DUNIA: HIJAU, INDAH, MENYENANGKAN… TETAPI AKHIRNYA LAYU DAN TERBANG DIBAWA ANGIN
CERAMAH TAFSIR QS. AL-KAHF AYAT 45
“DUNIA: HIJAU, INDAH, MENYENANGKAN… TETAPI AKHIRNYA LAYU DAN TERBANG DIBAWA ANGIN”
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang dirahmati Allah...
Pada kesempatan ini marilah kita merenungkan salah satu ayat yang sangat dalam maknanya, yaitu firman Allah dalam QS. Al-Kahf ayat 45.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
QS. Al-Kahf: 45
وَاضْرِبْ لَهُمْ مَّثَلَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا كَمَاۤءٍ اَنْزَلْنٰهُ مِنَ السَّمَاۤءِ فَاخْتَلَطَ بِهٖ نَبَاتُ الْاَرْضِ فَاَصْبَحَ هَشِيْمًا تَذْرُوْهُ الرِّيٰحُ ۗ وَكَانَ اللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ مُّقْتَدِرًا
Artinya:
“Dan buatlah untuk mereka (manusia) perumpamaan kehidupan dunia ini, ibarat air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, sehingga menyuburkan tumbuh-tumbuhan di bumi, kemudian (tumbuh-tumbuhan) itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”
Jamaah yang dimuliakan Allah...
Perhatikan bagaimana Al-Qur'an menggambarkan dunia.
Allah tidak mengatakan dunia itu seperti batu.
Allah tidak mengatakan dunia itu seperti besi.
Allah tidak mengatakan dunia itu seperti sesuatu yang sejak awal buruk dan tidak menyenangkan.
Allah justru menggambarkan dunia seperti air hujan.
Air hujan turun.
Tanah menjadi subur.
Tanaman tumbuh.
Hijau.
Indah.
Berbunga.
Berbuah.
Manusia senang melihatnya.
Tetapi kemudian...
Tanaman itu mengering.
Menjadi rapuh.
Menjadi هَشِيمًا — hancur dan kering.
Lalu datang angin.
تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ
Angin menerbangkannya ke sana kemari.
Yang tadinya indah...
hilang.
Yang tadinya hijau...
menjadi kuning.
Yang tadinya kokoh...
menjadi rapuh.
Yang tadinya memenuhi pandangan...
akhirnya tidak ada.
[diam sejenak]
Jamaah yang dirahmati Allah...
Inilah gambaran kehidupan kita.
Kita datang ke dunia sebagai bayi.
Kemudian tumbuh.
Menjadi anak-anak.
Menjadi remaja.
Menjadi dewasa.
Menikah.
Mempunyai anak.
Mencari pekerjaan.
Membangun rumah.
Mengumpulkan harta.
Membangun karier.
Mendapatkan jabatan.
Mempunyai kendaraan.
Mempunyai tabungan.
Mempunyai usaha.
Mempunyai nama.
Mempunyai pengikut.
Kemudian...
perlahan-lahan semuanya berubah.
Rambut yang dahulu hitam menjadi putih.
Kulit yang dahulu kencang menjadi keriput.
Kekuatan yang dahulu besar menjadi lemah.
Mata yang dahulu tajam membutuhkan bantuan.
Gigi yang dahulu kuat mulai tanggal.
Dan akhirnya...
kita meninggalkan semuanya.
Rumah tetap berdiri.
Kendaraan tetap berjalan.
Tanah tetap ada.
Uang berpindah tangan.
Jabatan berganti pemilik.
Tetapi kita...
dibawa menuju Allah.
1. DUNIA ITU BUKAN PALSU, TETAPI DUNIA ITU SEMENTARA
Jamaah yang dirahmati Allah...
Ada satu kesalahpahaman yang harus kita luruskan.
Ketika Al-Qur'an memperingatkan tentang dunia, bukan berarti Islam mengajarkan kita untuk membenci dunia.
Islam tidak melarang kita bekerja.
Islam tidak melarang kita kaya.
Islam tidak melarang kita mempunyai rumah bagus.
Islam tidak melarang kita mempunyai kendaraan.
Islam tidak melarang kita berbisnis.
Islam tidak melarang kita menikmati makanan.
