Bacaan Sholat Dhuha dan Doa Setelah Sholat Dhuha Serta Artinya

 Bacaan Sholat Dhuha dan Doa Setelah Sholat Dhuha Serta Artinya


Sholat Dhuha merupakan Shalat Sunnah yg dikerjakan minimal dua Raka’at dan bisa dikerjakan maksimal 12 Raka’at yg masing – masing dua Raka’atnya diakhiri dg satu salam.


Kemudian Waktu Sholat Dhuha sendiri bisa dikerjakan saat matahari sedang terbit atau tepatnya sekitar pukul 07.00 pagi sampai masuk waktu shalat Zhuhur lebih tepatnya kurang dari jam 12.00 siang sehingga jika anda ingin mengerjakan Sholat Dhuha ini ada baiknya sekitar jam 08.,00 – 10,00 pagi.


Keutamaan Sholat Dhuha sendiri ialah untuk memperlancarkan, melapangkan dan mempermudahkan suatu rezeki anda, Menghapus dosa – dosa anda, mendapatkan pahala sholat sunnah dan masih banyak lagi.


Tetapi Manfaat Sholat Dhuha yg paling besar ialah untuk mempermudahkan Rezeki anda karena menurut sabda Nabi Muhammad Saw yg berbunyi, ” Sholat Dhuha dapat mendatangkan suatu rezeki dan menolak kekafiran, dan tidak ada yg akan memelihara Sholat Dhuha melainkan orang2 yg bertaubat ”.


Adapun Cara Mengerjakan Sholat Dhuha sendiri dilakukan seperti mengerjakan Sholat pada umumnya yg diawali dg membaca Niat Shalat,

Membaca Surat Al Fatihah dan Suratan, Ruku, Itidal, Sujud dan Salam sehingga anda pasti sudah memahami Cara Mengerjakan Sholat Sunah Dhuha ini.



Tata caranya sama dengan sholat sunnah dua rakaat pada umumnya, yaitu:


 1. Niat

 2. Takbiratul ikram, lebih baik jika diikuti dengan doa iftitah

 3. Membaca surat Al Fatihah

 4. Membaca surat atau ayat Al Qur’an. Bisa surat Asy Syams atau lainnya.

 5. Ruku’ dengan tuma’ninah

 6. I’tidal dengan tuma’ninah

 7. Sujud dengan tuma’ninah

 8. Duduk di antara dua sujud dengan tuma’ninah

 9. Sujud kedua dengan tuma’ninah

10. Berdiri lagi untuk menunaikan rakaat kedua

11. Membaca surat Al Fatihah

12. Membaca surat atau ayat Al Qur’an. Bisa surat Adh Dhuha atau lainnya.

13. Ruku’ dengan tuma’ninah

14. I’tidal dengan tuma’ninah

15. Sujud dengan tuma’ninah

16. Duduk di antara dua sujud dengan tuma’ninah

17. Sujud kedua dengan tuma’ninah

18. Tahiyat akhir dengan tuma’ninah

19. Salam


Bacaan sholat dhuha hampir sama dengan bacaan sholat sunat lainnya. Hanya bacaan niat

sholat, surat pendek yang dibaca serta doa setelah sholat yang agak berbeda.


Sementara bacaan dan gerakan sholat pada umumnya sama saja. Artikel ini akan membahas semua bacaan doa yang dibaca setelah/sesudah

selesai sholat sunnah dhuha lengkap dalam tulisan bahasa arab, latin dan terjemahannya/artinya sesuai sunnah.


Bacaan niat sholat dhuha



  اُصَلِّيْ سُنَّةَ الضُّحَى رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ اْلقِبْلَةِ


 اَدَاءً لِلَّهِ تَعَالَى


Usholli sunnatad dhuhaa rok'ataini mustaqbilal qiblati adaa-an lillaahi

ta'aala.


Aku niat melakukan shalat sunat dhuha 2 rakaat, sambil menghadap qiblat,

saat ini, karena Allah ta'ala.


Surat pendek yang dibaca setelah membaca surat Al Fatihah adalah surat Asy Syamsi pada rakaat pertama dan surat Ad Dhuha pada rakaat ke dua (pendapat Imam Jalal Suyuthi dalam Hawsyil Khothiib). Pendapat lain yang juga sama kuatnya adalah membaca surat Al Kafirun pada rakaat pertama dan surat al Ikhlash pada rakaat ke dua (pendapat Ibnu Hajar dan Imam Ramli).


Para ulama sepakat menganjurkan untuk mengumpulkan dua pendapat tersebut dengan membaca surat Asy Syamsi pada rakaat pertama dan Al Kafirun pada rakaat kedua, pada 2 rakaat pertama. 


Selanjutnya pada 2 rakaat selanjutnya, membaca ad Dhuha pada rakaat pertama dan al Ikhlash

pada rakaat ke dua. Untuk rakaat-rakaat selanjutnya, membaca surat al Kafirun pada rakaat pertama dan al Ikhlash pada rakaat ke dua.


Doa setelah sholat dhuha


 

اَللّهُمَّ اِنَّ الضُّحَاءَ ضُحَاءُكَ وَالْبَهَاءَ بَهَائُكَ

 

وَالْجَمَالَ جَمَالُكَ وَالْقُوَّةَ قُوَّتُكَ وَالْقُدْرَةَ


  قُدْرَتُكَ وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ اَللّهُمَّ اِنْ كَانَ


 رِزْقِى فِى السَّمَاءِ فَاَنْزِلْهُ وَاِنْ كَانَ فِى


  اْلاَرْضِ فَاَخْرِجْهُ وَاِنْ كَانَ مُعَسِّرًا فَيَسِّرْهُ وَاِنْ


 كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ وَاِنْ كَانَ بَعِيْدًا


  فَقَرِّبْهُ بِحَقِّ ضُحَائِكَ وَبَهَائِكَ وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ


 وَقُدْرَتِكَ اَتِنِى مَااَتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ




ALLAAHUMMA INNADH DHUHAA-A DHUHAA-UKA, WAL BAHAA-A BAHAA-UKA, WAL

JAMAALA JAMAALUKA, WAL QUWWATA QUWWATUKA, WAL QUDRATA QUDRATUKA, WAL

'ISHMATA 'ISHMATUKA. ALLAAHUMA INKAANA RIZQII FIS SAMMA-I FA ANZILHU, WA

INKAANA FIL ARDHI FA-AKHRIJHU, WA INKAANA MU’ASSARAN FAYASSIRHU,

WAINKAANA HARAAMAN FATHAHHIRHU, WA INKAANA BA’IIDAN FA QARRIBHU, BIHAQQI

DUHAA-IKA WA BAHAA-IKA, WA JAMAALIKA WA QUWWATIKA WA QUDRATIKA, AATINII

MAA ATAITA ‘IBAADAKASH SHAALIHIIN.


“Wahai Tuhanku, sesungguhnya waktu dhuha adalah waktu dhuha-Mu, keagungan adalah keagungan-Mu, keindahan adalah keindahan-Mu, kekuatan adalah kekuatan-Mu, penjagaan adalah penjagaan-Mu, Wahai Tuhanku, apabila rezekiku berada di atas langit maka turunkanlah, apabila berada di dalam bumi, maka keluarkanlah, apabila sukar mudahkanlah, apabila haram sucikanlah, apabila jauh dekatkanlah dengan kebenaran dhuha-Mu,

kekuasaan-Mu (Wahai Tuhanku), datangkanlah padaku apa yang Engkau datangkan kepada hamba-hambaMu yang soleh.”



“Diriwayatkan dari Uqbah bin Amir Al-Juhani bahwa Rasulullah n bersabda, ‘Sesungguhnya Allah f berfirman, ‘Wahai anak Adam (manusia), cukupkan untuk-Ku di awal waktu siang (dhuha) dengan mengerjakan shalat empat rakaat, niscaya Aku cukupkan untukmu dengannya pada akhir harimu’.” (Hadits shahih yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Ya‘la)



*1. Waktu yang Sangat Penting*

“Demi matahari dan sinarnya pada pagi hari, demi bulan apabila mengiringinya, demi siang yang menampakkannya, demi malam apabila

menutupinya, demi langit serta membinanya, demi bumi serta penghamparannya, demi jiwa serta penyempurnaannya, maka Dia mengilhamkan kepadanya kejahatan dan ketakwaannya, sungguh beruntung orang yang menyucikannya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya”(QS. As-Syams:1-10).


Istilah dhuha dapat ditemukan pada beberapa tempat dalam Al-Qur'an. Kita dapat menemukan istilah dhuha kurang lebih pada tujuh tempat.


Di satu tempat (QS Thaha [20]:59; AI-'Araf [7]:98; An-Nazi'at [79]:46), kata dhuha diartikan sebagai "pagi hari" atau sebagai "panas sinar matahari" di tempat lainnya (QS Thaha [20:119]). Istilah dhuha juga bisa mencakup kedua makna itu sehingga diartikan "sinar matahari di pagi hari" (QS

As-Syams [91]:1).


Pada tempat lain (QS An-Nazi'at [79]:29), kata dhuha diartikan sebagai Siang yang terang. Namun, makna dhuha ini barangkali tidak merujuk pada keadaan terangnya siang di tengah hari yaitu waktu dzuhur.


Pada pembukaan surah AdDhuha, Allah berfirman, ”Demi waktu dhuha.” Imam

Arrazi menerangkan bahwa Allah SWT setiap bersumpah dengan sesuatu, itu menunjukkan hal yang agung dan besar manfaatnya. Bila Allah bersumpah dengan waktu dhuha, berarti waktu dhuha adalah waktu yang sangat penting.


*2. Wasiat Khusus dari Rasulullah*

“Shalat Dhuha adalah wasiat khusus dari Nabi ` kepada Abu Hurairah dan kepada seluruh umat beliau secara umum.” (Imam Thabari)


“Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa ia berkata, ‘Kekasihku (Rasulullah) memberikan pesan (wasiat) kepadaku dengan tiga hal yang

tidak pernah aku tinggalkan hingga aku meninggal nanti. Yaitu puasa tiga hari setiap bulan, shalat Dhuha, dan tidur dalam keadaan sudah mengerjakan shalat witir’.” (HR. Bukhari)


Jelas dari hadits tersebut, bahwasanya Rasulullah mewasiatkan umatnya untuk sebisa mungkin merutinkan shalat Dhuha!


*3. Shalat Dhuha Bernilai Sedekah bagi seluruh persendian tubuh manusia*

 “Diriwayatkan dari Buraidah a bahwa ia berkata: Aku telah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Pada diri manusia terdapat tiga ratus enam puluh

tiga ruas. Ia memiliki kewajiban bersedekah atas setiap ruas tersebut.’ Para sahabat bertanya, ‘Siapakah yang mampu melakukan hal itu, wahai

Rasulullah?’ Beliau bersabda, ‘Ludah di dalam masjid yang ia timbun (dibersihkan) atau sesuatu (penghalang) yang ia singkirkan dari jalanan

(bisa mewakili kewajiban sedekah). Jika engkau belum mampu, dua rakaat shalat Dhuha sudah memadai untuk mewakili kewajibanmu bersedekah’.”


Dari Abu Dzar al-Ghifari ra, ia berkata bahwa Nabi Muhammad saw bersabda: “Di setiap sendiri seorang dari kamu terdapat sedekah, setiap

tasbih (ucapan subhanallah) adalah sedekah, setiap tahmid (ucapan alhamdulillah) adalah sedekah, setiap tahlil (ucapan lailahaillallah)

adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh kepada kebaikan adalah sedekah, mencegah dari kemungkaran adalah sedekah. Dan dua rakaat Dhuha diberi pahala,” (HR Muslim).


 

*4. Ghanimah (keuntungan) yang besar*

Dari Abdullah bin `Amr bin `Ash radhiyallahu `anhuma, ia berkata:


Rasulullah saw mengirim sebuah pasukan perang.


Nabi saw berkata: “Perolehlah keuntungan (ghanimah) dan cepatlah kembali!”.


Mereka akhirnya saling berbicara tentang dekatnya tujuan (tempat) perang dan banyaknya ghanimah (keuntungan) yang akan diperoleh dan cepat kembali (karena dekat jaraknya).


Lalu Rasulullah saw berkata; “Maukah kalian aku tunjukkan kepada tujuan paling dekat dari mereka (musuh yang akan diperangi), paling banyak ghanimah (keuntungan) nya dan cepat kembalinya?”


Mereka menjawab; “Ya!”


Rasul SAW berkata lagi: “Barangsiapa yang berwudhu’, kemudian masuk ke dalam masjid untuk melakukan shalat Dhuha, dia lah yang paling dekat tujuanannya (tempat perangnya), lebih banyak ghanimahnya dan lebih cepat

kembalinya,” (Shahih al-Targhib: 666)


*5. Dibangunkan Sebuah rumah di surga*

Bagi yang rajin mengerjakan shalat Dhuha, maka ia akan dibangunkan sebuah rumah di dalam surga. Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits Nabi Muahammad saw: “Barangsiapa yang shalat Dhuha sebanyak empat rakaat dan

empat rakaat sebelumnya, maka ia akan dibangunkan sebuah rumah di surga,” (Shahih al-Jami`: 634)


Diriwayatkan dari Anas secara marfu‘, “Barangsiapa mengerjakan shalat Dhuha sebanyak dua belas rakaat, maka Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di dalam surga.”


Nabi Muhammad saw bersabda,”Di dalam surga terdapat pintu yang bernama bab al dhuha (pintu dhuha) dan pada hari kiamat nanti ada  yang memanggil,’dimana orang yang senantiasa mengerjakan shalat dhuha?’inilah pintu kamu, masuklah dengan kasih sayang (rahmat) Allah”.



*6. Shalat Dhuha di Awal Pagi, Ganjaran Langsung di Sore Hari*

Dari Abu Darda’ ra, ia berkata bahwa Rasulullah SAW berkata: Allah ta`ala berkata: “Wahai anak Adam, shalatlah untuk-Ku empat rakaat dari

awal hari, maka Aku akan mencukupi kebutuhanmu (ganjaran) pada sore harinya” (Shahih al-Jami: 4339).


“Diriwayatkan dari Nu‘aim bin Hammar a bahwa ia berkata: Aku telah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Allah berfirman, ‘Wahai anak Adam,

janganlah kamu merasa lemah (kehilangan kesempatan) untuk beribadah kepada-Ku dengan cara mengerjakan shalat empat rakaat di awal waktu siangmu, niscaya akan Aku cukupkan untukmu di akhir harimu’.” (HR. Abu Dawud)


*7. Pahala Umrah*

Dari Abu Umamah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan bersuci untuk melaksanakan shalat wajib, maka pahalanya seperti seorang yang melaksanakan haji. Barang siapa yang keluar untuk melaksanakan shalat Dhuha, maka pahalanya seperti orang yang melaksanakan `umrah…” (Shahih al-Targhib: 673).


*8. Ampunan Dosa*

“Siapa pun yang melaksanakan shalat dhuha dengan langgeng, akan diampuni dosanya oleh Allah, sekalipun dosa itu sebanyak buih di lautan,” (HR Tirmidzi).


DOA KEUTAMAAN DHUHA

Yang pertama adalah manfaat kesehatan, shalat Dhuha sangat tidak hanya  bermanfaat hanya untuk spiritual tetapi juga untuk kesehatan. Mengapa itu terjadi? Hal ini karena dalam shalat Dhuha ada beberapa gerakan yang harus dilakukan, sehingga shalat Dhuha juga dapat digunakan sebagai salah satu kegiatan sepanjang tahun.


1. Olahraga tanpa disadari

Penjelasan itu sendiri berdoa Dhuha dilakukan saat masih pagi sekitar 08:00 untuk sholat dhuhur , dan jam - jam adalah waktu yang sangat baik untuk berolahraga, sehingga berdoa Dhuha sebesar latihan karena nantinya dapat digunakan untuk menjaga tulang dan otot karena kesehatan masing-masing bergerak bersama, mulai dari tangan, siku di lutut dan kakinya.


Gerakan shalat manfaat benar-benar dapat memberikan efeknlatihan tanpa menyadarinya.


2. aliran darah

Shalat Dhuha, tetapi juga membantu meningkatkan sirkulasi darah dalam tubuh manusia karena semua gerakan shalat Dhuha sangat lengkap.


Mengangkat berbagai kedua tangan,

membungkuk ketika gerakan busur, kemudian juga gerakan penyisihan di mana kepala lebih kecil dari tubuh dan darah juga mengalir ke kepala dan kemudian, ketika aliran darah

dinormalkan lagi duduk.


3. Menormalkan Hormon Produksi

Hal ini juga sangat berguna untuk menormalkan produksi hormon dalam tubuh. Jadi shalat Dhuha adalah benar-benar cara yang sangat berguna dan efektif untuk menjaga kesehatan tubuh, baik untuk bagian tubuh, organ sampai beberapa cairan dan juga hormon dalam tubuh.


4. Penciptaan lebih tenang hidup

Selain bermanfaat untuk menjaga kesehatan, karena beberapa gerakan yang sangat mempengaruhi kondisi tubuh, shalat Dhuha juga sangat berguna untuk menjaga semangat, yang kemudian akan menjadi lebih tenang hidup,

terutama jika tawaran itu terbuka dan mudah dalam mendapatkan dukungan.


5. Hilangkan Stres

Juga shalat Dhuha atau shalat lainnya akan membantu umat Islam untuk bisa mendapatkan ketenangan pikiran untuk menghindari stres. Stres itu sendiri adalah sesuatu yang sangat mengganggu dan dapat menimbulkan risiko berbagai penyakit.


Wudhu awal benar-benar mampu membuat pikiran dan pikiran menjadi tenang, tetapi ketika dikombinasikan dengan shalat Dhuha secara alami akan jauh lebih tenang. Jadi, menurut kebanyakan orang, berdoa Dhuha Anda akan mendapatkan ketenangan dan rezeki tanpa masalah, sehingga beberapa Muslim melakukan / menjalankan sholat dhuha setiap hari.



6. Wajah Bersih

Selain beberapa manfaat di atas, shalat Dhuha juga sangat bermanfaat untuk kecantikan yang saat ini wajah berwudhu akan dicuci dengan air

murni sehingga kulit akan selalu tetap bersih. Kemudian melakukan wudhu dan juga waktu untuk mencuci wajah Anda dengan kursus yang tepat akan membentang kulit sehingga tidak mudah rusak dan memberikan manfaat begitu muda.


7. Wajah Berseri

Juga, menjalankan shalat dhuha dan doa 5 kali tentu keindahan alam akan bersinar dengan sendirinya sehingga setelah wudhu dan doa biasanya wajah seseorang akan terlihat lebih bercahaya. Terseut dan juga memiliki banyak untuk membuktikan.


Manfaat shalat Dhuha untuk sukses Selain berusaha, berdoa juga merupakan cara untuk mendapatkan kesuksesan bagi semua orang, bagi umat Islam untuk berdoa sendiri adalah dengan

menjalankan shalat, termasuk shalat Dhuha.


