Rabu, 25 Januari 2017

Siapakah Yang Dimaksud Ulama?

Segala puji hanya untuk Allah Ta'ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam beserta keluarga dan seluruh sahabatnya.
Ulama adalah: orang-orang yang mengenal syari’at syari’at Allah Shubhanahu wa ta’alla, memahami dalam agama-Nya, mengamalkan ilmunya di atas petunjuk dan ilmu pengetahuan, yang Allah Shubhanahu wa ta’alla memberikan hikmah kepada mereka:
﴿ يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَن يَشَآءُ وَمَن يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَايَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُوا اْلأَلْبَابِ [البقرة: 269] 
Dan barangsiapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal. (QS. al-Baqarah:269)

Para ulama adalah: orang-orang yang Allah Shubhanahu wa ta’alla menjadikan sandaran manusia kepada mereka dalam bidang fiqih dan ilmu (agama), serta berbagai perkara agama dan dunia.[1]
Para ulama adalah: para fuqaha Islam, orang-orang yang beredar fatwa terhadap perkataan ini di tengah manusia (umat islam), orang-orang yang menentukan diri dengan melakukan istinbath hukum-hukum Islam  dan memberikan perhatian khusus dengan mencatat kaidah-kaidah halal dari yang haram.[2]
Para ulama adalah: para pemimpin (imam) agama, mereka mendapatkan kedudukan agung ini dengan ijtihad (kesungguhan) dan sabar serta kesempurnaan keyakinan:
﴿ وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِئَايَاتِنَا يُوقِنُونَ [السجدة: 24] 
Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar.Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami. (QS. as-Sajdah:24)

Para ulama adalah: golongan yang berangkat (pergi/safar) dari umat ini untuk mempelajari agama Allah Shubhanahu wa ta’alla, kemudian melaksanakan kewajiban dakwah dan tugas memberikan peringatan:
﴿ وَمَاكَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَآفَةً فَلَوْلاَ نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِنهُمْ طَآئِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ [التوبة: 122] 
Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu'min itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (QS. at-Taubah:122)

Para ulama adalah: orang orang yang memberi petunjuk kepada manusia, yang tidak kosong/lowong satu masa/zaman dari mereka, sehingga datang perkara Allah Shubhanahu wa ta’alla, mereka adalah pemimpin tha`ifah manshurah (golongan yang selamat) hingga hari kiamat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لاَتَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي قَائِمَةٌ بِأَمْرِ اللهِ لَايَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ أَوْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ  وَهُمْ ظَاهِرُوْنَ عَلىَ النَّاسِ » [ أخرجه البخاري ومسلم ]
Senantiasa satu golongan dari umatku, melaksanakan perkara Allah Shubhanahu wa ta’alla, tidak membahayakan mereka orang yang menghina mereka atau menentang (berbeda)  sehingga datang perkara Allah Shubhanahu wa ta’alla, sedang mereka nampak (menang) terhadap manusia.”[3]

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata: ‘Adapun yang dimaksud dengan golongan ini, maka imam al-Bukhari rahimahullah berkata: ‘Mereka adalah para ulama’. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata: ‘Jika mereka bukan ahli hadits, maka saya tidak tahu lagi siapakah mereka.’ Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berkata: ‘Sesungguhnya yang dimaksud imam Ahmad adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan orang yang meyakini mazhab Ahli Hadits.’ Saya (an-Nawawi) berkata: ‘Bisa jadi bahwa golongan ini terbagi-bagi di antara berbagai golongan kaum mukminin, di antara mereka adalah para mujahid fi sabilillah, Ahli hadits, ahli zuhud, orang-orang yang amar ma’ruf dan nahi munkar, dan di antara mereka berasal dari berbagai golongan dari orang-orang baik (ta’at kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla), maka tidak mesti mereka berkumpul dalam satu kelompok, bahkan bisa jadi mereka terpencar di berbagai penjuru dunia.’[4]
Pendapat manapun yang paling kuat tentang golongan ini, maka sesungguhnya yang disepakati bahwa para ulama adalah para pemimpin mereka yang diutamakan/dikedepankan padanya dan manusia mengikuti mereka.Sesungguhnya para ulama, sekalipun jiwa mereka sudah tidak ada, maka peninggalan mereka tetap ada. Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata: ‘Para ulama tetap ada sepanjang masa, jiwa mereka sudah tidak ada dan peninggalan mereka tetap ada dalam jiwa.’[5]
Para ulama adalah: Pemimpin jama’ah yang kita diperintahkan untuk mengikuti mereka dan kita diperingatkan dari memisahkan diri-dari mereka.Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لاَيَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنِّي رَسُوْلُ اللهِ إِلاَّ بِإحْدَى ثَلاَثٍ: الثَّيِّبُ الزَّانِي وَالنَّفْسُ بِالنَّفْسِ وَالتَّارِكُُ لِدِيْنِهِ الْمُفَارِقُ لِلْجَمَاعَةِ» [ أخرجه البخاري ومسلم]
Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Allah Shubhanahu wa ta’alla dan sesungguhnya aku adalah utusan Allah Shubhanahu wa ta’alla, kecuali dengan salah satu dari tiga perkara: ‘Tsayyib (yang pernah menikah) yang berzinah, membunuh orang lain, dan yang meninggalkan agamanya, memisahkan diri dari jama’ah.[6]

Dari Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ قيْدَ شِبْرٍ فَقَدْ خَلَعَ رِبْقَةَ اْلإِسْلاَمِ مِنْ عُنُقِهِ» [ أخرجه أحمد وغيره]
‘Siapa yang memisahkan diri dari jama’ah sekadar satu jengkal maka sungguh ia telah melepaskan ikatan Islam dari lehernya.[7]