Islam tidak melarang kita berpakaian bagus.
Yang dilarang adalah:
jangan sampai dunia masuk ke dalam hati dan membuat kita lupa kepada Allah.
Dunia boleh berada di tangan.
Tetapi jangan sampai dunia menjadi tuan di dalam hati.
Kita boleh mempunyai uang.
Tetapi jangan sampai uang mempunyai kita.
Kita boleh mempunyai rumah.
Tetapi jangan sampai rumah membuat kita lupa kepada akhirat.
Kita boleh mempunyai jabatan.
Tetapi jangan sampai jabatan membuat kita merasa lebih mulia daripada orang lain.
Kita boleh mempunyai pengikut.
Tetapi jangan sampai banyaknya pengikut membuat kita merasa tidak membutuhkan Allah.
2. PERHATIKAN URUTAN PERUMPAMAAN ALLAH
Allah berfirman:
كَمَاۤءٍ اَنْزَلْنٰهُ مِنَ السَّمَاۤءِ
“Seperti air yang Kami turunkan dari langit.”
Kemudian:
فَاخْتَلَطَ بِهٖ نَبَاتُ الْاَرْضِ
“Lalu bercampur dengannya tumbuh-tumbuhan bumi.”
Kemudian:
فَاَصْبَحَ هَشِيْمًا
“Lalu tumbuhan itu menjadi kering dan hancur.”
Kemudian:
تَذْرُوْهُ الرِّيٰحُ
“Diterbangkan oleh angin.”
Perhatikan!
Ada proses.
Tidak langsung dari hijau menjadi hancur.
Ada masa tumbuh.
Ada masa indah.
Ada masa kuat.
Ada masa layu.
Ada masa hancur.
Begitu pula kehidupan manusia.
Tidak semua perubahan datang dalam satu malam.
Kadang Allah memperlihatkan kepada kita perubahan itu sedikit demi sedikit.
Dulu kita bermain.
Sekarang kita bekerja.
Dulu orang tua kita menggandeng tangan kita.
Sekarang kita menggandeng tangan anak kita.
Dulu kita mengantar anak sekolah.
Suatu saat anak kita yang mengantar kita.
Dulu kita membantu orang tua.
Suatu saat kita membutuhkan bantuan anak.
Semuanya berputar.
[lirih]
Dan akhirnya...
yang tersisa bukanlah berapa luas rumah kita.
Bukan berapa banyak kendaraan kita.
Bukan berapa banyak uang kita.
Tetapi...
apa yang kita bawa menghadap Allah.
3. PENJELASAN PARA ULAMA TENTANG AYAT INI
A. Imam Ath-Thabari رحمه الله
Imam Ath-Thabari menjelaskan bahwa Allah menjadikan kehidupan dunia seperti tumbuhan yang tumbuh karena hujan, kemudian menjadi kering dan diterbangkan angin.
Beliau mengatakan:
فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ
Maksudnya adalah tumbuhan itu menjadi kering, hancur, kemudian diterbangkan dan disebarkan oleh angin.
Dan Ath-Thabari memberikan pelajaran penting bahwa manusia jangan tertipu oleh kehidupan dunia, karena keadaan dunia seperti tanaman yang pada awalnya indah tetapi akhirnya hilang.
Renungannya:
Jamaah...
Tanaman yang hijau tidak boleh merasa:
“Aku akan hijau selamanya.”
Karena ia tidak tahu kapan akan menguning.
Begitu pula manusia.
Jangan berkata:
“Saya akan sehat selamanya.”
Jangan berkata:
“Saya akan kuat selamanya.”
Jangan berkata:
“Saya akan kaya selamanya.”
Jangan berkata:
“Saya akan punya jabatan ini selamanya.”
Karena kita tidak tahu kapan Allah memindahkan kita dari fase hijau menuju fase layu.
B. Imam Ibnu Katsir رحمه الله
Ibnu Katsir menjelaskan:
فِي زَوَالِهَا وَفَنَائِهَا وَانْقِضَائِهَا
Artinya:
“Perumpamaan itu menunjukkan lenyapnya dunia, kehancurannya, dan berakhirnya kehidupan dunia.”