8. Buka Pintau Rezeki

Pada dasarnya shalat Dhuha sangat bermanfaat untuk membuka pintu untuk dukungan mereka, dan tidak hanya itu, juga akan membantu dalam mencapai kesuksesan.


Tetapi keberhasilan tidak dapat dicapai hanya melalui doa, tanpa usaha, oleh karena itu, untuk menjadi lebih seimbang dan juga berkat, segala sesuatu harus dilakukan adalah untuk mencoba dan ditopang oleh doa, satu menjalankan shalat dhuha. Jadi itu bagian dari apa yang perlu diketahui semua umat Islam tentang manfaat shalat Dhuha.


Demikian informasi mengenai *Doa, Tata Cara, Waktu , Niat Dan Keutamaan Sholat Dhuha*. Semoga dapat bermanfaat untuk anda baik itu Doa, Tata Cara, Waktu , Niat Dan Keutamaan Sholat Dhuha.

Langkah-Langkah Untuk Bisa Membaca Kitab Arab Gundul

 Langkah-Langkah Untuk Bisa Membaca

Kitab Arab Gundul


      Allahumma yassir wa a’in. Membaca kitab arab gundul tulisan arab tanpa harakat atau disebut juga kitab kuning adalah sebuah kemampuan yang seharusnya dimiliki oleh setiap penimba ilmu syar’i …


Allahumma yassir wa a’in.


Membaca kitab arab gundul [tulisan arab tanpa harakat] atau disebut juga kitab kuning adalah sebuah kemampuan yang seharusnya dimiliki oleh setiap penimba ilmu syar’i dan para calon da’i. Kemampuan membaca kitab gundul akan sangat membantu setiap muslim dan muslimah dalam memahami dalil Al-Kitab maupun As-Sunnah.


Ilmu yang menopang kemampuan ini adalah nahwu dan sharaf. Ilmu nahwu adalah ilmu kaidah bahasa arab yang membahas tentang keadaan akhir kata di dalam kalimat dan perubahan yang terjadi padanya. Adapun ilmu sharaf adalah ilmu kaidah bahasa arab yang membahas pembentukan kata sebelum

disusun ke dalam kalimat.


Kedua ilmu ini sangat penting untuk dipelajari. Dengan memahami ilmu nahwu seorang akan bisa membedakan antara pelaku [fa’il] dan objek

[maf’ul bih].


Dengan memahami ilmu nahwu seorang akan mengenali keadaan akhir dari suatu kata; apakah ia bisa berubah akhirannya ataukah tetap. Dengan ilmu nahwu pula seorang akan bisa membaca akhir kata dengan benar; apakah ia harus dibaca dhammah, fat-hah, atau kasrah

misalnya.


Ilmu sharaf juga tidak kalah pentingnya. Karena dengan memahami sharaf kita bisa mengetahui asal suatu kata dan pola-pola perubahannya. Suatu kata kerja bisa diubah menjadi kata benda. Suatu kata kerja aktif bisa diubah menjadi kata kerja pasif. Bagaimana cara membentuk kata perintah, dan lain sebagainya. Semua ini bisa dipelajari dalam ilmu sharaf atau disebut juga ilmu tashrif.


Meskipun demikian kedua ilmu ini juga belum cukup untuk menjadi ‘senjata yang ampuh’ untuk menaklukkan kitab-kitab gundul. Sebab di samping nahwu dan sharaf, seorang penimba ilmu juga harus memiliki kosakatamufradat yang cukup untuk bisa berlatih membaca kitab. Namun, hal ini bukanlah masalah yang harus ditakuti.


Betapa banyak orang yang tadinya tidak mengenal bahasa arab sama sekali dan tidak menghafal mufradat secara rutin dan terprogram namun berhasil meng-gondrongi [baca: mengharokati] tulisan arab gundul dan bahkan mampu menerjemahkannya. Tentu saja ini semua terwujud berkat taufik dan pertolongan Allah semata.


Selain itu, ada satu hal yang perlu untuk ditekankan di sini; bahwa kemampuan baca kitab ini tidak akan berarti apabila tidak digunakan

dalam rangka mencapai tujuan yang benar, yaitu untuk memahami Al-Kitab dan As-Sunnah. Oleh sebab itu sangat disarankan bagi para pemula untuk mencari majelis-majelis ilmu yang membahas kitab para ulama salaf.


Dengan demikian dia akan terbiasa mendengar penjelasan, ungkapan, dan istilah para ulama; terlebih lagi dalam masalah aqidah dan tauhid yang itu merupakan perkara paling fundamental di dalam agama Islam.


        Luruskan Niat


Dalam sebuah hadits yang sangat populer, dari ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya amal-amal itu dinilai dengan niatnya.


Dan setiap orang [yang beramal] akan dibalas selaras dengan apa yang dia niatkan. Barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya kepada dunia yang ingin dia raih atau wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang dia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim).


Hadits ini adalah hadits yang sangat agung. Sebab di dalam hadits ini dipancangkan salah satu pondasi amalan; yaitu keikhlasan. Amal tidak akan diterima tanpanya. Amal apapun; apakah itu sholat, puasa, zakat, haji, demikian pula tholabul ‘ilmimenuntut ilmu syar’i.


Semuanya membutuhkan niat yang benar. Oleh sebab itu, sebagian ulama hadits mengawali karya mereka dengan hadits ini. Seperti Imam

Bukhari rahimahullah dalam kitabnya Sahih Al-Bukhari, demikian pula Imam Abdul Ghani Al-Maqdisi rahimahullah dalam kitabnya ‘Umdatul Ahkam, dan Imam An-Nawawi rahimahullah dalam kitabnya Riyadhus

Shalihin.



        Tumbuhkan Semangat


Mempelajari ilmu bahasa arab adalah bagian dari ibadah dan termasuk ajaran agama. Karena memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah kewajiban; sementara kita tidak akan bisa memahami keduanya dengan baik kecuali

dengan bahasa arab, maka mempelajari ilmu bahasa arab menjadi sebuah kewajiban yang sangat mulia.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya niscaya akan dipahamkan dalam urusan

agama.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Mu’awiyah radhiyallahu’anhu)


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menegaskan, “Barangsiapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka mencari ilmu

[agama] maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga” (HR. Muslim)



        Cita-Cita Tinggi


Mempelajari bahasa arab bukanlah kebutuhan yang bersifat pribadi semata, bahkan ini adalah kebutuhan umat Islam dan umat manusia. Karena dengan memahami bahasa arab dan menggunakannya untuk memahami Al-Kitab dan

As-Sunnah seorang muslim akan bisa mengajak manusia ke jalan Allah di atas landasan ilmubashirah.


Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah: Inilah jalanku. Aku mengajak [kalian] kepada [agama] Allah di atas bashirahilmu. Inilah jalanku dan jalan orang-orang yang mengikutiku. Dan maha suci Allah, aku bukan termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Yusuf: 108)


Ayat ini menunjukkan bahwa pengikut sejati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang berdakwah kepada Islamtauhid di

atas ilmu. Bukan berdakwah di atas kebodohan. Bukan berdakwah dengan semangat belaka tanpa modal ilmu.


Ia berdakwah dengan ikhlas; mengajak manusia untuk menghamba kepada Allah saja, bukan menghamba kepada kepentingan dunia, kepentingan kelompok atau individu tertentu.


        Mengatur Waktu


Waktu adalah nikmat yang sering dilalaikan. Banyak orang yang gagal dan binasa gara-gara tidak pandai memanfaatkan waktu. Kesempatan yang Allah berikan kepada seorang hamba di alam dunia ini semestinya digunakan

sebaik-baiknya. Sebab hidup di dunia hanya sekali. Setelah itu akan ada kematian dan hari kebangkitan serta pembalasan amal.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dua buah kenikmatan yang banyak orang tertipu karenanya; yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma)


Allah ta’ala bahkan telah mengingatkan (yang artinya), “Demi waktu. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang yang beriman, beramal salih, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam menetapi kesabaran.” (QS. Al-’Ashr: 1-3)


Surat yang ringkas ini menggambarkan kepada kita bahwa kerugian di alam dunia ini dialami oleh orang yang tidak membekali dirinya dengan

keimanan, amal salih, dakwah, dan kesabaran. Orang yang tenggelam dalam kekafiran, syirik, kemaksiatan, kebid’ahan, dan hawa nafsu adalah

barisan orang-orang yang merugi.


Oleh karenanya, seorang penuntut ilmu yang berusaha untuk memahami bahasa kitab sucinya untuk memanfaatkan waktu dan kesempatan yang Allah berikan kepadanya sebaik-baiknya.


Mungkin anda punya waktu luang satu jam atau setengah jam setiap harinya yang bisa anda gunakan untuk membaca pelajaran dan mengulang-ulang materi yang telah diberikan.

Sungguh itu adalah amalan yang sangat berharga bagi anda.


        Fokus Terhadap Pelajaran dan Belajar Secara Bertahap


Terkadang dijumpai sebagian orang yang telah lama mengikuti pengajian dan bahkan sempat belajar bahasa arab berkali-kali akan tetapi masih

saja belum bisa membaca kitab. Diantara sebab utama yang banyak terjadi di lapangan adalah dikarenakan tidak fokusnya mereka dalam belajar.


Mereka bersemangat akan tetapi tidak mengerti bagaimana menyalurkan semangatnya. Sehingga mereka aktif pengajian kesana kemari namun ilmu bahasa arab dan kemampuan baca kitabnya tidak kunjung bertambah.


Tentu saja, yang kita maksudkan di sini adalah orang-orang yang masih memiliki kemampuan untuk belajar. Bukan orang yang sudah pikun yang sering lupa atau orang gila yang tidak sadar apa yang dia ucapkan atau lakukan.


Sebab mereka adalah para pemuda dan belum memasuki jenjang lansia. Tidak jarang pula kita dapati mereka adalah orang yang aktif

mengurus kajian dan menggerakkan berbagai kegiatan islam dan dakwah.


Ini merupakan fenomena memprihatinkan. Terlebih lagi jika kita cermati berbagai kasus berbau fanatisme golongan; tidak sedikit diantaranya yang dipicu oleh orang-orang yang tidak paham tentang ilmu-ilmu Islam yang

mendasar, dan juga tidak paham bahasa arab. Mereka ikut andil dalam pergolakan dan perseteruan yang seolah tak berkesudahan.


Semata-mata karena sosok [baca: ustadz atau da’i] yang mereka ikuti berlainan. Padahal, ulamanya sama, kitabnya sama, dan aqidahnya pun sama. Mereka ingin menyelesaikan pertikaian dengan kebodohan dan semangat berapi-api yang tidak bisa membedakan antara berjihad dengan lisan dan berbuat jahat dengan ucapan.


Padahal, sebagaimana telah diungkapkan oleh Imam  Bukhari rahimahullah dalam Sahihnya, ketika beliau menukil sebagian ucapan ulama salaf tentang makna istilah rabbani. Beliau berkata, “Rabbani adalah orang yang membina manusia dengan ilmu-ilmu yang kecildasar sebelum ilmu-ilmu yang besar.” Lantas, apakah kenyataan yang kita saksikan sama seperti apa yang digambarkan di dalam riwayat ini?


Para penimba ilmu yang dirahmati Allah, agama kita yang mulia ini sangat menghargai kehormatan para ulama. Seperti yang digambarkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah di mukadimahnya dalam kitab Ar-Radd ‘ala Al-Jahmiyah; bahwa para ulama lah yang ‘menghidupkan’ orang-orang yang telah mati [hatinya] dengan Kitabullah, mereka lah yang mengajak orang sesat kepada hidayah, mereka lah yang memberikan pencerahan kepada

mereka yang buta [mata hatinya] dengan cahaya [ilmu] dari Allah.


Mereka lah yang membersihkan Kitabullah dari ta’wilpenyelewengan orang-orang jahil, kedustaan para pembohong, dan menyingkirkan tahrif penyimpangan orang-orang ekstrim.


Salah satu bentuk pemuliaan kita terhadap ilmu yang mereka bawa adalah dengan fokus dalam belajar dan bertahap dalam mempelajarinya.

Sebagaimana yang dilakukan oleh para sahabat radhiyallahu’anhum.


Mereka mempelajari sepuluh ayat al-Qur’an dan berusaha memahami ilmu, keimanan dan amal yang terdapat di dalamnya. Sehingga hidup mereka penuh dengan keberkahan. Ucapan dan amalan mereka pun menjadi teladan bagi

generasi yang datang sesudahnya. Padahal, sebelumnya mereka terbenam dalam kejahiliyahan dan keburukan. Kemudian dengan Islam lah mereka dimuliakan.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah akan mengangkat dengan Kitab ini sebagian orang dan akan merendahkan sebagian yang lain dengannya pula.” (HR. Muslim dari ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu’anhu)


        Bacalah al-Qur’an!


Sebagaimana sudah ditegaskan di awal, bahwa tujuan belajar membaca kitab gundul adalah untuk memahami al-Kitab dan as-Sunnah. Oleh sebab itu sangat tidak pantas bagi seorang penuntut ilmu -yang mengharapkan kedekatan diri di sisi Rabbnya- untuk kemudian mengosongkan hari-harinya dari kegiatan membaca al-Qur’an dan men-tadabburinya.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.”

(HR. Bukhari dari ‘Utsman bin ‘Affanradhiyallahu’anhu)


Membaca al-Qur’an adalah termasuk dzikir kepada Allah. Sementara dzikir

kepada Allah akan menambah keimanan dan sebab datangnya pertolongan,

hidayah dan keselamatan.


Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Hanyalah orang-orang beriman itu adalah yang apabila disebut nama Allah maka bergetarlah hati mereka.


Dan apabila dibacakan kepada mereka   ayat-ayat-Nya bertambahlah keimanan mereka. Dan mereka hanya bertawakal kepada Rabb mereka.” (QS. Al-Anfaal: 2)


Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku maka dia tidak akan sesat dan tidak pula celaka.”

(QS. Thaha: 123)


        Bacalah Hadits!


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam -sebagaimana kita yakini- adalah manusia yang menyampaikan wahyu Allah kepada kita. Beliau lah sebaik-baik manusia yang memahami tafsir al-Qur’an dan hukum-hukum Allah. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang

menaati rasul, sesungguhnya dia telah menaati Allah.” (QS. An-Nisaa’: 80)


Oleh sebab itu para ulama menerangkan, bahwa makna keimanan beliau sebagai rasul adalah; membenarkan beritanya, melaksanakan perintahnya, menjauhi larangannya, beribadah dengan tata-cara yang diajarkannya, dan

berhukum dengan hukum-hukumnya.


Dengan demikian sudah semestinya seorang penuntut ilmu untuk meluangkan waktu membaca sabda-sabda manusia terbaik sepanjang masa. Menelaah lembaran-lembaran nasehat dan pelajaran yang beliau wariskan kepada kita

umatnya.


Bagaimana mungkin seorang penuntut ilmu -yang berusaha untuk memahami Kalam Rabbnya- kemudian berpaling dari memetik hikmah dan faidah dari hadits-hadits Nabi akhir zaman yang membawa rahmat bagi segenap alam? Semoga salawat dan salam tercurah kepadanya, para sahabat, dan segenap pengikut setia mereka.



        Koleksi Kitab Ulama


Penimba ilmu al-Kitab dan as-Sunnah sangat memerlukan keterangan dari para ulama. Apakah ulama tafsir, hadits maupun fiqih. Terlebih lagi

dalam masalah aqidah atau tauhid. Karena itulah mengumpulkan karya-karya mereka dalam bentuk kitab atau file di dalam komputer adalah metode yang sangat tepat dan bermanfaat. Sehingga sewaktu-waktu kita butuhkan,

dengan mudah kita akan bisa menemukan apa yang kita inginkan.


Kitab para ulama tentu sangat banyak jumlahnya. Terkadang satu judul kitab saja sudah kita temukan berjilid-jilid dan tiap jilidnya terdiri

dari beratus-ratus halaman. Oleh sebab itu seorang penimba ilmu harus mengenal berbagai tipe kitab para ulama. Ada diantara kitab ulama itu yang ditulis berdasarkan susunan ayat sehingga jadilah ia kitab tafsir.


Ada diantara kitab ulama yang disusun berdasarkan susunan hadits sehingga jadilah ia kitab syarah hadits. Ada pula kitab ulama yang

khusus membahas bidang ilmu tertentu semacam aqidah, tauhid, fikih, adab, akhlak, siroh, dan lain sebagainya.


Untuk bisa mengetahui tingkatan buku atau kitab ulama seorang penuntut ilmu mesti mencari keterangan buku-buku apakah yang semestinya dibaca bagi pemula dan buku-buku apa yang sifatnya sebagai rujukan dan buku-buku apa yang memang ditulis bagi yang ilmunya sudah mapan dan mendalam. Diantara kitab yang bisa dibaca dalam hal ini misalnya Kitab al-’Ilmi karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al

’Utsaimin rahimahullah atau Ma’alim fi Thariq Thalab al-’Ilmi karya Syaikh Abdul ‘Aziz As Sad-han hafizhahullah.


        Kitab Matan dan Kitab Syarah


Diantara istilah yang perlu diketahui oleh para penimba ilmu adalah matan dan syarah. Matan adalah teks asli tanpa uraian penjelasan. Sepeti

misalnya matan Shahih Bukhari, matan Shahih Muslim, matan ‘Umdatul Ahkam, matan Hadits Al Arba’in An Nawawiyyah, matan Kitab At

Tauhid, dsb. Adapun yang dimaksud dengan syarah adalah penjelasan terhadap matan-matan tersebut.


Sehingga bisa kita temukan kitab-kitab yang berisi syarah terhadap Sahih Bukhari, Sahih Muslim, ‘Umdatul Ahkam, Hadits Al Arba’in An Nawawiyyah, ataupun Kitab At Tauhid.


Kitab syarah ini pun beraneka ragam. Ada diantara kitab syarah ini yang ringkas, dan biasa disebut dengan istilah ta’liqkomentar atau

hasyiyahcatatan pinggir. Misalnya ta’liq terhadap Matan al-’Aqidah ath-Thahawiyah oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah dan kitab Hasyiyah Tsalatsatul Ushul karya

Syaikh Abdurrahman bin Qasim rahimahullah.


Ada lagi yang berupa uraian panjang lebar, dan inilah yang sering disebut dengan istilah syarah. Semacam kitab syarah Sahih al-Bukhari

yang berjudul Fat-hul Bari karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani rahimahullah atau kitab syarah ‘Umdatul Ahkam yang berjudul Taisir al-’Allam karya Syaikh Abdullah Al-Bassam rahimahullah.   



        Koleksi Audio Ceramah Ulama


Tidaklah samar bagi kita di masa sekarang ini pesatnya kemajuan teknologi informasi. Diantaranya adalah berupa kemudahan untuk

mendapatkan rekaman kajian dan ceramahmuhadharah para ulama dari berbagai negeri, baik yang disediakan di website mereka atau website dakwah lainnya.


