Kesabaran Nabi, Kekuatan Allah, dan Kebenaran Risalah


“Kesabaran Nabi, Kekuatan Allah, dan Kebenaran Risalah”


🟢 PEMBUKAAN

Alhamdulillāhi Rabbil ‘ālamīn…
Segala puji bagi Allah yang Maha Mengetahui yang gaib, Maha Melindungi hamba-Nya yang taat, dan Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ,
yang disangka tukang tenung, gila, bahkan penyair, tetapi Allah melindungi beliau dan menegakkan kebenaran risalah-Nya.

Hari ini kita akan membahas keimanan, tipu daya orang kafir, kesabaran nabi, dan amalan tasbih yang membangun hati, dengan humor ringan supaya jamaah tetap terhibur tapi tidak lalai.


🟢 PENGETAHUAN GAIB DAN TIPU DAYA ORANG KAFIR 

أَمْ عِندَهُمُ الْغَيْبُ فَهُمْ يَكْتُبُونَ
“Apakah ada pada sisi mereka pengetahuan tentang yang gaib, lalu mereka menuliskannya?”

  • Orang kafir mengira mereka bisa menandingi Nabi ﷺ dalam masalah hari kiamat dan urusan akhirat.
  • Kenyataannya, mereka tidak mengetahui apa pun, hanya dugaan.

أَمْ يُرِيدُونَ كَيْدًا
“Ataukah mereka hendak melakukan tipu daya terhadapmu?”

  • Allah menunjukkan bahwa tipu daya itu justru akan menimpa mereka sendiri.
  • Contoh nyata: Peristiwa Badar, mereka merencanakan makar, tetapi Allah membalas dan memenangkan kaum Muslim.

Komentar ulama:

  • Al-Qurtubi: Ini pelajaran bagi kita bahwa tipu daya orang kafir tidak akan pernah berhasil atas hamba yang dilindungi Allah.
  • Ibnu Katsir: Sejarah perang Badar menunjukkan manifestasi nyata pertolongan Allah terhadap Rasul-Nya.

Humor ringan:
Bayangkan kalau sekarang…
orang kafir bikin grup WhatsApp rahasia buat menjatuhkanmu…
tapi Allah tuh kayak admin super: “Eh, maaf semua… saya backup semua rencana kalian, terus saya hapus file kalian. Bye-bye!” 😂


🟢 MENYEMBAH ALLAH SAJA DAN AZAB MEREKA 

أَمْ لَهُمُ إِلَٰهٌ غَيْرُ اللَّهِ
“Apakah mereka mempunyai tuhan selain Allah?”

  • Berhala yang mereka sembah sama sekali tidak mampu menolong mereka, dan Allah Maha Suci dari apa yang mereka persekutukan.

وَيَوْمَ لَا يُغْنِي عَنْهُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا وَلَا هُمْ يُنصَرُونَ
“Pada hari itu tipu daya mereka sama sekali tidak berguna dan mereka tidak ditolong.”

  • Ketika datang hari pembalasan, tidak ada bantuan yang bisa menyelamatkan.

Komentar ulama:

  • Al-Suyuthi: Ayat ini mengajarkan bahwa segala tipu daya dan kesombongan di dunia tidak akan memberi manfaat saat dihadapkan pada kekuasaan Allah.

Humor ringan:
Jamaah… bayangkan kalau mereka nungguin Netflix supaya bisa selamat…
Eh, Allah bilang: “Maaf, series kamu buffering selamanya!” 🤣


🟢 AZAB DUNIA DAN PERANG BADAR 

وَإِنَّ لِلَّذِينَ ظَلَمُوا عَذَابًا دُونَ ذَلِكَ فِي الدُّنْيَا
“Sesungguhnya bagi orang-orang yang lalim ada azab di dunia sebelum akhirat.”

  • Kelaparan dan kekeringan selama tujuh tahun, dan pembunuhan di perang Badar.
  • Kebanyakan mereka tidak menyadari bahwa azab itu akan menimpa mereka.

Dalil Sunnah:

“Sesungguhnya orang yang melampaui batas akan disiksa di dunia sebelum disiksa di akhirat.” (HR. Ahmad)

Humor ringan:
Kalau di dunia mereka lapar karena nggak punya nasi…
di akhirat, Allah kasih mereka buffet all-you-can-eat… tapi kalau masih kafir, kursi makan nggak kebagian! 😂


🟢 KESABARAN NABI DAN TASBIH

وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ
“Bersabarlah terhadap ketetapan Rabb-mu.”

  • Nabi ﷺ diberi pengawasan dan perlindungan Allah, meski orang kafir merencanakan makar.
  • Kesabaran adalah kunci menghadapi fitnah dan cobaan.

وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ
“Bertasbihlah dengan memuji Rabb-mu.”

  • Bisa dilakukan ketika bangun tidur, dari majelis, atau malam hari setelah bintang terbenam.
  • Membaca:
    سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ
    “Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya.”

Komentar ulama:

  • Al-Qurtubi: Tasbih ini menenangkan hati, menguatkan iman, dan menjaga Rasul ﷺ dari rasa gelisah.
  • Al-Suyuthi: Bertasbih di malam hari termasuk ibadah yang paling afdhal karena sunyi, tenang, dan menambah pahala.

Humor ringan:
Jamaah… bertasbih itu gampang banget…
bayangkan kalau setiap “Subhaanallah” itu kayak klik tombol like…
dalam sehari kita bisa jadi influencer surga! 😆


🟢  DOA 

Allāhumma…

  • Ampuni dosa kami, rahmati kami, dan lindungi kami dari tipu daya orang kafir.
  • Jadikan kami termasuk orang yang sabar, bertasbih, dan menyebarkan kebenaran risalah-Mu.
  • Limpahkan kepada kami keimanan yang teguh, anak cucu shalih, dan surga-Mu yang penuh nikmat.

Āmīn… Āmīn… Āmīn…


📚 KITAB RUJUKAN

  1. Al-Qur’an Tafsir Al-Qurtubi
  2. Tafsir Ibnu Katsir
  3. Tafsir Al-Suyuthi
  4. HR. Bukhari & Muslim – Fitrah anak dan pendidikan iman
  5. HR. Ahmad – Siksaan orang yang melampaui batas di dunia


Keimanan, Generasi Shalih, dan Kebenaran Risalah

“Keimanan, Generasi Shalih, dan Kebenaran Risalah”


🟢 PEMBUKAAN 

Alhamdulillāhi Rabbil ‘ālamīn…
Segala puji bagi Allah yang telah memberi kita hati yang masih bisa beriman,
waktu yang masih bisa kita gunakan untuk memperbaiki diri,
dan keluarga yang bisa kita doakan kebaikannya.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ,
yang berdakwah bukan untuk popularitas, tapi menyelamatkan manusia dari neraka dan membimbing ke surga.

Hari ini kita akan membahas ayat-ayat yang menekankan keimanan, pahala anak shalih, dan kekuatan risalah Allah,
dengan humor ringan supaya hati tetap terhibur tapi tidak lalai.


🟢 KEIMANAN DAN ANAK CUCU SHALIH 

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعْنَاهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ
“Dan orang-orang yang beriman, dan Kami ikuti mereka dengan anak-cucu mereka dalam keimanan…”

Makna:

  • Keturunan orang beriman yang shalih akan ikut dimasukkan ke surga sebagai kehormatan bagi orang tua mereka.
  • Bahkan jika anaknya belum melakukan amal, mereka tetap dihormati.

Komentar ulama:

  • Al-Qurtubi: Ini adalah bentuk rahmat Allah yang besar terhadap orang tua shalih.
  • Ibn Katsir: Anak-anak orang beriman yang masih kecil akan tetap bersama orang tuanya sebagai karunia dan kehormatan.

Dalil sunnah:

“Setiap anak yang lahir itu dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari & Muslim)
Artinya, pendidikan dan teladan orang tua sangat menentukan iman anak.

Humor ringan:
Jamaah… bayangkan kalau orang tua shalih itu kayak influencer surga.
Anak-anaknya pun otomatis dapet follower bonus di surga, nggak perlu beli followers!


🟢 NIKMAT SURGA UNTUK ORANG BERIMAN

وَأَمْدَدْنَاهُم بِفَاكِهَةٍ وَلَحْمٍ مِّمَّا يَشْتَهُونَ
“Dan Kami beri mereka dari buah-buahan dan daging yang mereka inginkan, walaupun mereka tidak memintanya.”

Makna:

  • Allah memberi lebih dari yang diminta.
  • Surga penuh dengan nikmat yang tidak bisa kita bayangkan di dunia.

وَيَتَنَازَعُونَ فِيهَا كَأْسًا
“Mereka saling memberi piala di surga yang tidak menimbulkan dosa maupun kata yang sia-sia.”

Komentar ulama:

  • Al-Suyuthi: Ini menunjukkan bahwa di surga, interaksi tetap menyenangkan, tanpa ego atau fitnah.

Humor ringan:
Kalau di dunia, rebut minuman bisa bikin ribut…
di surga, rebut piala tanpa drama, nggak perlu antre di Starbucks!

وَيَطُوفُ عَلَيْهِمْ غِلْمَانٌ لُّؤْلُؤٌ مَّكْنُونٌ
“Dan berkeliling di sekitar mereka anak-anak muda bagaikan mutiara tersimpan.”

  • Mereka dilayani dengan sempurna, semua bersih, sopan, dan menawan.
  • Bayangkan… pelayan di surga lebih manis daripada customer service paling ramah yang pernah kamu temui di dunia.

🟢  KEHIDUPAN DUNIA VS AKHIRAT 

وَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ
“Dan sebagian mereka menghadap sebagian lain, saling bertanya tentang amal mereka di dunia.”

  • Mereka saling mengingatkan: “Waktu itu kita takut azab Allah, sekarang lihat nikmat-Nya.”
  • Allah memberi ganjaran yang sesuai dengan ketakutan dan usaha mereka di dunia.

فَمِنَ اللَّهِ عَلَيْنَا
“Maka Allah memberikan karunia kepada kami, ampunan dan memelihara kami dari azab.”

Dalil sunnah:

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS At-Talaq: 2–3)

Humor ringan:
Kalau di dunia, kita takut membayar pajak, tapi di surga…
pembayaran pahala kita langsung otomatis masuk rekening surga, tanpa ATM, tanpa queue, dan tanpa Wi-Fi lemot!


🟢 TUDUHAN ORANG KAFIR DAN KEBESARAN RASUL 

فَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَىٰ تَنفَعُ الْمُؤْمِنِينَ
“Maka tetaplah memberi peringatan, karena peringatan bermanfaat bagi orang-orang beriman.”

  • Nabi ﷺ disangka tukang tenung, gila, atau penyair.
  • Umat terdahulu pun sama: mendustakan rasul.

Maksud:

  • Jangan takut dikatakan aneh saat menegakkan kebenaran.
  • Kebenaran tidak perlu dilihat orang untuk menjadi benar.

Humor ringan:
Kalau zaman sekarang…
Rasul ﷺ bisa viral di TikTok karena dianggap “konten kreator agama”, tapi dia tetap sabar dan berdakwah.


🟢 BUKTI KEESAAAN ALLAH DAN PENCIPTAAN

أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ
“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu ataukah mereka yang menciptakan diri sendiri?”

  • Tidak mungkin makhluk tanpa pencipta.
  • Allah adalah satu-satunya pencipta, Maha Esa, Maha Kuasa.

وَأَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ
“Ataukah mereka yang menciptakan langit dan bumi?”

  • Tiada yang mampu selain Allah.
  • Kesombongan dan keengganan beriman menunjukkan kepicikan akal manusia ketika menolak kebenaran.

Humor ringan:
Kalau ada yang bilang, “Ah, aku bisa bikin planet sendiri…”
inget, bikin gelas kopi panas di microwave saja bisa tumpah… apalagi bikin bumi, langit, dan manusia!


🟢 DOA 

Allāhumma…
ampuni kami, rahmati kami, dan jauhkan kami dari dosa yang menjerumuskan.

Ya Allah…
jadikan kami termasuk orang yang iman, taat, dan mendidik anak cucu kami dalam iman.

Ya Allah…
selamatkan kami dari tuduhan orang kafir yang lalai, dari azab, dan dari siksa api neraka.

Ya Rabb…
jangan jadikan kami seperti orang yang mengetahui kebenaran tapi enggan beramal.

Āmīn… Āmīn… Āmīn…



Jangan Main-main dengan Azab, Raih Surga dengan Taat

“Jangan Main-main dengan Azab, Raih Surga dengan Taat”


🟢 PEMBUKAAN 

Alhamdulillāhi Rabbil ‘ālamīn…
Segala puji bagi Allah yang memberi kita kesempatan hidup,
menghirup udara tanpa bayar listrik, dan masih memberi kita waktu untuk memperbaiki diri.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ,
yang berdakwah bukan untuk popularitas, tetapi untuk menyelamatkan kita dari neraka dan membimbing ke surga.

Jamaah yang dimuliakan…
hari ini kita akan membahas ayat-ayat yang mengguncang hati,
yang membuat kita sadar:
hidup bukan sekadar main-main, azab itu nyata, surga itu menanti yang bertakwa.


