyebutkan di antaranya : Meminta hujan kepada bintang-bintang".[57]

Dalam riwayat lain disebutkan, "Ada tiga hal yang aku takutkan untuk umatku,yaitu, Meminta hujan kepada bintang-bintang...". [58]
Sub Pembahasan Kedua: Peringatan Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam terhadap umatnya agar tidak terjerumus dalam syirik asghar yang berkaitan dengan perbuatan. Dan bentuknya sangat beraneka ragam, di antaranya yaitu mempercayai mitos (tathayur), membenarkan dukun, peramal, dan memakai gelang atau tali (untuk tolak bala, pen), dan lain-lain[59]. Maka datang peringatan dari Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam agar tidak terjatuh dalam hal-hal tersebut.
1.     Dimana beliau bersabda, "Mempercayai mitos adalah syirik.". Nabi mengatakannya tiga kali. Lalu Rawi berkata, "Tidak ada seorangpun yang selamat darinya. Akan tetapi Allah Shubhanahu wa ta’alla melenyapkannya dengan tawakkal". [60]
2.     Sabda Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam;
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَطَيَّرَ وَلَا تُطُيِّرَ لَهُ وَلَا تَكَهَّنَ وَلَا تُكُهِّنَ لَهُ أَوْ سَحَرَ أَوْ سُحِرَ لَه » [أخرجه البخاري ]
"Bukan termasuk golongan kami barangsiapa yang mempercayai mitos (tathayur, pen), meminta tathayur, meramal atau minta diramal, menyihir atau minta disihirkan".[61] 

3.     Dalam redaksi lain Rasulallah Shallallahu ’alaihi wa sallam juga bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ » [ أخرجه ابن عبد البر ]
"Sesungguhnya ruqyah, tamimah (jimat), dan tiwalah adalah syirik".[62]

4.     Dalam hadits lain Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أخاف على أمتي ثلاثا: حيف الأئمة  وإيمانا بالنجوم وتكذيبا بالقدر» [ أخرجه البخاري ]
"Ada tiga hal yang paling aku takutkan atas umatku, yaitu, Kelaliman para pemimpin, mempercayai bintang, dan mendustakan takdir". [63]

5.     Beliau juga bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إن مما أخاف على أمتي: التصديق بالنجوم وتكذيبا بالقدر وحيف الأئمة » [أخرجه عبد بن حميد وهو مرسل ]
"Sesungguhnya yang aku takutkan atas umatku, yaitu, mempercayai bintang, mendustakan takdir, dan kelaliman paraa pemimpin". [64]

6.     Dalam kesempatan lain Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ. وفي رواية: وَلاَ نَوْءَ وَلاَ غُولَ »[ أخرجه البخاري ومسلم ]
"Tidak ada penyakit menular (dengan sendirinya, pen), tidak ada thiyarah, tidak ada merasa sial dengan burung (hammah), dan merasa sial dengan bulan Safar". Dalam riwayat lain, "Tidak ada hantu, dan tidak ada Ghaul (jin, pent)". [65]
7.     Demikian pula Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam juga pernah bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ سحر فَقَدْ أَشْرَكَ » [ أخرجه أحمد ]
"Barangsiapa yang berbuat sihir maka ia telah berbuat syirik". [66]
Dan masih banyak lagi hadits-hadits lainnya. Bab ini sangatlah luas, dan telah berlalu penjelasan mengenai beberapa hadits yang berkaitan dengan masalah ini.[67]
Sub Pembahasan Ketiga: Peringatan Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam terhadap umatnya agar tidak terjerumus dalam syirik asghar yang berkaitan dengan amalan hati. Di antara bentuk- bentuknya yaitu:
Pertama: Riya[68]. Di mana Nabi Muhammad Shallallahu ’alahi wa sallam merasa takut umatnya terjangkiti virus riya ini yang mencokol didalam hati. Beliau bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكِ الأَصْغَر. فسئل عنه فقال: الرِيَا » [ أخرجه البخاري ]
"Sesungguh sesuatu yang paling aku takutkan menimpa umatku adalah syirik kecil. Kemudian beliau ditanya lalu beliau menjawab, "Yaitu Riya". [69]

Dalam redaksi lain Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam juga bersabda, "Sesungguhnya kecilnya riya’ itu syirik".[70]
Begitu juga Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam pernah menjelaskan dalam sabdanya:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ» [أخرجه مسلم ]
"Allah tabaraka wa ta'ala berfirman dalam hadits qudsi; "Aku tidak membutuhkan sekutu-sekutu yang dijadikan untuk menandingi -Ku. Barangsiapa yang melakukan suatu amalan kemudian ia menyekutukanku pada amalan itu, maka Aku tinggalkan ia dan sekutunya". [71]

Dan hadits-hadits yang berkaitan dengan masalah ini sangatlah banyak.

