Nikmat yang Sering Terlupakan, Amanah Keluarga, dan Akhir yang Kita Mohonkan
“Nikmat yang Sering Terlupakan, Amanah Keluarga, dan Akhir yang Kita Mohonkan”
(Tadabbur Surah An-Nahl: Nikmat Allah & Jalan Lurus)
PEMBUKAAN
Bismillāhirraḥmānirraḥīm…
Alhamdulillāh…
Segala puji bagi Allah…
Yang masih membiarkan kita bangun pagi,
masih memberi kita nafas,
masih mengizinkan kita memeluk keluarga
— padahal tidak ada satu pun dari itu yang kita bayar.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ,
yang mengajarkan bahwa iman bukan hanya di masjid,
tetapi juga di meja makan keluarga,
di kamar anak-anak,
dan di detik terakhir sebelum nyawa berpisah dari raga.
Hadirin yang Allah muliakan…
Pernahkah kita bertanya pada diri sendiri:
“Jika malam ini Allah memanggilku…
apakah keluargaku siap mendoakanku…
atau justru masih memendam luka dariku?”
BAGIAN 1
KETETAPAN ALLAH ITU PASTI
Allah berfirman:
أَتَىٰ أَمْرُ اللَّهِ فَلَا تَسْتَعْجِلُوهُ
“Telah pasti datang ketetapan Allah…”
(An-Nahl: 1)
Allah tidak berkata “akan datang”,
tetapi “telah datang” —
karena bagi Allah, waktu tidak seperti kita.
Saudaraku…
Banyak orang tua berkata:
- “Nanti kalau sudah tua aku berubah.”
- “Nanti kalau anak sudah besar aku lebih dekat dengan Allah.”
Padahal…
berapa banyak yang wafat tanpa sempat ‘nanti’.
💔 Kisah Nyata
Ada seorang ayah di kampung pinggir kota.
Bekerja keras. Pulang larut.
Anaknya pintar, tapi jarang diajak shalat.
Suatu malam…
ayah itu meninggal mendadak.
Anaknya berkata sambil menangis:
“Ayah… aku belum sempat melihat ayah shalat bersamaku.”
Hadirin…
kematian bukan hanya memutus hidup,
tetapi juga menghentikan kesempatan mendidik.
BAGIAN 2
NIKMAT ALLAH YANG MEMBESARKAN KELUARGA KITA
Allah menyebutkan nikmat demi nikmat:
- udara
- air
- makanan
- hewan ternak
- siang & malam
- jalan & petunjuk
وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا
“Jika kalian menghitung nikmat Allah, kalian tidak akan mampu.”
(An-Nahl: 18)
Saudaraku…
Anak yang sehat itu nikmat.
Pasangan yang masih ada itu nikmat.
Rumah sederhana tapi tenang itu nikmat.
Namun sering kali… nikmat baru disadari setelah diambil.
💔 Kisah Nyata – Ibu & Anak
Seorang ibu sering memarahi anaknya:
“Kamu lambat!”
“Kamu bikin ibu capek!”
Suatu hari anak itu sakit keras.
Di rumah sakit, sang ibu berkata sambil menangis:
“Ya Allah… aku rindu dimarahi anakku kembali.”
Hadirin…
nikmat keluarga itu sering tidak terasa
karena terlalu sering kita gunakan untuk marah.
BAGIAN 3
JALAN LURUS ITU AMANAH ORANG TUA
Allah berfirman:
وَعَلَى اللَّهِ قَصْدُ السَّبِيلِ
“Dan hak bagi Allah menjelaskan jalan yang lurus.”
(An-Nahl: 9)
Allah sudah menjelaskan jalan,
tapi orang tua diberi amanah menunjukkannya.
Anak-anak tidak butuh:
- orang tua paling kaya
- orang tua paling pintar
Mereka butuh:
- orang tua yang jujur
- orang tua yang shalat
- orang tua yang minta maaf ketika salah
💔 Kisah Nyata – Ayah yang Diam
Ada ayah yang tidak pernah memarahi anak,
tapi juga tidak pernah menasihati.
Ketika anaknya remaja dan jauh dari agama,
ayah itu berkata:
“Aku kira dia akan mengerti sendiri.”
Saudaraku…
diamnya orang tua
sering menjadi bisingnya kesesatan anak.
BAGIAN 4
JANGAN JADIKAN DUNIA BERHALA DALAM RUMAH
Allah bertanya:
أَفَمَنْ يَخْلُقُ كَمَنْ لَا يَخْلُقُ
“Apakah yang menciptakan sama dengan yang tidak menciptakan?”
(An-Nahl: 17)
Hari ini berhala bukan patung.
Berhala itu:
- harta
- jabatan
- gengsi
- layar di tangan kita
Berapa banyak keluarga:
- duduk satu meja
- tapi jiwanya terpisah
Anak-anak belajar nilai bukan dari ceramah,
tetapi dari apa yang lebih sering kita pegang daripada mushaf.
BAGIAN 5
HUSNUL KHĀTIMAH: AKHIR YANG KITA MOHONKAN
Saudaraku…
Husnul khātimah bukan hadiah mendadak.
Ia adalah hasil kebiasaan kecil:
- shalat yang dijaga
- lisan yang ditahan
- keluarga yang didoakan
Bayangkan… jika wafat kita kelak, anak-anak berkata:
“Ayah mengajarkanku doa.”
“Ibu selalu shalat sebelum tidur.”
Itulah warisan sejati.
DOA
Allāhumma…
Ya Allah…
Kami sering menikmati nikmat-Mu
tanpa pernah benar-benar mensyukurinya…
Ya Allah…
Jika selama ini kami menjadi orang tua
yang lebih sering marah daripada mendoakan…
lebih sering menuntut daripada memeluk…
lebih sering sibuk daripada hadir…
Ampuni kami, ya Allah…
Ya Allah…
Jagalah keluarga kami…
Satukan hati kami dalam ketaatan…
Lembutkan lisan kami kepada pasangan dan anak-anak kami…
Ya Allah…
Jangan Engkau wafatkan kami
sementara ada luka di hati keluarga kami karena kami…
Ya Allah…
Jika Engkau ambil kami nanti…
Ambillah kami dalam keadaan
Engkau ridha…
keluarga kami ridha…
dan dosa kami Engkau ampuni…
Allāhumma kh’tim lanā biḥusnil khātimah…
Jadikan akhir hidup kami
akhir yang baik…
akhir yang tenang…
akhir dalam iman…
Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a‘yun…
Dan wafatkanlah kami
dalam keadaan Engkau cintai…
Āmīn… Āmīn… Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn…
Post a Comment