🟢 DEMI BUKIT THUR, KITAB, DAN BAITULMAKMUR

Allah berfirman:

وَالطُّورِ
“Demi Thur (bukit)…”

Jamaah… Thur adalah bukit tempat Allah berbicara langsung kepada Nabi Musa ﷺ.
Bayangkan… bukit pun menjadi saksi wahyu Allah.
Kalau bukit bisa taat, bagaimana dengan hati kita yang sering lalai?

وَكِتَابٍ مَّسْطُورٍ
“Dan demi kitab yang tertulis…”

Kitab ini, Al-Qur’an, adalah lembaran terbuka untuk kita baca, renungkan, dan amalkan.
Tidak perlu “kode rahasia” untuk pahala, cukup baca, fahami, amalkan.

وَالْبَيْتِ الْمَعْمُورِ
“Dan demi Baitulmakmur…”

Jamaah… bayangkan, di langit ada Baitulmakmur, setiap hari 70.000 malaikat beribadah,
tidak kembali lagi… seperti kita yang hanya menunda taubat.

[Humor ringan]
Kalau malaikat saja tidak balik… coba bayangkan kalau kita menunda shalat,
bisa-bisa malaikat kita bolos kerja!


🟢 LANGIT, LAUT, DAN AZAB ALLAH 

وَالسَّقْفِ الْمَرْفُوعِ
“Dan demi atap yang ditinggikan (langit)…”

وَالْبَحْرِ الْمَسْجُورِ
“Dan demi laut yang penuh…”

Semua ciptaan ini menunjukkan kekuasaan Allah.
Saat Allah berkehendak, langit, laut, gunung… semua taat dan patuh.

إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ لَوَاقِعٌ
“Sesungguhnya azab Rabbmu pasti terjadi.”

Jamaah… tidak ada yang bisa menolaknya.
Kalau Allah memutuskan azab…
bukan undangan pesta, tapi kejadian nyata.

يَوْمَ تَمُورُ السَّمَاءُ مَوْرًا
“Pada hari ketika langit benar-benar berguncang…”

Gunung-gunung pun akan menjadi debu beterbangan,
dan manusia yang lalai akan terseret tanpa daya.

[Humor]
Jadi kalau ada yang bilang, “Ah Kiamat jauh, santai aja…”
Bayangkan… gunung aja bisa beterbangan, rumah kita apalagi… bisa jadi bed cover hancur!


🟢 ORANG YANG MENDUSTAKAN DAN DORONGAN KE NERAKA

فَوَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِّلْمُكَذِّبِينَ
“Maka kecelakaan yang besar bagi orang-orang yang mendustakan.”

الَّذِينَ هُمْ فِي خَوْضٍ يَلْعَبُونَ
“Yaitu orang-orang yang sibuk dengan kebatilan.”

Jamaah… banyak orang hari ini sibuk dengan dunia,
main gadget, gosip, tapi sibuknya terhadap dosa.

يَوْمَ يُدْعَوْنَ إِلَىٰ نَارِ جَهَنَّمَ
“Pada hari mereka didorong ke neraka dengan sekuat-kuatnya.”

Tidak ada yang bisa menolong… tidak ada tombol escape.
Allah berfirman:

هَذِهِ النَّارُ الَّتِي كُنتُمْ بِهَا تُكَذِّبُونَ
“Inilah neraka yang dahulu kalian selalu dustakan.”


🟢  ORANG BERIMAN DAN NIKMAT SURGA 

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَعِيمٍ
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di surga dan kenikmatan.”

فَاكِهِينَ بِمَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ
“Mereka bersuka ria dengan apa yang diberikan Allah kepada mereka.”

Mereka makan, minum, bertelekan, kawin, bahagia… semuanya dengan izin Allah.
Bayangkan, bidadari yang cantik, minuman lezat, ketenangan abadi…
dan kita di dunia, kadang rebut kursi di mall saja belum tentu sabar.

كلوا واشربوا هنيئا بما كنتم تعملون
“Makan dan minumlah dengan enak sebagai balasan dari apa yang kalian kerjakan.”

[Humor ringan]
Kalau di dunia kita ribut rebut diskonan… di surga…
mereka duduk santai, tidak rebut diskon, tidak takut kehabisan, dan tidak perlu antre di kasir.


🟢 BERUBAH SEBELUM TERLAMBAT

فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ
“Maka larilah kalian kepada Allah.”

Lari dari dosa…
lari ke istighfar, shalat, taubat…
Sebelum datang hari ketika langit berguncang, gunung beterbangan, dan manusia tidak punya daya.

Imam Al-Qurtubi berkata:

“Ayat ini adalah peringatan keras: bertobatlah sebelum azab menimpa.”

[Humor sadar diri]
Kalau hari ini kita tidak lari,
besok larinya pakai tiket kelas ekonomi saja…
dan neraka tidak ada promo.


🕯️ DOA 

Allāhumma…
kami datang malam ini… membawa dosa…
dan harapan hanya kepada-Mu.

Ya Allah…
jika Engkau buka aib kami, kami tidak sanggup.
Ampuni kami…
selamatkan kami dari azab yang tidak bisa ditunda.

Ya Allah…
larikan kami kepada-Mu…
sebelum kami dipaksa lari menuju kematian.

Rabbanaa… taqabbal minnā…
innaka Antas-Samī‘ul ‘Alīm…

Āmīn… Āmīn… Āmīn…



Nasihat Harian dari Bab Al-Mawā’izh



Nasihat Harian dari Bab Al-Mawā’izh

  1. Hidup di Dunia Sementara

    • Dunia itu indah dan manis, tetapi kita hanyalah khalifah di dalamnya. Perhatikan setiap amal kita dan bertakwalah kepada Allah dalam urusan dunia.
    • “Tidak ada yang tersisa dari dunia ini selain seperti sisa matahari yang akan segera terbenam.”
  2. Bertakwa dan Hati-hati terhadap Godaan

    • Bertakwalah kepada Allah dan waspada terhadap hawa nafsu, termasuk godaan wanita dan kesenangan dunia.
    • Ingat, manusia diciptakan berbeda: ada yang lahir, hidup, dan mati sebagai mukmin; ada yang bisa berubah iman di akhir hayat.
  3. Mengendalikan Amarah

    • Amarah adalah bara api di hati.
    • Sebaik-baik orang: lambat marah, cepat memberi maaf.
    • Seburuk-buruk orang: cepat marah, lambat memberi maaf.
  4. Etika Perdagangan dan Urusan Dunia

    • Pedagang terbaik: baik dalam menawar dan menyelesaikan urusan.
    • Pedagang buruk: buruk dalam menawar dan buruk dalam menyelesaikan urusan.
  5. Kejujuran di Hadapan Pemimpin

    • Setiap orang yang berdusta akan diketahui pada Hari Kiamat.
    • Sebaik-baik jihad: mengatakan yang benar di hadapan pemimpin yang zalim, meskipun ditakuti manusia.
  6. Akhir Kehidupan yang Baik (Khātimah)

    • Amal seseorang dinilai dari akhir hidupnya, bukan dari banyaknya shalat, puasa, atau ibadah lain.
    • Doakan agar akhir hidup kita selalu baik.
  7. Hati-hati dengan Dosa yang Bisa Menghilangkan Iman

    • Tiga dosa besar:
      1. Tidak bersyukur atas karunia iman.
      2. Tidak takut kehilangan iman.
      3. Menzalimi kaum Muslimin.
  8. Pelajaran dari Sahabat dan Salaf Shalih

    • Para salaf shalih selalu takut akan akhir hidupnya dan berdoa agar iman mereka tetap kuat hingga mati.
    • “Selama rasa takut akan kehilangan iman ada pada saya, saya berharap iman tidak dicabut dari saya.” (Yahya bin Mu’adz Ar-Razi)
  9. Pengingat Takdir dan Amal

    • Amal manusia bisa berubah karena ketetapan Allah.
    • Bahkan orang yang beramal baik bisa masuk neraka, dan sebaliknya, orang yang beramal salah bisa masuk surga jika takdir Allah menghendaki.
    • Oleh karena itu, tetaplah taat, berdoa, dan takut akan akhir hidup.


Hikmah dan Keteladanan dari Bab Al-Ḥikāyāt


Hikmah dan Keteladanan dari Bab Al-Ḥikāyāt


Pembukaan 

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…

Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin, segala puji bagi Allah yang telah menuntun kita hingga dapat berkumpul di tempat yang mulia ini. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita, Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya yang setia hingga hari kiamat.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Hari ini kita akan mengambil pelajaran dari Bab Al-Ḥikāyāt, sebuah bab yang dipenuhi kisah-kisah nyata yang mengajarkan kita tentang ketaatan, keikhlasan, tawakkal, dan ridha kepada Allah. Kisah-kisah ini bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi cermin bagi hati kita hari ini.

Allah berfirman:

وَمَا أُوتِيتُم مِّن شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَزِينَتُهَا ۖ وَمَا عِندَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَى
(Al-Qur’an, Surah Al-Qasas: 60)
“Dan apa yang kalian peroleh dari kesenangan dunia ini hanyalah sementara dan indah, tetapi yang ada di sisi Allah lebih baik dan kekal.”

Hikmah pertama yang ingin saya tekankan adalah: Ridha dan tawakkal kepada Allah lebih berharga daripada semua harta dan kemuliaan dunia.


Kisah Seorang Pria dan Perjodohan Nabi ﷺ 

Hadirin, perhatikan kisah berikut:

Seorang lelaki mendatangi Nabi ﷺ dan bertanya:

"Ya Rasulullah, apakah kegelapan kulitku dan bentuk wajahku menghalangiku masuk surga?"

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Tidak, demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, selama kamu meyakini Tuhanmu dan beriman kepada apa yang dibawa utusan-Nya."

Pria itu menjelaskan bahwa dia berasal dari keluarga mulia, namun bentuk wajahnya biasa-biasa saja. Rasulullah ﷺ kemudian menuntunnya untuk menikahi seorang wanita yang cerdas dan cantik melalui perantara beliau. Yang menakjubkan adalah bahwa akad dan pemberian mahar dilakukan dengan cara yang adil, kreatif, dan penuh berkah, bahkan memanfaatkan bantuan sahabat seperti Utsman bin Affan, Abdul Rahman bin Auf, dan Ali bin Abi Thalib.

Hikmah dari kisah ini:

  1. Keimanan lebih utama daripada rupa dan status.
    Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa iman adalah jalan menuju ridha Allah dan surga.
  2. Kejujuran dan kesabaran membawa keberkahan.
    Lelaki ini bersabar menghadapi penolakan, namun hasilnya penuh keberkahan.

Komentar Ulama:
Imam Al-Qurthubi menekankan, kisah ini menunjukkan bahwa ridha Allah tercapai melalui kesetiaan pada akidah, kesabaran, dan mengikuti petunjuk Nabi ﷺ.

Anekdot refleksi:
Bayangkan jika kita mudah menyerah karena hal sepele—maka kesempatan ridha Allah bisa terlewat. Namun, dengan keikhlasan dan mengikuti sunnah Nabi ﷺ, Allah akan membuka jalan yang penuh berkah.


Kisah Orang-Orang di Gua dan Kekuasaan Doa 

Hadirin, kisah berikut mengajarkan kekuatan doa yang ikhlas dan amal shaleh:

Tiga orang dari umat terdahulu terjebak di sebuah gua karena batu besar menutup pintu. Mereka memohon kepada Allah berdasarkan amal shaleh masing-masing, dan Allah membuka jalan keluar bagi mereka.

  1. Yang pertama menolong istrinya, menahan hawa nafsu, dan memenuhi hak orang lain.
  2. Yang kedua menjaga orang tua yang lemah, meskipun harus bekerja keras.
  3. Yang ketiga membayar upah pekerja secara adil dan penuh kejujuran.

Hasilnya, pintu gua terbuka bagi mereka.

Hikmah:

  • Amal saleh yang ikhlas membuka jalan kemudahan dari Allah.
  • Keteladanan dalam keluarga dan masyarakat mendatangkan pertolongan Allah.

Dalil:

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا
(QS. At-Talaq: 2)
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar.”

Refleksi:
Saudara-saudaraku, di saat kita menghadapi kesulitan, mari kita lihat amal kita. Apakah kita ikhlas, adil, dan menjaga hak-hak sesama? Karena Allah bisa memudahkan urusan kita dengan rahmat-Nya.


Kisah Abdi Bani Israil dan Ujian Kehidupan 

Kisah selanjutnya berasal dari Bani Israil:

Seorang hamba Allah diberikan kecantikan dan kebaikan, tetapi ia diuji dengan godaan seorang wanita dari istana. Ia ingin menolak perbuatan maksiat dan memilih berserah kepada Allah. Ketika ia hampir tergoda, Allah mengutus malaikat untuk menyelamatkannya.

Hikmah utama:

  • Menahan diri dari maksiat adalah ibadah besar.
  • Tawakkal kepada Allah lebih kuat daripada kekayaan atau kecantikan.

Komentar Ulama:
Ibn Hajar Al-Asqalani menyatakan bahwa kisah ini mengingatkan kita bahwa kesalehan pribadi lebih penting daripada dunia yang fana, dan Allah selalu menolong hamba-Nya yang ikhlas.


