Allah Tuhanku dan Tuhanmu: Menguatkan Tauhid dan Menapaki Jalan yang Lurus
Materi Ceramah Tafsir Surah Maryam Ayat 36
Tema: “Allah Tuhanku dan Tuhanmu: Menguatkan Tauhid dan Menapaki Jalan yang Lurus”
A. Teks ayat dan terjemahannya
QS Maryam \[19\]: 36
وَإِنَّ اللّٰهَ رَبِّيْ وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوْهُ ۗ هٰذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيْمٌ
Terjemahan:
“Dan sesungguhnya Allah itu Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia. Ini adalah jalan yang lurus.”
Ayat ini merupakan kelanjutan dari ucapan Nabi Isa عليه السلام yang disebutkan dalam Surah Maryam ayat 30–33. Setelah menjelaskan bahwa dirinya adalah hamba Allah dan seorang nabi, Nabi Isa menegaskan bahwa Allah adalah Tuhannya dan Tuhan kaumnya. Karena itu, mereka diperintahkan untuk menyembah Allah semata.
Ada tiga pesan utama dalam ayat ini:
* وَإِنَّ اللّٰهَ رَبِّيْ وَرَبُّكُمْ — Allah adalah Tuhan Nabi Isa dan seluruh manusia.
* فَاعْبُدُوْهُ — Hanya Allah yang berhak disembah.
* هٰذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيْمٌ — Tauhid dan ibadah kepada Allah merupakan jalan yang lurus.
B. Muqaddimah ceramah
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, serta menjaga kemurnian akidah kita.
Pada kesempatan ini, kita akan merenungkan firman Allah dalam Surah Maryam ayat 36. Ayat ini mengandung kalimat yang sangat mendasar bagi kehidupan seorang mukmin: Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia.
Kalimat tersebut mengajarkan bahwa ibadah bukan sekadar rutinitas, melainkan pengakuan bahwa hidup kita berada dalam kekuasaan Allah. Kita berasal dari ciptaan-Nya, membutuhkan pertolongan-Nya, dan akan kembali kepada-Nya.
Nabi Isa عليه السلام mengucapkan kalimat ini untuk meluruskan pemahaman kaumnya. Walaupun beliau dilahirkan tanpa ayah melalui kejadian yang luar biasa, beliau tetap hamba Allah dan utusan-Nya. Keajaiban kelahiran tidak mengubah kedudukan beliau menjadi Tuhan yang disembah.
Dari sini kita belajar bahwa jalan keselamatan bukanlah mengagungkan makhluk melampaui batas, melainkan mengenal Allah, menyembah-Nya, dan mengikuti petunjuk para rasul-Nya.
C. Tafsir tahlili: Penjelasan mendalam ayat 36
1\. وَإِنَّ اللّٰهَ رَبِّيْ وَرَبُّكُمْ
“Dan sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu.”
Kalimat ini menegaskan bahwa Nabi Isa عليه السلام adalah hamba Allah. Allah merupakan Tuhan yang menciptakan, memiliki, memelihara, dan mengatur seluruh alam. Nabi Isa, Maryam, para nabi terdahulu, para pengikut mereka, dan seluruh manusia berada di bawah kekuasaan Allah.
Kelahiran Nabi Isa tanpa ayah merupakan mukjizat yang menunjukkan kekuasaan Allah. Namun, mukjizat tersebut tidak menjadikan beliau sebagai Tuhan. Nabi Isa sendiri menegaskan bahwa Allah adalah Tuhannya dan Tuhan kaumnya.
Dalil Al-Qur’an 1: Nabi Isa mengakui dirinya sebagai hamba Allah
QS Maryam \[19\]: 30
قَالَ إِنِّيْ عَبْدُ اللّٰهِ اٰتٰىنِيَ الْكِتٰبَ وَجَعَلَنِيْ نَبِيًّا
Dia (Isa) berkata, “Sesungguhnya aku hamba Allah. Dia memberiku Kitab (Injil) dan menjadikan aku seorang nabi.”
Ulasan: Nabi Isa memulai penjelasannya dengan menyebut dirinya sebagai ‘abdullāh, hamba Allah. Kedudukan sebagai hamba bukanlah kehinaan bagi seorang nabi. Justru itulah kedudukan yang mulia: mengakui kebesaran Allah, menaati perintah-Nya, dan menjalankan tugas kenabian.