Kedua: Masuk dalam jenis ini pula ialah seseorang yang beramal shaleh untuk menginginkan dunia.
Dan telah diperingatan dari Nabi Muhammad Shalalallahu 'alaihi wa sallam terhadap jenis syirik kecil yang berkaitan dengan hati. Hadits yang masyhur dalam membahas permasalahan ini adalah sebagai berikut:
1.     Sabda Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وتعس َعَبْدُ الدِّرْهَمِ وَتعس عَبْدُ الخَمِيصَةِ و تعس عبد الخميلة..» [ أخرجه البخاري ]
"Celaka hamba dinar, celaka hamba dirham, celaka hamba khamishah, celaka hamba khamilah[72]". [73]

2.     Dalam hadits lain Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَة  » [أخرجه البخاري ]
"Barangsiapa mempelajari suatu ilmu yang seharusnya dipelajari untuk mencari wajah Allah. Namun ia tidak mempelajarinya kecuali hanya untuk mendapat bagian dari dunia, maka ia tidak akan mencium baunya surga pada hari kiamat".[74]

Dan hadits-hadits yang berkaitan dengan pembahasan ini sangatlah banyak sekali.
Maksud dari pembahasan ini ialah menjelaskan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam begitu mengkhawatirkan umatnya akan terjatuh ke dalam syirik akbar (besar) dengan seluruh bentuk-bentuknya. Begitu juga beliau mengkhawatirkan umatnya terjatuh ke dalam syirik asghar (kecil) dengan seluruh jenisnya. Berangkat dari hal inilah beliau memperingatkan umatnya agar tidak terjatuh dalam syirik asghar. Kemudian beliau menyebutkan contoh-contoh dari jenis-jenis kesyirikan tersebut. Supaya umatnya tidak terjatuh kedalam kesyirikan sebagaimana umat-umat terdahulu. Seperti seorang ayah yang menyayangi umatnya, dan berbelas kasih saat umatnya tertimpa kesusahan.
Disamping peringatan yang keras dari Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam agar umatnya tidak terjatuh dalam berbagai jenis kesyirikan, selanjutnya datang kabar gembira tentang adanya suatu kelompok dari kalangan umatnya yang tetap berada di atas kebenaran. Jauh dari kesyirikan dengan segala bentuk dan jenisnya. Mereka adalah ath-Thaifah al-Manshurah wan Najiyah (Kelompok yang ditolong dan golongan yang selamat dari api nerakan, pent). Dimana Beliau mengisyaratkan dalam sabdanya:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لاَ يَزَالُ نَاسٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ ظَاهِرُونَ » [ أخرجه البخاري ]
"Akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang tegak di atas kebenaran sampai datang perintah Allah. Dan mereka tetap tegak".[75]

Dalam redaksi lain Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam juga bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لاَ يَزَالُ طائفةٌ مِنْ أُمَّتِي مَنْصُورين لَا يَضرهم مَن خَذَلّهم حَتى تَقُومُ السَاعَةُ » [ أخرجه الترمذي ]
"Akan senantiasa ada segolongan umatku yang ditolong oleh Allah, sehingga tidak membahayakan mereka orang-orang yang menghinakannya hingga datang hari kiamat". [76]

Para ulama mengatakan mereka adalah orang-orang yang berpegang teguh dengan hadits dan atsar[77]. Mereka tidak menyekutukan Allah Shubhanahu wa ta’alla dengan adanya berita gembira ini.





