Menjaga Kehormatan Diri dan Berlindung kepada Allah:Keteguhan Maryam Menghadapi Ujian
MATERI CERAMAH TAFSIR AL-QUR’AN
SURAH MARYAM AYAT 18
Menjaga Kehormatan Diri dan Berlindung kepada
Allah:
Keteguhan Maryam Menghadapi Ujian
قَالَتْ إِنِّي أَعُوذُ بِالرَّحْمَٰنِ مِنْكَ إِنْ كُنْتَ تَقِيًّا
“Dia (Maryam) berkata, ‘Sungguh, aku berlindung kepada Tuhan Yang Maha Pengasih terhadapmu, jika engkau orang yang bertakwa.’” (QS. Maryam [19]: 18)
Materi ceramah siap disampaikan • Tafsir tahlili • Dalil Al-Qur’an dan Sunnah • Ulasan ulama • Catatan kaki dan daftar rujukan
A. Muqaddimah
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah kaum muslimin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Takwa bukan hanya tampak ketika seseorang berada di tengah keramaian, mengenakan pakaian yang baik, atau berbicara dengan kata-kata yang indah. Takwa yang sesungguhnya juga terlihat ketika seseorang berada sendirian, menghadapi godaan, dan mempunyai kesempatan untuk berbuat maksiat, tetapi memilih untuk menjaga dirinya karena takut kepada Allah.
Pada kesempatan ini, marilah kita merenungkan satu ayat yang sangat dalam maknanya, yaitu Surah Maryam ayat 18. Ayat ini mengisahkan keberanian seorang perempuan salehah, Maryam binti Imran, ketika berhadapan dengan sosok laki-laki yang tidak dikenalnya.
Maryam tidak mengetahui apa yang akan terjadi. Beliau menghadapi keadaan yang mengejutkan dan berpotensi membahayakan kehormatannya. Namun, yang pertama kali keluar dari lisannya bukanlah kesombongan, bukan pula keberanian yang bersandar pada kekuatan dirinya sendiri. Beliau segera berlindung kepada Allah Yang Maha Pengasih.
Dari peristiwa ini, kita belajar bahwa menjaga kehormatan dimulai dengan kesadaran kepada Allah, keberanian menetapkan batas, dan keteguhan mempertahankan kebenaran.
B. Teks Ayat dan Terjemahannya
|
QS. Maryam [19]: 18 |
قَالَتْ إِنِّي أَعُوذُ بِالرَّحْمَٰنِ مِنْكَ إِنْ كُنْتَ تَقِيًّا
Artinya: “Dia (Maryam) berkata, ‘Sungguh, aku berlindung kepada Tuhan Yang Maha Pengasih terhadapmu, jika engkau orang yang bertakwa.’”
Ayat ini merupakan kelanjutan dari ayat sebelumnya. Allah menjelaskan bahwa Maryam mengambil tabir atau pemisah dari keluarganya, kemudian Allah mengutus Ruh-Nya kepadanya dalam rupa seorang manusia yang sempurna. Ketika melihat sosok tersebut, Maryam segera menyatakan perlindungan dirinya kepada Allah.
Untuk memahami ayat ini secara mendalam, kita akan membahas makna isti‘adzah, kedudukan nama Ar-Rahman, kehormatan perempuan, hak menetapkan batas, serta hubungan antara takwa dan perilaku nyata.
C. Tafsir Tahlili: Mengurai Makna Ayat Kata demi Kata
1. قَالَتْ — “Dia (Maryam) berkata”
Kata qālat menunjukkan bahwa Maryam merespons keadaan yang mengejutkan dengan perkataan yang jelas. Beliau tidak diam membiarkan ketakutannya menguasai diri, tetapi segera menyampaikan sikapnya.
فَخَافَتْ مَرْيَمُ رَسُولَنَا إِذْ تَمَثَّلَ لَهَا بَشَرًا سَوِيًّا، وَظَنَّتْهُ رَجُلًا يُرِيدُهَا عَلَى نَفْسِهَا
Artinya: “Maka Maryam merasa takut kepada utusan Kami ketika ia menjelma di hadapannya sebagai manusia yang sempurna, dan Maryam mengiranya sebagai seorang laki-laki yang hendak menguasai dirinya.”¹
Penjelasan ini membantu kita memahami bahwa ketakutan Maryam bukanlah tanda kelemahan iman. Beliau belum mengetahui identitas sosok tersebut. Karena itu, beliau mengambil sikap waspada yang wajar.
