Nikmat Jangan Melalaikan, Ujian Jangan Membuat Putus Asa


🌿 Materi Ceramah: Nikmat Jangan Melalaikan, Ujian Jangan Membuat Putus Asa

QS. Al-Isrā’ Ayat 83

وَاِذَآ اَنْعَمْنَا عَلَى الْاِنْسَانِ اَعْرَضَ وَنَاٰ بِجَانِبِهٖۚ وَاِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ كَانَ يَـُٔوْسًا

“Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia, niscaya dia berpaling dan menjauhkan diri dengan sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan, niscaya dia berputus asa.”
(QS. Al-Isrā’ [17]: 83)

1. Gambaran dua keadaan manusia

Ayat ini menggambarkan dua penyakit yang sering menjangkiti manusia:

Pertama: ketika mendapatkan nikmat, ia berpaling dari Allah.

Ketika sehat, kaya, memiliki jabatan, keluarga harmonis, usaha berhasil, atau mendapatkan berbagai kemudahan, sebagian manusia justru semakin jauh dari Allah.

Padahal semua nikmat tersebut berasal dari-Nya.

Allah berfirman:

وَمَا بِكُمْ مِّنْ نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ

“Dan segala nikmat yang ada padamu adalah dari Allah.”
(QS. An-Naḥl [16]: 53)

Maka semakin banyak nikmat seharusnya semakin banyak syukur, bukan semakin jauh dari Allah.

Kedua: ketika mendapatkan kesusahan, ia berputus asa.

Ketika usaha mengalami kegagalan, kehilangan harta, menghadapi masalah keluarga, sakit, kehilangan pekerjaan, atau mengalami musibah, sebagian manusia merasa bahwa hidupnya telah berakhir.

Inilah yang disebut dalam ayat:

كَانَ يَـُٔوْسًا

“Dia menjadi orang yang sangat berputus asa.”

Padahal seorang mukmin tidak boleh kehilangan harapan kepada Allah.


2. Nikmat adalah ujian, bukan sekadar hadiah

Sering kali manusia mengira bahwa ujian hanya berupa kesusahan.

Padahal kesenangan juga merupakan ujian.

Allah berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۗوَاِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.”
(QS. Al-Anbiyā’ [21]: 35)

Perhatikan: Allah menyebut الشَّرِّ وَالْخَيْرِ — keburukan dan kebaikan.

Artinya, miskin adalah ujian, tetapi kaya juga ujian.

Sakit adalah ujian, tetapi sehat juga ujian.

Kegagalan adalah ujian, tetapi keberhasilan juga ujian.

Tidak memiliki jabatan adalah ujian, tetapi memiliki jabatan juga ujian.

Pertanyaannya bukan hanya:

“Apakah Allah memberi saya nikmat?”

Tetapi:

“Apa yang saya lakukan setelah Allah memberikan nikmat kepada saya?”


3. Cara menghadapi nikmat: SYUKUR

Allah berfirman:

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku sangat berat.’”
(QS. Ibrāhīm [14]: 7)

Syukur bukan sekadar mengucapkan alhamdulillah.

Para ulama menjelaskan bahwa syukur mencakup tiga perkara:

① Syukur dengan hati

Meyakini bahwa nikmat berasal dari Allah.

② Syukur dengan lisan

Memuji Allah dan menyebut nikmat-Nya dalam kebaikan.

③ Syukur dengan anggota badan

Menggunakan nikmat untuk menaati Allah.

Misalnya Allah memberikan harta.

Syukurnya bukan hanya:

“Alhamdulillah saya kaya.”

Tetapi:

  • menunaikan zakat,
  • bersedekah,
  • menafkahi keluarga,
  • tidak menggunakan harta untuk maksiat,
  • dan menjadikannya sarana mendekat kepada Allah.

Allah berfirman:

اِعْمَلُوْٓا اٰلَ دَاوٗدَ شُكْرًا ۗوَقَلِيْلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُوْرُ

“Beramallah wahai keluarga Dawud sebagai bentuk syukur! Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang benar-benar bersyukur.”
(QS. Saba’ [34]: 13)


4. Rasulullah ﷺ adalah teladan dalam bersyukur

Rasulullah ﷺ adalah manusia yang telah diampuni dosa-dosanya, tetapi beliau tetap banyak beribadah.