Dari Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
                “Tetap bersama jama’ah dan hindarilah bercerai berai, maka sesungguhnya syetan bersama satu orang, dan ia lebih jauh dari dua orang, dan siapa yang menghendaki aroma surga maka hendaklah ia selalu bersama jama’ah. Siapa yang kebaikannya menyenangkan hatinya dan keburukannya menyedihkannya maka itulah seorang mukmin.’[8]
                Sebagai kesimpulan dari ucapan para ulama tentang makna jama’ah ada dua pendapat:
Pendapat pertama: bahwa jama’ah adalah jama’ah kaum muslimin apabila mereka berkumpul terhadap satu imam secara syar’i.
Pendapat kedua: bahwa jama’ah adalah manhaj dan thariqah (metode dan jalan) maka siapa yang berada di atas petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabatnya dan salafus shaleh maka dia bersama jama’ah.
                Dan di atas dua pendapat tersebut, maka sesungguhnya pemimpin jama’ah ini adalah para ulama. Merekalah yang melaksanakan bai’at untuk imam, taat kepadanya mengikuti terhadap ketaatan mereka. Mereka adalah petunjuk di atas manhaj dan thariqah, karena pengetahuan mereka dengan petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya serta salafus shaleh. Karena itulah, imam al-Ajury memaparkan dalam bab ‘Luzum Jama’ah’ beberapa ayat dan hadits, kemudian ia berkata:
                “Tanda orang yang Allah Shubhanahu wa ta’alla menghendaki kebaikan dengannya adalah menelusuri jalan ini: Kitabullah (al-Qur`an al-Karim) dan sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sunnah para sahabatnya dan orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan, serta yang ada pada para pemimpin kaum muslimin di setiap negeri, seperti: Auza’i, Sufyan ats-Tsaury, Malik bin Anas, asy-Syafi’i, Ahmad bin Hanbal, Qasim bin Sallam rahimahumullah, dan orang yang seperti jalan mereka, serta menjauhi setiap mazhab yang para ulama tersebut tidak berpendapat kepadanya.’[9]
                Bahkan, tatkala Abdullah bin Mubarak rahimahullah ditanya: Siapakah jama’ah yang mesti diikuti? Ia menjawab: ‘Abu Bakar, Umar...ia terus menyebutkan hingga sampai kepada Muhammad bin Tsabit, Husain bin Waqid.’ Ia ditanya lagi: ‘Mereka telah wafat, siapakah yang masih hidup? Ia menjawab: Abu Hamzah as-Sukkary.’[10]
                Maka ia menjadikan ulama adalah jama’ah yang wajib diikuti.Sesungguhnya tuntutan perkara untuk mengikuti jama’ah adalah bahwa seorang mukallaf wajib mengikuti sesuatu yang konsensus para mujtahid, dan mereka itulah yang dimaksudkan al-Bukhari rahimahullah: ‘Dan mereka adalah ahli ilmu.’[11]




[1]Lihat: ath-Thabari: Jami’ul Bayan 3/327
[2]Ibnul Qayyim: I’lamul Muwaqqi’in 1/7
[3]HR. Al-Bukhari 8/149 dan Muslim  1920
[4]Syarh Muslim 13/67.
[5]Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr: Jami’ Bayan Ilmi wa Fadhlih 1/68
[6]HR. Al-Bukhari 9/7, Muslim 3/1302, Ahmad 1/382, Abu Daud 4352, an-Nasa`i 7/90. Semuanya dari hadits Abdullah bin Mas’ud radh.
[7]HR. Ahmad dalam Musnad 4/130, 202, 5/344, Abu Daud 4/241 no. 475
[8]HR. Ahmad 1/18, at-Tirmidzi 3/315 no. 2254
[9]Asy-Syari’ah 14
[10]Mengutip dari asy-Syathiby: I’tisham 1/771
[11]Ibnu Baththal: mengutip dari Ibnu Hajar rahimahullah: Fathul Bari 13/316

Menghormati dan Menghargai Ulama

Segala puji hanya untuk Allah Ta'ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shalallahu’alaihiwasallam beserta keluarga dan seluruh sahabatnya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (( لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيُوْقِرْ كَبِيْرَنَا وَيَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ))
[ أخرجه أحمد والترمذي ]
Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang kecil dari kami dan tidak menghormati yang tua dari kami, tidak menyuruh yang ma’ruf dan tidak mencegah dari perbuatan munkar, serta tidak mengenal hak orang yang alim (ulama) dari kami.’[1]
Sesungguhnya membesarkan, menghormati dan menghargai ulama termasuk bagian dari sunnah.Thawus bin Kaisan rahimahullah berkata: ‘Menghormati empat orang ini termasuk sunnah: ulama, orang tua, penguasa/pemerintah, dan orang tua.’[2]Bahkan membesarkan ulama karena ilmunya dan karena al-Qur`an yang dihapalnya merupakan pengagungan terhadap Allah Subhanahu wa ta’ala. Dalam riwayat Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (( إِنَّ مِنْ إِجْلاَلِ اللهِ تَعَالَي: إِكْرَامَ ذِي الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ وَحَامِلِ الْقُرْآنِ غَيْرَ الْغَالِي فِيْهِ وَلاَالْجَافِي عَنْهُ وَإِكْرَامَ ذِي السُّلْطَانِ الْمُقْسِطِ)) [ أخرجه أبو داود ]
Termasuk mengagungkan Allah Subhanahu wa ta’ala: menghormati muslim yang sudah tua, menghormati penghapal al-Qur`an yang tidak berlebihan padanya dan tidak kurang, dan menghormati pemerintah yang adil.[3]