Pelajaran untuk jamaah: orang saleh tidak harus mengabaikan kewaspadaan. Keimanan bukan berarti seseorang membiarkan dirinya berada dalam bahaya. Seorang mukmin berdoa kepada Allah sekaligus mengambil langkah yang bijaksana untuk melindungi dirinya.
2. إِنِّي أَعُوذُ — “Sungguh, aku berlindung”
Kata a‘ūdzu berasal dari kata Arab عَاذَ – يَعُوذُ yang bermakna berlindung, mencari perlindungan, atau meminta penjagaan dari sesuatu yang dikhawatirkan.
Maryam tidak menjadikan kekuatan fisik sebagai sandaran utamanya. Beliau segera mengarahkan hati kepada Allah. Di sinilah letak pendidikan tauhid yang mendalam: manusia boleh berikhtiar, tetapi hatinya tidak boleh terputus dari Allah.
|
QS. An-Nahl [16]: 98 |
فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Artinya: “Maka apabila engkau (Muhammad) hendak membaca Al-Qur’an, mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.”
Ayat tersebut memerintahkan isti‘adzah dalam konteks membaca Al-Qur’an. Adapun kisah Maryam menunjukkan contoh lain tentang seorang hamba yang mengingat Allah ketika menghadapi ketakutan. Keduanya mengajarkan pentingnya kembali kepada Allah, meskipun situasi dan konteksnya berbeda.
Hadis tentang memohon perlindungan Allah:
أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
Artinya: “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang Dia ciptakan.” (HR. Muslim, no. 2708).
Doa ini menunjukkan bahwa seorang muslim boleh memohon perlindungan Allah dari keburukan makhluk-Nya. Namun, membaca doa tidak menggantikan kewajiban mengambil langkah keselamatan yang diperlukan.
Renungan mimbar: Ketika ketakutan datang, ke mana hati kita berlari? Ketika menghadapi ancaman, apakah kita hanya mengandalkan manusia? Ketika menghadapi godaan, apakah kita hanya mengandalkan tekad? Maryam mengajarkan agar hati terlebih dahulu kembali kepada Allah.
3. بِالرَّحْمَٰنِ — “Kepada Tuhan Yang Maha Pengasih”
Nama Ar-Rahman menegaskan keluasan rahmat Allah. Maryam menghadapi situasi yang belum dipahami, tetapi beliau mengetahui bahwa rahmat dan perlindungan Allah adalah tempat bersandar yang paling kuat.
|
QS. Al-A‘raf [7]: 156 — bagian ayat |
وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ
Artinya: “Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.”
Ayat ini menerangkan keluasan rahmat Allah. Bagi seorang hamba yang berada dalam ketakutan, keyakinan terhadap rahmat Allah menumbuhkan harapan, keteguhan, dan keberanian untuk bertindak benar.
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Maryam menyebut Allah ketika menghadapi sosok yang belum dikenalnya. Mengingatkan seseorang kepada Allah merupakan langkah awal yang baik dalam menghadapi ancaman, sebelum menggunakan langkah lain yang diperlukan.²
Pelajarannya: nama-nama Allah bukan sekadar lafaz yang diucapkan, melainkan sumber penguatan iman. Ketika menyebut Ar-Rahman, seorang hamba mengingat kasih sayang Allah, pertolongan-Nya, dan kewajiban untuk tetap menjaga diri dalam ketaatan.
4. مِنْكَ — “Terhadapmu” atau “darimu”
Kata minka menunjukkan bahwa Maryam meminta perlindungan dari bahaya yang beliau khawatirkan datang melalui sosok yang berada di hadapannya. Ini menjadi pelajaran tentang batas pribadi dan kehormatan diri.
Maryam tidak menunggu sampai terjadi pelanggaran. Beliau segera mengungkapkan sikapnya ketika merasa terancam. Dalam kehidupan sekarang, prinsip ini dapat diterapkan ketika seseorang menghadapi perilaku yang mengganggu, pelecehan, tekanan, atau ajakan yang bertentangan dengan syariat.
|
QS. Al-Isra’ [17]: 32 |
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَىٰ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
Artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya (zina) itu adalah perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.”
Allah tidak hanya melarang zina, tetapi juga melarang mendekatinya. Islam mengajarkan pencegahan: menjauhi jalan, keadaan, dan perilaku yang dapat mengantarkan kepada perbuatan haram.
