Segala Pujian Hanya Milik Alloh

Segala Pujian Hanya Milik Alloh 

سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَا نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ

“Maha Suci Allah dan segala pujian hanya untukNya sejumlah makhluk ciptaanNya, sebesar keridhaanNya, seberat ‘Arsynya Allah, sebanyak tinta yang dipergunakan untuk menulis kalimat Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Muslim)

Di sini Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan sebuah wirid yang bisa dijadikan sebagai alternatif pengganti atas apa yang dilakukan oleh Juwairiyah Radhiyallahu ‘Anha. Yang menarik di sini adalah sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa kalimat yang pendek ini bisa mengalahkan dzikir yang dibaca berjam-jam. Hal ini karena dahsyatnya kandungan yang ada di dalam kalimat dzikir tersebut.

Secara ringkas tasbih artinya ketika kita mengucapkan ‘Subhanallah’ adalah Maha Suci Allah. Kita berupaya untuk menjauhkan segala kekurangan dari Dzat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mensucikan Allah dari sifat-sifat yang buruk dan perbuatan-perbuatan yang tidak layak bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Adapun ‘Alhamdulillah’ artinya adalah kita memuji Allah dengan menyebutkan sifat-sifatNya yang mulia dan dengan mengingat karunia yang Allah berikan kepada kita yang tidak terhingga jumlahnya.

1. SEJUMLAH MAKHLUK CIPTAANNYA

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan kita bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berhak untuk disucikan dengan mengucapkan ‘Subhanallah‘ dan dipuji dengan mengucapkan ‘Wabihamdih‘.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berhak untuk disucikan dan dipuji sebanyak makhluk yang diciptakanNya. Maknanya bahwa Allah berhak untuk dipuji dan disucikan dengan jumlah yang tidak terhitung sebagaimana makhluk tidak terhitung. Sehingga jangan pernah kita merasa ‘Saya sempurna sempurna di dalam berdzikir kepada Allah.’ Karena sebanyak apapun kita berdzikir, maka tidak akan pernah bisa mencapai kesempurnaan. Tapi kita disuruh oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala:

اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

“berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Ahzab[33]: 41)

Batas minimal ‘dzikir yang banyak’ adalah ketika kita sudah membaca seluruh dzikir/wirid/doa yang ada tuntunannya. Sedangkan masih ada dzikir-dzikir yang ada tuntunannya yang belum kita amalkan. Maka kalimat ‘sebanyak jumlah makhluk Allah’ ini memberikan pelajaran yang berharga kepada kita. Yaitu agar kita meningkatkan jumlah dzikir kita.

2. SEBESAR KERIDHAANNYA ALLAH

Allah Subhanahu wa Ta’ala berhak untuk dipuji dan disucikan sebesar keridhaanNya (tidak ada batasnya). Maka kita harus terus meningkatkan kualitas dzikir kita. Yaitu dengan cara memahami dan merenungi makna yang kita baca.

Dzikir bukan tentang siapa yang paling cepat selesai, atau suara yang paling keras, tapi dzikir itu diukur dengan seberapa kita mengerti apa yang kita baca, seberapa kita meresapi makna yang ada didalamnya, dan seberapa kita mengaplikasikan konsekuensi dari dzikir itu dalam kehidupan kita sehari-hari.

3. SEBERAT ‘ARSYNYA ALLAH

Kita tahu bahwa makhluk yang diciptakan oleh Allah sangat banyak. Dari sekian banyak makhluk Allah itu yang paling besar dan paling berat bobotnya adalah ‘Arsy. Allah Subhanahu wa Ta’ala berhak untuk kita tasbihi dan tahmidi sebesar ‘ArsyNya yang kita tidak tahu berapa beratnya.

Pelajaran yang bisa kita ambil bahwa bobot dzikir yang kita baca ketika nanti ditimbang di timbangan amal itu tergantung kualitas dan kuantitasnya. Semakin dzikir mutlak yang kita baca (termasuk Al-Qur’an), diiringi dengan kualitasnya, maka akan semakin berat bobotnya ketika ditimbang nanti di hari kiamat.

4. SEBANYAK TINTA YANG DIGUNAKAN UNTUK MENULIS KALIMAT ALLAH

Kalimat Allah tidak ada batasnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِن شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِن بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَّا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Seandainya seluruh pohon yang ada di muka bumi ini dijadikan sebagai pena dan semua lautan dijadikan sebagai tintanya, ditambah lagi tujuh samudra lagi, niscaya ilmu dan kalimat Allah tidak akan pernah habis. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Luqman[31]: 27)

Maka pelajarannya adalah bahwa dzikir yang banyak, jangan pernah pensiun kecuali malaikat maut sudah datang menjemput.


Tidak ada komentar