Dalam hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim, ‘Aisyah r.a. menceritakan bahwa Nabi ﷺ melakukan salat malam sampai kedua kakinya bengkak.

Ketika ditanya mengapa beliau melakukan itu, beliau bersabda:

أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا

“Tidakkah aku ingin menjadi seorang hamba yang bersyukur?”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)

Ini pelajaran yang sangat besar.

Nabi ﷺ tidak beribadah hanya karena takut neraka, tetapi juga karena bersyukur atas nikmat Allah.


5. Ketika mendapat musibah, jangan berputus asa

Allah berfirman:

قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’”
(QS. Az-Zumar [39]: 53)

Ayat ini merupakan salah satu ayat yang paling kuat dalam membuka pintu harapan.

Perhatikan seruannya:

يَا عِبَادِيَ — “Wahai hamba-hamba-Ku.”

Bahkan kepada orang yang telah banyak berbuat dosa, Allah masih memanggil mereka dengan panggilan “hamba-Ku” dan membuka pintu taubat.


6. Jangan mengira musibah berarti Allah membenci kita

Allah berfirman:

فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ۙ اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ۗ

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
(QS. Asy-Syarḥ [94]: 5–6)

Perhatikan Allah tidak mengatakan:

“Setelah kesulitan ada kemudahan.”

Tetapi:

مَعَ الْعُسْرِ — bersama kesulitan ada kemudahan.

Artinya, di tengah kesulitan sekalipun, Allah dapat menghadirkan jalan keluar yang belum kita lihat.


7. Hadis tentang keadaan seorang mukmin

Rasulullah ﷺ bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah kebaikan baginya. Hal itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu menjadi kebaikan baginya. Dan jika ia mendapatkan kesusahan, ia bersabar, maka itu pun menjadi kebaikan baginya.”
(HR. Muslim, dari Shuhaib r.a.)

Inilah prinsip kehidupan seorang mukmin:

Nikmat → SYUKUR → PAHALA

Musibah → SABAR → PAHALA

Maka seorang mukmin tidak pernah benar-benar kalah.


8. Sabar bukan berarti pasrah tanpa usaha

Ketika mendapatkan masalah, Islam tidak mengajarkan kita untuk hanya duduk dan menunggu.

Allah berfirman:

وَلَا تَهِنُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَنْتُمُ الْاَعْلَوْنَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

“Janganlah kamu lemah dan jangan pula bersedih hati, sebab kamu paling tinggi derajatnya jika kamu orang beriman.”
(QS. Āli ‘Imrān [3]: 139)

Sabar berarti:

tetap percaya kepada Allah + tetap berusaha + tetap berdoa + tidak menyerah kepada keadaan.


9. Jangan sampai doa hanya muncul ketika terkena musibah

QS. Al-Isrā’ ayat 83 memiliki hubungan erat dengan ayat sebelumnya, khususnya QS. Al-Isrā’ 67.

Allah telah menggambarkan manusia yang ketika berada dalam bahaya di lautan berdoa kepada Allah dengan sungguh-sungguh, tetapi setelah diselamatkan ia kembali berpaling.

Ini adalah penyakit yang harus kita hindari:

Ketika susah → “Ya Allah!”

Ketika senang → lupa Allah.

Seharusnya:

Saat susah → mendekat kepada Allah.

Saat senang → semakin mendekat kepada Allah.


10. Penjelasan para ulama

📖 Imam ath-Thabari

Dalam Jāmi‘ al-Bayān, ath-Thabari menjelaskan bahwa ayat ini menggambarkan tabiat manusia: ketika memperoleh kenikmatan dan kelapangan, ia cenderung berpaling dari ketaatan kepada Allah; sementara ketika ditimpa kesulitan, ia mudah berputus asa dari rahmat-Nya.

Pelajarannya: keadaan seorang mukmin tidak boleh dikendalikan oleh perubahan keadaan dunia.