Sungguh para salafus shalih dari umat ini sangat menghormati para ulama mereka dan beradab yang baik bersama mereka. Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu –padahal kedudukannya sudah tinggi- memegang tali tunggangan Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu seraya berkata: ‘Seperti inilah kami disuruh melakukan terhadap para ulama dan pembesar kami.’[4]
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu bercerita: ‘Aku menghadapi masalah dan mencari-cari para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam- maka sungguh aku mendatangi seorang laki laki karena suatu hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sampai berita kepadaku bahwa ia pernah mendengarnya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam- ternyata aku menemukannya sedang tidur qailulalh (di pagi, siang hari), maka aku memakai selendangku di depan pintu rumahnya, angin bertiup di wajahku sampai ia keluar.
Ketika keluar, ia berkata: ‘Wahai anak paman (sepupu) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada apa denganmu? Aku berkata: ‘Sampai berita kepadaku bahwa engkau menyampaikan hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka aku ingin mendengarkan langsung darimu.’ Ia berkata: ‘Kenapa engkau tidak mengutus seseorang kepadaku hingga aku datang kepadamu.’ Aku berkata: ‘Saya lebih pantas untuk datang kepadamu.’[5]
Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata kepada Khalaf al-Ahmar: ‘Aku tidak duduk kecuali di hadapanmu, kami disuruh untuk tawadhu terhadap orang yang kami belajar darinya.’[6]Ketika Imam Muslim bin Hajjaj rahimahullah datang kepada imam al-Bukhari rahimahullah dan mencium di antara kedua matanya, ia berkata: ‘Biarkan saya hingga mencium kedua kakimu wahai guru para guru dan pemimpin pada ahli hadits serta dokter dalam bidang hadits tentang ‘ilallnya...’[7]
Sungguhnya termasuk kesempurnaan penghormatan para salaf termasuk para ulama mereka, bahwa mereka merasakan wibawa mereka. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: ‘Aku menahan diri dua tahun ingin bertanya kepada Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu tentang suatu hadits, tidak ada yang menghalangiku menanyakannya kecuali karena wibawanya.’[8]
Sungguhnya para ulama sudah banyak yang membicarakan  tentang tata cara bergaul (berinteraksi) bersama ulama dalam majelisnya, metode berbicara bersamanya yang disebutkan secara panjang lebar dalam kitab ‘Adabul ‘Alim wal Muta’allim’, dan termasuk paling mencakup yang diriwayatkan dalam hal itu adalah yang diucapkan oleh Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu:
‘Sesungguhnya di antara hak ulama adalah engkau jangan banyak bertanya kepadanya, janganlah engkau membantahnya dalam jawaban, janganlah engkau terus menerus bertanya apabila ia malas, janganlah engkau memegang pakaiannya apabila ia bangkit, janganlah engkau membuka rahasianya, jangan menggunjing seseorang di sisinya, jika ia keliru engkau harus menerima/memaafkan kekeliruannya. Engkau harus menghormati dan mengagungkannya karena Allah Subhanahu wa ta’ala selama dia menjaga perintah Allah Subhanahu wa ta’ala, dan jika ia membutuhkan sesuatu hendaklah engkau cepat-cepat mendahului yang lain.’[9]
Dan ia berkata: ‘Di antara hak ulama terhadapmu adalah: apabila engkau mendatanginya, hendaklah engkau memberi salam kepadanya secara khusus dan terhadap yang lain secara umum, duduk di hadapannya, jangan menunjuk di hadapannya, janganlah menggerakkan kedua matamu, janganlah engkau mengatakan ‘Fulan mengatakan pendapat yang berbeda dengan pendapatmu’, janganlah engkau memegang bajunya, janganlah engkau terus menerus bertanya kepadanya, maka sesungguhnya dia seperti kedudukan pohon kurma yang basah dan senantiasa terus berjatuhan sesuatu untukmu darinya.’[10]



[1]HR. Ahmad 1/257, at-Tirmidzi 1986, dan Ibnu Hibban 1913.
[2]Disebutkan oleh al-Baghawi dalam Syarh Sunnah 13/43.
[3]HR. Abu Daud 4843.
[4]Al-Hakim 3/423, Ibnu Abdil Barr 1/228, al-Khathib ‘al-Jami’ li Akhlaq ar rawi...1/189.
[5]Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayan ilmi wa fadhlih 1/81.
[6]Lihat Ibnu Jama’ah dalam Tadzkirah as Sami’ wal Mutakallim’ hal. 88.
[7]Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wan Nihayah 11/340.
[8]Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayan ilmi wa fadhlih 1/112
[9]Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayan ilmi wa fadhlih 1/129
[10]Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayan ilmi wa fadhlih 1/146.

Rabu, 26 Oktober 2016

Hukuman bagi Penghina al-Qur’an di Masa Rasulullah SAW....

Hukuman bagi Penghina al-Qur’an di Masa Rasulullah SAW....

Adalah di zaman Rasulullah saw ada seorang munafik bernama Abi Sarah yang ditugaskan untuk menulis wahyu. Abi Sarah berbalik menjadi murtad dan kafir, kemudian mengumumkan kemurtadannya terhadap Islam dan berbalik pada kelompok orang-orang kafir Quraisy di kota Makkah.

