Fi Zilalil Qur'an


Fi Zilalil Qur'an


Hidup di bawah naungan Al Qur'an adalah nikmat. Nikmat yang hanya dapat dirasakan oleh orang yang pernah mengahayatinya. Nikmat yang meningkatkan, memberkati dan mebersihkan kehidupan ini.
Alhamdulillah, aku telah diberi kesempatan merasakan nikmat hidup di bawah naungan Al Qur'an itu, suatu nikmat yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Aku rasakan bagaimana nikmat itu telah mengangkat, memberkahi dan membersihkan kehidupanku.
Aku dengar Allah subhanahu berkata kepadaku melalui Al Qur'an ini, padahal aku hanya seorang hamba yang kecil dan kerdil. Apakah ada kemuliaan yang lebih tinggi daripada kemuliaan yang datang dari Yang Maha Tinggi dan Maha Mulia ini? Apakah ada peningkatan kehidupan yang lebih bernilai seperti yang telah diangkat oleh Al-Qur'an ini? Apakah ada posisi yang lebih terhormat daripada yang telah dianugerahkan oleh Maha Pencipta sendiri?
Dalam menjalani hidup begini - di bawah naungan Al-Qur'an - aku memandang dari atas; kulihat kejahilan menari-nari di muka bumi, aku perhatikan manusia-manusia jahil itu begitu kerdil dan sempit. Aku pandang dengan heran; pengetahuan yang dimiliki oleh manusia-manusia jahil ini tak lebih dari pengetahuan kanak-kanak, pandangan bocah-bocah dan perhatian anak-anak; ibarat seorang dewasa melihat anak-anak main kejar-kejaran dan berteriak-teriak, aku heran, ada apa dengan manusia ini? Kenapa mereka masih saja mau menggelimangkan diri dalam lumpur-lumpur yang kumal. Kenapa mereka tidak mau mendengarkan seruan yang tinggi dan mulia, seruan yang pasti meningkatkan kehidupan mereka, memberkati dan membersihkannya.
Aku jalani kehidupan ini - di bawah naungan Al-Qur'an - dengan mengikuti ide tentang wujud yang begitu sempurna, lengkap, tajam, tinggi dan bersih, demi seluruh wujud dan demi wujud manusia itu sendiri; aku bandingkan dengan pandangan hidup jahiliah yang dilaksanakan manusia baik di timur, di barat, di utara, dan di selatan. Aku bertanya, kenapa manusia masih mau hidup dalam raawa-rawa busuk, di kerak jahiliah yang meluncur turun, dalam kegelapan yang begitu pekat; padahal mereka memiliki lapangan yang bersih, punya tangga yang selalu mengangkat naik, punya cahaya yang cemerlang.
Aku jalani kehidupan ini - di bawah naungan Al-Qur'an - aku rasakan betapa indahnya keserasian antara manusia, sebagaimana yang dikehendaki Allah dengan gerak alam yang diciptakanNya. Selanjutnya kuarahkan pandangan kepada kehidupan jahiliah, kulihat, kekacaubalauan yang diderita manusia karena melenceng dari sunnah alam; kulihat bentrokan-bentrokan yang terjadi dalam diri manusia, antara pengarahan-pengarahan yang merusak dan kejam tapi justru diamalkan, dengan fitrahnya sendiri seperti yang telah digariskan Allah. Aku bergumam: "Setan celaka mana yang telah menggiring manusia menuju jahannam ini?"
Alangkah meruginya manusia !!!
Aku jalani kehidupan ini - di bawah naungan Al-Qur'an - aku lihat wujud alam semesta ini jauh lebih besar daripada kenyataannya, lebih agung dari segala aspeknya, alam itu ialah alam nyata dan alam gaib, bukan hanya alam nyata semata, kehadiran manusia hanyalah merupakan kelanjutan dari proses-proses alam yang terus melanjut; dan mati bukanlah akhir perjalanan, tetapi bagian dari proses tersebut. Apa yang dicapai manusia di dunia ini bukanlah keseluruhan nasibnya, tetapi sebagian dari nasib yang masih melanjut. Apa yang luput dari seseorang di dunia ini tidak akan luput sama sekali dari dirinya di alam sana; tidak ada yang dizalami, tak ada yang dirugikan, tak ada yang disia-siakan, dengan kesadaran bahwa fase kehidupan yang ditempuh manusia di atas planet bumi ini adalah satu perjalanan di atas alam, alam yang hidup dan nyaman, alam yang berteman dan bersahabat, alam yang punya roh, alam yang tanggap dan peka, alam yang selalu menyerah kepada Khalik yang Maha Esa; yang justru kepadaNya pula menyerah roh yang beriman dengan penuh kerendahan dan ketundukan:
(13:15)
Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari.
(17:44)
Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.
Kelapangan mana, keamanan mana, kemantapan mana, kelegaan mana yang dapat dirasakan hati lebih daripada yang dicurahkan gambaran-gambaran yang begitu sempurna, menyeluruh, luas dan tepat ini?
