Rabu, 27 Agustus 2014

Belajar Dari Pembuatan Mobil




Belajar Dari Pembuatan Mobil
 


Segala puji hanya bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla, kami memuji -Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada -Nya, kami berlindung kepada -Nya dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah Shubhanahu wa ta’alla beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah Shubhanahu wa ta’alla sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.
Aku bersaksi bahwasanya tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah Shubhanahu wa ta’alla semata, yang tidak ada sekutu bagi -Nya. Dan aku juga bersaksi bahwasannya Nabi Muhammad adalah hamba dan Rasul -Nya. Amma Ba'du:
Sesungguhnya Allah Shubhanahu wa ta’alla telah ridho terhadap kita dengan agama Islam ini, dan menyatakan tidak akan menerima dari kita satu agama pun kecuali agama yang telah diridhoi -Nya, selanjutnya Allah Shubhanahu wa ta’alla menyempurnakan agama Islam ini bagi kita semua. Allah Shubhanahu wa ta’alla menegaskan tidak akan menerima selain agama Islam didalam firman -Nya:
قال الله تعالى: ﴿ وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَٰمِ دِينا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ٨٥ [ آل عمران: 85]
"Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi". (QS al-Imraan: 85).

Ketahuilah bahwa kebahagian hakiki didunia dan diakhirat nanti, itu ada pada keimanan kepada Allah azza wa jalla, mau mentadaburi kitab suci yang telah diturunkan, serta mengikuti petunjuk Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam.
Telah banyak ilmu dan pengetahuan pada zaman modern sekarang ini, sehingga umat Islam merasa perlu untuk melebarkan sayap untuk rela mempelajari kebudayaan negeri barat dan timur, filsafat mereka serta pemikiran dan cara pandang mereka, hingga pada akhirnya datang generasi muda yang menguasai secara mendalam akan ilmu filsafat, pandangan serta budaya negeri barat dan timur, akan tetapi, sayang pengetahuan mereka tidak diimbangi dengan pemahaman terhadap agamanya  sehingga tinggal tersisa pada dirinya penamaan Islam saja.
Selanjutnya fenomena tersebut di ikuti oleh generasi yang mulai nampak putus hubungannya bersama Allah Shubhanahu wa ta’alla, lalu dirinya mulai merasa ragu dan meragukan agamanya, Rasul serta al-Qur'an, akibatnya sebagian mereka sudah mulai memutuskan diri dari syi'ar-syi'ar agama Islam. Bahkan perkaranya lebih mengenaskan lagi sampai ada diantara mereka yang tidak suka dan memisahkan diri dari penyebutan nama Allah Shubhanahu wa ta’alla.
Dirinya tidak menjumpai adanya kenikmatan dan kelezatan melainkan apabila dirinya berpihak terhadap sesuatu yang haram yang disodorkan oleh setan baik dari kalangan manusia maupun jin seperti kerusakan dan kebebasan, keraguan dan pengingkaran. Yang mana mereka kerjaannya melakukan tipu daya, yang diekspresikan dalam sebuah pertunjukan sandiwara, dalam cerita-cerita fiktif, wacana busuk dan tidak tahu malu yang tertuang dalam surat kabar, film-film yang membawa firus, show musik yang hingar bingar, bahkan tipu daya tadi mereka masukkan ke dalam alat-alat industri dan perlengkapan elektronik yang dengan mudah bisa masuk pada setiap rumah, yang berhadapan langsung pada setiap perdagangan.
Demi Allah, berapa banyak orang yang menjadi tersesat dengan sarana dan media-media semacam ini? berapa banyak generasi muda umat yang sudah rusak oleh karenanya? Betapa besar yang telah tertutupi untuk mau berdzikir kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla? Allah Shubhanahu wa ta’alla menegaskan didalam firman -Nya:

قال الله تعالى: ﴿ أَلَا فِي ٱلۡفِتۡنَةِ سَقَطُواْۗ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمُحِيطَةُۢ بِٱلۡكَٰفِرِينَ ٤٩
[ التوبة: 49]
"Ketahuilah bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir". (QS at-Taubah: 49).

Suatu ketika saya bertemu dengan sekelompok anak muda yang pemikirannya sudah terkontaminasi oleh dunia barat dan peradabannya, kemudian salah seorang diantara mereka mendekatiku lantas bertanya, "Kita telah membaca al-Qur'an, dan kita telah mengetahui sejarah Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan sekarang kita berada dizaman ilmu dan peradaban, menggunakan akal dan eksperimen.
Tidakkah anda ketahui bagaimana negeri barat bisa meraih kemajuan dalam segala aspek kehidupan baik teknologi maupun evolusi, peradaban dan kemajuan? Terus dia memuji dengan pembicaraan yang seakan tidak ada putusnya. Saya katakan, "Dari arah pembicaraanmu saya paham apa yang engkau maksud, aku jadi tahu apa yang ada dibathinmu. Ketahuilah bahwa  engkau hanya bisa mencapai keinginanmu secara perlahan-lahan, bertahap, dan engkau bisa memperoleh maksud dengan cara merenunginya terlebih dahulu, sekarang apa yang sedang berada dipikiranmu? Sedangkan Allah Shubhanahu wa ta’alla menegaskan didalam firman -Nya:

قال الله تعالى:  ﴿ tPöqtƒur ß]yèö7tR Îû Èe@ä. 7p¨Bé& #´Îgx© OÎgøŠn=tæ ô`ÏiB öNÍkŦàÿRr& ( $uZø¤Å_ur šÎ/ #´Íky­ 4n?tã ÏäIwàs¯»yd 4 $uZø9¨tRur šøn=tã |=»tGÅ3ø9$# $YZ»uö;Ï? Èe@ä3Ïj9 &äóÓx« Yèdur ZpyJômuur 3uŽô³ç0ur tûüÏJÎ=ó¡ßJù=Ï9    [ النحل: 89]
"(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. dan Kami turunkan kepadamu Al kitab (al-Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri". (QS an-Nahl: 89).

Dia menjawab, "Saya paham, bahwa kita sekarang sedang hidup diabad yang penuh dengan ilmu dan peradaban, teknologi canggih dan eksperimen, apakah kita bisa mengungguli mereka (hanya) dengan mencukupkan diri dengan al-Qur'an dan Sunah, lantas kita bermimpi bisa menyamai mereka, sehingga kita tidak perlu melirik pada peradaban barat? Kalau itu memang tidak mungkin, lantas bagaimana kita bisa paham, bisa maju ketika akal hanya kita gunakan untuk mengenal bahwa Allah Shubhanahu wa ta’alla itu pernah mengutus seorang Rasul, dan menurunkan kitab suci? Dan apakah Kalau sekiranya kita sudah meyakini itu semua, menjadikan perkaranya menjadi yang sangat urgen?
Pertanyaan-pertanyaan yang terlontar penuh dengan campuran pemikiran orang kafir, memuntahkan segala unek-unek kekufuran yang bagaikan gunung berapi yang siap mengeluarkan lahar panasnya. Sungguh benar apa yang Allah Shubhanahu wa ta’alla nyatakan didalam firman -Nya:
قال الله تعالى: ﴿ أَفِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ أَمِ ٱرۡتَابُوٓاْ أَمۡ يَخَافُونَ أَن يَحِيفَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِمۡ وَرَسُولُهُۥۚ بَلۡ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ٥٠ [ النور: 50]
"Apakah (ketidak datangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan Rasul -Nya berlaku zalim kepada mereka? sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang zalim". (QS an-Nuur: 50).

Dan badai pemikiran kufur semacam ini jangan membuatmu terlalu khawatir, karena sesungguhnya Islam akan merobohkan sekaligus dari akarnya, kebenaran akan memberangus dalam sekejap terhadap kebatilan yang telah dipropaganda bertahun-tahun. Allah Shubhanahu wa ta’alla menegaskan didalam firman -Nya:

قال الله تعالى: ﴿ كَتَبَ ٱللَّهُ لَأَغۡلِبَنَّ أَنَا۠ وَرُسُلِيٓۚ إِنَّ ٱللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيز ٢١
[ المجادلة: 21]
"Allah telah menetapkan: "Aku dan rasul-rasul -Ku pasti menang". Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Maha Perkasa". (QS al-Mujaadilah: 21).

Demikian pula Allah Shubhanahu wa ta’alla telah menegaskan didalam firman -Nya:
قال الله تعالى: ﴿ بَلۡ نَقۡذِفُ بِٱلۡحَقِّ عَلَى ٱلۡبَٰطِلِ فَيَدۡمَغُهُۥ فَإِذَا هُوَ زَاهِقۚ وَلَكُمُ ٱلۡوَيۡلُ مِمَّا تَصِفُونَ ١٨ [ الأنبياء: 18]
"Sebenarya Kami melontarkan yang hak kepada yang batil lalu yang hak itu menghancurkannya, Maka dengan serta merta yang batil itu lenyap. dan kecelakaanlah bagimu disebabkan kamu mensifati (Allah dengan sifat-sifat yang tidak layak bagi -Nya)". (QS al-Anbiyaa': 18).

