Ketika Allah Memilih Pemimpin, Tetapi Manusia Menolaknya


Ketika Allah Memilih Pemimpin, Tetapi Manusia Menolaknya

Tafsir QS Al-Baqarah 247


1. Keputusan dari Langit

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah… 🤲

Pada ayat sebelumnya kita melihat satu kenyataan pahit.

Bani Israil meminta seorang pemimpin.

Mereka datang kepada nabi mereka dan berkata:

“Angkatlah seorang raja agar kami bisa berjuang di jalan Allah.”

Permintaan itu akhirnya dijawab oleh Allah.

Allah memilih seorang pemimpin untuk mereka.

Namanya Thalut.

Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا

“Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut sebagai raja bagi kalian.”

(QS Al-Baqarah:247)

Ini bukan keputusan manusia.

Ini keputusan dari langit.


2. Penolakan yang Mengejutkan

Namun apa yang terjadi?

Alih-alih bersyukur…

mereka justru menolak.

Mereka berkata dengan nada protes:

أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا

“Bagaimana mungkin dia menjadi raja atas kami?”

Perhatikan kalimat ini.

Ini kalimat kesombongan manusia terhadap takdir Allah.


3. Ukuran Dunia yang Salah

Mereka kemudian memberikan alasan yang sangat duniawi.

Mereka berkata:

وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ
وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِّنَ الْمَالِ

“Kami lebih berhak menjadi raja daripada dia, dan dia tidak memiliki kekayaan yang banyak.”

Inilah penyakit manusia sepanjang zaman.

Ketika memilih pemimpin…

mereka melihat:

  • kekayaan
  • status keluarga
  • kekuasaan dunia

Padahal Allah melihat sesuatu yang jauh lebih dalam.


4. Standar Kepemimpinan dari Allah

Nabi mereka menjawab dengan kalimat yang sangat agung:

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ

“Sesungguhnya Allah telah memilihnya atas kalian.”

Perhatikan kata “memilih.”

Pemimpin sejati adalah pilihan Allah.

Bukan sekadar hasil ambisi manusia.


5. Dua Syarat Pemimpin

Kemudian nabi mereka menjelaskan dua kelebihan Thalut.

Allah memberinya:

بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ

“Kelebihan dalam ilmu dan kekuatan fisik.”

Ini standar kepemimpinan dalam Islam.

Bukan kekayaan.

Bukan keturunan.

Tetapi:

ilmu dan kemampuan.


6. Krisis Kepemimpinan Manusia

Saudara-saudaraku…

ayat ini menggambarkan krisis kepemimpinan manusia.

Banyak masyarakat ingin pemimpin yang kuat.

Namun ketika Allah memberi mereka pemimpin yang benar…

mereka justru menolaknya.

Karena pemimpin itu tidak sesuai dengan standar dunia mereka.


7. Penyakit yang Masih Ada Sampai Hari Ini

Penyakit ini masih ada sampai sekarang.

Banyak orang menilai pemimpin dari:

berapa kaya dia.

berapa besar pengaruh keluarganya.

berapa banyak hartanya.

Padahal pemimpin sejati adalah orang yang memiliki:

ilmu
kejujuran
keberanian
dan amanah.


8. Kekuasaan adalah Pemberian Allah

Ayat ini ditutup dengan kalimat yang sangat besar maknanya.

Allah berfirman:

وَاللَّهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ مَن يَشَاءُ

“Allah memberikan kekuasaan kepada siapa yang Dia kehendaki.”

Kekuasaan bukan milik manusia.

Kekuasaan milik Allah.

Dan Allah memberikan kekuasaan kepada siapa yang Dia pilih.


9. Renungan yang Sangat Dalam

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…

Ayat ini bukan hanya cerita sejarah.

Ini cermin bagi manusia.

Apakah kita menilai manusia dengan ukuran Allah?

Ataukah kita masih menilai manusia dengan ukuran dunia?


10. Penutup 

Saudara-saudaraku…

Bani Israil menolak Thalut.

Namun sejarah akan membuktikan sesuatu.

Pasukan kecil yang dipimpin oleh Thalut…

akan mengalahkan pasukan besar yang dipimpin oleh Jalut.

Dan dari pasukan kecil itu…

akan muncul seorang pemuda yang kelak menjadi nabi besar.

Namanya Nabi Dawud.

Inilah pelajaran besar dari ayat ini:

Pemimpin yang dipilih oleh Allah mungkin tidak terlihat hebat di mata manusia.

Namun ketika Allah bersama mereka…

mereka mampu mengubah sejarah.


Doa 

Ya Allah…

berikan kepada kami pemimpin yang adil dan amanah.

Ya Allah…

jangan Engkau serahkan urusan kami kepada orang-orang yang zalim.

Ya Allah…

jadikan kami orang-orang yang mampu mengenali kebenaran dan mengikuti pemimpin yang Engkau ridai.

آمين يا رب العالمين 🤲



Ketika Manusia Meminta Perang, Tetapi Takut Berjuang


Ketika Manusia Meminta Perang, Tetapi Takut Berjuang

Tafsir QS Al-Baqarah 246


1. Pembukaan 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah… 🤲

Setelah Allah berbicara tentang kematian.