Aku jalani kehidupan ini - di bawah Al-Qur'an - dan aku melihat bahwa manusia itu jauh lebih mulia dari segala penilaian yang pernah dan bakal dikenal oleh manusia; manusia itu adalah insan yang mendapat tiupan roh Allah :
(15:29)
Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud [796].
[796]. Dimaksud dengan sujud di sini bukan menyembah, tetapi sebagai penghormatan.
Dengan tiupan roh ini, jadilah manusia itu kalifah di bumi ini:
(2:30)
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
Selanjutnya disiapkanlah untuk manusia itu semua yang ada di bumi:
(45:13)
Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.
Disamping kemulian dan ketinggian yang dicurahkan kepada manusia itu, Allah memberkahinya pula dengan satu ikatan, yang dengan ikatan itu manusia berkumpul; ikatan yang lahir dari tiupan Ilahi tadi. Ikatan itu adalah ikatan aqidah. Oleh sebab itu, bagi seorang mukmin aqidah itulah tanah airnya, itulah bangsanya, itulah kaumnya, selanjutnya hanya dengan aqidah itu sajalah manusia itu bersatu; bukan seperti bersatunya ternak yang berkumpul karena rumput, karena gembala, atau karena kandang dan pagar!
Seorang mukmin itu punya tali keturunan yang panjang dan berakar, telah berlalu melewati banyak fase dan zaman; namun dia tetap bahagian dari satu kesatuan, dituntun dan dipimpin oleh manusia-manusia mulia, Nuh, Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya'qub, Yusuf, Musa, 'Isa, Muhammad s.a.w.
(21:92)
Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu [972] dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.
[972] Maksudnya: sama dalam pokok-pokok kepercayaan dan pokok-pokok Syari'at.
Kesatuan yang telah berkembang melewati berbagai faseini, selalu menghadapi - sebagaimana tampak jelas di bawah naungan Al-Qur'an ini - problema yang sama, menempati posisi yang sama, dan menjalani pengalaman yang sama di sepanjang masa dan setiap waktu; walaupun tempat berbeda dan bangsa telah beragam. Setiap waktu ia menghadapi kesesatan, kekejaman dan hawa nafsu, menghadapi tekanan dan paksaan, menghadapi ancaman dan pengucilan. Namun dia tetap berjalan di jalurnya, mantap langkahnya, tenang, yakin, dengan kemenangan dari Allah serta terpaut dengan harapan ini, dan tetap percaya bahwa janji Allah itu benar dan pasti.
(14:13)
Orang-orang kafir berkata kepada Rasul-rasul mereka: "Kami sungguh-sungguh akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu kembali kepada agama kami". Maka Tuhan mewahyukan kepada mereka: "Kami pasti akan membinasakan orang-orang yang zalim itu,
(14:14)
dan Kami pasti akan menempatkan kamu di negeri-negeri itu sesudah mereka. Yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (akan menghadap) kehadirat-Ku dan yang takut kepada ancaman-Ku [783]".
[783] "menghadap ke hadirat Allah" ialah pertemuan dengan Allah SWT pada hari kiamat untuk dihisab.
Satu posisi, satu pengalaman, satu ancaman, satu keyakinan, dan satu janji; berlaku untuk seluruh kesatuan ini. Dan selanjutnya, satu pula perolehan hasil yang ditunggu-tunggu oleh orang-orang yang beriman, walaupun untuk itu mereka harus menghadapi tekanan-tekanan, ancaman-ancaman, dan kekejaman-kekejaman.
* * *
Di bawah naungan Al-Qur'an ini aku belajar bahwa tak ada tempat di alam ini bagi suatu kebetulan, tak ada ruang untuk suatu surprise.
(54:49)
Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.
(25:2)
yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagiNya dalam kekuasaan(Nya), dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya [1054].
[1054] Maksudnya: segala sesuatu yang dijadikan Tuhan diberi-Nya perlengkapan-perlengkapan dan persiapan-persiapan, sesuai dengan naluri, sifat-sifat dan fungsinya masing-masing dalam hidup.
Segala sesuatu ada hikmahnya; namun hikmah gaib yang begitu dalam tidak dapat diungkapkan oleh pandangan manusia yang begitu pendek:
(4:19)
Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa [278] dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata [279]. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.
[278] Ayat ini tidak menunjukkan bahwa mewariskan wanita tidak dengan jalan paksa dibolehkan. Menurut adat sebahagian Arab Jahiliyah apabila seorang meninggal dunia, maka anaknya yang tertua atau anggota keluarganya yang lain mewarisi janda itu. Janda tersebut boleh dikawini sendiri atau dikawinkan dengan orang lain yang maharnya diambil oleh pewaris atau tidak dibolehkan kawin lagi.
[279] Maksudnya; berzina atau membangkang perintah.
(2:216)
Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.
