KEKAL DI DALAM SURGA UNTUK SELAMA-LAMANYA

KEKAL DI DALAM SURGA UNTUK SELAMA-LAMANYA

Tafsir QS. Al-Kahf Ayat 3

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

A. Pendahuluan

الحمد لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له.

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله.

اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Salah satu perkara terbesar yang harus menjadi tujuan hidup seorang mukmin adalah mendapatkan surga Allah.

Dunia ini sementara. Jabatan sementara. Kekayaan sementara. Rumah, kendaraan, kesehatan, bahkan kehidupan kita sendiri semuanya akan berakhir.

Tetapi Allah memberikan kepada orang-orang beriman sebuah janji yang sangat luar biasa: kenikmatan yang tidak akan pernah berakhir.

Allah berfirman dalam QS. Al-Kahf ayat 3:

مَّاكِثِينَ فِيهِ أَبَدًا

“Mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya.”

(QS. Al-Kahf [18]: 3)

Ayat ini merupakan kelanjutan dari penjelasan Allah tentang orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh. Mereka mendapatkan أَجْرًا حَسَنًا — pahala yang baik — dan salah satu sifat terbesarnya adalah bahwa mereka tidak akan pernah meninggalkan surga.

Ibnu Katsir menjelaskan:

(مَّاكِثِينَ فِيهِ) فِي ثَوَابِهِمْ عِنْدَ اللَّهِ، وَهُوَ الْجَنَّةُ، خَالِدِينَ فِيهِ أَبَدًا، دَائِمًا لَا زَوَالَ لَهُ وَلَا انْقِضَاءَ.

“Mereka tinggal di dalam pahala mereka di sisi Allah, yaitu surga. Mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya; terus-menerus, tidak ada kehancuran dan tidak ada akhirnya.”[1]


B. Apa Makna “Kekal Selama-lamanya”?

Perhatikan kata:

أَبَدًا — ABADAN

Artinya: selama-lamanya, tanpa batas akhir.

Allah tidak mengatakan bahwa mereka tinggal di surga selama seribu tahun, sejuta tahun, atau bahkan satu miliar tahun.

Allah mengatakan:

أَبَدًا

Selama-lamanya.

Artinya, kehidupan di surga berbeda secara fundamental dengan kehidupan di dunia.

Di dunia:

  • sehat kemudian sakit,
  • muda kemudian tua,
  • hidup kemudian mati,
  • memiliki kemudian kehilangan,
  • bahagia kemudian bersedih.

Sedangkan di surga, Allah menghilangkan semua kekurangan tersebut.


C. Surga Adalah Kehidupan yang Tidak Mengenal Kematian

Allah berfirman:

لَا يَذُوقُونَ فِيهَا الْمَوْتَ إِلَّا الْمَوْتَةَ الْأُولَىٰ وَوَقَاهُمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ

“Mereka tidak akan merasakan kematian di dalamnya, kecuali kematian yang pertama. Dan Dia melindungi mereka dari azab neraka.”

(QS. Ad-Dukhān [44]: 56)

Perhatikan jamaah sekalian.

Di dunia, sebesar apa pun kenikmatan seseorang, selalu ada satu persoalan: kenikmatan itu akan berakhir.

Orang kaya bisa kehilangan hartanya.

Orang sehat bisa jatuh sakit.

Orang kuat akan menjadi lemah.

Orang muda akan menjadi tua.

Dan setiap manusia akan meninggal.

Tetapi di surga, Allah mencabut semua kekhawatiran tersebut.


D. Hadis: Penghuni Surga Tidak Akan Pernah Mati

Rasulullah ﷺ bersabda:

يُنَادِي مُنَادٍ: إِنَّ لَكُمْ أَنْ تَصِحُّوا فَلَا تَسْقَمُوا أَبَدًا، وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَحْيَوْا فَلَا تَمُوتُوا أَبَدًا، وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَشِبُّوا فَلَا تَهْرَمُوا أَبَدًا، وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَنْعَمُوا فَلَا تَبْأَسُوا أَبَدًا.