Saya katakan padanya, "Semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla memberimu hidayah. Sesungguhnya dengan akal anda mampu berbicara seperti ini, dengan akal seseorang menjadi mulia, dan dengan akal pula kita disuruh untuk merenungi ayat-ayat -Nya. Dengan akal insya Allah akan datang penjelasan kebenaran padamu, apakah engkau mau mendengarnya? Ia, jawabnya.
Saya lanjutkan, "Mobil ini, yang berada dihadapnmu dengan model dan warna yang bagus, nyaman untuk dikendarai, lengkap dengan segala aksesorisnya, plus ditambah dengan mesin yang bisa menggerakkan, dengan mobil tersebut menjadikan mudah urusanmu, membawamu dari satu tempat ketempat yang lain dengan nyaman dan cepat".
Dia menimpali, "Ia, lantas kenapa?".
Saya katakan, "Apakah engkau melihat mobil tadi bisa berada didepan garasimu secara tiba-tiba begitu saja? Dia menjawab, "Mustahil".
Lalu siapa yang mendatangkannya? Tanyaku. Dia menjawab, "Para pedagang otomotif". Saya tanya kembali, "Lalu dari mana para pedagang tadi mendatangkan mobil-mobil tersebut? Dari negeri yang memproduksi mobil tersebut, jawabnya. Kalau demikian mobil tersebut bikinan orang? Sergahku, dia menjawab, "Ia, benar".
Saya tanya, "Lalu siapa yang membuatnya? Dia katakan, "Para jenius dan orang yang berotak cemerlang". Kemudian dia merancang lalu membuatnya dengan detail, membuat modelnya lantas mengabungkan semua komponennya? Tanyaku kembali. Dia menjawab, "Ia". Aku bertanya, "Kenapa?  Dia menjawab, "Supaya mobil tersebut bisa digunakan sebaik mungkin, yang hal itu tentunya menunjukan pada kejeniusan para perancang dan pencipta mobil tersebut". Saya tanya, "Apakah mobil tersebut bisa berjalan begitu saja tanpa ada cara dan panduan yang bisa dijadikan rujukan untuk melajukannya?
Dia katakan, "Tentu saja tidak, akan tetapi mobil tersebut baru bisa berjalan kalau sesuai dengan petunjuk dan panduan pemakaian, supaya sang pengemudi terjaga keselamatannya dan tidak mencelakakan orang lain"
Saya tanya kembali, "Apakah mobil tersebut bisa bergerak setiap hari tanpa membutuhkan bahan bakar? Dia menjawab, "Tentu saja tidak, bahkan mobil tadi tidak bisa bergerak satu langkahpun kalau seandainya tidak di sisi dengan bahan bakar". Saya lalu menjelaskan, "Kalau demikian coba luruskan akalmu baik-baik, dan saya tidak ingin jawaban dari pertanyaanku ini kecuali dari akalmu". Dia berkata, "Tanyalah, sungguh anda memulai obrolan dengan bahasa yang bisa dicerna oleh akal dan masuk ke hati".
Saya lalu berkata, "Mobil ini bisa ada bentuknya karena dibuat oleh sang jenius, dan bisa sampai kesini karena dibawa oleh para pedagang mobil. Apakah ada seseorang yang untuk pertama kalinya disini bisa mengemudikan mobil tersebut tanpa ada pelatihan insiyur yang menjelaskan dan mengajari tata cara mengemudikannya, serta panduan untuk membetulkan mobil tersebut bila terjadi kerusakan? Jelas tidak mungkin, sergahnya.
Bagaimana tidak bisa? Tanyaku. Sesungguhnya mobil tadi ketika baru pertama kali sampai ke kita, oleh pabrik mobil tersebut disertai dengan buku panduan yang berada didalamnya, dan didalam buku tersebut diterangkan tentang tata cara perbaikan bila terjadi kerusakan, pemasangannya, cara perbikannya, dan bagaimana cara penggunaanya, ditulis dalam buku panduan secara lengkap dan jelas oleh perancang mobil tersebut secara langsung.
Lalu pabrik tadi mengirimkan seorang insiyur handal yang akan mendemokan semua yang berkaitan dengan mobil tersebut, menjelaskan pada orang lain dan menerangkan pada mereka apa yang berada didalam buku panduan itu lalu menjawab pertanyaan demi pertanyaan dari orang-orang yang ada disekelilingnya yang belum bisa mereka pahami.  Jelasnya panjang lebar.
Saya berkata, "Dengarlah, semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla memberimu taufik, apakah sekarang akalmu sudah terbuka dan bisa memahami maksud pembicaraanku? Sesungguhnya Allah azza wa jalla menciptakan manusia dengan sebaik-baik rupa dan bentuk, kemudian menurunkan ke muka bumi ini, lalu mereka tidak dibiarkan begitu saja tanpa ada metode dan tujuan, namun, Allah Shubhanahu wa ta’alla membarengi dengan menurunkan kitab suci sebagai panduan dan petunjuk, dan mengutus para utusan kepada ciptaan -Nya tersebut semenjak dari zamannya Adam 'alaihi sallam hingga diutusnya nabi kita Muhammad Shalallahu 'alaihi wa salla.
Selanjutnya Allah Shubhanahu wa ta’alla menurunkan al-Qur'an dan menjelaskan didalamnya penciptaan manusia dan makhluk-makhluk lain secara menyeluruh, menjelaskan didalamnya segala yang mendatangkan manfaat bagi umat manusia dan yang membahayakan, menerangkan bagaimana beramal, dan apa yang harus dikerjakan. Menjelaskan bagaimana bisa berhubungan langsung bersama penciptanya, sehingga mereka bisa menyeru dan meminta kepada -Nya, kemudian Allah Shubhanahu wa ta’alla memilih utusan -Nya yang bernama Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mengajari segala sesuatu yang -Dia kehendaki, mengutusnya untuk seluruh umat manusia, dengan menurunkan padanya sebuah kitab suci yang menjelaskan segala sesuatu.
Maka beliau telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, menasehati umat, dan menjelaskan bagi mereka segala jalan kebaikan, dan memperingatkan mereka dari segala sarana yang mengantarkan pada kejelekan, supaya mereka bisa merengkuh kebahagian dunia dan akhirat. Itulah yang Allah Shubhanahu wa ta’alla maksudkan didalam firman -Nya:
قال الله تعالى: ﴿ هُوَ ٱلَّذِي بَعَثَ فِي ٱلۡأُمِّيِّ‍ۧنَ رَسُولا مِّنۡهُمۡ يَتۡلُواْ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمۡ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبۡلُ لَفِي ضَلَٰل مُّبِين ٢ [ الجمعة: 2]
"Dia -lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat -Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan Hikmah (As Sunnah). dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata". (QS al-Jumu'ah: 2).

