Keutamaan Sepuluh Hari Pertama bulan Dzulhijjah

 


 SEPULUH HARI PERTAMA BULAN DZULHIJJAH

(Musim Amal Teragung dalam Setahun)


1️⃣ Mukadimah (Pembuka Menggugah)

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, yang memuliakan waktu-waktu tertentu melebihi waktu yang lain. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad ﷺ, kepada keluarga beliau, para sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah…
Allah Maha Adil.
Tidak semua hamba diberi umur panjang,
tidak semua diberi harta banyak,
tidak semua diberi kesempatan berhaji.

Maka Allah beri “diskon pahala” lewat waktu-waktu istimewa.
Salah satunya: SEPULUH HARI PERTAMA BULAN DZULHIJJAH.

Kalau Ramadhan itu “bulan training”,
maka Dzulhijjah itu final exam-nya orang beriman 😄


2️⃣ Sumpah Allah atas Keagungan Dzulhijjah (QS Al-Fajr: 1–2)

📖 Dalil Al-Qur’an

وَالْفَجْرِ ۝
وَلَيَالٍ عَشْرٍ

Artinya:
“Demi waktu fajar. Dan demi malam yang sepuluh.”
(QS. Al-Fajr: 1–2)

📝 Ulasan Ulama

  • Ibnu Katsir رحمه الله berkata:

    “Pendapat yang paling kuat, yang dimaksud ‘malam yang sepuluh’ adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.”
    📚 Tafsir Ibnu Katsir

📌 Catatan penting:
Allah bersumpah dengan waktu ini.
Dan Allah tidak bersumpah kecuali dengan sesuatu yang agung.

😄 Humor mimbar:
“Kalau Allah saja sampai bersumpah…
masa kita masih ragu mau amal atau lanjut rebahan?” 😄


3️⃣ Hari-Hari Dzikir yang Ditentukan (QS Al-Hajj: 28)

📖 Dalil

وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ

Artinya:
“Dan agar mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan.”
(QS. Al-Hajj: 28)

📝 Tafsir Salaf

📌 Ini dalil anjuran memperbanyak dzikir: takbir, tahlil, tahmid.


4️⃣ Amal di Dzulhijjah Lebih Dicintai Allah (HR. Bukhari)

📜 Hadis Shahih

مَا الْعَمَلُ فِي أَيَّامٍ أَفْضَلَ مِنْهَا فِي هَذِهِ الْعَشْرِ
قَالُوا: وَلَا الْجِهَادُ؟
قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ، إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ بِشَيْءٍ

Artinya:
“Tidak ada hari-hari di mana amal shalih lebih dicintai Allah daripada sepuluh hari ini.”
Para sahabat bertanya: “Tidak juga jihad?”
Beliau menjawab: “Tidak juga jihad, kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali dengan apa pun.”
(HR. Bukhari)

📝 Penjelasan Ulama

😄 Humor reflektif:
“Kalau amal ringan pahalanya gede…
yang rugi itu cuma satu:
orang yang malas 😄.”


5️⃣ Kesaksian Para Ulama & Salaf

📚 Ibnu Hajar رحمه الله berkata:

“Keistimewaan sepuluh hari Dzulhijjah karena berkumpulnya induk ibadah: shalat, puasa, sedekah, dan haji. Ini tidak terjadi di bulan lain.”
📚 Fathul Bari

📚 Sa‘id bin Jubair رحمه الله

Jika masuk sepuluh hari Dzulhijjah, beliau bersungguh-sungguh sampai batas maksimal, hingga orang-orang berkata: “Hampir-hampir beliau tidak mampu lagi.”
📚 Sunan Ad-Darimi

😄 Humor halus:
“Kalau orang saleh capek ibadah…
kita capek scroll HP 😄
Semoga capeknya bisa ketuker.”


6️⃣ Amalan Utama di Sepuluh Hari Dzulhijjah

🔹 1. Shalat

📜 Rasulullah ﷺ bersabda:

عَلَيْكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ
فَإِنَّكَ لَا تَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلَّا رَفَعَكَ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ خَطِيئَةً

Artinya:
“Perbanyaklah sujud kepada Allah, karena setiap sujud akan mengangkat derajatmu dan menghapus dosa.”
(HR. Muslim)

📌 Berlaku di semua waktu, apalagi di Dzulhijjah.


🔹 2. Puasa (terutama Arafah)

📜 Hadis:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَصُومُ تِسْعَ ذِي الْحِجَّةِ

“Rasulullah ﷺ berpuasa sembilan hari Dzulhijjah.”
(HR. Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i)

📜 Keutamaan Puasa Arafah:

أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهَا وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهَا

Artinya:
“Aku berharap Allah menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.”
(HR. Muslim)

😄 Humor ringan:
“Puasa Arafah itu unik…
sekali lapar,
dua tahun dosa rontok 😄.”


🔹 3. Takbir, Tahlil, Tahmid

📜 Rasulullah ﷺ bersabda:

فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنَ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ

“Perbanyaklah tahlil, takbir, dan tahmid.”
(HR. Ath-Thabrani)

📚 Al-Bukhari meriwayatkan:
Ibnu Umar dan Abu Hurairah bertakbir di pasar, lalu orang-orang mengikutinya.

📌 Takbir dikeraskan oleh laki-laki sebagai syi‘ar Islam.

😄
“Kalau supporter bola teriak di stadion boleh…
masa takbir buat Allah malah malu?” 😄


7️⃣ Hari Nahr & Keutamaan Kurban

📚 Ibnu Qayyim رحمه الله:

“Hari paling mulia di sisi Allah adalah Yaumun Nahr (Idul Adha).”
📚 Zadul Ma‘ad

📜 Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ أَعْظَمَ الْأَيَّامِ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمُ النَّحْرِ

“Sesungguhnya hari paling agung di sisi Allah adalah hari Nahr.”
(HR. Abu Dawud – Shahih)


8️⃣ Penutup Nasehat Menggetarkan

Wahai saudaraku…
Kita sekarang di kampung amal,
besok di kampung hisab.

Hari-hari ini tidak akan kembali.
Dzulhijjah ini belum tentu kita jumpai lagi.

Jangan tunggu tua untuk taat,
jangan tunggu kaya untuk sedekah,
jangan tunggu luang untuk ibadah.


🤲 Doa Penutup Singkat

Allahumma ballighna ‘asyra dzil hijjah, wa a‘inna ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatika.

Perkara Perkara Seputar Bulan Muharram


Perkara-Perkara Seputar
Bulan Muharram

Kita sekarang berada dihadapan bulan dari bulan-bulan Allah al-haram, yang al-Quran menyatakannya tanpa menyebut nama-namanya. Firman Allah r,

¨bÎ) no£Ïã Íqåk9$# yZÏã «!$# $oYøO$# uŽ|³tã #\öky­ Îû É=»tFÅ2 «!$# tPöqtƒ t,n=y{ ÏNºuyJ¡¡9$# šßöF{$#ur !$pk÷]ÏB îpyèt/ör& ×Pããm 4

"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram." (QS.at-Taubah:36)

Sunnah menjelaskan nama-nama tersebut.