Kita juga belajar bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh pengakuan manusia, kekayaan, jabatan, atau kedudukan sosial, melainkan oleh iman, ketakwaan, dan ketaatan kepada Allah.
Dalil Al-Qur’an 2: Allah adalah Pencipta segala sesuatu
QS Az-Zumar \[39\]: 62
اللّٰهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ ۖ وَّهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ وَّكِيْلٌ
Allah Pencipta segala sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu.
Allah adalah Pencipta, sedangkan segala sesuatu selain-Nya adalah ciptaan. Karena itu, makhluk tidak boleh diberi kedudukan sebagai Tuhan atau disembah bersama Allah.
Pengakuan bahwa Allah adalah Rabb tidak cukup hanya diucapkan. Pengakuan tersebut harus melahirkan ketaatan, rasa syukur, tawakal, dan kesediaan mengikuti petunjuk-Nya.
2\. فَاعْبُدُوْهُ
“Maka sembahlah Dia.”
Kata fa‘budūhu merupakan perintah untuk beribadah kepada Allah. Huruf fa menghubungkan pengakuan bahwa Allah adalah Tuhan dengan kewajiban menyembah-Nya. Karena Allah adalah Pencipta dan Pengatur seluruh makhluk, maka hanya Dia yang berhak menerima ibadah.
Ibadah mencakup ibadah lahiriah, seperti salat, puasa, zakat, dan haji, serta ibadah hati, seperti ikhlas, takut kepada Allah, berharap rahmat-Nya, mencintai-Nya, dan bertawakal kepada-Nya.
Berbakti kepada orang tua, menolong sesama, mencari nafkah halal, dan mendidik anak juga dapat bernilai ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar dan sesuai tuntunan syariat.
Dalil Al-Qur’an 3: Tujuan penciptaan manusia adalah beribadah kepada Allah
QS Adz-Dzariyat \[51\]: 56
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.
Ayat ini menjelaskan tujuan utama kehidupan manusia: beribadah kepada Allah. Artinya, kehidupan tidak semata-mata untuk mengejar harta, jabatan, popularitas, atau kesenangan dunia. Semua itu harus ditempatkan dalam batas yang diridai Allah.
Kita boleh bekerja, belajar, berusaha, dan meraih prestasi, tetapi jangan sampai kesibukan dunia membuat kita meninggalkan salat, menghalalkan cara yang haram, atau melupakan tanggung jawab kepada keluarga.
Dalil Al-Qur’an 4: Perintah menyembah Allah dan menjauhi tagut
QS An-Nahl \[16\]: 36
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُوْلًا أَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَ
Sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah dan jauhilah tagut.”
Ayat ini menunjukkan bahwa inti dakwah para rasul adalah tauhid: menyembah Allah semata dan menjauhi segala bentuk penghambaan kepada selain-Nya. Tagut mencakup segala sesuatu yang melampaui batas dan disembah atau ditaati dalam kebatilan, sesuai penjelasan para ulama.
Menyembah Allah juga berarti tidak menjadikan hawa nafsu sebagai penguasa yang mengalahkan perintah-Nya. Ketika seseorang mengetahui kebenaran tetapi sengaja meninggalkannya demi keuntungan sesaat, ia perlu memeriksa kembali siapa yang paling ditaatinya.
3\. هٰذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيْمٌ
“Ini adalah jalan yang lurus.”
Jalan yang lurus adalah jalan tauhid, ibadah kepada Allah, dan ketaatan kepada para rasul. Jalan ini tidak dibangun berdasarkan hawa nafsu, dugaan, atau tradisi yang bertentangan dengan wahyu, tetapi berdasarkan petunjuk Allah.
Jalan yang lurus juga menuntut keseimbangan: beriman tanpa berlebihan, beribadah dengan ilmu, berakhlak kepada sesama, dan menunaikan hak Allah serta hak manusia.
Dalil Al-Qur’an 5: Memohon petunjuk jalan yang lurus
QS Al-Fatihah \[1\]: 6–7
اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ ۙ ٦
Tunjukilah kami jalan yang lurus.
صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّآلِّيْنَ ٧
(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
Setiap hari kita memohon petunjuk jalan yang lurus dalam salat. Ini menunjukkan bahwa seorang mukmin selalu membutuhkan bimbingan Allah. Ilmu yang dimiliki hari ini tidak menjamin seseorang akan selalu benar esok hari apabila ia tidak menjaga keikhlasan, ketakwaan, dan kesediaan menerima nasihat.
Maka, jangan merasa cukup dengan pengetahuan agama yang sudah dimiliki. Teruslah belajar, memperbaiki diri, dan memohon agar Allah meneguhkan hati kita di atas kebenaran.
D. Dalil dari Sunnah Rasulullah ﷺ
1\. Hak Allah atas hamba-Nya
Rasulullah ﷺ bersabda kepada Mu‘adz bin Jabal رضي الله عنه:
حَقُّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا
Terjemahan:
“Hak Allah atas para hamba adalah mereka menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.”
Sumber: Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-Jihād wa as-Siyar, hadis tentang Mu‘adz bin Jabal; juga diriwayatkan dalam Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Īmān, hadis no. 30 dalam penomoran yang umum digunakan.
Ulasan: Hadis ini menjelaskan inti dari perintah fa‘budūhu. Allah memiliki hak untuk disembah dengan ikhlas dan tanpa mempersekutukan-Nya. Tauhid bukan hanya meyakini bahwa Allah adalah Pencipta, tetapi juga mengarahkan seluruh ibadah kepada-Nya.
Seorang muslim hendaknya memeriksa niatnya: apakah salatnya karena Allah, apakah sedekahnya dilakukan dengan ikhlas, dan apakah amal baiknya tidak semata-mata untuk pujian manusia.
2\. Fondasi agama: mengesakan Allah dan menjalankan kewajiban
Dari Ibnu Umar رضي الله عنهما, Rasulullah ﷺ bersabda:
بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالْحَجِّ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ
Terjemahan:
“Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, menunaikan zakat, berhaji, dan berpuasa Ramadan.”
Sumber: Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, hadis no. 8; Ṣaḥīḥ Muslim, hadis no. 16.
Ulasan: Tauhid menjadi fondasi agama, kemudian diwujudkan dalam ibadah dan kewajiban yang telah ditetapkan. Pengakuan lisan perlu dibuktikan dengan ketaatan. Karena itu, jalan yang lurus bukan sekadar mengetahui kebenaran, melainkan juga berusaha mengamalkannya secara konsisten.
3\. Menjaga istiqamah di atas jalan yang lurus
Dari Sufyan bin Abdullah ats-Tsaqafi رضي الله عنه, ia berkata bahwa dirinya meminta kepada Rasulullah ﷺ agar diberi satu ajaran Islam yang tidak perlu ia tanyakan lagi kepada orang lain. Rasulullah ﷺ bersabda:
قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ
Terjemahan:
“Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah,’ kemudian beristiqamahlah.”
Sumber: Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Īmān, hadis no. 38.
Ulasan: Istiqamah berarti teguh di atas iman dan ketaatan. Bukan berarti seseorang tidak pernah melakukan kesalahan, melainkan ia berusaha terus menaati Allah, segera bertobat ketika tergelincir, dan tidak menjadikan dosa sebagai kebiasaan yang dibanggakan.
Jalan yang lurus membutuhkan keteguhan hati, ilmu, lingkungan yang baik, dan pertolongan Allah. Karena itu, kita perlu menjaga salat, membaca Al-Qur’an, menghadiri majelis ilmu, dan berteman dengan orang-orang yang mengingatkan kepada kebaikan.
E. Penjelasan dan ulasan para ulama tafsir
1\. Imam Ath-Thabari
Dalam Jāmi‘ al-Bayān, Ath-Thabari menjelaskan frasa:
وَإِنَّ اللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ
Terjemahan:
“Dan sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia.”
Ath-Thabari membahas ayat ini dalam konteks perintah Nabi Isa kepada kaumnya untuk mengakui Allah sebagai Tuhan mereka dan menyembah-Nya. Ayat ini menjadi penegasan bahwa dakwah Nabi Isa mengarahkan manusia kepada Allah, bukan kepada penyembahan terhadap dirinya.
Ulasan: Seorang rasul tidak mengajak manusia menjadikan dirinya sebagai tujuan ibadah. Ia mengajak manusia mengenal dan menaati Allah. Karena itu, menghormati nabi harus diwujudkan dengan menerima ajaran yang mereka bawa.