Sebab-sebab yang dikenal oleh manusia, kadang-kadang mendatangkan akibat seperti yang diperhitungkannya, dan kadangkala tidak. Dalil-dalil yang dianggap manusia pasti, kadang-kadang memberikan hasil yang cocok, kadangkala tidak. Bukanlah sebab-sebab dan dalil-dalil itu yang menentukan untuk timbulnya akibat dan hasil, tapi yang mutlak menentukan hasil dan akibat itu sebagaimana juga Dia yang menumbuhkan sebab-sebab dan dalil-dalil itu:
(65:1)
Hai Nabi, apabila kamu menceraikan isteri-isterimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) [1482] dan hitunglah waktu iddah itu serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu. Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) ke luar kecuali mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang [1483]. Itulah hukum-hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. Kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru [1484].
[1482] Maksudnya: isteri-isteri itu hendaklah ditalak diwaktu suci sebelum dicampuri. Tentang masa iddah lihat ayat 228, 234 surat (2) Al Baqarah dan surat (65) Ath Thalaaq ayat 4.
[1483] Yang dimaksud dengan "perbuatan keji" di sini ialah mengerjakan perbuatan-perbuatan pidana, berkelakuan tidak sopan terhadap mertua, ipar, besan dan sebagainya.
[1484] "Suatu hal yang baru" maksudnya ialah keinginan dari suami untuk rujuk kembali apabila talaqnya baru dijatuhkan sekali atau dua kali.
(76:30)
Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Seorang mukmin harus membuat sebab, karena dia memang diperintah untuk itu, sedang yang menentukan hasil dan akibatnya adalah Allah jua. Tentram dengan rahmat dan keadilanNya ini, tenang dengan hikmah dan ilmunya ini, itulah satu-satunya kenikmatan yang mutlak, bebas dari segala ketakutan dan keragu-raguan:
(2:268)
Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia [170]. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui.
[170] Balasan yang lebih baik dari apa yang dikerjakan sewaktu di dunia.
Selanjutnya, aku telah menjalani kehidupan di bawah naungan Al-Qur'an ini dengan pribadi yang tenang, dengan hati yang lega dan perasaan yang mantap. Kulihat tangan Allah ada dalam setiap peristiwa dan segala masalah. Kujalani kehidupan ini dengan pemeliharaan dan penjagaan Allah. Dalam kehidupan itu aku merasakan betapa positif dan aktifnya sifat-sifat Allah itu.
(27:62)
Atau siapakah yang memperkenankan (do'a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo'a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi [1105]? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati (Nya).
[1105] Yang dimaksud dengan "menjadikan manusia sebagai khalifah" ialah menjadikan manusia berkuasa di bumi.
(6:18)
Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.
(12:21)
Dan orang Mesir yang membelinya berkata kepada isterinya [748]: "Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik, boleh jadi dia bermanfaat kepada kita atau kita pungut dia sebagai anak." Dan demikian pulalah Kami memberikan kedudukan yang baik kepada Yusuf di muka bumi (Mesir), dan agar Kami ajarkan kepadanya ta'bir mimpi. Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya.
[748] Orang Mesir yang membeli Yusuf a.s. itu seorang Raja Mesir bernama Qithfir dan nama isterinya Zulaikha.
(8:24)
Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu [605], ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya [606] dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.
[605] Maksudnya: menyeru kamu berperang untuk meninggikan kalimat Allah yang dapat membinasakan musuh serta menghidupkan Islam dan muslimin. Juga berarti menyeru kamu kepada iman, petunjuk jihad dan segala yang ada hubungannya dengan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
[606] Maksudnya: Allah-lah yang menguasai hati manusia.
(11:10)
Dan jika Kami rasakan kepadanya kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata: "Telah hilang bencana-bencana itu daripadaku"; sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga,
(65:2)
Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.
(65:3)
Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.
(11:56)
Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melatapun [723] melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya [724]. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus [725].
[723] Tentang binatang melata lihat Not no. 709.
[709] Yang dimaksud "binatang melata" di sini ialah segenap makhluk Allah yang bernyawa.
[724] Maksudnya: mengusainya sepenuhnya.
[725] Maksudnya: Allah selalu berbuat adil.
(39:36)
Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya. Dan mereka mempertakuti kamu dengan (sembahan-sembahan) yang selain Allah? Dan siapa yang disesatkan Allah maka tidak seorangpun pemberi petunjuk baginya.
(22:19)
Inilah dua golongan (golongan mu'min dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Tuhan mereka. Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka.
(13:33)
Maka apakah Tuhan yang menjaga setiap diri terhadap apa yang diperbuatnya (sama dengan yang tidak demikian sifatnya)? Mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah. Katakanlah: "Sebutkanlah sifat-sifat mereka itu". Atau apakah kamu hendak memberitakan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya di bumi, atau kamu mengatakan (tentang hal itu) sekadar perkataan pada lahirnya saja. Sebenarnya orang-orang kafir itu dijadikan (oleh syaitan) memandang baik tipu daya mereka dan dihalanginya dari jalan (yang benar). Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka baginya tak ada seorangpun yang akan memberi petunjuk.