Kisah Orang yang Membantu Orang Lain 

Hadirin, perhatikan kisah ini:

Seorang lelaki mempekerjakan seorang tukang dengan upah kecil. Tukang itu bekerja lebih keras daripada yang dijanjikan. Pemilik rumah ingin memberi lebih, namun tukang menolak. Beberapa hari kemudian, pemilik rumah jatuh sakit, dan dengan kebaikan dan sabar, Allah membukakan jalan rezeki yang luar biasa kepadanya.

Hikmah:

  • Kejujuran dan integritas dalam bekerja membawa berkah.
  • Bersikap adil kepada orang lain akan membuka pintu kemudahan dari Allah.

Dalil:

وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا
(QS. Al-Isra’: 34)
“Tunaikanlah janji, sesungguhnya setiap janji akan dimintai pertanggungjawaban.”

Hikmah Umum dan Refleksi

Dari semua kisah ini, kita belajar:

  1. Ridha dan tawakkal kepada Allah lebih utama daripada dunia.
  2. Doa yang ikhlas dan amal saleh membuka jalan kesulitan.
  3. Menjaga hak orang lain dan kejujuran membawa berkah.
  4. Kesabaran dan keteguhan dalam menghadapi godaan diuji dengan ujian dunia.

Hadirin yang dimuliakan Allah,
Mari kita tanyakan pada diri kita sendiri: Apakah kita sudah meneladani kisah-kisah ini? Apakah amal kita ikhlas untuk Allah, bukan untuk pujian manusia?


 Doa 

اللَّهُمَّ اجعلنا من الذين يستمعون القول فيتبعون أحسنه،
وَاجعل أعمالنا خالصة لوجهك الكريم،
وَارزقنا الصبر عند الابتلاء،
وَالتوكل عند الشدائد،
وَالفرج عند الضيق،
وَالنجاة من كل سوء،
وَالرضا بما قسمته لنا،
وَالسعادة في الدارين.

Ya Allah, bukakanlah hati kami untuk meneladani kisah para hamba-Mu yang saleh,
jadikan kami orang yang sabar, jujur, dan bertawakkal kepada-Mu,
ampuni dosa kami, kuatkan iman kami, dan masukkan kami ke dalam surga-Mu bersama hamba-hamba-Mu yang Engkau ridhoi.


Penutup 
Hadirin yang dirahmati Allah,
Semoga kisah-kisah yang telah kita dengar menjadi pengingat dan cahaya bagi kita dalam menghadapi kehidupan sehari-hari.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga dan sahabatnya.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.



Ridha dengan Takdir Allah: Jalan Hati Mukmin yang Tenang dan Stabil

“Ridha dengan Takdir Allah: Jalan Hati Mukmin yang Tenang dan Stabil”


Pembukaan 

Salam dan Pembukaan

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, yang telah menjadikan kita hamba-Nya, menurunkan kitab-Nya, dan mengutus rasul-Nya sebagai rahmat bagi seluruh alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, keluarganya, sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti sunnahnya hingga hari kiamat.”

Pendahuluan:

  • Hari ini kita akan membahas salah satu akhlak terindah para nabi dan orang shalih, yaitu ridha dengan takdir Allah.
  • Ridha bukan hanya menerima kenyataan, tapi percaya bahwa apa yang Allah tetapkan untuk kita adalah yang terbaik, walaupun mungkin tidak selalu sesuai dengan keinginan hati manusia.

Makna Ridha dan Pentingnya 

Definisi Ridha:
Ridha adalah meridhai apa yang Allah tetapkan dan tidak mengeluh terhadap ketentuan-Nya.

Dalil Al-Qur’an:

{وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ} [Al-Baqarah: 216]
“Mungkin kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan mungkin kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Hadis:
Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan: Para nabi dan orang shalih selalu ridha dengan takdir Allah, tidak bersedih atas kehilangan dunia, dan tidak terlalu bergembira atas nikmat yang datang.

Komentar Ulama:

  • Qatadah rahimahullah berkata: “Orang mukmin ridha dengan apa yang Allah tetapkan untuknya, karena keputusan Allah lebih baik daripada keputusan manusia sendiri.”

Hikmah:

  • Ridha menenangkan hati, menghindarkan dari murka Allah, dan melindungi dari tipu daya setan.

Segmen 2: Kisah Umar bin Abdul Aziz 

Kisah:

  • Maimun bin Mihran menceritakan: Umar bin Abdul Aziz radhiyallahu ‘anhu menerima tamu dua kali sebulan. Suatu hari, sebelum Maimun mencapai pintu, Umar sudah mengizinkan masuk. Ia menerima Maimun dengan lembut dan menanyakan urusan negara, pasukan, penjara, dan hal pribadi. Saat ditanya apakah cukup dengan apa yang dimiliki, Umar menjawab:

“Cukup bagiku dari duniamu apa yang sampai kepadamu dari tempatmu. Hari ini kami di sini, besok di tempat lain.”

Hikmah:

  • Umar ridha dengan apa yang Allah tetapkan, tidak tergiur harta dunia, dan selalu bersikap adil dalam kepemimpinan.
  • Ridha membuat hati stabil dan bijaksana, tidak terpengaruh oleh situasi sementara.

Segmen 3: Ridha vs Sifat Manusia

Analogi:

  • Mukmin seperti ‘asu’ (semak belukar): tetap tegar dalam panas dan dingin.
  • Munafik seperti ‘ward’ (mawar): berubah-ubah ketika terkena sedikit bencana.

Perbandingan Ridha dan Tidak Ridha:

Sifat Ridha Tidak Ridha
Pandangan dunia Seimbang Tergiur atau cemas
Reaksi musibah Sabar Panik / marah
Reaksi nikmat Bersyukur Riang berlebihan / sombong
Hati Tenang Gelisah

Komentar Ulama:

  • Al-Faqih Abu Laits As-Samarqandi: “Ridha adalah akhlak para nabi dan orang shalih, penawar hati yang gelisah, dan benteng dari tipu daya dunia.”

Hadis Pendukung:

“Orang yang paling kaya bukanlah yang memiliki banyak harta, tapi orang yang ridha dengan takdir Allah.” (Riwayat Syaikhul Islam)


Ridha dan Hukum Islam 

Dalil:

{وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا} [Al-Ma’idah: 38]

  • Ulama menjelaskan: Salah satu hikmahnya adalah agar manusia tidak iri pada harta orang lain dan ridha dengan bagian yang Allah tetapkan.

Hikmah:

  • Ridha dengan takdir Allah mencegah dosa, iri, dan ketidakadilan.
  • Menjadi benteng hati dari keserakahan dan penyesalan.

Ridha dan Akhlak Para Nabi 

12 Sifat Para Nabi menurut Abu Darda’:

  1. Yakin pada janji Allah
  2. Putus asa dari manusia
  3. Memerangi setan
  4. Mengendalikan hawa nafsu
  5. Kasih sayang kepada makhluk
  6. Bersabar menghadapi gangguan
  7. Yakin akan surga
  8. Rendah hati dalam kebenaran
  9. Tidak meninggalkan nasihat pada tempat musuh
  10. Sederhana dalam harta
  11. Selalu berwudhu
  12. Tidak berlebihan dalam suka dan duka dunia

Hikmah:

  • Ridha adalah inti dari akhlak nabi.
  • Dengan ridha, seorang mukmin tetap stabil dalam nikmat maupun musibah.

Ridha Melawan Setan dan Memperkuat Iman 

10 Prinsip Ridha menurut para ulama:

  1. Memerangi setan (Fahamilah bahwa setan musuh kita)
  2. Bekerja dengan bukti dan alasan yang jelas
  3. Bersiap menghadapi kematian
  4. Mencintai dan membenci karena Allah
  5. Menegakkan amar ma’ruf nahi munkar
  6. Merenung dan mengambil pelajaran dari ciptaan Allah
  7. Menjaga hati dari hal yang tidak ridha Allah
  8. Tidak aman terhadap tipu daya Allah
  9. Tidak putus asa dari rahmat Allah
  10. Tidak terlalu bergembira dengan dunia dan tidak terlalu bersedih kehilangan dunia

Hikmah:

  • Ridha memperkuat iman, membuat hati teguh dalam menghadapi cobaan, dan menjadikan seorang mukmin stabil dalam semua kondisi.

Praktik Ridha dalam Kehidupan Sehari-hari 

Contoh Praktik:

  1. Bersyukur atas rezeki, walau sedikit.
  2. Menerima musibah dengan sabar.
  3. Tidak iri pada harta atau kedudukan orang lain.
  4. Tidak terlalu sedih jika kehilangan sesuatu yang tidak bisa dimiliki.
  5. Meneladani para nabi dan orang shalih dalam kesederhanaan hidup.

Kisah Inspiratif:

  • Seorang sahabat Nabi ﷺ pernah kehilangan hartanya. Ia berkata: “Apa yang Allah berikan cukup bagiku, dan apa yang Dia ambil pasti lebih baik bagiku.”
  • Hatinya tetap tenang dan bahagia, dan Allah memberinya pahala besar.

Doa 

Doa Ridha:

“Ya Allah, jadikanlah aku ridha dengan apa yang Engkau tetapkan untukku,
jauhkanlah aku dari keluhan, iri, dan kesedihan yang tidak Engkau ridhai.
Berikan aku ketenangan hati dalam musibah dan kesyukuran dalam nikmat-Mu.
Ya Allah, jadikanlah aku termasuk hamba yang mengikuti akhlak para nabi dan orang shalih,
yang selalu bersabar, bersyukur, dan ridha dengan takdir-Mu. Amin.”

Penutup:

  • Ingatlah, Ridha bukan berarti pasif atau menyerah, tapi percaya dan berserah sepenuhnya kepada Allah.
  • Ridha membuat hati tenang, hidup berkah, dan menjauhkan diri dari tipu daya dunia.

“Semoga Allah menjadikan kita semua termasuk hamba yang ridha, sabar, dan selalu meneladani akhlak para nabi dan orang shalih.”

Salam Penutup:

“Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”



Ridha (Meridhai Takdir Allah)



Ridha (Meridhai Takdir Allah)

Al-Faqih Abu Laits As-Samarqandi berkata:
Telah menceritakan kepada kami ayahku, semoga Allah merahmatinya, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-Abbas bin Al-Fadl, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Musa bin Nasr Al-Hanafi, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ziyad Al-Kufi, dari Maimun bin Mihran, ia berkata:

“Umar bin Abdul Aziz radhiyallahu ‘anhu memerintahkanku untuk menemuinya dua kali setiap bulan. Suatu hari aku datang kepadanya, ia melihatku dari atas bentengnya dan memberiku izin masuk sebelum aku mencapai pintu. Aku masuk sebagaimana aku, dan mendapati beliau duduk di atas permadani dengan sandaran, dan beliau mengangkat bajunya. Aku memberi salam, beliau membalas salam dan tetap menemaniku sampai aku duduk di sandarannya. Kemudian beliau menanyakan tentang para gubernur kami, tentang urusan pasukan kami, tentang penjara kami, dan tentang semua aturan kami. Setelah itu beliau menanyakan tentang urusanku yang khusus. Ketika aku hendak keluar, aku berkata: ‘Wahai Amirul Mukminin, tidak ada yang cukup untukmu di rumahmu sesuai yang kulihat?’ Beliau menjawab: ‘Wahai Maimun, cukup bagiku dari duniamu apa yang sampai kepadamu dari tempatmu. Hari ini kami di sini, besok di tempat lain.’ Lalu aku pun keluar meninggalkannya.”


Selanjutnya, Abu Mansur bin Abdullah Al-Fara’isi meriwayatkan dari Qatadah, rahimahullah, tentang firman Allah:

{وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِالأُنْثَى ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ} [An-Nahl: 58]

Terjemahan:
“Dan apabila seseorang diberi kabar tentang kelahiran seorang perempuan, wajahnya menjadi gelap dan dia penuh penyesalan.”

Qatadah berkata:
“Ini adalah perbuatan kaum musyrik Arab, Allah memberitahu kita tentang keburukan perbuatan mereka. Sedangkan orang mukmin, adalah hakikatnya untuk meridhai apa yang Allah tetapkan untuknya, karena takdir Allah jauh lebih baik daripada keputusan seseorang menurut kehendaknya sendiri. Apa pun yang Allah tetapkan untukmu, wahai anak Adam, yang mungkin engkau benci, itu lebih baik daripada apa yang engkau pilih menurut kehendakmu. Maka bertakwalah kepada Allah dan ridhailah takdir-Nya.”


Al-Faqih berkata:
Pernyataan ini sesuai dengan firman Allah:

{وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ} [Al-Baqarah: 216]

Terjemahan:
“Mungkin kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan mungkin kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Makna:
Allah mengetahui apa yang terbaik bagi kita—baik urusan dunia maupun akhirat—sementara manusia sering tidak menyadari kebaikan yang tersembunyi dalam ketetapan Allah. Oleh karena itu, hendaklah kita meridhai takdir Allah, karena itulah kebaikan yang hakiki.