Ayat ini tidak boleh digunakan untuk menyalahkan korban pelecehan atau kekerasan. Orang yang melakukan pelanggaran tetap bertanggung jawab atas perbuatannya. Menjaga diri adalah prinsip syariat, sedangkan kesalahan pelaku tidak dapat dibebankan kepada korban.
5. إِنْ كُنْتَ تَقِيًّا — “Jika engkau orang yang bertakwa”
Maryam mengingatkan sosok yang di hadapannya bahwa ketakwaan semestinya mencegah seseorang melakukan kezaliman dan pelanggaran.
قَالَتْ إِنِّي أَعُوذُ بِالرَّحْمَٰنِ مِنْكَ إِنْ كُنْتَ تَقِيًّا
Artinya: “Sungguh, aku berlindung kepada Tuhan Yang Maha Pengasih terhadapmu, jika engkau orang yang bertakwa.”
Al-Baghawi menjelaskan makna ‘jika engkau orang yang bertakwa’ sebagai orang yang beriman dan taat.³ Takwa bukan hanya pengakuan di lisan, melainkan harus berpengaruh terhadap perilaku.
Orang yang mengatakan dirinya bertakwa, tetapi sengaja merendahkan orang lain, mengganggu kehormatan perempuan, menyalahgunakan kekuasaan, atau menekan orang yang lebih lemah, sedang mempertentangkan pengakuannya dengan perilakunya. Takwa yang benar melahirkan pengendalian diri.
D. Dalil Al-Qur’an tentang Menjaga Kehormatan dan Menjauhi Perbuatan Keji
1. Menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan
|
QS. An-Nur [24]: 30 |
قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ
Artinya: “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman agar mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”
|
QS. An-Nur [24]: 31 — bagian ayat |
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ
Artinya: “Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman agar mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya.”
Kedua ayat ini penting karena tanggung jawab moral tidak dibebankan hanya kepada perempuan. Laki-laki dan perempuan sama-sama diperintahkan menjaga pandangan dan kehormatan. Kehormatan manusia wajib dihormati dan tidak seorang pun boleh menjadikan keinginan atau kekuatannya sebagai alasan untuk melanggar batas orang lain.
2. Menjauhi jalan menuju maksiat
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَىٰ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
Artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya (zina) itu adalah perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’ [17]: 32).
Perintah ‘jangan mendekati’ memberikan pelajaran bahwa menjaga diri bukan hanya menolak ketika dosa sudah berada di depan mata. Seorang muslim juga perlu menghindari keadaan yang membuka jalan kepada kemaksiatan. Contohnya ialah membatasi percakapan yang mengarah kepada hal tidak pantas, menghindari penyalahgunaan pesan pribadi, menjaga etika pergaulan, dan tidak memanfaatkan keadaan seseorang yang sedang sendirian atau membutuhkan pertolongan.
3. Kemuliaan manusia tidak boleh direndahkan
|
QS. Al-Isra’ [17]: 70 — bagian ayat |
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ
Artinya: “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam.”
Ayat ini menegaskan kemuliaan manusia. Karena itu, tubuh, kehormatan, dan martabat seseorang tidak boleh diperlakukan sebagai sesuatu yang bebas dikuasai oleh orang lain. Kisah Maryam mengajarkan sikap melindungi kehormatan, sedangkan ayat ini memberikan landasan umum tentang kemuliaan manusia.
E. Penjelasan Para Ulama Tafsir secara Lebih Mendalam
1. Imam ath-Thabari: takwa harus mencegah pelanggaran
أَسْتَجِيرُ بِالرَّحْمَنِ مِنْكَ أَنْ تَنَالَ مِنِّي مَا حَرَّمَهُ عَلَيْكَ إِنْ كُنْتَ ذَا تَقْوَى لَهُ تَتَّقِي مَحَارِمَهُ، وَتَجْتَنِبُ مَعَاصِيَهُ
Artinya: “Aku memohon perlindungan kepada Ar-Rahman darimu, agar engkau tidak melakukan terhadap diriku sesuatu yang Dia haramkan atasmu, jika engkau benar-benar memiliki ketakwaan kepada-Nya, menjaga perkara-perkara yang diharamkan-Nya, dan menjauhi kemaksiatan kepada-Nya.”⁴
Uraian ini memperlihatkan hubungan langsung antara ketakwaan dan pengendalian diri. Ketakwaan bukan hanya perasaan takut kepada Allah, tetapi juga kesediaan mematuhi batas-batas yang telah ditetapkan-Nya. Orang yang benar-benar takut kepada Allah akan berhati-hati ketika berinteraksi dengan orang lain, terlebih ketika memiliki kesempatan untuk menyakiti atau memanfaatkan orang tersebut.