[1]. Lihat pembahasan yang lalu pada hlm. 500-508 (kitab asli, pent.)
[2] . Telah berlalu takhrijnya pada hlm. 594 (kitab asli,pent.).
[3]. Ibnu Taimiyah dalam al-Fatawa al-Hamawiyah al-Kubro : 11-12. Lihat juga yang dinukil oleh Ibnu Abdil Hadi dalam al-‘Uqud ad-Durriyah hlm. 69-71.
[4]. HR Bukhari dalam Shahih. Kitabut Tauhid, Bab : Inna lillahi miatasmin illa wahidah : 13/377, nomor : 7392. Lihat juga pada : 11/214, dan 5/354.
[5] . HR Ahmad dalam Musnad : 1/391. Ibnu Hibban : 3372. Al-Hakim dalam Mustadrak : 1/509. Ibnu Sunniy dalam ‘Amalul Yaumi wal Lailah : 342. Dan selainnya. Hadits ini shahih.
[6] . Lihat nama-nama yang baik bagi Allah dan sifat-sifat yang tinggi dalam kitab : Shifatullahi ‘azza wa jalla al-Waridah fil Kitab was Sunnah. Karangan ‘Alawiy bin Abdulqadir as-Saqaf.
[7]. Perhatikan risalah karya Syaikh Dr. Muhammad bin Abdullah Zarban al-Ghamidiy yang berjudul (Himayatun Nabi Himat Tauhid).
[8] . HR Bukhari dalam shahihnya nomor : 5757. Muslim dalam shahihnya : 2220.  
[9] . Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah nomor : 10406/177. Dihasankan oleh Syaikh al-Albaniy dalam Zhilalul Jannah.
[10] . HR Bukhari.
[11] . HR Muslim nomor : 2620, Kitabul Birr was Shilah, Bab : Tahrimul Kibr 4/2023. Abu Dawud nomor : 4090. Ibnu Majah nomor : 4170. Ahmad dalam Musnad 2/414. Lafadz milik Imam Muslim.
[12] . HR Bukhari dalam shahihnya : Kitabul Libas, Bab : ‘Adzabul Mushawirin yaumal Qiyamah : 10/382, 383. Nomor: 5950, 5951. Muslim nomor : 2107, Kitabul Libas waz Zinah, Bab : Tahrimu Tashwiri Shurotil Hayawan.
[13] . HR Bukhari dalam shahihnya 10/324, Kitabul Libas, Bab Naqdhis Shuwar. Dan Muslim nomor : 2111, Kitabul Libas waz Zinah, Bab Tahrimu Shurotil Hayawan. Imam Ahmad dalam Musnad 2/323. Lafadz milik Imam Muslim.
[13]. HR Bukhari dalam shahihnya nomor : 4001, Kitabul Maghaziy, Bab….7/315, nomor : 5137. Kitabun Nikah, Bab : Dharbud Duffi fin Nikah wal Walimah : 9/202.
[14] . HR Bukhari dalam shahihnya nomor : 4001, Kitabul Maghaziy, Bab….7/315, nomor : 5137. Kitabun Nikah, Bab : Dharbud Duffi fin Nikah wal Walimah : 9/202.
[15]. Lihat pembahasan sebelumnya pada hlm. 593-598.
[16]. HR Bukhari dalam shahihnya nomor : 3445, 6/478. Kitabu Ahaditsil Anbiya’, Bab Wadzkur fil kitabi Maryam Idzintabadzat min Ahliha.
[17]. Lihat ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Iqtidha’ Shiratil Mustaqim : 2/675. Dan Majalah Buhuts al-Islamiyah nomor : 20, hlm. 200.
[18]. HR Bukhari dalam shahihnya : Kitabush Shalat, Bab ash-Shalat fil Bi’ah, nomor : 434. Muslim nomor : 528, Kitabul Masajid, Bab an-Nahyi ‘an Bina’il Masajid ‘alal Qubur : 1/375.
[19] . HR Muslim dalam shahihnya, nomor : 532, Kitabul Masajid, Bab an-Nahyi ‘an Bina’il Masajid ‘alal Qubur : 1/377.
[20] . HR Ahmad dalam Musnad : 2/368. Abu Dawud dalam sunannya : 2/534. Syaikhul Islam menilai isnadnya hasan dalam kitab Iqtidha’ Shiratil Mustaqim: 2/654. Sebagaimana dinilai shahih oleh an-Nawawiy dalam al-Adzkar ketika berbicara tentang hadits nomor 346.
[21]. HR Muslim dalam shahihnya, nomor : 970. Kitabul Jana’iz, Bab an-Nahyi ‘an Takhsisil Qobri wal Bina’I ‘alaihi : 2/667.
[22]. Idem, nomor : 972. Kitabul Jana’iz, Bab an-Nahyi ‘anil Julus ‘alal Qobri : 2/668.