Semua wujud di alam ini tidaklah diserahkan begitu saja kepada hukum-hukum alam seperti mesin yang bergerak otomatis; tetapi dibalik hukum -hukum itu ada hukum lain, yaitu iradah yang mengatur dan mutlak. Allah mewujudkan apa saja yang dikehendakiNya, dan Dia pulalah yang memilih. Demikianlah aku belajar dan mengetahui bahwa tangan Allah itu tetap terus bekerja, bekerja dengan caraNya sendiri. Kita tidak boleh mendesakNya, atau mengusulkan sesuatu kepadaNya. Metode Ilahi ini, seperti yang tampak jelas di bawah naungan Al-Qur'an telah dipersiapkan untuk berfungsi disegala lingkungan dan di setiap fase perkembangan hidup manusia, dan untuk semua keadaan kejiwaan manusia; karena dia memang tunggal. Metode itu memang dipersiapkan khusus untuk manusia yang hidup di bumi ini, disesuaikan dengan fitrahnya, cocok dengan kemampuan dan kesiapan dirinya sebagai manusia, dan serasi dengan segala perobahan yang mungkin ditemui. Ada yang mengira bahwa metode itu tidak berfungsi, lalu dia mengecilkan peran manusia di muka bumi atau dia hancurkan nilai-nilai kemanusian dalam salah satu bentuk kehidupan, baik sebagai diri pribadi atau sebagai anggota suatu kelompok. Sebaliknya ada yang berkhayal ingin meningkatkan makhluk ini lebih dari kemampuannya, melewati batas kesanggupannya, dan keluar dari fungsinya sebagai mana yang telah digariskan Allah sejak semula. Dalam kedua keadaan ini faktor fitrah dianggap begitu sederhana, dapat dibentuk dengan peraturan-peraturan atau ditumbuhkan dengan ide-ide yang ditulis di atas kertas! Manusia adalah manusia dengan seluruh fitrahnya, dengan segala kecendrungannya, dengan semua kesiapan dirinya. Itulah manusia yang akan dituntun oleh metode Ilahi ini, untuk selanjutnya diangkat semaksimal mungkin ke posisi kesempurnaan yang telah digariskan untuknya dan memang sesuai dengan kejadian dan fungsi dirinya. Metode ini menghargai sekali diri manusia, menghormati fitrah dan kemampuannya; membimbingnya terus di jalur yang sempurna, menuju Allah. Selain dari itu, metode Ilahi ini dipersiapkan untuk jangka waktu yang panjang - yang diketahui pasti oleh yang menciptakan manusia itu sendiri dan menurunkan Al-Qur'an. Oleh sebab itu jangan dipaksakan, janganlah bergegas dalam mewujudkan tujuan-tujuan mulia dari metoda ini. Ruang waktu begitu luasnya, tak mungkin direka dengan umur seseorang, tak bisa dibatasi oleh keinginan-keinginan yang bersifat fana; karena takut di dalam mencapai tujuan-tujuan itu maut dahulu datang. Seperti yang selalu terjadi pada pengikut-pengikut mazhab-mazhab sekuler, memaksakan idenya dalam satu generasi, dengan mengenyampingkan fitrah; karena tidak sabar dengan langkah-langkah fitrah yang justru amat serasi itu! Dalam perjalanan yang mereka paksakan itu, mereka dihadang oleh perampok-perampok; dan mengalirlah darah, runtuh semua nilai, dan segala-galanya menjadi berantakan. Akhirnya ide-ide mereka itu dihantam oleh palu-palu fitrah yang tadinya tak diperhitungkan oleh mazhab yang dipaksakan itu! Sedang Islam, berjalan mulus, seiring dengan fitrah, kadang-kadang mendorong, kadang-kadang melindungi, bila condong ditegakannya; namun tidak pernah mematahkan atau menghancurkan fitrah. Dia bersifat tabah, seperti tabahnya orang-orang yang tahu dan yakin dengan tujuan yang telah digariskan. Apa yang tak dapat disempurnakan pada periode sekarang, disempurnakan pada periode kedua, ketiga, kesepuluh, keseratus, keseribu. Zaman berkembang, namun tujuan tetap jelas; jalan menuju tujuan besar itu pun amat panjang. Ibarat tumbuhnya sebatang pohon yang menjulang tinggi, akarnya terhujam dalam tanah, bercabang dan beranting yang saling berjalin. Demikianlah Islam itu tumbuh dan berkembang dengan pelan, mulus, dan mantap. Akhirnya iradah Allah jaulah yang berlaku. Tanaman itu kadang-kadang tertimbun pasir, atau dimakan ulat, atau dibakar kekeringan atau digenangi air. Tetapi petani yang sadar, tahu betul bahwa kebun harus tetap wujud dan berkembang. Dia akan berusaha mengalahkan segala hama walaupun akan memakan waktu yang lama. Dia tidak akan berupaya mematangkan buah dengan melanggar fitrah, fitrah yang tenang dan serasi, fitrah yang penuh toleransi dan bersahabat. Itulah dia metode ilahi, berlaku untuk seluruh alam.