Dari Abu Bakroh, bahwa Nabi r berkhutbah ketika haji wada':

" أَلَا إِنَّ الزَّمَان قَدْ اِسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْم خَلَقَ اللَّه السَّمَاوَات وَالْأَرْض ، السَّنَة اِثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَة حُرُم ، ثَلَاثَة مُتَوَالِيَات : ذُو الْقَعْدَة ، وَذُو الْحِجَّة ، وَالْمُحَرَّم ، وَرَجَب مُضَر الَّذِي بَيْن جُمَادَى وَشَعْبَان

"Sesungguhnya zaman telah berputar seperti bentuknya pada hari Allah menciptakan langit dan bumi, dalam setahun ada dua belas bulan. Empat diantaranya adalah bulan haram. Tiga berurutan: Zulkaidah, Zulhijjah, Muharram sedangkan Rajab berada antara Jumada dan Sya'ban." [Hadits riwayat al-Bukhari no.1741. Muslim no.1679]

 

 

 

Puasa pada bulan Allah Muharram

Terdapat anjuran untuk berpuasa di bulan Allah Muharram, karena bulan ini termasuk bulan yang paling utama untuk berpuasa setelah Ramadhan .

1.    Dari Abu Hurairah t, dia berkata, bersabda Rasulullah r,

" ‏أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ ، وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

"Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah Muharram. Dan shalat yang paling utama setelah shalat faridhoh (shalat wajib yang lima waktu) adalah shalat malam." [Hadits riwayat Muslim no.1163)

Imam ad-Daaruquthni di dalam kitab al-Ilzamaat wa at-Tatabbu' hal.209 mencacat hadits ini bahwa ia mursal (terputus). Akan tetapi Imam Abu Haatim dalam kitabnya al-Ilal 1/563,564 no.751 menyatakan ketersambungan hadits ini dengan berkata: "Yang benar adalah tersambung, hamiid (terpuji) dari Abu Hurairah, dari Nabi r.

 

2.    Ali t berkata bahwa dia ditanya oleh seseorang: "Bulan apa yang engkau perintahkan kepadaku untuk aku berpuasa setelah bulan Ramadhan?" Ali menjawab, "Aku belum pernah mendengar seseorang bertanya tentang hal ini selain seorang lelaki yang bertanya kepada Rasulullah r dan aku tengah duduk bersamanya. Laki-laki itu bertanya, "Wahai Rasulullah, "Bulan apa yang engkau perintahkan kepadaku untuk aku berpuasa setelah bulan Ramadhan?" Nabi menjawab, "Jika engkau berpuasa setelah bulan Ramadhan, berpuasalah pada bulan Muharram, karena sesungguhnya ia adalah bulan Allah. Padanya ada hari dimana Allah mengampuni suatu kaum dan ada hari dimana Allah mengampuni kaum-kaum yang lain lagi"."

[Hadits ini dikeluarkan oleh at-Turmudzi no.741 dan Abdullah bin Imam Ahmad di dalam al-Musnad 1/154 dari ayahnya. Al-Haafidz Ibnu Rojab berkata di dalam kitab Lathooif al-Ma'aarif hal.77: "Dalam sanad hadits ini ada pembicaraan."  Syaikh Syu'aib al-Arnauth berkata di dalam kitab Takhrij al-Musnad 2/441 no.1322: "Sanadnya lemah karena kelemahan Abdurrahman bin Ishaq Abi Syaibah dan jahalah (tidak dikenalnya) an-Nu'man bin Sa'd." Dilemahkan pula oleh al-'Alaamah al-Albani di dalam kitab Dhoif at-Tharghib 1/312 no.614]

 

3.    Dari Jundab bin Sufyan al-Bajali, bahwa Nabi r bersabda,

‏أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الَّذِي تَدْعُونَهُ الْمُحَرَّمَ "

"Puasa yang paling utama setelah bulan Ramadhan adalah bulan Allah yang kalian menyebutnya dengan Muharram."

[Hadits ini dikeluarkan oleh an-Nasai dalam kitab al-Kubro no.2916 secara menyendiri, berbeda dengan Ashhab Al-Kutub As-Sittah yang lain. Al-Baihaqi dalam kitab As-Sunan Al-kubro 4/291 mencacat hadits ini karena penyelisihan Abdullah bin Amr ar-Ruqi terhadap jama'ah yang semuanya menjadikan hadits ini dari riwayat Abu Hurairah, dengan komentarnya: "Diriwayatkan oleh Muslim di dalam As-Shahih berasal dari Zuhair bin Harb dari Jarir, tetapi Abdullah bin 'Amr ar-Ruqi menyelisihi mereka di dalam sanad hadits ini. Hal ini diisyaratkan pula oleh al-'Allaamah al-Albani di dalam Shahih at-Targhiib 1/592 dan oleh al-Mazi di dalam kitab at-Tuhfah 2/445; inilah yang benar.]

Al-Haafidz Ibnu Rajab berkata di dalam Lathaif al-Ma'aarif hal.81,82:

"Nabi r telah menamai Muharram sebagai bulan Allah. Penisbatan/penyandarannya kepada Allah menunjukkan kemuliaan dan keutamaa bulan ini. Sesungguhnya Allah tidaklah menyandarkan penyebutan sesuatu kepada-Nya kecuali pada makhluk-makhluk pilihan-Nya, seperti penisbatan Muhammad, Ibrahim, Ishaq, Ya'kub dan selain mereka dari para nabi –shalawat dan salam atas mereka semua- sebagai hamba/abdi-Nya, demikian pula penisbatan rumah dan onta kepada-Nya[1]. Sebagaimana bulan ini memiliki kekhususan penisbatan kepada Allah, puasapun termasuk amal yang dinisbatkan kepada Allah. Dari amalan-amalan yang ada puasa adalah untuk Allah. Allah menisbatkan kekhususan bulan Allah ini dengan amalan yang disandarkan kepada-Nya, terkhusus di bulan ini yaitu puasa.]

 

Masalah pertama

Imam an-Nawawi menjawab mengenai lebih banyaknya Nabi r berpuasa dibulan Sya'ban dibandingkan bulan Muharram.

Imam an-Nawawi berkata di dalam Syarh Muslim 8/55:

Benar bahwa Muharram adalah bulan yang paling utama untuk berpuasa. Telah kami jawab mengapa Nabi r lebih banyak berpuasa pada bulan Sya'ban dibandingkan pada bulan Muharram dengan dua jawaban:

Pertama: Bisa jadi Nabi r mengetahui keutamaannya di akhir hayatnya.

Kedua  : Bisa jadi ketika itu terdapat banyak udzur, baik safar, sakit atau yang lainnya (sehingga tidak dapat berpuasa lebih banyak di bulan Muharram -pent).

