Minggu, 01 Juni 2014

Sifat Nafsiyah

وُجُودٌ Wujud (ada). Mustahil ‘adam (tiada).
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ
Allah Yang Menciptakan langit dan bumi serta yang berada diantara keduanya… [QS. As Sajdah (32) : 4]
Tuhan haruslah Ada, mustahil Tuhan itu bersifat tidak ada. Sesuatu bisa disebut Ada, kalau ia ada dengan sendirinya. Sebab ‘Ada’ adalah kata aktif, bukan pasif. Jadi segala sesuatu yang ‘diadakan’ maka dia bukanlah Tuhan, sebab sifatnya ‘diadakan’, bukan ‘Ada’. Umpamanya ada orang lumpuh, dia dibantu dan digerakkan atau diposisikan sehingga ia berada pada posisi duduk. Maka sebenarnya ia tidak duduk akan tetapi didudukkan. Ketika ia ditopang oleh orang lain sehingga berada pada posisi berdiri, sebenarnya ia tidak berdiri, melainkan didirikan. Tuhan tidak diadakan. Tuhan itu Ada tanpa diadakan.
Tidak pantas jika kita menyembah sesuatu yang diciptakan. Tidak pantas jika manusia menyembah Isa as., Uzair as, patung, Fir’aun, pohon, dewa-dewa, jin, malaikat, dsb. Sebab mereka semua diciptakan. Sesuatu yang diciptakan bukanlah Tuhan. Justeru Tuhan itulah yang mencipta segala yang ada. Allah berfirman dalam Al Qur`an surah Al-Anbiya` ayat 30 yang artinya:
Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman? [Al-Anbiya`: 30]
Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan kabut. Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. [Fushshilat: 11-12]
Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya. [Adz-Dzariyat: 47]
Bahwa pada mula pertama dijadikan Allah akan langit dan bumi. Maka bumi itu lagi campur baur adanya, yaitu suatu hal yang ketutupan kelam kabut; maka Roh Allah berlayang-layang di atas muka air itu. [Kejadian 1:1-2 TL]
Pada tahun 1929, A.E. Hubble seorang astronom berkebangsaan Amerika menghadirkan sebuah penemuan besar. Ketika mengamati bintang-bintang dengan teleskop raksasa, ia mendapati cahaya dari bintang-bintang itu berubah ujung spektrumnya menjadi merah. Hal ini berarti, bintang tersebut menjauh dari tempat observasi. Artinya bintang menjauhi bumi secara tetap. Sebelumnya ia juga mendapati bahwa galaksi-galaksi dan bintang-bintang bergerak saling menjauh satu dengan yang lainnya. Ini menjelaskan bahwa ternyata alam semesta meluas, “Tidak statis sebagaimana diklaim oleh kaum atheis. Alam semesta yang meluas ini menunjukkan bahwa jika alam semesta dapat bergerak mundur dalam hal waktu, maka didapati bahwa alam semesta berasal dari ‘titik tunggal’. Perhitungan menunjukkan bahwa titik tunggal ini, mengandung pengertian semua zat atau materi yang ada di alam semesta, mempunyai ‘volume nol’ dan ‘kerapatan tak terbatas’. Alam semesta tercipta melalui ledakan titik tunggal yang bervolume nol ini. Ledakan luar biasa dahsyatnya yang disebut Ledakan Dahsyat (Big Bang) ini menandai dimulainya alam semesta. Adapun yang dimaksud dengan ‘volume nol’ adalah ketiadaan.”
Ini adalah bukti bahwa agama Islam bukanlah takhyul. Sebab keyaqinan bahwa alam semesta itu diciptakan oleh Allah dapat dijelaskan secara ilmiah. Justeru teori yang mengatakan bahwa alam semesta ini tidak diciptakan itulah yang merupakan kepercayaan takhyul yang tidak logis, tidak masuk aqal, tidak ilmiah, jahil, sesat. Jika tidak diatur oleh Allah, mana mungkin sebuah ledakan dahsyat dapat menghasilkan tatanan yang teratur seperti yang kita lihat pada alam semesta. Sebagaimana kita ketahui, setiap ledakan itu hanya menghasilkan kekacau-balauan. Tidak mungkin ledakan dinamit menghasilkan bangunan megah yang kokoh dan indah. Tanpa Kekuasaan Allah, tentu zat-zat itu akan berhamburan tanpa kontrol. Tetapi pada kenyataannya, setelah peristiwa Big Bang, zat-zat itu bergerak dengan kecepatan dan arah yang sangat terkendali. Tentu saja Allah Yang telah menahan zat-zat tersebut agar tidak berhamburan tanpa kendali.
Allah Ada bukan dengan diadakan, tetapi Allah memang bersifat Wujud (Ada). Allah ada dengan SendiriNya. Sedangkan makhluq pada haqiqatnya tidak ada, melainkan diadakan. Jelas beda antara ada dengan diadakan. Itulah salah satu ma’na kalimat tauhid (LAA MAUJUD ILLALLAAH)

Maka patut bagi mu`min mu’taqad untuk berdzikir kepada Allah Ta’ala pada tiap yang maujud. Dzikir itu dapat dilakukan dengan banyak cara, misalnya dengan menyebut Asma Allah atau memujiNya dengan lisan dan juga meyaqini dengan hati; bisa juga dengan mengingat ni’mat yang telah Allah berikan; berfikir tentang keindahan dan keteraturan yang ada pada ciptaan Allah termasuk diri sendiri; mengambil pelajaran dari tokoh-tokoh terdahulu; mengambil pelajaran dari musibah dan peristiwa; dsb.
Poskan Komentar