[23] . Lihat pembahasan yang telah lalu pada hlm. 136 (kitab asli, pent.). Dan Iqtidha’ Shiratil Mustaqim : 2/673, dan 2/768.
[24] Beliau adalah Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Qudamah al-Maqdisiy al-Hanbaliy –Seorang imam ahli fiqih-. Dilahirkan tahun 541 H. Karya tulis beliau : al-Mughniy, Itsbatu Shifatil ‘Uluw, Dzamut Ta’wil, dan Lum’atul I’tiqad. Wafat pada tahun 620 H. Lihat biografi beliau yang disebutkan oleh adz-Dzahabiy dalam as-Siyar : 22/164. Dan Ibnu Rajab dalam Dzail Thabaqatil Hanabilah : 2/133.
[25] Ibnu Qudamah, al-Mughniy : 2/193               
[26] Dia adalah Tsabit bin Dhahak bin Khalifah al-Asyhaliy, Abu Zaid al-Bashriy. Salah seorang sahabat yang berbaiat di bawah pohon. Wafat tahun 64 H. Lihat yang disebutkan oleh al-Khazrajiy dalam al-Khulashah hlm. 56
[27] Buwanah, dengan tanda dhammah di atas huruf mim, dan takhfif wawu. Dataran tinggi di belakang Yanbu’. Dekat dari pantai dan dekat denganya air yang dinamakan al-Qashibah, dan air yang lain dinamakan al-Majaz. Perhatikan yang disebutkan oleh Yaqut al-Hamawiy dalam Mu’jamul Buldan : 1/599. Materi (بوانة)
[28] HR Abu Dawud dalam sunan, nomor : 3312. Al-Baihaqiy dalam as-Sunan al-Kubro : 8/83. Dishahihkan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Talkhish al-Habir : 4/180
[29].   yang disebutkan oleh Ibnu Taimiyah dalam Iqtidha’ Shiratil Mustaqim ; 1/440-442. Dan Sulaiman bin Abdullah dalam Taisir ‘Azizil Hamid hlm. 201.
[30] . HR Muslim dalam shahihnya, nomor : 832, Kitabush Shalat wal Musafirin, Bab Islamu ‘Amr bin ‘Abasah 1/569. Perhatikan pendalilan yang dilakukan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Iqtidha’ Shiratil Mustaqim : 2/684. Ibnul Qayyim dalam Ighatsatul Lahafan : 1/394. Majalah Buhuts al-Islamiyah edisi 20 hlm. 200.
[31]. Ibnul Qayyim dalam Ighatsatul Lahafan : 1/400.
[32] . Beliau adalah Hayyan bin Hushain, Abul Hayyaj al-Asadi. Seorang tabi’in yang tsiqat, termasuk sahabat Ali bin Abi Thalib. Rujuk al-Khulashah karya al-Khazraji hlm. 472.
[33] . HR Muslim dalam shahihnya : 2/666, 667, nomor : 969. Kitabul Jana’iz, Bab al-Amr bitaswiyatil Qobri. Abu Dawud 3/548, nomor : 3218. Kitabul Jana’iz, Bab Taswiyatil Qobri. Al-Hakim 1/396. At-Tirmidzi : 3/357, nomor : 1039, Kitabul Jana’iz, Bab Maa Jaa a fi taswiyatil Qobri. An-Nasa’i : 4/88.
[34]. Rujuk al-Jawabul Bahir fi Zawaril Maqabir dalam ucapan Ibnu Taimiyah, yang termasuk dalam Majmu’ Fatawa : 27/314-444. Juga yang disebutkan oleh al-Albani dalam Tahdzirus Sajid.
[35] . HR Bukhari dalam shahihnya nomor : 1189, Kitab Fadhlis Shalat fi Masjidi Makkah wal Madinah, Bab Masjid Baitul Maqdis. Muslim dalam shahihnya 2/1014, nomor : 511. Kitabul Hajj, Bab Laa tusyaddur rihal illa ila….
[36] . HR Muslim, Kitabul Hajj, Bab Safarul Mar’ah ma’a Mahramin ilal Hajj wa ghoirihi : 2/975, nomor ; 415.
[37].  Dia adalah Bashrah bin Abi Bashrah al-Ghifari. Salah seorang sahabat nabi. Memiliki beberapa hadits. Abu Bashrah nama aslinya Jamil bin Bashrah. Lihat yang disebutkan oleh al-Khazraji dalam al-Khulashah : 51.