Beliau kemudian menjelaskan bahwa tumbuhan awalnya tumbuh, menjadi indah, dihiasi bunga dan kesegaran, tetapi setelah itu menjadi kering dan diterbangkan angin. Ibnu Katsir juga menghubungkan ayat ini dengan beberapa ayat lain yang menggunakan perumpamaan tumbuhan untuk menjelaskan kefanaan dunia.
Maka dunia memiliki tiga wajah:
Pertama: dunia memikat.
Kedua: dunia berubah.
Ketiga: dunia meninggalkan kita.
C. Imam As-Sa'di رحمه الله
Tafsir As-Sa'di sangat menyentuh.
Beliau menjelaskan bahwa Allah menyuruh manusia membayangkan kehidupan dunia secara utuh: bukan hanya keindahannya, tetapi juga akhirnya.
Beliau menggambarkan seseorang yang menikmati masa muda, kekuatan, harta dan kesenangan dunia, kemudian tiba-tiba datang kematian atau kehancuran hartanya.
Beliau mengatakan:
فَبَيْنَا زَهْرَتُهَا وَزُخْرُفُهَا تَسُرُّ النَّاظِرِينَ، وَتَفْرَحُ الْمُتَفَرِّجِينَ، وَتَأْخُذُ بِعُيُونِ الْغَافِلِينَ، إِذْ أَصْبَحَتْ هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ
Maknanya:
“Ketika keindahan dan perhiasan dunia menyenangkan orang yang melihatnya, menggembirakan orang yang memandangnya, bahkan memikat mata orang-orang yang lalai, tiba-tiba ia menjadi tumbuhan kering yang diterbangkan angin.”[^1]
Kemudian As-Sa'di memberikan pertanyaan yang sangat dalam kepada manusia:
فَأَيُّ الْحَالَتَيْنِ تَخْتَارُ؟
“Manakah dari dua keadaan yang akan engkau pilih?”
Apakah tertipu oleh perhiasan dunia?
Ataukah mempersiapkan diri untuk negeri akhirat yang kekal?
Inilah inti nasihat As-Sa'di.
[diam]
Jamaah...
Pertanyaan itu juga berlaku untuk kita.
Kita mau memilih yang mana?
Kita boleh menikmati dunia.
Tetapi jangan sampai kita menukar akhirat dengan dunia.
4. ALLAH TIDAK MENGATAKAN DUNIA TIDAK INDAH
Justru Allah mengatakan dunia itu indah.
Dalam QS. Al-Hadid ayat 20:
اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًاۗ وَفِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌۙ وَّمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٌ ۗوَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ
Artinya:
“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning, kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat ada azab yang keras, ampunan dari Allah dan keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.”
Perhatikan kalimat:
وَزِيْنَةٌ
“Perhiasan.”
Dunia memang indah.
Tetapi masalahnya bukan keindahan dunia.
Masalahnya adalah ketika keindahan itu membuat manusia lupa bahwa semuanya sementara.
5. NABI ﷺ JUGA MENGGAMBARKAN DUNIA SEBAGAI SESUATU YANG MENARIK
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ...
Artinya:
“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau (menarik), dan sesungguhnya Allah menjadikan kalian sebagai khalifah di dalamnya, lalu Dia melihat bagaimana kalian beramal. Maka takutlah terhadap dunia...”[^2]
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim.
Perhatikan Nabi tidak mengatakan:
“Dunia itu tidak menarik.”
Nabi justru mengatakan:
حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ
“Manis dan hijau.”
Persis seperti tanaman dalam QS. Al-Kahf ayat 45.
Tetapi ada ujian:
فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ
“Allah melihat bagaimana kalian beramal.”
Artinya:
Yang diuji bukan apakah kita memiliki dunia atau tidak.
Yang diuji adalah:
Apa yang kita lakukan ketika memiliki dunia?
6. KAYA BUKAN MASALAH — YANG BERBAHAYA ADALAH KETIKA HATI MENJADI MILIK HARTA
Jamaah yang dirahmati Allah...
Ada orang kaya yang dekat dengan Allah.
Ada orang miskin yang jauh dari Allah.
Ada orang kaya yang bersyukur.
Ada orang kaya yang sombong.
Ada orang miskin yang sabar.
Ada orang miskin yang iri dan kufur.
Jadi...
bukan jumlah hartanya yang menentukan kemuliaannya.