Manakala Abi Sarah ditanya oleh para kafir musyrikin terhadap pengalamannya pernah diminta untuk menuliskan wahyu, dengan bangganya Abi Sarah mengatakan bahwa ternyata Nabi Muhammad itu dapat aku “bodohi”. Ketika dia mengimlakan kepadaku ayat [عزيز حكيم] “Aziizun Hakim” aku justru menuliskan [عليم حكيم]  “Alimun Hakim” dan Muhammad mempercayainya begitu saja.

Tentu saja lelucon Abi Sarah yang bermaksud menghinakan al-Qur’an sekaligus mencemooh nabi Muhammad Saw disambut gelak tawa kepuasaan pembenci Islam. Mereka seakan menganggap bahwa Rasulullah gampang dibodohi dan dibohongi hanya oleh seorang bernama Abi Sarah.

Berita kebohongan yang disampaikan oleh Abi Sarah pun telah sampai ke telinga Rasulullah dan para sahabat. Apa yang terjadi kemudian? Apakah berita itu dianggap kabar angin saja? Ternyata tidak! Penghinaan dan penistaan terhadap kalamullah sekaligus Rasulullah Saw memiliki hukum tersendiri di dalam Islam.

Beberapa tahun kemudian, ketika kekuatan umat Islam telah bertambah semakin kuat dan banyak hingga menyebar ke beberapa jazirah di negara Arab, ekspansi selanjutnya adalah menaklukkan kota Makkah yang lebih dikenal dengan istilah Fath Makkah.

Ketika umat Islam telah berhasil menguasai kota Makkah, kaum kafir Quraisy menyerah tanpa syarat. Mereka tunduk atas segala ketentuan serta balasan terhadap permusuhan mereka terhadap kaum muslimin puluhan tahun yang lalu.

Rasulullah Saw memaafkan segala bentuk kekerasan, kekejaman serta permusuhan kafir Quraisy Makkah. Namun, ada satu hal yang tidak terlupakan. Ingatan kaum muslimin terhadap penghinaan serta penistaan Islam yang pernah dilakukan seorang munafik bernama Abi Sarah tidak serta merta hilang begitu saja. Apa tindakan balasan atas penghinaan Abi Sarah terhadap al-Qur’an?

Rasulullah saw dengan tegasnya memerintahkan para pasukan elit untuk mencari Abi Sarah serta beberapa orang yang melakukan penistaan yang sama, seperti Abdullah bin Hilal bin Khatal dan Miqyas bin Shubabah. Rasulullah saw menginstruksikan ketiga orang ini untuk dieksekusi mati sekalipun mereka bergantung di sisi Ka’bah.

Dalam hal menyikapi para penebar fitnah penistaan agama, Islam tidak main-main. Para ulama sepakat bahwa hukuman bagi penghina al-Qur’an, maupun penghina Rasulullah Saw adalah hukuman eksekusi mati. Bahkan banyak para ulama yang menulis khusus kitab-kitab yang berkenaan dengan sanksi hukum bagi penghina al-Qur’an dan penghina Rasulullah Saw.

Diantara kitab yang terkenal adalah karangan Imam as-Subki [683-756 H] yang berjudul “As-Syaif al-Maslul ‘Ala Man Sabb ar-Rasul” [Pedang yang Terhunus atas Pencela Rasul] dan selanjutnya lebih dari 350 tahun berikutnya seorang ahli muhadits Imam Muhammad Hasyim bin Abdul Gafhur [1104-11743 H] juga menulis sebuah kitab yang berjudul “as-Saif al-Jali ‘ala Man Sabb an-Nabi “ [Pedang yang Berkilat Atas Penghina Nabi].

Sikap Para Ulama Terhadap Penghina al-Qur’an

Para Ulama sepakat bahwa memuliakan dan mensucikan al-Quran adalah wajib. Karenanya, siapa saja kaum Muslim yang menghina al-Quran, berarti telah melakukan dosa besar, bahkan telah dinyatakan murtad dari Islam.

Imam an-Nawawi, dalam At-Tibyan fi Adabi Hamalah al-Qur’an, menyatakan: “Para ulama telah sepakat tentang kewajiban menjaga mushaf al-Quran dan memuliakan-nya. Para ulama Mazhab Syafii berkata, “Jika ada seorang Muslim melemparkan al-Quran ke tempat kotor maka dihukumi kafir (murtad).”

Di antara penyebab kekufuran (murtad) bagi seorang Muslim adalah mencaci-maki dan menghinakan perkara yang diagungkan dalam agama, mencaci-maki Rasulullah saw, mencaci-maki malaikat serta menistakan mushaf al-Quran dan melemparkannya ke tempat yang kotor. Semua itu termasuk penyebab kekufuran (murtad).

Al-Qadhi Iyadh pernah berkata, “Ketahuilah bahwa siapa saja yang meremehkan al-Quran, mushafnya atau bagian dari al-Quran, atau mencaci-maki al-Quran dan mushafnya, ia telah kafir (murtad) menurut ahli Ilmu.” (Asy-Syifa, II/1101).

Dalam kitab Asna al-Mathalib dinyatakan, mazhab Syafii telah menegaskan bahwa orang yang sengaja menghina, baik secara verbal, lisan maupun dalam hati, kitab suci al-Quran atau hadis Nabi saw. dengan melempar mushaf atau kitab hadis di tempat kotor, maka dihukumi murtad.

Dalam kitab Al-Fatawa al-Hindiyyah, mazhab Hanafi menyatakan, bahwa jika seseorang menginjakkan kakinya ke mushaf, dengan maksud menghinanya, maka dinyatakan murtad (kafir).

Dalam Hasyiyah al-‘Adawi, mazhab Maliki menyatakan, meletakkan mushaf di tanah dengan tujuan menghina al-Quran dinyatakan murtad.