(33:62)
Sebagai sunnah Allah yang berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu sebelum (mu), dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Allah.
Yang haq atau yang benar itu hanya ada dalam metode Allah ini. Dialah yang mendasari bangunan alam ini; bukan peristiwa acak (random), bukan pula kebetulan-kebetulan tanpa arah. Allah subhanahu, itulah yang haq, dan dari wujudNyalah bersumber segala yang ada.
(31:30)
Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dia-lah yang hak [1186] dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah itulah yang batil; dan sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.
[1186] Lihat not 978.
[978] Maksudnya: Allah-lah Tuhan Yang sebenarnya, Yang wajib disembah, Yang berkuasa dan sebagainya.
Allah telah menciptakan alam ini dengan haq, tidak bercampur aduk dengan yang bathil.
(10:5)
Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak [669]. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.
[669] Maksudnya: Allah menjadikan semua yang disebutkan itu bukanlah dengan percuma, melainkan dengan penuh hikmah.
(3:91)
Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang diantara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. Bagi mereka itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong.
Jadi haq itu adalah tiang dari segala wujud alam ini. Apabila ada penyimpangan dari yang haq itu, akan timbullah kerusakan dan kebinasaan:
(23:71)
Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al Qur'an) mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu.
Karena itu yang haq itu harus muncul, yang bathil harus lenyap. Apapun gejala yang tidak sesuai dengan ketentuan ini maka akibatnya jelas, seperti yang diungkapkan oleh ayat ini:
(21:18)
Sebenarya Kami melontarkan yang hak kepada yang batil lalu yang hak itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap. Dan kecelakaanlah bagimu disebabkan kamu mensifati (Allah dengan sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya).
Kebaikan (al-khair), keputusan (ash-shalahu), dan kebajikan (al-ihsan) adalah juga pokok utama, seperti halnya yang haq itu, dia akan tetap wujud abadi di muka bumi.
(13:17)
Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan [770].
[770] Allah mengumpamakan yang benar dan yang bathil dengan air dan buih atau dengan logam yang mencair dan buihnya. Yang benar sama dengan air atau logam murni yang bathil sama dengan buih air atau tahi logam yang akan lenyap dan tidak ada gunanya bagi manusia.
(22:24)
Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik dan ditunjuki (pula) kepada jalan (Allah) yang terpuji.
(22:25)
Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah dan Masjidilharam yang telah Kami jadikan untuk semua manusia, baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih.
(22:26)
Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): "Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumahKu ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku' dan sujud.
(22:27)
Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus [985] yang datang dari segenap penjuru yang jauh,
[985] "Unta yang kurus" menggambarkan jauh dan sukarnya yang ditempuh oleh jemaah haji.
Alangkah agungnya ketenangan yang ditumbuhkan oleh konsep ini. Alangkah tegarnya kemantapan yang dituangkannya ke dalam hati. Alangkah tegasnya keyakinan yang diberikannya tentang haq, tentang kebajikan, tentang kebaikan. Alangkah hebatnya daya dan kemampuan menguasai alam yang kerdil ini, yang dipaterikannya dalam diri.
* * *
Akhirnya, sampailah aku pada keyakinan yang mantap. Tidak bakal ada kebaikan di muka bumi ini, tidak akan pernah wujud ketenangan diri, tak ada kemantapan, tak ada peningkatan, tak ada keberkatan, tak ada kesucian, tak ada keserasian antara alam dan fitrah hidup; kecuali dengan kembali kepada Allah.
Kembali kepada Allah - sebagai yang tampak di bawah naungan Al-Qur'an - hanya punya satu bentuk dan hanya dengan satu cara. Satu dan hanya satu. Yaitu dengan mengembalikan seluruh gerak kehidupan ini kepada metode Allah yang telah digariskan di dalam kitabNya untuk manusia. Tegasnya, menjadikan kitab Allah satu-satunya sumber dalam kehidupan, dan mengembalikan segala masalah hanya kepadaNya. Bila tidak demikian, berarti kebinasaanlah yang bakal terjadi di muka bumi ini, malapetaka bagi manusia, kembali terjerumus ke dalam lumpur kegelapan dan jahiliyah yang mengabdi kepada nafsu.
(28:50)
Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.
Mempedomani metode Allah melalui kitabNya, bukanlah sekedar perbuatan sunat atau suatu pilihan. Masalahnya adalah iman atau tidak iman.
(33:36)
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu'min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.
(45:18)
Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.
(45:19)
Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikitpun dari siksaan Allah. Dan Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertakwa.
