๐ KHUTBAH ‘IDUL FITRI
“Ramadhan Telah Pergi… Apakah Kita Ikut Pergi Bersamanya?”
๐ KHUTBAH PERTAMA
ุงููู ุฃูุจุฑ ุงููู ุฃูุจุฑ ุงููู ุฃูุจุฑ
ุงููู ุฃูุจุฑ ุงููู ุฃูุจุฑ ุงููู ุฃูุจุฑ
ุงููู ุฃูุจุฑ ูุจูุฑุง ูุงูุญู
ุฏ ููู ูุซูุฑุง ูุณุจุญุงู ุงููู ุจูุฑุฉ ูุฃุตููุง
ุงูุญู ุฏ ููู ุงูุฐู ุจูุบูุง ุฑู ุถุงู ูุฃุนุงููุง ุนูู ุตูุงู ู ูููุงู ู ูุฌุนู ููุง ููู ุงููุทุฑ ุนูุฏุง ููุฑุญุง ูุณุฑูุฑุง.
ุฃู ุง ุจุนุฏ، ููุง ุนุจุงุฏ ุงููู ุงุชููุง ุงููู ุญู ุชูุงุชู ููุง ุชู ูุชู ุฅูุง ูุฃูุชู ู ุณูู ูู.
๐ BAGIAN 1 – GELOMBANG TAKBIR DAN AIR MATA PERPISAHAN
Jamaah Idul Fitri rahimakumullah…
Tadi malam langit kita bergetar oleh takbir…
Anak-anak bertakbir… orang tua bertakbir… masjid dan mushalla menggema…
Tapi pernahkah kita bertanya…
Apakah hati kita ikut bertakbir… atau hanya lisan kita?
Allah berfirman dalam Al-Qur'an:
َِููุชَُูุจِّุฑُูุง ุงََّููู ุนََٰูู ู َุง َูุฏَุงُูู ْ ََููุนََُّููู ْ ุชَุดُْูุฑَُูู
“Agar kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya dan agar kalian bersyukur.” (QS Al-Baqarah: 185)
Takbir bukan sekadar suara.
Takbir adalah deklarasi:
Allah lebih besar dari jabatan kita.
Allah lebih besar dari kekayaan kita.
Allah lebih besar dari ego dan hawa nafsu kita.
Allahu Akbar…!
Ramadhan telah pergi…
Ia datang seperti tamu agung…
Ia mengajarkan lapar… sabar… sujud panjang di malam hari…
Lalu ia pergi…
Dan pertanyaannya sekarang:
Apakah kita lulus dari madrasah Ramadhan…
Atau hanya sekadar hadir tanpa perubahan?
๐ BAGIAN 2 – TURUN KE DASAR HATI: SIAPA KITA TANPA ALLAH?
Jamaah yang dimuliakan Allah…
Dua puluh sembilan atau tiga puluh hari kita menahan lapar.
Kini kita makan kembali…
Tapi apakah kita ingat rasa lapar itu?
Ramadhan mengajarkan kita:
Tidak semua orang pernah kenyang…
Tidak semua orang mampu berbuka dengan tenang…
Apakah setelah Ramadhan kita masih peduli kepada fakir miskin?
Ataukah zakat fitrah hanya formalitas?
Rasulullah ๏ทบ bersabda dalam Sahih Muslim:
ู َุง ََููุตَุชْ ุตَุฏََูุฉٌ ู ِْู ู َุงٍู
“Sedekah tidak akan mengurangi harta.”
Tetapi mengapa kita masih takut memberi?
Allahu Akbar…!
Bukankah kita ini lemah?
Jantung berdetak tanpa izin kita.
Nafas keluar masuk bukan atas kuasa kita.
Lalu mengapa kita masih sombong?
๐ฅ BAGIAN 3 – PUNCAK EMOSI: JIHAD MELAWAN DIRI SENDIRI
Saudaraku…
Musuh terbesar kita bukan tetangga…
Bukan rekan kerja…
Bukan kelompok lain…
Musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri.
Rasulullah ๏ทบ bersabda:
ุงْูู ُุฌَุงِูุฏُ ู َْู ุฌَุงَูุฏَ َْููุณَُู ِูู ุทَุงุนَุฉِ ุงَِّููู
“Mujahid adalah orang yang berjihad melawan dirinya dalam ketaatan kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)
Berapa banyak yang menang melawan orang lain…
Tapi kalah melawan nafsunya sendiri?
Ramadhan mengikat setan…
Tetapi setelah Ramadhan…
Jika maksiat kembali hidup…
Berarti siapa setan kita sekarang?
Allahu Akbar… Allahu Akbar…!