Dalam kitab Al-Mawsu’ah al-Fiqhiyyah dinyatakan, ulama telah sepakat bahwa siapa saja yang menghina al-Quran, mushaf, satu bagian dari mushaf, atau mengingkari satu huruf darinya, atau mendustakan satu saja hukum atau informasi yang dinyatakannya, atau meragukan isinya, atau berusaha melecehkannya dengan tindakan tertentu, seperti melemparkannya di tempat-tempat kotor, maka dinyatakan kafir (murtad).

Inilah hukum syariah yang disepakati oleh para fukaha dari berbagai mazhab, bahwa hukum menghina al-Quran jelas-jelas haram, apapun bentuknya, baik dengan membakar, merobek, melemparkan ke toilet maupun menafikan isi dan kebenaran ayat dan suratnya.

Jika pelakunya Muslim, maka dengan tindakannya itu dia dinyatakan kafir (murtad). Jika dia non-Muslim, dan menjadi Ahli Dzimmah, maka dia dianggap menodai  dzimmah- nya, dan bisa dijatuhi sanksi yang keras oleh negara.

Jika dia non-Muslim dan bukan Ahli Dzimmah, tetapi Mu’ahad, maka tindakannya bisa merusakmu’ahadah-nya, dan negara bisa mengambil tindakan tegas kepadanya dan negaranya. Jika dia non-Muslim Ahli Harb, maka tindakannya itu bisa menjadi alasan bagi negara untuk memaklumkan perang terhadapnya dan negaranya.

Karena itu, sanksinya pun berat. Orang Muslim yang menghina al-Quran akan dibunuh, karena telah dinyatakan murtad. Jika dia non-Muslim Ahli Dzimmah, maka dia harus dikenai ta’zir yang sangat berat, bisa dicabut  dzimmah-nya, hingga sanksi hukuman mati.

Bagi non-Muslim non-Ahli Dzimmah, maka negara wajib membuat perhitungan dengan negaranya, bahkan bisa dijadi
kan alasan Khalifah untuk memerangi negaranya, dengan alasan menjaga kehormatan dan kepentingan Islam dan kaum Muslim.


Disebabkan negara kita menganut paham demokrasi yang berasas pada ketentuan hukum perundangan-undangan, maka sikap terbaik kita juga harus berdasarkan ketentuan perundangan yang berlaku di Indonesia sesuai dengan pasalUU No. 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama (“UU 1/PNPS/1965”). Pasal 1 UU 1/PNPS/1965 menyatakan:

“Setiap orang dilarang dengan sengaja di muka umum menceritakan, menganjurkan dan mengusahakan dukungan umum, untuk melakukan penafsiran tentang sesuatu agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan-kegiatan keagamaan dari pokok-pokok ajaran agama itu.”

Memang kita tidak seharusnya menunjukkan sikap emosional atau kekerasan. Bentuk kemarahan terhadap para penista agama atau penghina al-Qur’an dapat kita tunjukkan dari sikap anti-pati untuk tidak memilih pemimpin yang melakukan penistaan terhadap Islam. Dan ormas Islam harus mengambil sikap tegas melaporkan keberatan tersebut pada pihak yang berwajib sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku.
 


Hukum Menghina Islam Menurut Al Qur'an

Ayat-ayat Al-Qur’an secara tegas telah menerangkan bahwa orang yang menghina, melecehkan dan mencaci maki Allah Ta’ala, atau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam atau agama Islam adalah orang yang kafir murtad jika sebelumnya ia adalah seorang muslim. Kekafiran orang tersebut adalah kekafiran yang berat, bahkan lebih berat dari kekafiran orang kafir asli seperti Yahudi, Nasrani dan orang-orang musyrik.
Adapun jika sejak awal ia adalah orang kafir asli, maka tindakannya menghina, melecehkan dan mencaci maki Allah Ta’ala, atau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam atau agama Islam tersebut telah menempatkan dirinya sebagai gembong kekafiran dan pemimpin orang kafir. Di antara dalil dari Al-Qur’an yang menegaskan hal ini adalah:
Pertama firman Allah Ta’ala:


“Jika mereka merusak sumpah (perjanjian damai)nya sesudah mereka berjanji dan mereka mencerca agama kalian, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, agar supaya mereka berhenti.” (QS. At-Taubah [9]: 12)

Dalam ayat yang mulia ini, Allah menyebut orang kafir yang mencerca dan melecehkan agama Islam sebagai aimmatul kufri, yaitu pemimpin-pemimpin orang-orang kafir. Jadi ia bukan sekedar kafir biasa, namun gembong orang-orang kafir. Tentang hal ini, imam Al-Qurthubi berkata, “Barangsiapa membatalkan perjanjian damai dan mencerca agama Islam niscaya ia menjadi pokok dan pemimpin dalam kekafiran, sehingga berdasar ayat ini ia termasuk jajaran pemimpin orang-orang kafir.” (Al-Jami’ li-Ahkamil Qur’an, 8/84)

Imam Al-Qurthubi berkata, “Sebagian ulama berdalil dengan ayat ini atas wajibnya membunuh setiap orang yang mencerca agama Islam karena ia telah kafir. Mencerca (ath-tha’nu) adalah menyatakan sesuatu yang tidak layak tentang Islam atau menentang dengan meremehkan sesuatu yang termasuk ajaran Islam, karena telah terbukti dengan dalil yang qath’i atas kebenaran pokok-pokok ajaran Islam dan kelurusan cabang-cabang ajaran Islam.