“Seorang penyeru menyerukan: Sesungguhnya kalian akan selalu sehat dan tidak akan pernah sakit selama-lamanya. Kalian akan hidup dan tidak akan pernah mati selama-lamanya. Kalian akan tetap muda dan tidak akan pernah menjadi tua selama-lamanya. Kalian akan hidup dalam kenikmatan dan tidak akan pernah mengalami kesengsaraan selama-lamanya.”

(HR. Muslim, no. 2837)[2]

Hadis ini memberikan gambaran luar biasa tentang kehidupan akhirat.

Di surga ada:

حَيَاةٌ بِلَا مَوْتٍ

Kehidupan tanpa kematian.

صِحَّةٌ بِلَا مَرَضٍ

Kesehatan tanpa penyakit.

شَبَابٌ بِلَا هَرَمٍ

Masa muda tanpa ketuaan.

نَعِيمٌ بِلَا بُؤْسٍ

Kenikmatan tanpa kesengsaraan.

Inilah kehidupan yang sesungguhnya.


E. Mengapa Allah Menyebutnya “Pahala yang Besar”?

Pada ayat sebelumnya Allah berfirman:

أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا حَسَنًا

“Bahwa bagi mereka pahala yang baik.”

(QS. Al-Kahf [18]: 2)

Kemudian ayat 3 menjelaskan:

مَّاكِثِينَ فِيهِ أَبَدًا

“Mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya.”

Jadi, pahala yang besar itu bukan sekadar mendapatkan tempat yang indah.

Pahala terbesar adalah mendapatkan kehidupan yang tidak berakhir.


F. Surga Tidak Sekadar Indah, Tetapi Sempurna

Allah berfirman:

وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الْأَنْفُسُ وَتَلَذُّ الْأَعْيُنُ وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Dan di dalamnya terdapat apa yang diinginkan oleh hati dan yang sedap dipandang mata, dan kamu kekal di dalamnya.”

(QS. Az-Zukhruf [43]: 71)

Ada dua hal yang sangat menarik:

مَا تَشْتَهِيهِ الْأَنْفُسُ

“Apa yang diinginkan oleh jiwa.”

dan:

وَتَلَذُّ الْأَعْيُنُ

“Apa yang menyenangkan mata.”

Kemudian Allah menutupnya dengan:

وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Dan kalian kekal di dalamnya.”

Jadi bukan hanya mendapatkan kenikmatan.

Tetapi kenikmatan itu tidak akan pernah berakhir.


G. Tidak Ada Kesedihan di Dalam Surga

Allah berfirman:

لَا يَمَسُّهُمْ فِيهَا نَصَبٌ وَمَا هُمْ مِنْهَا بِمُخْرَجِينَ

“Mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka tidak akan dikeluarkan darinya.”

(QS. Al-Hijr [15]: 48)

Perhatikan dua perkara:

1. Tidak ada kelelahan

Di dunia kita membutuhkan tidur karena tubuh lelah.

Di surga tidak ada kelelahan.

2. Tidak akan dikeluarkan

Ini sangat penting.

Manusia di dunia selalu takut kehilangan.

Tetapi penghuni surga tidak perlu takut kehilangan surga.

Allah mengatakan:

وَمَا هُمْ مِنْهَا بِمُخْرَجِينَ

“Mereka tidak akan dikeluarkan darinya.”


H. Tidak Ada Kematian di Surga

Rasulullah ﷺ juga menggambarkan keadaan penghuni surga.

Beliau bersabda:

مَنْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ يَنْعَمْ لَا يَبْأَسْ، لَا تَبْلَى ثِيَابُهُ، وَلَا يَفْنَى شَبَابُهُ

“Barang siapa masuk surga, ia akan hidup dalam kenikmatan dan tidak akan mengalami kesengsaraan; pakaiannya tidak akan usang dan masa mudanya tidak akan berakhir.”