Tetapi...
bagaimana hatinya memperlakukan harta itu.
Harta yang ada di tangan seorang mukmin dapat menjadi pahala.
Karena dengan harta dia:
- memberi nafkah,
- bersedekah,
- membantu fakir miskin,
- membangun masjid,
- membantu pendidikan,
- membantu dakwah,
- menolong orang yang kesulitan.
Tetapi harta yang sama dapat menjadi bencana jika membuat manusia:
- sombong,
- bakhil,
- merendahkan orang miskin,
- meninggalkan salat,
- memakan riba,
- menipu,
- mengambil hak orang lain,
- lupa mati.
Maka masalahnya bukan:
“Berapa banyak yang kita punya?”
Tetapi:
“Untuk apa yang kita punya?”
7. “INI UANG SAYA!”
Jamaah...
Nabi ﷺ pernah menjelaskan dengan sangat tajam.
Rasulullah ﷺ bersabda:
يَقُولُ ابْنُ آدَمَ: مَالِي مَالِي، قَالَ: وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلَّا مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ، أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ، أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ؟
Artinya:
“Anak Adam berkata: ‘Hartaku! Hartaku!’ Nabi ﷺ bersabda: ‘Wahai anak Adam, apakah yang benar-benar menjadi milikmu dari hartamu selain apa yang kamu makan lalu habis, apa yang kamu pakai lalu usang, atau apa yang kamu sedekahkan lalu menjadi bekal?’”[^3]
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim.
[diam]
Lihat...
Rumah kita...
Kita tinggalkan.
Mobil kita...
Kita tinggalkan.
Pakaian kita...
Kita tinggalkan.
Tabungan kita...
Kita tinggalkan.
Jabatan...
Kita tinggalkan.
Tetapi sedekah...
ikut bersama kita.
Ilmu yang kita ajarkan...
ikut bersama kita.
Anak saleh yang kita didik...
pahalanya dapat terus mengalir.
Wakaf yang kita tinggalkan...
tetap menjadi amal.
8. DUNIA SEPERTI BAYANGAN
Jamaah...
Pernahkah kita mengejar bayangan?
Semakin dikejar, semakin jauh.
Tetapi ketika kita berjalan menuju sumber cahaya, bayangan mengikuti kita.
Begitulah dunia.
Jika dunia kita jadikan tujuan utama, kita akan selalu merasa kurang.
Punya motor ingin mobil.
Punya mobil ingin mobil yang lebih mahal.
Punya rumah ingin rumah lebih besar.
Punya usaha ingin lebih besar.
Punya penghasilan sepuluh juta ingin dua puluh juta.
Sudah dua puluh juta ingin lima puluh juta.
Sudah lima puluh juta...
masih berkata:
“Belum cukup.”
Kenapa?
Karena dunia tidak pernah berkata: cukup.
Yang membuat kita cukup adalah qana'ah.
9. DUNIA ITU SEPERTI TANAMAN: ADA MASA HIJAU DAN ADA MASA KERING
Allah berfirman:
فَاَصْبَحَ هَشِيْمًا
“Lalu menjadi kering dan hancur.”
Jamaah...
Kita harus belajar menerima perubahan.
Ada masa sehat.
Ada masa sakit.
Ada masa kaya.
Ada masa sempit.
Ada masa berjaya.
Ada masa diuji.
Ada masa ramai.
Ada masa sendirian.
Ada masa dipuji.
Ada masa dicela.
Ada masa kita dibutuhkan.
Ada masa kita tidak lagi dicari.
Itulah kehidupan.
Jangan terlalu sombong ketika sedang berada di atas.
Dan jangan terlalu putus asa ketika sedang berada di bawah.
Karena semuanya bergerak.
10. AYAT INI MENGAJARKAN KITA AGAR JANGAN SOMBONG KETIKA SEDANG “HIJAU”
Ini sangat penting.
Ketika seseorang sedang berada di puncak...
jangan lupa bahwa puncak bukan tempat tinggal.
Ia hanya tempat singgah.
Ketika muda...
jangan sombong.
Ketika sehat...
jangan sombong.
Ketika kaya...
jangan sombong.
Ketika punya jabatan...
jangan sombong.
