Tauhid Sebagai Pelebur Dosa Dosa


Tauhid Sebagai Pelebur Dosa Dosa 

Tauhid merupakan perkara yang sangat penting yang tidak dapat dipisahkan dari Islam. Hal itu karena tujuan dari ibadah di dalam Islam adalah untuk menegakkan dan merealisasikan tauhid. Bahkan dijelaskan di dalam Al-Quran, bahwa tujuan utama Allah menciptakan jin dan manusia adalah untuk mengaplikasikan tauhid itu sendiri, yaitu beribadah kepada Allah dengan ikhlas hanya ditujukan kepadaNya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepadaKu.” (QS Adz-Dzariyat [51]: 56)

Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh menukilkan perkataan Imam Ibnu Katsir rahimahullah yang menjelaskan, bahwa makna ayat tersebut adalah:

“Sesungguhnya Allah menciptakan makhlukNya tidak lain tidak bukan adalah agar mereka beribadah hanya kepadaNya semata (mentauhidkanNya) dan tidak menyekutukanNya. Dan barangsiapa yang mentaatiNya, maka ia akan diberi balasan dengan balasan yang sempurna (surga). Sedangkan barangsiapa yang ingkar kepadaNya, maka akan diadzab dengan adzab yang pedih (neraka). Allah juga mengabarkan bahwa Dia tidak butuh terhadap makhluk-makhlukNya. Bahkan sebaliknya, merekalah yang butuh kepada Allah dalam setiap kondisi mereka. Karena Allah-lah yang telah menciptakan dan memberi rezeki kepada mereka.” (Fathul Majid, Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh, cetakan Mu’assasah Qurthubah, halaman 30)

Manusia Tempat Salah dan Dosa

Dalam menjalani ibadah dan ketaatan kepada Allah di dunia ini, manusia sering kali terjatuh ke dalam kesalahan dan dosa. Dan hal ini merupakan sifat manusia yang memang tidak bisa terlepas dari kesalahan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ

“Setiap anak Adam pasti melakukan kesalahan-kesalahan, dan sebaik-baik mereka yang melakukan kesalahan adalah mereka yang bertaubat.” (HR at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan al-Hakim)

Di dalam hadits tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa yang namanya anak Adam (manusia) pasti sering kali melakukan banyak kesalahan. Namun yang paling baik di antara mereka adalah yang mau kembali dan bertaubat kepada Allah atas kesalahan-kesalahannya.

Setiap saat yang dilaluinya, manusia akan senantiasa melakukan kesalahan dan dosa. Dan hal ini tidak akan berhenti hingga ajal menjemputnya. Tentu saja apabila ia tidak bertaubat dari dosa-dosa yang dilakukannya tersebut, kelak ia akan mendapatkan balasan berupa adzab yang pedih (di neraka). Dan seorang mukmin tentunya memiliki rasa takut dan khawatir dengan adzab dari Allah Ta’ala tersebut dan ia butuh ampunan dari Allah agar bisa lepas dari siksaanNya kelak di akhirat.

Allah Maha Penyayang dan Mengampuni Dosa-Dosa

Allah sebagai Dzat yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang tentu saja tidak membiarkan hamba-hambaNya larut dan berterus-terusan berada dalam kubangan dosa yang bisa membinasakan mereka. Allah Ta’ala membuka pintu taubat selebar-lebarnya bagi mereka yang mau meminta ampunan kepadaNya. Bahkan Allah memerintahkan hamba-hambaNya untuk segera bertaubat agar kelak mereka bisa lepas dari adzabNya dan ia termasuk orang-orang yang beruntung mendapatkan surgaNya di hari kiamat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَتُوبُوا إِلَى اللهِ جَمِيعاً أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung.” (QS an-Nur [24]: 31)

Dan juga firmanNya:

سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاء وَالْأَرْضِ

“Berlomba-lombalah kamu untuk (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.” (QS al-Hadid [57]: 21)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِىءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِىءُ اللَّيْلِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا

“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla senantiasa membuka tanganNya pada malam hari untuk menerima taubat orang yang melakukan dosa di sore hari. Dan Allah membuka tanganNya di siang hari untuk menerima taubat orang yang melakukan dosa di malam hari, (dan ini dilakukan) hingga matahari terbit dari arah barat (kiamat).” (HR Muslim dan an-Nasai dari sahabat Abu Musa radhiyallahu ‘anhu)

Selain memerintahkan hamba-hambaNya untuk bertaubat dan meminta ampun kepadaNya, Allah juga menjanjikan ampunan sebesar-besarnya kepada hamba-hambaNya yang bertauhid. Yaitu mereka yang ikhlas dalam beribadah dan menyucikan ibadahnya dari segala macam bentuk kesyirikan.