Beberapa hikmah dari para ulama:

  • Ada empat fase kehidupan manusia:

    1. Umur di dunia – seperti seorang musafir yang terburu-buru, tidak sempat berlama-lama.
    2. Kehidupan di kubur – seperti singgah sebentar, meletakkan beban, kemudian pergi.
    3. Hari kiamat – seperti berkumpul di satu tempat, kemudian terpisah sesuai amal.
    4. Kekekalan – tempat yang abadi sesuai penciptaan manusia.
  • Menurut Shaqiq bin Ibrahim: Menanyakan kepada tujuh ratus ulama tentang lima hal, jawaban mereka:

    1. Siapa yang bijak? – Orang yang tidak mencintai dunia.
    2. Siapa yang cerdik? – Orang yang tidak tergiur dunia.
    3. Siapa yang kaya? – Orang yang ridha dengan apa yang Allah tetapkan.
    4. Siapa yang faqih (alim)? – Orang yang menahan diri dari meminta lebih dari keperluan.
    5. Siapa yang bakhil? – Orang yang menahan hak Allah dari hartanya.

Tiga hal yang menimbulkan murka Allah terhadap hamba:

  1. Mengurangi perintah Allah.
  2. Tidak ridha dengan takdir Allah.
  3. Meminta sesuatu lalu tidak mendapatkannya dan marah pada Allah.

Contoh hukum:

  • Dalam firman Allah tentang pencuri:

{وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا} [Al-Ma’idah: 38]

Makna:

  • Ulama menjelaskan bahwa tangan dicabut karena dua alasan:

    1. Melanggar kehormatan orang lain.
    2. Tidak ridha dengan bagian yang Allah tetapkan, sehingga menginginkan milik orang lain.
  • Maka Allah memerintahkan hukuman sebagai pengajaran agar ridha dengan apa yang ditetapkan Allah.


Ridha dengan takdir adalah salah satu akhlak para nabi dan orang shalih.

  • Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu berkata: Nabi dan orang shalih memiliki 12 sifat:

    1. Yakin pada janji Allah.
    2. Putus asa dari manusia.
    3. Memerangi setan.
    4. Mengendalikan hawa nafsu.
    5. Kasih sayang pada makhluk.
    6. Bersabar terhadap gangguan.
    7. Yakin akan surga.
    8. Rendah hati dalam kebenaran.
    9. Tidak meninggalkan nasihat pada tempat musuh.
    10. Harta mereka sederhana dan digunakan untuk fakir miskin.
    11. Selalu berwudhu.
    12. Tidak bersuka cita dengan dunia, dan tidak bersedih atas yang hilang.
  • Ulama juga menekankan: Ridha dengan takdir Allah termasuk melawan setan, menegakkan kebenaran, memikirkan ciptaan Allah, menjaga hati, tidak aman terhadap tipu daya Allah, tidak putus asa dari rahmat-Nya, dan tetap seimbang dalam nikmat dan musibah.

Analogi:

  • Mukmin seperti tanaman ‘asu’, tetap tegar dalam panas dan dingin.

  • Munafik seperti tanaman ‘ward’, berubah-ubah dengan sedikit kesulitan.

  • Maka mukmin harus meneladani amal nabi dan orang shalih, bukan amal orang kafir atau munafik.


Kesimpulan:

  • Ridha dengan takdir Allah adalah inti keimanan dan akhlak para nabi.
  • Ridha menenangkan hati, melindungi dari murka Allah, dan membuat seseorang stabil dalam kondisi sulit maupun senang.
  • Ridha juga mengajarkan kita bersyukur, sabar, dan tidak tergiur dunia.


Perseteruan Setan dan Mengenal Tipu Dayanya

Perseteruan Setan dan Mengenal Tipu Dayanya


I. Pengantar 

Pembukaan:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga hari kiamat.

Hadirin yang dirahmati Allah, hari ini kita akan membahas topik yang sangat penting bagi setiap Muslim, yaitu perseteruan antara manusia dan setan, serta bagaimana mengenal tipu daya setan agar kita tidak terjerumus ke dalam dosa dan kesesatan.

Allah berfirman:

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ * مَلِكِ النَّاسِ * إِلَهِ النَّاسِ * مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ * الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ * مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ
[النّاس: 1-6]

Artinya:
“Katakanlah: ‘Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara) manusia, Raja manusia, Sembahan manusia, dari kejahatan bisikan (setan) yang tersembunyi, yang membisikkan di dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.’”
(QS. An-Nas: 1-6)

Komentar Ulama:
Imam Ibn Kathir rahimahullah menegaskan bahwa ayat ini merupakan perlindungan dari waswas setan yang mencoba masuk ke dalam hati manusia. Setan tidak memiliki kuasa mutlak atas hamba Allah; ia hanya mampu membisikkan dan menipu, sedangkan keputusan tetap ada pada manusia.


II. Setan sebagai Musuh 

  1. Rasulullah ﷺ bersabda:

«الشَّيْطَانُ يَجْرِي مِنَ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ»

Artinya:
“Setan mengalir dalam tubuh anak Adam sebagaimana mengalirnya darah.”
(HR. Ath-Thabrani dan Al-Hakim)

Penjelasan:

  • Setan selalu berusaha mempengaruhi hati dan pikiran manusia, bahkan tanpa disadari.
  • Ibnu Qayyim rahimahullah menyebut, setan selalu mencari celah dalam akal, hati, dan nafsu manusia.
  1. Allah berfirman:

{إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا} [فاطر: 6]

Artinya:
“Sesungguhnya setan adalah musuhmu, maka jadikanlah ia sebagai musuh.”

Hikmah:

  • Kita wajib mengenal musuh agar dapat melawan tipu dayanya.
  • Mengikuti bisikan setan = mengikuti musuh Allah, sedangkan menjauhinya = menegakkan ketaatan kepada Allah.

III. Lima Musuh Manusia 

Dari Hadis Anas bin Malik:

«الْمُؤْمِنُ بَيْنَ خَمْسِ شَدَائِدَ: مُؤْمِنٍ يَحْسُدُهُ، وَمُنَافِقٍ يُبْغِضُهُ، وَعَدُوٍّ يُقَاتِلُهُ، وَشَيْطَانٍ يُضِلُّهُ، وَنَفْسٍ تُغْوِيهِ»

Artinya:
“Seorang mukmin menghadapi lima kesulitan: iri hati dari orang beriman, kebencian orang munafik, perlawanan musuh, kesesatan setan, dan godaan dari nafsunya sendiri.”

Komentar Ulama:

  • Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah menjelaskan bahwa melawan setan memerlukan jihad batin dan strategi, bukan hanya doa saja.
  • Kekuatan iman dan dzikir adalah benteng utama dari tipu daya setan.

IV. Sepuluh Pintu Tipu Daya Setan 

Wahb bin Munabbih menyebutkan: setan datang melalui 10 pintu:

  1. Keserakahan dan prasangka buruk → dihadapi dengan percaya dan qanaah (cukup).

    • Dalil: {وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا} [هود: 6]
  2. Keinginan hidup panjang → dihadapi dengan mengingat kematian.

    • Dalil: {وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ} [لقمان: 34]
  3. Kenikmatan dan kenyamanan → dihadapi dengan mengingat kefanaan dunia.

    • Dalil: {أَفَرَأَيْتَ إِنْ مَتَّعْنَاهُمْ سِنِينَ} [الشعراء: 205]
  4. Riya’ dan kesombongan → dihadapi dengan tawadhu’ (rendah hati).

    • Dalil: {إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ} [الحجرات: 13]

Hikmah Praktis:

  • Setiap godaan memiliki obat spiritual: dzikir, taqwa, ikhlas, dan qanaah.
  • Mengetahui pintu-pintu setan membuat kita lebih waspada dan siap.

V. Kisah Para Nabi dan Wali 

  1. Kisah Nabi Musa AS dan pertemuannya dengan Iblis:

    • Iblis datang menyamar untuk menyesatkan, tapi Nabi Musa AS tetap tegar dengan dzikir dan tawakkal.
    • Pelajaran: manusia bisa menang atas tipu daya setan dengan kesabaran dan ibadah.
  2. Kisah Bani Israil dan Rahib:

    • Rahib yang sabar, puasa dan qiyam, mampu melindungi diri dari tipu daya setan.
    • Pelajaran: ketaatan yang konsisten menjadi perisai dari gangguan setan.

VI. Strategi Praktis Melawan Setan 

  1. Dzikir pagi dan petang → memperkuat hati dan pikiran.
  2. Shalat tepat waktu dan khusyuk → menunda gangguan setan.
  3. Mengingat kematian dan akhirat → menahan diri dari godaan dunia.
  4. Membaca Al-Quran dan memahami ayat perlindungan → seperti surah Al-Falaq dan An-Nas.
  5. Menjaga pergaulan dan niat yang ikhlas → meminimalkan pengaruh buruk manusia dan jin.

VII. Penutup dan Doa 

Penutup:
Hadirin sekalian, setan adalah musuh nyata bagi setiap manusia. Allah menegaskan bahwa musuh kita bukan hanya manusia, tetapi juga setan dan nafsu. Oleh karena itu, kita harus mengenal tipu daya mereka dan melawan dengan amal shalih, dzikir, dan tawakkal kepada Allah.

Doa Penutup:

اللَّهُمَّ إني أعوذ بك من الشيطان الرجيم ومن وسوسته، وأعوذ بك من شرور نفسي وفتن الدنيا، واجعلني من عبادك الصالحين المستقيمين. اللهم أعني على طاعتك، وثبتني على دينك، ووفقني لما تحب وترضى. آمين.

Artinya:
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari setan yang terkutuk dan bisikannya, dan aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diriku dan fitnah dunia. Jadikanlah aku hamba-Mu yang saleh dan istiqamah. Ya Allah, tolonglah aku dalam ketaatan kepada-Mu, teguhkan aku dalam agama-Mu, dan berikan aku keberkahan dalam apa yang Engkau cintai dan ridhai. Amin.”



IJTIHAD DALAM KETAATAN “RAIH HIDUPMU SEBELUM TERLAMBAT”

 IJTIHAD DALAM KETAATAN  “RAIH HIDUPMU SEBELUM TERLAMBAT”

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberi kita kesempatan untuk berkumpul, belajar, dan tertawa bersama sebelum tertawa kita berubah jadi tangis di akhirat (hehe… jangan sampai ya, jamaah!). Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan orang-orang yang mengikuti jejak beliau hingga hari kiamat.


1. Pembukaan – Pintu-pintu Kebaikan

Rasulullah ﷺ bersabda:

نَبِّئُكُمْ بِأَبْوَابِ الْخَيْرِ: الصَّوْمُ جُنَّةٌ، وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ، وَقِيَامُ الْعَبْدِ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ يُطْفِئُ كُلَّ خَطِيئَةٍ
"Akan aku tunjukkan kepada kalian pintu-pintu kebaikan: Puasa adalah perisai, sedekah adalah bukti, dan shalat malam seorang hamba memadamkan semua dosa." (HR. Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Abu Dawud)

Komentar: Ulama menjelaskan, puasa adalah pelindung karena menahan diri dari perbuatan dosa, sedekah adalah bukti ketakwaan, dan shalat malam menghapus dosa seperti hujan membersihkan debu.

Humor: Bayangkan, kalau kamu puasa tapi tetangga lihat kamu makan gorengan di pojokan… wah, puasa sebagai perisai gagal total, malah bikin perut sakit! 😆


2. Ijtihad dalam Ketaatan

Abu Ja’far berkata, bahwa asal ketaatan ada tiga: takut, harap, dan cinta.

  • Takut → Menjauhi larangan Allah
  • Harap → Melakukan ketaatan karena ingin pahala
  • Cinta → Rindu beribadah dan taat karena Allah

Dalil:
Allah berfirman:

وَيَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ [As-Sajdah:16]
"Mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka."

Komentar: Ini prinsip “full combo” ketaatan: takut, harap, dan cinta. Kalau cuma takut, bisa stres. Kalau cuma harap pahala, bisa kayak orang ngejar diskon online, akhirnya kecewa kalau tidak dapat cashback. Kalau cuma cinta… hmm, ini versi “romantis spiritual”, bisa bikin hati meleleh. ❤️


3. Empat Zakat Amal dan Kesalahan yang Harus Dihindari

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَخْلَصَ الْعِبَادَةَ لِلَّهِ تَعَالَى أَرْبَعِينَ يَوْمًا، ظَهَرَتْ يَنَابِيعُ الْحِكْمَةِ مِنْ قَلْبِهِ عَلَى لِسَانِهِ
"Barang siapa yang mengikhlaskan ibadahnya kepada Allah selama 40 hari, maka mata air hikmah akan muncul dari hatinya ke lisannya." (HR. Abu Dawud)

Tiga tipe yang menumbuhkan kebencian di hati:

  1. Suka mengurusi aib orang lain
  2. Sombong pada diri sendiri
  3. Riak dalam amal

Tiga tipe yang menumbuhkan cinta di hati:

  1. Berakhlak baik
  2. Ikhlas dalam amal
  3. Rendah hati

Humor: Bayangkan, kalau kamu ikhlas tapi sambil pamer di TikTok… wah, hikmah langsung dikunci Allah. Hikmah itu kayak Wi-Fi, kalau salah password, koneksi putus total. 😂


4. Iman, Persiapan Akhirat, dan Kesadaran Hidup

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menyebut:

“Manusia ada tiga jenis: ada yang sibuk dengan akhirat sampai lupa dunia, ada yang sibuk dunia sampai lupa akhirat, dan ada yang sadar keduanya, inilah orang yang berisiko tapi juga bisa menang.”