Mendengarkan ceramah mereka -yang notabene berbahasa arab- tentu akan sangat membantu kita dalam memperkaya kosakata dan

membiasakan diri mendengar keterangan berbahasa arab dari para ulama.


Hal ini akan sangat efektif apabila kita juga telah memiliki kitab atau materi yang dibahas dalam kajian atau ceramah mereka. Tidak jarang juga

ceramah mereka yang telah ditranskrip atau dibukukan dalam bentuk tulisan.


Hal ini sangat membantu para penimba ilmu pemula yang belum terbiasa menyimak penjelasan berbahasa arab, sebab mereka bisa

membandingkan suara yang didengarkan dengan hasil transkrip yang dibaca.


Apabila kita cermati, sebagian ulama lebih banyak menyampaikan ceramah dari pada menulis kitab. Meskipun demikian ternyata kita dapati banyak kitab karya beliau. Bagaimana bisa demikian? Tentu saja ini adalah hasil buah pena murid-muridnya yang menuliskan ulang penjelasan guru mereka kemudian diterbitkan dalam bentuk kitab.


Salah satu contoh yang populer dalam hal ini adalah Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah. Banyak kitab beliau yang asalnya adalah pelajaran secara lisan yang kemudian dibukukan.


Contoh lain  adalah Syaikh Dr. Shalih bin

Fauzan al-Fauzan hafizhahullah dengan sejumlah kitab yang merupakan hasil transkrip dari pelajaran lisan yang beliau berikan.


Misalnya,

kitab al-Irsyad ila Shahih al-I’tiqad. Begitu pula kitab Durus fi,Syarhi Nawaqidhil Islam, I’anat al-Mustafid bi Syarh Kitab at-Tauhid,

dsb.


Contoh lainnya juga yang bisa diperoleh

transkrip ceramah-ceramahnya di internet- adalah Syaikh Dr. Shalih bin Sa’ad as-Suhaimi hafizhahullah.


Diantara pembahasan sangat bermanfaat

-dalam bab keimanan- yang beliau sampaikan adalah kajian kitab at-Taudhih wal Bayan li Syajarat al-Iman karya Syaikh Abdurrahman bin

Nashir as-Sa’di rahimahullah; penulis kitab tafsir Taisir al-Karim ar-Rahman.


Dan diantara pembahasan paling berharga lainnya yang dibawakan oleh Syaikh Shalih as-Suhaimi adalah kajian kitab Taisir al-Karim ar-Rahman karya Syaikh as-Sa’di yang juga bisa didownload di internet.


Namun, ada satu hal lagi yang kita perlu kuasai, yaitu dasar-dasar ilmu fiqih, agar teks di atas yang sudah bisa kita terjemahkan benar-benar kita pahami maknanya.


Misal, apa yang dimaksud dengan kata القراءة (al-qiraah) di atas, terjemah bahasa Indonesianya adalah ‘bacaan’, namun apa yang dimaksud dengan bacaan tersebut. Nah, dengan memahami fiqih shalat, kita akan mengerti maksud ‘bacaan’ di atas adalah bacaan surah setelah surah al-Fatihah.


*50 Doa Pagar Diri*

  *50 Doa Pagar Diri*


*1.DOA TERHINDAR DARI BERBAGAI KEBURUKAN*


Allahumma innii a’udzubika minalhammi walhuzni wal’ajzi walkasali

walbukhli waljunbi wa dhola’idaini wa gholabatirrijali


“Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari (hal yang)

menyedihkan dan menyusahkan, lemah dan malas, bakhil dan penakut,

lilitan hutang dan penindasan orang.”


*2.MINTA PERLINDUNGAN SIKSA DAN FITNAH*


“Allâhumma innî a’ûdzu-bika min ‘adzâbi Jahannam, wa min ‘adzâbil-qabri,

wa min fitnatil-mahyâ wal-mamâti, wa min syarri fitnatil-masîhid-Dajjâl”.


Artinya:

“Ya Allâh, sesungguhnya aku berlindung pada-Mu dari siksa Neraka

Jahannam, dan dari siksa kubur, dan dari fitnahnya kehidupan dan

kematian, dan dari buruknya fitnahnya Masih Dajjal”.


*3.MINTA PERLINDUNGAN COBAAN DUNIA *


“Allâhumma innî a’ûdzu-bika min jahdil-balâ-i, wa darakisy-syaqâ-i, wa

sû-il-qadhâ-i, wa syamâtatil-a’dâ-i”.


Artinya:

“Ya Allâh, sesungguhnya aku berlindung pada-Mu dari beratnya cobaan, dan

dari bertemu kecelakaan, dan dari buruknya qadha (taqdir), dan dari

gembiranya musuh”.


*4.MINTA PERLINDUNGAN DARI KELEMAHAN BATIN *


“Allâhumma innî a’ûdzu-bika minal-hammi, wal-hazani, wal-‘ajzi,

wal-kasali, wal-jubni, wal-bukhli, wa dhala-‘id-daini, wa ghalabatir-Rijâli”


Artinya:

“Ya Allâh, sesungguhnya aku berlindung pada-Mu dari kesusahan dan

kesedihan,dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan

kebakhilan, dari keberatan hutang dan dikalahkan (dipaksa) orang”.


*5. MINTA PERLINDUNGAN DARI KELALAIAN :*


“Allâhumma innî a’ûdzu-bika min qalbil-lâ yakhsya’, wa du’â-il-lâ

yusma’, wa min nafsil-lâ tasyba’, wa min ‘îlmil-lâ yanfa’ . A’ûdzu-bika

min hâ-ulâ-il-arba’ “.


Artinya:

“Ya Allâh, sesungguhnya aku berlindung pada-Mu dari hati yang tidak

khusyu’, dan do’a yang tidak didengar, dan dari diri yang tidak kenyang,

dan dari ilmu yang tidak bermanfa’at. Aku berlindung pada-Mu dari 4

(Empat) perkara itu”.


*6.DOA PERLINDUNGAN DARI KEMUNAFIKAN, AKHLAQ BURUK DAN SEMPITNYA REZEKI :*


“Allâhumma innî a’ûdzu-bika minan-nifâqi, wa sû-il-akhlâqi, wa

dhaiqil-arzâqi”.


Artinya:

“Ya Allâh, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari sifat munafik, dan

dari akhlaq (perangai) yang buruk, dan dari sempitnya rezeki”.


*7. MINTA PERLINDUNGAN DARI SYIRIK YANG HALUS*

“Allâhumma innî a’ûdzu-bika an-usyrika bika syai-an a’lamu, wa

astaghfiruka limâ lâ a’lamu”.


Artinya:

“Ya Allâh, sesungguhnya aku berlindung pada-Mu jika aku menyekutukan-Mu

dengan sesuatu yang aku tahu. Dan aku minta ampun kepada-Mu terhadap

apa-apa yang aku tidak tahu”.


*8. DOA PERLINDUNGAN DARI GANGGUAN SYAITHAN*


“Rabbi a’ûdzu-bika min hamazâtisy-syayâthîn wa a’ûdzu-bika rabbi

an-yahdhurûn”


Artinya:

“Ya Rabbi, aku berlindung pada-Mu dari bisikan-bisikan syaithan, dan aku

berlindung pada-Mu dari kedatangan mereka kepadaku”.

(Surah Al-Mu’minûn (23) : 97 & 98)


*9.MINTA PERLINDUNGAN DARI FITNAHNYA KAYA DAN FITNAHNYA FAQIR ( MISKIN)*


“Allâhumma innî a’ûdzu-bika min fitnatil-ghinâ wa a’ûdzu-bika min

fitnatil-faqr, wa a’ûdzu-bika min an uradda ilâ ardzalil-‘ûmuri, wa

a’ûdzu-bika min fitnatid-dun-yâ wa ‘adzâbil-qabri”.


Artinya:

“Ya Allâh, sesungguhnya aku berlindung pada-Mu dari fitnahnya kaya, dan

aku berlindung pada-Mu dari fitnahnya faqir, dan aku berlindung pada-Mu

daripada jika aku dikembalikan kelanjutnya umur, dan aku berlindung

pada-Mu dari fitnahnya dunia dan siksa kubur”.

(H.R. Bukhârî)


*10.DO’A PERLINDUNGAN DARI SYETAN.*


“ROBBI A’UDZUBIKA MIN HAMAZAATI SYAYAATHIINI WA A’UDZUBIKA ROBBI AN

YAHDDHURUN.”


Artinya:

“Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syaitan.

(97) Dan aku berlindung [pula] kepada Engkau ya Tuhanku, dari kedatangan

mereka kepadaku.” (98)

(QS. Al mu’minuun 97-98)


*11.DOA MOHON PERLINDUNGAN DARI SIKAP MURTAD*


“Allaahumma innaa na’uudzubika an narji’a ‘alaa a’qaabinaa au nuftana

‘an diininaa”


Arti nya:

“Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari masalah yang

dapat mengembalikan kami ke masa lalu atau dapat mengacaukan kami. (HR

Al-Bukhari, Muslim, dan Al-Thabarani)”


*12.PERLINDUNGAN DIRI DAN RUMAH DARI SIHIR DAN GANGGUAN JIN*

Membaca surat Al Ikhlas, Al Falaq, dan Surat An Naas


Dalil:

Dari Abdullah bin Khubaib t, Rasulullah r bersabda,

“Ucapkanlah !” Mereka (para shahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apa

yang mesti kami ucapkan ?”

Nabi r bersabda, “Qul huwallaahu ahad (Surat al Ikhlas), surat An Naas,

dan al Falaq sebanyak tiga kali di kala pagi dan malam hari, itu cukup

bagimu sebagai pelindung dari segala sesuatu.” [HR Tirmidzi no 2499(kt)]


*13.DOA PERLINDUNGAN PAGI DAN PETANG*


[Bismillaahil ladzii laa yadzurru ma’asmihi syai-un fil ardhi wa laa fis

samaa-i wahuwas samii’ul ‘aliim.]


“Dengan nama Allah, tidak ada yang membahayakan bersama namaNya sesuatu

pun yang ada di bumi dan di langit, Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.”

Dalil:


Dari Utsman bin Affan t, Rasulullah r bersabda,

“Barangsiapa di antara hambaNya yang mengucapkan di pagi hari atau

petang: (artinya: Dengan nama Allah, tidak ada yang membahayakan bersama

namaNya sesuatu pun yang ada di bumi dan di langit, Dia Maha Mendengar

dan Maha Mengetahui.” ), tiga kali, tidak terganggu dari segala

sesuatu.” [HR Tirmidzi]


*14.MENGUCAPKAN SEBANYAK 100 KALI TIAP PAGI DAN PETANG:*


[Laa ilaaha illallaoohu wahdahu laa syariika lah. Lahul mulku walahul

hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai-in qadiir.]


Tiada ilah selain Allah yang Maha Tunggal, tiada sekutu bagiNya.

MilikNya segala kerajaan, untukNya segala Puji, dan Dia berkuasa atas

segala sesuatu.


Dalil:

Dari Abu Hurairah t, Rasulullah r bersabda,

“Barangsiapa membaca: (doa di atas) sebanyak 100 kali sehari akan

mendapatkan pahala senilai membebaskan 10 budak dan tertulis 100

kebajikan dan dihapus 100 kejelekan serta bacaan tersebut dijadikan

perisai baginya dari setan, sejak pagi hingga sore hari. Dan tidak ada

seorang pun yang lebih mulia darinya kecuali orang yang mengamalkannya

lebih banyak” [HR Bukhari, Muslim]


*15. JIKA DIBACA KETIKA AKAN TIDUR*


“Innallaaha qawiyyun aziizun. Allaahu laa ilaaha illaa huwa wa alallaahi

fal yatawakkalil mu’minun” (At-Taghabun : 13)


Dibaca dengan penuh keikhlasan dalam keadaan berwudlu (tidak berhadas)

maka akan diampuni oleh allah dosanya. Dan jika dibaca ketika akan tidur

maka selama tidur akan dilindungi allah dari segala marabahaya

kebakaran, maling, pembunuhan, bencana alam dsb, insya allah.


*16. SELURUH PENDUDUK AKAN SELAMAT DARI PENYAKIT MENULAR*


“Wamayyatawakkal alallaahi fahuwa hasbuhuu innallaaha balighu amrihi qad

ja-alallaahu likulli syai-in qadraan” (Ath-Thalaq : 3)


Apabila dibaca akan menjadi tangkal yang ampuh dan jika ayatnya ditulis

pada kulit kijang atau harimau kemudian dimasukkan dalam potongan bambu

atau tabung lalu ditutup dan ditanam pada tengah kampung, desa atau

kotamaka seluruh penduduk akan selamat dari penyakit menular.


Metode ritual ini mungkin saja jawaban atau dapat juga dijadikan alternatif

ditengah hingar bingarnya wabah penyakit menular yang disebabkan virus virus berbahaya yang belum diketahui identitasnya bahkan virus virus berbahaya yang sudah diketahui identitasnya seperti Flu burung,flu babi

flu dan flu lainnya.


*17 MENGHADAPI ORANG YANG SEDANG MARAH*


“Robbul masyriqi wal maghribi laa ilaaha illaa huwa fatta khidzhu

wakiila” (Al-Muzzammil : 9)


Dibaca pada 7 butir padi kemudian dibawa menghadapi orang yang sedang

marah atau mengamuk maka kemarahan dan kebencianya akan reda dengan

sendirinya berkat izin Allah SWT .


*18. MENGHADAPI PENGUASA DHALIM*


“Inda dzil arsyil makiini” (At-Takwir : 20)


Seorang raja, presiden atau para pejabat pemerintah juga penguasa hukum

dan penegak hukum selalu kita temukan arogan dan menyombongkan diri atas

kekuasaan yang diembannya atau wewenang yang dimilikinya, penyalahgunaan

wewenang selalu saja kita temui ketika berhadapan dengan mereka. tanpa

mereka sadar atau dalam keadaan sadar menganggap bahwa kekuasaan atau

jabatan yang diembannya itu kekal tiada berujung..nau’uzubillah!!! jika

anda mengalami seperti ini sebagai antisipasi ayat 14 ini jawabannya.

caranya: Bacalah 7x sambil menahan nafas ketika berhadapan dengan

penguasa lalim kemudian hembuskan pada penguasa tersebut sambil mohon

dalam hati agar dilindungi allah dari kejahatannya dan dimudahkan segala

urusan dengannya.


*19. AL IKHLAS,AL ALAQ,AN NAAS*


AlBazzar meriwayatkan dari Abdullah bin Al Aslami, dengan status perawi

shahih, ia berkata, “Kami pernah bersama Rasulullah SAW dalam sebuah

perjalanan umrah. Hingga ketika kami sampai di lembah Waqim, tiba-tiba

kabut muncul .menyelimuti sehingga kami pun tersesat jalan. Manakala

melihat hal itu, Rasulullah SAW berpaling menuju kumpulan yang pekat,

lalu mendudukkan untanya. Setelah itu beliau berdiri dan berdiam

beberapa lama. Beliau terus menerus shalat hingga terbit fajar. Kemudian

beliau memegang kepala untanya (mengambil tali kekangnya), kemudian

berjalan sementara Abdullah Al Aslami di samping beliau. Lalu Rasulullah

SAW meletakkan telapak tangannya di dadaku. Kemudian beliau berkata,

‘Bacalah!’Aku berkata, ‘Apa yang harus aku baca?’ Beliau menjawab,

‘Bacalah Qul huwallaahu ahad (surah Al lkhlash)!’ Kemudian beliau

berkata, “Bacalah!”. Aku berkata, ‘Apa yang harus aku baca?’ Beliau

menjawab, ‘Qul a’uudzu birabbil faloq, min syarri maa khalaq (surah Al

Falaq)’. Lalu aku membacanya hingga selesai. Kemudian beliau berkata,

‘Bacalah!’ Aku berkata, ‘Apa yang harus aku baca?’ Beliau menjawab, ‘Qul

a’uudzu birabbinnaas (surah An-Naas)!’ Aku pun membaca Qul A’uudzu

birabbinnaas hingga selesai. Lalu Rasulullah SAW berkata, ‘Beginilah

cara meminta perlindungan kepada Allah karena tak ada hamba yang meminta

perlindungan dapat menyamainya.”.


*20.UNTUK TOLAK SIHIR ATAU PAGAR RUMAH*


“Maliki yaumiddiin” Untuk tolak sihir atau pagar rumah, Ayat ditulis

pada kertas putih polos kemudian masukkan dalam bumbung bambu lalu

ditanam di empat pojok rumah, Insya allah penghuni rumah akan dilindungi

dari marabahaya.


*21. SELAMAT DARI ORANG YANG SEDANG MENGAMUK/MARAH*


“Wa iyyaaka nastaiin”Untuk selamat dari orang yang sedang mengamuk/marah

atau binatang yang galak maka bacalah ayat “Wa iyyaaka nastaiin’

sebanyak 7x kemudian tiupkan kepada orang yang dimaksud maka seketika

marahnya akan reda dan tidak akan berbicara kecuali bahasa yang indah

dan lembut menyejukkan hati.


*22. BILA ANDA MEMILIKI MUSUH*


” Shirothollaladziina” Bila anda memiliki musuh dan mengancam akan

membunuh atau mencelakai maka segeralah mendekatkan diri pada Allah

dengan hati yang penuh ikhlas pada Allah sambil dihati membaca ayat ”

Shirothollaladziina” berulang ulang maka dengan kudrat irodat Allah

musuh yang tadinya akan mencelakai itu seketika berubah baik karena

hilang kebenciannya dan musuh tadi tidak akan memusuhi anda.


*23. DALAM KEADAAN TERDESAK DAN TERANCAM*


“An ‘amta ‘alaihim” ini sungguh luar biasa, karena seketika sekeliling

kita tiba tiba akan berubah menjadi lautan api yang seakan siap melahap

siapa saja yang mengganggu. Caranya: ketika anda dalam keadaan terdesak

dan terancam oleh kepungan musuh atau perampok maka jangan panik.

Segeralah secepat kilat mengambil pasir/tanah kemudian bacakan ayat

tersebut lalu sebarkan ke arah musuh, maka musuh akan lari pontang

panting karena melihat lautan api dihadapan mereka.


*24. AMAN DARI SEGALA HAL SELAIN AJAL*


Barang siapa yang membaca ‘Al-Fatihah’ diwaktu hendak tidur, Surah

‘Al-Ikhlas’ sebanyak 3 kali dan Mu’awwidzatain maka ia akan aman dari

segala hal selain ajal. Dan siapa berhajat (berkeinginan sesuatu) kepada

Allah SWT kemudian dia membaca Al-Fatihah sebanyak 41 kali diantara

sembahyang sunat Subuh dan sembahyang fardu Subuh sampai 40 hari (tidak

Lebih) kemudian memohon kepada Allah SWT, Insyaallah Dia akan memenuhi

keperluannya.


*25. MELINDUNGI PEMBACANYA DARI AZAB KUBUR*


Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda yang bermaksud: “Surah

Al-Mulk itu memelihara dan melindungi pembacanya dari azab kubur.”