 

Masalah kedua:

Jumhur fuqoha dari mazhab Hanafiah, Malikiah dan Syafi'iah berpendapat istihbab (disukai) puasa pada bulan-bulan haram. Mereka berdalil:

Dari Mujbiyyah, dari ayahnya atau pamannya bahwa ia mendatangi Rasulullah r lalu pergi. Setahun kemudian ia kembali lagi mendatangi Nabi r, tetapi keadaan dan penampilannya telah berubah. Diapun berkata, "Wahai Rasulullah, apakah engkau tidak mengenaliku?" Nabi bertanya: "Siapa kamu?" Lelaki itu menjawab: "Aku adalah al-Baahiliy yang datang kepadamu setahun yang lalu." Nabi bertanya kepadanya, "Apa yang telah merubahmu, dulu penampilanmu baik?" Lelaki itu menjawab, "Aku tidak lagi memakan makan setelah meninggalkanmu kecuali pada malam hari." Rasulullah r berkata, "Kenapa engkau siksa dirimu?" lalu melanjutkan "Berpuasalah pada bulan sabar (Ramadhan) dan satu hari dalam setiap bulan." Lelaki itu berkata, "Tambahkan lagi untukku, aku masih kuat!" Nabi berkata, "Perpuasalah dua hari setiap bulan." Lelaki itu berkata lagi, "Tambahkan lagi untukku!" Nabi berkata, "Berpuasalah tiga hari setiap bulan." Lelaki itu berkata lagi, "Tambahkan lagi untukku!" Nabi berkata, "Berpuasalah pada bulan Muharram lalu tinggalkan, berpuasalah pada bulan Muharram lalu tinggalkan, berpuasalah pada bulan Muharram lalu tinggalkan, beliau berkata dengan merapatkan tiga jarinya kemudian merenggangkannya[2]."

[Dikeluarkan oleh Abu Dawud no.2428 dan Ibnu Majah no.1741. Ahmad 5/28]

Al-'Alaamah al-Albani berkata di dalam Tamaamul Minnah hal.413: "Aku katakan, "Sanadnya tidak baik, karena rawinya idhtorob (guncang) dari sisi-sisi yang telah disebutkan oleh al-Haafidz di dalam kitab at-Tahdzib dan sebelumnya oleh al-Mundziri dalam kitab Mukhtashor as-Sunan. Lalu (al-Albani) melanjutkan, "Beda pendapat ini telah terjadi sebagaimana yang engkau lihat. Sebagian syaikh kami mengisyaratkan pendoifan (melemahkan) karena adanya perbedaan pendapat tersebut dan itulah yang disarankan."

Saya (al-Albaani) katakan, "Padanya ada cacat yang lain, yaitu jahalah (ada periwayat yang tidak dikenal) sebagaimana yang saya jelaskan di dalam kitab Dho'if Abi Dawud no.419." –selesai perkataannya-

Telah falid dari Ibnu Umar c (?) bahwa dia berpuasa pada bulan-bulan haram.

1. Dari Ibnu Umar c bahwa dia dahulu berpuasa pada bulan-bulan haram.

     Khabar ini dikeluarkan oleh Abdurrozzak di dalam al-Mushonnaf 4/292 dan sanadnya shahih.

2.  Dari Nafi' bahwa Ibnu Umar hampir-hampir tidak berpuka pada bulan-bulan haram, tidak juga pada bulan-bulan yang lain.

   Dikeluarkan oleh Abdurrozzak di dalam al-Mushonnaf 4/292 dan sanadnya shahih.

     Madzhab Hanabilah berpendapat bahwa disunnahkan berpuasa pada Muharram saja dari bulan-bulan haram. Berdalil dengan hadits Abu Hurairah yang terdapat dalam shahih Muslim di atas.


 

Masalah ketiga:

Syaikh Ibnu Utsaimin berkata di dalam as-Syarh al-Mumti' 6/467: "Dan ulama t berbeda pendapat mana yang lebih utama, puasa pada bulan Muharram atau bulan Sya'ban?"

Sebagian ulama mengatakan, "Puasa pada bulan Sya'ban lebih utama, karena Nabi r berpuasa pada bulan itu kecuali sedikit, dan tidak ada riwayat yang terjaga bahwa beliau berpuasa pada bulan Muharram. Akan tetapi beliau menganjurkan untuk memuasainya dengan sabda Nabi r bahwa 'ia adalah puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan'.

Mereka juga mengatakan: "Karena puasa Sya'ban menduduki kedudukan rootibah[3] sebelum masuk puasa wajib (Ramadhan), sedangkan Muharram hanya menduduki kedudukan puasa sunnah mutlak, kedudukan rootibah tentunya lebih utama dibandingkan sunnah mutlak. Tetapi walau bagaimanapun kedua puasa ini disunnahkan, hanya saja pada Sya'ban tidak melengkapinya (memuasai seluruh hari-harinya). –selesai perkataannya-

 

Masalah keempat:

Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya, terdapat dalam Fatawa beliau 20/22, yang soalnya sebagai berikut:

"Berpuasa pada seluruh hari pada bulan Muharram apakah ada keutamaannya atau tidak? Apakah aku menjadi pelaku bid'ah jika memuasainya?

Syaikh t menjawab sebagai berikut:

"Disunnahkan memuasai seluruh hari-hari bulan Muharram, berdalil sabda Nabi r,

‏أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ

"Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah bulan Allah Muharram."

Akan tetapi, sepengetahuan saya tidak terdapat nas/dalil yang menjelaskan bahwa beliau memuasai seluruh hari-harinya. Puasa yang paling banyak dilakukannya setelah Ramadhan adalah bulan Sya'ban sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadits shahih dari Aisyah ra. Tidak bisa dikatakan kepada orang yang memuasai seluruh hari bulan Muharram sebagai pelaku bid'ah, kerana hadits yang telah disebutkan bisa dimafahami demikian, maksudnya anjuran untuk berpuasa pada seluruh hari-harinya sebagaimana yang disebutkan oleh sebagain ahli fikih." –selesai perkataan syaikh-

 

Masalah kelima:

Ibnu Rajab berkata di dalam Lathoif al-Ma'aarif hal.79,80:

"Ulama telah berbeda pendapat, bulan apakah yang paling utama dari bulan-bulan haram. Al-Hasan dan selainnya mengatakan: 'Yang paling utama adalah bulan Allah Muharram, dan ini dibenarkan oleh ulama muta'akhirin. Sebagian pengikut madzhab Syafi'iah mengklaim bahwa Rajab lebih utama, itu adalah pendapat yang tertolak. Sedangkan yang paling utama dari bulan Allah Muharram itu sendiri adalah sepuluh hari pertamanya. Yaman bin Riaab mengklaim bahwa sepuluh hari yang Allah bersumpah di dalam al-Quran adalah pada bulan ini. Yang benar bahwa sepuluh hari yang Allah bersumpah dengannya adalah sepuluh hari di bulan Zulhijjah."-selesai perkataannya-

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas sebagaimana yang terdapat di dalam Tafsir Ibnu Jarir at-Thobari 12/560 pada firman Allah: وليالِ عشرٍ [wa layaalilin 'asyr'] artinya: "Dan demi malam-malam yang sepuluh." (QS.al-Fajr:2) dia berkata, 'Dikatakan sepuluh ialah awal tahun dari hari-hari di bulan Muharram.