📖 Imam Ibn Katsir

Dalam Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, Ibn Katsir menerangkan bahwa manusia memiliki kecenderungan berpaling ketika mendapatkan kelapangan dan berputus asa ketika mendapatkan kesempitan.

Namun orang yang mendapatkan taufik Allah akan berada di tengah:

syukur ketika mendapatkan nikmat dan sabar ketika mendapatkan musibah.

📖 Imam al-Qurthubi

Dalam Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, al-Qurthubi menjelaskan bahwa sifat putus asa merupakan keadaan tercela karena seorang hamba seharusnya senantiasa berharap kepada rahmat dan pertolongan Allah.

📖 Imam Ibn al-Qayyim

Dalam ‘Uddat aṣ-Ṣābirīn wa Dhakhīrat asy-Syākirīn, Ibn al-Qayyim menjelaskan hubungan erat antara sabar dan syukur.

Keduanya merupakan dua keadaan yang senantiasa dibutuhkan seorang hamba. Ketika memperoleh sesuatu yang menyenangkan, ia membutuhkan syukur. Ketika mendapatkan sesuatu yang tidak disukai, ia membutuhkan sabar.


11. Empat sikap yang harus dimiliki seorang mukmin

🌿 1. Ketika mendapat nikmat → INGAT ALLAH

Jangan sampai nikmat membuat kita lupa kepada Pemberi nikmat.

🌿 2. Ketika mendapat ujian → SABAR

Jangan mengambil keputusan ketika sedang dikuasai emosi dan keputusasaan.

🌿 3. Ketika melakukan dosa → SEGERA BERTAUBAT

Jangan berkata:

“Saya sudah terlalu banyak dosa, Allah pasti tidak mau mengampuni saya.”

Itu adalah tipu daya setan.

🌿 4. Ketika menghadapi masa depan → TAWAKAL

Berusaha semaksimal mungkin, kemudian serahkan hasilnya kepada Allah.


12. Doa agar hati selalu bersyukur

Rasulullah ﷺ mengajarkan doa:

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Ya Allah, bantulah aku untuk senantiasa mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan baik.”
(HR. Abu Dawud dan an-Nasa’i)

Doa ini sangat penting.

Sebab bersyukur pun membutuhkan pertolongan Allah.


🎙️ Penutup Ceramah

Hadirin yang dirahmati Allah,

QS. Al-Isrā’ ayat 83 mengajarkan kepada kita bahwa manusia memiliki dua kecenderungan yang harus dilawan.

Ketika mendapatkan nikmat, jangan berpaling.

Ketika mendapatkan musibah, jangan berputus asa.

Jika Allah memberi kita kesehatan, bersyukurlah.

Jika Allah memberi kita kekayaan, bersedekahlah.

Jika Allah memberi kita ilmu, ajarkanlah.

Jika Allah memberi kita jabatan, gunakan untuk amanah.

Jika Allah memberi kita ujian, bersabarlah.

Jika kita terjatuh dalam dosa, bertaubatlah.

Dan jika hari ini kita sedang berada dalam kesulitan, ingatlah:

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”

Jangan sampai ketika mendapatkan nikmat kita melupakan Allah, dan ketika mendapatkan musibah kita meninggalkan Allah.

Karena nikmat membutuhkan syukur, musibah membutuhkan sabar, dan keduanya membutuhkan iman.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang bersyukur ketika diberi nikmat, bersabar ketika diuji, bertaubat ketika berdosa, dan selalu berharap kepada rahmat Allah.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

📚 Kitab rujukan utama

  1. Tafsīr ath-Ṭabarī — Jāmi‘ al-Bayān
  2. Tafsīr Ibn Kathīr — Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm
  3. Tafsīr al-Qurṭubī — Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān
  4. Tafsīr Fakhruddin ar-Rāzī — Mafātīḥ al-Ghaib
  5. Tafsīr as-Sa‘dī — Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān
  6. Ibn al-Qayyim — ‘Uddat aṣ-Ṣābirīn wa Dhakhīrat asy-Syākirīn
  7. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī
  8. Ṣaḥīḥ Muslim
  9. Sunan Abī Dāwūd
  10. Sunan an-Nasā’ī

Tidak ada komentar