*26. MEMBUAT SETAN MENANGIS*


Dari Abu Hurairah ra. Bahwa Rasulullah saw. Bersabda, “Bila seorang anak

Adam membaca surat “As Sajadah” kemudian ia bersujud, maka pergilah

setan menepi seraya menangis dan berkata, “Betapa celakanya aku! Anak

Adam diperintah untuk bersujud, ia pun bersujud, maka ia mendapatkan

surga, sedangkan aku diperintah untuk bersujud, aku pun enggan, maka aku

mendapatkan neraka.” (HR. Abu Dawud, Nasa’i’I, Ibnu Majah, Ahmad,

Muslim) Shahih.


*27. YASIIN PEMAGAR RUMAH*


Pelindung Rumah- Ambil Air Satu Ember Besar penuh.- Celupkan jari

telunjuk kanan kedalam ember yang di isi air.- Baca Sholawat Nabi 3 X-

Baca surah Yasin 7 X, pada ayat ke 9 baca 11 x- Baca Ayat Qursy 99 X-

Baca Ayat Qursy 1 X, lalu pada ayat ter akhir baca 100 X- Berdo’a mohon

kepada Allah, agar air bermanfaat untuk memagari rumah sehingga apabila

ada ghoib fasik/ kafir akan binasa seketika itu juga.(Saat berdo’a jari

telunjuk kanan tetap ada di dalam ember air).


Keterangan:- Setelah berdo’a, percikan air ke seluruh area rumah (Pagar,

tembok rumah, pintu, genteng dll).- Gunakan juga sedikit untuk membersihkan lantai.- Masukan kedalam tangki Air dll.



    *AYAT KURSI ,AYAT PELINDUNG*


*28.TERPELIHARA SIANG DAN MALAM*


Sesiapa yang membaca ayat Kursi dengan khusyuk setiap kali selepas

sholat fardhu, setiap pagi dan petang, setiap kali keluar masuk rumah

atau hendak musafir, insyaAllah akan terpeliharalah dirinya dari godaan

syaitan, kejahatan manusia, binatang buas yang akan memudaratkan dirinya

bahkan keluarga, anak-anak, harta bendanya juga akan terpelihara dengan

izin Allah s.w.t.


*29. *TERPELIHARA DARI SEGALA BENCANA*


Mengikut keterangan dari kitab “Asraarul Mufidah” sesiapa mengamalkan

membacanya setiap hari sebanyak 18 kali maka akan dibukakan dadanya

dengan berbagai hikmah, dimurahkan rezekinya, dinaikkan darjatnya dan

diberikannya pengaruh sehingga semua orang akan menghormatinya serta

terpelihara ia dari segala bencana dengan izin Allah.


*30. MENCERDASKAN AKAL FIKIRANNYA/TERLINDUNG DARI KEBODOHAN*


Syeikh Abu Abbas ada menerangkan, siapa yang membacanya sebanyak 50 kali

lalu ditiupkannya pada air hujan kemudian diminumnya, Insya-Allah, Allah

akan mencerdaskan akal fikirannya serta memudahkannya menerima ilmu

pengetahuan.


*31.TERLINDUNG DARI KEFAKIRAN*


Rasullullah s.a.w. bersabda bermaksud: “Sesiapa pulang ke rumahnya serta

membaca ayat Kursi, Allah hilangkan segala kefakiran di depan matanya.


*32. TERHINDAR DARIPADA KEJAHATAN SYAITAN DAN KEJAHATAN PEMBESAR.*


Sabda baginda lagi; “Umatku yang membaca ayat Kursi 12 kali pada pagi

jumaat, kemudian berwuduk dan sembahyang sunat dua rakaat, Allah

memeliharanya daripada kejahatan syaitan dan kejahatan pembesar.”


*33.TERPELIHARA DARI HASUTAN SYAITAN*


Orang yang selalu membaca ayat Kursi dicintai dan dipelihara Allah

sebagaimana DIA memelihara Nabi Muhammad.

Mereka yang beramal dengan bacaan ayat Kursi akan mendapat pertolongan

serta perlindungan Allah daripada gangguan serta hasutan syaitan.


*34.DI LINDUNGI DARI PENCURIAN*


Pengamal ayat Kursi juga, dengan izin Allah, akan terhindar daripada

pencerobohan pencuri. Ayat Kursi menjadi benteng yang kuat menyekat

pencuri daripada memasuki rumah.

35.DILINDUNGI DALAM PERJALANAN

Mengamalkan bacaan ayat Kursi juga akan memberikan keselamatan ketika

dalam perjalanannya.


*36.MENGUSIR JIN*


Ayat Kursi yang dibaca dengan penuh khusyuk, insya-Allah akan

menyebabkan syaitan dan jin terbakar.


*37.MELINDUNGI RUMAH BARU*


Jika anda berpindah ke rumah baru maka pada malam pertama anda menduduki

rumah itu sebaiknya anda membaca ayat Kursi 100 kali, insya-Allah

mudah-mudahan anda sekeluarga terhindar daripada gangguan lahir dan batin.


*38.DIDAMPINGI MALAIKAT*


Barang siapa membaca ayat Al-Kursi apabila berbaring di tempat tidurnya,

Allah mewakilkan 2 orang Malaikat memeliharanya hingga subuh.


*39.DILINDUNGI SETIAP WAKTU*


Barang siapa membaca ayat Al-Kursi di akhir setiap sembahyang Fardhu, ia

akan berada dalam lindungan Allah hingga sholat yang lain.


*40.DILINDUNGI RUMAHNYA DAN RUMAH TETANGGANYA*


Barang siapa membaca ayat Al-Kursi di akhir tiap sholat, tidak mencegah

akan dia daripada masuk syurga kecuali maut, dan barang siapa membacanya

ketika hendak tidur, Allah memelihara akan dia ke atas rumahnya, rumah

jirannya & ahli rumah2 di sekitarnya.


*41.DIBIMBING PERBUATANNYA*


Barang siapa membaca ayat Al-Kursi diakhir tiap-tiap sholat Fardhu,

Allah menganugerahkan dia hati-hati orang yang bersyukur, perbuatan2

orang yang benar, pahala nabi2 juga Allah melimpahkan padanya rahmat.


*42.DIDAMPINGI 70.000 MALAIKAT*


Barang siapa membaca ayat Al-Kursi sebelum keluar rumahnya, maka Allah

mengutuskan 70,000 Malaikat kepadanya, mereka semua memohon keampunan

dan mendoakan baginya.


*43.DIBERI PAHALA SYAHID*


Barang siapa membaca ayat Al-Kursi di akhir sembahyang Allah azza

wajalla akan mengendalikan pengambilan rohnya dan ia adalah seperti

orang yang berperang bersama nabi Allah sehingga mati syahid.


*44.SENANTIASA DI TOLONG*


Barang siapa yang membaca ayat al-Kursi ketika dalam kesempitan niscaya

Allah berkenan memberi pertolongan kepadanya Dari Abdullah bin ‘Amr r.a.


*45. DIAMANKAN DARI GODAAN SYAITAN DAN KEJAHATAN RAJA-RAJA*


Sesiapa yang membaca ayat Kursi dengan istikamah setiap kali selesai

sembahyang fardhu, setiap pagi dan petang, setiap kali masuk kerumah

atau kepasar, setiap kali masuk ke tempat tidur dan musafir, insyaallah

akan diamankan dari godaan syaitan dan kejahatan raja-raja (pemerintah)

yang kejam, diselamatkan dari kejahatan manusia dan kejahatan binatang

yang memudharatkan. Terpelihara dirinya dann keluarganya, anak-anak nya,

hartanya, rumahnya dari kecurian, kebakaran dan kekaraman.


*46. DIPELIHARA DARI SEGALA BENCANA*


Terdapat keterangan dalam kitab-kitab Asrarul Mufidah:Barang siapa

mengamalkan membaca ayat Kursi,setiap kali membaca sebanyak 18

kali,insyaAllah dia akan hidup berjiwa Tauhid,dibukakan dadanya dengan

berbagai hikmat,dimudahkan rizkinya,dinaikkan martabatnya,diberikan

kepadanya pengaruh sehingga orang selalu segan kepadanya,dipelihara dari

segala bencana dengan izin Allah SWT.


*47.DILINDUNGI DARI KEDUKAAN*


Syekh Al-Bunni menerangkan:”Siapa yang membaca ayat Kursi sebanyak

hitungan hurufnya,yaitu 170 huruf,maka insyaAllah,Allah SWT akan

memberikan pertolongan pada hal dan menunaikan segala hajatnya dan

melapangkan pikiran-pikirannya,diluaskan rizkinya,dihilangkan kedukaannya,dan diberikan apa yang dituntutnya.

(terdapat dalam tafsir Al-Qudsi).


*48.DILINDUNGI JUGA KELUARGANYA*


Bahwa siapa yang membaca 4 ayat pada permulaan suratul Baqarah dan ayat

Kursi,ditambah 2 ayat setelah ayat Kursi kemudian ditutup dengan 3 ayat

pada akhir suratul Baqarah,maka ia dan keluarganya tidak didekati syaitan,dan jika dibacakan pada orang gila,niscaya akan sembuh dengan seizin Allah SWT.

(terdapat dalam kitab itqan).


*49. DILINDUNGI DARI KEJAHATAN MANUSIA DAN KEJAHANTAN BINATANG2*


.Siapa yang membaca ayat Kursi secara kontinyu setiap kali selesai sembahyang fardhu,setiap pagi dan petang,setiap kali masuk kerumah dan

kepasar,setiap kali masuk ketempat tidur dan pergi musafir,insyaAllah ia akan diamankan dari godaan syaitan dan kejahatan raja-raja

kejam,diselamatkan dari kejahatan manusia dan kejahantan binatang2 yang memudharatkan.


Terpelihara dirinya dan keluarganya,anak2nya,hartanya,rumahnya dari kecurian,kekaraman dan

kebakaran.Didapatny keselamatan dan kesehatan jasmaninya dengan izin

Allah SWT yg Hidup dan Berdiri Sendiri.


*50.Doa pagar diri dengan Ayat 7*


1. Qs At Taubah 51

Qul lay yusibana illa ma kataballahu lana huwa maulana wa ‘alallahi fal

yatawakkalil mu’minun.

Artinya:

Katakanlah : Sekali kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang

telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanya

kepada Allah orang orang yang beriman harus bertawakkal.

2. Qs Yunus 107

Wa iy yamsaskallahu bidurrin fa la kasyifa lahu illa hu, wa iy yuridka

bikhairin fa la radda lifadlih, yusibu bihi may yasya’u min ibadih, wa

huwal gafurur rahim

Artinya:

Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepdmu, maka tidak ada yang

dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan

bagi kami, maka tidak ada yang dapat menolak karuniaNya. Dia memberikan

kebaikan itu kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba2Nya.

Dialah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

3. Qs Hud 6

Wa ma min dabbatin fil ardhi illa ‘alallahi rizquha wa ya’lamu

mustaqarraha wa mustauda ‘aha, kullun fi kitabim mubin

Artinya:

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi, melainkan Allahlah yang

memberi rejekinya dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan

tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata

4. Qs Hud 56

Inni tawakkaltu ‘alallahi rabbi wa rabbikum, ma min dabbatin illa huwa

akhizum bi natiha, inna rabbi ‘ala siratim mustaqim

Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Tuhanku dan Tuhanmu. Tiada suatu

binatang melata pun melainkan Dialah yang memegang ubun2nya.

Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus

5. Qs Al ‘Ankabut 60

Wa ka’ayyim min dabbatil la tahmilu rizqaha, Allahu yarzuquha wa iyyakum

wa huwas sami’ul ‘alim

Artinya:

Dan berapa banyak binatang yang tidak dapat membawa/mengurusi rejekinya

sendiri. Allahlah yang memberi rejeki kepadanya dan kepadamu dan Dia

Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui

6. Qs. Fatir 2

Ma yaftahillahu lin nasi mir rahmatin fa la mumsika laha, wa ma yumsik

fa la mursila lahu mim ba’dih, wa huwal ‘azizul hakim

Apa saja yang Allah anugrahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tiada

seorangpun yang dapat menahannya dan apa saja yang ditahan oleh Allah,

maka tidak seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan

Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana

7. Qs Az Zumur 38

Wa la’in sa’altahum man khalaqas samawati wal ardha layaqulunnallah, qul

afara’aitum ma tad’una min dunillahi au aradani bi rahmatin hal hunna

mumsikatu rahmatih, qul hasbiyallahu ‘alaihi yatawakkalul mutawakkilun.

Dan sungguh jika kamu bertanya kepd mereka : “Niscaya yg menciptakan

langit dan bumi?? Niscaya mereka menjawab “Allah”. Katakanlah : “Maka

terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selian Allah, jika

Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala2mu itu

dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi

rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya ? Katakanlah :

Cukuplah Allah bagiku”. KepadaNyalah bertawakkal orang yang berserah diri.


Beberapa keutamaannya antara lain:


1.Barangsiapa mengamalkan/membaca ayat 7 pagi dan petang, maka ia akan

merasa aman sentosa dari segala kebinasaan dan terpeliharalah daripada

tipu daya musuh dan bala dengan izin Allah.


2.Apabila ayat 7 ini diamalkan sekali siang dan sekali malam (sesudah

solat Maghrib dan Subuh), insyaallah akan memudahkan rezekinya, dipanjangkan umur, terpelihara dai gangguan jin, syaitan dan fitnah,

dikasihi para hamba Allah serta dimudahkan serta dikabulkan segala apa yang dicita-citakannya.


semoga ini bisa bermanfaat bagi kita semua.


HUKUM PENDISTRIBUSIAN ZAKAT FITRAH KE MASJID DAN MADRASAH**


HUKUM PENDISTRIBUSIAN ZAKAT FITRAH

KE MASJID DAN MADRASAH


Mukadimah


الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.


Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Bahtsul Masail adalah mahkota tradisi keilmuan NU, bukan sekadar diskusi, tapi ijtihad jama‘i yang berpijak pada:

nash syar‘i,

qawa‘id fiqhiyyah,

pendapat ulama mu‘tabar,

serta realitas sosial (waqi‘).

Tema yang kita bahas hari ini adalah pendistribusian zakat fitrah ke masjid dan madrasah, sebuah masalah klasik–kontemporer yang terus menjadi polemik di masyarakat.


I. DALIL POKOK TENTANG MUSTAHIQ ZAKAT

1. Dalil Al-Qur’an

📖 QS. At-Taubah: 60

Teks Arab:

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِّنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Terjemah:


“Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, para amil zakat, orang-orang yang dilunakkan hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, di jalan Allah, dan orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

📚 (QS. At-Taubah: 60)


Komentar Ulama

Kata إِنَّمَا (innamā) menurut jumhur ulama berfungsi lil-hashr (pembatasan).

Artinya: zakat hanya boleh diberikan kepada delapan asnaf, tidak keluar dari itu.

📚 Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, Juz II, hlm. 876


II. DALIL SUNNAH

Hadis Mu‘adz bin Jabal

Teks Arab:

فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ

Terjemah:

“Beritahukan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan zakat yang diambil dari orang-orang kaya mereka dan dikembalikan kepada orang-orang fakir mereka.”

📚 (HR. Bukhari)

➡️ Hadis ini menunjukkan zakat harus berpindah kepemilikan (tamlik) kepada mustahiq.


III. POSISI MASJID DAN MADRASAH DALAM ZAKAT

Pendapat Jumhur Ulama

Masjid dan madrasah bukan mustahiq zakat, karena:

tidak termasuk delapan asnaf,

tidak terjadi tamlik.

📚 Al-Fiqh Al-Islami, Juz II hlm. 1958:

> اتفق جماهير فقهاء المذاهب على أنه لا يجوز صرف الزكاة إلى غير من ذكر الله تعالى، كبناء المساجد والقناطر والجسور…

“Mayoritas ulama sepakat bahwa tidak boleh menyalurkan zakat kepada selain yang disebutkan Allah, seperti pembangunan masjid, jembatan, dan sejenisnya.”

---

Kitab Bughyatul Mustarsyidin

📚 hlm. 106:

> لا يستحق المسجد شيئًا من الزكاة مطلقًا…

“Masjid sama sekali tidak berhak menerima zakat.”


IV. KHILAF DALAM MAKNA “FI SABILILLAH”

Pendapat Mayoritas (Syafi‘iyah, Malikiyah)

Fi sabilillah = jihad qital

Tidak mencakup pembangunan masjid.

📚 Tafsir Al-Munir, Juz I hlm. 244


Pendapat Minoritas (Sebagian Hanafiyah & Ulama Mutakhkhirin)

Fi sabilillah = seluruh jalan kebaikan

Termasuk:

madrasah,

masjid,

dakwah,

pendidikan Islam,

📚 Tafsir Al-Khazin, Juz II hlm. 92

📚 Jawahirul Bukhari, hlm. 173

📚 Mau‘idhatul Mu’minin, Juz I hlm. 55

➡️ Namun pendapat ini tidak mu‘tamad dalam mazhab Syafi‘i, yang menjadi rujukan NU.


V. STATUS KIYAI DALAM KASUS INI

1. Jika Kiyai adalah Mustahiq Zakat

Zakat sah diterima

Setelah menjadi miliknya, boleh disedekahkan ke masjid/madrasah

📌 Ini bukan zakat lagi, tapi shodaqoh.


2. Jika Kiyai adalah Amil

Tidak boleh menyalurkan zakat ke masjid/madrasah

Kecuali mengikuti pendapat tafsir sabilillah sebagai sabilil khoir (pendapat lemah)

➡️ Dalam NU, pendapat mu‘tamad tidak membolehkan.


VI. KESIMPULAN BAHTSUL MASAIL (TETANGGENAN)


🔹 Zakat fitrah tidak boleh diberikan langsung kepada masjid dan madrasah menurut jumhur ulama dan mazhab Syafi‘i.

🔹 Jika kiyai adalah mustahiq, zakat sah, dan boleh disedekahkan kembali ke masjid/madrasah atas nama shodaqoh.

🔹 Jika kiyai adalah amil, tidak boleh mentasarufkan zakat ke masjid/madrasah kecuali mengikuti pendapat minoritas.

🔹 Untuk menghindari polemik, solusi terbaik:

zakat → fakir miskin,

masjid/madrasah → infak & shodaqoh.


---


Penutup Nasihat

Bahtsul Masail mengajarkan kita:

tidak grusa-grusu menghukumi,

tidak mudah menyesatkan,

dan menghormati khilaf dalam bingkai adab ilmiah.

NU bukan mencari pendapat paling keras, tapi paling maslahat dan paling bertanggung jawab di hadapan Allah.




Do'a Romantis Suami Kepada Istri Sebelum Tidur

 Do'a Romantis Suami Kepada Istri Sebelum Tidur

Sayang, Sebelum tidur aku berdoa sederhana saja, “Semoga esok pagi, aku masih bisa mendoakan keselamatan untukmu.”