Dalil:
Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا [Fussilat: 30]
"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan 'Tuhan kami adalah Allah' kemudian mereka istiqamah..."

Komentar: Kesabaran dan istiqamah ibarat gunung: panas tidak melelehkan, dingin tidak membekukan, angin tidak menggoyahkan, air banjir tidak menumbangkan.

Humor: Jadi kalau kamu ditegur bos, terus kesel, jangan langsung emosi… bayangkan diri kamu gunung, kok… gunung juga nggak teriak-teriak saat dilewati anak-anak main layangan di atasnya. 😆


5. Lima Kesempatan yang Harus Dimanfaatkan

Rasulullah ﷺ mengingatkan agar kita menunaikan:

  • Masa muda sebelum tua
  • Kesehatan sebelum sakit
  • Kekayaan sebelum miskin
  • Waktu luang sebelum sibuk
  • Kehidupan sebelum mati

Dalil: Hadis Hatinya Hatim al-Zahid.

Komentar: Jangan sampai menyesal, karena orang yang sudah meninggal hanya bisa berharap seukuran satu dua rakaat atau ucapan Laa ilaha illallah yang tertinggal… sementara kamu sudah punya waktu tapi malah scroll TikTok 5 jam! 😂


6. Empat Hal Agar Amalmu Tidak Hilang

  1. Ilmu agar ibadahmu sah
  2. Tawakal agar ibadahmu khusyuk
  3. Sabar agar amal sempurna
  4. Ikhlas agar pahala diterima

Komentar: Kalau empat hal ini hilang… ibadahmu bisa kayak kue bolu gosong: enak dilihat tapi pahala hangus! 😆


7. Kesimpulan – Harapan Terbesar Umat Muhammad ﷺ

Allah memilih kita sebagai umat pertengahan, agar jadi saksi bagi manusia lainnya (QS. Al-Baqarah: 143). Rasulullah ﷺ menangis, menunjukkan betapa berat amanah ini.

  • Puasa, shalat, sedekah → pelindung dan bukti
  • Hindari riya, sombong, iri → pahala musnah
  • Optimalkan lima kesempatan → jangan sampai “menyesal di TikTok terakhir sebelum mati” 😅

8. Penutup – Doa dan Nasihat

Ya Allah, jadikan kami hamba-Mu yang berijtihad dalam ketaatan:

  • Khawatir akan-Mu, berharap pada-Mu, dan mencintai-Mu
  • Ikhlas dalam amal, sabar dalam cobaan
  • Berakhlak baik dan rendah hati

“Ya Allah, ampunilah dosa kami, terimalah amal kami, dan jauhkan kami dari kemurkaan-Mu. Jadikan kami termasuk hamba-hamba-Mu yang beruntung di dunia dan akhirat. Amin.”

Humor Penutup: Dan semoga kita semua bisa istiqamah… minimal istiqamah menahan diri dari gosip tetangga dan godaan diskon online! 😆


Referensi Kitab:

  • Al-Faqih Abu Laits As-Samarqandi, Kitab al-Mabsut
  • HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibn Majah
  • Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al-Mazhari


Teladan Abu Dzar al-Ghifari – Ihsan, Kesabaran, dan Kepedulian kepada Umat

Teladan Abu Dzar al-Ghifari – Ihsan, Kesabaran, dan Kepedulian kepada Umat

Pembukaan 

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Segala puji bagi Allah yang menurunkan kitab-Nya sebagai petunjuk dan mengutus Rasul-Nya sebagai rahmat bagi alam semesta.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan semua yang mengikuti sunnah beliau hingga hari kiamat.

Pendahuluan:

Saudara-saudariku, hari ini kita akan meneladani Abu Dzar al-Ghifari – seorang sahabat yang zuhud, jujur, dan ikhlas dalam beramal. Hadits-hadits beliau mengajarkan kita tentang ibadah, kesabaran, kepedulian sosial, dan keikhlasan di jalan Allah.


Dasar Ibadah – Wudhu, Shalat, Zakat, Puasa, Sabar 

1. Wudhu:
Abu Dzar bertanya: “Apa wudhu itu?”
Rasulullah ﷺ menjawab: “Tidak ada shalat kecuali dengan wudhu, dan wudhu menghapus dosa-dosa sebelumnya.”

Syarah ulama klasik:

  • Al-Qadhi Abu Ja’far menyebut, wudhu adalah pembersihan lahir dan batin, bukan sekadar air dan anggota tubuh, tapi juga simbol tazkiyatun nafs.
  • Imam al-Nawawi berkata: “Siapa yang berwudhu dengan sempurna, hatinya pun disucikan dari sifat tercela.”

2. Shalat:

Shalat adalah “khairul mawdu’” – ibadah terbaik, boleh banyak atau sedikit.

Refleksi:

  • Shalat bukan sekadar gerakan, tapi titik temu dengan Allah.
  • Abu Dzar mengingatkan kita untuk mengutamakan kualitas hati dalam shalat, bukan sekadar kuantitas.

3. Zakat:

  • Abu Dzar dituturkan: “Tidak ada iman bagi yang tidak amanah, dan tidak ada shalat bagi yang tidak mengeluarkan zakat.”
  • Syarah klasik (Ibnu Qudamah): Zakat adalah perlindungan sosial dan ujian keikhlasan harta.

4. Puasa:

  • Rasulullah ﷺ bersabda: “Puasa adalah perisai, dan bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan: saat berbuka dan saat bertemu Allah.”
  • Imam al-Ghazali: Puasa membersihkan hati, menahan hawa nafsu, dan mendekatkan diri pada Allah.

5. Kesabaran:

  • Contoh Abu Dzar: Kesabaran laksana bunga harum di tengah keramaian; dicontohkan beliau di perjalanan hijrah dan saat menghadapi fitnah.

Keikhlasan dan Sedekah – Meneladani Abu Dzar 

1. Sedekah:

  • Abu Dzar berkata: “Sedekah dalam diam memadamkan murka Allah, sedekah terang-terangan menghapus 700 keburukan.”
  • Imam al-Qushayri menekankan: Keikhlasan adalah kunci diterimanya amal.

2. Perbuatan Abu Dzar di Syam dan Rabaadhah:

  • Beliau mengajarkan orang-orang: “Jangan tidur dengan harta yang tidak diinfakkan untuk Allah.”
  • Abu Dzar rela menggadaikan kenyamanan pribadi demi harta umat, menegaskan keikhlasan total.

Refleksi haru:

  • Bayangkan, beliau sendiri berjalan jauh, membawa barang sendiri, hanya untuk menegakkan amanah dan sedekah.
  • Inilah contoh nyata pengorbanan dan tawakkal kepada Allah.

Teladan Abu Dzar dalam Hubungan Sosial dan Kepemimpinan 

1. Keteladanan dalam berinteraksi dengan penguasa:

  • Ketika beliau dipanggil Uthman radhiyallahu ‘anhu, Abu Dzar tetap teguh dalam nasihat, tidak takut atau menundukkan diri.

2. Integritas moral:

  • Menolak penimbunan harta, menegur orang yang lalai, menyebarkan amanah Nabi ﷺ.

3. Hikmah:

  • Ulama klasik, seperti Ibn Hajar al-Asqalani, menyebut: “Abu Dzar adalah teladan kesederhanaan, ketaatan, dan keberanian menyampaikan kebenaran tanpa kompromi.”

Hikmah Kehidupan Abu Dzar dan Amanah Nabi

1. Kesendirian dalam ibadah dan pengabdian:

  • Rasulullah ﷺ bersabda tentang Abu Dzar: “Dia berjalan sendiri, mati sendiri, dibangkitkan sendiri.”
  • Refleksi: Kita harus siap mandiri dalam ketaatan, tidak selalu tergantung pada pujian atau orang lain.

2. Berkomitmen pada Al-Quran dan dzikir:

  • Abu Dzar diperintahkan untuk meningkatkan dzikir, membaca Al-Quran, berperang di jalan Allah, dan diam kecuali untuk kebaikan.
  • Syarah ulama: Keheningan yang bermanfaat lebih baik daripada bicara tanpa ilmu.

Kesimpulan 

  1. Ibadah wajib adalah fondasi: wudhu, shalat, zakat, puasa.
  2. Kesabaran dan ikhlas adalah jalan Abu Dzar menghadapi ujian.
  3. Sedekah dan amanah: harta dan amanah bukan untuk diri sendiri, tapi untuk manfaat umat.
  4. Mandiri dan tawakkal: berjalan sendirian di jalan Allah, siap menghadapi kesulitan.
  5. Hidup dan mati untuk Allah: ingat kematian dan persiapan akhirat.

Doa

اللَّهُمَّ اجعلنا من الذين يستمعون القول فيتبعون أحسنه، واجعلنا من أحب خلقك إليك بعد نبيك ﷺ، كما أحببت أبا ذرٍّ رضي الله عنه.
اللَّهُمَّ علمنا ما ينفعنا، وانفعنا بما علمتنا، وزدنا علما وعملا وصدق قلب.
اللَّهُمَّ اجعل قلوبنا مطمئنة بذكرك، وارزقنا الصبر على الشدائد، والصدق في القول والعمل، والإخلاص في كل أمر.
اللَّهُمَّ اجعلنا من الذين يُنفقون أموالهم في سبيلك سرا وعلانية، واغفر لنا ذنوبنا، وارحمنا إذا صرنا إلى ما صار إليه أصحابك الصالحون.
اللَّهُمَّ اجعلنا نتبع سنة نبيك ﷺ في الصبر والزهد والصدق، ولا تجعلنا من الغافلين.

  •  Memohon keimanan yang ikhlas.
  • Memohon agar Allah memberi kita hati seperti Abu Dzar: zuhud, sabar, dan peduli pada sesama.
  • Memohon ampunan, rahmat, dan kematian dalam keadaan husnul khatimah.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
(Ya Allah, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka).

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.



TANDA-TANDA KIAMAT

TANDA-TANDA KIAMAT

بَابُ: عَلَامَةِ السَّاعَةِ

925- حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْفَضْلِ، حَدَّثَنَا أَبُو الْقَاسِمِ عُمَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ الْوَاسِطِيُّ، حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ يُوسُفَ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْفَضْلِ الضَّبِّيُّ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْوَلِيدِ، عَنْ مَكْحُولٍ، عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ، قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ  فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ مَتَى السَّاعَةُ؟ قَالَ: «مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ، وَلَكِنْ لَهَا أَشْرَاطٌ تُقَارِبُ الْأَسْوَاقَ يَعْنِي كَسَادَهَا وَمَطَرٌ وَلَا نَبَاتَ وَتَفْشُو الْعِينَةُ يَعْنِي أَكْلَ الرِّبَا، وَتَظْهَرُ أَوْلَادُ الْبَغِيَّةِ يَعْنِي أَوْلَادَ الزِّنَا وَيُعَظَّمُ رَبُّ الْمَالِ، وَتَعْلُو أَصْوَاتُ الْفَسَقَةِ فِي الْمَسَاجِدِ، وَيَظْهَرُ أَهْلُ الْمُنْكَرِ عَلَى أَهْلِ الْحَقِّ» .
قَالَ: وَكَيْفَ تَأْمُرُنِي يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ : «فِرَّ بِدِينِكَ، أَوْ كُنْ حِلْسًا مِنْ أَحْلَاسِ بَيْتِكَ».

926- قَالَ: حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ الْوَاسِطِيُّ، حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ، حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ أَبِي عِيسَى الْأَصْفَهَانِيُّ، رَفَعَهُ قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ مَتَى السَّاعَةُ؟ قَالَ: «مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ، وَلَكِنَّ أَشْرَاطَ السَّاعَةِ عَشَرَةٌ، يَقْرُبُ فِيهَا الْمَاحِلُ، وَيَظْهَرُ فِيهَا الْفَاجِرُ، وَيَعْجَزُ فِيهَا الْمُنْصِفُ وَتَكُونُ الصَّلَاةُ مَنًّا، وَالزَّكَاةُ مَغْرَمًا، وَالْأَمَانَةُ مَغْنَمًا، وَاسْتِطَالَةُ الْقُرَّاءِ، فَعِنْدَ ذَلِكَ تَكُونُ إِمَارَةُ الصِّبْيَانِ، وَسُلْطَانُ النِّسَاءِ، وَمَشُورَةُ الإِمَاءِ».

927- قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْفَضْلِ، حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ، حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ، حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ عَوْفٍ، عَنْ أَبِي حَيَّانَ التَّيْمِيِّ، عَنْ أَبِي زُرْعَةَ، عَنْ عَمْرٍو، قَالَ: جَلَسَ إِلَى مَرْوَانَ ثَلَاثَةُ نَفَرٍ بِالْمَدِينَةِ، فَسَمِعُوهُ يُحَدِّثُ عَنِ الْآيَاتِ أَنَّ أَوَّلَهَا خُرُوجُ الدَّجَّالِ، فَقَامَ النَّفَرُ مِنْ عِنْدِ مَرْوَانَ، فَجَلَسُوا إِلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، فَحَدَّثُوهُ بِمَا قَالَ مَرْوَانُ، فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ، يَقُولُ: «إِنَّ أَوَّلَ الْآيَاتِ طُلُوعُ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا، أَوِ الدَّابَّةُ، إِحْدَاهُمَا قَرِيبَةٌ عَلَى أَثَرِ الْأُخْرَى».

ثُمَّ أَنْشَأَ يُحَدِّثُ قَالَ: " وَذَلِكَ أَنَّ الشَّمْسَ إِذَا غَرَبَتْ أَتَتْ تَحْتَ الْعَرْشِ، فَسَجَدَتْ فَاسْتَأْذَنَتْ فِي الرُّجُوعِ، فَلَا يُؤْذَنُ لَهَا بِشَيْءٍ ثُمَّ تَعُودُ، وَتَسْتَأْذِنُ فَلَا يُؤْذَنُ لَهَا بِشَيْءٍ، حَتَّى إِذَا عَلِمَتْ أَنَّهُ لَوْ أُذِنَ لَهَا لَمْ تُدْرِكِ الْمَشْرِقَ، قَالَتْ: رَبِّ مَا أَبْعَدَنِي عَنِ النَّاسِ، حَتَّى إِذَا كَانَ اللَّيْلُ كَالطَّوْقِ أَتَتْ فَاسْتَأْذَنَتْ قِيلَ لَهَا: اطْلُعِي مِنْ مَكَانِكِ "، ثُمَّ قَرَأَ عَبْدُ اللَّهِ: {يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا قُلِ انْتَظِرُوا إِنَّا مُنْتَظِرُونَ} [الأنعام: 158]

928- وَعَنْ عُبَيْدِ بْنِ عُمَيْرٍ، أَنَّ النَّبِيَّ ، قَالَ: «لَيَصْحَبَنَّ الدَّجَّالَ أَقْوَامٌ يَقُولُونَ: إِنَّا لَنَعْلَمُ أَنَّهُ كَاذِبٌ وَلَكِنَّا نَصْحَبُهُ لِنَأْكُلَ مِنَ الطَّعَامِ، وَنَرْعَى مِنَ الشَّجَرِ، فَإِذَا نَزَلَ غَضَبُ اللَّهِ نَزَلَ عَلَيْهِمْ كُلِّهِمْ».

929- وَعَنِ الْحَسَنِ، عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ، أَنّ النَّبِيَّ ، قَالَ: «إِنَّ الدَّجَّالَ خَارِجٌ، وَهُوَ أَعْوَرُ الْعَيْنِ الْيُمْنَى، وَإِنَّهُ يُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ، وَيُحْيِي الْمَوْتَى، فَيَقُولُ لِلنَّاسِ أَنَا رَبُّكُمُ فَمَنْ قَالَ: أَنْتَ رَبِّي فَقَدْ فُتِنَ، وَمَنْ قَالَ: رَبِّيَ اللَّهُ حَتَّى يَمُوتَ عَلَى ذَلِكَ، فَقَدْ عُصِمَ مِنْ فِتْنَتِهِ فَيَلْبَثُ فِي الْأَرْضِ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَلْبَثَ، ثُمَّ يَجِيءُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ، عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ، مِنْ قِبَلِ الْمَغْرِبِ مُصَدِّقًا بِمُحَمَّدٍ ﷺ، فَيَقْتُلُ الدَّجَّالَ ثُمَّ قَالَ: إِنَّمَا هِيَ قِيَامُ السَّاعَةِ».

وَرُوِيَ عَنْ قَتَادَةَ، عَنِ الْعَلَاءِ بْنِ زِيَادٍ الْعَدَوِيِّ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، قَالَ: لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَجْتَمِعَ أَهْلُ الْبَيْتِ عَلَى الْإِنَاءِ الْوَاحِدِ، وَهُمْ يَعْلَمُونَ كَافِرَهُمْ، وَمُؤْمِنَهُمْ.
قِيلَ: وَكَيْفَ ذَلِكَ؟ قَالَ: " تَخْرُجُ الدَّابَّةُ، وَهِيَ دَابَّةُ الْأَرْضِ، فَتَمْسَحُ كُلَّ إِنْسَانٍ عَلَى مَسْجِدِهِ، فَأَمَّا الْمُؤْمِنُ فَتَكُونُ نُكْتَةٌ بَيْضَاءُ، فَتَفْشُو فِي وَجْهِهِ حَتَّى يَبْيَضَّ لَهَا وَجْهُهُ، وَأَمَّا الْكَافِرُ فَتَكُونُ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَتَفْشُو فِي وَجْهِهِ حَتَّى يَسْوَدَّ لَهَا وَجْهُهُ، حَتَّى يَتَبَايَعُوا فِي أَسْوَاقِهِمْ، فَيَقُولُونَ: كَيْفَ تَبِيعُ هَذَا يَا مُؤْمِنُ؟ وَكَيْفَ تَأْخُذُ هَذَا يَا كَافِرُ؟ فَمَا يَرُدُّ بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ ".

وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمَا، أَنَّهُ قَالَ: إِنَّ الدَّابَّةَ ذَاتُ زَغَبٍ، وَرِيشٍ لَهَا أَرْبَعُ قَوَائِمٍ، تَخْرُجُ مِنْ بَعْضِ أَوْدِيَةِ تِهَامَةَ وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمَا، فِي قَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: {وَإِذَا وَقَعَ الْقَوْلُ عَلَيْهِمْ أَخْرَجْنَا لَهُمْ دَابَّةً مِنَ الأَرْضِ تُكَلِّمُهُمْ أَنَّ النَّاسَ كَانُوا بِآيَاتِنَا لا يُوقِنُونَ} [النمل: 82] ، قَالَ: الَّذِينَ لَا يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ، وَلَا يَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ.

930- وَرَوَى أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ ، أَنَّهُ قَالَ: «لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا، فَإِذَا طَلَعَتِ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا، آمَنَ النَّاسُ كُلُّهُمْ، وَيَوْمَئِذٍ {لَا يَنفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِن قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا}[الأنعام:158]».

931- وَعَنِ ابْنِ أَبِي أَوْفَى رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ ، أَنَّهُ قَالَ: «سَتَأْتِي عَلَيْكُمْ لَيْلَةٌ، مِثْلُ لَيَالٍ ثَلَاثٍ مِنْ لَيَالِيكُمْ هَذِهِ، فَإِذَا كَانَتْ تِلْكَ اللَّيْلَةُ عَرَفَهَا الْمُتَهَجِّدُونَ، فَيَقُومُ الرَّجُلُ فَيَقْرَأُ وِرْدَهُ ثُمَّ يَنَامُ، ثُمَّ يَقْرَأُ وِرْدَهُ ثُمَّ يَنَامُ، ثُمَّ يَقُومُ فَيَقْرَأُ وِرْدَهُ، فَبَيْنَمَا هُمْ كَذَلِكَ، إِذْ مَاجَ النَّاسُ بَعْضُهُمْ فِي بَعْضٍ، فَيَقُولُونَ: مَا هَذَا فَيَفْزَعُونَ إِلَى الْمَسَاجِدِ فَإِذَا هُمْ بِالشَّمْسِ قَدْ طَلَعَتْ مِنْ مَغْرِبِهَا، فَتَجِيءُ حَتَّى إِذَا تَوَسَّطَتِ السَّمَاءَ، رَجَعَتْ فَطَلَعَتْ مِنْ مَشْرِقِهَا، فَذَلِكَ قَوْلُهُ تَعَالَى: {يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ} [الأنعام: 158]».

932- وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ ، أَنَّهُ قَالَ: «الْأَنْبِيَاءُ أَخْوَةُ الْعَلَّاتِ أُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى، وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ، وَأَنَا أَوْلَاهُمْ بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ بَيْنِي وَبَيْنَهُ نَبِيٌّ، وَإِنَّهُ خَلِيفَتِي فِي أُمَّتِي، وَإِنَّهُ نَازِلٌ فَيَقْتُلُ الْخِنْزِيرَ، وَيَكْسِرُ الصَّلِيبَ، وَيَضَعُ الْجِزْيَةَ وَتَضَعُ الْحَرْبُ أَوْزَارَهَا فَيَمْلَأُ الْأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلًا، كَمَا مُلِئَتْ جَوْرًا وَظُلْمًا، حَتَّى يَرْعَى الْأَسَدُ مَعَ الْإِبِلِ، وَالنَّمِرُ مَعَ الْبَقَرِ، وَالذِّئْبُ مَعَ الْغَنَمِ، وَحَتَّى يَلْعَبَ الصِّبْيَانُ بِالْحَيَّاتِ».

وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمَا، أَنَّهُ قَالَ: يَنْزِلُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ فَإِذَا رَآهُ الدَّجَّالُ، ذَابَ كَمَا تَذُوبُ الشَّحْمُ، فَيُقْتَلُ الدَّجَّالُ وَتَتَفَرَّقُ عَنْهُ الْيَهُودُ فَيُقْتَلُونَ: حَتَّى إِنَّ الْحَجَرَ لَيَقُولُ: يَا عَبْدَ اللَّهِ الْمُسْلِمَ هَذَا يَهُودِيٌّ تَوَارَى تَعَالَى فَاقْتُلْهُ

933- وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ ، أَنَّهُ قَالَ: «إِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ يَحْفِرُونَ الرَّدْمَ كُلَّ يَوْمٍ، حَتَّى إِذَا كَادُوا أَنْ يَرَوْا شُعَاعَ الشَّمْسِ، قَالَ الَّذِي عَلَيْهِمْ: ارْجِعُوا فَسَتَحْفِرُونَهُ غَدًا، إِنْ شَاءَ اللَّهُ، فَيَعُودُونَ إِلَيْهِ، وَهُوَ كَهَيْئَةِ الَّتِي تَرَكُوهَا بِالْأَمْسِ، فَيَخْرُجُونَ عَلَى النَّاسِ، فَيَنْشَفُونَ الْمِيَاهَ، وَيَتَحَصَّنُ النَّاسُ فِي حُصُونِهِمْ مِنْهُمْ، فَيَبْعَثُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ نَغَفًا فِي أَعْنَاقِهِمْ، فَيُهْلِكُهُمُ اللَّهُ بِهَا».

وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الخدري رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ، قَالَ: ليحجّن البيت، وَلَيُغْرَسَنَّ الشَّجَرُ بعد يأجوج ومأجوج.

وعن عبد الله بن سلام رضي الله تعالى عنه، لَيُحَجَّنَّ الْبَيْتُ قَالَ: مَا مَاتَ الرَّجُلُ مِنْ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ، إِلَّا تُرِكَ لَهُ أَلْفُ ذُرِّيَّةٍ فَصَاعِدًا مِنْ صُلْبِهِ.

934- وَعَنِ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى، أَنَّهُ قَالَ: بَلَغَنِي أَنَّ النَّبِيَّ ، قَالَ: «إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يَمُوتُ فِيهَا قَلْبُ الرَّجُلِ كَمَا يَمُوتُ بَدَنُهُ، وَيُصْبِحُ الرَّجُلُ فِيهَا مُؤْمِنًا، وَيُمْسِي كَافِرًا، وَيُمْسِي مُؤْمِنًا، وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيعُ فِيهَا أَقْوَامٌ دِينَهُمْ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا قَلِيلٍ».

935- وَرَوَى الْعَلَاءُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ ، أَنَّهُ قَالَ: «بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ، قَبْلَ أَنْ تَظْهَرَ سِتٌّ طُلُوعُ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا، وَالدَّجَّالُ، وَالدُّخَانُ، وَالدَّابَّةُ، وَخَاصَّةُ أَحَدِكُمْ» يَعْنِي الْمَوْتَ. «وَأَمْرُ الْعَامَّةِ» يَعْنِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ

936- وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَابَاطٍ، أَنَّ النَّبِيَّ ، قَالَ: «إِنَّهُ سَيَكُونُ فِيكُمُ الْخَسْفُ، وَالْمَسْخُ، وَالْقَذْفُ»، قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَهُمْ يَشْهَدُونَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، قَالَ: «نَعَمْ إِذَا ظَهَرَتْ فِيهِمُ الْأَرْبَعُ الْقَيْنَاتُ، وَالْمَعَازِفُ وَالْخُمُورُ وَالْحَرِيرُ».

وَعَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ، فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: {قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ} [الأنعام: 65]، قَالَ: هِيَ خِلَالٌ أَرْبَعٌ وَهُنَّ وَاقِعَاتٌ لَا مَحَالَةَ، فَمَضَتِ اثْنَتَانِ بَعْدَ وَفَاةِ رَسُولِ اللَّهِ  بِخَمْسٍ وَعِشْرِينَ سَنَةً فَأُلْبِسُوا شِيَعًا يَعْنِي الْأَهْوَاءَ الْمُخْتَلِفَةَ وَذَاقَ بَعْضُهُمْ بَأْسَ بَعْضٍ، وَاثْنَتَانِ وَاقِعَتَانِ لَا مَحَالَةَ: الْخَسْفُ وَالرَّجْفُ.