 

Masalah keenam:

Ulama yang menulis mengenai tema Al-Bid'ah al-Muhdatsah (perkara baru yang dibuat-buat dalam agama) mengisyaratkan pada bid'ah menghidupkan malam pertama bulan Muharram. Diantara yang menyebutkan hal itu adalah Abu Syaamah al-Maqdisi di dalam kitab Al-Baa'its 'Ala Inkaril Bida' wa al-Hawaadits hal.121,122, dia berkata:

"Dan dari kebid'ahan-kebid'ahan yang berlangsung di sekolah-sekolah di Damaskus terdapat pada Madrasah az-Zaki Hibatullah bin Rowahah, ketika itu dipimpin oleh syaikh at-Taqiy Rahmatullah. Bermula dari pemberi wakaf Daarul Hadits al-Asyrofiah, Damaskus, ketika memberi wakaf. Dia mensyaratkan kepada semua penghafal al-Quran dari orang-orang yang terlibat disitu untuk menghidupkan lima malam dari tiap-tiap malam setiap tahun, juga malam nisfu Sya'ban, malam dua puluh tujuh Ramadhan, dua malam 'Id ('Idul fitri dan 'Idul Adha), dan malam awal Muharram. Sehingga dia duduk (bermajelis) pada malam-malam itu dan jama'ah mengitarinya. Mereka memperbanyak lampu lilin dan minyak lebih banyak dari malam-malam biasanya, dan hal itu masih saja berlangsung tak berkesudahan.

Ini juga merupakan bid'ah baru. Orang-orang awam dan jahil menyangka bahwa syaikh pemberi fatwa lagi diikuti, yang memperlihatkan kekhusu'an dan ketenangan di atas permintaannya tidaklah mengada-ada malam-malam tersebut dari dirinya, melainkan dengan keyakinan bahwa malam-malam tersebut sama dan sebanding keutamaannya, dan memiliki kelebihan dibandingkan waktu yang lain, serta sunnah memang menunjukkan hal itu. Sehingga makin lama dan waktupun semakin menjauh, terlupakanlah bagaimana permulaannya, perkaranya menjadi menggurita. Tidak heran jika tidak lama lagi akan dibuat hadits-hadits palsu yang dinisbatkan kepada Rasulullah r sebagaimana yang dilakukan pada shalat roghaaib dan nisfu sya'ban. Duhai, bagaimana bisa malam kedua puluh tujuh Ramadhan disetarakan dengan malam pertama Muharram. Aku telah memeriksa atsar-atsar (keterangan-keterangan) yang shahih dan dhaif serta hadits-hadits al-maudhu (hadits palsu), dan tidak aku dapatkan seseorangpun mengatakan hal yang demikian itu. –selesai perkataannya-

 

Ditulis oleh:

Abdullah bin Muhammad Zuqoil

 

 

 

 

 



[1] Rumah Allah seperti Ka'bah atau masjid. Onta Allah adalah mukjizat yang Allah turunkan sebagai ujian bagi kaum Tsamud. Lihat al-Quran surat al-A'raaf:73, Huud:64 dan as-Syams:13.–pent.

[2] Mengisyaratkan dengan tiga jari maksudnya jangan berpuasa terus menerus lebih dari tiga hari, setelah tiga hari berbuka selama satu atau dua hari. Tetapi pendapat yang lebih mendekati kebenaran adalah puasa tiga hari dan berbuka tiga hari. Demikian yang dinukil dari as-Sindi dalam kitab 'Aunul Ma'bud -pent.

[3] Ibadah sunnah yang mengikuti ibadah wajib.

Tawakkal

Tawakkal 

Segala puji hanya bagi Allah, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah saw, dan aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah yang Maha Esa dan tiada sekutu bagiNya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya.. Amma Ba’du.

Di antara ibadah hati yang paling agung adalah bertawakkal kepada Allah Ta’ala dalam segala perkara. Sebagian ahlul ilmi berkata: Tawakkal adalah berpegang teguhnya hati dengan sebenarnya kepada Allah Azza Wa Jalla dalam keyakinan mendatangkan manfaat dan menolak kemudharatan baik dalam perkara-perkara duniawi atau perkara-perkara ukhrawi. Seorang hamba menyerahkan segala urusannya hanya kepada Allah, dan mewujudkan bukti keimanannya itu dengan meyakini bahwa tidak ada yang mampu memberi, tidak ada yang mampu mencegah dan tidak pula memudharatkan serta tidak mampu memberi manfaat kecuali Allah Azza Wa Jalla.[1]

Allah swt berfirman:

وَإِن يَمْسَسْكَ اللّهُ بِضُرٍّ فَلاَ كَاشِفَ لَهُ إِلاَّ هُوَ وَإِن يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدُيرٌ

Jika Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu. QS. Al-An’am: 17

Allah telah memerintahkan  para hambaNya untuk bertawakkal kepada Allah  pada banyak tempat di dalam kitabNya, bahkan disebutkan secara jelas dalam jumlah yang melebihi lima puluh ayat di dalam Al-Qur’an. Allah swt berfirman:

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ وَكَفَى بِهِ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًا

Dan bertawakkallah kepada Allah Yang Hidup (Kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya”. QS. Al-Furqon: 58

قُل لَّن يُصِيبَنَا إِلاَّ مَا كَتَبَ اللّهُ لَنَا هُوَ مَوْلاَنَا وَعَلَى اللّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakkal." QS. Al-Taubah: 51

الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ وَتَوَكَّلْ عَلَى الْعَزِيزِ الرَّحِيم  وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ

Dan bertawakkallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang), dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. QS. Al-Syu’ara: 217-219

Dari Umar bin Al-Khattab ra bahwa Nabi saw bersabda: Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal maka dia pasti memberikan rizki kepada kalian sama Dia telah memberi rizki kepada seekor burung yang pergi pada waktu pagi dengan perut yang kosong dan pulang waktu sorenya dengan perut yang kenyang”.[2]

Ibnu Rajab berkata: Hadits ini sebagai dasar bagi tawakkal dan sebagai sebab yang terbesar untuk mendapatkan rizki. Allah swt berfirman:

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا   وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. QS.Al-Thalaq: 2-3

