Jangan Berbicara tentang Allah Tanpa Ilmu

Materi Ceramah Surah Al-Kahf Ayat 15

“Jangan Berbicara tentang Allah Tanpa Ilmu”

Belajar Tauhid, Mencari Dalil, dan Menjauhi Dusta atas Nama Allah

Pembukaan

الحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

Segala puji hanya milik Allah سبحانه وتعالى. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti petunjuk beliau sampai hari kiamat.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Pada ayat sebelumnya kita melihat bagaimana Ashabul Kahfi mempertahankan iman dan tauhid. Pada ayat ke-15, mereka melangkah lebih jauh: mereka tidak hanya mengatakan bahwa kaumnya salah, tetapi mereka bertanya:

“Mana buktinya?”

Inilah salah satu pelajaran besar ayat ini: agama bukan dibangun di atas dugaan, tradisi tanpa dalil, atau perkataan manusia semata, tetapi di atas wahyu dan bukti yang benar.


1. Membaca dan Memahami Ayat

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

هٰٓؤُلَاۤءِ قَوْمُنَا اتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِهٖٓ اٰلِهَةًۗ لَوْلَا يَأْتُوْنَ عَلَيْهِمْ بِسُلْطٰنٍۢ بَيِّنٍۗ فَمَنْ اَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرٰى عَلَى اللّٰهِ كَذِبًاۗ

Artinya:

“Mereka itu kaum kami yang telah menjadikan tuhan-tuhan untuk disembah selain Dia. Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang jelas tentang kepercayaan mereka? Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?”
(QS. Al-Kahf [18]: 15)

Ada dua pesan besar dalam ayat ini:

  1. Tauhid harus berdiri di atas ilmu dan dalil.
  2. Berbicara tentang Allah tanpa ilmu merupakan dosa yang sangat besar.

2. “MANA BUKTINYA?”

Perhatikan perkataan Ashabul Kahfi:

لَوْلَا يَأْتُوْنَ عَلَيْهِمْ بِسُلْطٰنٍ بَيِّنٍ

“Mengapa mereka tidak mendatangkan bukti yang jelas?”

Kata سُلْطَانٍ بَيِّنٍ berarti bukti atau hujah yang jelas.

Para pemuda itu tidak mengatakan:

“Kami tidak suka agama kalian.”

Tetapi mereka mempertanyakan:

“Apa dalilnya?”

Ini merupakan sikap ilmiah yang sangat penting dalam Islam.

Ketika seseorang berkata:

“Allah memerintahkan begini.”

Pertanyaannya:

“Di mana dalilnya?”

Ketika seseorang berkata:

“Ini sunnah Nabi ﷺ.”

Pertanyaannya:

“Apa hadisnya? Bagaimana derajatnya? Bagaimana para ulama menjelaskannya?”

Ketika seseorang berkata:

“Ini pasti halal.”

Pertanyaannya:

“Apa dasarnya?”

Karena urusan agama tidak boleh dibangun berdasarkan perasaan semata.


3. Islam Mengajarkan Agar Tidak Mengikuti Sesuatu Tanpa Ilmu

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا

Artinya:

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.”
(QS. Al-Isrā’ [17]: 36)

Ayat ini sangat penting di zaman informasi seperti sekarang.

Tidak semua yang:

  • viral,
  • banyak dibagikan,
  • disampaikan tokoh,
  • ditulis di media sosial,
  • bahkan dikatakan atas nama agama,

otomatis benar.

Seorang muslim harus melakukan tabayyun dan mencari ilmu.


4. Bahaya Berbicara tentang Allah Tanpa Ilmu

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

قُلْ اِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْاِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَاَنْ تُشْرِكُوْا بِاللّٰهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهٖ سُلْطٰنًا وَّاَنْ تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

Artinya:

“Katakanlah, ‘Tuhanku hanya mengharamkan segala perbuatan keji yang terlihat dan yang tersembunyi, perbuatan dosa, perbuatan zalim tanpa alasan yang benar, mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Dia tidak menurunkan alasan untuk itu, dan mengatakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui.’”
(QS. Al-A‘rāf [7]: 33)

Perhatikan bahwa ayat ini menyebut:

وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Mengatakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui.”

Ini bukan perkara ringan.

Mengatakan:

“Allah pasti menghendaki begini.”

“Allah pasti mengampuni dosa ini.”

“Allah pasti menghukum orang itu.”

“Ini pasti ajaran Islam.”

tanpa ilmu adalah perkara yang sangat berbahaya.