[38]. Hal itu apabila sumpah hanya terucap di lisan dan tidak meyakini dengan hatinya pengagungan terhadap subyek sumpah seperti pengagungan terhadap Allah. Apabila menyamai pengagungan terhadap Allah maka menjadi syirik akbar. Cermati Fatwa al-Lajnah dalam bab akidah (1/224)
[39] . HR Bukhari dalam shahihnya 5/287, Kitabu asy-Syahadat, Bab Kaifa Yastahlif, nomor : 2679. Begitu juga dalam Kitab al-Adab, Bab Man Lam Yara Ikfar Man Qaala dzalika Muta’awillan au Jahilan, nomor : 2108, 10/516. Muslim dalam shahihnya, Kitab al-Iman, Bab an-Nahyu ‘anil Halaf bighoirillah ta’ala, nomor : 1646. Abu Dawud nomor : 3269. At-Tirmidz nomor : 9589.
[40]. HR Bukhari dalam shahihnya, Kitab al-Adab, Bab Man Lam Yara Ikfar Man Qaala dzalika Muta’awillan au Jahilan, nomor : 2108, 10/516. Muslim dalam shahihnya, Kitab al-Iman, Bab an-Nahyu ‘anil Halaf bighoirillah ta’ala, nomor : 1646. Abu Dawud nomor : 3250. At-Tirmidzi nomor : 1588.
[41] . HR Bukhari dalam shahihnya, Kitab Manaqib al-Anshar, Bab Ayamul Jahiliyah, 7/148, nomor : 3836. Muslim dalam shahihnya, nomor : 1646, Kitab al-Iman, Kitab al-Iman, Bab an-Nahyu ‘anil Halaf bighoirillah ta’ala, 3/1266. Abu Dawud nomor : 3251. Lafadz milik Muslim.
[42].  HR Ahmad dalam Musnad : 2/69, 86, 87, 125. Abu Dawud nomor : 3251. At-Tirmidzi nomor : 1574. Isnadnya shahih.
[43]. HR Muslim dalam shahihnya nomor : 1648, Kitab al-Iman, Bab Man Halafa bil Latta wal ‘Uzza fal Yaqul : Laa ilaha illallah 3/1268. An-Nasa’i : 7/7.
[44]. HR Abu Dawud nomor : 3248. An-Nasa’i 7/5. Isnadnya shahih. Cermati Sunan an-Nasa’i oleh al-Albani: 2/799.
[45].  HR Ahmad dalam Musnad 5/352. Abu Dawud nomor : 3253. Isnadnya shahih. Rujuk ke Silsilah ash-Shahihah karya al-Albani  94. Yang dimaksud dengan amanah adalah amanah yang disertai perjanjian. Disebutkan oleh al-Khatabi dalam Ma’alim Sunan 4/358, ta’liq terhadap perkataan,”Hal ini menyerupai dibencinya hal itu dengan sebab bahwa itu adalah perintah untuk bersumpah dengan nama Allah dan sifat-sifatNya. Dan bukanlah amanah termasuk sifatNya. Hanya saja itu merupakan perintah dari perintahNya. Dan hal yang wajib dari yang diwajibkanNya. Dimana terdapat penyetaraan antara hal itu dengan nama-nama Allah dan sifat-sifatNya.
[46].  HR Bukhari dalam shahihnya, Kitab al-Adab, nomor : 2108. Muslim 11/568, dengan penjelasan an-Nawawi, Kitab al-Iman nomor: 1647. Abu Dawud nomor : 3274.
[47].  HR an-Nasa’i dalam sunannya 7/6, dan isnadnya shahih. Cermati Shahih Sunan an-Nasa’i karya al-Albani 2/799.
[48]. Apabila berkeyakinan adanya persekutuan maka menjadi syirik akbar dalam rububiyah.
[49] . HR Abu Dawud dalam Sunan nomor : 4980, isnadnya shahih. Ahmad dalam Musnad dari Hudzaifah : 5/384. Al-Baihaqi dalam al-Kubro 3/2216.
[50] . HR an-Nasa’i dalam Sunan 7/6, isnadnya shahih. Cermati Sunan an-Nasa’i karya al-Albani : 2/800.
[51] . HR Ahmad dalam Musnad 5/272. Ibnu Majah nomor : 2118, dan dengan maknanya di sisi ad-Darimi : 2/382, nomor : 2699. Dinilai shahih oleh Syaikh al-Albani dalam ash-Shahihah nomor : 138 dengan penguat-penguatnya.   
[52]. HR Ahmad dalam Musnad : 1/214, 224, 283, 248.  Sanadnya hasan.
[53]. HR Ahmad dalam Musnad : 1/214, nomor : 1839. Dikeluarkan oleh Ibnu Majah 2117. Ath-Thabarani dalam al-Kabir 13006. Hadits ini shahih lighoirihi.