Setelah Allah berbicara tentang keberanian iman.

Setelah Allah berbicara tentang sedekah di jalan-Nya.

Al-Qur’an tiba-tiba membawa kita kepada sebuah kisah sejarah yang sangat dramatis.

Allah berfirman:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الْمَلَإِ مِن بَنِي إِسْرَائِيلَ
مِن بَعْدِ مُوسَىٰ

“Tidakkah engkau memperhatikan para pemuka Bani Israil setelah Nabi Musa?”

(QS Al-Baqarah:246)

Ini adalah kisah tentang sebuah bangsa yang pernah mengalami kehinaan.

Mereka kehilangan kekuatan.

Mereka kehilangan kehormatan.

Mereka kehilangan tanah mereka.


2. Permintaan yang Penuh Semangat

Dalam keadaan itu…

para pemimpin mereka datang kepada seorang nabi dari kalangan mereka.

Mereka berkata:

ابْعَثْ لَنَا مَلِكًا
نُّقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Angkatlah untuk kami seorang raja agar kami dapat berperang di jalan Allah.”

Lihatlah semangat mereka.

Mereka ingin berjuang.

Mereka ingin mengembalikan kehormatan mereka.

Mereka ingin membela agama Allah.


3. Keraguan Sang Nabi

Namun nabi mereka menjawab dengan pertanyaan yang sangat dalam.

Beliau berkata:

هَلْ عَسَيْتُمْ
إِن كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ
أَلَّا تُقَاتِلُوا

“Jangan-jangan jika perang diwajibkan kepada kalian, kalian justru tidak akan berperang?”

Ini pertanyaan yang sangat jujur.

Karena berbicara tentang perjuangan sangat mudah.

Tetapi menjalani perjuangan sangat berat.


4. Jawaban yang Penuh Keyakinan

Mereka menjawab dengan penuh semangat:

“Bagaimana mungkin kami tidak berperang di jalan Allah…”

Padahal mereka telah diusir dari kampung halaman mereka.

Anak-anak mereka ditawan.

Kehormatan mereka dirampas.

Mereka berkata:

Kami pasti akan berjuang!


5. Kenyataan yang Menyedihkan

Namun Al-Qur’an kemudian mengatakan sesuatu yang sangat menyedihkan.

Ketika perang benar-benar diwajibkan…

banyak dari mereka justru mundur.

Allah berfirman:

فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ
تَوَلَّوْا إِلَّا قَلِيلًا مِّنْهُمْ

“Ketika perang diwajibkan kepada mereka, mereka berpaling… kecuali sedikit di antara mereka.”

Ini adalah kenyataan manusia.

Banyak orang bersemangat dalam kata-kata.

Tetapi sedikit yang setia dalam tindakan.


6. Pelajaran tentang Kepemimpinan

Saudara-saudaraku…

ayat ini mengajarkan kita satu pelajaran besar tentang kepemimpinan.

Sebuah bangsa tidak berubah hanya dengan pidato.

Sebuah bangsa berubah dengan pengorbanan.

Dengan keberanian.

Dengan kesetiaan kepada kebenaran.


7. Penyakit Manusia Sepanjang Zaman

Penyakit ini bukan hanya penyakit Bani Israil.

Ini penyakit manusia sepanjang zaman.

Banyak orang ingin kemuliaan…

tetapi tidak mau menanggung perjuangan.

Banyak orang ingin kemenangan…

tetapi takut menghadapi kesulitan.


8. Allah Mengetahui Hati Manusia

Allah menutup ayat ini dengan kalimat yang sangat tegas:

وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ

“Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zalim.”

Allah mengetahui siapa yang benar-benar jujur.

Dan siapa yang hanya berbicara tanpa kesungguhan.


9. Renungan 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…

Ayat ini seakan bertanya kepada kita semua:

Apakah kita termasuk orang yang hanya berbicara tentang kebaikan?

Ataukah kita benar-benar siap menjalani perjuangan?

Apakah kita hanya ingin kemuliaan?

Ataukah kita siap menanggung pengorbanan?


10. Penutup 

Saudara-saudaraku…

Kisah ini belum selesai.

Ini baru awal.

Karena dari kisah ini akan muncul seorang raja yang tidak disangka-sangka.

Namanya Thalut.

Dan dari kisah ini akan muncul pertempuran besar melawan seorang raksasa bernama Jalut.

Dan dari pasukan kecil itu…

akan muncul seorang pemuda yang kelak menjadi nabi besar.

Namanya Nabi Dawud.

Namun pelajaran pertama dari kisah ini adalah:

Tidak semua orang yang meminta perjuangan siap menjalani perjuangan.


Doa 

Ya Allah…

jadikan kami orang-orang yang jujur dalam iman kami.

Ya Allah…

jangan jadikan kami termasuk orang yang hanya kuat dalam kata-kata tetapi lemah dalam amal.

Ya Allah…

berikan kepada kami keberanian untuk membela kebenaran.

Dan jadikan kami termasuk hamba-hamba-Mu yang Engkau cintai.

آمين يا رب العالمين 🤲