Bukankah Allah yang Maha Baik telah mengabulkan doaku sebelum kedatanganmu, “Apabila cinta sanggup menyelamatkanku dari zina, maka segerakanlah hamba berumah tangga.”

Setelah dirimu datang, tercukupkanlah segala pinta. Maka, kujalani hidup secara sederhana, “Mencintaimu dalam sabar yang tak usai untuk ditakar, mengasihimu dalam ikhlas yang tak usai untuk dibahas.”

Sayang, kehadiranmu menjadi doa dari segala doa. Bukankah nyata adanya, dirimu tercipta sebagai kesempurnaan separuh agama, lalu untuk apa meminta yang lain jika kedatanganmu sudah membuatku merasa bahagia.

Pencapaian tertinggi dalam memaknai bahagia ialah kedamaian dalam hidup, dan kutemukan saat berada di sisimu. Sebab memilikimu secara utuh membuat hatiku menemu teduh.

Sayang, terima kasih, dirimu sudah memuliakanku dengan rasa nyaman. Kini izinkan aku menyantunkan hati; menyapa Allah, sembari berkabar bahwa kedatanganmu mewujud rindu yang tiada berkesudahan.


Aku mencintaimu, seperti waktu yang tiada bosan mendewasakanku.


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


Do’a untuk seorang Istri


Bismillah….


Ya allah …ya Tuhan kami

Ampunilah dosa ku yang telah aku lakukan

Kau limpahkanlah aku dengan kesabaran yang tiada terbatas


Kau berikanlah aku kekuatan mental dan fisik

Kau karuniakanlah aku dengan sifat keridhaan

Kau peliharalah lidahku dari kata-kata yang tak berguna

Kau kuatkanlah semangatku melewati segala ujianMu

Kau berikanlah aku sifat kasih sesama insan


Ya Allah…Ya Rahman Ya Rahim..

Sekiranya isteriku ini adalah pilihan-Mu di atas Arsy

Berilah aku kekuatan dan keyakinan untuk terus bersamanya

Karuniakanlah aku sifat kasih dan ridha atas segala perbuatannya

Sekiranya isteri ku ini adalah bidadari untuk ku di SurgaMu

Limpahkanlah aku dengan sifat kesabaran dan kelembutan untuk menghadapi dirinya

Peliharalah tingkah laku serta kata-kataku dari

menyakiti perasaannya


Sekiranya…

isteriku ini jodoh yang dirahmati olehMu maka

Berilah aku kesabaran untuk menghadapi segala tingkah lakunya


Ya Allah… Tuhan Yang Maha Mengetahui segala sesuatu..

Kau yang Maha Mengetahui apa yang terbaik untukku

Kau juga yang Maha Mengampuni segala kekhilafan dan segala dosa yang sudah aku lakukan

Sekiranya aku khilaf dalam membuat keputusan..

Bimbinglah aku ke jalan yang Engkau ridhai

Sekiranya aku lalai dalam tanggung jawabku sebagai suami..

Hukumlah aku di dunia tetapi bukan di akhiratMu

Sekiranya aku ingkar dan durhaka

Berikanlah aku petunjuk kearah rahmatMu


Ya Allah

Sesungguhnya aku lemah tanpa petunjukMu..

Aku buta tanpa bimbinganMu..

Aku cacat tanpa hidayahMu..

Aku hina tanpa RahmatMu..


Ya Allah.. Ya Tuhan Kami..

Kuatkan hati dan semangatku

Tabahkan aku menghadapi segala cobaanMu

Jadikanlah aku suami yang disayangi isteri

Bukakanlah hatiku untuk menghayati agamaMu

Bimbinglah aku menjadi suami yang terbaik bagi dirinya


Hanya padaMu Ya Allah aku mohon segala harapan

Karena aku pasrah dengan segala keputusanMu

Karena aku sadar hinanya aku

Karena aku insan lemah yang sering keliru

Kerana aku sering lupa dengan keindahan dunia ini

Karena kurang kesabaran ku menghadapi ujian dariMu


Ya Allah ..

Sesungguhnya diriku ini hanyalah HambaMu yang lemah dan fakir

Limpahkanlah rumah tanggaku dengan penuh mawaddah

Jadikanlah rumah tanggaku sebagai rumah tangga yang sakinah

Aku memohon ampun kepadaMu ya Allah, atas segala dosa-dosa yang telah aku lakukan


Ya Allah,

Jadikanlah istriku

Istri yang sholehah yang selalu patuh pada semua perintah laranganmu

Istri yang bisa membantu ku lebih dekat kepadaMu

Istri yang bisa membantuku lebih mencintaiMu

istri yang selalu patuh kepadaku bila yang aku sampaikan itu benar

istri yang bisa membawa kedamaian dalam hidupku


Ya Allah,

Jadikanlah istriku istri yang selalu menjaga kehormatanku

Jadikanlah istriku istri yang selalu menjaga kehormatannya sendiri

Jadikanlah istriku ibu yang selalu menjaga kehormatan anak anakku


Ya Allah,

Jadikanlah dia Ibu yang baik bagi anak anakku

Mampu membimbing anak anakku di jalanMu

Bisa mengantarkan amanah yang Kau titipkan kepada kami


 Amin, amin Ya Rabbal Allamin..


Do’a untuk istriku (.......................)

Ya Allah,

Jadikanlan istriku

Istri yang sholehah yang selalu patuh pada semua perintah laranganmu

Istri yang bisa membantu ku lebih dekat kepadaMu

Istri yang bisa membantuku lebih mencintaiMu

istri yang selalu patuh kepadaku bila yang aku sampaikan itu benar

istri yang bisa membawa kedamaian dalam hidupku

Ya Allah,

Jadikanlah istriku istri yang selalu menjaga kehormatanku

Jadikanlah istriku istri yang selalu menjaga kehormatannya sendiri

Jadikanlah istriku ibu yang selalu menjaga kehormatan anak anakku

Ya Allah,

Jadikanlah dia Ibu yang baik bagi anak anakku

Mampu membimbing anak anakku di jalanMu

Bisa mengantarkan amanah yang Kau titipkan kepada kami


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


Doa Untuk Istri Tercinta


Doa Untuk Istri Tercinta Lengkap Bahasa Arab, Latin dan Artinya


 Kali ini akan dibahas bacaan doa untuk istri tercinta lengkap dalam lafadz bahasa arab, tulisan latin dan terjemahan Indonesianya. Sepasang suami istri hendaknya saling mendoakan untuk kebaikan pasangannya.


Begitu juga bagi para suami, hendaknya selalu berdoa untuk istrinya setiap hari. Mintalah kepada ALLAH SWT agar istri kita mendapatkan kebaikan dan kebahagiaan dunia hingga akhiratnya. Dengan begitu, maka kehidupan rumah tangga akan sejuk dan penuh kebahagiaan.


Adapun doanya bisa apa saja, bisa dengan menggunakan kata kata dan bahasa kita sendiri, namun tentunya banyak doa doa lain yang lebih afdhol dan diambil dari Al-Quran, hadits Nabi SAW atau doa para ulama.


Doa semacam ini jelaslah lebih ampuh dan mustajab. Dan di kesempatan kali ini akan dibagikan salah satu doa suami untuk istrinya yang bisa dibaca dan diamalkan oleh para suami.


 Untuk lebih jelasnya, simak berikut ini lafadz doa untuk istri tercinta lengkap dalam bahasa arab, latin dan artinya supaya bisa lebih mudah dipahami makna dan isi kandungan dari doa yang dibaca,


~~Doa Untuk Istri Tercinta Lengkap Arab, Latin dan Artinya~~


اللهمّ اغفرْ لزوجتي ما تقدَّم من ذنبِها و ما تأخَّرَ و ما أسرَّتْ و ما أعلنَت


Allaahummaghfir lizawjatii maa taqaddama min dzanbihaa wa maa ta-akhkhara wa maa asarrat wa maa a’lanat


    Artinya : Ya Allah ampunilah dosa istriku baik yang telah lalu maupun yang akan datang, baik yang dilakukannya secara sembunyi-sembunyi maupun secara terang-terangan.


Dasarnya :


Bacaan doa untuk istri diatas mengambil faedah dari doa Rasulullah SAW untuk ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha sebagaimana tersebut dalam hadits berikut,


عن عائشة قالت: لما رأيتُ من النبي صلى الله عليه وسلم طيبَ نفسٍ قلتُ: يا رسولَ الله ادع اللهَ لي قال: « اللهم اغفر لعائشة ما تَقدمَ من ذنبِهَا وما تَأخَّر وما أَسرتْ وَما أعلنَتْ » فَضَحكت عَائِشَة حتى سَقط رَأسُها في حجرهَا من الضّحكِ، فَقال رَسول الله صلى الله عليه وسلم : « أيَسرُّكِ دُعائي؟ فقالتَ: وَمالي لا يسرّني دُعاؤكَ؟ فقالَ: والله إنّها لَدعوتي لأُمتِي في كلِّ صَلاةٍ


Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata : ketika melihat Nabi sedang senang hati, aku berkata ; Ya Rasulullah, berdoalah kepada Allah untukku! Beliau pun mengucapkan : “Allaahummaghfir li-'Aaisyata maa taqaddama min dzanbihaa wa maa ta-akhkhara wa maa asarrat wa maa a'lanat.” (Yang artinya ) : Ya Allah, ampunilah dosa 'Aisyah baik yang telah lalu maupun yang akan datang, baik yang dilakukannya secara sembunyi-sembunyi maupun secara terang-terangan. Mendengar doa Nabi tersebut, 'Aisyah tertawa hingga kepalanya jatuh ke pangkuan Rasulullah karena kegembiraannya itu. Lantas beliau bertanya ; 'Apakah kamu senang dengan doa yang kuucapkan tadi?' 'Aisyah berkata : 'Bagaimana aku tidak senang dengan doa yang engkau ucapkan?' Kemudian beliau bersabda : Demi Allah, doa itu adalah doa yang kupanjatkan untuk umatku dalam setiap shalatku.' [HR. Al Bazzar].


Demikianlah teks bacaan doa untuk istri tercinta lengkap bahasa arab, latin dan artinya. Semoga bermanfaat dan menjadikan kita selalu mendoakan kebaikan istri yang merupakan pendamping hidup kita. Wallahu a'lam.


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


Jangan Pernah Lupa Membaca Do'a Untuk Istri Tercinta


Ya Allah ampunilah dosa istriku baik yang telah lalu maupun yang akan datang, baik yang dilakukannya secara sembunyi-sembunyi maupun secara terang-terangan.


Doa Untuk Istri Tercinta


اللهمّ اغفرْ لزوجتي ما تقدَّم من ذنبِها و ما تأخَّرَ و ما أسرَّتْ و ما أعلنَت


Allaahummaghfir lizawjatii maa taqaddama min dzanbihaa wa maa ta-akhkhara wa maa asarrat wa maa a’lanat


Artinya :


Ya Allah ampunilah dosa istriku baik yang telah lalu maupun yang akan datang, baik yang dilakukannya secara sembunyi-sembunyi maupun secara terang-terangan


Dasarnya


Lafazh doa ini mengambil faedah dari doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallama untuk ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha sebagaimana tersebut dalam hadits berikut :


عن عائشة قالت: لما رأيتُ من النبي صلى الله عليه وسلم طيبَ نفسٍ قلتُ: يا رسولَ الله ادع اللهَ لي قال: « اللهم اغفر لعائشة ما تَقدمَ من ذنبِهَا وما تَأخَّر وما أَسرتْ وَما أعلنَتْ » فَضَحكت عَائِشَة حتى سَقط رَأسُها في حجرهَا من الضّحكِ، فَقال رَسول الله صلى الله عليه وسلم : « أيَسرُّكِ دُعائي؟ فقالتَ: وَمالي لا يسرّني دُعاؤكَ؟ فقالَ: والله إنّها لَدعوتي لأُمتِي في كلِّ صَلاةٍ


Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata : ketika melihat Nabi sedang senang hati, aku berkata ; Ya Rasulullah, berdoalah kepada Allah untukku! Beliau pun mengucapkan : “Allaahummaghfir li-'Aaisyata maa taqaddama min dzanbihaa wa maa ta-akhkhara wa maa asarrat wa maa a'lanat.” (Yang artinya ) : Ya Allah, ampunilah dosa 'Aisyah baik yang telah lalu maupun yang akan datang, baik yang dilakukannya secara sembunyi-sembunyi maupun secara terang-terangan. Mendengar doa Nabi tersebut, 'Aisyah tertawa hingga kepalanya jatuh ke pangkuan Rasulullah karena kegembiraannya itu. Lantas beliau bertanya ; 'Apakah kamu senang dengan doa yang kuucapkan tadi?' 'Aisyah berkata : 'Bagaimana aku tidak senang dengan doa yang engkau ucapkan?' Kemudian beliau bersabda : Demi Allah, doa itu adalah doa yang kupanjatkan untuk umatku dalam setiap shalatku.' [HR. Al Bazzar rahimahullahu dalam musnadnya, dinyatakan hasan oleh Syaikh Al Albani rahimahullahu dalam ash-Shahihah no. 2254, Maktabah Syamilah]