Ketika punya banyak murid...
jangan sombong.
Ketika punya banyak pengikut...
jangan sombong.
Ketika punya banyak teman...
jangan sombong.
Karena...
tanaman yang paling hijau pun akan mengering.
11. JANGAN MERENDAHKAN ORANG YANG SEDANG “KERING”
Ada pelajaran lain.
Jangan merendahkan orang yang hari ini hidupnya sedang sulit.
Jangan melihat orang miskin lalu berkata:
“Dia tidak berhasil.”
Jangan melihat orang yang sedang gagal lalu berkata:
“Memang dia tidak mampu.”
Jangan melihat orang yang sedang jatuh lalu menertawakannya.
Mengapa?
Karena kita tidak tahu bagaimana Allah akan membalikkan keadaan.
Hari ini kita membantu.
Besok mungkin kita yang membutuhkan pertolongan.
Hari ini kita sehat.
Besok mungkin kita yang terbaring.
Hari ini kita kuat.
Besok mungkin kita yang lemah.
Hari ini kita punya.
Besok mungkin kita kehilangan.
Maka...
rendahkan hati ketika sedang diberi.
12. ALLAH MENUTUP AYAT DENGAN: وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ مُّقْتَدِرًا
Ayat ini ditutup dengan:
وَكَانَ اللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ مُّقْتَدِرًا
“Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”
Mengapa Allah menutup perumpamaan dunia dengan kalimat ini?
Karena Allah ingin mengingatkan:
Dunia berubah bukan tanpa pengatur.
Tanaman tumbuh karena Allah.
Tanaman mengering dengan ketetapan Allah.
Angin bertiup dengan perintah Allah.
Kehidupan manusia berubah dengan ketetapan Allah.
Kita lahir karena Allah.
Kita tumbuh karena Allah.
Kita menjadi kuat karena Allah.
Kita menjadi lemah karena Allah.
Dan kita kembali kepada Allah.
Ath-Thabari menjelaskan bahwa Allah Mahakuasa untuk menghancurkan kebun, menghilangkan harta, mengubah keadaan dunia, dan melakukan apa saja yang Dia kehendaki; karena itu manusia tidak boleh tertipu oleh kekayaan dan kemegahan dunia.
13. JANGAN TERLALU PERCAYA DIRI DENGAN DUNIA
Jamaah...
Ingat cerita ayat-ayat sebelumnya.
Pemilik kebun berkata:
مَا أَظُنُّ أَنْ تَبِيدَ هَٰذِهِ أَبَدًا
“Aku tidak mengira kebun ini akan binasa selama-lamanya.”
Kemudian kebunnya hancur.
Lalu dia tidak memiliki kelompok yang mampu menolongnya.
Dan ayat 45 kemudian datang memberikan pelajaran:
Jangan mengira dunia akan selalu seperti hari ini.
Karena dunia adalah:
كَالْمَاءِ وَالنَّبَاتِ
Seperti air dan tumbuhan.
Datang...
tumbuh...
indah...
kemudian layu...
kemudian diterbangkan angin.
14. KEMATIAN ADALAH “ANGIN” YANG AKAN DATANG KEPADA SETIAP MANUSIA
Allah berfirman:
QS. Ali 'Imran: 185
كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ
Artinya:
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Dan kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.”
Jamaah...
Perhatikan.
Allah tidak mengatakan:
“Sebagian manusia akan mati.”
Tetapi:
كُلُّ نَفْسٍ
Setiap jiwa.
Tidak ada pengecualian.
Orang kaya mati.
Orang miskin mati.
Pejabat mati.
Rakyat biasa mati.
Orang terkenal mati.
Orang yang tidak dikenal juga mati.
Orang yang punya banyak pengikut mati.
Orang yang tidak punya pengikut mati.
15. RASULULLAH ﷺ: DUNIA ITU “MANIS DAN HIJAU”
Hadis tadi mengingatkan:
إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ
“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau.”
Jadi jangan heran kalau kita menyukai dunia.
Itu memang tabiat manusia.
Tetapi Nabi ﷺ melanjutkan:
وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ
“Allah menjadikan kalian sebagai khalifah di dalamnya lalu melihat bagaimana kalian beramal.”
Jadi dunia bukan sekadar tempat menikmati.
