KEJUJURAN ADALAH PRINSIP ISLAM

KEJUJURAN ADALAH PRINSIP ISLAM 
Hasil kajian dan penelitianku terhadap kehidupan memperlihatkan bahwa kejujuran merupakan prinsip dasar ajaran Islam dan sarana pengikat berbagai akhlaknya yang mulia serta sifat dari sejumlah perasaannya yang luhur. Jadi, kita harus menghidupkan kejujuran yang merupakan batu fondasi dalam kehidupan sosial kita serta mengobati berbagai penyakit maknawiyah kita dengannya. Ya, kejujuran merupakan sumbu dalam kehidupan sosial Islam. Adapun riya merupakan sejenis dusta praktis. Menjilat dan Sikap kepura-puraan merupakan kebohongan yang nista, serta kemunafikan adalah dusta yang sangat berbahaya. Sementara bohong itu sendiri adalah tindakan mengada-ngadakan sesuatu atas qudrat Sang Pencipta Yang Mahaagung. Kufur dengan seluruh jenisnya adalah kebohongan. Sebaliknya, iman adalah kejujuran dan kebenaran. Atas dasar itu, perbedaan yang sangat jauh antara kejujuran dan kedustaan seperti antara penjuru timur dan barat. Jujur dan dusta tidak semestinya bercampur sebagaimana api dan cahaya. Namun, politik yang menipu dan 
propaganda yang zalim telah mencampur keduanya. Maka, seluruh sisi kesempurnaan dan kemuliaan manusia bercampur dengan sejumlah keburukan dan kekurangannya.12 Jujur dan dusta sangat berjauhan seperti jarak antara kufur dan iman. Naiknya Muhammad saw pada masa (generasi) terbaik menuju tingkatan tertinggi lewat sarana kejujuran serta kekayaan hakikat iman dan rahasia alam yang dibukakan untuknya menjadikan sifat jujur sebagai dagangan paling laris dan barang paling mahal di pasar kehidupan sosial. Sementara, Musaylamah al-Kazzâb berikut sejumlah orang semisalnya jatuh ke dalam tingkatan terendah karena dusta. Pasalnya, ketika perubahan besar itu terjadi di masyarakat, jelas bahwa dusta merupakan kunci kekufuran dan khurafat serta dagangan yang paling rusak dan buruk. Barang dagangan yang menjijikkan bagi seluruh orang tidak mungkin disentuh oleh mereka yang berada di barisan pertama dari perubahan besar tersebut. Yaitu para sahabat yang secara fitri mengambil barang dagangan terbaik dan termahal. Mereka tidak mungkin akan mengotori tangan mereka yang penuh berkah dengan dusta, melakukannya dengan sengaja, serta menyerupai Musaylamah al-Kazzâb. Namun dengan kecenderungan alamiahnya yang bersih serta dengan kekuatan yang mereka terima, mereka berada di barisan terdepan dalam membeli kejujuran yang merupakan aset paling laku, dan barang paling berharga. Bahkan ia merupakan kunci seluruh hakikat dan tangga naiknya Muhammad saw menuju tingkatan yang paling tinggi. Karena para sahabat selalu bersikap jujur tanpa berpaling darinya semampu mungkin, maka para ulama hadis dan fikih menyatakan bahwa para sahabat merupakan “sosok yang adil di mana riwayatnya bisa langsung diterima. Seluruh hadis nabi saw yang mereka riwayatkan adalah benar adanya”. Hakikat tersebut menurut kesepakatan yang sangat kuat. Begitulah, perubahan besar yang terjadi pada masa (generasi) terbaik menyebabkan adanya jarak yang sangat jauh antara jujur dan dusta sama seperti iman dan kufur. Hanya saja seiring perjalanan waktu, jarak antara jujur dan dusta semakin tipis. Bahkan sejumlah propaganda politik kadangkala membuat dusta dan kebohongan lebih laku. Akhirnya, dusta dan kerusakan lebih terlihat dan lebih dominan. Atas dasar itulah, tidak seorangpun dapat mencapai tingkatan para sahabat yang mulia tersebut. Hal ini kita cukupkan sampai di sini. Pembaca dapat melihat risalah tentang sahabat yang terdapat di bagian lanjutan dari Kalimat Kedua Puluh Tujuh (Risalah Ijtihad). Wahai saudara-saudaraku yang berada di masjid Jami Umawi ini dan wahai 400 juta saudaraku seiman yang berada di seluruh dunia Islam 40 tahun mendatang! Tidak ada jalan selamat kecuali dengan kejujuran. Jujur merupakan tali yang sangat kuat. Adapun dusta demi kemaslahatan telah dihapus oleh perjalanan waktu. Memang ada sebagian ulama yang untuk sementara waktu memfatwakan bolehnya berdusta demi kemaslahatan dalam kondisi darurat. Hanya saja, di masa sekarang fatwa tersebut tidak bisa dipakai. Sebab, banyak pihak yang menyalahgunakannya sehingga tidak lagi memberikan manfaat kecuali hanya satu di antara seratus kerusakan. Karena itu, hukum tidak dibangun atas dasar kemaslahatan. Contohnya: sebab shalat diqashar dalam perjalanan adalah adanya kesulitan. Akan tetapi, kesulitan tersebut tidak bisa menjadi alasan (ilat) bolehnya diqashar. Sebab, ia bersifat relatif dan bisa disalahgunakan. Karenanya, yang menjadi alasan (ilat) adalah perjalanan tadi. Demikian pula kemaslahatan tidak bisa menjadi alasan (ilat) dibolehkannya berdusta karena dusta tidak memiliki batas yang jelas. Ia sangat mudah disalahgunakan sehingga tidak bisa menjadi landasan hukum. Atas dasar itu, hanya ada dua jalan; tidak ada yang ketiga: “entah jujur atau diam.” Bukan jujur, dusta, atau diam. Selanjutnya, tidak adanya rasa aman dan tenang di masa sekarang akibat kebohongan yang dilakukan oleh umat manusia berikut manipulasinya merupakan buah dari dusta dan penyalahgunaannya dengan alasan maslahat. Maka, tidak ada pilihan bagi umat manusia kecuali menutup jalan ketiga tersebut. Kalau tidak, perang dunia, berbagai perubahan menakutkan, serta kerusakan luar biasa yang terjadi selama setengah abad ini bisa menjadi sebab terjadinya kiamat bagi umat manusia. Ya, engkau harus jujur dalam setiap ucapanmu. Akan tetapi, tidaklah benar jika engkau mengutarakan semua kejujuran. Apabila dalam keadaan tertentu kejujuran bisa menimbulkan bahaya, maka lebih baik diam. Sementara berdusta sama sekali tidak diperbolehkan. Engkau harus mengatakan yang benar dalam setiap pembicaraan. Namun, bukan berarti engkau harus mengutarakan semua fakta kebenaran. Sebab, kebenaran kadangkala bisa melahirkan dampak negatif sehingga memposisikannya bukan pada tempatnya.

Tidak ada komentar