Selasa, 02 Desember 2014

Dimanakan Muhasabah Kita?



Dimanakan Muhasabah Kita?
Segala puji hanya untuk Allah Ta'ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Shubhanahu wa ta’alla semata yang tidak ada sekutu bagi -Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan -Nya. Amma ba'du:
Dalam sebuah ayat Allah azza wa jalla berfirman:

﴿ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٞ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٖۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ ١٨ [ الحشر: 18]
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan".  (AS al-Hasyr: 18).

Imam Ibnu Qoyim menjelaskan tafsir ayat ini, "Ayat ini menunjukkan akan wajibnya melakukan muhasabah (instropeksi) diri. Allah Shubhanahu wa ta’alla memerintahkan, "Supaya kalian memperhatikan amalan apa yang telah kalian persiapkan untuk hari kiamat kelak, apakah amal sholeh yang akan menyelamatkan dirimu? Ataukah amal kejelekan yang justru akan menyengsarakannya?". [1] Imam Hasan Bashri mengatakan, "Tidak ada waktu yang tersisa yang menjumpai seorang mukmin melainkan ia harus gunakan untuk muhasabah. Apa yang akan dikerjakan? Apa yang ingin dia makan dan minum? Adapun orang fajir maka dirinya terus berlalu tidak pernah menghisab dirinya sendiri". [2]
Sedang Imam al-Mawardi menerangkan, "Muhasabah adalah seseorang mengoreksi diri secara tuntas diwaktu keheningan malam terhadap perbuatan yang dilakukan pada siang hari. Jika hasilnya terpuji maka dia terus berlalu, sambil dibarengi keesokannya dengan perbuatan yang serupa sambil memperbaikinya lagi. Dan bila hasilnya tercela maka dia berusaha untuk mengoreksi dimana letaknya, lalu mencegah untuk tidak mengulanginya lagi pada hari esok ". [3]
Muhasabah itu ada dua macam: Muhasabah sebelum berbuat dan yang kedua muhasabah seusai melakukan perbuatan.
1.         Adapun jenis yang pertama, yaitu dirinya merenung sejenak manakala baru timbul keinginan serta kemauan lantas dirinya melihat, apakah perbuatan yang akan dilakukannya ini sesusai dengan al-Qur'an dan sunah Rasulallah Shalallah 'alaihi wa sallam atau tidak? Jika sesuai maka terus kerjakan, bila menyelisihi maka tinggalkan.
Selanjutnya lihat, apakah kalau dikerjakan membawa kebaikan padanya dari pada ketika tidak mengerjakan? Atau meninggalkannya lebih membawa maslahat baginya? Jika lebih besar kemungkinan yang kedua maka segera tinggalkan jangan dikerjakan dahulu. Kemudian lihat lagi, kalau tujuan beramalnya untuk Allah Shubhanahu wa ta’alla maka segera lakukan, bila hanya sekedar mencari kedudukan, atau pujian atau harta dari makhluk segera tinggalkan.
2.         Adapun untuk jenis yang kedua, yaitu muhasabah seusai mengerjakan perbuatan, maka dalam  hal ini terbagi menjadi tiga macam:
a.     Muhasabah pada ketaatan yang banyak kekurangan didalamnya, disaat pengerjaan kewajiban kepada Allah ta'ala belum sesuai dengan harapan yang seharusnya dituntut. Dan hak Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam ketaatan itu ada enam perkara:
1)         Ikhlas kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla didalam amalannya.
2)         Menasehati Allah Shubhanahu wa ta’alla didalam amalan tersebut.
3)         Mengikuti Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam.
4)         Mengakui adanya ihsan didalamnya.
5)         Mengakui nikmat Allah Shubhanahu wa ta’alla kepadanya.
6)         Mengakui kekurangan syukur pada nikmat tersebut.
Selanjutnya dia berusaha untuk muhasabah pada enam perkara diatas, apakah dirinya telah memenuhi enam perkara tadi sesuai dengan kewajibannya? Apakah dirinya telah mengerjakan ketaatan-ketaatan ini?
b.     Muhasabah atas larangan-larangan yang ada. Jika dirinya menjumpai telah menerjang salah satunya maka segera iringi dengan bertaubat, istighfar, dan amalan-amalan kebajikan yang bisa menghapusnya.
c.     Muhasabah atas setiap amalan yang telah ditinggalkan namun membawa kebajikan jikalau ia kerjakan.
d.     Muhasabah pada perkara mubah atau kebiasaan, kenapa ia kerjakan? Apakah ia kerjakan ingin mengharap ridho Allah Shubhanahu wa ta’alla dan kampung akhirat? Sehingga ia beruntung, atau dia mengerjakannya hanya bertujuan dunia yang ia inginkan? Maka dirinya telah merugi serta luput dari keuntungan tersebut. [4]
Sahabat Umar bin Khatab radhiyallahu 'anhu pernah memberi petuahnya, "Hisablah diri kalian sendiri sebelum datangnya hisab atas kalian. Timbanglah (amal sholeh) kalian sebelum ditimbang (kelak pada hari kiamat). Sesungguhnya lebih mudah atas kalian menghisab pada hari ini dari pada didalam hisab esok (pada hari kiamat). Perbaguslah amalan-amalan yang baik sebagai bekal esok, sebagai persiapan pada hari yang ketika itu akan dinampakan amal kalian sehingga tidak ada yang tersembunyi sedikitpun". [5]
Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu juga pernah mengatakan, "Aku pernah mendengar Umar bin Khatab pada suatu hari ketika aku pergi bersamanya sampai masuk pada sebuah kebun maka aku mendengar beliau berkata sedang antara diriku dan beliau ada tembok penghalang, ketika beliau berada didalam kebun tersebut beliau berkata, "Umar bin Khatab Amirul Mukminin celaka kamu. Demi Allah, benar-benar kiranya engkau bertakwa kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla, wahai Ibnu Khatab atau -Dia akan mengadzabmu".[6]
Ibrahim at-Taimi mengatakan, "Aku pernah membayangkan diriku berada didalam surga. Memakan buah-buahannya, aku minum dari sungainya, mencumbui bidadarinya. Kemudian aku juga pernah membayangkan diriku berada didalam neraka, memakan zaqum makanan penduduk neraka, minum air nanah bercampur darah penghuni neraka, berusaha melepas tali dan rantai yang mengikatku. Lantas aku katakan pada diriku sendiri, "Duhai diriku, dimana tempat yang engkau inginkan? Hatiku menyahut, "Aku ingin untuk kembali kedunia lalu beramal sholeh". Maka aku jawab, "Engkau akan terturuti maka kerjakanlah".[7]
Al-Ghazali mengatakan, "Orang-orang yang berakal dari kalangan hamba Allah Shubhanahu wa ta’alla mengetahui bahwa Allah ta'ala selalu mengawasinya. Dan bahwasannya  mereka akan didebat atas amalannya kelak pada hari hisab, lalu mereka dituntut untuk menambah bobot timbangan dari peluang-peluang amal yang terlintas dalam pikiran. Maka mereka mendapatkan bahwa tidak mungkin mereka selamat dari apa yang terlintas tersebut melainkan dengan cara muhasabah, benar didalam muroqobahnya, selalu menuntut pada jiwa, polah dan tingkah lakunya. Serta muhasabah dalam setiap pikiran yang terlintas dalam benaknya.
Maka barangsiapa yang mengintropeksi diri sebelum dihisab dirinya akan ringan didalam hisabnya kelak pada hari kiamat, manakala hadir dalam pertanyaan serta jawaban, serta akan berakibat baik. Dan barangsiapa yang enggan untuk instropeksi diri dia akan cepat merasakan kerugian, menunggu dalam waktu yang lama pada hari kiamat kelak, dan kesalahannya sebagai penuntun pada kehinaan dan siksaannya".[8]
Dan perkara yang paling berbahaya bagi seorang muslim adalah lalai dan enggan untuk muhasabah, membiarkan dan bermudah-mudah dalam urusannya serta berjalan apa adanya. Maka hal ini akan mengantar dirinya pada kebinasaan. Inilah keadaan orang-orang yang tertipu, memicingkan mata, tidak mau tahu akan akhir perjalanan, berjalan dengan keadaan, bersandar pada kemurahan Allah Shubhanahu wa ta’alla sehingga menjadikan dirinya enggan untuk muhasabah dan melihat pada hukumannya.
Jika dirinya sudah biasa melakukan hal tersebut maka akan begitu mudah bagi dirinya untuk terjatuh dalam perbuatan dosa tanpa malu-malu. Dia akan kesulitan untuk menyadari untuk segera berhenti, kalau seandainya pikiranya bangkit tentu dia akan paham bahwa merawat itu lebih mudah dari pada menyapihnya. Lalu dirinya segera meninggalkan perkara jelek yang dicintai dan biasa dilakukan.[9]
Maka seharusnya bagi seorang mukmin yang beriman kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dan hari akhir yang bijaksana, tidak melalaikan untuk senantiasa muhasabah dan mempersempit ruang geraknya, baik ketika bertindak, dalam keadaan diam, berpikiran, serta berjalannya. Karena setiap desahan nafas yang keluar darinya adalah bagian dari umurnya yang sangat berharga yang tidak mungkin bisa dibeli dengan harta paling berharga sekalipun, sebuah kenikmatan yang tidak pernah terputus selama-lamanya. Sehingga menyia-yiakan desahan nafas ini atau pemiliknya berusaha untuk membelinya maka tidak akan merubah kebinasaanya, serta kerugian yang sangat besar yang tidak akan dirasakan kecuali oleh orang yang paling bodoh, pandir, dan minim akalnya. Hanya saja kerugian nyata ini,  akan dia rasakan pada hari pembalasan kelak. Allah ta'ala berfirman:

﴿ يَوۡمَ تَجِدُ كُلُّ نَفۡسٖ مَّا عَمِلَتۡ مِنۡ خَيۡرٖ مُّحۡضَرٗا وَمَا عَمِلَتۡ مِن سُوٓءٖ تَوَدُّ لَوۡ أَنَّ بَيۡنَهَا وَبَيۡنَهُۥٓ أَمَدَۢا بَعِيدٗاۗ ٣٠ [آل عمران: 30 ]
"Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh". (QS al-Imran: 30).[10]


Faidah dari muhasabah:
1.         Menjumpai adanya kekurangan dalam dirinya. Dan orang yang tidak menyadari adanya kekurangan dari dirinya tidak mungkin sanggup untuk mengobatinya.
2.         Bukti akan takutnya kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dan persiapan untuk bertemu dengan -Nya.
3.         Akan menjadi jelas bagi seorang mukmin hakekat keuntungan dan kerugian sejati.
4.         Muhasabah didunia akan memudahkan seorang mukmin kelak pada hari kiamat.
5.         Sebagai bentuk memenuhi perintah Allah ta'ala.
6.         Menjauhkan diri dari kelalaian, terjatuh dalam lumpur kemaksiatan dan dosa.
7.         Akan menolong seorang mukmin dan membantunya untuk segera mendapatkan sisi kekurangan dari pengerjaan kewajiban dan amalan sunah.
8.         Akan membuahkan kecintaan kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dan mendapat keridhoan -Nya.
  1. Dengan cara tersebut akan mengetahui hak Allah Shubhanahu wa ta’alla yang harus ia tunaikan. Dan bagi siapa yang tidak mengetahui hak Allah Shubhanahu wa ta’alla yang harus ia kerjakan maka ibadahnya hanya sekedarnya dan sangat sedikit sekali memberi dampak positif baginya.
  2. Bahwa baiknya hati bisa tercapai dengan muhasabah, sebaliknya rusaknya hati akibat dari jauhnya muhasabah dan tidak memperdulikannya.[11] 
Akhirnya kita ucapkan segala puji bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla curahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya.


[1] . Ighatsatul Lahfan 1/152.
[2] . Ighatsatul Lahfan 1/145.
[3] . Adabu Dunya wa Diin hal: 360-361.
[4] . Ighatsatul Lahfan 1/148-149.
[5] . Ighatsatul Lahfan 1/145.
[6] . Muwatha' Imam Malik 1800.
[7] . Muhasabatu Nafsi oleh Ibnu Abi Dunya hal: 26.
[8] . Ihya Ulumudin 4/418.
[9] . Ighatsatul Lahfan 1/147-150.
[10] . Ighatsatul Lahfan 1/147-150.
[11] . Ighatsatul Lahfan 1/156, karya Ibnu Qoyim. Dan Nadhratun Na'im fii Makarimi Akhlakir Rasul Karim 8/3317-3324.
Poskan Komentar