Dunia adalah tempat diuji.
Uang adalah ujian.
Jabatan adalah ujian.
Keluarga adalah ujian.
Anak adalah ujian.
Kecantikan adalah ujian.
Kesehatan adalah ujian.
Bahkan kemiskinan juga ujian.
16. DUNIA BUKAN TEMPAT TINGGAL KEKAL
Rasulullah ﷺ bersabda:
الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ
Artinya:
“Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.”[^4]
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim.
Maksudnya bukan bahwa seorang mukmin tidak boleh menikmati dunia.
Tetapi dibandingkan dengan kenikmatan akhirat, dunia bagi orang beriman sangat terbatas.
Bayangkan seseorang hidup 60, 70, 80 atau 100 tahun.
Bandingkan dengan kehidupan akhirat yang kekal.
Maka dunia memang sangat singkat.
17. JANGAN SAMPAI KITA MENJUAL YANG KEKAL DEMI YANG SEMENTARA
Jamaah yang dirahmati Allah...
Ini bahaya terbesar.
Seseorang mendapatkan uang dari jalan haram.
Padahal uang itu sementara.
Tetapi dosa akibat cara mendapatkannya bisa dibawa sampai akhirat.
Seseorang meninggalkan salat demi pekerjaan.
Pekerjaan itu sementara.
Tetapi meninggalkan kewajiban bisa menjadi masalah besar di hadapan Allah.
Seseorang memutus silaturahmi demi harta.
Hartanya sementara.
Tetapi dosa dan permusuhannya bisa panjang.
Seseorang menghina orang miskin karena merasa kaya.
Kekayaannya sementara.
Tetapi kesombongannya bisa menghancurkan dirinya.
Maka...
Jangan tukarkan akhirat dengan dunia.
18. DUNIA ITU BISA MENJADI BEKAL, BUKAN MUSUH
Jamaah...
Ada orang yang salah memahami zuhud.
Zuhud bukan berarti tidak boleh mempunyai dunia.
Zuhud adalah ketika dunia tidak menjadi tujuan terbesar hati.
Orang zuhud boleh mempunyai uang.
Tetapi uang tidak menguasai hatinya.
Orang zuhud boleh memiliki rumah.
Tetapi rumah tidak membuatnya meninggalkan Allah.
Orang zuhud boleh memiliki kendaraan.
Tetapi kendaraan tidak membuatnya sombong.
Orang zuhud boleh memiliki jabatan.
Tetapi jabatan tidak membuatnya zalim.
Orang zuhud boleh kaya.
Tetapi kekayaannya digunakan sebagai jalan menuju Allah.
19. EMPAT PERTANYAAN UNTUK MENGUJI HUBUNGAN KITA DENGAN DUNIA
Jamaah...
Coba kita bertanya kepada diri sendiri.
Pertanyaan pertama:
Kalau Allah memberi saya harta lebih banyak, apakah iman saya semakin kuat?
Kalau iya, alhamdulillah.
Pertanyaan kedua:
Kalau Allah mengurangi harta saya, apakah saya masih bisa bersyukur?
Kalau iya, itu tanda hati sedang belajar kepada Allah.
Pertanyaan ketiga:
Kalau saya kehilangan jabatan, apakah saya masih merasa bernilai sebagai hamba Allah?
Pertanyaan keempat:
Kalau semua manusia tidak lagi memuji saya, apakah saya masih merasa cukup dengan penilaian Allah?
[diam]
Itulah ujian dunia.
20. UNTUK PARA ORANG TUA
Bapak-Ibu yang dirahmati Allah...
Jangan hanya mewariskan harta kepada anak.
Wariskan juga iman.
Jangan hanya mempersiapkan anak mendapatkan pekerjaan.
Persiapkan mereka menghadap kematian.
Jangan hanya bertanya:
“Nak, nanti kamu mau jadi apa?”
Tetapi tanyakan juga:
“Nak, nanti kalau Allah memanggilmu, apa yang sudah kamu persiapkan?”
Jangan hanya mengajarkan anak bagaimana menjadi kaya.
Ajarkan mereka bagaimana menjadi orang kaya yang bersyukur.
Jangan hanya mengajarkan bagaimana mendapatkan dunia.
