Tadabbur Al-Qur'an Surah Al-Baqarah Ayat 55 dengan merujuk 10 kitab tafsir klasik

Tadabbur Al-Qur'an Surah Al-Baqarah Ayat 55 dengan merujuk ±10 kitab tafsir klasik  

Dengan pola:

  1. teks ayat,
  2. konteks kisah,
  3. ringkasan pandangan mufassir klasik,
  4. analisis teologis dan pelajaran.

📖 TEKS AYAT

وَاِذْ قُلْتُمْ يٰمُوْسٰى لَنْ نُّؤْمِنَ لَكَ حَتّٰى نَرَى اللّٰهَ جَهْرَةً فَاَخَذَتْكُمُ الصّٰعِقَةُ وَاَنْتُمْ تَنْظُرُوْنَ

Terjemah:

“Dan (ingatlah) ketika kamu berkata: Wahai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan jelas. Maka petir menyambar kalian sementara kalian menyaksikannya.”


1️⃣ Tafsir Al-Tabari

Kitab: Jāmiʿ al-Bayān fī Taʾwīl al-Qurʾān

Menurut beliau, ayat ini merujuk pada 70 orang pilihan Bani Israil yang dibawa Nabi Musa ke Gunung Sinai.

Mereka berkata:

لن نؤمن لك حتى نرى الله جهرة

Permintaan itu menunjukkan ta‘annūt (keras kepala dalam meminta bukti).

Tentang الصاعقة, beliau meriwayatkan beberapa pendapat sahabat:

  • Api dari langit
  • Suara keras yang mematikan
  • Petir yang membinasakan

Pendapat yang paling kuat menurut beliau:
petir yang mematikan mereka.


2️⃣ Tafsir Ibn Kathir

Kitab: Tafsīr al-Qurʾān al-ʿAẓīm

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa permintaan ini terjadi setelah peristiwa penyembahan anak sapi.

Musa membawa 70 orang untuk bertaubat.

Namun mereka justru berkata ingin melihat Allah secara langsung.

Ibnu Katsir berkata:

هذا تعنت منهم وكفر ظاهر

“Ini adalah bentuk keras kepala dan kekufuran yang nyata.”


3️⃣ Tafsir Al-Qurtubi

Kitab: Al-Jāmiʿ li Aḥkām al-Qurʾān

Beliau menyoroti kata جَهْرَةً.

Maknanya:

  • رؤية عيان
  • رؤية بلا حجاب

Yakni melihat Allah secara langsung dengan mata kepala.

Beliau menegaskan:

Permintaan ini adalah permintaan yang mustahil di dunia.


4️⃣ Tafsir Fakhr al-Din al-Razi

Kitab: Mafātīḥ al-Ghayb

Ar-Razi membahas ayat ini secara filosofis.

Beliau menjelaskan:

Permintaan melihat Allah berasal dari dua kemungkinan:

1️⃣ Ketidaktahuan tentang sifat Allah
2️⃣ Kesombongan spiritual

Menurut beliau, yang terjadi pada Bani Israil adalah kesombongan, bukan sekadar ketidaktahuan.


5️⃣ Tafsir Al-Baghawi

Kitab: Maʿālim al-Tanzīl

Al-Baghawi meriwayatkan dari Ibnu Abbas:

الصاعقة
adalah api yang turun dari langit lalu membinasakan mereka.

Namun kemudian Allah menghidupkan mereka kembali setelah doa Nabi Musa.


6️⃣ Tafsir Al-Zamakhshari

Kitab: Al-Kashshāf

Beliau menyoroti sisi balaghah ayat.

Frasa:

فَأَخَذَتْكُمُ الصَّاعِقَةُ

menggambarkan hukuman langsung tanpa jeda.

Ini menunjukkan:

Kesombongan terhadap wahyu adalah dosa besar.


7️⃣ Tafsir Abu Hayyan al-Andalusi

Kitab: Al-Baḥr al-Muḥīṭ

Beliau menganalisis struktur bahasa.

Menurutnya:

  • جَهْرَةً adalah حال
  • memperkuat makna رؤية حسية

Yakni mereka ingin melihat Allah secara fisik.


8️⃣ Tafsir Al-Baydawi

Kitab: Anwār al-Tanzīl

Beliau menjelaskan bahwa permintaan tersebut menunjukkan:

ضعف الإيمان

yakni lemahnya iman mereka meskipun sudah melihat mukjizat besar.


9️⃣ Tafsir Al-Suyuti

Kitab: Ad-Durr al-Manthūr

As-Suyuthi mengumpulkan banyak riwayat sahabat:

  • dari Ibnu Abbas
  • dari Qatadah
  • dari Mujahid

Semua riwayat menunjukkan bahwa mereka mati karena petir, lalu dihidupkan kembali.


🔟 Tafsir Al-Alusi

Kitab: Rūḥ al-Maʿānī

Al-Alusi menegaskan bahwa ayat ini menjadi dalil:

  • Allah tidak bisa dilihat di dunia
  • tetapi orang beriman akan melihat Allah di akhirat.

Beliau menghubungkannya dengan ayat:

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ
إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

(QS Al-Qiyamah 22–23)


📚 RINGKASAN PANDANGAN ULAMA

Dari sepuluh kitab tafsir klasik tersebut dapat disimpulkan:

1️⃣ Permintaan melihat Allah adalah bentuk kesombongan.
2️⃣ Mereka menggantungkan iman pada syarat mustahil.
3️⃣ Azab petir turun sebagai hukuman langsung.
4️⃣ Sebagian ulama menyebut mereka mati lalu dihidupkan kembali.
5️⃣ Ayat ini menegaskan prinsip iman kepada yang ghaib.


🌿 PELAJARAN TEOLOGIS

Ayat ini mengajarkan tiga prinsip akidah penting:

1️⃣ Iman kepada yang ghaib

Sebagaimana disebut dalam QS Al-Baqarah ayat 3.

2️⃣ Kesombongan terhadap wahyu membawa azab.

3️⃣ Ru’yatullah (melihat Allah) hanya terjadi di akhirat.

Sebagaimana hadis Nabi ﷺ:

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ الْقَمَرَ لَيْلَةَ الْبَدْرِ

“Kalian akan melihat Tuhan kalian sebagaimana melihat bulan purnama.”

(HR Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj)



Tidak ada komentar