Tauhid sebagai Kunci Diampuninya Dosa

Ikhlas dalam beribadah yaitu seseorang melakukan ketaatan kepada Allah dengan melakukan ibadah-ibadah yang diperintahkannya, baik itu ibadah yang tampak (seperti shalat, zakat, haji, menuntut ilmu, dll) ataupun ibadah yang tidak tampak (seperti cinta, takut, berharap, dll) hanya semata-mata ditujukan untuk Allah, bukan ditujukan kepada selainNya atau dengan tujuan selainNya. Ia juga beribadah tidak untuk mendapatkan pujian dari manusia, namun semata-mata untuk mendapatkan ridha dari Allah Ta’ala.

Selain ikhlas dalam beribadah, ia juga harus berlepas diri dari segala macam bentuk kesyirikan. Karena kesyirikan akan menghapuskan semua amal kebaikan manusia. Jika ia bisa menjaga dirinya untuk senantiasa mentauhidkan Allah dan menjauhkan dirinya dari kesyirikan. Maka segala macam dosa dan kesalahannya akan diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Di dalam hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قَالَ اللهُ تَعَالَى :يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لاَ تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

“Allah Ta’ala berfirman: “Wahai anak Adam, jika seandainya engkau mendatangiKu dengan memikul dosa sepenuh bumi, kemudian engkau menemuiKu dalam keadaan tidak menyekutukanKu dengan sesuatu pun, maka sungguh Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi pula.”” (HR at-Tirmidzi)

Di dalam hadits qudsi ini terdapat keutamaan tauhid yang begitu agung, yaitu Allah Ta’ala memberikan pahala yang begitu besar bagi hamba-hambaNya yang bertauhid. Seorang Muslim yang memiliki tauhid yang murni akan diampuni dosa-dosanya walaupun dosanya itu sebesar bumi ini. Ini merupakan bentuk kasih sayang dan keluasan rahmat Allah kepada hamba-hambaNya yang bertauhid.

Ketika menjelaskan makna hadits ini, Imam Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan bahwa:
Barangsiapa datang (kepada Allah di hari kiamat kelak) dengan memikul dosa sepenuh bumi, namun ia memiliki tauhid, maka Allah akan menyambutnya dengan ampunan sepenuh bumi pula

Sampai beliau berkata:

“Jika tauhid dan keikhlasan seorang hamba kepada Allah telah sempurna, kemudian ia menunaikan syarat-syaratnya, baik itu di dalam hati, lisan, dan perbuatannya, atau dengan hati dan lisannya saat sebelum meninggal dunia, maka ia pasti akan memperoleh ampunan (dari Allah) atas seluruh dosa-dosa yang pernah dilakukan sebelumnya dan (hal itu pun) menghalangi dirinya secara total dari masuk neraka. Dan barangsiapa yang menetapkan di dalam hatinya kalimat tauhid, maka ia akan mengeluarkan darinya segala macam bentuk (ketundukan) kepada selain Allah: baik itu rasa cinta, penghormatan, pengagungan, pemuliaan, rasa takut, atau tawakal. Dan pada saat itu, dosa-dosa dan kesalahan-kesalahannya dihanguskan seluruhnya, walaupun jumlahnya sebanyak buih di lautan.” (Fathul Majid, Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh, cetakan Mu’assasah Qurthubah, halaman 70)

Demikianlah peran dan keutamaan tauhid dalam menghapus dan meleburkan dosa-dosa hamba-hamba Allah yang bertauhid. Semoga Allah menjadikan kita ke dalam golongan orang-orang yang mengamalkan tauhid hingga akhir hayat. Aamiin

Tidak ada komentar