Subhanallahu, bahagianya punya pasangan yang memahami agama dan mengamalkan ilmunya, semoga Allah merizkikan untuk kita pasangan yang sholeh sampai ke Surga-Nya, aamiin.


~~~~~Semoga Bermanfaat~~~~~

Belajar Qiroah Atau Seni Membaca Alquran

Belajar Qiroah Atau Seni Membaca Alquran

Di dalam melagukan Al Qur’an atau taghonni, akan lebih indah bila
diwarnai dengan macam-macam lagu.

Untuk melagukan Al Qur’an , para *ahli qurro* di Indonesia membagi
lagu atas 7 ( tujuh ) macam bagian. Antara lain sebagai berikut:

    1. Bayati
    2. Shoba
    3. Hijaz
    4. Nahawand
    5. Rost
    6. Jiharkah
    7. Sikah

Dari 7 ( tujuh ) macam lagu di atas masih dibagi dalam beberapa cabang.
Macam – macam lagu dan cabangnya antara lain :

*1. Bayati*

  * Qoror : rendah
  * Nawa : sedang
  * Jawab : naik
  * Jawabul jawab : naik tertinggi
  * Nuzul ( turun )
  * shu’ud ( naik )

*2. Shoba*

  * Dasar
  * AjamiAla Ajam
  * Quflah BustanjarQofiyah

*3. Hijaz*

  * Dasar
  * Kard
  * Kurd
  * Kard-Kurd
  * Variasi

*4. Nahawand*

  * Dasar
  * Jawab
  * Nakriz
  * Usysyaq

*5. Rost*

  * Dasar
  * NawaRost ala Nawa

*6. Jiharkah*

  * Nawa
  * Jawab

*7. Sikah*

  * Dasar
  * Iraqi
  * Turki
  * Ramal (fales)

 Dalam *MTQ ( Musabaqoh Tilawatil Qur’an )* ada beberapa materi
penilaian. Antara lain:

*1. Materi penilaian bidang tajwid, terdiri dari:*

  * Makharijul huruf
  * Shifatul huruf
  * Ahkamul huruf
  * Ahkamul mad wal qoshr

*2. Materi penilaian bidang fashohah dan adab, terdiri dari:*

  * Al Waqf wal – ibtida
  * Muroatul kalimat wal kharokat
  * Muroatul kalimat wal ayat
  * Adabut tilawah

*3. Materi penilaian bidang irama dan suara, terdiri dari:*

  * Suara
  * Irama dan variasi
  * Keutuhan dan tempo lagu
  * Pengaturan nafas

*Kesalahan dalam bidang suara dan irama*

1. *Kesalahan dalam suara terdiri dari:*

  * Suara kasar
  * Suara pecah
  * Suara parau
  * Suara lemah

2.*Kesalahan dalam irama terdiri dari:*

  * lagu yang tidak utuh
  * tempo lagu yang terlalu cepat atau terlalu lambat
  * irama dan variasi yang tidak indah
  * pengaturan nafas yang tidak terkendali

*Kesalahan dalam bidang Tajwid serta Fashohah dan adab ada dua macam:*

  * *Kesalahan Jali*, yaitu kesalahan yang dapat merusak makna dan
    merusak ketentuan Tajwid qiroat yang sah. Disebut Jali karena
    kesalahan itu diketahui oleh ahli qiroat maupun yang bukan ahlinya
  * *Kesalahan Khafi*, yaitu kesalahan yang merusak ketentuan
    tajwidqiroat, tetapi tidak merusak makna. Disebut Khafi karena
    hanya diketahui oleh ulama qiroat saja.

*TAWASIH NAHEM DALAM TILAWATIL QUR’AN*

Lagu pertama :
*Bayati :*

  * nurun nabiyi “alal awalimi asfaro ( Qoror )
  * fa abana asbaba r rosyadi wa ad haro ( Nawa )
  * wa syari’atul islam ( Qoror )
  * wa syari-atul islam roqo ruwa ‘uha ( Nawa )
  * roqo ruwa’uha wal kufru asbaha jaesuhu mutaqohqiro ( Nawa )
  * lamma ata khoirul anami bi dinihi ( Jawab )
  * wanhala ma ‘aqodal ghuwatu minal ‘uro ( Jawab )
  * hamu jami’a ( Jawab )
  * hamu jami’am bin nabiyi wa dinihi ( Jawab )
  * wal kufru ba’dal ‘urfi shoro munakaro ( Jawabul Jawab)
  * wal kufru ba’dal ‘urfi shoro munakaro ( Jawabul Jawab)
  * wastabsaru bil mustofa wa binurihi ( Jawabul jawab )
  * wastabsaru bil mustofa wa binurihi ( Jawabul jawab )
  * wa binurihi wal kullu shoha muhalilahu wa mukabiro ( nuzul )

Maqam Shoba
*SHOBA*

  * aro thoiron ala ghusni yunadi
  * aro thoiron ala ghusni yunadi
  * anta busro limajruhil fuadi (shoba ma’al ajam )
  * badat laila fa adkha ‘a shifuha ( ala ajam )
  * ruku’an sujudan fi kulli wadi
  * ruku’an sujudan fi kulli wadi
    cabang
    quflah bastanjar
  * ruku’an sujudan fi kulli wadi

*HIJAZ*

  * Ya wardatan wasthor riyadi muthillatan tujri bi wajhi dzati hudhrin
    ’athiro
  * Ana fil kharobil awati ghoiro majhulil makani (kard)
  * Ainama ma dzal munadi fi wujin naqo’i yaroni ( kard kurd )
  * Innani laitun ’abusun laisa li fil kholqi tsani (kurd)

*NAHAWAND*

  * ila kam dzadz dzalali wa dzat tajali imma yakfika ya husna tatsani
  * wa hisabi ma’ matsani li fi’ali syahidani ( usyaq )
  * wa idza mal ardo shorot wardatam mislad dihani ( Nakriz )
  * wad dima’u tajri alaiha launuha ahmaru qoni ( jawab )

*RAST*

  * ya sarhatan bi jiwaril maa’i nadirotan saqoqi dam’ i idza lam yufi
    syaqiqi
  * asrokol nurul fil awali lamma basharot ha bi ahmadil amba-a ( Rast
    ala nawa )
  * bil yatimil umi wal basaril maruha ilaihil uluma wal asma-a ( Rast
    ala nawa )
    cabang Rast dzan qiron
  * quwata llahi in tawalat dhoifan nuibat fi mirosihil aqwiya

Maqam Jiharka
*JIHARKA*

  * Allahu zada Muhammadan ta’dhima
  * Wa habahu fadlam min ladunhu ’adhima
  * Wahtashuhu fil mursalina kalima
  * Wahtashuhu fil mursalina kalima
  * Da roqotim bil mu’minina rohima

*SIKA*

  * maulaya katabta rohmatan nasi ’alaik
  * fadlan wa karom
  * fal marji’u wal ma-alu wal kullu ilaika ’arbu wa ’ajam
  * farham dzuni wa waqdhoti baina yadaika in zalla qodam

*BAYATI*

  * fal hamdu minni wak tadi baina yadaika in zalla qodam


      Macam-Macam Lagu Qiro'at

Seni baca Al Qur’an ialah bacaan Al Qur’an yang bertajwid diperindah
oleh irama dan lagu.
Al Qur’an tidak lepas dari lagu. Di dalam melagukan Al Qur’an atau
taghonni dalam membaca Al Qur’an akan lebih indah bila diwarnai dengan
macam-macam lagu. Untuk melagukan Al Qur’an , para ahli qurro di
Indonesia membagi lagu atas 7 ( tujuh ) macam bagian. Antara lain
sebagai berikut:

1. Bayati
2. Shoba
3. Hijaz
4. Nahawand
5. Rost
6. Jiharkah
7. Sikah


Dari 7 ( tujuh ) macam lagu di atas masih dibagi dalam beberapa cabang.
Macam – macam lagu dan cabangnya antara lain :

1. Bayati

a. Qoror : rendah
b. Nawa : sedang
c. Jawab : naik
d. Jawabul jawab : naik tertinggi
e. Nuzul ( turun )
- shu’ud ( naik )

2. Shoba

a. Dasar
b. Ajami/Ala Ajam
Quflah Bustanjar/Qofiyah

3. Hijaz

a. Dasar
b. Kard
c. Kurd
d. Kard-Kurd
e. Variasi

4. Nahawand

a. Dasar
b. Jawab
c. Nakriz
d. Usysyaq

5. Rost

a. Dasar
b. Nawa/Rost ala Nawa

6. Jiharkah

a. Nawa
b. Jawab

7. Sikah

a. Dasar
b. Iraqi
c. Turki
d. Ramal (fales)

Dalam MTQ ( Musabaqoh Tilawatil Qur’an ) ada beberapa materi penilaian.
Antara lain:

1. Materi penilaian bidang tajwid, terdiri dari:

a. Makharijul huruf
b. Shifatul huruf
c. Ahkamul huruf
d. Ahkamul mad wal qoshr

2. Materi penilaian bidang fashohah dan adab, terdiri dari:

a. Al Waqf wal – ibtida
b. Muroatul kalimat wal kharokat
c. Muroatul kalimat wal ayat
d. Adabut tilawah

3. Materi penilaian bidang irama dan suara, terdiri dari:

a. Suara
b. Irama dan variasi
c. Keutuhan dan tempo lagu
d. Pengaturan nafas

Kesalahan dalam bidang suara dan irama

1. Kesalahan dalam suara terdiri dari:

a. Suara kasar
b. Suara pecah
c. Suara parau
d. Suara lemah

2. Kesalahan dalam irama terdiri dari:

a. lagu yang tidak utuh
b. tempo lagu yang terlalu cepat atau terlalu lambat
c. irama dan variasi yang tidak indah
d. pengaturan nafas yang tidak terkendali

Kesalahan dalam bidang Tajwid serta Fashohah dan adab ada dua macam:

1. Kesalahan Jali, yaitu kesalahan yang dapat merusak makna dan merusak
ketentuan Tajwid/ qiroat yang sah. Disebut Jali karena kesalahan itu
diketahui oleh ahli qiroat maupun yang bukan ahlinya
2. Kesalahan Khafi, yaitu kesalahan yang merusak ketentuan
tajwid/qiroat, tetapi tidak merusak makna. Disebut Khafi karena hanya
diketahui oleh ulama qiroat saja.


TAWASIH NAHEM DALAM TILAWATIL QUR’AN

Lagu pertama :
Bayati :
- nurun nabiyi “alal awalimi asfaro ( Qoror )
- fa abana asbaba r rosyadi wa ad haro ( Nawa )
- wa syari’atul islam ( Qoror )
- wa syari-atul islam roqo ruwa ‘uha ( Nawa )
- roqo ruwa’uha wal kufru asbaha jaesuhu mutaqohqiro ( Nawa )
- lamma ata khoirul anami bi dinihi ( Jawab )
- wanhala ma ‘aqodal ghuwatu minal ‘uro ( Jawab )
- hamu jami’a ( Jawab )
- hamu jami’am bin nabiyi wa dinihi ( Jawab )
- wal kufru ba’dal ‘urfi shoro munakaro ( Jawabul Jawab)
- wal kufru ba’dal ‘urfi shoro munakaro ( Jawabul Jawab)
- wastabsaru bil mustofa wa binurihi ( Jawabul jawab )
- wastabsaru bil mustofa wa binurihi ( Jawabul jawab )
- wa binurihi wal kullu shoha muhalilahu wa mukabiro ( nuzul )

Maqam Shoba
SHOBA

- aro thoiron ala ghusni yunadi
- aro thoiron ala ghusni yunadi
- anta busro limajruhil fuadi (shoba ma’al ajam )
- badat laila fa adkha ‘a shifuha ( ala ajam )
- ruku’an sujudan fi kulli wadi
- ruku’an sujudan fi kulli wadi
cabang
quflah bastanjar
- ruku’an sujudan fi kulli wadi

HIJAZ

- Ya wardatan wasthor riyadi muthillatan tujri bi wajhi dzati hudhrin
’athiro
- Ana fil kharobil awati ghoiro majhulil makani (kard)
- Ainama ma dzal munadi fi wujin naqo’i yaroni ( kard kurd )
- Innani laitun ’abusun laisa li fil kholqi tsani (kurd)

NAHAWAND

- ila kam dzadz dzalali wa dzat tajali imma yakfika ya husna tatsani
- wa hisabi ma’ matsani li fi’ali syahidani ( usyaq )
- wa idza mal ardo shorot wardatam mislad dihani ( Nakriz )
- wad dima’u tajri alaiha launuha ahmaru qoni ( jawab )

RAST

- ya sarhatan bi jiwaril maa’i nadirotan saqoqi dam’ i idza lam yufi syaqiqi
- asrokol nurul fil awali lamma basharot ha bi ahmadil amba-a ( Rast ala
nawa )
- bil yatimil umi wal basaril maruha ilaihil uluma wal asma-a ( Rast ala
nawa )
cabang Rast dzan qiron
- quwata llahi in tawalat dhoifan nuibat fi mirosihil aqwiya

Maqam Jiharka
JIHARKA

- Allahu zada Muhammadan ta’dhima
- Wa habahu fadlam min ladunhu ’adhima
- Wahtashuhu fil mursalina kalima
- Wahtashuhu fil mursalina kalima
- Da roqotim bil mu’minina rohima

SIKA

- maulaya katabta rohmatan nasi ’alaik
- fadlan wa karom
- fal marji’u wal ma-alu wal kullu ilaika ’arbu wa ’ajam
- farham dzuni wa waqdhoti baina yadaika in zalla qodam
 
BAYATI
- fal hamdu minni wak tadi baina yadaika in zalla qodam

4 Madzhab dalam Ilmu Fiqih

 4 Madzhab dalam Ilmu Fiqih


Ahlussunnah wal Jama’ah berhaluan salah satu Madzhab yang empat. Seluruh ummat Islam di dunia dan para ulamanya telah mengakui bahwa Imam yang empat ialah Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad Ibnu Hambal telah memenuhi persyaratan sebagai Mujtahid. Hal itu  dikarenakan ilmu, amal dan akhlaq yang dimiliki oleh mereka. Maka ahli fiqih

memfatwakan bagi umat Islam wajib mengikuti salah satu madzhab yang empat tersebut.


"Madzhab Hanafi"


Dinamakan Hanafi, karena pendirinya Imam Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsabit. Beliau lahir pada tahun 80 H di Kufah dan wafat pada tahun 150 H. Madzhab ini dikenal madzhab Ahli Qiyas (akal) karena hadits yang sampai ke Irak sedikit, sehingga beliau banyak mempergunakan Qiyas.


Beliau termasuk ulama yang cerdas, pengasih dan ahli tahajud dan fasih membaca Al-Qur’an. Beliau ditawari untuk menjadi hakim pada zaman bani Umayyah yang terakhir, tetapi beliau menolak.


Madzhab ini berkembang karena menjadi madzhab pemerintah pada saat Khalifah Harun Al-Rasyid. Kemudian pada masa pemerintahan Abu Ja’far Al-Manshur beliau diminta kembali untuk menjadi Hakim tetapi beliau menolak, dan memilih hidup berdagang, madzhab ini lahir di Kufah.


"Madzhab Maliki"


Pendirinya adalah Al-Imam Maliki bin Anas Al-Ashbahy. Ia dilahirkan di Madinah pada tahun 93 H dan wafat pada tahun 179 H. Beliau sebagai ahli hadits di Madinah dimana Rasulullah SAW hidup di kota tersebut.


Madzhab ini dikenal dengan madzhab Ahli Hadits, bahkan beliau mengutamakan perbuatan ahli Madinah daripada Khabaril Wahid (Hadits yang diriwayatkan oleh perorangan). Karena bagi beliau mustahil ahli Madinah akan berbuat sesuatu yang bertentangan dengan perbuatan Rasul, beliau lebih banyak menitikberatkan kepada hadits, karena menurut beliau perbuatan ahli Madinah termasuk hadits mutawatir.


Madzhab ini lahir di Madinah kemudian berkembang ke negara lain khususnya Maroko. Beliau sangat hormat kepada Rasulullah dan cinta, sehingga beliau tidak pernah naik unta di kota Madinah karena hormat kepada makam Rasul.


"Madzhab Syafi’i"


Tokoh utamanya adalah Al-Imam Muhammad bin Idris As-Syafi’i Al-Quraisyi.

Beliau dilahirkan di Ghuzzah pada tahun 150 H dan wafat di Mesir pada tahun 204 H.


Beliau belajar kepada Imam Malik yang dikenal dengan madzhabul hadits, kemudian beliau pergi ke Irak dan belajar dari ulama Irak yang dikenal sebagai madzhabul qiyas. Beliau berikhtiar menyatukan madzhab terpadu yaitu madzhab hadits dan madzhab qiyas. Itulah keistimewaan madzhab Syafi’i.


Di antara kelebihan asy-Syafi’i adalah beliau hafal Al-Qur’an umur 7 tahun, pandai diskusi dan selalu menonjol. Madzhab ini lahir di Mesir kemudian berkembang ke negeri-negeri lain.


"Madzhab Hanbali"


Dinamakan Hanbali, karena pendirinya Al-Imam Ahmad bin Hanbal As-Syaebani, lahir di Baghdad Th 164 H dan wafat Th 248 H. Beliau adalah murid Imam Syafi’i yang paling istimewa dan tidak pernah pisah sampaiImam Syafi’i pergi ke Mesir.


Menurut beliau hadits dla’if dapat dipergunakan untuk perbuatan-perbuatan yang afdal (/fadlailul a'mal) /bukan untuk

menentukan hukum. Beliau tidak mengaku adanya Ijma’ setelah sahabat karena ulama sangat banyak dan tersebar luas.


Ahlussunnah wal Jama’ah berhaluan salah satu Madzhab yang empat. Seluruh

ummat Islam di dunia dan para ulamanya telah mengakui bahwa Imam yang empat ialah Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad Ibnu Hambal telah memenuhi persyaratan sebagai Mujtahid. Hal itu dikarenakan ilmu, amal dan akhlaq yang dimiliki oleh mereka. Maka ahli fiqih

memfatwakan bagi umat Islam wajib mengikuti salah satu madzhab yang empat tersebut.


"Madzhab Hanafi"


Dinamakan Hanafi, karena pendirinya Imam Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsabit. Beliau lahir pada tahun 80 H di Kufah dan wafat pada tahun 150 H. Madzhab ini dikenal madzhab Ahli Qiyas (akal) karena hadits yang sampai ke Irak sedikit, sehingga beliau banyak mempergunakan Qiyas.


Beliau termasuk ulama yang cerdas, pengasih dan ahli tahajud dan fasih membaca Al-Qur’an. Beliau ditawari untuk menjadi hakim pada zaman bani Umayyah yang terakhir, tetapi beliau menolak.


Madzhab ini berkembang karena menjadi madzhab pemerintah pada saat Khalifah Harun Al-Rasyid. Kemudian pada masa pemerintahan Abu Ja’far Al-Manshur beliau diminta kembali untuk menjadi Hakim tetapi beliau menolak, dan memilih hidup berdagang, madzhab ini lahir di Kufah.


"Madzhab Maliki"


Pendirinya adalah Al-Imam Maliki bin Anas Al-Ashbahy. Ia dilahirkan di Madinah pada tahun 93 H dan wafat pada tahun 179 H. Beliau sebagai ahli hadits di Madinah dimana Rasulullah SAW hidup di kota tersebut.


Madzhab ini dikenal dengan madzhab Ahli Hadits, bahkan beliau mengutamakan perbuatan ahli Madinah daripada Khabaril Wahid (Hadits yang diriwayatkan oleh perorangan). Karena bagi beliau mustahil ahli Madinah akan berbuat sesuatu yang bertentangan dengan perbuatan Rasul, beliau lebih banyak menitikberatkan kepada hadits, karena menurut beliau perbuatan ahli Madinah termasuk hadits mutawatir.


Madzhab ini lahir di Madinah kemudian berkembang ke negara lain khususnya Maroko. Beliau sangat hormat kepada Rasulullah dan cinta, sehingga beliau tidak pernah naik unta di kota Madinah karena hormat kepada makam Rasul.


"Madzhab Syafi’i"


Tokoh utamanya adalah Al-Imam Muhammad bin Idris As-Syafi’i Al-Quraisyi.

Beliau dilahirkan di Ghuzzah pada tahun 150 H dan wafat di Mesir pada tahun 204 H.


Beliau belajar kepada Imam Malik yang dikenal dengan madzhabul hadits, kemudian beliau pergi ke Irak dan belajar dari ulama Irak yang dikenal sebagai madzhabul qiyas. Beliau berikhtiar menyatukan madzhab terpadu yaitu madzhab hadits dan madzhab qiyas. Itulah keistimewaan madzhab Syafi’i.


Di antara kelebihan asy-Syafi’i adalah beliau hafal Al-Qur’an umur 7 tahun, pandai diskusi dan selalu menonjol. Madzhab ini lahir di Mesir kemudian berkembang ke negeri-negeri lain.


"Madzhab Hanbali"


Dinamakan Hanbali, karena pendirinya Al-Imam Ahmad bin Hanbal As-Syaebani, lahir di Baghdad Th 164 H dan wafat Th 248 H. Beliau adalah murid Imam Syafi’i yang paling istimewa dan tidak pernah pisah sampai Imam Syafi’i pergi ke Mesir.


Menurut beliau hadits dla’if dapat dipergunakan untuk perbuatan-perbuatan yang afdal (fadlailul a'mal) bukan untuk

menentukan hukum. Beliau tidak mengaku adanya Ijma’ setelah sahabat karena ulama sangat banyak dan tersebar luas.


    Mengenal Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Hambali

   