Jadi masalah ini adalah masalah serius, masalah aqidah yang mendasar, masalah bahagia atau celaka.
Manusia itu sendiri - yang dirinya diciptakan Allah - tidak bakal mampu membuka pintu-pintu fitrahnya, kecuali dengan kunci-kunci yang juga hanya diciptakan Allah. Manusia tidak sanggup mengobati penyakitnya, kecuali dengan obat yang diramu oleh tangan Allah. Dia telah menentukan bahwa kunci pembuka segala pintu dan obat segala penyakit itu ada pada metodeNya.
(17:82)
Dan Kami turunkan dari Al Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur'an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.
(17:9)
Sesungguhnya Al Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar,
Tetapi, manusia tidak mau mengambil kunci itu dari yang membuatnya, tak hendak berobat kepada yang menciptakannya. Dalam masalah diri, dalam urusan kemanusiaan, dalam menentukan celaka dan bahagia, manusia tak mau menempuh jalan seperti yang biasa dia lakukan dalam menanggulangi masalah alat atau pesawat yang banyak dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari. Ia tahu bahwa untuk memperbaiki pesawat yang rusak dia akan memanggil insiyur yang menciptakan pesawat itu. Namun ia tidak mau menerapkan prinsip ini untuk dirinya sendiri. Dia tidak mau membawa dirinya kepada yang menciptakannya, dia tidak mau konsultasi dengan pencipta pesawat aneh ini, pesawat diri yang begitu agung, rumit, dan halus. Tak seorang pun yang mengetahui kunci-kunci pesawat itu kecuali yang mengadakannya.
(8:43)
(yaitu) ketika Allah menampakkan mereka kepadamu di dalam mimpimu (berjumlah) sedikit. Dan sekiranya Allah memperlihatkan mereka kepada kamu (berjumlah) banyak tentu saja kamu menjadi gentar dan tentu saja kamu akan berbantah-bantahan dalam urusan itu, akan tetapi Allah telah menyelamatkan kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati.
(67:14)
Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?
Dari sinilah bersumber segala kecelakaan untuk manusia-manusia sesat, manusia-manusia malang lagi bingung, manusia-manusia yang tak pernah dewasa dan tak bakal dapat petunjuk, tak akan memperoleh ketenangan dan kebahagian, kecuali jika mereka mengembalikan fitrahnya kepada penciptanya Yang Maha Agung, sebagaimana mereka kembalikan pesawat-pesawat sederhana yang rusak kepada montir yang juga sederhana.
Mengenyampingkan Islam dari pimpinan kemanusiaan adalah satu peristiwa hebat dalam sejarah, satu malapetaka yang mematahkan sendi-sendi kehidupan. Suatu musibah yang belum pernah dikenal dan tak ada tolok bandingannya.
Islam pernah menerima kepemimpinan dunia ini sesudah kemanusiaan begitu rusaknya, kehidupan begitu kotor dengan pemimpin-pemimpin yang amat menjijikan. Saat itu manusia merasakan neraka dari pimpinan yang menjijikan itu.
(30:41)
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
Islam menerima pimpinan itu dengan Al-Qur'an, dengan konsep baru yang dibawa Al-Qur'an, dan dengan syari'at yang bersumber dari konsep baru itu. Itulah kelahiran kembali kemanusiaan ini, agung dalam hakikatnya dibandingkan dengan kelahiran dan pertumbuhannya terdahulu. Al-Qur'an telah menumbuhkan dalam diri manusia ide tentang wujud, tentang kehidupan, tentang nilai-nilai, tentang aturan-aturan: sebagaimana Islam telah membuktikan dalam kenyataan tatanan sosial yang unik, yang sebelumnya hanya ada dalam khayal manusia. Benar Islam telah menampilkan dalam kenyataan; dalam bentuk yang bersih dan indah, agung dan mulia, sederhana dan gamblang, nyata dan positif, seimbang dan serasi. Suatu kenyataan yang tak pernah terbayangkan oleh manusia sebelumnya; kalau tidaklah iradah Allah menginginkannya dan menerapkannya dalam kehidupan. Di bawah naungan Al-Qur'an, dengan metode Al-Qur'an, dengan syari'at Al-Qur'an.
Kemudian terjadilah bencana yang menakutkan itu, Islam dicopot dari kepemimpinannya, kembali digantikan oleh kepemimpinan jahiliyah dalam berbagai bentuk. Kembali kepada bentuk pikiran materialis yang begitu mempesona manusia sekarang. Persis seperti anak-anak terpesona dengan baju yang warna-warni atau mainan dengan warna yang menarik!