2. Imam Ibnu Katsir: memulai dengan cara yang paling ringan
وَهَذَا هُوَ الْمَشْرُوعُ فِي الدَّفْعِ أَنْ يَكُونَ بِالْأَسْهَلِ فَالْأَسْهَلِ، فَخَوَّفَتْهُ أَوَّلًا بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
Artinya: “Inilah tuntunan dalam menolak gangguan, yaitu dimulai dengan cara yang paling mudah, kemudian cara yang berikutnya; maka Maryam terlebih dahulu mengingatkannya kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahamulia.”²
Penjelasan ini mengajarkan prinsip kebijaksanaan. Tidak semua masalah harus langsung diselesaikan dengan pertengkaran atau kekerasan. Dalam keadaan yang memungkinkan, seseorang dapat memulai dengan pernyataan tegas, peringatan, atau meminta bantuan. Namun, prinsip bertahap ini bukan perintah agar seseorang tetap bertahan dalam keadaan berbahaya. Apabila ada ancaman nyata, pelecehan, atau kekerasan, seseorang boleh segera menjauh, mencari tempat aman, meminta pertolongan, dan melaporkannya kepada pihak yang berwenang.
3. Imam al-Qurthubi: orang bertakwa semestinya memiliki pengendalian diri
عَلِمَتْ مَرْيَمُ أَنَّ التَّقِيَّ ذُو نُهْيَةٍ حِينَ قَالَتْ: إِنْ كُنْتَ تَقِيًّا
Artinya: “Maryam mengetahui bahwa orang yang bertakwa adalah orang yang memiliki kemampuan menahan diri ketika beliau berkata, ‘Jika engkau orang yang bertakwa.’”³
Kata nuhyah berkaitan dengan kemampuan menahan dan mencegah diri dari perbuatan buruk. Orang yang bertakwa tidak membiarkan keinginan sesaat mengalahkan prinsip agama. Ia memiliki batas moral dan tahu bahwa tidak semua yang diinginkan boleh dilakukan dan tidak semua kesempatan boleh dimanfaatkan.
· Ketika marah, ia tidak mudah menzalimi.
· Ketika memiliki kekuasaan, ia tidak menindas.
· Ketika memiliki kesempatan melakukan maksiat, ia menahan diri.
· Ketika melihat orang yang lemah, ia melindungi, bukan mengeksploitasi.
· Ketika berinteraksi dengan lawan jenis, ia menjaga adab dan kehormatan.
4. Imam al-Baghawi: iman seharusnya menjadi penghalang kezaliman
Al-Baghawi menjelaskan bahwa perkataan Maryam merupakan pengingat bahwa orang beriman seharusnya tidak melakukan kezaliman. Maksudnya bukan bahwa orang beriman mustahil melakukan kesalahan. Iman yang benar seharusnya menjadi kekuatan yang mencegahnya melakukan pelanggaran dan mendorongnya untuk bertobat ketika melakukan kesalahan.³
Jangan sampai agama hanya menjadi identitas, sementara perilaku sehari-hari bertentangan dengan ajarannya. Seseorang bisa fasih berbicara tentang takwa, tetapi ukuran pentingnya tetap terlihat pada kejujuran, amanah, pengendalian diri, dan perlakuannya terhadap orang lain.
F. Dalil dari Sunnah: Takwa, Rasa Malu, dan Menjaga Diri
1. Takwa harus menyertai setiap keadaan
اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
Artinya: “Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu menghapusnya. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. At-Tirmidzi, no. 1987).
Hadis ini diriwayatkan dari Abu Dzarr r.a. dan menjadi pedoman penting dalam pembinaan akhlak. At-Tirmidzi menilainya sebagai hadis hasan.⁵ Ungkapan ‘di mana pun engkau berada’ menunjukkan bahwa ketakwaan berlaku ketika seseorang berada di masjid, di rumah, di tempat kerja, maupun saat sendirian.
2. Rasa malu merupakan bagian dari iman
الْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ
Artinya: “Rasa malu adalah salah satu cabang iman.” (HR. Al-Bukhari, no. 24; Muslim, no. 36).⁶
Rasa malu dalam Islam bukan berarti takut menyampaikan kebenaran atau tidak berani membela diri. Rasa malu yang terpuji adalah kesadaran moral yang mencegah seseorang melakukan keburukan. Maryam memperlihatkan bahwa menjaga kehormatan dapat berjalan bersama keberanian berbicara dengan tegas.
