Rabu, 14 Januari 2015

HARI RAYA DAN HARI-HARI PENTING DALAM ISLAM



HARI RAYA DAN HARI-HARI PENTING DALAM ISLAM

A'yad adalah bentuk jamak dari 'ied, yang maknanya berkumpulnya manusia pada momen tertentu, baik yang sifatnya tahunan, mingguan, atau bulanan da lain-lain. Hari raya mengandung beberapa ciri:

*      Hari yang selalu terulang seperti Hari 'Idul fitri, 'Iedul adha dan Hari Jum'at.
*      Berkumpulnya (suatu kaum) di saat itu
*      Acara tertentu yang mengandung unsur ibadah dan adat
*      Berkaitan dengan tempat tertentu.
*      Atau bisa juga bermakna umum. Semuanya dinamakan dengan 'ied.

ü  Yang berkaitan dengan jaman seperti sabda nabi SAW tentang Hari Jum'at: "Hari Jum'at adalah hari yang Allah jadikan bagi kaum muslimin sebagai 'ied"       (H.R Ibnu Majah)

ü  Yang berkaitan dengan berkumpulnya (suatu kaum) dan amalan tertentu seperti ucapan Ibnu 'Abbas RA :  "Aku menyaksikan 'ied bersama rasul …"  (Muttafaq 'Alaih).

ü  Yang berkaitan dengan tempat, seperti sabda nabi Muhammad SAW: "Janganlah kalian menjadikan kuburku sebagai peringatan".

ü  Terkadang lafadz 'ied adalah istilah kumpulan hari raya dan acara yang ada padanya, dan inilah yang banyak. Seperti sabda nabiMuhammad SAW: "Biarkanlah wahai Abu Bakar, setiap kaum punya hari raya tertentu, dan hari ini adalah hari raya kita"      (Muttafaq 'Alaih) .

Banyak orang yang memperbincangkan tentang ada tidaknya hari-hari penting dalam Agama Islam. Ada yang berlebihan dan ada pula yang sebaliknya. Jika anda memperhatikan syari'at dan sejarah islam baik yang umum maupun khusus, akan anda dapati hari-hari penting atau hari raya ada dua macam :

  • Acara ritual yang teranggap dalam syari'at karena didalamnya terdapat ibrah dan nasehat yang sesuai dengan pergantian hari dan generasi

Yang termasuk jenis pertama yaitu Hari Jum'at. Islam mendorong untuk membaca surat yang berhubungan dengannya dalam Shalat subuh. Melaksanakan shalat jum'at, mandi, memakai wewangian dan berpagi-pagi. Tanpa berlebihan ataupun menyepelekan.

Terdapat larangan untuk mengkhususkan Hari Jum'at dengan berpuasa tanpa didahului atau diikuti hari lainnya. Sebagaimana juga terdapat larangan mengkhususkan malamnya dengan qiyamullail. Banyak dalil tentang masalah di atas.

Hari Jum'at adalah hari spesial karena hari itu adalah harinya Nabi Adam AS. Di hari itu beliau diciptakan, diciptakan untuknya ruh, ditempatkan di surga, diturunkan ke bumi, taubat beliau diterima, dan hari kiamat akan terjadi.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata : "Membaca Surat Sajdah dan Surat Al-Insan pada Hari Jum'at adalah berkaitan dengan penciptaan Adam di Hari Jum'at, agar manusia ingat asal muasal penciptaan ayah mereka (Adam 'AS) dan seluruh manusia, juga mengingatkan tempat kembali dan kesudahan mereka sehingga disadari apakah mereka termasuk dari yang bersyukur atau ingkar terhadap dakwah rasul".  ( Kitab Adhwaa' Al-Bayan )

Sebagaimana Hari Jum'at adalah hari Adam, maka dikatakan Hari Senin adalah hari Nabi Muhammad SAW. Di Hari Senin beliau dilahirkan dan diturunkan (wahyu pertama-pent) pada beliau. Dalam sebuah hadits, beliau ditanya tentang puasa Hari Senin, maka beliau menjawab:
Hari senin adalah hari dimana aku di lahirkan dan di turunkan kepadaku wahyu"
Pada Hari Senin dalam perjalanan hijrahnya nabiMuhammad SAW sampai di Madinah.
Adapun yang banyak dilakukan sebagian orang pada saat ini dengan mengadakan berbagai perayaan yang belum pernah dilakukan baik pada generasi pertama (generasi sahabat), kedua (generasi tabi'in), maupun ketiga (generasi tabiit tabi'in) yang mana generasi tersebut adalah generasi yang  terbaik sebagaimana tertera dalam sabda nabi Muhammad SAW:
 "Sebaik baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi yang datang setelah mereka, kemudian generasi setelah mereka".

 Mereka yang mengada-adakan bid'ah ini adalah kaum Fatimiyah pada abad keempat. Syaikh Muhammad Amin Asy-Syinqithi rahimahullah berkata : "Manusia dalam hal ini terbagi dalam dua golongan, golongan yang mengingkari dan mengingkari orang-orang yang melakukannya karena kaum salaf tidak melakukannya dan tidak ada atsar  tentang masalah tersebut. Dan golongan yang lain membolehkannya karena tidak ada larangan. Masing-masing golongan bersikap keras terhadap golongan yang lain. Tentang masalah ini, Syaikhul Islam Ibnu taimiyyah dalam kitabnya: Iqtidha' Shirath Al-Mustaqim menerangkan dengan pendapat yang menengahi, kami akan menyebutkan ringkasnya, karena sangat penting. Allah-lah Yang Maha Menunjuki pada jalan yang terbaik.

Beliau –semoga Allah merahmatinya-  dalam pembahasan tentang hari peringatan yang dibuat-buat, beliau menyebutkan :  Hari Jum'at pertama dari Bulan Rajab, Hari Raya Ghadir Khum pada tanggal delapan belas Dzul Hijjah dimana nabi Muhammad SAW berkhutbah untuk berpegang pada petunjuk dan sunnah dan ahlul bait kemudian beliau melanjutkan pada amalan maulid.

Begitupula apa yang diadakan sebagian orang baik untuk menyaingi kaum nasrani pada peringatan Hari kelahiran Al-Masih, atau kecintaan dan pengagungan pada nabi Muhammad SAW, Allah akan memberi ganjaran kecintaan pada beliau  dan kesungguhan untuk merealisasikannya, dan bukan dengan bid'ah untuk memperingati hari kelahiran beliau. Manusia berbeda pendapat tentang kelahiran nabi Muhammad SAW apakah di Bulan Rabi' atau Ramadhan, ini adalah perkara yang tidak pernah dilakukan salaf ….

Syaikhul Islam ibnu Taimiyah menambahkan : "Seandainya hal itu adalah kebaikan tentulah salaf lebih berhak dari kita, karena kecintaan dan pengagungan mereka pada nabi adalah lebih dari kita dan mereka lebih bersemangat dalam melakukan kebaikan".

Kesempurnaan kecintaan dan pengagungan terhadap beliau adalah dengan mengikuti petunjuk beliau, mentaati perintahnya, menghidupkan sunnah beliau baik yang lahir maupun batin, menyebarkan apa yang beliau di utus dengannya, berjihad untuk membela hal itu dengan hati, tangan dan lesan. Inilah petunjuk As-Sabiqun Al-Awwalun dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta mereka yang mengikuti mereka dengan kebaikan.

Anda bisa lihat, mereka yang begitu semangat dalam melakukan bid'ah-bid'ah di atas, dengan niat baik dan kesungguhan mereka yang diharapkan dengannya pahala, mereka justru tidak bersemangat dalam menjalankan perintah Rasulullah SAW. Bisa diibaratkan mereka seperti menghiasi mushaf, tetapi mereka tidak membaca maupun mengikutinya, dan ibarat orang yang menghiasi masjid tetapi ia tidak shalat didalamnya atau hanya shalat terkadang saja. Dan ibarat orang yang menjadikan tasbih dan sajadah yang berhias atau contoh lainnya yang diiringi riya' , kesombongan dan tersibukkan dari apa yang disyari'atkan yang menyebabkan rusaknya pelakunya.  (Kitab Iqtidha' hal: 295)

Adalah keliru sangkaan sebagian ahli bid'ah penamaan perayaan maulid dalam rangka memperingati Rasulullah SAW. Allah telah menjadikan peringatan terhadap RasululahSAWdimana Allah menggabungkan di kala mengingat beliau dengan menyebut nama-Nya dalam dua kalimat syahadat, setiap adzan dan iqamah ketika akan shalat dan setiap tasyahud baik dalam shalat fardhu maupun sunnah lebih dari tiga puluh kali.

Ø  Termasuk momen penting dalam Islam yaitu Bulan Ramadhan yang penuh berkah karena Al-Qur'an diturunkan dalam bulan tersebut.
               ﮟ ﯨ 

"Bulan Ramadhan adalah bulan yang diturunkan padanya Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia"      (Q.S Al-Baqarah : 185)

* Lailatul Qadar karena permulaan turunnya Al-Qur'an padanya. Allah berfirman:
                            

"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alquran) pada malam kemuliaan.Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?"        (Q.S Al-Qadr : 1-2)

Kemudian Allah menjelaskan kadarnya:

                                                                   

"Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar"      (Q.S Al-Qadr : 3-5)

Rasulullah SAWmencari dan menanti malam lailatul qadar pada sepuluh hari yang terakhir terutama pada malam-malam ganjilnya. Beliau beri'tikaf pada sepuluh malam yang akhir untuk mendapatkan malam tersebut. Imam Bukhari meriwayatkan dari 'Aisyah radhiyallahu'anha bahwa nabiSAWapabila telah masuk sepuluh malam yang akhir beliau menghidupkan malam dan membangunkan keluarganya. Beliau bersungguh-sungguh dan mengencangkan sarungnya"

Ø  Hari 'Asyura, hari yang bersejarah, bangsa arab pada jaman jahiliyah memuliakannya dan memasang kiswah ka'bah di hari tersebut. Ketika nabiSAWsampai di Madinah beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa di hari itu, maka beliau bertanya: "Kenapa kalian berpuasa? " Maka mereka menjawab: "Hari dimana Allah menyelamatkan Musa dari Fir'aun, lalu Nabi Musa berpuasa sebagai tanda syukur pada Allah, lalu kamipun ikut berpuasa. Maka nabiSAWbersabda : "Kami lebih berhak untuk mengikuti Musa dari kalian, maka beliaupun berpuasa dan memerintahkan untuk berpuasa di hari 'Asyura.

-                  Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam kitab shahih mereka dari hadits Abdullah bin 'Abbas RA bahwa  ketika nabi sampai di Madinah beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa hari 'Asyura, lalu mereka di tanya tentang hal itu, mereka menjawab: Hari 'Asyura adalah hari di mana Allah menangkan nabi Musa AS dan bangsa Israel dari Fir'aun, maka kami berpuasa untuk mengenangnya. Maka nabi bersabda: "Kami lebih berhak untuk mengikuti Musa dari kalian, maka memerintahkan untuk berpuasa di hari itu".

-                  Selamatnya Nabi Musa AS dari (kejaran) Fir'aun adalah peristiwa bersejarah, kemenangan al-haq (kebenaran) atas kebatilan, dan kemenangan tentara Allah dan kebinasaan tentara setan, sudah selayaknya bagi setiap muslim untuk mementingkannya, karena itulah nabi bersabda: "Kami lebih berhak untuk mengikuti Musa AS  dari kalian, kami para nabi, ayah kami adalah satu dan agama kami adalah satu.

Pada awalnya Puasa 'Asyura diwajibkan, namun kemudian dinasakh seiring dengan diwajibkannya Puasa Ramadhan, dan begitulah dikarenakan agungnya peristiwa tersebut dengan tegaknya kalimatullah dan pertolongan atas rasul-Nya, maka kebahagiaan Nabi Musa AS beliau wujudkan dengan berpuasa pada hari itu sebagai rasa syukur pada Allah

Ø  Termasuk momen penting dalam Islam yaitu Idul Fitri dan Idul Adha:  Keduanya adalah hari agung berdasarkan hadits dari sahabat Anas bin Malik RA yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam sunannya bahwa nabiSAWdatang ketika mereka memiliki dua hari yang mereka bermain ketika itu, maka nabiSAWbersabda: "Sungguh Allah telah menggatikan bagi kalian dengan yang lebih baik dari keduanya, Hari Idul Fitri dan Idul Adha". (H.R Abu Dawud dan hadits tersebut sesuai dengan syarat Imam Muslim).

Ø  Termasuk momen yang ada kaitannya dengan pembahasan ini adalah kisah yang dibawakan oleh Ibnu Katsir  dalam tafsirnya, dalam kaitannya dengan firman Allah:

        ﭿ             ﮅ ﮓ  
"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu".        (Q.S Al-Maaidah : 3)

Beliau mengatakan: Imam Ahmad meriwayatkan dari Thariq bin Syihab bahwa ada seorang Yahudi yang datang pada Umar bin Khattab lalu mengatakan : "Wahai Amirul Mukminin, anda membaca sebuah ayat dalam Al-Qur'an, seandainya diturunkan pada kami kaum Yahudi, niscaya akan kami rayakan. Beliau bertanya: "Ayat yang mana?" Orang yahudi itu menjawab: Ayat:
          

Maka Umar mengatakan: "Demi Allah, aku tahu hari yang diturunkan pada Rasulullah SAW, waktunya adalah sore hari Arafah pada Hari Jum'at. (H.R Bukhari dan Muslim)

Diriwayatkan dari Ka'ab bahwa beliau berkata: "Seandainya ayat ini diturunkan pada selain umat ini, tentulah akan mereka jadikan sebagai hari raya".

Ø  Hari peringatan yang tidak teranggap dalam Islam :

-                  Hari kelahiran Nabi Isa AS :

          Kaum Nasrani memperingati hari kelahiran Nabi Isa AS dengan menampakkan kegembiraan dan menjadikannya sebagai hari libur. Mereka saling mengucapkan selamat, saling mengunjungi dan menampakkan syi'ar agama mereka. Sebagian kaum muslimin yang jahil dan para penguasa meniru apa yang mereka lakukan, Sebagian kaum muslimin menjadikannya sebagai hari libur nasional sebagai rasa pengagungan terhadapnya. Mereka mengunjungi sahabat mereka yang beragama nasrani dan mengirim kartu ucapan selamat terhadap kawan mereka yang jauh. Para raja dan penguasa mengirim ucapan selamat ke negara yang berideologi nasrani.

          Hari peringatan tersebut dan lainnya yang banyak menimpa negeri-negeri Islam seperti hari kemerdekaan, hari ilmu, hari ibu, hari pohon, hari kebersihan, hari kelahiran, hari keluarga, hari wali, semuanya diharamkan dalam Islam. Karena menyerupai hari rayanya orang-orang kafir. Tidak diragukan lagi bahwa hal ini berarti menghidupkan kembali kebiasaan jahiliyah dan sebaliknya memadamkan syari'at Islam dalam hati kaum muslimin, meski masih banyak orang yang tidak menyadari karena kegelapan jahiliyah telah berakar dalam hati mereka. Kejahilan mereka tentang hal ini bukanlah suatu alasan, bahkan sebaliknya ini adalah suatu kejahatan yang menyeret pada segala kejahatan yaitu kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan.

Syaikhul Islam berkata: "Hari Raya ahli kitab dan orang-orang ajam dilarang karena dua sebab : 
  1. Menyerupai orang-orang kafir.
  2. Termasuk dari kebid'ahan.
Apa saja yang diada-adakan dari acara dan hari raya tertentu adalah perbuatan yang mungkar walaupun tidak menyerupai ahli kitab, ini karena dua hal:
a)    Hal itu termasuk perbuatan bid'ah. Sehingga masuk dalam apa yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shahihnya dari Jabir  bahwa rasulullah SAWapabila berkhutbah, kedua mata beliau memerah, suaranya meninggi dan kemarahannya bertambah, seakan-akan beliau adalah komandan perang. Beliau bersabda : "Berhati-hatilah kalian, di waktu pagi maupun sore, dan beliau bersabda: aku di utus dan hari kiamat seperti ini, beliau mendekatkan kedua jari telunjuk dan jari tengahnya, lalu beliau bersabda:
amma ba'du ……. Sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan, dan setiap bid'ah adalah sesat. (Kitab : Iqtidha' Shirath Al-Mustaqim : 266)
b)   Dan hadits Abu Sa'id dalam Ash-Shahihain bahwa RasululullahSAWbersabda: "Kalian sudah barang tentu akan mengikuti perbuatan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Seandainya mereka masuk ke lubang biawakpun tentulah kalian juga akan mengikutinya. Lalu kami bertanya: "Wahai Rasulullah SAW, apakah mereka adalah orang yahudi dan nasrani ? "  Beliau menjawab : "Siapa lagi kalau bukan mereka".

Ø  Beberapa kebid'ahan yang dilakukan pada bulan-bulan (Hijriyah)
Bid'ah yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin sangat banyak , dan disini saya hanya akan sebutkan sebagiannya, diantaranya:
  1. Kaum Rafidhah menyambut Bulan Muharram dengan kesedihan, khurafat dan berbagai kebatilan.  Mereka membikin patung terbuat dari kayu yang dihiasi dengan kertas-kertas berwarna yang mereka namakan patung Husain atau Karbala. Selama bulan tersebut dilarang berhias, wanita tidak berhias, manusia tidak makan daging, menyalakan api, orang-orang pada berdatangan, dan anak-anak keliling jalan dan berteriak: Wahai Husain ! … Wahai Husain !

  1. Bid'ah Bulan Shafar: Sebagian orang tidak bepergian atau tidak mengadakan acara tertentu, dan mereka menampakkan kondisi pesimis.

  1. Rabi'ul Awwal : bid'ah maulid, yaitu peringatan kelahiran nabi SAW, begitupula apa yang mereka namakan dengan malam isra' dan mi'raj, diadakanlah acara perayaan, dinyalakan lilin-lilin, dan shalat-shalat sunah dilakukan.

  1. Sya'ban: Apa yang dinamakan malam pertengahan sya'ban ( nisfu sya'ban ) dengan malam baroah (malam pelasan diri dari dosa) mereka meyakini diampuninya dosa-dosa, dipanjangkannya umur dan ditambahkannya rizki.

  1. Bid'ah bulan Ramadhan: perhatian orang ke jum'at terakhir dari Ramadhan, orang yang pada hari biasanya tidak shalat, melakukan shalat di hari itu. Yang benar menurut para ulama adalah dilarang untuk mengkhususkan hari itu untuk berpuasa atau shalat, dan dari segala pemuliaan hari itu dengan membikin makanan, berhias dll, sehingga hari itu tidak berbeda dengan hari lainnya.

  • Ringkasan:  Kita dapat mengambil beberapa kesimpulan dari tulisan ringkas ini:

-                  Islam tidak mensyari'atkan peringatan terhadap kelahiran atau kematian seseorang.

-                  Berbagai perayaan tersebut bisa berkembang, sehingga suatu saat Islam hanya berupa peringatan-peringatan dan hari-raya. Bisa jadi ada orang yang mengatakan: aku memperingati kelahiran nabi Muhammad SAW, dan yang lain berkata: aku memperingati hari hijrah, karena dengan hijrah, Allah membedakan antara yang hak dengan yang batil, dan kaum muslimin menjadi jaya, memiliki sebuah negara sehingga patut untuk diperingati.dan menampakkan pengagungan terhadap Rasulullah SAW. Orang yang lain berkata: aku memperingati hari perang badar, karena merupakan hari pembeda, pada hari bertemu dua pasukan, hari dimana Allah menolong kaum muslimin atas kaum musyrikin, yang lain berkata: aku memperingati hari fathu mekkah (penaklukan kota mekkah) , hari ketika manusia berbondong-bondong masuk ke dalam Islam, yang lain berkata: aku memperingati hari wafatnya Rasulullah SAW, hari beliau berpulang ke pada Allah (wafat)

Dan begitulah, masing-masing punya ide sehingga mereka berselisih tanpa landasan petunjuk, dalil syar'i yang dapat menyelesaikan perselisihan tersebut sehingga menghemat tenaga.


المراجع:
1 - اقتضاء الصراط المستقيم مخالفة أصحاب الجحيم لشيخ الإسلام ابن تيمية، ص189، ط. دار المعرفة.
2 - مسند الإمام أحمد ، ج5 ، ص279-299 ، ومسلم في صحيحه في كتاب الصيام.
3- مجلة البيان
Poskan Komentar