Hadits Umar ra ini menunjukkan bahwa sesungguhnya manusia diberikan rizki mereka karena sedikitnya rasa tawakkal yang mereka meiliki dan mereka mementingkan sebab-sebab yang lahir dan tenang dengannya, oleh karena itulah mereka  lelah berusaha dalam urusan sebab dan bersungguh-sungguh padanya dengan kesungguhan yang tinggi namun mereka tidak mendapatkan kecuali apa yang telah ditaqdirkan oleh Allah bagi mereka. Seandainya mereka mewujudkan tawakkal ini dengan sebenar-benarnya di dalam hati mereka maka Allah pasti mengalirkan rizki mereka dengan sebab yang paling kecil sebagaimana Allah memberikan rizki kepada burung yang mendpatkan rizkinya hanya dengan pergi pada waktu pagi dan datang pada waktu sore, ini adalah salah satu bentuk pencarian dan usaha namun pencarian dan usaha yang sangat mudah”.[3]

Sebagian ulama salaf berkata: Bertawkkallah kepada Allah niscaya akan dialirkan rizki tanpa lelah dan usaha yang memaksa”.[4]

Sa’id bin Jubair berkata: Bertawakkal kepada Allah mengumpulkan keimanan”.[5]

Ibnul Qoyyim rahimhullah berkata: Bertawakkal kepada Allah adalah sebab yang paling kuat bagi seorang hamba untuk menolak segala gangguan, kezaliman dan keburukan orang lain yang tidak sanggup dihadapi oleh dirinya. Dan dia juga berkata: Tawakkal itua dalah setangah dari agama, dan setengah yang lain adalah inabah (atau kembali) kepada Allah. Maka sesungguhnya agama ini adalah meminta tolong kepada Allah dan  beribadah kepadaNya, bertawakkal adalah bentuk isti’anah (meminta tolong kepada Allah) sementara Inabah adalah bentuk dari ibadah”.[6]

Dari Anas bin Malik ra bahwa Nabi saw bersabda: Apabila seseorang keluar dari rumahnya lalu berkata:

بسم توكلت على الله لا حول ولا قوة إلا بالله

(Dengan menyebut nama Allah, aku berserah diri kepada Allah dan tiada daya dan upaya kecuali dengan Allah). Rasulullah saw bersabda: Dikatakan kepadanya pada saat itu: Engkau telah diberikan petunjuk, telah dipelihara dan dijaga, lalu setanpun akan menjauh darinya, lalu setan yang lain akan berkata kepadanya: Bagiamana engkau bisa memperdaya seorang lelaki yang telah diberi petunjuk, telah dipelihara dan dijaga”.[7]

Dari Ibnu Abbas ra berkata: حسبنا الله ونعم الوكيل  (Cukuplah Allah sebagai Zat yang menjaga dan Dia adalah sebaik-baik tempat untuk bertawakkal), perkataan yang pernah diucapkan oleh Ibrahim alaihis salam pada saat dia dilempar ke dalam api, dan telah diucapkan oleh Muhammad pada saat orang-orang kafir berkata:

إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُواْ لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَاناً وَقَالُواْ حَسْبُنَا اللّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

"Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu karena itu takutlah kepada mereka", maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung."  QS. Ali Imron: 17

Maka Nabi Ibrahim alaihis salam pada saat dia mengatakan: حسبنا الله ونعم الوكيل  maka kesudahannya adalah seperti apa yang difirmankan oleh Allah Azza Wa Jalla:

قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ

Kami berfirman: "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim". QS. Al-Anbiya’: 69

Ketika Muhammad saw mengucapkan: حسبنا الله ونعم الوكيل   maka kesudahannya adalah seperti apa yang difirman oleh Allah Azza Wa Jalla:

فَانقَلَبُواْ بِنِعْمَةٍ مِّنَ اللّهِ وَفَضْلٍ لَّمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ وَاتَّبَعُواْ رِضْوَانَ اللّهِ وَاللّهُ ذُو فَضْلٍ عَظِيمٍ

Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar: QS. Ali Imron: 174

Dan seorang yang beriman dari keluarga fir’aun, ketika kaumnya memperdaya dirinya dia berkata:

وَأُفَوِّضُ أَمْرِي إِلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ  فَوَقَاهُ اللَّهُ سَيِّئَاتِ مَا مَكَرُوا وَحَاقَ بِآلِ فِرْعَوْنَ سُوءُ الْعَذَابِ

Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya". Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Firaun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. QS. Gafir: 44-45

Terdapat satu masalah yang semestinya dipahami oleh seorang muslim dengan pemahaman yang benar, yaitu masalah yang berhubungan dengan penggabungan antara tawakkal dan perwujudan sebab, maka saya jelaskan bahwa:

Pertama: Tawakkal adalah amalan hati dan berpegang teguh kepada Allah dalam mendatangkan kebaikan dan menolak keburukan dalam semua urusan baik dunia dan akherat, adapun sebab maka dia adalah perbuatan nyata anggota badan baik dalam bentuk berusaha mengerjakan atau meninggalkan sesuatu.

Kedua: Sebagian orang ada yang meninggalkan sebab-sebab terwujudnya sesuatu lalu mendakwakan bahwa dirinya bertawakkal, dan di antara mereka juga ada yang bergantung kepada sebab dan berkeyakinan bahwa sesuatu tidak akan sempurna kecuali dengan mengerjakan sebab tersebut, kedua kelompok ini telah menjauhi kebenaran.

         Yang benar bahwa orang bertawakkal yang sebenarnya adalah orang yang menyerahkan segala urusannya kepada Allah kemudian dia melihat, seandainya perkara ini memiliki sebab yang disyari’atkan maka dia segera mengerjakannya sebagai wujud ketundukannya kepada syara’ bukan bergantung kepada sebab dan bukan pula sebagai bentuk ketundukan kepada sebab tersebut, dia hanya sebagai bentuk perwaujudan terhadap perintah syara’, namun jika tidak terdapat sebab-sebab yang disyari’atkan maka dia mencukupkan diri dengan bertwakkal kepada Allah.

Sebagai dasar atas penjelasan di atas asalah apa yang sebutkan di dalam hadits dari Anas ra bahwa seorang lelaki berkata: Wahai Rasulullah apakah saya akan mengikat onta saya kemudian saya bertawakkal atau saya melepaskannya kemudian saya bertawakkal. Rasulullah saw menjawab: Ikatlah kemudian barulah bertawakkal”.[8]

Adapun kelompok yang lain, yaitu kelompok yang menggantungkan hati mereka dengan sebab-sebab, sebenarnya hati mereka sangat lemah dengan penjagaan Allah bagi orang yang bertawakkal kepadaNya, engkau melihat mereka bersungguh sungguh dalam mengerjakan sebab-sebab yang bisa jadi tidak dituntut oleh syari’at dan akal. Mereka salah pada saat berkeyakinan bahwa suatu perkara tidak sempurna kecuali dengan mewujudkan sebab.

Allah swt memberi dan mencegah dengan sebab dan tanpa sebab, dan Allah swt memberitahukan di dalam banyak ayat di dalam AL-Qur’an bahwa bertwakkal kepada Allah sudah cukup bagi seorang hamba.