Di kala itu munculah gerombolan pemimpin yang sesat dan penipu, musuh kemanusiaan. Mereka pisahkan metoda Ilahi dari hasil penemuan manusia dibidang materi. Mereka letakan metoda Ilahi di satu pihak, dan penemuan manusia di sisi lain; lalu mereka berkata: pilih salah satu!! Pilh metode Ilahi tapi tetapi tinggalkan semua penemuan dibidang materi, atau pilih hasil olahan manusia dan lepaskan metoda Ilahi! Ini adalah suatu penipuan yang licik. Inti masalahnya sama sekali tidaklah demikian. Metoda Ilahi tidak memusuhi penemuan manusia malah dia dapat memupuk dan mengarahkannya kejurusan yang benar, supaya manusia dapat tumbuh sesuai dengan posisinya sebagai khalifah di muka bumi ini. Posisi ini dikaruniakan Allah untuk manusia, berikut pengaturannya. Untuk itu, manusia diberi tenaga potensial yang diperlukan; hingga dengan demikian ia dapat melaksanakan kewajiban yang dibebankan kepadanya. Dipersiapkan pula untuknya hukum-hukum alam yang akan membantu manusia dalam mewujudkan tugasnya. Di samping itu ada pula keterjalinan antara tatanan diri manusia dengan tatanan alam, hingga ia dapat menguasai kehidupan, berbuat, dan mencipta. Dengan ketentuan, penciptaan itu haruslah dalam rangka berubudiyah kepada Allah, sarana untuk mensyukuri nikmatNya; sebagai pelengkap syarat kekalifahannya. Dengan demikian ia akan berbuat dalam batas ruang gerak yang diizinkan Allah. Adapun orang-orang yang memisahkan antara metode Ilahi dengan hasil daya manusia dibidang materi. Mereka itu adalah orang-orang yang berniat dan berbuat jahat. Mereka memburu-buru kemanusiaan yang memang sedang berada dalam keadaan lesu dan bingung; lesu karena niat tak kesampaian, bingung karena salah jalan, lalu ingin mendengar suara-suara yang dapat memberikan petunjuk atau nasehat, ingin meninggalkan kesesatan, kembali kepada ketenangan di bawah perlindungan Allah.
Disamping itu ada pula manusia-manusia yang tidak kurang niatnya baiknya, tetapi mereka tak memiliki kesadaran yang cukup, serta kurang tanggap. Mereka kagum dengan penemuan-penemuan manusia dibidang energi dan pengetahuan alam. Mereka terpesona dengan kemampuan manusia dibidang materi. Kekaguman itu mengakibatkan terpisahnya kemampuan materi dengan nilai-nilai iman dalam perasaan mereka; terbelah fungsi dan pengaruhnya, baik di alam nyata maupun dalam kenyataan hidup. Dengan demikian mereka telah menempatkan hukum alam punya bidangnya sendiri, dan nilai- nilai iman punya bidangnya sendiri pula. Mereka mengira bahwa hukum alam akan tetap berjalan di jalurnya sendiri tanpa dipengaruhi oleh niali-niai iman. Hukum-hukum itu akan memberikan hasil, tak perduli apakah manusia beriman atau kafir, apakah mengikuti metoda Allah atau menentangnya, apakah berpedoman kepada syari'at Allah atau mengikuti hawa nafsu.
Semua itu adalah waham, mereka pisahkan kedua sunnah alam tersebut, yang pada hakekatnya adalah satu tak terbelah. Nilai iman adalah bahagian dari sunnah Allah, sebagaimana juga hukum alam adalah juga bahagian dari sunnah Allah; keduanya saling terikat dan saling terkait. Dalam persaan dan pandangan seorang mukmin, tak ada alasan untuk memisahkan kedua sunnah Allah itu. Inilah pandangan yang benar, pandangan yang ditumbuhkan oleh Al-Qur'an dalam diri; kalau diri itu mau; hidup di bawah naungan Al-Qur'an. Pandangan itu tumbuh saat Al-Qur'an berbicara tentang ahli kitab terdahulu, tentang penyelewengan mereka, dan akibat penyelewengan itu diakhir perjalanan.
(5:65)
Dan sekiranya Ahli Kitab beriman dan bertakwa, tentulah Kami tutup (hapus) kesalahan-kesalahan mereka dan tentulah Kami masukkan mereka kedalam surga-surga yang penuh kenikmatan.
(5:66)
Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan (Al Qur’an) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas dan dari bawah kaki mereka [428]. Diantara mereka ada golongan yang pertengahan [429]. Dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka.
[428]. Maksudnya: Allah akan melimpahkan rahmat-Nya dari langit dengan menurunkan hujan dan menimbulkan rahmat-Nya dari bumi dengan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan yang buahnya melimpah ruah.
[429]. Maksudnya : orang yang berlaku jujur dan lurus dan tidak menyimpang dari kebenaran.
Pandangan itu tumbuh ketika Al-Qur'an mengisahkan janji Nuh a.s. kepada kaumnya ;
(71:10)
maka aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun,
(71:11)
niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat,
(71:12)
dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.
Pandangan itu tumbuh tatkala Al-Qur'an mengaitkan antara kenyataan diri manusia dengan kenyataan alam.