Ajarkan bagaimana menggunakan dunia untuk mendapatkan akhirat.
Karena dunia akan menjadi hisyam, akan menjadi hancur.
Tetapi amal saleh akan menjadi bekal.
21. UNTUK PARA GURU DAN PENDIDIK
Bapak-Ibu guru...
Jabatan guru juga dunia.
Nama baik juga dunia.
Penghargaan juga dunia.
Bahkan pujian murid juga dunia.
Maka jangan sampai seorang guru mengajar hanya agar dipuji.
Ajarkan ilmu karena Allah.
Sebab mungkin suatu hari nama kita dilupakan.
Tetapi ilmu yang pernah kita ajarkan masih diamalkan oleh murid.
Dan ketika murid itu mengajarkan kepada orang lain...
pahalanya terus mengalir dengan izin Allah.
Itulah dunia yang kita jadikan jalan menuju akhirat.
22. UNTUK KITA SEMUA: JANGAN TUNGGU DUNIA HANCUR BARU INGAT ALLAH
Jamaah...
Sering kali manusia baru ingat Allah ketika:
sakit,
bangkrut,
kehilangan pekerjaan,
kehilangan orang yang dicintai,
ditimpa musibah,
terbaring di rumah sakit.
Padahal seharusnya...
ketika sehat kita sudah ingat Allah.
Ketika kaya kita sudah ingat Allah.
Ketika punya jabatan kita sudah ingat Allah.
Ketika bahagia kita sudah ingat Allah.
Ketika keluarga lengkap kita sudah ingat Allah.
Jangan menunggu tanaman menjadi kering baru mencari Tuhan.
23. KESIMPULAN BESAR QS. AL-KAHF AYAT 45
Jamaah yang dirahmati Allah...
Kalau kita ringkas ayat ini, ada lima pelajaran besar.
PERTAMA
Dunia memang indah.
Jangan menyangkalnya.
Tetapi keindahan itu sementara.
KEDUA
Dunia mengalami perubahan.
Tidak ada keadaan yang kekal.
KETIGA
Dunia tidak layak menjadi tujuan akhir.
Karena dunia akan berakhir.
KEEMPAT
Jangan sombong ketika sedang memiliki.
Karena apa yang kita punya adalah amanah.
KELIMA
Gunakan dunia untuk membeli akhirat.
Harta yang digunakan untuk kebaikan akan menjadi bekal.
Ilmu yang diamalkan akan menjadi bekal.
Anak yang saleh akan menjadi bekal.
Sedekah akan menjadi bekal.
Wakaf akan menjadi bekal.
Dakwah akan menjadi bekal.
24. RENUNGAN PENUTUP
[suara perlahan]
Jamaah yang dirahmati Allah...
Mari kita bayangkan...
Suatu hari...
rumah kita masih ada...
tetapi kita sudah tidak ada.
Mobil kita masih ada...
tetapi kita sudah tidak mengendarainya.
Pakaian kita masih tersimpan...
tetapi tubuh kita sudah dibungkus kain kafan.
Rekening kita masih memiliki saldo...
tetapi tangan kita sudah tidak bisa mengambilnya.
Foto kita masih ada di handphone anak-anak...
tetapi kita sudah berada di dalam tanah.
Nama kita masih disebut...
tetapi kita sudah tidak bisa menjawab.
Kemudian...
semua yang kita kumpulkan di dunia berhenti.
Yang ikut bersama kita hanyalah amal.
[diam]
Pada saat itu...
kita akan memahami dengan sangat jelas:
Ternyata dunia memang seperti tanaman.
Tumbuh.
Indah.
Kemudian layu.
Kemudian hancur.
Kemudian diterbangkan angin.
25. MAKA, APA YANG HARUS KITA LAKUKAN?
Jangan meninggalkan dunia.
Tetapi jangan diperbudak dunia.
Bekerjalah.
Tetapi jangan tinggalkan salat.
Carilah harta.
Tetapi jangan tinggalkan halal-haram.
Bangunlah rumah.
Tetapi bangun juga rumah di surga dengan amal.
Didiklah anak.
Tetapi jangan lupa mendidik hati.
Bangun usaha.
Tetapi bangun juga akhirat.
Carilah kesuksesan.
Tetapi jangan definisikan sukses hanya dengan uang.
