Rabu, 25 April 2012

Melawan Ambisi Amerika


Melawan Ambisi Amerika

Maasyiral muslimin rakhimakumullah!
Kondisi umat Islam hari ini tidak bisa lepas dari perhatian kaum muslimin. Apa yang menimpa kaum muslimin di dunia barat dan timur membuat kaum muslimin yang lain ikut berpartisipasi dan memberikan pertolongan.
Kalau kita melihat sejarah masa lalu, kita akan mengerti bahwa wilayah kekuasaan kaum muslimin amatlah luas. Namun, setelah kekhilafahan Islam runtuh pada tahun 1942, kaum Salib dan Yahudi berusaha membagi dan memecah wilayah Islam menjadi negara-negara kecil. Kekayaannya diambil dan di dalamnya diterapkan undang-undang dan peraturan yang bertentangan dengan Islam. Hal-hal yang bisa menimbulkan kelemahan, mereka sebarkan, sementara hal-hal yang mendatangkan kekuatan, mereka jauhkan. Inilah perkara yang menjadi perhatian kaum muslimin tersebut.
Namun, yang terpenting bagi kita, wahai kaum muslimin, adalah melihat persoalan di atas dari kaca mata akidah dan syariat. Tidaklah benar apa yang dikatakan sebagian orang bahwa Kristen dunia yang tersimbolkan dalam diri Amerika Serikat ingin memerangi negara muslim "hanya" karena minyak atau kekayaan lain yang telah Allah khususkan kepada mereka.
Sesungguhnya pokok persoalannya adalah persoalan akidah. Peperangan yang saat ini tengah dikobarkan oleh negara Salib dan Yahudi memiliki tujuan akidah. Mereka rela menjelajahi daratan, lautan, dan memobilisasi tentara semuanya bertujuan akidah. Mereka ingin menyerang Irak, lalu setelah itu menyusul negara muslim lainnya. Mereka mendirikan bangunan dan asrama-asrama militer di Somalia, Djobuti, dan Kenya. Apakah ini hanya dalam rangka memburu kekayaan saja? Karena alasan politik? Demi Allah, tidak. Kita mempercayai benar apa yang telah difirmankan oleh Allah Azza wa Jalla yang artinya,
"Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup."
"Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Sebagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran...."
Mereka tidak sekedar ingin merampas kekayaaan kaum muslimin, menguasai harta dan wilayahnya. Tidak, demi Allah. Tetapi, yang mereka inginkan adalah agar kaum muslimin lepas dari agamanya, kehilanganan kekayaannya dan mengambil sesuatu yang rendah sebagai ganti dari sesuatu yang baik. Kalau tidak demikian--wahai kaum muslimin rakhimakumullah--dengan apakah kita akan menafsirkan semangat negara-negara salib yang telah mendirikan sebuah organisasi dunia menyerupai PBB. Dengan apakan kita akan menafsirkan keinginan keras mereka untuk memaksakan negara-negara Islam agar menyepakati perjanjian yang menghancurkan keluarga, pribadi laki-laki maupun perempuan. Mereka ingin menghancurkan masyarakat, menyebarkan kekejian dan menduduki wilayah-wilayah kaum muslimin, sehingga kaum muslimin tidak lagi berbicara tentang halal dan haram dan menganggap semuanya adalah mubah dan boleh. Mengapa mereka sangat bersemangat untuk memaksakan semuanya itu ke dalam negara muslim? Apakah itu berkaitan dengan politik? ekonomi? militer? Mereka ingin merobohkan masyarat muslim, menjadikannya sebagai hal yang sia-sia dan umum. Mereka tidak mengatahui halal dan haram, mana yang berbahaya dan mana yang tidak berbahaya. Mereka hidup seperti hewan, sebagaimana orang Salib dan Yahudi itu telah hidup dalam negaranya. Mereka menghendaki agar kaum muslimin melepaskan diennya secara menyeluruh. "Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup."
