Ridha dengan Takdir Allah: Jalan Hati Mukmin yang Tenang dan Stabil
“Ridha dengan Takdir Allah: Jalan Hati Mukmin yang Tenang dan Stabil”
Pembukaan
Salam dan Pembukaan
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, yang telah menjadikan kita hamba-Nya, menurunkan kitab-Nya, dan mengutus rasul-Nya sebagai rahmat bagi seluruh alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, keluarganya, sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti sunnahnya hingga hari kiamat.”
Pendahuluan:
- Hari ini kita akan membahas salah satu akhlak terindah para nabi dan orang shalih, yaitu ridha dengan takdir Allah.
- Ridha bukan hanya menerima kenyataan, tapi percaya bahwa apa yang Allah tetapkan untuk kita adalah yang terbaik, walaupun mungkin tidak selalu sesuai dengan keinginan hati manusia.
Makna Ridha dan Pentingnya
Definisi Ridha:
Ridha adalah meridhai apa yang Allah tetapkan dan tidak mengeluh terhadap ketentuan-Nya.
Dalil Al-Qur’an:
{وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ} [Al-Baqarah: 216]
“Mungkin kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan mungkin kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
Hadis:
Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan: Para nabi dan orang shalih selalu ridha dengan takdir Allah, tidak bersedih atas kehilangan dunia, dan tidak terlalu bergembira atas nikmat yang datang.
Komentar Ulama:
- Qatadah rahimahullah berkata: “Orang mukmin ridha dengan apa yang Allah tetapkan untuknya, karena keputusan Allah lebih baik daripada keputusan manusia sendiri.”
Hikmah:
- Ridha menenangkan hati, menghindarkan dari murka Allah, dan melindungi dari tipu daya setan.
Segmen 2: Kisah Umar bin Abdul Aziz
Kisah:
- Maimun bin Mihran menceritakan: Umar bin Abdul Aziz radhiyallahu ‘anhu menerima tamu dua kali sebulan. Suatu hari, sebelum Maimun mencapai pintu, Umar sudah mengizinkan masuk. Ia menerima Maimun dengan lembut dan menanyakan urusan negara, pasukan, penjara, dan hal pribadi. Saat ditanya apakah cukup dengan apa yang dimiliki, Umar menjawab:
“Cukup bagiku dari duniamu apa yang sampai kepadamu dari tempatmu. Hari ini kami di sini, besok di tempat lain.”
Hikmah:
- Umar ridha dengan apa yang Allah tetapkan, tidak tergiur harta dunia, dan selalu bersikap adil dalam kepemimpinan.
- Ridha membuat hati stabil dan bijaksana, tidak terpengaruh oleh situasi sementara.
Segmen 3: Ridha vs Sifat Manusia
Analogi:
- Mukmin seperti ‘asu’ (semak belukar): tetap tegar dalam panas dan dingin.
- Munafik seperti ‘ward’ (mawar): berubah-ubah ketika terkena sedikit bencana.
Perbandingan Ridha dan Tidak Ridha:
| Sifat | Ridha | Tidak Ridha |
|---|---|---|
| Pandangan dunia | Seimbang | Tergiur atau cemas |
| Reaksi musibah | Sabar | Panik / marah |
| Reaksi nikmat | Bersyukur | Riang berlebihan / sombong |
| Hati | Tenang | Gelisah |
Komentar Ulama:
- Al-Faqih Abu Laits As-Samarqandi: “Ridha adalah akhlak para nabi dan orang shalih, penawar hati yang gelisah, dan benteng dari tipu daya dunia.”
Hadis Pendukung:
“Orang yang paling kaya bukanlah yang memiliki banyak harta, tapi orang yang ridha dengan takdir Allah.” (Riwayat Syaikhul Islam)
Ridha dan Hukum Islam
Dalil:
{وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا} [Al-Ma’idah: 38]
- Ulama menjelaskan: Salah satu hikmahnya adalah agar manusia tidak iri pada harta orang lain dan ridha dengan bagian yang Allah tetapkan.
Hikmah:
- Ridha dengan takdir Allah mencegah dosa, iri, dan ketidakadilan.
- Menjadi benteng hati dari keserakahan dan penyesalan.
Ridha dan Akhlak Para Nabi
12 Sifat Para Nabi menurut Abu Darda’:
- Yakin pada janji Allah
- Putus asa dari manusia
- Memerangi setan
- Mengendalikan hawa nafsu
- Kasih sayang kepada makhluk
- Bersabar menghadapi gangguan
- Yakin akan surga
- Rendah hati dalam kebenaran
- Tidak meninggalkan nasihat pada tempat musuh
- Sederhana dalam harta
- Selalu berwudhu
- Tidak berlebihan dalam suka dan duka dunia
Hikmah:
- Ridha adalah inti dari akhlak nabi.
- Dengan ridha, seorang mukmin tetap stabil dalam nikmat maupun musibah.
Ridha Melawan Setan dan Memperkuat Iman
10 Prinsip Ridha menurut para ulama:
- Memerangi setan (Fahamilah bahwa setan musuh kita)
- Bekerja dengan bukti dan alasan yang jelas
- Bersiap menghadapi kematian
- Mencintai dan membenci karena Allah
- Menegakkan amar ma’ruf nahi munkar
- Merenung dan mengambil pelajaran dari ciptaan Allah
- Menjaga hati dari hal yang tidak ridha Allah
- Tidak aman terhadap tipu daya Allah
- Tidak putus asa dari rahmat Allah
- Tidak terlalu bergembira dengan dunia dan tidak terlalu bersedih kehilangan dunia
Hikmah:
- Ridha memperkuat iman, membuat hati teguh dalam menghadapi cobaan, dan menjadikan seorang mukmin stabil dalam semua kondisi.
Praktik Ridha dalam Kehidupan Sehari-hari
Contoh Praktik:
- Bersyukur atas rezeki, walau sedikit.
- Menerima musibah dengan sabar.
- Tidak iri pada harta atau kedudukan orang lain.
- Tidak terlalu sedih jika kehilangan sesuatu yang tidak bisa dimiliki.
- Meneladani para nabi dan orang shalih dalam kesederhanaan hidup.
Kisah Inspiratif:
- Seorang sahabat Nabi ﷺ pernah kehilangan hartanya. Ia berkata: “Apa yang Allah berikan cukup bagiku, dan apa yang Dia ambil pasti lebih baik bagiku.”
- Hatinya tetap tenang dan bahagia, dan Allah memberinya pahala besar.
Doa
Doa Ridha:
“Ya Allah, jadikanlah aku ridha dengan apa yang Engkau tetapkan untukku,
jauhkanlah aku dari keluhan, iri, dan kesedihan yang tidak Engkau ridhai.
Berikan aku ketenangan hati dalam musibah dan kesyukuran dalam nikmat-Mu.
Ya Allah, jadikanlah aku termasuk hamba yang mengikuti akhlak para nabi dan orang shalih,
yang selalu bersabar, bersyukur, dan ridha dengan takdir-Mu. Amin.”
Penutup:
- Ingatlah, Ridha bukan berarti pasif atau menyerah, tapi percaya dan berserah sepenuhnya kepada Allah.
- Ridha membuat hati tenang, hidup berkah, dan menjauhkan diri dari tipu daya dunia.
“Semoga Allah menjadikan kita semua termasuk hamba yang ridha, sabar, dan selalu meneladani akhlak para nabi dan orang shalih.”
Salam Penutup:
“Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
Post a Comment