Allah swt berfirman:

أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ

Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya. QS. Al-Zumar: 36

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. QS.Al-Thalaq: 2-3

وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلًا

dan bertawakkallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pemelihara. QS. Al-Ahzab: 3

Ketahuilah wahai hamba Allah bahwa sesungguhnya bertwakkal adalah  kedudukan yang sangat tinggi yang tidak bisa diraih kesempurnaannya kecuali oleh sedikit orang dari hamba-hamba Allah, dan orang-orang yang bertawakkal kepada Allah adalah wali dan kekasih Allah. Allah swt berfirman:

إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya  QS. Ali Imron: 159

Seandainya seorang hamba benar-benar bertwakkal kepada Allah maka dia tidak membutuhkan orang lain, namun pada saat Allah mengetahui kelemahan manusia maka Dia mensyari’atkan beberapa sebab untuk menyempurnakan makna tawakkal dan itulah wujud dari rahmat Allah dan kasih saying kepada hambaNya.

Maka hendaklah seorang muslim memahami hakekat ini, khususnya saudara-saudara kita yang mencari rizkinya dengan cara yang haram dan syubahat, seperti mereka yang bekerja pada bank-bank riba, berdagang dengan barang-barang yang diharamkan oleh Allah, seperti alat-alat permainan dan barang-barang yang memabukkan, menjual minum-minuman keras, rokok, bermu’amalah dengan bohong, menipu, berkhianat dan culas hanya untuk mengambil harta orang lain dengan cara yang tidak benar. Maka cukuplah bagi orang-orang yang seperti ini hadits Nabi saw yang telah diwahyukan oleh Jibril yang jujur kepada Rasul yang mulia, Nabi Muhammad saw, renungkan dan dengarkanlah hadits ini. Hadits ini mengandung banyak hikmah yang agung.

Dari Abi Umamah ra bahwa Nabi saw bersabda: Sesungguhnya ruh kudus telah meniupkan di dalam jiwaku bahwa satu jiwa tidak akan mati sehingga dia mengambil rizkinya secara sempurna dan menyempurnakan ajal yang telah ditentukan baginya, takulah kepada Allah, bertindak baiklah dalam meminta, dan janganlah keterlambatan datangnya rizki mendorong sesorang untuk menuntutnya dengan cara bermaksiat, sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah tidak akan didapatkan kecuali dengan ketaatan kepada Allah”.[9]

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga, shahabat serta seluruh pengikut beliau.

 

 

 



[1] Jami’ul Ulum wal Hikam: 2/497

[2] Jami’ul Ulum wal Hikam: 2/502

[3] Jami’ul Ulum wal Hikam: 2/502

[3] Jami’ul Ulum wal Hikam: 2/502

[3] Jami’ul Ulum wal Hikam: 2/497

 

[4] Jami’ul Ulum wal Hikam: 2/502

[5] Jami’ul Ulum wal Hikam: 2/497

[6] Tafsir Ibnul Qoyyim, halaman: 587 dan Madarijus salikin: 2/118

[7] Sunan Abi Dawud: 4/325 no: 5095

[8] Sunan Turmudzi: 5/668 no: 2517

[9] Hilyatul Auliya’: 10/27 dan dishahihkan oleh Albani di dalam shahihul jami’is shagir: 1/420 no: 2085

BAHAYA BEGADANG


BAHAYA BEGADANG 

Segala puji hanya bagi Allah, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah, dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah yang Maha Esa dan tiada sekutu bagiNya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya.. Amma Ba’du.

Di antara bencana yang menimpa sebagian besar masyarakat pada zaman sekarang ini adalah begadang sehingga akhir malam.

Dari Abi Barzah Al-Aslami ra bahwa Nabi saw tidak suka tidur sebelum isya’ dan mengobrol setelahnya”.[1]

Al-Hafiz Ibnu Hajar rahimahullah berkata: Sebab tidur sebelum isya’ bisa mengakibatkan seseorang terlambat shalat sehingga keluar waktunya, atau terlambat sampai waktu ikhtiar dan berjaga setelahnya bisa menyebabkan tertidur hingga terlambat melaksanakan shalat subuh atau menyebabkan keterlambatan sampai pada waktu ikhtiar atau terlambat dari qiayamul lail.

Dan Umar Ibnul Khattab ra memukul orang yang suka begadang dan dia mengingatkan: Apakah kalian berjaga pada waktu awal malam dan tidur pada bagian terakhirnya?.[2]

Di antara keburukan begadang adalah:

Pertama: Dapat mengakibatkan keterlambatan menjalankan shalat fajar, sehingga seorang muslim telah menghalangi dirinya dari pahala dan ganjaran Allah dan menjerumuskan diri pada siksa Allah swt. Allah swt berfirman:

 

فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا

Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang buruk) yang menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan. QS. Maryam: 59

وَقُرْآنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا

dan (dirikanlah pula salat) subuh. Sesungguhnya salat subuh itu disaksikan (oleh malaikat QS. Al-Isro’: 78

Dari Jundub bin Abdullah ra bahwa Nabi saw bersabda: "Barangsiapa yang melaksanakan shalat subuh maka dia berada di dalam jaminan Allah, maka jangan sampai salah seorang di antara kalian dituntut oleh Allah dengan sesuatu yang merupakan jamiananNya. Sesungguhnya orang yang dituntut oleh Allah dengan sesuatu yang merupakan jaminanNya maka dia pasti mendapatkan akibatnya kemudian Dia akan mencampakkannya ke dalam neraka Jahannam”.[3]

Dari Umaroh bin Rubiyah ra bahwa Nabi saw bersabda: "Tidak akan masuk neraka orang yang shalat sebelum matahari terbit dan sebelum tenggelamnya”. Maksudnya adalah shalat fajar dan shalat asar.[4]

Kedua: Bisa mengakibatkan seseorang tertidur dari qiyamullail. Allah swt berfirman tentang hamba-hambaNya yang beriman:

كَانُوا قَلِيلًا مِّنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah). QS. Al-Dzariyat: 18

تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ

Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.  QS. Al-Sajdah: 16

Dari Sahl bin Sa’d ra berkata: Jibril mendatangi Nabi saw dan berkata: "Wahai Muhammad hiduplah sekehendakmu sebab engkau mesti mati, dan beramallah sekehendakmu sebab engkau pasti akan dibalas, cintailah siapapun yang engkau kehendaki namun engkau pasti akan meninggalkannya dan ketahuilah bahwa kemuliaan seorang mu’min ada pada qiamul lail dan ketinggiannya pada ketidakbutuhannya kepada manusia”.[5]

Ketiga: Menyia-nyiakan waktu untuk perkara yang tidak ada manfaatnya , dan masalah waktu ini adalah salah satu perkara yang akan ditanya oleh Allah pada hari kiamat. Dari Abi Barzah Al-Aslami  ra bahwa Nabi saw bersabda: "Tidak akan melangkah dua kaki seorang hamba sehingga Allah akan bertanya kepadanya tentang umurnya di manakah dia pergunakan, tentang ilmunya apakah yang dikerjakan dengannya, tentang hartanya dari manakah dia mendapatkannya dan kemanakah disalurkan dan tentang jasadnya untuk apakah dia menghabiskannya”.[6]

Ini bagi orang yang begadang untuk perkara-perkara yang mubah, adapun orang yang begadang untuk perkara yang diharamkan seperti melihat siaran televisi atau membicarakan keburukan orang lain dari kaum muslimin atau kemungkaran lainnya, maka sungguh dia telah menambah keburukan sebelumnya dengan keburukan menyia-nyiakan waktu untuk perkara yang dimurkai oleh Allah swt.

