AR-RIFQ: KELEMBUTAN YANG MENGUNDANG RAHMAT ALLAH
AR-RIFQ: KELEMBUTAN YANG MENGUNDANG RAHMAT ALLAH
PEMBUKAAN
الحمد لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا…
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ…
Hadirin rahimakumullah,
Malam ini kita bicara tentang akhlak yang kelihatannya sepele, tapi dampaknya luar biasa:
👉 lembut.
Lucunya begini:
- HP jatuh → kita elus-elus: “Aduh sayang…”
- Istri salah dikit → nada naik satu oktaf: “Kamu tuh yaa…” 😅
Padahal Nabi ﷺ bersabda:
Allah cinta kelembutan, bukan nada tinggi.
I. DEFINISI AR-RIFQ (±10 MENIT)
Secara bahasa
الرِّفْقُ = lembut, halus, tenang, tidak kasar.
Secara istilah
Menyampaikan kebenaran tanpa menyakiti, menegakkan kebaikan tanpa merusak, dan mendidik tanpa menghancurkan hati.
📌 Imam Al-Ghazali:
“Ar-rifq adalah jalan para nabi, sedangkan kekerasan adalah jalan orang-orang yang tergesa-gesa.”
📚 Ihya’ Ulumiddin
II. DALIL AL-QUR’AN TENTANG KELEMBUTAN
1. Kelembutan Nabi adalah sebab orang bertahan dalam Islam
QS. Ali ‘Imran: 159
Arab:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
Terjemah:
“Maka disebabkan rahmat dari Allah engkau bersikap lemah lembut kepada mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, niscaya mereka akan lari dari sekelilingmu.”
📌 Tafsir Ibnu Katsir:
“Ini dalil bahwa kerasnya sikap dalam dakwah justru mengusir manusia dari kebenaran.”
😄 Humor selingan:
Kalau dakwah pakai bentakan, jamaah bukan tambah taat…
👉 tambah hapal jadwal masjid sebelah 😂
2. Allah memerintahkan kelembutan bahkan kepada Fir’aun
QS. Thaha: 44
Arab:
فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ
Terjemah:
“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lembut…”
📌 Al-Qurthubi:
“Jika kepada Fir’aun saja diperintahkan lembut, maka kepada sesama muslim lebih utama.”
😆 Humor:
Fir’aun itu:
- Ngaku Tuhan
- Kejam
- Sombong
Masih disuruh lembut.
Lah ini… baru telat datang rapat RT, langsung di-judes-in 😅
III. DALIL HADIS TENTANG KELEMBUTAN
1. Allah cinta kelembutan
Hadis riwayat Muslim
Arab:
إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ، وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ
Terjemah:
“Sesungguhnya Allah Maha Lembut dan mencintai kelembutan, dan Dia memberi melalui kelembutan apa yang tidak Dia berikan melalui kekerasan.”
📌 Imam An-Nawawi:
“Hadis ini mencakup seluruh urusan agama dan dunia.”
2. Kelembutan = tiket kebaikan dunia akhirat
Hadis riwayat Muslim
Arab:
مَنْ أُعْطِيَ حَظَّهُ مِنَ الرِّفْقِ فَقَدْ أُعْطِيَ حَظَّهُ مِنَ الْخَيْرِ
Terjemah:
“Barang siapa diberi bagian kelembutan, maka ia telah diberi bagian kebaikan.”
😄 Humor ringan:
Kadang kita mikir:
- “Yang penting benar!”
Padahal: - Benar + kasar = ditolak
- Benar + lembut = diterima
Ibarat minum obat:
- Obat pahit diminum pakai madu 🍯
Bukan pakai toa masjid 📢😂
3. Kelembutan menghiasi segalanya
Arab:
مَا كَانَ الرِّفْقُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ
Terjemah:
“Tidaklah kelembutan ada pada sesuatu kecuali ia menghiasinya.”
📚 HR. Muslim
IV. KISAH NABI & SALAF
Nabi ﷺ dihina, dibalas lembut
Yahudi berkata: “As-sāmu ‘alaik” (kematian atasmu).
Nabi jawab tenang: “Wa ‘alaikum.”
📌 Ibnu Hajar:
“Inilah puncak kendali emosi seorang nabi.”
😆 Humor:
Kalau kita?
- Baru diklakson → buka kaca mobil
- “Mas… turun sini!” 🤣
Umar bin Khattab
Kata Ali bin Abi Thalib:
“Umar keras dalam keadilan, tapi paling lembut terhadap orang lemah.”
📚 Siyar A‘lam An-Nubala’
V. BAHAYA KASAR & MARAH
Marah = pintu setan
📌 Imam Al-Ghazali:
“Marah membuka pintu setan dan menutup pintu akal.”
😄 Humor jleb: Orang marah itu:
- Mulut jalan dulu
- Otak nyusul belakangan
- Penyesalan datang terakhir 😅
VI. CARA MELATIH KELEMBUTAN
- Diam saat emosi
- Ingat pahala sabar
- Baca shalawat
- Ingat: yang dihadapi juga hamba Allah
- Belajar senyum
😄 Senyum itu sedekah,
tapi senyum sambil nyindir itu riba 😂
PENUTUP
Kesimpulan
- Lembut = sunnah Nabi
- Kasar = menjauhkan manusia
- Kelembutan = magnet rahmat
📌 Ibnu Taimiyyah:
“Kebenaran tanpa kelembutan sering kalah dari kebatilan yang dibungkus kelembutan.”
📚 Majmu‘ Fatawa
Post a Comment