Imam Ibnu Al-Mundzir berkata, “Para ulama telah berijma’ (bersepakat) bahwa orang yang mencaci maki Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam harus dibunuh. Di antara yang berpendapat demikian adalah imam Malik (bin Anas), Laits (bin Sa’ad), Ahmad (bin Hambal) dan Ishaq (bin Rahawaih). Hal itu juga menjadi pendapat imam Syafi’i.” (Al-Jami’ li-Ahkamil Qur’an, 8/82)

Imam Ibnu Katsir berkata, “Makna firman Allah mereka mencerca agama kalian adalah mereka mencela dan melecehkan agama kalian. Berdasar firman Allah ini ditetapkan hukuman mati atas setiap orang yang mencaci maki Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam atau mencerca agama Islam atau menyebutkan Islam dengan nada melecehkan. Oleh karena itu Allah kemudian berfirman maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, agar supaya mereka berhenti, maksudnya mereka kembali dari kekafiran, penentangan dan kesesatan mereka.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 4/116)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Allah Ta’ala menamakan mereka pemimpin-pemimpin orang-orang kafir karena mereka mencerca agama Islam…Maka telah tetaplah bahwa setiap orang yang mencerca agama Islam adalah pemimpin orang-orang kafir. Jika seorang kafir dzimmi mencerca agama Islam maka ia telah menjadi seorang pemimpin bagi orang-orang kafir, ia wajib dibunuh berdasar firman Allah Ta’ala “maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu“. (Ash-Sharim Al-Mashlul ‘ala Syatim Ar-Rasul, hlm. 17)

Beliau juga mengatakan: “Sesungguhnya mencaci maki Allah atau mencaci maki Rasul-Nya adalah kekafiran secara lahir dan batin. Sama saja apakah orang yang mencaci maki itu meyakini caci makian itu sebenarnya haram diucapkan, atau ia meyakini caci makian itu boleh diucapkan, maupun caci makian itu keluar sebagai kecerobohan bukan karena keyakinan. Inilah pendapat para ulama fiqih dan seluruh ahlus sunnah yang menyatakan bahwa iman adalah ucapan dan perbuatan.” (Ash-Sharim Al-Mashlul ‘ala Syatim Ar-Rasul, hlm. 512)

Beliau juga mengatakan: “Jika orang yang mencaci maki (Allah Ta’ala) tersebut adalah seorang muslim maka ia wajib dihukum bunuh berdasar ijma’ (kesepakatan ulama) karena ia telah menjadi orang kafir murtad dan ia lebih buruk dari orang kafir asli. Seorang kafir asli sekalipun akan mengagungkan Rabb dan meyakini agama batil yang ia anut tersebut bukanlah sebuah olok-olokan dan caci makian kepada Allah Ta’ala.” (Ash-Sharim Al-Mashlul ‘ala Syatim Ar-Rasul, hlm. 546)

Kedua Firman Allah Ta’ala:


“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian selalu berolok-olok?”
Tidak usah kalian meminta maaf, karena kalian telah kafir sesudah kalian beriman. Jika Kami memaafkan segolongan daripada kalian (lantaran mereka tobat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (QS. At-Taubah [9]: 65-66)

Tentang sebab turunnya ayat ini, para ulama tafsir seperti imam Muhammad bin Jarir Ath-Thabari, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Mundzir dan Jalaluddin As-Suyuthi telah meriwayatkan hadits dari lbnu Umar, Muhammad bin Ka’ab, Zaid bin Aslam dan Qatadah bahwa dalam perang Tabuk ada orang yang berkata, “Kita belum pernah melihat orang-orang seperti para ahli baca Al-Qur`an ini. Mereka adalah orang yang lebih buncit perutnya, lebih dusta lisannya dan lebih pengecut dalam peperangan.” Para ahli baca Al-Qur’an yang mereka olok-olok tersebut adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat yang ahli baca Al-Qur`an.

Mendengar ucapan itu, Auf bin Malik berkata: “Bohong kau. Justru kamu adalah orang munafik. Aku akan memberitahukan ucapanmu ini kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Auf bin Malik segera menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melaporkan hal tersebut kepada beliau. Tetapi sebelum ia sampai, wahyu Allah (QS. At-Taubah [9]: 65-66) telah turun kepada beliau.
Ketika orang yang ucapannya dilaporkan itu datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau telah beranjak dari tempatnya dan menaiki untanya. Maka orang itu berkata kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah! Sebenarnya kami tadi hanya bersenda-garau dan mengobrol sebagaimana obrolan orang-orang yang bepergian jauh untuk menghilangkan kepenatan dalam perjalanan jauh kami.”

Ibnu Umar berkata, “Aku melihat dia berpegangan pada sabuk pelana unta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan kedua kakinya tersandung-sandung batu sambil berkata: “Sebenarnya kami hanya bersenda-gurau dan bermain-main saja.”
Namun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam balik bertanya kepadanya: “Apakah terhadap Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Beliau hanya mengatakan hal itu dan tidak memberikan bantahan lebih panjang lagi. (Jami’ul Bayan fi Ta’wili Ayyil Qur’an, 14/333-335, Tafsir Ibnu Abi Hatim, 6/1829-1830 dan Ad-Durrul Mantsur fit Tafsir bil Ma’tsur, 4/230-231)

Ayat di atas menegaskan bahwa orang tersebut menjadi orang kafir murtad, padahal sebelumnya ia seorang muslim yang beriman, karena ia mengucapan olok-olokan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam dan para sahabat. Padahal olok-olokan tersebut menurut pengakuannya sekedar gurauan dan obrolan biasa sekedar pengusir kepenatan dalam perjalanan jauh perang Tabuk. Maka bagaimana lagi dengan caci makian, pelecehan dan ejekan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam secara terang-terangan? Tak diragukan lagi, hal tersebut merupakan kemurtadan dan kekafiran.
Imam Abu Bakar Al-Jashash Al-Hanafi berkata, “Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang bercanda dan orang yang serius itu hukumnya sama saat ia mengucapkan kalimat kekufuran secara terang-terangan tanpa adanya paksaan (siksaan berat terhadapnya untuk mengucapkannya). Karena orang-orang munafik tersebut menyatakan bahwa ucapan yang mereka ucapkan tersebut hanyalah sendau gurau belaka. Maka Allah memberitahukan kepada mereka bahwa mereka telah kafir dengan sendau gurauan mereka itu.