Ada baiknya kita mengenal para Imam Mazhab seperti Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Hambali yang telah menyusun kitab Fiqih bagi kita semua.


1.Abu Hanifah (Imam Hanafi)


Nu’man bin Tsabit bin Zuta bin Mahan at-Taymi (bahasa Arab: النعمان بن

ثابت), lebih dikenal dengan nama Abū Ḥanīfah, (bahasa Arab: بو حنيفة) (lahir di Kufah, Irak pada 80 H / 699 M — meninggal di Baghdad, Irak, 148 H / 767 M) merupakan pendiri dari Madzhab Hanafi.


Abu Hanifah juga merupakan seorang Tabi’in, generasi setelah Sahabat nabi, karena dia pernah bertemu dengan salah seorang sahabat bernama Anas bin Malik, dan meriwayatkan hadis darinya serta sahabat lainnya.


Imam Hanafi disebutkan sebagai tokoh yang pertama kali menyusun kitab fiqh berdasarkan kelompok-kelompok yang berawal dari kesucian (taharah), salat dan seterusnya, yang kemudian diikuti oleh ulama-ulama sesudahnya seperti Malik bin Anas, Imam Syafi’i, Abu Dawud, Bukhari, Muslim dan lainnya.


2.Imam Malik


Mālik ibn Anas bin Malik bin ‘Āmr al-Asbahi atau Malik bin Anas (lengkapnya: Malik bin Anas bin Malik bin `Amr, al-Imam, Abu `Abd Allah al-Humyari al-Asbahi al-Madani), (Bahasa Arab: مالك بن أنس), lahir di (Madinah pada tahun 714 (93 H), dan meninggal pada tahun 800 (179 H)).

Ia adalah pakar ilmu fikih dan hadits, serta pendiri Mazhab Maliki.


Biografi


Abu abdullah Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amirbin Amr bin al-Haris bin Ghaiman bin Jutsail binAmr bin al-Haris Dzi Ashbah. Imama malik dilahirkan di Madinah al Munawwaroh. sedangkan mengenai masalah tahun kelahiranya terdapat perbedaaan riwayat.


Al-Yafii dalam kitabnya Thabaqat fuqoha meriwayatkan bahwa imam malik dilahirkan pada 94 H. ibn Khalikan dan yang lain berpendapat bahawa imam malik dilahirkan pada 95 H. sedangkan. imam al-Dzahabi meriwayatkan imam malik dilahirkan 90 H.

Imam yahya bin bakir meriwayatkan bahwa ia mendengar malik berkata :”aku dilahirkan pada 93 H”. dan inilah riwayat yang paling benar (menurut al-Sam’ani dan ibn farhun).


Ia menyusun kitab Al Muwaththa’, dan dalam penyusunannya ia menghabiskan

waktu 40 tahun, selama waktu itu, ia  menunjukan kepada 70 ahli fiqh Madinah.

Kitab tersebut menghimpun 100.000 hadits, dan yang meriwayatkan Al Muwaththa’ lebih dari seribu orang, karena itu naskahnya berbeda beda dan seluruhnya berjumlah 30 naskah, tetapi yang terkenal hanya 20 buah.

Dan yang paling masyur adalah riwayat dari Yahya bin Yahyah al Laitsi al Andalusi al Mashmudi.


Sejumlah ‘Ulama berpendapat bahwa sumber sumber hadits itu ada tujuh, yaitu Al Kutub as Sittah ditambah Al Muwaththa’. Ada pula ulama yang menetapkan Sunan ad Darimi sebagai ganti Al Muwaththa’. Ketika

melukiskan kitab besar ini, Ibn Hazm berkata,” Al Muwaththa’ adalah kitab tentang fiqh dan hadits, aku belum mnegetahui bandingannya.


Hadits-hadits yang terdapat dalam Al Muwaththa’ tidak semuanya Musnad,

ada yang Mursal, mu’dlal dan munqathi. Sebagian ‘Ulama menghitungnya berjumlah 600 hadits musnad, 222 hadits mursal, 613 hadits mauquf, 285 perkataan tabi’in, disamping itu ada 61 hadits tanpa  penyandara, hanya dikatakan telah sampai kepadaku” dan “ dari orang kepercayaan”, tetapi hadits hadits tersebut bersanad dari jalur jalur lain yang bukan jalur dari Imam Malik sendiri, karena itu Ibn Abdil Bar an Namiri menentang penyusunan kitab yang berusaha memuttashilkan hadits hadits mursal , munqathi’ dan mu’dhal yang terdapat dalam Al Muwaththa’ Malik.


Imam Malik menerima hadits dari 900 orang (guru), 300 dari golongan Tabi’in dan 600 dari tabi’in tabi’in, ia meriwayatkan hadits bersumber dari Nu’main al Mujmir, Zaib bin Aslam, Nafi’, Syarik bin Abdullah, az Zuhry, Abi az Ziyad, Sa’id al Maqburi dan Humaid ath Thawil, muridnya yang paling akhir adalah Hudzafah as Sahmi al Anshari.


Adapun yang meriwayatkan darinya adalah banyak sekali diantaranya ada yang lebih tua darinya seperti az Zuhry dan Yahya bin Sa’id. Ada yang sebaya seperti al Auza’i., Ats Tsauri, Sufyan bin Uyainah, Al Laits bin

Sa’ad, Ibnu Juraij dan Syu’bah bin Hajjaj. Adapula yang belajar darinya seperti Asy Safi’i, Ibnu Wahb, Ibnu Mahdi, al Qaththan dan Abi Ishaq.


Malik bin Anas menyusun kompilasi hadits dan ucapan para sahabat dalam buku yang terkenal hingga kini, Al Muwatta.

Di antara guru beliau adalah Nafi’ bin Abi Nu’aim, Nafi’ al Muqbiri, Na’imul Majmar, Az Zuhri, Amir bin Abdullah bin Az Zubair, Ibnul Munkadir, Abdullah bin Dinar, dan lain-lain.


Di antara murid beliau adalah Ibnul Mubarak, Al Qoththon, Ibnu Mahdi,

Ibnu Wahb, Ibnu Qosim, Al Qo’nabi, Abdullah bin Yusuf, Sa’id bin Manshur, Yahya bin Yahya al Andalusi, Yahya bin Bakir, Qutaibah Abu Mush’ab, Al Auza’i, Sufyan Ats Tsaury, Sufyan bin Uyainah, Imam Syafi’i, Abu Hudzafah as Sahmi, Az Aubairi, dan lain-lain.


[sunting]Pujian Ulama untuk Imam Malik

An Nasa’i berkata,” Tidak ada yang saya lihat orang yang pintar, mulia dan jujur, tepercaya periwayatan haditsnya melebihi Malik, kami tidak tahu dia ada meriwayatkan hadits dari rawi matruk, kecuali Abdul Karim”.


(Ket: Abdul Karim bin Abi al Mukharif al Basri yang menetap di Makkah, karena tidak senegeri dengan Malik, keadaanya tidak banyak diketahui, Malik hanya sedikit mentahrijkan haditsnya tentang keutamaan amal atau menambah pada matan).


Sedangkan Ibnu Hayyan berkata,” Malik adalah orang yang pertama menyeleksi para tokoh ahli fiqh di Madinah, dengan fiqh, agama dan keutamaan ibadah”.


Imam as-Syafi’i berkata : “Imam Malik adalah Hujjatullah atas makhluk-Nya setelah para Tabi’in “.


Yahya bin Ma’in berkata :”Imam Malik adalah Amirul mukminin dalam (ilmu)

Hadits” Ayyub bin Suwaid berkata :”Imam Malik adalah Imam Darul Hijrah (Imam

madinah) dan as-Sunnah ,seorang yang Tsiqah, seorang yang dapat dipercaya”.


Ahmad bin Hanbal berkata:” Jika engkau melihat seseorang yang membenci imam malik, maka ketahuilah bahwa orang tersebut adalah ahli bid’ah” Seseorang bertanya kepada as-Syafi’i :” apakah anda menemukan seseorang yang (alim) seperti imam malik?” as-Syafi’i menjawab :”aku mendengar dari orang yang lebih tua dan lebih berilmu dari pada aku, mereka

mengatakan kami tidak menemukan orang yang (alim) seperti Malik, maka bagaimana kami(orang sekarang) menemui yang seperti Malik? ” Kitab Al-Muwaththa


Al-Muwaththa bererti ‘yang disepakati’ atau ‘tunjang’ atau ‘panduan’ yang membahas tentang ilmu dan hukum-hukum agama Islam. Al-Muwaththa merupakan sebuah kitab yang berisikan hadits-hadits yang dikumpulkan oleh Imam Malik serta pendapat para sahabat dan ulama-ulama tabiin.


Kitab ini lengkap dengan berbagai problem agama yang merangkum ilmu hadits, ilmu fiqh dan sebagainya. Semua hadits yang ditulis adalah sahih kerana Imam Malik terkenal dengan sifatnya yang tegas dalam penerimaan sebuah hadits. Dia sangat berhati-hati ketika menapis, mengasingkan, dan membahas serta menolak riwayat yang meragukan.


Dari 100.000 hadits yang

dihafal beliau, hanya 10.000 saja diakui sah dan dari 10.000 hadits itu, hanya 5.000 saja yang disahkan sahih olehnya setelah diteliti dan dibandingkan dengan al-Quran. Menurut sebuah riwayat, Imam Malik menghabiskan 40 tahun untuk mengumpul dan menapis hadits-hadits yang diterima dari  guru-gurunya. Imam Syafi pernah berkata, “Tiada sebuah kitab di muka bumi ini setelah al qur`an yang lebih banyak mengandungi

kebenaran selain dari kitab Al-Muwaththa karangan Imam Malik.”


inilah karangan para ulama muaqoddimin

[sunting]Wafatnya Sang Imam Darul Hijroh


Imam malik jatuh sakit pada hari ahad dan menderita sakit selama 22 hari kemudian 10 hari setelah itu ia wafat. sebagian meriwayatkan imam Malik wafat pada 14 Rabiul awwal 179 H.


sahnun meriwayatkan dari abdullah bin nafi’:” imam malik wafat pada usia 87 tahun” ibn kinanah bin abi zubair, putranya yahya dan sekretarisnya hubaib yang memandikan jenazah imam Malik. imam Malik  dimakamkan di Baqi’


3.Imam Syafi’i


Abū ʿAbdullāh Muhammad bin Idrīs al-Shafiʿī atau Muhammad bin Idris

asy-Syafi`i (bahasa Arab: محمد بن إدريس الشافعي) yang akrab dipanggil Imam Syafi’i (Gaza, Palestina, 150 H / 767 – Fusthat, Mesir 204H / 819M) adalah seorang mufti besar Sunni Islam dan juga pendiri mazhab Syafi’i.


Imam Syafi’i juga tergolong kerabat dari Rasulullah, ia termasuk dalam Bani Muththalib, yaitu keturunan dari al-Muththalib, saudara dari Hasyim, yang merupakan kakek Muhammad.


Saat usia 20 tahun, Imam Syafi’i pergi ke Madinah untuk berguru kepada ulama besar saat itu, Imam Malik. Dua tahun kemudian, ia juga pergi ke Irak, untuk berguru pada murid-murid Imam Hanafi di sana.


Imam Syafi`i mempunyai dua dasar berbeda untuk Mazhab Syafi’i. Yang pertama namanya Qaulun Qadim dan Qaulun Jadid.


Bagaimana mungkin Imam Syafi’ie yang lahir tahun 150 H dan wafat tahun

203 H disebut menolak paham Asy’ariyyah yang memperkenalkan ajaran Sifat

20 sementara Imam Abu Hasan Al Asy’ari sendiri baru lahir tahun 260 H atau 57 tahun setelah Imam Syafi’ie meninggal?


Imam Syafi’ie adalah Imam Fiqih. Beda dengan Imam Asy’ari yang merupakan

Imam masalah Tauhid. Kalau seperti itu, maka Imam Syafi’ie juga jauh dari paham Trinitas Tauhid yang dibawa oleh Muhammad bin Abdul Wahab yang lahir tahun 1115 Hijriyah:


    Imam Asy-Syafi`i termasuk Imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah, beliau jauh  dari pemahaman Asy’ariyyah dan Maturidiyyah yang menyimpang dalam aqidah, khususnya dalam masalah aqidah yang berkaitan dengan Asma  dan Shifat Allah subahanahu wa Ta’ala.


      Imam Hambali


Beliau adalah Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad bin Idris bin Abdullah bin Hayyan bin Abdullah bin Anas bin ‘Auf bin Qasith bin Mazin bin Syaiban bin Dzuhl bin Tsa‘labah adz-Dzuhli asy-Syaibaniy. Nasab beliau bertemu dengan nasab Nabi pada diri Nizar

bin Ma‘d bin ‘Adnan. Yang berarti bertemu nasab pula dengan nabi Ibrahim.


Ketika beliau masih dalam kandungan, orang tua beliau pindah dari kota Marwa, tempat tinggal sang ayah, ke kota Baghdad. Di kota itu beliau dilahirkan, tepatnya pada bulan Rabi‘ul Awwal -menurut pendapat yang

paling masyhur- tahun 164 H.


Ayah beliau, Muhammad, meninggal dalam usia muda, 30 tahun, ketika beliau baru berumur tiga tahun. Kakek beliau, Hanbal, berpindah ke wilayah Kharasan dan menjadi wali kota Sarkhas pada masa pemeritahan

Bani Umawiyyah, kemudian bergabung ke dalam barisan pendukung Bani ‘Abbasiyah dan karenanya ikut merasakan penyiksaan dari Bani Umawiyyah.


Disebutkan bahwa dia dahulunya adalah seorang panglima.


"Masa Menuntut Ilmu"


Imam Ahmad tumbuh dewasa sebagai seorang anak yatim. Ibunya, Shafiyyah

binti Maimunah binti ‘Abdul Malik asy-Syaibaniy, berperan penuh dalam

mendidik dan membesarkan beliau.


Untungnya, sang ayah meninggalkan untuk

mereka dua buah rumah di kota Baghdad. Yang sebuah mereka tempati sendiri, sedangkan yang sebuah lagi mereka sewakan dengan harga yang sangat murah. Dalam hal ini, keadaan beliau sama dengan keadaan

syaikhnya, Imam Syafi‘i, yang yatim dan miskin, tetapi tetap mempunyai semangat yang tinggi. Keduanya juga memiliki ibu yang mampu mengantar mereka kepada kemajuan dan kemuliaan.


Beliau mendapatkan pendidikannya yang pertama di kota Baghdad. Saat itu,

kota Bagdad telah menjadi pusat peradaban dunia Islam, yang penuh dengan manusia yang berbeda asalnya dan beragam kebudayaannya, serta penuh dengan beragam jenis ilmu pengetahuan. Di sana tinggal para qari’, ahli hadits, para sufi, ahli bahasa, filosof, dan sebagainya.


Setamatnya menghafal Alquran dan mempelajari ilmu-ilmu bahasa Arab di

al-Kuttab saat berumur 14 tahun, beliau melanjutkan pendidikannya ke ad-Diwan. Beliau terus menuntut ilmu dengan penuh azzam yang tinggi dan tidak mudah goyah. Sang ibu banyak membimbing dan memberi beliau dorongan semangat.


Tidak lupa dia mengingatkan beliau agar tetap memperhatikan keadaan diri sendiri, terutama dalam masalah kesehatan.

Tentang hal itu beliau pernah bercerita, “Terkadang aku ingin segera pergi pagi-pagi sekali mengambil (periwayatan) hadits, tetapi Ibu segera mengambil pakaianku dan berkata, ‘Bersabarlah dulu. Tunggu sampai adzan berkumandang atau setelah orang-orang selesai shalat subuh.“


Perhatian beliau saat itu memang tengah tertuju kepada keinginan mengambil hadits dari para perawinya. Beliau mengatakan bahwa orang pertama yang darinya beliau mengambil hadits adalah al-Qadhi Abu Yusuf, murid rekan Imam Abu Hanifah.


Imam Ahmad tertarik untuk menulis hadits pada tahun 179 saat berumur 16 tahun. Beliau terus berada di kota Baghdad mengambil hadits dari syaikh-syaikh hadits kota itu hingga tahun 186. Beliau melakukan

mulazamah kepada syaikhnya, Hasyim bin Basyir bin Abu Hazim al-Wasithiy hingga syaikhnya tersebut wafat tahun 183.


Disebutkan oleh putra beliau bahwa beliau mengambil hadits dari Hasyim sekitar tiga ratus ribu hadits lebih.


Pada tahun 186, beliau mulai melakukan perjalanan (mencari hadits) ke Bashrah lalu ke negeri Hijaz, Yaman, dan selainnya. Tokoh yang paling menonjol yang beliau temui dan mengambil ilmu darinya selama

perjalanannya ke Hijaz dan selama tinggal di sana adalah Imam Syafi‘i.


Beliau banyak mengambil hadits dan faedah ilmu darinya. Imam Syafi‘i sendiri amat memuliakan diri beliau dan terkadang menjadikan beliau rujukan dalam mengenal keshahihan sebuah hadits. Ulama lain yang menjadi umber beliau mengambil ilmu adalah Sufyan bin ‘Uyainah, Ismail bin

‘Ulayyah, Waki‘ bin al-Jarrah, Yahya al-Qaththan, Yazid bin Harun, dan

lain-lain. Beliau berkata,


“Saya tidak sempat bertemu dengan Imam

Malik, tetapi Allah menggantikannya untukku dengan Sufyan bin ‘Uyainah.

Dan saya tidak sempat pula bertemu dengan Hammad bin Zaid, tetapi Allah

menggantikannya dengan Ismail bin ‘Ulayyah.”


Demikianlah, beliau amat menekuni pencatatan hadits, dan ketekunannya

itu menyibukkannya dari hal-hal lain sampai-sampai dalam hal berumah tangga. Beliau baru menikah setelah berumur 40 tahun. Ada orang yang berkata kepada beliau,


“Wahai Abu Abdillah, Anda telah mencapai semua ini. Anda telah menjadi imam kaum muslimin.” Beliau menjawab, “Bersama

mahbarah (tempat tinta) hingga ke maqbarah (kubur). Aku akan tetap

menuntut ilmu sampai aku masuk liang kubur.” Dan memang senantiasa seperti itulah keadaan beliau: menekuni hadits, memberi fatwa, dan kegiatan-kegiatan lain yang memberi manfaat kepada kaum muslimin.


Sementara itu, murid-murid beliau berkumpul di sekitarnya, mengambil

darinya (ilmu) hadits, fiqih, dan lainnya. Ada banyak ulama yang pernah mengambil ilmu dari beliau, di antaranya kedua putra beliau, Abdullah dan Shalih, Abu Zur ‘ah, Bukhari, Muslim, Abu Dawud, al-Atsram, dan

lain-lain.


Beliau menyusun kitabnya yang terkenal, "al-Musnad", dalam jangka waktu sekitar enam puluh tahun dan itu sudah dimulainya sejak tahun tahun 180 saat pertama kali beliau mencari hadits. Beliau juga menyusun kitab tentang tafsir, tentang an-nasikh dan al-mansukh, tentang tarikh, tentang yang muqaddam dan muakhkhar dalam Alquran, tentang jawaban-jawaban dalam Alquran.


Beliau juga menyusun kitab "al-manasik

ash-shagir" dan "al-kabir", kitab "az-Zuhud", kitab "ar-radd ‘ala al-Jahmiyah wa az-zindiqah"(Bantahan kepada Jahmiyah dan Zindiqah), kitab "as-Shalah", kitab "as-Sunnah", kitab "al-Wara ‘ wa al-Iman",

kitab "al-‘Ilal wa ar-Rijal", kitab "al-Asyribah", satu juz tentang "Ushul as-Sittah", "Fadha’il ash-Shahabah."


"Pujian dan Penghormatan Ulama Lain Kepadanya"


Imam Syafi‘i pernah mengusulkan kepada Khalifah Harun ar-Rasyid, pada hari-hari akhir hidup khalifah tersebut, agar mengangkat Imam Ahmad menjadi qadhi di Yaman, tetapi Imam Ahmad menolaknya dan berkata kepada Imam Syafi‘i, “Saya datang kepada Anda untuk mengambil ilmu dari Anda, tetapi Anda malah menyuruh saya menjadi qadhi untuk mereka.” Setelah itu

pada tahun 195, Imam Syafi‘i mengusulkan hal yang sama kepada Khalifah al-Amin, tetapi lagi-lagi Imam Ahmad menolaknya.


Suatu hari, Imam Syafi‘i masuk menemui Imam Ahmad dan berkata, “Engkau lebih tahu tentang hadits dan perawi-perawinya. Jika ada hadits shahih (yang engkau tahu), maka beri tahulah aku. Insya Allah, jika (perawinya) dari Kufah atau Syam, aku akan pergi mendatanginya jika memang shahih.”


 Ini menunjukkan kesempurnaan agama dan akal Imam Syafi‘i karena mau mengembalikan ilmu kepada ahlinya.