(HR. Muslim, no. 2836)[3]

Jamaah yang dirahmati Allah,

Perhatikan kalimat:

وَلَا يَفْنَى شَبَابُهُ

“Dan masa mudanya tidak akan berakhir.”

Di dunia kita sering berkata:

“Andai masa muda bisa kembali.”

Di surga tidak perlu berkata seperti itu.

Karena masa muda tidak akan pernah berakhir.


I. Tetapi Bagaimana dengan QS. Az-Zukhruf: 72?

Allah berfirman:

وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِيٓ أُوْرِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal perbuatan yang telah kamu kerjakan.”

(QS. Az-Zukhruf [43]: 72)

Di sini muncul pertanyaan:

Kalau masuk surga karena amal, mengapa Rasulullah ﷺ bersabda bahwa seseorang tidak masuk surga hanya karena amalnya?

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا يُدْخِلُ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ، وَلَا يُجِيرُهُ مِنَ النَّارِ، وَلَا أَنَا إِلَّا بِرَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ

“Tidak ada amal seorang pun di antara kalian yang memasukkannya ke dalam surga dan tidak pula menyelamatkannya dari neraka, bahkan aku pun demikian, kecuali dengan rahmat Allah.”

(HR. Muslim, no. 2817/7220 dalam penomoran tertentu)[4]

Apakah ini bertentangan dengan ayat?

Tidak.


J. Penjelasan Ibnu Hajar: Amal adalah Sebab, Rahmat Allah adalah Penentu

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-'Asqalani رحمه الله menjelaskan permasalahan ini dalam Fath al-Bari.

Beliau menerangkan bahwa tidak ada pertentangan antara ayat:

وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِيٓ أُوْرِثْتُمُوهَا بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

dan hadis:

لَنْ يَدْخُلَ أَحَدٌ مِنْكُمُ الْجَنَّةَ بِعَمَلِهِ

Ibnu Hajar menjelaskan:

إِنَّ دُخُولَ الْجَنَّةِ بِسَبَبِ الْعَمَلِ، وَالْعَمَلُ بِرَحْمَةِ اللَّهِ تَعَالَى.

“Sesungguhnya masuk surga terjadi dengan sebab amal, sedangkan amal itu sendiri terjadi dengan rahmat Allah Ta'ala.”[5]

Maka jangan salah memahami.

Bukan berarti:

“Kalau masuk surga karena rahmat Allah, berarti tidak perlu beramal.”

Justru sebaliknya.

Kita harus beramal.

Tetapi kita tidak boleh sombong dengan amal kita.

Kita tidak boleh berkata:

“Saya masuk surga karena saya rajin salat.”

“Saya masuk surga karena saya banyak sedekah.”

“Saya masuk surga karena saya banyak membaca Al-Qur'an.”

“Saya masuk surga karena saya banyak menghafal Al-Qur'an.”

Yang benar:

Saya beramal karena Allah memberi saya iman, kemampuan, kesempatan, dan hidayah.


K. Ibnu Katsir Menjelaskan Hubungan Amal dan Rahmat Allah

Ibnu Katsir ketika menjelaskan QS. Az-Zukhruf ayat 72 mengatakan:

أَيْ أَعْمَالُكُمُ الصَّالِحَةُ كَانَتْ سَبَبًا لِشُمُولِ رَحْمَةِ اللَّهِ إِيَّاكُمْ، فَإِنَّهُ لَا يُدْخِلُ أَحَدًا عَمَلُهُ الْجَنَّةَ، وَلَكِنْ بِفَضْلٍ مِنَ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ.

“Amal-amal saleh kalian menjadi sebab tercurahnya rahmat Allah kepada kalian. Sesungguhnya tidak ada seorang pun yang masuk surga semata-mata karena amalnya, tetapi dengan karunia dan rahmat Allah.”[6]

Kemudian beliau menjelaskan:

وَإِنَّمَا الدَّرَجَاتُ تَفَاوُتُهَا بِحَسَبِ عَمَلِ الصَّالِحَاتِ.