Allah berfirman:
َูุฏْ ุฃََْููุญَ ู َْู ุฒََّูุงَูุง ََููุฏْ ุฎَุงุจَ ู َْู ุฏَุณَّุงَูุง
“Sungguh beruntung yang mensucikan jiwanya dan sungguh rugi yang mengotorinya.” (QS Asy-Syams: 9-10)
Hari ini kita pakai baju baru…
Tapi apakah hati kita juga baru?
๐ค BAGIAN 4 – PESAN SOSIAL YANG MENGGETARKAN
Jamaah yang berbahagia…
Ramadhan menyatukan yang kaya dan yang miskin.
Di hadapan Allah, kita sama…
Yang membedakan hanya takwa.
Allah berfirman:
ุฅَِّู ุฃَْูุฑَู َُูู ْ ุนِูุฏَ ุงَِّููู ุฃَุชَْูุงُูู ْ
“Yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS Al-Hujurat: 13)
Hari ini kita saling memaafkan…
Tetapi apakah benar-benar dari hati?
Maaf bukan sekadar ucapan…
Maaf adalah melepaskan dendam yang kita pelihara bertahun-tahun.
Allahu Akbar…!
๐ค PENUTUP KHUTBAH PERTAMA
َูุฃَู َّุง ู َْู ุฎَุงَู ู ََูุงู َ ุฑَุจِِّู َََูููู ุงَّْูููุณَ ุนَِู ุงََْٰูููู َูุฅَِّู ุงْูุฌََّูุฉَ َِูู ุงْูู َุฃَْٰูู
(QS An-Nazi’at: 40-41)
ุฃููู ูููู ูุฐุง ูุฃุณุชุบูุฑ ุงููู ูู ูููู .
๐ KHUTBAH KEDUA
ุงููู ุฃูุจุฑ ุงููู ุฃูุจุฑ ุงููู ุฃูุจุฑ ูููู ุงูุญู ุฏ
ุงูุญู ุฏ ููู ุญู ุฏ ุงูุดุงูุฑูู...
๐ง BAGIAN 5 – TURUN KE HATI YANG PALING DALAM
Saudaraku…
Jika Ramadhan adalah cermin…
Apa yang kita lihat?
Apakah kita lebih rajin shalat?
Apakah lisan kita lebih bersih?
Apakah mata kita lebih terjaga?
Atau setelah Ramadhan… kita kembali seperti dulu?
Ibn Rajab dalam Lathรข’if al-Ma’รขrif berkata:
“Tanda diterimanya amal adalah istiqamah setelahnya.”
Jangan sampai Ramadhan hanya menjadi kenangan…
Dan kita kembali tenggelam dalam dunia…
๐คฒ DOA
Mari tundukkan kepala…
Angkat tangan kita…
Ya Allah…
Kami malu ya Allah…
Ramadhan pergi…
Dan kami tidak tahu apakah Engkau menerima amal kami…
Ya Allah…
Jika shalat kami penuh kelalaian… ampuni…
Jika puasa kami penuh kekurangan… maafkan…
Jika sedekah kami bercampur riya… bersihkan ya Allah…
Ya Allah…
Jangan Engkau jadikan hari ini sebagai akhir pertemuan kami dengan Ramadhan…
Panjangkan umur kami dalam ketaatan…
Ya Allah…
Lunakkan hati kami yang keras…
Hapuskan dendam dalam dada kami…
Satukan umat ini dalam kasih sayang…
Ya Allah…
Ampuni kedua orang tua kami…
Guru-guru kami…
Saudara-saudara kami…
Yang hidup maupun yang telah wafat…
Ya Allah…
Selamatkan negeri kami…
Berikan pemimpin yang adil dan takut kepada-Mu…
Jauhkan kami dari fitnah dan perpecahan…
Ya Allah…
Jadikan kematian kami husnul khatimah…
Pertemukan kami kembali di surga-Mu…
ุฑَุจََّูุง ุขุชَِูุง ِูู ุงูุฏَُّْููุง ุญَุณََูุฉً َِููู ุงْูุขุฎِุฑَุฉِ ุญَุณََูุฉً ََِูููุง ุนَุฐَุงุจَ ุงَّููุงุฑِ
๐ PENUTUP
ุงููู ุฃูุจุฑ ุงููู ุฃูุจุฑ ุงููู ุฃูุจุฑ
ูุง ุฅูู ุฅูุง ุงููู ูุงููู ุฃูุจุฑ
ุงููู ุฃูุจุฑ ูููู ุงูุญู
ุฏ
ุชูุจู ุงููู ู
ูุง ูู
ููู
ูู ุนุงู
ูุฃูุชู
ุจุฎูุฑ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar