Al-Qur'an Merupakan Cahaya & Bekal Yang Disimpan Di Langit




Al-Qur'an Merupakan Cahaya & Bekal Yang Disimpan Di Langit


Dari Abu Dzar r.a., ia menceritakan,
“Aku pernah berkata pada Rasulullah saw., ‘Wahai Rasulullah, berilah aku wasiat! ‘Rasulullah saw. bersabda, ‘Hendaklah engkau bertakwa kepada Allah Swt., karena takwa adalah akar dari setiap urusan.’ Saya berkata lagi, ‘Wahai Rasulullah, tambahkan wasiat untukku!’ Rasulullah pun bersabda, ‘Hendaklah engkau membaca al Qur’an, karena sesungguhnya al Qur’an itu nur bagimu di muka bumi dan bekal yang disimpan di langit.”
(Hr. Ibnu Habban)
Sesungguhnya takwa adalah akar segala urusan. Hati yang memiliki rasa takut kepada Allah tidak akan pernah bermaksiat kepada-Nya dan tidak akan mengalami kesusahan. Firman Allah Swt.
“…Barangsiapa bertakwa kepada Allah, maka akan dijadikan baginya jalan keluar dari segala kesusahan dan diberinya rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka…” (Qs. Ath Thalaq [65] : 2-3)
Dari beberapa riwayat yang lalu kita telah mengetahui tentang nur tilawat al Qur’an. Disebutkan dalam Syarh Ihya dari Ma’rifah Abu Nuaim, bawa Basith r.a. meriwayatkan dari Nabi saw., sabdanya, “Rumah-rumah yang didalamnya terdapat bacaan al Qur’an akan terlihat bersinar oleh para penduduk langit sebagaimana bintang-bintang terlihat bersinar oleh para penduduk bumi.”
Dalam kitab at Targhib dan yang lainnya, hadits di atas telah diringkas dari sebuah hadits panjang yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibbandan yang lainnya. Mulla Ali Qari rah.a. telah menulisnya secara rinci, sedangkan Imam Suyuthi sedikit meringkasnya. Walaupun bagian hadits diatas telah mencukupi keperluan risalah ini, seluruh hadits tersebut mengandung banyak hal penting dan bermanfaat. Oleh karena itu, maksud seluruh hadits diatas akan dijelaskan di bawah ini:
Abu Dzar al Ghifari r.a. menceritakan: Saya bertanya kepada Nabi saw., “Berapa banyakkah kitab yang telah diturunkan oleh Allah?”
Beliau menjawab, “Seratus shahifah dan empat kitab suci. Lima puluh shahifah diturunkan kepada Syits a.s., tiga puluh shahifah kepada Idris a.s.,sepuluh shahifah kepada Ibrahim a.s. sepuluh mushaf kepada Musa a.s. sebelum Taurat diturunkan kepadanya. Dan selain mushaf-mushaf itu ada empat kitab suci yang diturunkan kepadanya. Dan selain mushaf-mushaf itu ada empat kitab suci yang diturunkan, yaitu Taurat, Zabur, Injil, dan al Qur’an.’ Saya bertanya lagi, ‘Apakah kandungan mushaf-mushaf yang diturunkan kepada Ibrahim a.s.?’ Beliau menjawab, ‘Berisi tamsil-tamsil, misalnya:
‘Wahai raja yang kuat dan angkuh! Aku tidak melantikmu untuk mengumpulkan harta, tetapi Aku melantikmu untuk mencegah sampainya do’a seseorang yang dizhalimi. Kamulah yang harus lebih dulu memperbaikinya, karena Aku tidak menolak doa orang yang didzhalimi walaupun dia seorang kafir.”
Hamba yang hina ini (Maulana Zakariya – pent.) menyatakan, “Jika Nabi saw. akan mengangkat seorang sahabatnya sebagai gubernur atau hakim, maka beliau dengan penuh perhatian akan menambahkan di dalam nasihatnya:
“Takutilah do’a orang yang teraniaya, karena sesungguhnya antara ia dengan Allah tidak ada hijab.”
Dalam sebuah syair Persia disebutkan,
“Berhati-hatilah dengan keluhan orang yang teraniaya jika mereka berdo’a karena penerimaan Allah itu dekat dengan mereka.” Juga disebutkan dalam shahifah-shahifah tersebut bahwa orang yang berakal sehat selama akalnya masih normal, hendaknya ia membagi seluruh waktunya menjadi tiga bagian, yaitu: (1) Untuk beribadah kepada Rabbnya; (2) Untuk menghisab dirinya, beberapa banyak keburukan atau kebaikan yang telah ia lakukan; (3) Untuk mencari penghasilan yang halal.
Seseorang yang berakal juga harus mengatur waktunya, memperbaiki dirinya, dan menjaga lidahnya dari bicara yang sia-sia. Orang yang selalu menghisab setiap ucapannya, maka lidahnya akan berkurang dari bicara sia-sia. Orang yang berakal juga tidak akan berpergian kecuali untuk tiga tujuan, yaitu: (1) Mencari bekal akhirat; (2) Mencari nafkah sekadarnya; (3) Bersantai yang diperbolehkan (oleh agama).
Abu Dzar r.a. bertanya lagi,
“Ya rasulullah, apakah kandungan shahifah yang diturunkan kepada Musa a.s.?” Beliau menjawab, “Semuanya berisi pelajaran-pelajaran, misalnya: ‘Aku heran terhadap orang yang meyakini kematian, tetapi ia masih bergembira dengan sesuatu, (biasanya seseorang jika telah diputus akan di hukum mati, ia tidak akan merasa tenang dengan apapun).
Aku heran terhadap orang yang meyakini kematiannya, tetapi ia masih bisa tertawa. Aku heran terhadap orang yang selalu memperhatikan kejadian-kejadian, perubahan-perubahan, dan gejola dunia, tetapi ia masih merasa tenang dengannya. Aku heran terhadap orang yang meyakini takdir, tetapi ia masih berduka cita bersedih hati. Aku heran terhadap orang yang meyakini hisab itu dekat, tetapi ia tidak beramal shalih.
Abu Dzar r.a. meminta lagi,. “Ya Rasulullah, tambahkan lagi wasiat untukku!”
Pertama-tama Rasulullah saw. mewasiatkan takwa kepadaku. Lalu beliau bersabda, “Takwa adalah dasar dan akar segala urusan.”
Aku memonta lagi, “Ya Rasulullah, tambahkan lagi wasiat untukku.” Beliau bersabda, “Perbanyaklah membaca al Qur’an dan mengingat Allah, karena yang demikian itu adalah nur bagimu di bumi dan simpanan bagimu di langit.”
Aku meminta lagi, “Tambahkan lagi wasiat untukku!”
Beliau bersabda,
“jangan banyak tertawa, karena sesungguhnya banyak tertawa itu akan mematikan hati dan menghilangkan nur wajah (merugikan jasmani dan Ruhani).” Beliau bersabda lagi, “Pentinglah jihad, karena jihad adalah rahbaniah umatku. (Pada zaman dahulu, rahib adalah orang-orang yang memutuskan seluruh hubungan dengan dunia dan diri mereka hanya pasrah kepada Allah).”
Aku minta tambahan lagi. Lalu ia bersabda, “Pandanglah selalu orang-orang yang berada dibawahmu (lebih rendah darimu), dengan begitu kamu dapat bersyukur; dan jangan memandang orang yang berada diatasmu, sehingga kamu akan meremehkan nikmat Allah.”
Aku meminta tambahan lagi. Lalu beliau bersabda,
“Hendaklah keburukanmu menahanmu dan mencaci orang lain. Dan janganlah mencari aib orang lain, sedangkan kamu sendiri melakukannya. Cukuplah sebagai bahan untuk mencela dirimu bahwa kamu melihat aib orang lain, sedangkan aib itu ada pada dirimu tetapi kamu tidak menyadarinya, atau kamu mengoreksi kesalahan orang lain sedangkan kamu sendiri melakukannya.”
Kemudian dengan tangannya yang mulia, Nabi saw. menepuk daadku sambil bersabda,
“Wahai Abu Dzar, tidak ada kebijaksanaan yang lebih baik daripada pengaturan, tidak ada ketakwaan yang lebih baik daripada menjauhi larangan, dan tidak ada kemuliaan yang lebih baik daripada sopan santun.”
Ini hanyalah ringkasan maksud hadits diatas, sedangkan terjemah tekstual tidaklah demikian

Tidak ada komentar