Dia masih menyergah dengan menegaskan, "Tapi apakah al-Qur'an yang telah menjelaskan segala sesuatu itu sudah cukup sehingga tidak membutuhkan tambahan lainnya? Saya bertanya balik, "Apakah buku panduan yang berada didalam mobil tadi sudah cukup tanpa perlu dikirimnya seorang insiyur yang menjelaskan bagaimana cara mengemudikan mobil untuk pertama kalinya, dan segala peraturannya? Jelas tidak, jawabnya. Bagaimana tidak mungkin? Tanyaku kembali.
Dia menjawab, "Bisa jadi didalam mobil tersebut ada kompenen yang tidak bisa dipahami secara jelas bila hanya mengacu pada buku panduan. Makanya dijelaskan oleh sang insiyur handal tersebut. bisa saja insiyur yang membuatnya keliru atau lupa maka hal itu bisa dijumpai di dalam buku panduan. Makanya buku panduan dan insiyur yang professional tadi adalah satu kesatuan yang bisa saling menyempurnakan".
Aku katakan, "Demikianlah, dan bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla perumpamaan yang lebih tinggi. Sesungguhnya manusia itu bodoh lagi lemah tidak bisa memahami dari al-Qur'an segala sesuatu, terkadang bisa dipahami oleh sebagaian orang tapi tidak bisa dipahami oleh yang lainnya, bisa saja dipahami namun tidak sesuai dengan maksud sehingga dirinya keliru kemudian binasa. Maka Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia biasa seperti kebanyakan orang, beliau akhlaknya adalah al-Qur'an, beliau menerapkan pada dirinya isi al-Qur'am ditengah-tengah umat, supaya mereka bisa mengambil contoh darinya, dan agar mereka tidak merasa keberatan, lalu beralasan kami tidak sanggup, mereka juga bertanya dan beliau menjawabnya, beliau mengerjakan sholat mereka pun sholat, beliau berpuasa dan merekapun berpuasa, beliau berjihad dan mereka pun berjihad. Dan Allah Shubhanahu wa ta’alla menjelaskan hal itu secara gamblang dalam firman -Nya:
قال الله تعالى: ﴿ لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا ٢١ [ الأحزاب: 21]
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah". (QS al-Ahzab: 21).

Maka tugas beliau ialah menegaskan apa yang ada didalam al-Qur'an, menjelaskan isi kandungan global yang ada didalam al-Qur'an, seperti penjelasan waktu-waktu sholat, jumlah bilangan raka'at serta tata caranya, beliau juga menjelaskan kadar dan ukuran zakat, dan yang lainnya. Terkadang beliau menambahkan apa yang ada didalam al-Qur'an seperti larangan menikahi sekaligus antara istri dan bibinya, dan itu semua beliau pelajari dari sisi Rabbnya. Dimana Allah Shubhanahu wa ta’alla menegaskan didalam firman -Nya:
قال الله تعالى: ﴿ وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلۡهَوَىٰٓ ٣ إِنۡ هُوَ إِلَّا وَحۡي يُوحَىٰ ٤
[ النجم: 3-4]
"Dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)".  (QS an-Najm: 3-4).

Dan diutusnya seorang utusan serta diturunkannya kitab suci adalah suatu kelaziman, yang demikian itu karena manusia lemah dan banyak memiliki perbedaan pendapat dan pemikiran. Maka tatkala Allah Shubhanahu wa ta’alla menciptakan manusia maka -Dia pula yang menata serta mengatur kehidupan mereka. Hal itu sebagaimana ditegas oleh Allah ta'ala didalam firman Nya:

قال الله تعالى: ﴿ أَلَا لَهُ ٱلۡخَلۡقُ وَٱلۡأَمۡرُۗ تَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٥٤
[ الأعراف: 54]
"Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Tuhan semesta alam". (QS al-A'raaf: 54).

Dia menjawab, "Saya setuju dengan ucapanmu".
Saya lanjutkan, "Dan tatkala para sahabat radhiyallahu 'anhum belajar dari Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam risalah Rabbnya, mereka memahami agamanya, dan mengenali Rabb serta sesembahannya dan kewajiban yang harus ditunaikan untak -Nya, selanjutnya setelah itu Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pindah ke rahmat Rabbnya, manakala agama ini telah sempurna, dan telah nampak pada umat para ulama yang mewarisi ilmunya para nabi.
Tugas pun berganti, giliran para ulama tadi yang berkewajiban memberi petunjuk kepada umat pada agama Allah Shubhanahu wa ta’alla hingga tegak hari kiamat, sebagaimana insiyur yang handal tadi juga pergi setelah menunaikan tugas dan menjelaskan kepada orang apa yang menjadi tugas dan kewajibannya, maka pribadi Nabi telah pergi namun tinggal tersisa ilmunya yang bisa dimanfaatkan oleh umatnya.
Lantas saya bertanya padanya, "Mana yang lebih besar membuat mobil atau menciptakan manusia? Dia menjawab, "Tentu tidak ada persamaannya, karena manusia dalam penciptakan penuh dengan keajaiban dan tanda akan kebesaran Sang Pencipta. Dimana Allah Shubhanahu wa ta’alla menegaskan didalam firman -Nya:
قال الله تعالى: ﴿ وَفِيٓ أَنفُسِكُمۡۚ أَفَلَا تُبۡصِرُونَ ٢١ [ الذريات: 21]
"Dan (juga) pada dirimu sendiri. maka apakah kamu tidak memperhatikan?  (QS adz-Dzariyaat: 21).

Saya katakan, "Ketahuilah bahwa agungnya ciptaan menunjukan akan keagungan yang menciptakan". Dia bertanya, "Lantas kenapa kondisi orang yang telah diciptakan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla tadi berubah menjadi buruk perilakunya serta cepat berubah keadaannya? Kadang membunuh, kadang menzalimi, kadang mencuri, kadang berzina, kadang berdusta dan kadang merusak".
Saya jawab, "Itulah yang namanya hikmah".
Jelaskan lebih banyak, mintanya.
Lalu saya terangkan, "Tatkala mobilmu mogok dijalan bukankan engkau akan sibuk untuk menghubungi dealer atau pabrik yang membuatnya, dan mencoba untuk membuka buku panduan yang menjelaskan tentang cara pemasangan dan bagaimana mengemudikannya, agar bisa dibetulkan dan kembali dari bengkel dalam keadaan selamat tanpa ada cacat?
Dia menjawab, "Tentu".
Saya katakan, "Sesungguhnya faktor yang menyebabkan hal itu ialah sikap lalai mereka terhadap Allah Shubhanahu wa ta’alla dan agama -Nya serta hari akhir. Orang yang lalai adalah orang yang lemah imannya terhadap Rabbnya, sehingga sulit dan berat bagi dirinya untuk mengerjakaan ketaatan, sebaliknya dirinya merasa ringan manakala melakukan perbuatan maksiat. Sehingga dirinya berubah dari yang pertamanya menjadi tentara Allah Shubhanahu wa ta’alla menjadi tentaranya setan, dari yang tadinya baik menjadi rusak.
Dan jikalau seandainya dia hidup dalam lingkungan yang penuh dengan keimanan, niscaya ringan baginya untuk mengerjakan ketaatan, dan berat bila harus melakukan perbuatan maksiat. Dan setan itu senantiasa berada dalam lingkungan orang yang lalai, dan lebih kuat cengkramannya dari singa lapar, namun, setan tatkala berada dilingkungan orang yang beriman itu lebih lemah dari pada seekor nyamuk.
Oleh karena itu, jadikanlah dirimu senantiasa bersama orang-orang yang mengingat Allah Shubhanahu wa ta’alla bukan bersama orang-orang yang lalai, supaya dirimu mau mentaati Allah dan memaksiati musuhmu setan. Allah Shubhanahu wa ta’alla menegaskan agar kita selalu bersabar dalam ketaatan, Allah Shubhanahu wa ta’alla berfirman:

قال الله تعالى: ﴿ وَٱصۡبِرۡ نَفۡسَكَ مَعَ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ رَبَّهُم بِٱلۡغَدَوٰةِ وَٱلۡعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجۡهَهُۥۖ وَلَا تَعۡدُ عَيۡنَاكَ عَنۡهُمۡ تُرِيدُ زِينَةَ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ وَلَا تُطِعۡ مَنۡ أَغۡفَلۡنَا قَلۡبَهُۥ عَن ذِكۡرِنَا وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ وَكَانَ أَمۡرُهُۥ فُرُطا ٢٨ [ الكهف: 28]
"Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan -Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas". (QS al-Kahfi: 28).