Karena Allah sudah memberikan definisi kemenangan:
فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ
“Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia telah memperoleh kemenangan.”
PENUTUP
Jamaah yang dimuliakan Allah...
Semoga Allah memberikan kita dunia yang cukup di tangan...
tetapi akhirat yang besar di hati.
Semoga Allah memberikan kita harta yang halal...
tetapi tidak menjadikan harta itu sebagai sesembahan.
Semoga Allah memberikan kita keluarga yang bahagia...
tetapi tidak menjadikan keluarga sebagai alasan melupakan Allah.
Semoga Allah memberikan kita kesehatan...
tetapi kesehatan itu kita gunakan untuk beribadah.
Semoga Allah memberikan kita umur panjang...
tetapi umur panjang yang penuh amal saleh.
Dan ketika datang saatnya...
semoga kita meninggalkan dunia dalam keadaan Allah ridha kepada kita.
Karena pada akhirnya...
bukan siapa yang paling kaya yang menang.
Bukan siapa yang paling terkenal yang menang.
Bukan siapa yang paling banyak pengikut yang menang.
Bukan siapa yang paling tinggi jabatannya yang menang.
Tetapi...
siapa yang ketika dunia meninggalkannya, Allah tetap bersamanya.
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا.
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا قَلْبًا زَاهِدًا فِي الدُّنْيَا، رَاغِبًا فِي الْآخِرَةِ.
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا مَالًا حَلَالًا طَيِّبًا، وَبَارِكْ لَنَا فِيهِ، وَاجْعَلْهُ عَوْنًا لَنَا عَلَى طَاعَتِكَ.
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا فِي قُلُوبِنَا، وَاجْعَلْهَا فِي أَيْدِينَا.
اللَّهُمَّ اخْتِمْ لَنَا بِالْإِيمَانِ وَالْإِسْلَامِ، وَارْزُقْنَا حُسْنَ الْخَاتِمَةِ.
اللَّهُمَّ أَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ بِرَحْمَتِكَ، وَأَجِرْنَا مِنَ النَّارِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَصَلَّى اللَّهُ عَلَىٰ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
CATATAN RUJUKAN / FOOTNOTE
[^1] Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di, Taisīr al-Karīm ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān, tafsir QS. Al-Kahf: 45. As-Sa'di menjelaskan perumpamaan dunia sebagai sesuatu yang awalnya indah dan memikat, kemudian menjadi hancur dan hilang; beliau mengajak manusia membandingkan dunia yang fana dengan akhirat yang kekal.
[^2] Muslim bin al-Hajjaj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb ar-Riqāq, no. 2742: إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ... “Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau...”
[^3] Muslim bin al-Hajjaj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb az-Zuhd wa ar-Raqā'iq, hadis tentang “مَالِي مَالِي”; diriwayatkan pula dalam Sunan at-Tirmidzi no. 2342. Makna hadis menjelaskan bahwa bagian harta yang benar-benar menjadi bekal seseorang adalah apa yang ia konsumsi, gunakan hingga habis, atau sedekahkan sebagai amal.
[^4] Muslim bin al-Hajjaj, Ṣaḥīḥ Muslim, no. 2956, dari Abu Hurairah رضي الله عنه: الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ.
Rujukan tafsir utama:
- Muhammad bin Jarir Ath-Thabari, Jāmi' al-Bayān 'an Ta'wīl Āy al-Qur'ān, tafsir QS. Al-Kahf: 45. Ath-Thabari menjelaskan makna perumpamaan air, tumbuhan yang menjadi kering, dan angin yang menerbangkannya serta menekankan kefanaan dunia.
- Ismail bin Umar Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur'ān al-'Aẓīm, tafsir QS. Al-Kahf: 45. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa perumpamaan tersebut menunjukkan زوالها وفنائها وانقضائها — hilangnya, binasanya, dan berakhirnya dunia.
- Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi, Al-Jāmi' li Aḥkām al-Qur'ān, tafsir QS. Al-Kahf: 45. Al-Qurthubi menjelaskan bahwa ayat ini merupakan perumpamaan kehidupan dunia, khususnya sebagai peringatan bagi orang-orang yang tertipu oleh kesombongan dan kemegahan dunia.
Post a Comment