2\. Imam Ibnu Katsir
Ibnu Katsir menerangkan:
فَاعْبُدُوهُ هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ
Terjemahan:
“Maka sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus.”
هَذَا الَّذِي جِئْتُكُمْ بِهِ عَنِ اللَّهِ صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ، أَيْ قَوِيمٌ، مَنِ اتَّبَعَهُ رَشَدَ وَهُدِيَ، وَمَنْ خَالَفَهُ ضَلَّ وَغَوَى
Terjemahan makna:
“Ajaran yang aku bawa kepada kalian dari Allah adalah jalan yang lurus, yakni jalan yang benar. Siapa yang mengikutinya akan memperoleh petunjuk, sedangkan siapa yang menyelisihinya akan tersesat.”
Ulasan: Menurut Ibnu Katsir, jalan yang lurus adalah ajaran yang dibawa Nabi Isa dari Allah: menyembah Allah dan menaati petunjuk-Nya. Jalan tersebut bukan sekadar pendapat pribadi seorang nabi, tetapi bagian dari wahyu yang harus disampaikan kepada kaumnya.
Dari penjelasan ini, kita memperoleh pelajaran bahwa kebenaran tidak ditentukan oleh banyaknya orang yang mengikuti suatu pendapat. Ukurannya adalah kesesuaiannya dengan petunjuk Allah dan ajaran rasul-Nya.
3\. Tafsir As-Sa‘di
Dalam menjelaskan ayat ini, As-Sa‘di menekankan bahwa Allah adalah Tuhan seluruh makhluk dan perintah untuk beribadah kepada-Nya merupakan jalan yang lurus.
فَاعْبُدُوهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ
Terjemahan makna:
“Maka sembahlah Dia semata, tidak ada sekutu bagi-Nya.”
Ulasan: Penekanan ini mengingatkan kita bahwa ibadah harus ditujukan kepada Allah dengan ikhlas. Amal yang tampak baik perlu disertai niat yang benar dan dilakukan sesuai tuntunan agama.
Catatan: Redaksi Arab pada bagian ini disajikan sebagai ringkasan makna penjelasan tafsir, bukan kutipan panjang yang diklaim verbatim dari edisi tertentu. Untuk penelusuran, lihat Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān, tafsir QS Maryam \[19\]: 36.
4\. Tafsir Al-Qurthubi
Al-Qurthubi membahas perintah beribadah kepada Allah dan makna ṣirāṭ mustaqīm sebagai jalan yang benar dan tidak menyimpang.
هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ
Terjemahan:
“Inilah jalan yang lurus.”
Ulasan: Jalan yang lurus mengandung makna kebenaran dan keteguhan dalam mengikuti petunjuk Allah. Seseorang tidak cukup mengaku beriman, tetapi perlu membuktikan imannya melalui ibadah, akhlak, dan ketaatan.
Rujukan: Al-Qurthubi, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir QS Maryam \[19\]: 36.
F. Menghubungkan ayat 36 dengan kehidupan sehari-hari
Ayat ini bukan hanya berbicara tentang keyakinan, tetapi juga tentang bagaimana kita menjalani kehidupan.
* Di rumah: orang tua mendidik anak agar mengenal Allah, menjaga salat, berkata jujur, dan menghormati sesama.
* Di sekolah: guru mengajar dengan amanah, sedangkan murid belajar dengan sungguh-sungguh, menghormati guru, dan tidak menyontek.
* Di tempat kerja: seseorang mencari rezeki yang halal, tidak menipu, dan tidak mengorbankan kewajiban agama demi keuntungan.
* Di tengah masyarakat: seorang muslim berlaku adil, menepati janji, membantu orang yang membutuhkan, dan tidak merendahkan orang lain.
* Dalam menghadapi masalah: ia berikhtiar, berdoa, meminta nasihat yang baik, dan bertawakal kepada Allah.
Semua contoh tersebut dapat menjadi bagian dari pengamalan iman apabila dilakukan dengan niat yang benar dan sesuai tuntunan syariat.
G. Pelajaran utama Surah Maryam ayat 36
* Tauhid adalah fondasi kehidupan. Allah adalah Tuhan seluruh makhluk dan hanya Dia yang berhak disembah.
