Rabu, 10 Desember 2014

Tafsir Surat Al Falaq



Tafsir Surat Al Falaq

Segala puji hanya bagi Allah subhanahu wata’ala, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah salallahu’alaihi wa salam, dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi -Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan -Nya.. Amma Ba’du:
Di antara surat Al-Qur’an yang sering terdengar pada telinga kita dan butuh untuk direnungi dan dipikirkan adalah surat Al-Falaq:
قال تعالى:  ]قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ . مِن شَرِّ مَا خَلَقَ . وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ . وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ . وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ [
Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki". (QS. Al-Falaq: 1-5)
Diriwyatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim di dalam kitab shahihnya dari Aisyah radhiallahu anha bahwa sesungguhnya apabila Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam terkena suatu penyakit maka beliau membaca Al-Mu’awwidzat untuk dirinya, lalu meniup padanya. Dan pada saat beliau sakit keras maka akulah yang membacakan Mu’awwidzat lalu mengusapaknnya pada tangannya guna mengharap keberkahannya”.[1]
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari di dalam kitab shahihnya dari Aisyah radhiallahu anha bahwa apabila Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam hendak berbaring pada ranjangnya pada setiap malamnya maka beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya lalu meniupnya dan membaca:
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ dan قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ dan قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ
Lalu beliau mengusap dengannya bagian tubuh yang mampu diusapnya dimulai dari bagian kepala dan wajah, lalu bagian terdepan dari badan, hal itu beliau lakukan selama tiga kali”.[2]
Diriwyatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Uqbah bin Amir berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Tidakkah engkau mengetahui beberapa ayat yang diturunkan kepadaku pada malam hari yang tidak ada ayat yang diturunkan sepertinya?.
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ dan قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ[3]
Artinya: aku kembali, berlindung dan berpegang kepada Tuhan yang menguasai waktu subuh, dan maknanya bisa mencakupi yang lebih luas dari makna waktu subuh. Sebab kata “الْفَلَقِ” bermakna segala sesuatu yang dibelah oleh Allah baik waktu pagi dengan menyinsingkannya atau membelah butiran dan biji-bijian dengan menumbuhkannya, sebgaiamana firman Allah Subahanahu Wa Ta’ala:
قال تعالى: ] إِنَّ اللّهَ فَالِقُ الْحَبِّ وَالنَّوَى [
Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji
buah-buahan. (QS. Al-An’am: 95)
قال تعالى:  ]فَالِقُ الإِصْبَاحِ [
Dia menyingsingkan pagi”. QS. Al-An’am: 96.

قال تعالى: ] مِن شَرِّ مَا خَلَق [َ
Artinya dari kejahatan semua makhluk bahkan kejahatan diri, sebab hawa nafsu memerintahkan kepada yang buruk. Dan disebutkan di dalam sebuah hadits: Dan kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa kami. Dan kalimat “dari kejahatan makhluk -Nya”, mencakup kejahatan setan, manusia dan jin serta bintang-binatang dan lain-lain.
قال تعالى:  ] وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ [
“Al-Gasiq” makananya adalah malam, dikatakan pula makananya adalah bulan, dan yang benar adalah makananya secara umum yang mencakup apa yang telah disebutkan di atas. Adapun kata tersebut dimkanai dengan kata malam, didasarkan pada firman Allah:
قال تعالى: ] أَقِمِ الصَّلاَةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ [
Dirikanlah salat dari sesudah mata hari tergelincir sampai gelap malam. (QS. Al-Isro’:  78)
Dan pada waktu malam banyak hewan dan bintang buas yang keluar, oleh karena itulah dianjurkan berlindung dari kejahatan yang terjadi pada waktu malam. Adapun memaknai kata “Al-Gasiq” dengan kata bulan, didasarkan pada hadits riwayat Al-Turmudzi di dalam kitab sunannya dari Aisyah bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam melihat kearah bulan dan bersabda: Berlindunglah kepada Allah dari kejahatan bulan ini, sebab inilah yang sebut dengan gasiq. Sebab kekuasaannya terjadi pada waktu malam. Dan apabila malam telah masuk maka hari menjadi gelap gulita. Dan begitu juga dengan bulan saat memncarkan cahayanya maka terjadi saat kegelapan tiba dan hal itu tidak akan terjadi kecuali pada waktu malam.
قال تعالى: ] وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ [
Karena itulah adalah para tukang sihir yang mengikat tali dan yang lainnya. Mereka meniup pada buhul-buhul tersebut sambil membaca jampi-jampi yang menyebut nama-nama setan pada setiap buhul, kemudian kembali meniupnya lalu mengikatnya lalu kembali meniup mantra padanya, dan dengan jiwanya yang busuk tersebut berniat untuk menyihir seseorang sehingga berdampak negative bagi orang yang terkena sihir. Dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyebutkan dengan lafaz “Al-Naffatsat” bentuk jamak untuk wanita tidak menggunakan bentuk jamak laki-laki yaitu kata Al-Naffatsin sebab biasanya yang banyak menggunakan sihir jenis ini adalah para wanita, oleh karena itulah Allah Subahanahu Wa Ta’ala berfirman: [ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ ] . Karena  bisa juga berarti jiwa-jiwa yang menghembus, dan penafsiran dengan makna ini mencakup pria dan wanita. Diriwyatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim di dalam kitab shahihnya dari Aisyah radhiallahu anha berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah disihir oleh seorang Yahudi dari Bani Zuraiq bernama Lubaib bin Al-A’sham. Aisyah berkata bahkan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam merasa berbuat sesuatu padahal beliau tidak melakukannya, sehingga pada suatu saat beliau berdo’a dan terus berdo’a beliau bersabda: Wahai Aisyah apakah engkau mengetahui bahwa Allah telah memberikan jawaban terhadap perkara yang aku minta jawabannya?. Aku telah didatangi oleh dua orang lelaki salah seorang dari mereka duduk di sisi sisi kepalaku dan yang lain di sisi kakiku. Lelaki yang berada di sisi kepalaku berkata kepada lelaki yang berada di sisi kakiku atau lelaki yang berada di sisi kakiku berkata kepada lelaki yang berada di sisi kepalaku: Penyakit apa yang dirasakan oleh lelaki ini?. Lelaki yang lain menjawab: Dia sedang terkena sihir. Jawabnya. Lelaki itu bertnya kembali: Siapakah yang menyihirnya?. Yang lain menjawab: Lubaid bin Al-A’sham. Lelaki itu kembali bertanya: Pada apakah dia terkena sihir? Iya dengan menggunakan sebuah sisir dan rambut. Dan dia berkata: dan menggunakan kuncup bunga kurma jantan. Dia bertanya kembali: Di manakah dia?. Lelaki yang lain berkata: “Pada sumur Arwan”. Aisyah berkata: Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersama para shahabat beliau kemudian bersabda: Wahai, demi Allah airnya seakan air dari campuran pacar (warna merah), dan kurma yang tumbuh padanya seakan kepala setan”.
Aku berkata: Wahai Rasulullah apakah engkau tidak membakarnya?. Beliau bersabda: Tidak, sebab Allah telah menyembuhkan diriku dan aku benci mengungkit keburukan di tengah masayarakat. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengambil sihir tersebut lalu ditimbunnya”.[4]
Firman Allah Subahanahu Wa Ta’ala:
 ] وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ [
Al-Hasid (orang yang dengki) adalah orang yang tidak suka nikmat Allah berada pada orang lain, engkau akan mendapatkan orang yang terjangkiti penyakit ini, dengan tanda-tanda dia akan merasa tidak senang  jika dia melihat nikmat Allah Subahanahu Wa Ta’ala berada pada seseorang baik berupa harta, jabatan, ilmu dan yang lainnya dan dengan hal itu dia akan menjadi orang yang dengki. Hasad ada dua macam: Jenis hasad di mana seseorang benci melihat nikmat Allah Subahanahu Wa Ta’ala berada pada seseorang namun dia tidak bertindak yang membahayakan orang yang didengkinya. Kedengkiannya menjadikannya bimbang dan bingung karena nikmat yang diberikan oleh Allah Subahanahu Wa Ta’ala kepada orang lain.Dan bencana yang paling besar adalah dampak  negatif orang yang dengki pada saat dia dengki. Oleh karena Allah Subahanahu Wa Ta’ala berfirman:  حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ.
Di antara dampak negatif orang yang dengki saat dia dengki adalah penyakit ain yang bisa mengenai orang yang ia iri padanya.  Sebab hal itu biasanya tidak muncul kecuali dari orang yang memiliki tabiat yang buruk dan berjiwa busuk. Dan penyakit ain ini, seperti yang disebutkan di dalam hadits yang shahih di dalam riwayat Muslim dari Ibnu Abbas bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Ain itu benar adanya, seandainya ada sesuatu yang mendahului qodar maka sungguh penyakit ainlah yang pasti mendahuluinya”.[5]
Diriwyatkan oleh Ibnu Adi di dalam kitab Al-Kamil dari Jabir bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya penyakit ain ini sungguh menjadi penyebab seseorang masuk ke dalam kubur dan menyebabkan onta di masak pada panci”.[6]
Al-Manawi berkata: maksudnya adalah bisa menyebabkan dirinya terbunuh sehingga menjadikan dirinya masuk ke dalam kubur dan menyebabkan onta dimasukkan ke dalam panci, maksudnya adalah jika onta tersebut terkena oleh penyakit ain, atau dengan sebab penyakit ain tersebut onta itu hampir mati yang akhirnya mendorong pemiliknya untuk menyembelihnya dan memasaknya pada panci. Hal ini berarti ain adalah penyakit yang menyebabkan kematian. Maka seharusnya bagi orang yang menjadi sumber penyakit ain untuk segera menanggulangi ain tersebut dengan mengucapkan kata-kata yang menjunjung kemahatinggian Allah dan kata-kata ini menjadi ruqyah bagi penyakit ain tersebut”.[7]
Diriwyatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Sa’’id Al-Khudri bahwa Jibril mendatangi Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam  dan berkata: Wahai Muhammad sepertinya engkau merasakan suatu penyakit?. Maka beliau bersabda: Benar maka Jibril meruqyah beliau dengan membaca:
(( بسم الله أرقيك من كل شيئ يؤذيك ومن شر كل نفس أو عين حاسد الله يشفيك، بسم الله أرقيك ))
Dengan Nama Allah aku meruqyahmu dari segala sesuatu yang menyakitimu dan dari keburukan setiap jiwa dan ain yang dengki. Allah yang memberikan kesembuhan bagimu dengan nama Allah aku meruqyahmu”.[8]
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman malam apabila telah gelap gulita, wanita-wanita yang menghembus pada buhul-buhuld dan orang yang dengki apabila dia dengki, sebab bencana yang ditimbulkan oleh tiga hal ini bersifat samar. Maka hendaklah bagi orang yang beriman untuk menggantungkan hatinya hanya kepada Allah subhanahu wata’alla, menyerahkan segala urusannya kepada Allah subhanahu wata’alla dan bertawakkal kepada -Nya, serta mempergunakan wirid-wirid yang syar’I untuk menjaga dirinya dari kejahatan para tukang sihir, orang–orang yang dengki dan selain mereka.[9]
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga, shahabat serta seluruh pengikut beliau.











[1] Al-Bukhari no:  5016 Muslim no: 2192
[2] Al-Bukhari no:  5017
[3] Muslim: 814
[4] Shahih Muslim: 2189 dan shahih Bukhari: 3268
[5] Muslim: 2188
[6] Al-Kamil fidhuafa’ir rijal: 6/408 dan syekh Nasiruddin Al-Albani berkata: hadist hasan. Lihat Shahihul Jami’us Shagir 2/761 no: 4144
[7] Faidhaul Qodir: 397
[8] HR. Muslim no: 2186
[9] Lihat tafsir Juz Amma, karngan syekh Al-Utsaimin rahimhullah halaman 302-304.
Poskan Komentar