(13:11)
Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah [767]. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan [768] yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.
[767] Bagi tiap-tiap manusia ada beberapa malaikat yang tetap menjaganya secara bergiliran dan ada pula beberapa malaikat yang mencatat amalan-amalannya. Dan yang dikehendaki dalam ayat ini ialah malaikat yang menjaga secara bergiliran itu, disebut malaikat Hafazhah.
[768] Tuhan tidak akan merobah keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka.
Iman kepada Allah, mantap beribadat, serta tegar menegakkan syari'atNya di muka bumi, semuanya itu adalah dalam rangka melaksanakan sunnah Allah, sunnah yang bersifat aktif positif, berasal dari satu sumber yang menumbuhkan semua sunnah alam, yang dapat kita lihat pengaruhnya dalam alam.
Kita sering terpengaruh oleh gejala-gejala yang menipu, hingga terpisahlah sunnah alam itu; yaitu ketika kita melihat keberhasilan sekularisme yang kelihatannya bertentangan dengan nilai-nilai iman. Pemisahaan itu mungkin tidak tampak pada awal permulaannya tetapi pada akhirnya pasti muncul. Inilah justru yang telah dialami oleh masyarakat Islam. Titik naik masyarakat ini bermula pada waktu menyatunya hukum alam dalam kehidupan dengan nilai-nilai iman. Mulai menurun ketika terjadi pemisahaan; dan akan terus meluncur turun setiap kali sudut perbedaan itu membesar; untuk akhirnya akan mencapai titik terendah, pada saat hukum alam dan nilai-nilai iman itu sama-sama dikesampingkan.
Di sisi lain berdiri pula peradaban materialis. Peradaban ini tak obahnya seperti burung dengan sebelah sayap yang sebelah lagi lemah lunglai. Berhasil dalam penemuan-penemuan materi sekedar yang dapat dicapai oleh kemampuan, namun di segi lain mereka menjadi panik dan bingung, menderita penyakit jiwa dan syaraf seperti yang selalu dicemaskan oleh sarjana-sarjana mereka. Andai saja mereka mau menerima petunjuk menuju metode Allah; karena itulah satu-satunya tangkal dan obatnya.
Adapun syari'at Allah, ia merupakan sisi lain dari hukum-hukum Allah yang menyeluruh. Penerapan syari'at ini pasti memberikan pengaruh positif dalam menjalin jalan hidup manusia dan perkembangan alam, karena syari'at itu tak lain buah dari iman: tak mungkin tumbuh sendiri tanpa pohon induknya. Syari'at itu digariskan untuk dilaksanakan oleh masyarakat muslim; sebagaimana juga ia diciptakan untuk ikut berperan dalam membina masyarakat. Syari'at dan konsep Islam tentang wujud secara keseluruhan adalah saling menyempurnakan. Begitu pula antara syari'at dengan apa yang ditumbuhkan oleh konsep itu; ketaqwaan, kesucian perasaan, perhatian penuh, peningkatan moral, dan kemantapan amal. Demikianlah, nyata kelihatan adanya keterjalinan dan keterpautan antar sunnah-sunnah Allah, apakah itu disebut hukum alam atau dinamakan iman. Semuanya adalah sisi-sisi dari sunnahtullah secara keseluruhan.
Demikian pula diri manusia, merupakan salah satu potensi alam; aktivitas dan keinginannya, iman dan amal, ibadat dan kegiatannya. Manusia pun merupakan potensi dengan pengaruh positif di alam ini. Selanjutnya manusia itu terkait dengan sunnah Allah yang mencakup segala wujud. Semuanya berpungsi dan terarah. Jika seluruh faktor ini terkumpul dan terkoordinir, tentu akan membuahkan hasil yang sempurna. Sebaliknya akan jelek pengaruhnya, goyang tak seimbang, kehidupan pun akan rusak, penderitaan dan kesusahan bakal menyebar luas; seandainya timbul pemisahan dan pertentangan.
(8:53)
(Siksaan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu ni'mat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu merubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri [621], dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
[621] Allah tidak mencabut ni'mat yang telah dilimpahkan-Nya kepada sesuatu kaum, selama kaum itu tetap ta'at dan bersyukur kepada Allah.
Oleh sebab itu keterkaitan ini, dalam ruang lingkup sunnah Allah yang menyeluruh dan mencakup, harus wujud dan kokoh; keterkaitan antara perbuatan manusia dan perasaannya dengan segala peristiwa yang terjadi. Jangan sampai tumbuh keinginan untuk memutus tali ini, jangan ada alasan untuk melemahkan ikatan ini, jangan sampai timbul celah antara manusia dengan sunnah Allah. Kecuali oleh musuh-musuh kemanusiaan yang selalu memburu-buru tanpa petunjuk. Malah sebaliknya merekalah yang harus dikejar, digiring kembali kepada Raabnya Yang Maha Mulia.

Tidak ada komentar