Keempat: Banyak begadang dapat  membahayakan kesehatan. Allah swt berfirman:

أَلَمْ يَرَوْا أَنَّا جَعَلْنَا اللَّيْلَ لِيَسْكُنُوا فِيهِ

“Apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan malam supaya mereka beristirahat padanya…”. QS. Al-Naml: 86

Dan tidur pada permulaan waktu malam adalah kesempatan yang tidak pernah tergantikan, dan para ulama mengecualikan begadang dalam ketaatan, dan padanya terdapat kemaslahatan syar’I seperti beribadah pada waktu malam atau berda’wah menyerukan manusia kepada Allah, memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah yang munkar atau untuk menuntut ilmu syara’ atau begadang bersama tamu atau istri. Aisyah ra berkata: Tidak boleh begadang kecuali untuk tiga hal: Orang yang sholat, pengantin atau musafir. Oleh karena itu seharusnya bagi orang yang beriman untuk segera tidur guna menjalankan sunnah serta menghindarkan diri dari bencana begadang dan keburukannya, dan hendaklah seseorang menjaga adab-adab tidur, seperti tidur dalam keadaan suci, selalu membaca zikir-zikir yang disyari’atkan menjelang tidur dan adab-adab lainnya yang telah disebutkan oleh para ulama.

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga, shahabat serta seluruh pengikut beliau.

 



[1] Shahih Bukhari: 1/195 no: 568

[2] Shahihul Bukhari: 1/195 no: 568

[3] Shahih Muslim: 1/455 no: 657

[4] Shahih Muslim: 1/440 no: 634

5 Mustadrokul Hakim: 4/360/361

 

[6] Sunan Tirmidzi: 4/612 no: 2417

BEBERAPA PELAJARAN YANG DIPETIK DARI FIRMAN ALLAH SWT: " Dan Bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya"

BEBERAPA PELAJARAN YANG DIPETIK DARI FIRMAN ALLAH SWT:

"Dan Bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya"

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Rasulullah SAW, dan aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya kecuali Allah, Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Wa Ba’du:

Dari Sa’d bin Abi Waqqas berkata, "Kami berenam bersama Nabi SAW, lalu orang-orang musyrik berkata: Usirlah orang-orang ini jangan sampai mereka berani terhadap kami. Sa’d bin Waqqas berkata: Dan aku bersama Ibnu Mas’ud, dan seorang lelaki dari Huzail, beserta Bilal dan dua orang namun namanya aku lupa, lalu Rasulullah SAW merasakan sesuatu di dalam dirinya dan hanya Allah yang mengetahui apa yang terjadi, dan beliau membisikkan dirinya dengan perkara tersebut, maka Allah menurunkan firman-Nya:

( Ÿwur ôìÏÜè? ô`tB $uZù=xÿøîr& ¼çmt7ù=s% `tã $tR̍ø.ÏŒ yìt7¨?$#ur çm1uqyd šc%x.ur ¼çnãøBr& $WÛãèù ÇËÑÈ

          28.“…dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya Telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan keadaannya itu melewati batas”.( QS. Al-Kahfi: 28)

Allah Ta’ala memerintahkan kepada Nabi-Nya, Muhammad SAW dan perintah ini umum untuk diri beliau dan umatnya, agar mereka tetap istiqomah bersama orang-orang yang shaleh, bersabar dalam menemani mereka, tetap bersama mereka, terlebih orang-orang yang fakir dan lemah. Dan ayat ini turun tentang mereka, dan duduk bersama mereka akan menjauhkan seseorang dari gemerlapnya dunia dan fitnahnya. Kemudian Allah menyebutkan sifat-sifat mereka yang paling penting, yaitu: Mereka mengisi waktu mereka dengan beribadah kepada Allah sesuai dengan keadaan, mereka tidak menghendaki riya’ dan sum’ah dan tidak pula agar mereka dikatakan: Si fulan qori’ (orang yang pandai membaca) atau si fulan orang yang ahli ibadah atau bertendensi harta duniawi yang mudah sirna, mereka hanya mengharapkan keridhaan Allah. Kemudian Allah SWT melarang mereka menemani ahli dunia, Allah berfirman:

( Ÿwur ß÷ès? x8$uZøŠtã öNåk÷]tã ߃̍è? spoÎ Ío4quŠysø9$# $u÷R9$# (

          28.dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; (QS. Al-Kahfi: 28)

Artinya janganlah engkau beralih guna bersahabat dengan orang-orang selain mereka dari golongan mereka yang mulia atau kaya, sebab hal itu akan menyebabkan hati sibuk dengan urusan-urusan duniawi sehingga bisa melupakan hari akherat.

Syekh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata: "Sesungguhnya hal itu akan menyebabkan hati tergantung dengan dunia, maka fikiran dan bisikan-bisikan hanya tertuju padanya, hati terjauh dari mengingat akherat, sebab sesungguhnya perhiasan dunia begitu mengagumkan bagi orang yang melihatnya, menyihir hati sampai lalai dari berdzikir kepada Allah lalu tenggelam ke dalam kelezatan dan syahwat, akhirnya dia terjebak menyia-nyiakan waktu dan lalai dalam perkaranya, lalu dia akan merugi dengan kerugian yang abadi dan penyesalan yang selama-lamanya”.[1]

Lalu Allah SWT melarang Beliau dengan larangan lain di dalam firman-Nya:

( Ÿwur ôìÏÜè? ô`tB $uZù=xÿøîr& ¼çmt7ù=s% `tã $tR̍ø.ÏŒ

          28.“dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya Telah Kami lalaikan dari mengingati Kami”,

Allah melarang Beliau mentaati orang-orang yang lalai dari mengingat Allah dan mengikuti hawa nafsu mereka, yaitu mereka yang menyia-nyiakan agama mereka. Maka mentaati orang-orang yang sifatnya seperti ini, itulah kerugian yang hakiki di dunia dan akherat. Pelajaran yang bisa dipetik dari ayat ini adalah:

Pertama: Anjuran berbuat sabar. Yang dimaksud dengan bersabar adalah bersabar dalam taat kepada Allah, sebagai ketaatan yang paling tinggi. Allah SWT telah menyebut kata sabar di dalam Al-Qur’an lebih dari sembilan puluh kali pada tempat yang berbeda, disebabkan kedudukannya yang begitu agung. Bahkan di dalam satu ayat disebutkan kata sabar tersebut secara berulang-ulang, sebagaimana disebutkan di dalam firman Allah:

$ygƒr'¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãYtB#uä (#rçŽÉ9ô¹$# (#rãÎ/$|¹ur (#qäÜÎ/#uur (#qà)¨?$#ur ©!$# öNä3ª=yès9 šcqßsÎ=øÿè? ÇËÉÉÈ

          200. Hai orang-orang yang beriman, Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung. (QS. Ali Imron: 200)

Kedua: Dianjurkannya berdzikir kepada Allah dan berdo’a kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.

