Rahmat Allah yang Tak Tertandingkan: Pembimbing, Peringatan, dan Hikmah Misteri
Materi Ceramah: “Rahmat Allah yang Tak Tertandingkan: Pembimbing, Peringatan, dan Hikmah Misteri”
Pembukaan
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Segala puji bagi Allah, Tuhan yang Maha Rahmat, yang memberi hidayah, dan menutupi kekurangan hamba-Nya dengan rahmat-Nya yang tiada batas. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga hari kiamat.
Saudaraku, hari ini kita akan merenungi hakikat rahmat Allah yang tak tertandingkan, yang terkadang terasa menakutkan bagi kita, tetapi sejatinya adalah sarana pembimbing dan pemurni hati.
1. Rahmat Allah Bisa Menjadi “Membunuh” bagi Diri yang Salah Jalan
Fīhī Mā Fīhī menyatakan:
“Yang akan membunuhku adalah rahmat yang tidak terbandingkan. Mata pisau yang mendekatiku adalah untuk mengelakkan mata dari ‘yang lain’ hingga mata yang asing, bertanda buruk, dan tidak murni, tak akan mampu memahami sang pembunuh.”
Makna ini adalah metafora spiritual: rahmat Allah kadang terasa keras bagi hamba yang tidak siap, karena Allah menyingkirkan hal-hal yang menjerumuskan dan menutupi hati dari pengaruh yang merusak. Rahmat-Nya menghapus keburukan, sekaligus menakutkan hati yang kotor.
Dalil Al-Qur’an:
وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ
“Dan apa pun musibah yang menimpa kalian, adalah karena perbuatan tangan kalian sendiri; dan Allah mengampuni banyak hal.” (QS. Asy-Syura: 30)
Komentar ulama:
Al-Ghazali menjelaskan bahwa rahmat Allah kadang datang dalam bentuk ujian, pembatasan, atau kejadian yang menakutkan, untuk menegakkan hamba-Nya di jalan yang benar. Rahmat itu tidak selalu terasa manis; kadang ia “membunuh” kesalahan dan keangkuhan batin.
Praktik:
- Terima setiap ujian atau kesulitan sebagai bentuk rahmat dan pembersihan batin.
- Jangan takut terhadap perubahan atau ujian; itu bagian dari kasih sayang Allah yang agung.
2. Pembukaan Hati dan Penutupan yang Bijak
Fīhī Mā Fīhī menegaskan:
“Apabila dilakukan sebaliknya, justru akan merenggut dia keluar, karena Tuhan telah menutup rapat (hati dan pendengaran mereka).”
Allah menutup hati orang yang tidak mau memahami kebenaran agar mereka tidak tersesat lebih jauh. Penutupan hati ini adalah bentuk keadilan dan rahmat sekaligus, agar manusia sadar keterbatasannya.
Dalil Al-Qur’an:
اللَّهُ يَسْتُرُ عِبَادَهُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ
“Allah menutupi (kekurangan) hamba-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Baqarah: 272, tafsir)
Komentar ulama:
Ibn Kathir menjelaskan bahwa hati yang tertutup adalah akibat ketidakmauan hamba menerima petunjuk, sekaligus Allah menjaga mereka dari kesalahan yang lebih besar. Rahmat Allah meliputi “penutupan” bagi mereka yang belum siap.
Praktik:
- Rendahkan hati dan terima bahwa tidak semua ilmu bisa dipahami sekaligus.
- Gunakan keterbatasan untuk meningkatkan kesabaran dan tawakal.
3. Al-Qur’an dan Hadis Sebagai Peringatan dan Rahmat
Fīhī Mā Fīhī menyinggung ayat-ayat yang menegaskan perlunya berhati-hati terhadap pemfitnah dan orang yang menyesatkan:
Janganlah menaati para pembuat janji biasa (QS. Al-Qalam: 10)
Karena bagimu, dia adalah sahabat yang patut dibenci… (QS. Al-Qalam: 11-12)
Rahmat Allah hadir dengan perlindungan melalui wahyu, agar hamba tidak tersesat oleh fitnah dunia. Dengan mengikuti peringatan Al-Qur’an, hamba selamat dari tipu daya yang bisa menghancurkan batin.
Dalil Hadis:
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan, niscaya Dia memberi kefahaman agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Komentar ulama:
Al-Qurtubi menekankan bahwa pemahaman agama adalah bentuk rahmat, sekaligus perlindungan dari kesesatan. Rahmat Allah hadir melalui Al-Qur’an, hadis, dan pembimbing yang saleh.
Praktik:
- Pelajari Al-Qur’an dan hadis dengan serius sebagai sarana perlindungan.
- Waspadai pengaruh negatif dan pemfitnah, baik dalam kehidupan nyata maupun batin.
4. Rahmat Sebagai Pembimbing, Bukan Ancaman
Fīhī Mā Fīhī menyatakan:
“Rahmat yang akan ‘membunuh’ku adalah untuk mengelakkan mata dari ‘yang lain’.”
Ini menekankan bahwa apa yang tampak keras atau menakutkan dalam hidup sering kali adalah bentuk rahmat Allah. Seorang hamba yang mampu memahami dan menerima rahmat-Nya akan bersyukur atas segala yang Allah tetapkan.
Dalil Al-Qur’an:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)
Komentar ulama:
Al-Ghazali dan Ibn Arabi menekankan bahwa rahmat Allah hadir dalam berbagai bentuk: mudah, sulit, menyenangkan, dan menakutkan. Semua itu untuk membimbing manusia menuju hakikat dan kesucian batin.
Praktik:
- Syukuri ujian dan nikmati kemudahan sebagai bagian dari rahmat Allah.
- Lihat kesulitan sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah.
5. Refleksi Spiritual
Dari pembahasan ini, kita bisa menyimpulkan:
- Rahmat Allah kadang terasa keras, tetapi sejatinya adalah pemurni dan pembimbing batin.
- Penutupan hati bagi orang yang tidak mau memahami adalah bentuk rahmat untuk menghindarkan mereka dari kesesatan.
- Al-Qur’an, hadis, dan guru saleh adalah alat rahmat Allah yang membimbing hamba.
- Kesulitan, ujian, dan pengawasan diri adalah bagian dari kasih sayang Allah yang tak tertandingkan.
Semoga Allah memberikan kita hati yang peka terhadap rahmat-Nya, kesabaran dalam ujian, dan kemampuan untuk selalu kembali kepada-Nya. Amin.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Post a Comment