Maka wajib bagi seseorang yang kondisinya banyak mengalami kerusakan dan datang keraguan padanya untuk segera menghubungi penciptanya yang ditangan -Nya segala sesuatu, lalu introspeksi diri  sendiri dan perilakunya terhadap kitab suci yang diturunkan oleh Rabbnya, dan juga sunah nabiNya Shalallahu ‘alaihi wa sallam.
Dengan cara seperti itu dia akan mendapati didalam kedua pedoman tersebut petunjuk dan obat, sehingga dirinya akan mengetahui bahwa didalam keduanya dijelaskan kalau membunuh tanpa alasan yang benar adalah haram, bahwa berbuat dhalim adalah haram, mencuri adalah haram, berzina adalah haram, berdusta adalah haram. Ketika menyadari hal itu, dirinya akan bersegera meninggalkan sifat-sifat yang buruk ini serta perilaku yang jelek, dan mentaati Allah Shubhanahu wa ta’alla dan Rasul -Nya, sehingga dirinya bisa hidup dalam kehidupan yang mulia penuh dengan kebahagian didunia ini, dan merengkuh kebahagian akhirat dengan mendapat surga. Allah Shubhanahu wa ta’alla menegaskan didalam firman -Nya:

قال الله تعالى: ﴿ ô`tB Ÿ@ÏJtã $[sÎ=»|¹ `ÏiB @Ÿ2sŒ ÷rr& 4Ós\Ré& uqèdur Ö`ÏB÷sãB ¼çm¨ZtÍósãZn=sù Zo4quym Zpt6ÍhŠsÛ ( óOßg¨YtƒÌôfuZs9ur Nèdtô_r& Ç`|¡ômr'Î/ $tB (#qçR$Ÿ2 tbqè=yJ÷ètƒ   [ النحل: 97]
"Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan". (QS an-Nahl: 97).

Diapun berseloroh, "Semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla menyinari hatimu, sungguh sekarang hati dan akalku mendapat pencerahan, lalu apa yang harus kita lakukan setelah ini? Saya katakan, "Menyendiri walau sesaat antara dirimu dan Allah Shubhanahu wa ta’alla, renungilah tentang makhluk dan ciptaan        -Nya, niscaya hal itu akan membawamu pada suasana ketaatan yang menggebu-gebu, membawamu dari keraguan menjadi yakin, dari kebodohan menjadi paham, dari kesesatan menjadi mendapat petunjuk, dari perilaku maksiat menuju ketaatan".
Kemudian saya tambah, "Tatkala Allah Shubhanahu wa ta’alla menjadikan dirimu tinggal dibumi -Nya, apakah kiranya engkau mau bila dirimu dibiarkan begitu saja oleh -Nya tanpa ada pondasi, pokok dan hukum yang dirimu pegangi dalam mengarungi kehidupan ini, sehingga engkau hidup bagaikan binatang ternak dan binatang buas, dalam keadaan bodoh dan penuh syahwat, dhalim dan bengis. Padahal Allah Shubhanahu wa ta’alla telah menyatakan didalam firman -Nya:

قال الله تعالى: ﴿ لَقَدۡ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ إِذۡ بَعَثَ فِيهِمۡ رَسُولا مِّنۡ أَنفُسِهِمۡ يَتۡلُواْ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمۡ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبۡلُ لَفِي ضَلَٰل مُّبِينٍ ١٦٤ [ آل عمران: 164]
"Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al kitab dan Al hikmah. dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata". (QS al-Imraan: 164).
Dia berkata, "Maha suci Allah Shubhanahu wa ta’alla, yang ilmu -Nya mencakup segala sesuatu, sesungguhnya Rabbku Maha pengasih lagi penyayang". Kemudian aku katakan kembali padanya, "Dan mobil ini, siapa yang menciptakan orang yang membuatnya? Siapa yang menciptakan akal yang bisa dia gunakan? Lantas siapa yang menciptakan kemampuan untuk membuatnya? Dan siapa yang menciptakan unsur elemen mobil ini? Dia menjawab, "Jelas semuanya adalah Allah Shubhanahu wa ta’alla yang menciptakannya, Allah Shubhanahu wa ta’alla menegaskan didalam firman -Nya:
قال الله تعالى: ﴿ وَٱللَّهُ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ ٩٦ [ الصفات: 96]
"Padahal Allah -lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu". (QS ash-Shaaffat: 96).