Diriwayatkan dari Hasan Al-Bashri dan Qatadah bahwa orang-orang tersebut mengatakan dalam perang Tabuk: “Apakah orang ini (nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam) berharap bisa menaklukkan istana-istana dan benteng-benteng di negeri Syam? Mustahil, mustahil.”
Maka Allah memberitahukan bahwa ucapan tersebut adalah sebuah kekafiran mereka, baik mereka mengucapkannya dengan bercanda maupun serius. Maka ayat ini menunjukkan kesamaan hukum (kekafiran) atas orang yang mengucapkan kalimat kekufuran secara terang-terangan, baik ia bercanda maupun serius. Ayat ini juga menunjukkan bahwa mengolok-olok ayat-ayat Allah atau sebagian dari syariat (ajaran) agama-Nya menyebabkan pelakunya kafir.” (Ahkamul Qur’an, 4/348-349)

Dari ayat di atas dan uraian sebab turunnya ayat tersebut, bisa diketahui bahwa Allah Ta’ala menganggap olok-olokan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam atau olok-olokan terhadap generasi sahabat sebagai olok-olokan terhadap Allah Ta’ala dan ayat-ayat Allah Ta’ala. Hal itu karena Allah Ta’ala dalam banyak ayat Al-Qur’an telah memuji dan meridhai generasi sahabat (lihat misalnya QS. Al-Fath [48]: 18 dan 29, At-Taubah [9]:  110 dan Al-Hasyr [59]: 8-10). 

Mengolok-olok Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam atau generasi sahabat berarti melecehkan, meremehkan dan mendustakan ayat-ayat Al-Qur’an tersebut; sekaligus melecehkan, meremehkan dan mendustakan Allah Ta’ala yang telah menurunkan ayat-ayat tersebut.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Ayat ini merupakan dalil yang tegas bahwa mengolok-olok Allah atau ayat-ayat-Nya atau rasul-Nya adalah perbuatan kekafiran. Sehingga mencaci maki lebih layak untuk menjadi perbuatan kekafiran. Ayat ini telah menunjukkan bahwa setiap orang yang melecehkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam,secara serius maupun bercanda, adalah orang yang telah kafir.” (Majmu’ Fatawa, 7/272)

Ketiga firman Allah Ta’ala:


“Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan nama Allah bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan mereka telah menjadi kafir sesudah Islam.” (QS. At-Taubah [9]: 74)

Para ulama tafsir menyebutkan sejumlah riwayat tentang sebab turunnya ayat ini. Di antaranya riwayat yang menyebutkan bahwa ketika pada perang Tabuk banyak ayat Al-Qur’an yang turun membongkar kebusukan orang-orang munafik dan mencela mereka, maka Julas bin Suwaid bin Shamit dan Wadi’ah bin Tsabit berkata: “Jika memang Muhammad benar atas (ayat-ayat Al-Qur’an yang turun mencela) saudara-saudara kita, sementara saudara-saudara kita adalah para pemimpin dan orang-orang terbak di antara kita, tentulah kita ini lebih buruk dari seekor keledai.”
Mendengar ucapan kedua orang itu, sahabat Amir bin Qais berkata, “Tentu saja, demi Allah, Muhammad itu orang yang berkata benar dan ucapannya dibenarkan, dan sungguh engkau ini lebih buruk dari seekor keledai.”

Amir bin Qais lalu melaporkan ucapan kedua orang itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam. Julas bin Suwaid segera mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam dan bersumpah dengan nama Allah bahwa Amir telah berbohong. Amir pun balas bersumpah bahwa Julas telah benar-benar telah mengucapkan ucapan yang dilaporkan tersebut. Amir berdoa, “Ya Allah, turunkanlah sebuah wahyu kepada nabi-Mu.” Ternyata Allah kemudian menurunkan ayat tersebut.

Riwayat lain menyebutkan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Abdullah bin Ubay bin Salul yang mengatakan, “Perumpamaan kita dengan Muhammad tidak lain seperti perkataan “Gemukkanlah anjingmu, niscaya ia akan memakanmu!” Jika kita telah kembali ke Madinah, niscaya orang yang mulia di antara kita (yaitu kelompok kita) akan mengusir orang yang hina (Muhammad dan para sahabatnya).”

Perkataan ini didengar oleh sebagian sahabat dan dilaporkan kepada kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam. Maka Abdullah bin Ubay bin Salul tergopoh-gopoh mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam dan bersumpah tidak mengucapkan ucapan tersebut. Maka turunlah ayat tersebut. (Fathul Qadir, 2/436 dan Al-Jami’ li-Ahkamil Qur’an, 8/206)

Riwayat manapun yang lebih kuat, semuanya menunjukkan bahwa orang-orang tersebut divonis kafir murtad setelah beriman, disebabkan ucapan mereka yang bernada olok-olokan dan merendahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam. Hal ini menunjukkan bahwa caci makian dan pelecehan secara terang-terangan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam lebih berat kekafirannya, sehingga menjadikan pelakunya kafir murtad setelah beriman.