3. Tidak boleh membahayakan diri sendiri maupun orang lain
لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ
Artinya: “Tidak boleh menimbulkan bahaya dan tidak boleh membalas bahaya dengan bahaya.”⁷
Hadis ini diriwayatkan melalui beberapa jalur dan dikenal luas dalam pembahasan kaidah fikih. Di antara sumbernya ialah Al-Muwatta’ karya Imam Malik dalam pembahasan putusan hukum, dengan jalur yang mursal. Prinsip ini sejalan dengan nilai perlindungan dalam kisah Maryam: manusia tidak boleh melanggar keselamatan dan kehormatan orang lain.
Seseorang yang mengalami ancaman boleh melakukan tindakan yang diperlukan untuk menyelamatkan diri secara proporsional. Ia tidak dituntut membiarkan dirinya menjadi korban demi mempertahankan kesopanan. Pada saat yang sama, perlindungan diri juga tidak menjadi alasan untuk melakukan tindakan melampaui batas.
G. Pelajaran Penting dari Kisah Maryam
1. Jadikan Allah tempat berlindung pertama
Ketika menghadapi ketakutan, jangan memutus hubungan dengan Allah. Berdoalah, tenangkan diri, kemudian ambil langkah yang tepat untuk menghadapi keadaan.
2. Kehormatan harus dijaga sebelum terjadi pelanggaran
Jangan menganggap semua perilaku yang membuat tidak nyaman sebagai sesuatu yang harus ditoleransi. Tetapkan batas dengan jelas dan carilah pertolongan jika diperlukan.
3. Takwa harus tercermin dalam tindakan
Kesalehan bukan sekadar penampilan atau ucapan. Orang yang bertakwa berusaha mengendalikan hawa nafsu, menjaga amanah, dan tidak menyalahgunakan kepercayaan.
4. Berani berbicara dengan santun
Maryam menyampaikan penolakannya secara langsung tanpa harus mencaci atau menghina. Ketegasan dapat berjalan bersama adab.
5. Bangun lingkungan yang aman
Keluarga, sekolah, pesantren, dan masyarakat hendaknya menjadi tempat yang melindungi kehormatan setiap orang. Jangan menormalisasi pelecehan, intimidasi, atau penyalahgunaan kekuasaan.
H. Relevansi Ayat bagi Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat
Jamaah rahimakumullah, kisah Maryam tidak hanya berbicara tentang peristiwa masa lalu. Nilainya tetap hidup dalam persoalan yang kita hadapi sekarang.
Di dalam keluarga, orang tua harus mengajarkan kepada anak bahwa tubuh dan kehormatan mereka wajib dijaga. Anak perlu memahami bahwa mereka boleh menolak sentuhan atau ajakan yang tidak pantas, termasuk jika datang dari orang yang dikenal, dan boleh segera bercerita kepada orang dewasa tepercaya.
Di sekolah dan pesantren, guru serta pengasuh mempunyai tanggung jawab membangun lingkungan yang aman, beradab, dan bebas dari pelecehan. Aturan harus ditegakkan secara adil. Jika terjadi dugaan pelanggaran, penanganannya perlu dilakukan dengan hati-hati, menjaga privasi korban, dan tidak terburu-buru menyalahkan pihak yang melapor.
Di tengah masyarakat, laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki kewajiban menjaga kehormatan. Kita tidak boleh menjadikan pakaian, status sosial, atau keadaan seseorang sebagai alasan untuk merendahkan maupun membenarkan pelanggaran terhadap dirinya.
Dan yang paling penting, jangan hanya bertanya, ‘Apakah orang lain melihat perbuatan saya?’ Akan tetapi, tanyakanlah, ‘Apakah Allah meridai perbuatan saya?’ Sebab, takwa yang sejati adalah ketika seseorang tetap memilih kebenaran sekalipun tidak ada manusia yang menyaksikannya.
I. Penutup Ceramah: Keteguhan Maryam, Pelajaran bagi Kita
Jamaah yang dimuliakan Allah, marilah kita kembali mengingat kalimat Maryam yang diabadikan oleh Allah dalam Al-Qur’an:
إِنِّي أَعُوذُ بِالرَّحْمَٰنِ مِنْكَ إِنْ كُنْتَ تَقِيًّا
“Sungguh, aku berlindung kepada Tuhan Yang Maha Pengasih terhadapmu, jika engkau orang yang bertakwa.”
[Diam sejenak.]