“Adapun tingkatan-tingkatan surga, perbedaannya sesuai dengan amal-amal saleh.”

Ini pelajaran yang sangat penting:

Rahmat Allah menentukan kita mendapatkan surga, sedangkan amal saleh menjadi sebab dan menentukan tingkatan yang kita dapatkan di dalamnya.


L. Karena Itu, Jangan Meremehkan Amal Saleh

Allah berfirman:

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ ۝ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat balasannya.”

(QS. Az-Zalzalah [99]: 7–8)

Jangan meremehkan kebaikan kecil.

Senyum kepada saudara.

Membantu orang tua.

Mengajar anak.

Memberi makan orang miskin.

Membaca Al-Qur'an.

Salat tepat waktu.

Menjaga lisan.

Memaafkan orang lain.

Semua itu dicatat oleh Allah.


M. Amal yang Membawa kepada Surga Harus Berdiri di Atas Iman

Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا ۝ خَالِدِينَ فِيهَا لَا يَبْغُونَ عَنْهَا حِوَلًا

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal. Mereka kekal di dalamnya dan tidak ingin berpindah darinya.”

(QS. Al-Kahf [18]: 107–108)

Ayat ini sangat indah karena berada dalam surah yang sama dengan ayat 3.

Allah menyebut dua hal:

آمَنُوا

Beriman.

dan:

عَمِلُوا الصَّالِحَاتِ

Mengerjakan amal saleh.

Kemudian:

خَالِدِينَ فِيهَا

Mereka kekal di dalamnya.

Jadi jalan menuju kehidupan kekal yang bahagia adalah:

IMAN → AMAL SALEH → RAHMAT ALLAH → SURGA.


N. Surga Memiliki Tingkatan

Jangan hanya meminta:

“Ya Allah, masukkan saya ke dalam surga.”

Tetapi mintalah surga yang paling tinggi.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ الْجَنَّةَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ، فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ وَأَعْلَى الْجَنَّةِ، وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ، وَمِنْهُ تَفَجَّرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ

“Apabila kalian meminta kepada Allah surga, maka mintalah kepada-Nya Firdaus. Sesungguhnya Firdaus adalah bagian tengah dan yang paling tinggi dari surga, dan di atasnya adalah Arsy Ar-Rahman. Dari Firdaus mengalir sungai-sungai surga.”

(HR. Bukhari dan Muslim)[7]

Karena itu, jangan takut memiliki cita-cita akhirat yang tinggi.


O. Apa yang Harus Kita Lakukan untuk Mengejar Surga?

1. Perkuat iman

Iman bukan hanya ucapan.

Iman harus melahirkan ketaatan.

2. Jaga salat

Salat adalah salah satu amal terbesar yang mendekatkan seorang hamba kepada Allah.

3. Perbanyak membaca dan mengamalkan Al-Qur'an

Bukan hanya membaca hurufnya, tetapi memahami dan mengamalkannya.

4. Berbakti kepada orang tua

Jangan mencari jalan menuju surga dengan menyakiti orang yang menjadi sebab kita hadir ke dunia.

5. Perbanyak sedekah

Sedekah adalah investasi akhirat.

6. Jaga lisan

Jangan sampai amal banyak tetapi pahala habis karena ghibah, fitnah, dusta, dan menyakiti manusia.

7. Tinggalkan maksiat

Surga tidak diperoleh dengan mempertahankan dosa.

8. Perbanyak doa

Karena pada akhirnya kita sangat membutuhkan rahmat Allah.


P. Jangan Tertipu dengan Dunia

Allah berfirman:

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ

“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, sesuatu yang melalaikan, perhiasan, bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan.”

(QS. Al-Hadid [57]: 20)

Dunia bukan tempat tinggal selamanya.

Dunia adalah tempat menanam.

Akhirat adalah tempat memanen.

Kalau kita menanam iman, kita berharap memanen keselamatan.