Saya tanya kembali, "Apakah mobil bisa berjalan tanpa ada bahan bakarnya? Tentu tidak, jawabnya. Saya katakan, "Maka Allah menciptakanmu, kemudian memberimu limpahan rizki, dimana dirimu tidak bisa makan melainkan dari pemberian -Nya tanpa dipungut biaya sepeserpun, dan tentunya orang yang berbuat baik kepadamu harus engkau taati, maka taatilah Allah Shubhanahu wa ta’alla dan sembahlah -Dia. Dan Allah Shubhanahu wa ta’alla telah menegaskan hal itu didalam firman -Nya:
قال الله تعالى: ﴿ وَأۡمُرۡ أَهۡلَكَ بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱصۡطَبِرۡ عَلَيۡهَاۖ لَا نَسۡ‍َٔلُكَ رِزۡقٗاۖ نَّحۡنُ نَرۡزُقُكَۗ وَٱلۡعَٰقِبَةُ لِلتَّقۡوَىٰ ١٣٢   [ طه: 132]
"Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa". (QS Thahaa: 132).

Pabrik yang membuat mobil, jelas mereka minta ganti ongkos, dan mobil itu tidak bisa berjalan sendiri keculai setelah engkau beli bahan bakar dan mengisikannya. Sungguh Allah Shubhanahu wa ta’alla telah memuliakanmu didunia ini dengan rizki yang engkau bebas memakannya, lalu memuliakanmu dengan metode hidup yang engkau bisa mengambil petunjuk darinya, dan diutusnya seorang Rasul yang bisa engkau teladani, dan kelak diakhirat Allah Shubhanahu wa ta’alla akan memuliakanmu jika engkau mentaati -Nya dengan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang penuh dengan kenikmatan, yang belum pernah terlihat oleh mata, belum terdengar oleh telinga dan belum pernah terlintas dalam benak umat manusia. Sebagaimana dijelaskan oleh Allah ta'ala didalam firman -Nya:
قال الله تعالى: ﴿ وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ جَنَّٰت تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَا وَمَسَٰكِنَ طَيِّبَة فِي جَنَّٰتِ عَدۡنۚ وَرِضۡوَٰن مِّنَ ٱللَّهِ أَكۡبَرُۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ٧٢   [ التوبة: 72]
"Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga 'Adn. dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar".(QS at-Taubah: 72).

Lantas kebaikan seperti apa lagi  setelah ini? Kedermawan seperti apa lagi yang ingin engkau harapkan setelah ini? nikmat seperti apa lagi setelah diberinya surga yang seluas langit dan bumi yang diberikan bagi orang-orang yang bertakwa sebagai tempat tinggalnya kelak diakhirat? Jika engkau mentaati Rabbmu maka manfaatnya kembali padamu, dan jika engkau memaksiati Allah Shubhanahu wa ta’alla maka madharatnya juga kembali padamu, karena sesungguhnya Allah tidak mengambil manfaat dari orang yang taat dan tidak dirugikan bila dimaksiati, karena Allah Shubhanahu wa ta’alla adalah Maha kaya lagi terpuji, Allah Shubhanahu wa ta’alla menegaskan didalam firman -Nya:

قال الله تعالى: ﴿ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ أَنتُمُ ٱلۡفُقَرَآءُ إِلَى ٱللَّهِۖ وَٱللَّهُ هُوَ ٱلۡغَنِيُّ ٱلۡحَمِيدُ ١٥ [ فاطر: 15]
"Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji". (QS Faathir: 15).

Akan tetapi, Allah Shubhanahu wa ta’alla mencintai dari kalangan hamba yang mengerjakan ketaatan agar mereka meraih surga, dan mencintai dari para hamba mau bersyukur terhadap nikmat yang mereka peroleh supaya mereka ditambah nikmatnya, dan mencintai dari hamba meminta ampun dari dosa agar -Dia mengampuninya. Allah Shubhanahu wa ta’alla menegaskan didalam firman -Nya:
قال الله تعالى: ﴿ إِنَّ ٱللَّهَ بِٱلنَّاسِ لَرَءُوف رَّحِيم ١٤٣ [ البقرة: 143]
"Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia". (QS al-Baqarah: 143).

Dijelaskan dalam sebuah riwayat dari Umar bin Khatab radhiyallahu 'anhu berkata, "Datang kepada Rasulallah Shalallahu 'alihi wa sallam tawanan, tiba-tiba ada seorang wanita dari tawanan tersebut yang sedang kehilangan anaknya, kemudian ketika mendapati anaknya dia ambil lalu dia gendong kemudian dia peluk kemudian dia susui. Melihat kejadian itu maka Rasulallah bersabda kepada kami: "Bagaimana menurut kalian apakah mungkin wanita ini rela melemparkan anaknya ke dalam api? Kami jawab, "Jelas tidak, demi Allah Shubhanahu wa ta’alla dia tidak mungkin rela untuk melemparkannya". Beliau menegaskan, "Allah Shubhanahu wa ta’alla lebih sayang terhadap hamba -Nya dari pada wanita tadi terhadap anaknya". HR Bukhari no: 5999. Muslim no: 2754.
Sesungguhnya diantara bentuk kasih sayang Allah Shubhanahu wa ta’alla terhadap kita ialah memuliakan kita dengan rizki yang baik-baik yang bisa kita makan, dan dengan al-Qur'an yang bisa kita jadikan sebagai petunjuk, dan dengan diutusnya seorang Rasul yang bisa kita teladani, dan dengan akal yang bisa kita gunakan untuk berfikir, memilah mana yang memberi manfaat dan yang membahayakan kita. Allah Shubhanahu wa ta’alla menegaskan didalam firman -Nya:

قال الله تعالى: ﴿ وَلَقَدۡ كَرَّمۡنَا بَنِيٓ ءَادَمَ وَحَمَلۡنَٰهُمۡ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ وَرَزَقۡنَٰهُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَفَضَّلۡنَٰهُمۡ عَلَىٰ كَثِير مِّمَّنۡ خَلَقۡنَا تَفۡضِيلا ٧٠ [ الإسراء: 70]
"Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan". (QS al-Israa': 70).

Apa menurutmu kalau seandainya Allah Shubhanahu wa ta’alla membiarkan kita begitu saja, tidak ada akhlak tidak pula etika, tidak ada hukum yang mengatur urusan kita, tidak ada ibadah yang bisa menghubungkan kita kepada pencipta dan pemberi rizki kita, bagaimana kondisinya kita ketika itu? Pasti akan merangsek pada kita hawa nafsu, syahwat, ketamakan, yang kuat menindas, hidup ini menjadi terbalik penuh dengan kedaliman dan kerusakan, perpecahan dan permusuhan. Maka kerusakan terjadi dilangit dan muka bumi serta diantara keduanya. Allah Shubhanahu wa ta’alla menegaskan didalam firman -Nya:
قال الله تعالى: ﴿ وَلَوِ ٱتَّبَعَ ٱلۡحَقُّ أَهۡوَآءَهُمۡ لَفَسَدَتِ ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ وَمَن فِيهِنَّۚ بَلۡ أَتَيۡنَٰهُم بِذِكۡرِهِمۡ فَهُمۡ عَن ذِكۡرِهِم مُّعۡرِضُونَ ٧١ [ المؤمنون: 71]
"Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al Quran) mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu". (QS al-Mukminuun: 71).

Lalu musibah apa lagi yang akan menimpa umat ketika itu? Berapa meruginya kelak diakhirat. Allah Shubhanahu wa ta’alla menegaskan didalam firman -Nya:
قال الله تعالى: ﴿وَمَن كَانَ فِي هَٰذِهِۦٓ أَعۡمَىٰ فَهُوَ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ أَعۡمَىٰ وَأَضَلُّ سَبِيلا ٧٢[ الإسراء: 72]
"Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar)". (QS al-Israa': 72).

Dia lalu menegaskan, "Semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla memuliakan anda dengan sebab mentaati -Nya, sungguh obrolanku bersama anda menjadikan hatiku tergugah, terasa menyenangkan, seseorang sedikit bila sendiri dan menjadi banyak bila bertemu kawannya". Saya katakan, "Sungguh sangat mengherankan kelalaian yang ada pada diri kita, tidakkah engkau sadar betapa besar kelembutan yang Allah Shubhanahu wa ta’alla berikan bagi para hamba -Nya, namun, betapa bodohnya kita dengan hak yang harus kita tunaikan pada -Nya.
Allah Shubhanahu wa ta’alla yang menciptakan kita, memberi rizki dan hidayah, kemudian memuliakan kita dengan surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Betapa lalim seseorang  itu terhadap dirinya sendiri, Allah Shubhanahu wa ta’alla menyukai untuk berjalan lurus, sedangkan -Dia sama sekali tidak membutuhkan sesuatu apapun darinya. Allah Shubhanahu wa ta’alla mencela bagi mereka yang enggan untuk meminta kepada -Nya, dan Allah Shubhanahu wa ta’alla tidak menginginkan dari makhluk -Nya sedikitpun, bahkan Allah Shubhanahu wa ta’alla lah yang memberi mereka segala yang mereka butuhkan. Allah Shubhanahu wa ta’alla menegaskan didalam firman -Nya:

قال الله تعالى: ﴿ وَءَاتَىٰكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلۡتُمُوهُۚ وَإِن تَعُدُّواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ لَا تُحۡصُوهَآۗ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَظَلُومٞ كَفَّار ٣٤ [ ابراهيم: 34]
"Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)". (QS Ibrahim: 34).

Ya Allah, sesungguhnya diriku banyak menzalimi diriku sendiri, ampunilah hamba, sesungguhnya tidak ada yang mampu mengampuni dosa selain Engkau.
Poskan Komentar