5. Dusta atas Nama Allah Adalah Kezaliman Besar

Allah menutup ayat Al-Kahf 15 dengan:

فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللّٰهِ كَذِبًا

“Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?”

Mengapa begitu berat?

Karena ketika seseorang berdusta atas nama Allah, dia tidak hanya menipu manusia.

Dia menjadikan agama Allah sebagai alat untuk membenarkan sesuatu yang sebenarnya tidak berasal dari Allah.

Misalnya seseorang mengatakan:

“Allah mengharamkan ini.”

Padahal Allah tidak mengharamkannya.

Atau:

“Allah mewajibkan ini.”

Padahal tidak ada dalil yang mewajibkannya.

Atau:

“Rasulullah ﷺ pasti mengatakan ini.”

Padahal hadisnya tidak pernah ada.

Ini sangat berbahaya.


6. Allah Melarang Mengharamkan Sesuatu Tanpa Dalil

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

وَلَا تَقُوْلُوْا لِمَا تَصِفُ اَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هٰذَا حَلٰلٌ وَّهٰذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوْا عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَۗ اِنَّ الَّذِيْنَ يَفْتَرُوْنَ عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُوْنَ

Artinya:

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta, ‘Ini halal dan ini haram,’ untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak akan beruntung.”
(QS. An-Naḥl [16]: 116)

Ayat ini memberikan prinsip:

Jangan mudah memberi label:

“HALAL” atau “HARAM”

kepada sesuatu dalam perkara agama tanpa dasar ilmu.


7. Rasulullah ﷺ Memperingatkan Dusta atas Nama Beliau

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

Artinya:

“Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka.”

(Muttafaq ‘alaih; HR. al-Bukhari dan Muslim)[^1]

Perhatikan betapa keras ancamannya.

Maka jangan mudah berkata:

“Ada hadis yang mengatakan…”

hanya karena pernah melihatnya di:

  • WhatsApp,
  • Facebook,
  • TikTok,
  • Instagram,
  • YouTube,
  • buku yang tidak jelas sumbernya.

Sebelum menyampaikan hadis, periksa sumbernya.


8. Imam Muslim: Tidak Semua yang Didengar Boleh Langsung Disampaikan

Imam Muslim رحمه الله memberikan perhatian besar terhadap masalah periwayatan.

Beliau menukil perkataan Ibn Sirin رحمه الله:

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ

Artinya:

“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.”[^2]

Ini adalah kaidah yang sangat penting.

Ilmu agama harus memiliki sumber yang dapat dipercaya.

Karena yang kita pertaruhkan bukan sekadar informasi.

Yang kita pertaruhkan adalah agama kita.


9. Imam Ath-Thabari: Dilarang Menetapkan Keyakinan Tanpa Hujah

Dalam menafsirkan ayat:

لَوْلَا يَأْتُوْنَ عَلَيْهِمْ بِسُلْطَانٍ بَيِّنٍ

Ath-Thabari رحمه الله menjelaskan bahwa kaum tersebut tidak mempunyai hujah yang dapat membenarkan penyembahan mereka kepada selain Allah.[^3]

Maknanya:

Keyakinan yang menyangkut ibadah harus mempunyai landasan.

Tidak cukup dengan:

“Nenek moyang kami melakukannya.”

Tidak cukup dengan:

“Sudah menjadi tradisi.”

Tidak cukup dengan:

“Banyak orang melakukannya.”

Tidak cukup dengan:

“Saya merasa ini benar.”

Yang ditanyakan adalah:

“Apa petunjuk Allah dan Rasul-Nya?”


10. Ibn Katsir: Mengikuti Persangkaan Tidak Sama dengan Ilmu

Allah mencela kaum yang mengikuti dugaan:

اِنْ يَّتَّبِعُوْنَ اِلَّا الظَّنَّ

Artinya:

“Mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan.”

Allah juga berfirman:

وَمَا لَهُمْ بِهٖ مِنْ عِلْمٍ

Artinya:

“Mereka tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu.”

Ibn Katsir رحمه الله menjelaskan bahwa keyakinan yang mereka bangun mengenai sekutu bagi Allah tidak berdasarkan ilmu atau hujah, tetapi berdasarkan dugaan dan hawa nafsu.[^4]

Maka ada perbedaan antara:

ILMU → berdasarkan wahyu dan bukti

dengan

DUAAN → berdasarkan perkiraan

dan

TAQLID BUTA → sekadar mengikuti tanpa mengetahui kebenarannya.


11. Jangan Menjadikan Tradisi sebagai Dalil Agama

Ashabul Kahfi hidup di tengah masyarakat yang menyembah selain Allah.