Kalau kita menanam amal saleh, kita berharap memanen rahmat Allah.

Kalau kita menanam dosa dan maksiat tanpa taubat, kita harus takut terhadap akibatnya.


Q. Renungan: Kalau Surga Itu Kekal, Mengapa Kita Masih Lalai?

Jamaah yang dirahmati Allah,

Kita tahu surga itu kekal.

Kita tahu dunia itu sementara.

Kita tahu kematian pasti datang.

Tetapi mengapa kita masih sering lebih sibuk mengejar dunia daripada akhirat?

Kita rela bekerja berjam-jam demi mendapatkan uang.

Kita rela belajar bertahun-tahun demi mendapatkan gelar.

Kita rela berjuang keras demi mendapatkan rumah.

Tetapi terkadang kita merasa berat melakukan salat beberapa menit.

Padahal rumah di dunia akan kita tinggalkan.

Sedangkan surga adalah tempat tinggal yang tidak akan pernah kita tinggalkan.

Maka mari kita ubah orientasi hidup.

Bukan berarti kita meninggalkan dunia.

Tetapi jadikan dunia sebagai kendaraan menuju akhirat.


R. Jangan Sampai Menyesal

Allah menggambarkan penyesalan orang yang telah meninggal:

رَبِّ ارْجِعُونِ ۝ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ

“Ya Tuhanku, kembalikanlah aku, agar aku dapat berbuat kebajikan terhadap apa yang telah aku tinggalkan.”

(QS. Al-Mu'minun [23]: 99–100)

Tetapi kesempatan itu sudah berakhir.

Maka kesempatan kita adalah sekarang.

Selagi masih hidup:

  • masih bisa bertaubat,
  • masih bisa salat,
  • masih bisa bersedekah,
  • masih bisa meminta maaf,
  • masih bisa memperbaiki diri,
  • masih bisa membaca Al-Qur'an,
  • masih bisa mendidik keluarga,
  • masih bisa beramal saleh.

Jangan menunggu tua untuk menjadi saleh.

Jangan menunggu sakit untuk mendekat kepada Allah.

Jangan menunggu kematian mendekat untuk bertaubat.


S. Penutup

Jamaah yang dirahmati Allah,

QS. Al-Kahf ayat 3 memberikan kepada kita satu kabar gembira yang luar biasa:

مَّاكِثِينَ فِيهِ أَبَدًا

“Mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya.”

Surga bukan kenikmatan sementara.

Surga bukan kehidupan yang beberapa tahun kemudian berakhir.

Surga adalah:

حَيَاةٌ أَبَدِيَّةٌ

kehidupan yang kekal.

Di sana:

  • tidak ada kematian,
  • tidak ada penyakit,
  • tidak ada ketuaan,
  • tidak ada kesedihan,
  • tidak ada kelelahan,
  • tidak ada kehilangan,
  • dan tidak ada perpisahan.

Karena itu, marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing:

Sudahkah hidup kita diarahkan menuju tempat tinggal yang kekal itu?

Jangan sampai kita terlalu sibuk membangun rumah di dunia tetapi lupa mempersiapkan rumah di akhirat.

Jangan sampai kita sibuk memperindah kendaraan tetapi lupa memperindah amal.

Jangan sampai kita sibuk mencari kedudukan di hadapan manusia tetapi lupa mencari kedudukan di hadapan Allah.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk:

الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ

orang-orang yang beriman dan beramal saleh.

Semoga Allah memberikan kepada kita rahmat-Nya.

Semoga Allah memasukkan kita ke dalam surga-Nya.

Dan semoga Allah memberikan kepada kita Jannatul Firdaus Al-A'la bersama para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh.

آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.


DOA PENUTUP

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَنَسْتَجِيرُ بِكَ مِنَ النَّارِ.

“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu surga dan kami berlindung kepada-Mu dari neraka.”

اللَّهُمَّ أَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ بِرَحْمَتِكَ، وَنَجِّنَا مِنَ النَّارِ بِرَحْمَتِكَ.