937- وَرُوِيَ أَنَّهُ لَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ دَعَا النَّبِيُّ  فَعَفَى عَنِ اثْنَيْنِ الْخَسْفِ وَالْمَسْخِ، وَبَقِيَ اثْنَانِ وَهُمَا الْأَهْوَاءُ وَالْبَأْسُ.

وَرَوَى الْأَعْمَشُ، عَنْ أَبِي الضُّحَى،، عَنْ مَسْرُوقٍ، قَالَ: بَيْنَمَا رَجُلٌ يُحَدِّثُ فِي الْمَسْجِدِ قَالَ: إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ نَزَلَ دُخَانٌ مِنَ السَّمَاءِ، فَأَخَذَ بِأَسْمَاعِ الْمُنَافِقِينَ، وَأَبْصَارِهِمْ، وَأُخِذَ الْمُؤْمِنِينَ مِنْهُ كَهَيْئَةِ الزُّكَامِ، قَالَ مَسْرُوقٌ: فَدَخَلْتُ عَلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ، فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لَهُ، وَكَانَ مُتَّكِئًا فَاسْتَوَى قَاعِدًا، ثُمَّ قَالَ: أَيُّهَا النَّاسُ مَنْ كَانَ مِنْكُمْ عِنْدَهُ عِلْمٌ، فَسُئِلَ عَنْهُ فَلَقِيَهُ، وَمَنْ لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُ، فَلْيَقُلْ: اللَّهُ أَعْلَمُ، إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ لِنَبِيِّهِ : {قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُتَكَلِّفِينَ} [ص: 86] .

938- وَذَلِكَ أَنَّ قُرَيْشًا لَمَّا كَذَّبُوا رَسُولَ اللَّهِ ، قَالَ: «اللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى مُضَرَ، اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَيْهِمْ بِسَبْعٍ كَسَبْعِ يُوسُفَ، اللَّهُمَّ سِنِينًا كَسِنِي يُوسُفَ» .
فَأَخَذَتْهُمُ السَّنَةُ فَأَكَلُوا فِيهَا الْعِظَامَ، وَالْمَيْتَةَ مِنَ الْجَهْدِ، حَتَّى جَعَلَ أَحَدُهُمْ يَرَى مَا بَيْنَهُ، وَبَيْنَ السَّمَاءِ كَهَيْئَةِ الدُّخَانِ مِنَ الْجُوعِ، فَذَلِكَ قَوْلُهُ تَعَالَى: {فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُبِينٍ} [الدخان: 10].

قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي رَحِمَهُ اللَّهُ، حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أَبِي اللَّيْثِ، حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ بْنُ يَحْيَى، عَنْ حَفْصٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ الرَّاسِيِّ، عَنْ مَالِكٍ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمَا، قَالَ: كَتَبَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ إِلَى سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ وَهُوَ بِالْقَادِسِيَّةِ: أَنْ وَجِّهْ نَضْلَةَ بْنَ مُعَاوِيَةَ إِلَى حُلْوَانَ، فَوَجَّهَ سَعْدٌ نَضْلَةَ فِي ثَلاثِ مِائَةِ فَارِسٍ، فَخَرَجُوا حَتَّى أَتَوْا حُلْوَانَ، فَأَغَارُوا عَلَى نَوَاحِيهَا، وَأَصَابُوا غَنِيمَةً وَسَبْيًا، فَرَجَعُوا فَجَعَلُوا يَسُوقُونَ الْغَنِيمَةَ وَالسَّبْيَ، حَتَّى نَزَلُوا إِلَى سَطْحِ جَبَلٍ، ثُمَّ قَامَ نَضْلَةُ، فَأَذَّنَ لِلصَّلَاةِ، وَقَالَ: اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ فَإِذَا مُجِيبٌ مِنَ الْجَبَلِ يُجِيبُهُ، كَبَّرْتَ كَبِيرًا يَا نَضْلَةَ، ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، قَالَ: هِيَ كَلِمَةُ الْإِخْلَاصِ يَا نَضْلَةُ، ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، قَالَ: هِيَ كَلِمَةُ الْإِخْلَاصِ يَا نَضْلَةُ، ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، قَالَ: هُوَ الَّذِي بَشَّرَنَا بِهِ عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ، ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، قَالَ: طُوبَى لِمَنْ مَشَى إِلَيْهَا وَوَاظَبَ عَلَيْهَا، ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، قَالَ: أَفْلَحَ مَنْ أَجَابَ مُحَمَّدًا ، وَهُوَ الْبَقَاءُ لِأُمَّةِ مُحَمَّدٍ ، ثُمَّ قَالَ: اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، قَالَ: أَخْلَصْتَ إِخْلَاصًا يَا نَضْلَةَ، فَحَرَّمَ اللَّهُ بِهَا جَسَدَكَ عَلَى النَّارِ.

فَلَمَّا فَرَغَ مِنْ أَذَانِهِ قَالَ: مَنْ أَنْتَ رَحِمَكُ اللَّهُ، أَمَلَكٌ أَنْتَ أَمْ سَاكِنٌ مِنَ الْجِنِّ، أَمْ طَائِفٌ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ، أَسْمَعْتَنَا صَوْتَكَ فَأَرِنَا صُورَتَكَ، فَإِنَّا وَفْدُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَوَفْدُ رَسُولِهِ ، وَوَفْدُ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ، فَإِذَا شَيْخٌ لَهُ هَامَةٌ كَالرَّحَا أَبْيَضُ الرَّأْسِ وَاللِّحْيَةِ عَلَيْهِ طِمْرَانِ مِنْ صُوفٍ فَقَالَ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ فَقُلْنَا: وَعَلَيْكَ السَّلَامُ وَالرَّحْمَةُ.
مَنْ أَنْتَ رَحِمَكَ اللَّهُ؟ قَالَ: أَنَا زَرْنَبُ بْنُ يَرْعَلَا وَصِيُّ الْعَبْدِ الصَّالِحِ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَسْكَنَنِي هَذَا الْجَبَلَ، وَدَعَا لِيَ بِطُولِ الْبَقَاءِ إِلَى وَقْتِ نُزُولِهِ مِنَ السَّمَاءَ، فَأَمَّا إِذَا فَاتَنِي لِقَاءُ مُحَمَّدٍ  فَأَقْرِئُوا عُمَرَ مِنِّي السَّلَامَ وَقُولُوا لَهُ: يَا عُمَرُ سَدِّدْ وَقَارِبْ، فَقَدْ دَنَا الْأَمْرُ وَأَخْبِرْهُ بِهَذِهِ الْخِصَالِ الَّتِي أُخْبِرُكُمْ بِهَا إِذَا ظَهَرَتْ فِي أُمَّةِ مُحَمَّدٍ  فَالْهَرَبَ الْهَرَبَ إِذَا اسْتَغْنَى الرِّجَالُ بِالرِّجَالِ، وَالنِّسَاءُ بِالنِّسَاءِ وَانْتَسَبُوا إِلَى غَيْرِ مَنَاسِبِهِمْ، وَلَمْ يَرْحَمْ كَبِيرُهُمْ صَغِيرَهُمْ، وَلَمْ يُوَقِّرْ صَغِيرُهُمْ كَبِيرَهُمْ، وَتَرَكُوا الْأَمْرَ بِالْمَعْرُوفِ، فَلَمْ يَأْمُرُوا بِهِ، وَتَرَكُوا النَّهْيَ عَنِ الْمُنْكَرِ، فَلَمْ يَنْهَوْا عَنْهُ، وَيَتَعَلَّمُ عَالِمُهُمُ الْعِلْمَ لِيَجْلِبَ بِهِ الدَّنَانِيرَ وَالدَّرَاهِمَ، وَكَانَ الْمَطَرُ قَيْظًا يَعْنِي أَيَّامَ الصَّيْفِ، وَالْوَلَدُ غَيْظًا، يَعْنِي يَغِيظُ وَالِدَيْهِ، وَيَفِيضُ اللِّئَامُ فَيْضًا، وَيَغِيضُ الْكِرَامُ غَيْضًا، يَعْنِي يَقِلُّونَ، وَشَيَّدُوا الْبِنَاءَ وَاتَّبَعُوا الْهَوَى، وَبَاعُوا الدِّينَ بِالدُّنْيَا، وَاسْتَخَفُّوا بِالدِّمَاءِ، وَقَطَّعُوا الْأَرْحَامَ، وَبَاعُوا الْحُكْمَ وَطَوَّلُوا الْمَنَارَاتِ وَفَضَّضُوا الْمَصَاحِفَ، وَزَخْرَفُوا الْمَسَاجِدَ وَأَظْهَرُوا الرِّشَا وَأَكَلُوا الرِّبَا، وَصَارَ الْغَنِيُّ عَزِيزًا، وَرَكِبَ النِّسَاءُ السُّرُوجَ ثُمَّ، غَابَ عَنَّا ".

وَذُكِرَ أَنَّ سَعْدًا خَرَجَ بَعْدَ ذَلِكَ فِي أَرْبَعَةِ آلَافِ رَجُلٍ، فَنَزَلَ هُنَاكَ أَرْبَعِينَ يَوْمًا يُؤَذِّنُ لِكُلِّ صَلَاةٍ فَلَمْ يَسْمَعْ جَوَابًا وَلَا كَلَامًا .

وَاللَّهُ الْمُوَفِّقُ.


 TERJEMAHAN : 

TANDA-TANDA KIAMAT


925.

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Fadhl, telah menceritakan kepada kami Abu Al-Qasim Umar bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Al-Wasithi, telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Yusuf, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Fadhl Adh-Dhabbi, dari Abdullah bin Al-Walid, dari Mak-hul, dari Hudzaifah bin Al-Yaman رضي الله عنه, ia berkata:

Seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ lalu bertanya:

“Wahai Rasulullah, kapan terjadinya Kiamat?”

Beliau ﷺ menjawab:

“Orang yang ditanya tentangnya tidak lebih mengetahui daripada yang bertanya. Namun Kiamat itu memiliki tanda-tanda:

  • Pasar-pasar menjadi sepi (perdagangan rusak),
  • Turun hujan tetapi tidak tumbuh tanaman,
  • Merajalelanya ‘inah (yakni praktik riba),
  • Munculnya anak-anak hasil zina,
  • Orang kaya diagungkan (karena hartanya),
  • Suara orang-orang fasik lebih keras di masjid-masjid,
  • Pelaku kemungkaran mengalahkan orang-orang yang berada di atas kebenaran.”

Orang itu bertanya lagi:

“Lalu apa yang engkau perintahkan kepadaku wahai Rasulullah?”

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Larilah dengan agamamu, atau jadilah seperti alas rumahmu (menyendiri dan menjaga diri).”


926.

Diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda ketika ditanya:

“Kapan Kiamat?”

Beliau menjawab:

“Yang ditanya tidak lebih mengetahui dari yang bertanya. Namun tanda-tanda Kiamat ada sepuluh:

  • Orang susah semakin dekat,
  • Orang fajir (pendosa) tampak berkuasa,
  • Orang adil tidak mampu berbuat,
  • Shalat dianggap beban,
  • Zakat dianggap kerugian,
  • Amanah dianggap rampasan,
  • Para qari’ (ahli agama) berlomba mencari kedudukan,
  • Maka saat itu kepemimpinan dipegang anak-anak,
  • Kekuasaan di tangan wanita,
  • Musyawarah di tangan budak perempuan.”

927.

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Umar رضي الله عنه berkata:

“Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Tanda besar pertama adalah terbitnya matahari dari barat, atau keluarnya binatang melata (Dabbah). Salah satunya akan segera menyusul yang lain.’

Kemudian beliau menjelaskan:

“Ketika matahari terbenam, ia pergi bersujud di bawah ‘Arsy, lalu meminta izin untuk terbit kembali. Suatu saat ia tidak diizinkan, hingga diperintahkan: ‘Terbitlah dari tempatmu.’

Lalu Ibnu Umar membaca firman Allah:

“Pada hari datangnya sebagian tanda Tuhanmu, tidak bermanfaat lagi iman seseorang…”
(QS. Al-An‘am: 158)


928.

Dari ‘Ubaid bin ‘Umair, Nabi ﷺ bersabda:

“Akan ada kaum yang mengikuti Dajjal, mereka berkata: ‘Kami tahu dia pendusta, tapi kami ikut agar bisa makan dan hidup.’ Maka ketika azab Allah turun, azab itu menimpa mereka semua.”


929.

Dari Hasan, dari Samurah bin Jundub رضي الله عنه, Nabi ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya Dajjal akan keluar, matanya buta sebelah kanan. Ia bisa menyembuhkan orang buta dan belang, serta menghidupkan orang mati. Ia berkata: ‘Akulah Tuhan kalian.’ Siapa yang mengakuinya, ia telah terfitnah. Siapa yang berkata: ‘Tuhanku adalah Allah’ sampai mati, ia selamat dari fitnahnya.”

Kemudian Isa bin Maryam عليه السلام akan turun dan membunuh Dajjal.