* Kemuliaan Nabi Isa tidak mengubah kedudukan beliau sebagai hamba Allah. Mukjizat merupakan tanda kekuasaan Allah.
* Ibadah mencakup seluruh kehidupan. Ibadah ritual harus berjalan bersama kejujuran, amanah, dan akhlak yang baik.
* Jalan yang lurus membutuhkan ilmu. Kita harus mempelajari Al-Qur’an, Sunnah, dan penjelasan ulama yang dapat dipercaya.
* Istiqamah adalah perjuangan berkelanjutan. Ketika melakukan kesalahan, kita segera bertobat dan memperbaiki diri.
* Dakwah harus mengajak kepada Allah. Menghormati para nabi berarti mengikuti petunjuk yang mereka sampaikan, bukan melampaui batas dalam memuliakan mereka.
H. Naskah penutup ceramah
Jamaah yang dirahmati Allah,
Marilah kita renungkan kembali firman Allah dalam Surah Maryam ayat 36:
وَإِنَّ اللّٰهَ رَبِّيْ وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوْهُ ۗ هٰذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيْمٌ
“Dan sesungguhnya Allah itu Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia. Ini adalah jalan yang lurus.”
Nabi Isa عليه السلام mengajarkan kepada kaumnya bahwa Allah adalah Tuhan mereka dan Tuhan beliau. Karena itu, mereka diperintahkan menyembah Allah semata. Inilah pesan tauhid yang dibawa oleh para nabi: manusia hendaknya mengenal Penciptanya, menaati perintah-Nya, dan menjauhi segala bentuk penyimpangan.
Jamaah sekalian,
Jangan sampai kita hanya pandai berbicara tentang agama, tetapi lalai menjalankannya. Jangan sampai kita rajin beribadah, tetapi masih merugikan orang lain. Jangan sampai kita mengaku bertawakal, tetapi tidak mau berusaha. Dan jangan sampai kita mengaku berada di jalan yang lurus, tetapi menolak nasihat dan enggan memperbaiki diri.
Jalan yang lurus harus kita tempuh dengan ilmu, iman, ibadah, akhlak, dan istiqamah. Ketika kita terjatuh dalam kesalahan, jangan berputus asa. Bertobatlah, perbaiki diri, dan kembali kepada Allah.
Mari kita jadikan rumah kita tempat tumbuhnya iman, sekolah kita tempat berkembangnya ilmu dan akhlak, serta masyarakat kita tempat tersebarnya kebaikan. Semoga setiap langkah kehidupan kita menjadi bagian dari pengabdian kepada Allah.
I. Doa penutup
اللّٰهُمَّ يَا رَبَّنَا، يَا رَبَّ عِيسَى وَرَبَّ مُحَمَّدٍ وَرَبَّ الْعَالَمِينَ، ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَاهْدِنَا صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ.
اللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُخْلِصِينَ، وَمِنَ الْمُتَّقِينَ الصَّادِقِينَ، وَمِنَ الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ.
اللّٰهُمَّ أَصْلِحْ عَقِيدَتَنَا، وَطَهِّرْ قُلُوبَنَا، وَزَكِّ أَنْفُسَنَا، وَحَسِّنْ أَخْلَاقَنَا، وَبَارِكْ فِي أَعْمَالِنَا وَأَهْلِينَا وَأَوْلَادِنَا.
اللّٰهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْمُسْتَقِيمِينَ عَلَى طَاعَتِكَ حَتَّى نَلْقَاكَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَصَلَّى اللّٰهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
J. Catatan kaki dan daftar kitab rujukan
* Ath-Thabari, Muhammad bin Jarir. Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS Maryam \[19\]: 36. Teks dapat ditelusuri melalui [Tafsir Ath-Thabari, Surah Maryam ayat 36].
* Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS Maryam \[19\]: 36. Lihat [Tafsir Ibnu Katsir, Surah Maryam ayat 36].
* Al-Qurthubi, Muhammad bin Ahmad. Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir QS Maryam \[19\]: 36.
* As-Sa‘di, Abdurrahman bin Nashir. Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān, tafsir QS Maryam \[19\]: 36.
* Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, hadis tentang hak Allah atas hamba-Nya dan hadis rukun Islam.
* Muslim bin al-Hajjaj. Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Īmān, hadis tentang hak Allah atas hamba-Nya dan hadis tentang istiqamah.
Post a Comment