Saudaraku, berapa banyak orang berbicara tentang agama, tetapi masih melukai sesama? Berapa banyak orang mengaku bertakwa, tetapi belum mampu mengendalikan keinginannya? Berapa banyak orang mengajarkan adab, tetapi lupa mempraktikkannya ketika memiliki kekuasaan?
Jangan sampai kita menjadi orang yang pandai menyebut nama Allah, tetapi tidak takut melanggar larangan-Nya. Jangan sampai kita mengaku mencintai Rasulullah ﷺ, tetapi perilaku kita justru membuat orang lain kehilangan rasa aman. Dan jangan sampai kita memuji kesucian Maryam, tetapi tidak menghormati kehormatan manusia yang berada di sekitar kita.
[Dengan suara lebih lembut.]
Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang benar-benar bertakwa. Jagalah hati kami dari godaan hawa nafsu. Lindungilah keluarga kami, anak-anak kami, dan generasi muda kami dari segala keburukan. Ajarkanlah kepada kami keberanian untuk membela kebenaran, kelembutan dalam bertutur kata, dan keteguhan untuk menjaga kehormatan.
Semoga kisah Maryam tidak hanya menjadi bacaan di lisan kita, tetapi menjadi pelajaran yang hidup di dalam hati, keluarga, dan masyarakat kita.
آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ
J. Doa Penutup
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى
Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, penjagaan kehormatan diri, dan kecukupan.” (HR. Muslim, no. 2721, dari Abdullah bin Mas‘ud r.a.).
اللَّهُمَّ احْفَظْنَا مِنَ الْفَوَاحِشِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَطَهِّرْ قُلُوبَنَا، وَزَكِّ نُفُوسَنَا، وَاحْفَظْ أَهْلَنَا وَذُرِّيَّاتِنَا مِنْ كُلِّ سُوءٍ
Artinya: “Ya Allah, jagalah kami dari segala perbuatan keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Sucikanlah hati kami, bersihkanlah jiwa kami, dan jagalah keluarga serta keturunan kami dari segala keburukan.”
Catatan: Doa kedua merupakan susunan doa, bukan kutipan hadis tertentu.
K. Catatan Kaki dan Daftar Kitab Rujukan
1. Ath-Thabari, Muhammad bin Jarir. Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir Surah Maryam ayat 18. Penjelasan tentang ketakutan Maryam ketika melihat sosok manusia yang tidak dikenalnya.
2. Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir Surah Maryam ayat 18. Penjelasan tentang isti‘adzah Maryam dan prinsip memulai penolakan gangguan dengan cara yang paling ringan apabila keadaan memungkinkan.
3. Al-Baghawi, Husain bin Mas‘ud. Ma‘ālim al-Tanzīl, tafsir Surah Maryam ayat 18; dan Al-Qurthubi, Muhammad bin Ahmad. Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir Surah Maryam ayat 18. Rujukan untuk makna takwa, pengendalian diri, dan penjelasan ungkapan Maryam.
4. Ath-Thabari, Muhammad bin Jarir. Jāmi‘ al-Bayān, tafsir Surah Maryam ayat 18, khususnya penjelasan frasa إِنِّي أَعُوذُ بِالرَّحْمَٰنِ مِنْكَ إِنْ كُنْتَ تَقِيًّا.
5. At-Tirmidzi, Muhammad bin Isa. Al-Jāmi‘, Kitab al-Birr wa al-Silah, hadis no. 1987, tentang bertakwa di mana pun berada, mengiringi keburukan dengan kebaikan, dan mempergauli manusia dengan akhlak yang baik.
6. Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitab al-Iman, hadis no. 24; Muslim bin al-Hajjaj. Ṣaḥīḥ Muslim, Kitab al-Iman, hadis no. 36. Hadis tentang rasa malu sebagai cabang iman.
7. Malik bin Anas. Al-Muwaṭṭa’, Kitab al-Aqḍiyah, riwayat tentang kaidah lā ḍarar wa lā ḍirār. Hadis ini juga diriwayatkan melalui jalur-jalur lain dan digunakan luas dalam pembahasan kaidah fikih.
8. Muslim bin al-Hajjaj. Ṣaḥīḥ Muslim, Kitab al-Dzikr wa al-Du‘ā’ wa al-Taubah wa al-Istighfār, hadis no. 2708, tentang doa berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna; dan hadis no. 2721, tentang doa memohon petunjuk, ketakwaan, penjagaan kehormatan diri, serta kecukupan.
Post a Comment