[54]. Telah berlalu takhrijnya pada hlm. 129
[55] . HR Bukhari no: 2552. Muslim no: 2249.
[56] . HR Muslim dalam shahih : Kitab al-Qodar, Bab fil Amri bil Quwwah wa Tarkil ‘Ajzi, wal Isti’anati billah, wa tafwidhil Maqadiri lillah : 4/2052 nomor : 2664, 24. Ibnu Majah dalam al-Muqadimmah : 79. Ath-Thahawiy dalam Musykilil Atsar : 1/101. Ahmad dalam Musnad ; 2/366, 370. Dan Abu Nu’aim dalam al-Hilyah : 10/296. Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah : 1/157, nomor : 356.
[57]. HR Ahmad dalam Musnad : 5/89, 90. Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah nomor : 324. Dishahihkan oleh syaikh al-Albani karena penguat-penguatnya.
[58].  Hal ini dinilai sebagai syirik asghar jika tidak dibarengi dengan keyakinan bahwa hal itu dapat memberikan manfaat atau mudharat karena dzatnya. Akan tetapi hanya keyakinan sebagai sebab untuk mencapai tujuan.
[59] . Telah berlalu takhrijnya pada hlm. 597 (kitab asli, pen).
[60]. Telah berlalu takhrijnya pada hlm. 463 (kitab asli, pen).
[61] . Telah berlalu takhrijnya pada hlm. 597 (kitab asli, pen).
[62] HR Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil Ilmi 2/39. Dinilai hasan oleh syaikh al-Albaniy dalam ash-Shahihah nomor : 127.
[63] Diriwayatkan oleh Abdun bin Humaid. Hadits itu mursal. Akan tetapi ada pendukung-pendukungnya. Lihat ash-Shahihah : 1127
[64]. HR Abdu bin Humaid dan hadits ini mursal, namun, mempunyai penguat, lihat kitab ash-Shahihah Syaikh al-Albani no: 1127.
[65] . Telah lewat takhrijnya.
[66]. Lihat kembali takhrijnya pada hlm. 597 (kitab asli, pen)
[67]. Cermati pembahasan yang telah berlalu pada hlm. 594-597 (kitab asli, pen)
[68] . Yang dimaksud disini ialah riya yang sifatnya sedikit yang bermakna syirik kecil sebagaimana seringkali dijelaskan. Adapun yang banyak maka itu syirik akbar.
[69] Rujuk kembali takhrijnya pada hlm. 127-128 (kitab asli, pen)
[70] HR Ibnu Majah nomor : 3949. Hakim ¼. Dinilai shahih oleh al-Albaniy dalam ash-Shahihah 4/185
[71]. HR Muslim dalam shahihnya 2985, Kitab az-Zuhdi war Raqa’iq, Bab Man Asyraka fi ‘amalihi Ghairallah : 4/2289.
[72] . Telah berlalu takhrijnya pada hlm. 221
[73] . Catatan : telah berlalu penyebutannya dalam pembahasan penyembahan terhadap hawa nafsu. Hal itu apabila seorang hamba disetir oleh hawa nafsunya sampai menutupi seluruh sisi-sisinya. Adapun jika hanya sekadar beramal karena dunia tanpa menutupinya atas ibadah yang lain, maka itu termasuk syirik asghar.
[74] . HR Abu Dawud nomor : 3664. Ibnu Majah nomor : 252. Ahmad dalam Musnadnya : 2/338. Ini adalah hadits shahih.
[75] . HR Bukhari dalam shahihnya. Kitab al-I’tisham bil kitabi was sunnah, Bab : Qaulu Nabi,”Laa Yazalu Thaifatun min Ummatiy Dzahirina ‘alal Haq, wa hum Ahlul ‘ilmi”. Nomor : 7311, 13/293.
[76]. HR at-Tirmidzi : 4/1485 nomor : 2192. Al-Albani menyatakan shahih. Lihat Shahih at-Tirmidzi : 2/239.
[77]. Cermati yang dinukil oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam al-Fath : 13/293. Dari Ibnul Mubarak, dan Yazid bin Harun, dan Imam Ahmad dan selainnya. Apa yang disebutkan oleh Khatib al-Baghdadiy dalam Syarafu Ashabil Hadits hlm. 30, dari Bukhari dan Ahmad bin Sinan.
Poskan Komentar