“Ya Allah, masukkanlah kami ke dalam surga dengan rahmat-Mu dan selamatkanlah kami dari neraka dengan rahmat-Mu.”

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ الْفِرْدَوْسِ الْأَعْلَى.

“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk penghuni Firdaus yang tertinggi.”

آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.


CATATAN KAKI / RUJUKAN

[1] Ismā'īl bin 'Umar Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur'ān al-'Aẓīm, tafsir QS. Al-Kahf [18]: 3. Ibn Kathir menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah pahala di sisi Allah, yaitu surga, yang kekal tanpa berakhir.

[2] Muslim bin al-Hajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Jannah wa Ṣifat Na'īmihā wa Ahlihā, Bāb Fī Dawām Na'īm Ahl al-Jannah, hadis no. 2837. Hadis ini menjelaskan bahwa penghuni surga tidak akan sakit, mati, tua, ataupun mengalami kesengsaraan.

[3] Muslim bin al-Hajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Jannah wa Ṣifat Na'īmihā wa Ahlihā, hadis no. 2836: مَنْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ يَنْعَمْ لَا يَبْأَسْ، لَا تَبْلَى ثِيَابُهُ، وَلَا يَفْنَى شَبَابُهُ.

[4] Muslim bin al-Hajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb Ṣifat al-Qiyāmah wa al-Jannah wa al-Nār, Bāb Lan Yadkhula Aḥad al-Jannah bi-'Amalih, hadis no. 2816/2817 menurut sebagian penomoran. Maknanya: masuk surga bukan karena amal sebagai "harga" yang dibayarkan manusia, tetapi karena rahmat Allah.

[5] Aḥmad bin 'Alī Ibn Ḥajar al-'Asqalānī, Fatḥ al-Bārī bi Syarḥ Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, pembahasan hadis لَنْ يَدْخُلَ أَحَدٌ مِنْكُمُ الْجَنَّةَ بِعَمَلِهِ. Ibnu Hajar menjelaskan hubungan antara ayat yang menyebut amal dan hadis yang menegaskan rahmat Allah.

[6] Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur'ān al-'Aẓīm, tafsir QS. Az-Zukhruf [43]: 72. Beliau menjelaskan bahwa amal saleh merupakan sebab tercurahnya rahmat Allah, sedangkan masuk surga terjadi dengan karunia dan rahmat Allah.

[7] Muḥammad bin Ismā'īl al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, dan Muslim bin al-Hajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim, hadis tentang keutamaan Firdaus: إِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ الْجَنَّةَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ. Ibn Kathir juga mengutip hadis ini ketika menafsirkan QS. Al-Mu'minun [23]: 11.

[8] 'Abd al-Raḥmān bin Nāṣir as-Sa'dī, Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān, tafsir QS. Az-Zukhruf [43]: 72. As-Sa'di menjelaskan bahwa surga diberikan Allah sebagai karunia dan balasan atas amal saleh.

[9] Muḥammad bin Aḥmad al-Qurṭubī, Al-Jāmi' li Aḥkām al-Qur'ān, tafsir QS. Az-Zukhruf [43]: 72. Al-Qurthubi membahas makna أُوْرِثْتُمُوهَا dan konsep pewarisan surga bagi orang-orang beriman.


INTI PESAN CERAMAH

Dunia adalah tempat beramal, sedangkan surga adalah tempat menikmati hasil rahmat Allah.

Amal saleh adalah sebab, tetapi rahmat Allah adalah karunia yang memasukkan kita ke dalam surga.

Dan ketika Allah telah memasukkan seorang mukmin ke dalam surga, maka kenikmatan itu tidak akan berakhir.

مَّاكِثِينَ فِيهِ أَبَدًا

“Mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya.”

Karena itu, jangan menjadikan dunia sebagai tujuan akhir. Jadikan dunia sebagai jalan menuju kehidupan yang kekal di akhirat.

Tidak ada komentar