Imam Syafi‘i juga berkata, “Aku keluar (meninggalkan) Bagdad, sementara itu tidak aku tinggalkan di kota tersebut orang yang lebih wara’, lebih faqih, dan lebih bertakwa daripada Ahmad bin Hanbal.”


Abdul Wahhab al-Warraq berkata, “Aku tidak pernah melihat orang yang seperti Ahmad bin Hanbal”. Orang-orang bertanya kepadanya, “Dalam hal apakah dari ilmu dan keutamaannya yang engkau pandang dia melebihi yang lain?”


Al-Warraq menjawab, “Dia seorang yang jika ditanya tentang 60.000 masalah, dia akan menjawabnya dengan berkata, ‘Telah dikabarkan kepada kami,’ atau, “Telah disampaikan hadits kepada kami’.”/Ahmad bin Syaiban berkata, “Aku tidak pernah melihat Yazid bin Harun memberi

penghormatan kepada seseorang yang lebih besar daripada kepada Ahmad bin Hanbal.


Dia akan mendudukkan beliau di sisinya jika menyampaikan hadits kepada kami. Dia sangat menghormati beliau, tidak mau berkelakar dengannya”.


Demikianlah, padahal seperti diketahui bahwa Harun bin Yazid adalah salah seorang guru beliau dan terkenal sebagai salah

seorang imam huffazh.


"Keteguhan di Masa Penuh Cobaan"

Telah menjadi keniscayaan bahwa kehidupan seorang mukmin tidak akan lepas dari ujian dan cobaan, terlebih lagi seorang alim yang berjalan di atas jejak para nabi dan rasul. Dan Imam Ahmad termasuk di antaranya.

Beliau mendapatkan cobaan dari tiga orang khalifah Bani Abbasiyah selama rentang waktu 16 tahun.


Pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah, dengan jelas tampak kecondongan khalifah yang berkuasa menjadikan unsur-unsur asing (non-Arab) sebagai kekuatan penunjang kekuasaan mereka. Khalifah al-Makmun menjadikan orang-orang Persia sebagai kekuatan pendukungnya, sedangkan al-Mu‘tashim memilih orang-orang Turki.


Akibatnya, justru sedikit demi sedikit

kelemahan menggerogoti kekuasaan mereka. Pada masa itu dimulai penerjemahan ke dalam bahasa Arab buku-buku falsafah dari Yunani, Rumania, Persia, dan India dengan sokongan dana dari penguasa.


Akibatnya, dengan cepat berbagai bentuk bid‘ah merasuk menyebar ke dalam akidah dan ibadah kaum muslimin. Berbagai macam kelompok yang sesat menyebar di tengah-tengah mereka, seperti Qadhariyah, Jahmyah, Asy‘ariyah, Rafidhah, Mu‘tashilah, dan lain-lain.


Kelompok Mu‘tashilah, secara khusus, mendapat sokongan dari penguasa,

terutama dari Khalifah al-Makmun. Mereka, di bawah pimpinan Ibnu Abi Duad, mampu mempengaruhi al-Makmun untuk membenarkan dan menyebarkan

pendapat-pendapat mereka, di antaranya pendapat yang mengingkari sifat-sifat Allah, termasuk sifat kalam (berbicara). Berangkat dari pengingkaran itulah, pada tahun 212, Khalifah al-Makmun kemudian memaksa

kaum muslimin, khususnya ulama mereka, untuk meyakini kemakhlukan Alquran.


Sebenarnya Harun ar-Rasyid, khalifah sebelum al-Makmun, telah menindak tegas pendapat tentang kemakhlukan Alquran. Selama hidupnya, tidak ada seorang pun yang berani menyatakan pendapat itu sebagaimana dikisahkan oleh Muhammad bin Nuh, “Aku pernah mendengar Harun ar-Rasyid berkata, ‘Telah sampai berita kepadaku bahwa Bisyr al-Muraisiy mengatakan bahwa Alquran itu makhluk.


Merupakan kewajibanku, jika Allah menguasakan orang itu kepadaku, niscaya akan aku hukum bunuh dia dengan cara yang tidak pernah dilakukan oleh seorang pun’”. Tatkala Khalifah ar-Rasyid wafat dan kekuasaan beralih ke tangan al-Amin, kelompok Mu‘tazilah berusaha menggiring al-Amin ke dalam kelompok mereka, tetapi al-Amin menolaknya.


Baru kemudian ketika kekhalifahan berpindah ke tangan al-Makmun, mereka

mampu melakukannya.


Untuk memaksa kaum muslimin menerima pendapat kemakhlukan Alquran, al-Makmun sampai mengadakan ujian kepada mereka. Selama masa pengujian tersebut, tidak terhitung orang yang telah dipenjara, disiksa, dan bahkan dibunuhnya. Ujian itu sendiri telah menyibukkan pemerintah dan

warganya baik yang umum maupun yang khusus. Ia telah menjadi bahan pembicaraan mereka, baik di kota-kota maupun di desa-desa di negeri Irak dan selainnya.


Telah terjadi perdebatan yang sengit di kalangan ulama tentang hal itu. Tidak terhitung dari mereka yang menolak pendapat kemakhlukan Alquran, termasuk di antaranya Imam Ahmad. Beliau tetap

konsisten memegang pendapat yang hak, bahwa Alquran itu kalamullah, bukan makhluk.


Al-Makmun bahkan sempat memerintahkan bawahannya agar membawa Imam Ahmad

dan Muhammad bin Nuh ke hadapannya di kota Thursus. Kedua ulama itu pun akhirnya digiring ke Thursus dalam keadaan  terbelenggu. Muhammad bin Nuh meninggal dalam perjalanan sebelum sampai ke Thursus, sedangkan Imam Ahmad dibawa kembali ke Bagdad dan dipenjara di sana karena telah sampai kabar tentang kematian al-Makmun (tahun 218). Disebutkan bahwa Imam Ahmad tetap mendoakan al-Makmun.


Sepeninggal al-Makmun, kekhalifahan berpindah ke tangan putranya, al-Mu‘tashim. Dia telah mendapat wasiat dari al-Makmun agar meneruskan pendapat kemakhlukan Alquran dan menguji orang-orang dalam hal tersebut; dan dia pun melaksanakannya. Imam Ahmad dikeluarkannya dari penjara lalu dipertemukan dengan Ibnu Abi Duad dan konco-konconya.


Mereka mendebat beliau tentang kemakhlukan Alquran, tetapi beliau mampu membantahnya dengan bantahan yang tidak dapat mereka bantah. Akhirnya beliau dicambuk sampai tidak sadarkan diri lalu dimasukkan kembali ke dalam penjara dan

mendekam di sana selama sekitar 28 bulan –atau 30-an bulan menurut yang lain-. Selama itu beliau shalat dan tidur dalam keadaan kaki terbelenggu.


Selama itu pula, setiap harinya al-Mu‘tashim mengutus orang untuk mendebat beliau, tetapi jawaban beliau tetap sama, tidak berubah.


Akibatnya, bertambah kemarahan al-Mu‘tashim kepada beliau. Dia mengancam

dan memaki-maki beliau, dan menyuruh bawahannya mencambuk lebih keras dan menambah belenggu di kaki beliau. Semua itu, diterima Imam Ahmad dengan penuh kesabaran dan keteguhan bak gunung yang menjulang dengan kokohnya.


"Sakit dan Wafatnya"

Pada akhirnya, beliau dibebaskan dari penjara. Beliau dikembalikan ke rumah dalam keadaan tidak mampu berjalan. Setelah luka-lukanya sembuh dan badannya telah kuat, beliau kembali menyampaikan

pelajaran-pelajarannya di masjid sampai al-Mu‘tashim wafat.


Selanjutnya, al-Watsiq diangkat menjadi khalifah. Tidak berbeda dengan ayahnya, al-Mu‘tashim, al-Watsiq pun melanjutkan ujian yang dilakukan ayah dan kakeknya. dia pun masih menjalin kedekatan dengan Ibnu Abi Duad dan konco-konconya. Akibatnya, penduduk Bagdad merasakan cobaan yang

kian keras. Al-Watsiq melarang Imam Ahmad keluar berkumpul bersama orang-orang.


Akhirnya, Imam Ahmad bersembunyi di rumahnya, tidak keluar darinya bahkan untuk keluar mengajar atau menghadiri shalat jamaah. Dan itu dijalaninya selama kurang lebih lima tahun, yaitu sampai al-Watsiq meninggal tahun 232.


Sesudah al-Watsiq wafat, al-Mutawakkil naik menggantikannya. Selama dua tahun masa pemerintahannya, ujian tentang kemakhlukan Alquran masih dilangsungkan. Kemudian pada tahun 234, dia menghentikan ujian tersebut.


Dia mengumumkan ke seluruh wilayah kerajaannya larangan atas pendapat

tentang kemakhlukan Alquran dan ancaman hukuman mati bagi yang melibatkan diri dalam hal itu. Dia juga memerintahkan kepada para ahli hadits untuk menyampaikan hadits-hadits tentang sifat-sifat Allah.


Maka demikianlah, orang-orang pun bergembira pun dengan adanya pengumuman itu. Mereka memuji-muji khalifah atas keputusannya itu dan melupakan kejelekan-kejelekannya. Di mana-mana terdengar doa untuknya dan namanya disebut-sebut bersama nama Abu Bakar, Umar bin al-Khaththab, dan Umar

bin Abdul Aziz.


Menjelang wafatnya, beliau jatuh sakit selama sembilan hari. Mendengar sakitnya, orang-orang pun berdatangan ingin menjenguknya. Mereka berdesak-desakan di depan pintu rumahnya, sampai-sampai sultan menempatkan orang untuk berjaga di depan pintu. Akhirnya, pada permulaan

hari Jumat tanggal 12 Rabi‘ul Awwal tahun 241, beliau menghadap kepada rabbnya menjemput ajal yang telah dientukan kepadanya.


Kaum muslimin bersedih dengan kepergian beliau. Tak sedikit mereka yang turut mengantar jenazah beliau sampai beratusan ribu orang. Ada yang mengatakan 700 ribu orang, ada pula yang mengatakan 800 ribu orang, bahkan ada yang mengatakan sampai satu juta lebih orang yang menghadirinya.


Semuanya menunjukkan bahwa sangat banyaknya mereka yang hadir pada saat itu demi menunjukkan penghormatan dan kecintaan mereka kepada beliau. Beliau pernah berkata ketika masih sehat, “Katakan

kepada ahlu bid‘ah bahwa perbedaan antara kami dan kalian adalah (tampak pada) hari kematian kami”.


Demikianlah gambaran ringkas ujian yang dilalui oleh Imam Ahmad.


Terlihat bagaimana sikap agung beliau yang tidak akan diambil kecuali oleh orang-orang yang penuh keteguhan lagi ikhlas. Beliau bersikap seperti itu justru ketika sebagian ulama lain berpaling dari kebenaran.


Dan dengan keteguhan di atas kebenaran yang Allah berikan kepadanya itu, maka madzhab Ahlussunnah pun dinisbatkan kepada dirinya karena beliau sabar dan teguh dalam membelanya. Ali bin al-Madiniy berkata menggambarkan keteguhan Imam Ahmad, “Allah telah mengokohkan agama ini

lewat dua orang laki-laki, tidak ada yang ketiganya.


Yaitu, Abu Bakar as-Shiddiq pada Yaumur Riddah (saat orang-orang banyak yang murtad pada awal-awal pemerintahannya), dan Ahmad bin Hanbal pada Yaumul Mihnah”.


Perbedaan Antar Mazhab?


Di antara tonggak penegang ajaran Islam di muka bumi adalah muncul beberapa mazhab raksasa di tengah ratusan mazhab kecil lainnya. Keempat mazhab itu adalah Al-Hanabilah, Al-Malikiyah, Asy-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah.


Sebenarnya jumlah mazhab besar tidak hanya terbatas hanya 4 saja, namun keempat mazhab itu memang diakui eksistensi dan jati

dirinya oleh umat selama 15 abad ini.


Keempatnya masih utuh tegak berdiri dan dijalankan serta dikembangkan oleh mayoritas muslimin di muka bumi. Masing-masing punya basis kekuatan syariah serta masih mampu melahirkan para ulama besar di masa sekarang ini.


Berikut sekelumit sejarah keempat mazhab ini dengan sedikit gambaran landasan manhaj mereka.


1. MazhabAl-Hanifiyah


Didirikan oleh An-Nu’man bin Tsabit atau lebih dikenal sebagai Imam Abu Hanifah. Beliau berasal dari Kufah dari keturunan bangsa Persia. Beliau hidup dalam dua masa, Daulah Umaiyah dan Abbasiyah. Beliau termasuk pengikut tabiin , sebagian ahli sejarah menyebutkan, ia bahkan termasuk

Tabi’in.


Mazhab Al-Hanafiyah sebagaimana dipatok oleh pendirinya, sangat dikenal sebagai terdepan dalam masalah pemanfaatan akal/ logika dalam mengupas masalah fiqih. Oleh para pengamat dianalisa bahwa di antara latar belakangnya adalah:


Karena beliau sangat berhati-hati dalam menerima sebuah hadits. Bila beliau tidak terlalu yakin atas keshahihah suatu hadits, maka beliau lebih memlih untuk tidak menggunakannnya.


Dan sebagai gantinya, beliau menemukan begitu banyak formula seperti mengqiyaskan suatu masalah dengan masalah lain yang punya dalil nash syar’i.


Kurang tersedianya hadits yang sudah diseleksi keshahihannya di tempat di mana beliau tinggal. Sebaliknya, begitu banyak hadits palsu, lemah dan bermasalah yang beredar di masa beliau.


Perlu diketahui bahwa beliau hidup di masa 100 tahun pertama semenjak wafat nabi SAW, jauh sebelum era imam Al-Bukhari dan imam Muslim yang terkenal sebagai ahli peneliti hadits.


Di kemudian hari, metodologi yang beliau perkenalkan memang sangat berguna buat umat Islam sedunia. Apalagi mengingat Islam mengalami perluasan yang sangat jauh ke seluruh penjuru dunia. Memasuki wilayah

yang jauh dari pusat sumber syariah Islam. Metodologi mazhab ini menjadi sangat menentukan dalam dunia fiqih di berbagai negeri.


2. Mazhab Al-Malikiyah


Mazhab ini didirikan oleh Imam Malik bin Anas bin Abi Amir Al-Ashbahi .Berkembang sejak awal di kota Madinah dalam urusan fiqh.


Mazhab ini ditegakkan di atas doktrin untuk merujuk dalam segala sesuatunya kepada hadits Rasulullah SAW dan praktek penduduk Madinah.


Imam Malik membangun madzhabnya dengan 20 dasar; Al-Quran, As-Sunnah ,

Ijma’, Qiyas, amal ahlul madinah , perkataan sahabat, istihsan, saddudzarai’, muraatul khilaf, istishab, maslahah mursalah, syar’u man qablana .


Mazhab ini adalah kebalikan dari mazhan Al-Hanafiyah. Kalau Al-Hanafiyah

banyak sekali mengandalkan nalar dan logika, karena kurang tersedianya

nash-nash yang valid di Kufah, mazhab Maliki justru ‘kebanjiran’ sumber-sumber syariah.


Sebab mazhab ini tumbuh dan berkembang di kota Nabi SAW sendiri, di mana penduduknya adalah anak keturunan para

shahabat. Imam Malik sangat meyakini bahwa praktek ibadah yang dikerjakan penduduk Madinah sepeninggal Rasulullah SAW bisa dijadikan dasar hukum, meski tanpa harus merujuk kepada hadits yang shahih para umumnya.


3. Mazhab As-Syafi’iyah


Didirikan oleh Muhammad bin Idris Asy Syafi’i . Beliau dilahirkan di Gaza Palestina tahun 150 H, tahun wafatnya Abu Hanifah dan wafat di Mesir tahun 203 H.


Di Baghdad, Imam Syafi’i menulis madzhab lamanya . Kemudian beliu pindah

ke Mesir tahun 200 H dan menuliskan madzhab baru . Di sana beliau wafat

sebagai syuhadaul ‘ilm di akhir bulan Rajab 204 H.


Salah satu karangannya adalah “Ar-Risalah” buku pertama tentang ushul fiqh dan kitab “Al-Umm” yang berisi madzhab fiqhnya yang baru. Imam Syafi’i adalah seorang mujtahid mutlak, imam fiqh, hadis, dan ushul.


Beliau mampu memadukan fiqh ahli ra’yi dan fiqh ahli hadits .


Dasar madzhabnya: Al-Quran, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas. Beliau tidak mengambil perkataan sahabat karena dianggap sebagai ijtihad yang bisa salah. Beliau juga tidak mengambil Istihsan sebagai dasar madzhabnya,

menolak maslahah mursalah dan perbuatan penduduk Madinah. Imam Syafi’i

mengatakan,


 ”Barangsiapa yang melakukan istihsan maka ia telah menciptakan syariat.” Penduduk Baghdad mengatakan,”Imam Syafi’i adalah

nashirussunnah ,”


Kitab “Al-Hujjah” yang merupakan madzhab lama diriwayatkan oleh empat imam Irak; Ahmad bin Hanbal, Abu Tsaur, Za’farani, Al-Karabisyi dari Imam Syafi’i. Sementara kitab “Al-Umm” sebagai madzhab yang baru yang diriwayatkan oleh pengikutnya di Mesir; Al-Muzani, Al-Buwaithi, Ar-Rabi’

Jizii bin Sulaiman. Imam Syafi’i mengatakan tentang madzhabnya,”Jika sebuah hadits shahih bertentangan dengan perkataanku, maka ia adalah madzhabku, dan buanglah perkataanku di belakang tembok,”


4. Mazhab Al-Hanabilah


Didirikan oleh Imam Ahmad bin Hanbal Asy Syaibani . Dilahirkan di Baghdad dan tumbuh besar di sana hingga meninggal pada bulan Rabiul Awal. Beliau memiliki pengalaman perjalanan mencari ilmu di pusat-pusat

ilmu, seperti Kufah, Bashrah, Mekah, Madinah, Yaman, Syam.


Beliau berguru kepada Imam Syafi’i ketika datang ke Baghdad sehingga menjadi mujtahid mutlak mustaqil. Gurunya sangat banyak hingga mencapai ratusan. Ia menguasai sebuah hadis dan menghafalnya sehingga menjadi ahli hadis di zamannya dengan berguru kepada Hasyim bin Basyir bin Abi Hazim Al-Bukhari .


Imam Ahmad adalah seorang pakar hadis dan fiqh. Imam Syafi’i berkata ketika melakukan perjalanan ke Mesir,”Saya keluar dari Baghdad dan tidaklah saya tinggalkan di sana orang yang paling bertakwa dan paling

faqih melebihi Ibnu Hanbal ,”


Dasar madzhab Ahmad adalah Al-Quran, Sunnah, fatwah sahahabat, Ijam’,

Qiyas, Istishab, Maslahah mursalah, saddudzarai’.


Imam Ahmad tidak mengarang satu kitab pun tentang fiqhnya. Namun pengikutnya yang membukukannya madzhabnya dari perkataan, perbuatan, jawaban atas pertanyaan dan lain-lain. Namun beliau mengarang sebuah kitab hadis “Al-Musnad” yang memuat 40.000 lebih hadis.


Beliau memiliki kukuatan hafalan yang kuat. Imam Ahmad menggunakan hadis mursal dan hadis dlaif yang derajatnya meningkat kepada hasan bukan hadis batil atau munkar.


Di antara murid Imam Ahmad adalah Salh bin Ahmad bin Hanbal anak terbesar Imam Ahmad, Abdullah bin Ahmad bin Hanbal . Shalih bin Ahmad lebih menguasai fiqh dan Abdullah bin Ahmad lebih menguasai hadis.


Murid yang adalah Al-Atsram dipanggil Abu Bakr dan nama aslinya; Ahmad bin Muhammad , Abdul Malik bin Abdul Hamid bin Mihran , Abu Bakr Al-Khallal , Abul Qasim yang terakhir ini memiliki banyak karangan tentang fiqh madzhab Ahmad.


Salah satu kitab fiqh madzhab Hanbali adalah “Al-Mughni” karangan Ibnu Qudamah.


Wallahu a’lam bish-shawab,

 wassalamu ‘alaikm warahmatullahi wabarakatuh.