Syaikh Ibnu Sa’d rahimhullah berkata: "Sebab Allah memuji orang yang melakukannya, dan setiap amal yang pelaksanaannya dipuji oleh Allah SWT menunjukkan bahwa Allah mencintai perbuatan tersebut, sebab Dia memerintahkan dan menganjurkannya”.[2]

Allah SWT berfirman:

ôxÎm7yur ÏôJpt¿2 y7În/u Ÿ@ö6s% Æíqè=èÛ Ä§ôJ¤±9$# Ÿ@ö6s%ur É>rãäóø9$# ÇÌÒÈ

          39.dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya).( QS. Qaf: 39)

Dari Anas bahwa Nabi bersabda: "Aku duduk bersama kaum yang berzikir kepada Allah sejak shalat pagi sehingga matahari terbit lebih aku sukai daripada memerdekakan empat orang budak dari anak Isma’il. Dan aku duduk bersama kaum yang berzikir kepada Allah dari sejak waktu asar sehingga tenggelamnya matahari lebih aku sukai daripada memerdekakan empat orang budak”.[3]

Dari Abi Hurairah ra bahwa Nabi bersabda: Sungguh jika aku mengucapkan:         

                                      سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر

          (Maha Suci Allah, dan segala puji bagi-Nya dan tiada tuhan yang berhak disembah selain Dia, dan Allah Maha Besar) lebih aku sukai dari tempat terbitnya matahari”.[4]

Kedua: Anjuran untuk duduk bersama orang-orang yang shaleh dan baik sekalipun mereka adalah orang-orang yang fakir dan lemah, sebab duduk dengan mereka akan mendatangkan kebaikan yang banyak. Dari Abi Sa’id Al-Khudri R.A bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: Janganlah engkau berteman kecuali dengan orang yang beriman dan janganlah memakan makananmu kecuali orang yang bertakwa”.[5]

Abu Sulaiman Al-Khattabi berkata: "Sesungguhnya Nabi Muhammad SAW memperingatkan dan menghardik kita agar tidak berteman dengan orang yang tidak bertaqwa dan tidak  pula makan bersamanya, sebab makan bersama akan menimbulkan rasa kasih sayang di dalam hati”.[6]

Dari Abi Hurairah R.A bahwa Nabi bersabda: Seseorang beragama seperti agama orang yang ditemaninya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat siapakah yang ditemaninya”.[7]

Seorang penyair berkata:

Janganlah engkau tanya tentang seorang pada dirinya tanyalah siapakah temannya, sebab setiap orang yang berteman dengan temannya saling mempengaruhi

Keempat: Hidup zuhud di dunia dan mengutamakan kehidupan akherat, sebgaimana yang difirmankan oleh Allah SWT:

Ÿwur ¨b£ßJs? y7øt^øtã 4n<Î) $tB $uZ÷è­GtB ÿ¾ÏmÎ/ %[`ºurør& öNåk÷]ÏiB not÷dy Ío4quŠptø:$# $u÷R9$# ôMåks]ÏGøÿuZÏ9 ÏÏù 4 ä-øÍur y7În/u ׎öyz 4s+ö/r&ur ÇÊÌÊÈ

          131. Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami jadikan cobaan mereka dengannya. dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal. (QS. Thaha; 131)

Allah SWT berfirman:

Iwöqs9ur br& tbqä3tƒ â¨$¨Z9$# Zp¨Bé& ZoyÏmºur $oYù=yèyf©9 `yJÏ9 ãàÿõ3tƒ ÇuH÷q§9$$Î/ öNÍkÌEqãç6Ï9 $Zÿà)ß `ÏiB 7pžÒÏù ylÍ‘$yètBur $pköŽn=tæ tbrãygôàtƒ ÇÌÌÈ öNÍkÌEqãç6Ï9ur $\/ºuqö/r& #·çŽß ur $pköŽn=tæ šcqä«Å3­Gtƒ ÇÌÍÈ $]ùã÷zãur 4 bÎ)ur @à2 y7ÏsŒ $£Js9 ßì»tFtB Ío4quŠptø:$# $u÷R9$# 4 äotÅzFy$#ur yYÏã y7În/u tûüÉ)­FßJù=Ï9 ÇÌÎÈ

          33.Dan sekiranya bukan karena hendak menghindari manusia menjadi umat yang satu (dalam kekafiran), tentulah Kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada Tuhan yang Maha Pemurah loteng- loteng perak bagi rumah mereka dan (juga) tangga-tangga (perak) yang mereka menaikinya.

34. Dan (Kami buatkan pula) pintu-pintu (perak) bagi rumah-rumah mereka dan (begitu pula) dipan-dipan yang mereka bertelekan atasnya.

35. Dan (Kami buatkan pula) perhiasan-perhiasan (dari emas untuk mereka). dan semuanya itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia, dan kehidupan akhirat itu di sisi Tuhanmu adalah bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Zukhruf: 33-35)

Kelima: Anjuran untuk selalu ikhlas hanya untuk Allah semata. Di dalam ayat yang lain Allah SWT menyebutkan sifat  para hamba-Nya yang shaleh, di mana para  hamba yang selalu mengharap keridhoan Allah, bukan riya dan suma’ah, sebagaimana firman Allah SWT:

$oÿ©VÎ) ö/ä3ãKÏèôÜçR Ïmô_uqÏ9 «!$# Ÿw ߃̍çR óOä3ZÏB [ä!#ty_ Ÿwur #·qä3ä© ÇÒÈ

9.Sesungguhnya Kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, Kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. (QS. Al-Insan: 9)

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam dan shalawat serta salam kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarga dan para shahabatnya.

 

 

 



[1] Taesirul karimurahman fi tafsir kalmail mannan: hal: 425

[2] Tafsir Ibnu Sa’di: hal: 425

[3] Sunan Abi Dawud: 3/324 no: 3667

[4] Shahih Muslim: 4/2072 no: 2695

[5] Sunan Abu Dawud: 4/259 no: 4833

[6] Syarhus Sunnah., AL-Bagawi: 13/69

[7] Sunan Abi Dawud: 4/259 no: 4833