930.

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Nabi ﷺ bersabda:

“Kiamat tidak terjadi hingga matahari terbit dari barat. Saat itu semua manusia beriman, tetapi iman mereka tidak lagi bermanfaat.”
(QS. Al-An‘am: 158)


931.

Dari Ibnu Abi Aufa رضي الله عنه, Nabi ﷺ bersabda:

“Akan datang suatu malam sepanjang tiga malam. Orang-orang yang biasa shalat malam akan menyadarinya. Ketika mereka ke masjid, matahari telah terbit dari barat.”


932.

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Nabi ﷺ bersabda:

“Para nabi adalah saudara seayah berbeda ibu, agama mereka satu. Isa akan turun, membunuh babi, mematahkan salib, menghapus jizyah, dan memenuhi bumi dengan keadilan.”


933.

Nabi ﷺ bersabda:

“Ya’juj dan Ma’juj menggali tembok setiap hari, hingga akhirnya mereka keluar. Allah membinasakan mereka dengan penyakit di leher-leher mereka.”


934.

Hasan Al-Bashri رحمه الله berkata:

“Akan datang fitnah seperti gelapnya malam. Seseorang pagi beriman, sore kafir. Mereka menjual agama dengan dunia yang sedikit.”


935.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Bersegeralah beramal sebelum datang enam perkara: terbitnya matahari dari barat, Dajjal, asap, binatang melata, kematianmu, dan Kiamat.”


936.

Nabi ﷺ bersabda:

“Akan terjadi gempa, perubahan rupa, dan hujan batu, meskipun mereka mengucapkan ‘La ilaha illallah’, jika musik, zina, khamr, dan sutra merajalela.”


937–938.

Dijelaskan bahwa asap (dukhan) pernah terjadi pada masa Nabi ﷺ sebagai azab kelaparan Quraisy, sebagaimana firman Allah:

“Maka tunggulah hari ketika langit membawa asap yang nyata.”
(QS. Ad-Dukhan: 10)



TANDA-TANDA KIAMAT & MENYELAMATKAN IMAN SEBELUM TERLAMBAT

TANDA-TANDA KIAMAT & MENYELAMATKAN IMAN SEBELUM TERLAMBAT


🌙 PEMBUKAAN 

Assalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh…

Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn,
nahmaduhū wa nasta‘īnuhū wa nastaghfiruh,
wa na‘ūdzu billāhi min syurūri anfusinā wa min sayyiāti a‘mālinā…

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ,
kepada keluarga beliau, para sahabat, dan orang-orang yang istiqamah di atas sunnah hingga hari kiamat.

Hadirin rahimakumullāh…

Takwa bukan sekadar kata,
takwa adalah kesiapan bertemu Allah kapan pun dipanggil.


PERTANYAAN TENTANG KIAMAT 

Rasulullah ﷺ pernah ditanya:

📜 Teks Hadits

مَتَى السَّاعَةُ؟

“Wahai Rasulullah, kapan terjadinya kiamat?”

Maka Nabi ﷺ bersabda:

مَا الْمَسْؤُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ

“Orang yang ditanya tentang kiamat tidak lebih mengetahui daripada yang bertanya.”

🇮🇩 Terjemah

“Aku tidak lebih tahu daripada engkau tentang waktunya.”

📚 Komentar Ulama

  • Imam An-Nawawi رحمه الله menjelaskan (Syarh Shahih Muslim):

    Ini dalil bahwa waktu kiamat murni ilmu Allah, bahkan Nabi ﷺ pun tidak diberi tahu.

📌 Bahasa Mimbar

Kalau Nabi saja tidak tahu,
lalu mengapa kita sibuk menebak waktunya…
tapi lupa menyiapkan bekalnya?


TANDA-TANDA SOSIAL MENJELANG KIAMAT 

Nabi ﷺ melanjutkan:

📜 Teks Hadits

إِنَّ لِلسَّاعَةِ أَشْرَاطًا…

Pasar-pasar sepi, hujan turun tapi tanaman tidak tumbuh, riba merajalela, anak zina bermunculan, orang kaya diagungkan, suara orang fasik keras di masjid, dan pelaku kebatilan mengalahkan orang yang benar.

🇮🇩 Terjemah Ringkas

  • Ekonomi rusak
  • Berkah dicabut
  • Riba merajalela
  • Maksiat dinormalisasi
  • Orang fasik dominan

📚 Imam Al-Qurthubi رحمه الله berkata (At-Tadzkirah):

“Bukan hilangnya nikmat, tapi dicabutnya keberkahan adalah tanda murka Allah.”

📌 Bahasa Mimbar

Harta ada… tapi gelisah
Masjid penuh… tapi maksiat tetap jalan
Itulah tanda iman ditinggal, agama dipermainkan


NASIHAT PENYELAMATAN IMAN

Ketika ditanya: “Apa yang engkau perintahkan wahai Rasulullah?”
Beliau bersabda:

📜 Hadits

فِرَّ بِدِينِكَ أَوْ كُنْ كَالْحَصِيرِ فِي بَيْتِكَ

“Larilah dengan agamamu, atau jadilah seperti alas rumahmu.”

📚 Ibnu Katsir رحمه الله:

Ini isyarat agar seseorang menjaga agama meski harus menyendiri dari fitnah.

📌 Bahasa Mimbar

Lebih baik dianggap aneh tapi selamat,
daripada dianggap gaul tapi celaka.


🌍 TANDA BESAR KIAMAT: MATAHARI DARI BARAT 

📜 Hadits Ibnu Umar رضي الله عنه

إِنَّ أَوَّلَ الْآيَاتِ خُرُوجُ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا…

“Tanda besar pertama adalah matahari terbit dari barat…”

Lalu beliau membaca ayat:

📖 QS. Al-An‘ām: 158

يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لَا يَنفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا…

Terjemah:

“Pada hari datangnya sebagian tanda Tuhanmu, tidak bermanfaat lagi iman seseorang…”

📚 Imam An-Nawawi:

Ayat ini dalil tertutupnya pintu taubat setelah tanda besar muncul.

📌 Bahasa Mimbar

Hari itu manusia beriman…
tapi iman sudah tidak laku


MALAM PANJANG TIGA MALAM

“Akan datang malam sepanjang tiga malam…”

📌 Renungan Mimbar

Yang sadar hanyalah orang yang biasa bangun malam
Yang lalai… baru sadar saat semuanya terlambat


FITNAH DAJJAL 

📜 Hadits

سَيَتْبَعُ الدَّجَّالَ أَقْوَامٌ…

“Kami tahu dia pendusta, tapi kami ikut agar bisa makan.”

📌 Bahasa Mimbar

Demi perut… iman dikorbankan
Demi dunia… akhirat ditinggalkan

Keselamatan:

مَنْ قَالَ رَبِّيَ اللَّهُ ثُمَّ مَاتَ عَلَى ذَلِكَ نَجَا

“Siapa yang berkata Rabb-ku Allah dan mati di atasnya, ia selamat.”


TURUNNYA NABI ISA عليه السلام 

📜 Hadits

يَنْزِلُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ…

  • Membunuh Dajjal
  • Mematahkan salib
  • Membunuh babi
  • Bumi penuh keadilan

📚 Ibnu Katsir:

Ini hujjah bahwa Isa bukan Tuhan, tapi hamba Allah.


 YA’JUJ & MA’JUJ 

Mereka menggali tembok setiap hari…

📌 Pelajaran

Kekuatan sebesar apa pun…
jika Allah kehendaki, hancur seketika


ASAP & FITNAH AKHIR ZAMAN

📖 QS. Ad-Dukhān: 10

فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُّبِينٍ

📚 Al-Qurthubi:

Dukhan adalah azab dunia dan tanda akhir zaman.


⚡ PENUTUP 

Rasulullah ﷺ bersabda:

📜 Hadits

بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ سِتًّا…

“Bersegeralah beramal sebelum enam perkara…”

📌 Bahasa Mimbar Penutup

Sebelum matahari terbit dari barat…
sebelum nyawa sampai di tenggorokan…
kembalilah kepada Allah hari ini


🌧️ TRANSISI KE DOA

“Mari kita tundukkan hati…
karena kita tidak tahu…
apakah kita masih sempat bertaubat esok pagi…”



Tafakkur – Ibadah Hati yang Menghidupkan Jiwa

Tafakkur – Ibadah Hati yang Menghidupkan Jiwa


PEMBUKAAN 

  • Banyak orang rajin ibadah jasad, tapi lalai ibadah hati
  • Lisan membaca ayat, mata melihat alam, tapi hati tidak bergerak
  • Padahal Rasulullah ﷺ menangis semalaman bukan karena dosa, tapi karena tafakkur

Ayat Pembuka:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ…
“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi…”
(QS. Ali ‘Imran: 190–191)

Point Tekanan:

  • Ayat ini turun di malam Nabi menangis
  • Bukan ayat ancaman, tapi ayat renungan

💡 Kalimat mimbar:

“Kalau ayat ini dibaca tapi hati kita tidak bergetar, Nabi ﷺ berkata: celaka orang itu.”


BAGIAN 1: TELADAN TAFakkur RASULULLAH ﷺ 

Kisah Inti:

  • Nabi ﷺ bersama ‘Aisyah
  • Minta izin untuk shalat malam
  • Menangis sampai air mata membasahi tanah
  • Padahal sudah diampuni dosanya

Jawaban Nabi kepada Bilal:

“Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur?”

Ulasan Ulama:

  • Ibnu Rajab: “Ibadah tertinggi Nabi bukan karena takut dosa, tapi karena rasa syukur.”
  • Al-Ghazali: “Tangisan orang shalih lahir dari cahaya ma’rifat.”

🎯 Pesan:

  • Tangis bukan tanda lemah
  • Tangis adalah tanda hidupnya hati

💔 Sentilan:

“Kita menangis karena dunia, Nabi menangis karena ayat Allah.”


BAGIAN 2: KEUTAMAAN TAFakkur 

Hadis Utama:

“Tafakkur satu jam lebih baik daripada ibadah setahun.”

Makna Ulama:

  • Bukan meremehkan shalat
  • Tapi menunjukkan ibadah tanpa hati = kosong
  • Tafakkur menghidupkan:
    • Iman
    • Ikhlas
    • Takut dan cinta kepada Allah

📌 Atsar Salaf:

  • “Orang paling bahagia di akhirat adalah yang paling lama sedih di dunia”
  • Sedih karena takut tidak diterima amalnya

🧠 Analogi mimbar:

“Ibadah tanpa tafakkur itu seperti HP mahal tapi baterainya dicabut.”


BAGIAN 3: LIMA OBJEK TAFakkur 

1️⃣ Tafakkur Ayat-ayat Allah

  • Langit, bumi, diri sendiri

وَفِي أَنفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ
(QS. Adz-Dzariyat: 21)

➡ Menumbuhkan yakin & ma’rifat


2️⃣ Tafakkur Nikmat Allah

  • Nafas gratis
  • Hati masih bisa menyesal ➡ Melahirkan cinta & syukur

💬 Kalimat:

“Kalau nikmat dihitung, air mata lebih pantas jatuh daripada keluhan.”


3️⃣ Tafakkur Pahala Surga

  • Apa yang Allah siapkan bagi wali-Nya ➡ Menguatkan semangat taat

4️⃣ Tafakkur Siksa Neraka

  • Bukan putus asa, tapi penjaga hati ➡ Menumbuhkan takut yang menyelamatkan

5️⃣ Tafakkur Kebaikan Allah & Buruknya Diri

  • Allah menutup dosa
  • Kita mengulang maksiat ➡ Melahirkan malu dan taubat

💔 Kalimat menusuk:

“Allah baik terus… kita yang sering keterlaluan.”


BAGIAN 4: BATASAN TAFakkur 

Jangan Tafakkur pada:

  1. Dzat Allah → bisa menyesatkan
  2. Kefakiran → bikin gelisah
  3. Kezaliman orang → mengeraskan hati

Hadis:

“Bertafakkurlah tentang makhluk, jangan tentang Pencipta.”


PENUTUP 

Muhasabah:

  • Kapan terakhir kita:
    • Menangis karena dosa?
    • Diam merenung karena ayat?
  • Jangan tunggu sakit
  • Jangan tunggu kematian

🕯️ Kalimat akhir ceramah:

“Hati yang tidak pernah tafakkur, akan mati perlahan tanpa sadar.”


 DOA 

  • Ya Allah, Engkau Maha Pengasih
  • Kami datang bukan karena layak, tapi karena butuh
  • Dosa yang kami ingat
  • Dosa yang kami lupakan
  • Dosa terang-terangan dan tersembunyi
  • Air mata yang jarang jatuh karena-Mu

“Ya Allah, kami malu… Engkau tidak berubah, kami yang menjauh.”

  • Hidupkan hati kami
  • Jadikan kami hamba yang bersyukur
  • Ajari kami menangis sebelum ditangisi

رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا…

  • Terima amal kami yang sedikit
  • Tutup hidup kami dengan husnul khatimah
  • Kumpulkan kami bersama Nabi ﷺ

“Jika hari ini air mata belum jatuh, jangan jadikan kami orang yang menyesal di hari akhir.”