Masyarakat mereka mempunyai:

  • tradisi,
  • tokoh,
  • kebiasaan,
  • sistem kepercayaan,
  • bahkan tekanan sosial.

Namun Ashabul Kahfi tidak berkata:

“Karena semua orang melakukannya, berarti benar.”

Allah berfirman:

وَاِذَا قِيْلَ لَهُمْ تَعَالَوْا اِلٰى مَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ وَاِلَى الرَّسُوْلِ قَالُوْا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ اٰبَاۤءَنَا ۗ اَوَلَوْ كَانَ اٰبَاۤؤُهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ شَيْـًٔا وَّلَا يَهْتَدُوْنَ

Artinya:

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul,’ mereka menjawab, ‘Cukuplah bagi kami apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya.’ Apakah mereka tetap mengikuti mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa pun dan tidak mendapat petunjuk?”
(QS. Al-Mā’idah [5]: 104)

Ini bukan berarti Islam merendahkan orang tua atau tradisi.

Tetapi:

Tradisi boleh dihormati, tetapi kebenaran agama harus dikembalikan kepada wahyu.


12. Imam As-Sa'di: Agama Harus Berdasarkan Burhan

As-Sa'di رحمه الله menjelaskan bahwa ucapan Ashabul Kahfi menunjukkan ketegasan mereka dalam menolak kesyirikan karena tidak adanya hujah yang membenarkannya.

Beliau menegaskan makna bahwa klaim dalam perkara agama yang tidak memiliki bukti merupakan klaim yang batil.[^5]

Ini berlaku dalam seluruh perkara agama.

Kalau ada orang berkata:

“Amalan ini pasti berpahala besar.”

Tanyakan:

Apa dalilnya?

Jika seseorang berkata:

“Barang siapa melakukan ini pasti masuk surga.”

Tanyakan:

Apa dalilnya?

Jika seseorang berkata:

“Barang siapa melakukan itu pasti kafir.”

Tanyakan:

Apa dalil dan penjelasan ulama?

Karena menghukumi agama bukan wilayah perasaan.


13. Adab Seorang Muslim Ketika Tidak Mengetahui

Salah satu kalimat yang sangat mulia dalam ilmu adalah:

لَا أَعْلَمُ

“Saya tidak tahu.”

Tidak mengetahui bukan aib.

Yang menjadi masalah adalah:

tidak tahu tetapi berani berbicara seolah-olah mengetahui.

Allah berfirman:

فَاسْأَلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

Artinya:

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”
(QS. An-Naḥl [16]: 43)

Maka jika tidak tahu:

bertanyalah.

Jika belum yakin:

jangan tergesa-gesa.

Jika belum menemukan dalil:

jangan mengatasnamakan Allah.


14. Pelajaran dari Ashabul Kahfi untuk Zaman Media Sosial

Jamaah yang dirahmati Allah,

Ayat ini semakin penting pada zaman sekarang.

Dalam hitungan detik seseorang bisa membuat sebuah tulisan:

“Menurut Islam…”

Lalu ribuan orang membagikannya.

Padahal belum tentu benar.

Seseorang bisa membuat video:

“Rasulullah bersabda…”

Padahal hadisnya lemah, bahkan mungkin tidak ada.

Maka kita membutuhkan prinsip:

TABAYYUN SEBELUM MENYEBARKAN.

Allah berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا

Artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya...”
(QS. Al-Ḥujurāt [49]: 6)

Dalam perkara agama, kehati-hatian menjadi lebih penting.


15. Empat Pertanyaan Sebelum Menyampaikan Dalil

Mulai sekarang, ketika mendapatkan materi agama, biasakan bertanya:

1. Apa sumbernya?

Al-Qur'an? Hadis? Kitab ulama?

2. Apakah teksnya benar?

Jangan mengubah redaksi ayat atau hadis.

3. Apakah hadisnya sahih?

Periksa penilaian para ahli hadis.

4. Bagaimana ulama memahaminya?

Jangan mengambil satu teks lalu membuat kesimpulan sendiri tanpa memahami penjelasan ulama.


16. Jangan Berlebihan dalam Menghakimi Orang

Ayat ini juga mengajarkan keberanian terhadap kesyirikan, tetapi bukan berarti kita boleh sembarangan menghukumi individu.

Ashabul Kahfi berkata:

هٰؤُلَاءِ قَوْمُنَا

“Mereka itu kaum kami.”

Ada ketegasan dalam masalah tauhid, tetapi dakwah tetap membutuhkan hikmah.