Imam Muhammad bin Ali Asy-Syaukani berkata, “Maksud dari firman Allah Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran” adalah perkataan-perkataan (olok-olokan) yang disebutkan dalam beragam riwayat tadi. Adapun maksud dari firman Allah “dan mereka telah menjadi kafir sesudah Islam” adalah mereka menjadi kafir dengan ucapan tersebut setelah sebelumnya mereka menampakkan keislaman, jika sebelumnya dalam hati mereka kafir. Maknanya, mereka melakukan perkara yang menyebabkan kekafiran mereka, jika keislaman mereka dianggap sah.” (Fathul Qadir, 2/436).

Imam Al-Qurthubi berkata: “Imam Al-Qusyairi menyatakan: “Makna dari perkataan kekafiran adalah mencaci maki Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam dan mencerca agama Islam. Adapun makna dari “dan mereka telah menjadi kafir sesudah Islam” adalah mereka menjadi kafir setelah mereka dianggap sebagai orang-orang Islam.” (Al-Jami’ li-Ahkamil Qur’an, 8/206)

Imam Muhammad Anwar Syah Al-Kasymiri berkata: “Kesimpulannya barangsiapa mengucapkan ucapan kekafiran baik secara sendau gurau maupun bermain-main, niscaya ia telah kafir menurut semua ulama, tanpa mempertimbangkan keyakinan dia. Hal ini seperti telah ditegaskan dalam kitab Al-Fatawa Al-Khaniyah dan Raddul Mukhtar.” (Ikfarul Mulhidin fi Dharuriyatid Dien, hlm. 59)

Keempat firman Allah Ta’ala:


“Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu wahyu di dalam Al-Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya kalau kamu tetap duduk bersama mereka, tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang munafik dan orang kafir di dalam neraka Jahanam.” (QS. An-Nisa’ [4]: 140)

Ayat ini menunjukkan kekafiran orang yang mengolok-olok ayat-ayat Allah Ta’ala dan juga menunjukkan kekafiran orang yang duduk-duduk bersama orang-orang yang mengolok-olok ayat-ayat Allah, mendengarkan dan mendiamkan saja olok-olokan mereka tersebut. Ayat ini memvonis orang yang duduk bersama dan mendengarkan olok-olokan tersebut sebagai orang kafir, meskipun ia tidak ikut mengolok-olok. Tentu saja orang yang mencaci maki dan melecehkan Allah, ayat-ayat-Nya, rasul-Nya atau ajaran agama-Nya lebih jelas lagi kekafirannya.

Syaikh Sulaiman bin Abdullah Alu Syaikh berkata, “Makna ayat ini adalah sesuai zhahirnya. Yaitu, jika seseorang mendengarkan ayat-ayat Allah dikufuri dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), lalu ia duduk-duduk bersama orang-orang kafir yang mengolok-olok tersebut padahal ia tidak dipaksa untuk duduk mendengarkan (melalui siksaan yang berat) dan ia pun tidak melakukan pengingkaran serta tidak beranjak meninggalkan mereka sampai mereka membicarakan urusan lainnya; niscaya ia telah kafir seperti orang-orang kafir tersebut. Meskipun ia tidak melakukan seperti perbuatan mereka, karena sikapnya (duduk, diam dan mendengarkan) tersebut mengandung makna ridha dengan kekafiran, sementara ridha dengan kekafiran merupakan sebuah kekafiran.
Jika ia mengklaim bahwa ia membencinya dengan hatinya, niscaya klaim tersebut tidak bisa diterima, karena penilaian didasarkan kepada aspek lahiriah dirinya. Sementara ia telah menampakkan kekafiran, sehingga ia pun menjadi orang kafir.” (Majmu’atut Tauhid, hlm. 48)

Imam Al-Qurthubi berkata: “Barangsiapa tidak menjauhi mereka, berarti ia rela dengan perbuatan mereka. Sementara rela dengan kekafiran merupakan sebuah kekafiran. Maka barangsiapa duduk dalams ebuah majlis kemaksiatan dan ia tidak mengingkari perbuatan mereka, niscaya dosanya sama dengan dosa mereka. Jika ia tidak mampu mengingkari mereka, maka ia selayaknya beranjak pergi agar tidak termasuk dalam golongan yang terkena ayat ini.” (Al-Jami’ fi Ahkamil Qur’an, 5/418)
Imam Ibnu Hajar Al-Haitsami Asy-Syafi’i dalam kitabnya, Al-I’lam bi-Qawathi’il Islam pada bahasan kekufuran yang disepakati oleh para ulama, mengutip dari kitab para ulama madzhab Hanafi yang menyebutkan: “Barangsiapa mengucapkan ucapan kekafiran, maka ia telah kafir. Setiap orang yang menganggap baik ucapa kekafiran tersebut atau rela dengannya juga telah kafir.”

Ibnu Hajar Al-Haitsami Asy-Syafi’i juga mengutip dari kitab Al-Bahr bahwa seseorang yang secara sukarela mengucapkan ucapan kekafiran sementara hatinya masih meyakini keimanan, maka status dirinya adalah ia telah kafir dan di sisi Allah ia bukanlah orang yang beriman. Demikian pula disebutkan dalam Fatawa Qadhi Khan, Al-Fatawa Al-Hindiyah dan Jami’ul Fushulain.” (Ikfarul Mulhidin fi Dharuriyatid Dien, hlm. 59)
Wallahu A'lam