Allah berfirman:

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

Artinya:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik...”
(QS. An-Naḥl [16]: 125)

Maka:

tegas dalam prinsip, lembut dalam berdakwah.

Tegas terhadap kesalahan, tetapi tidak zalim kepada manusia.


17. Tiga Penyakit yang Harus Dihindari

Dari ayat 15 kita dapat mengambil tiga penyakit besar.

Pertama: Taklid buta

“Saya melakukan ini karena semua orang melakukannya.”

Kedua: Berbicara tanpa ilmu

“Saya tidak tahu dalilnya, tetapi menurut saya…”

Ketiga: Berdusta atas nama Allah dan Rasul

“Ini pasti dari Nabi.”

padahal tidak ada sumber yang jelas.

Ketiganya harus dihindari.


18. Prinsip Besar dalam Menuntut Ilmu

Ada sebuah kaidah ulama:

العِلْمُ قَبْلَ الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ

Artinya:

“Ilmu didahulukan sebelum perkataan dan perbuatan.”

Kaidah ini bersumber dari firman Allah:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ

Artinya:

“Maka ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan mohonlah ampun atas dosamu...”
(QS. Muḥammad [47]: 19)

Allah mendahulukan:

فَاعْلَمْ — “Maka ketahuilah.”

sebelum:

وَاسْتَغْفِرْ — “Mohonlah ampun.”

Ini menunjukkan pentingnya ilmu sebelum amal.


19. Inti Ceramah: Jadilah Orang yang Berilmu

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Ashabul Kahfi adalah pemuda.

Tetapi mereka memiliki sesuatu yang sangat berharga:

iman + ilmu + keberanian.

Mereka tidak mengikuti masyarakat secara buta.

Mereka tidak menyembah selain Allah.

Mereka mempertanyakan:

“Mana buktinya?”

Mereka memahami bahwa:

agama tanpa ilmu dapat menyesatkan.

Karena itu mari kita biasakan:

Belajar sebelum berbicara.

Memeriksa sebelum menyebarkan.

Bertanya sebelum menyimpulkan.

Berdalil sebelum mengklaim.

Dan yang paling penting:

Jangan pernah berbicara tentang Allah tanpa ilmu.


Penutup

Jamaah yang dirahmati Allah,

Surah Al-Kahf ayat 15 bukan hanya berbicara tentang kaum terdahulu.

Ayat ini sedang berbicara kepada kita hari ini.

Di tengah begitu banyak informasi agama, kita membutuhkan sikap Ashabul Kahfi:

لَوْلَا يَأْتُوْنَ عَلَيْهِمْ بِسُلْطٰنٍ بَيِّنٍ

“Mengapa mereka tidak mendatangkan bukti yang jelas?”

Semoga kita menjadi umat yang:

kuat imannya, luas ilmunya, benar dalilnya, santun dakwahnya, dan hati-hati dalam berbicara atas nama Allah dan Rasul-Nya.

Mari kita berdoa:

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

Artinya:

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau memberikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.”
(QS. Āli ‘Imrān [3]: 8)

آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.


📚 Catatan Kaki dan Kitab Rujukan

[^1]: Muḥammad ibn Ismā‘īl al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-‘Ilm, Bāb Itsm man kadzaba ‘alan-Nabī ﷺ; Muslim ibn al-Ḥajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim, Muqaddimah. Hadis «مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا...» diriwayatkan melalui banyak jalur dan termasuk hadis mutawatir menurut para ulama hadis.

[^2]: Muslim ibn al-Ḥajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim, al-Muqaddimah, Bāb Bayān anna al-isnāda min ad-dīn.

[^3]: Muḥammad ibn Jarīr aṭ-Ṭabarī, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf [18]: 15.

[^4]: Ismā‘īl ibn ‘Umar Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Al-Kahf [18]: 15 dan ayat-ayat terkait tentang mengikuti persangkaan.

[^5]: ‘Abd ar-Raḥmān ibn Nāṣir as-Sa‘dī, Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān, tafsir QS. Al-Kahf [18]: 15.

[^6]: Muḥammad ibn Ismā‘īl al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-‘Ilm, hadis tentang kewajiban menyampaikan ilmu dan larangan berdusta atas nama Nabi ﷺ.

Rujukan utama untuk pendalaman: Tafsīr aṭ-Ṭabarī, Tafsīr Ibn Kathīr, Tafsīr as-Sa‘dī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ Muslim, serta Muqaddimah Ṣaḥīḥ Muslim.

Tidak ada komentar