Mereka berusaha agar kaum muslimin tidak memiliki kekuatan. Mereka mengatakan kita harus menyerang Irak untuk melucuti semua persenjataan, yang mereka sebut sebagai senjata pemusnah masal. Mereka tidak ingin kaum muslimin memiliki senjata. Sisa kekuatan Irak sekarang adalah 400.000 orang pasukan, 2500 tank, 300 pesawat tempur, 1500 pasukan arteleri. Inilah kekuatan yang tersisa bagi kaum muslimin. Namun, mereka ingin melenyapkan ini semua, agar negara Yahudi menjadi negara yang terkuat. Kaum Salib ingin menjatuhkan Irak bukan karena aturan ba'atsnya, tetapi karena di dalamnya terdapat kaum muslimin. Irak adalah sebuah negara yang mayoritas penduduknya adalah kaum muslimin. Sebuah negara yang memiliki sejarah panjang dan peradaban yang mengakar. Dahulu kala Baghdad adalah ibu kota kekhilafahan Islam dalam masa yang panjang. Kaum salib menginginkan agar sejarah, peradaban, dan warisan kebudayaan kaum muslimin lenyap. Mereka tidak ingin hati kaum muslimin rindu kepada sejarah yang mengakar dan memukau itu. Mereka ingin menghancurkan Irak, kemudian mereka akan mengatakan bahwa serangan mereka terhadap Irak adalah untuk melucuti senjata pemusnah masalnya. Ironis memang, padahal negara-negara seperti Yahudi, Amerika Serikat, Prancis, Inggris, bahkan sosialis Rusia dan Cina diberi kebebasan penuh memiliki senjata apa pun. Tetapi, mengapa kaum muslimin tidak diperbolehkan.
Kaum muslimin tidak diperbolehkan memiliki senjata. Hari ini adalah Irak. Besok mungkin Pakistan. Sedangkan kemarin adalah Sudan dan Afghanistan. Begitulah sebagaimana firman Allah SWT, "Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup." Inilah fakta dan kenyataan yang ada dan gamblang di depan mata kita, setiap orang yang berakal bisa melihat fenomena ini, lalu apakah yang harus kita lakukan? Kalau kita mengetahui obat niscaya kita mengetahui. Fenomena yang menyedihkan ini mestinya membangkitkan pertanyaan pada diri seorang muslim: apa yang harus saya lakukan? Tidak cukup hanya mengubah peraturan dan menyesalkan penghianatan para penguasa Islam yang mendukung kaum kafir dalam memerangi kaum muslimin. Tidak hanya cukup seperti itu, tetapi hendaklah setiap kita bertanya apa peranan saya? Apa kewajiban saya?
Maasyiral muslimin rakhimakumullah!
Untuk menjawab pertanyaan ini, terlebih dahulu kita harus mengetahui tujuan akidah dalam peperangan ini. Yaitu, perang antarakidah, perang antaragama, bukan perang antaranegara. Negara yang satu dinamakan Irak, sedangkan yang lain dinamakan Amerika Serikat, Inggris, dan sebagianya. Demi Allah, tidak demikian. Namun, yang terjadi adalah perang antara Islam dan kafir, antara petunjuk dan kesesatan.
Marilah kita melihat propaganda yang dilakukan Amerika Serikat melalui surat kabar, media infomasi, dan lesan para pemimpinnya. Mereka mengatakan bahwa Arab Saudi adalah tempat yang teduh bagi teroris. Mengapa mereka mengatakan seperti ini? Karena, mereka melihat bahwa sekolah-sekolah yang ada di Saudi mengajarkan anak didiknya untuk mempelajari dan membaca firman Allah dan sabda Rasul-Nya. Mengajarkan mereka agar mengetahui yang halal dan haram, benar dan salah, hak dan batil. Menurut mereka semua itu adalah terorisme. Mengajarkan Islam adalah terorisme, membaca Alquran adalah terorisme, memelihara jenggot adalah terorisme. Semua bagian dari Islam menurut mereka adalah terorisme.
Perang yang terjadi adalah perang akidah dan perang agama. Jangan sekali-kali orang mengira bahwa fenomena di atas adalah perang terhadap sebuah kelompok atau organisasi, perang terhadap Alqaeda sebagaimana yang mereka katakan. Itu semua, demi Allah, adalah perang terhadap Islam secara keseluruhan, prinsipnya maupun cabangnya, keseluruhan maupun sebagiannya. Mereka tidak ingin bila semua manusia mengerti dan mempelajari sedikit pun dari agama ini. Begitula mereka melakukan serangan secara umum, inilah perang akidah yang harus dipahami oleh setiap kaum muslimin.
Maasyiral muslimin rakhimakumullah!
Yang kedua adalah akidah wala' dan bara' yang telah lenyap dan diabaikan oleh kebanyakan kaum muslimin sehingga mereka terjerumus dalam kasih sayang kepada orang kafir. Ini tidak terjadi pada skala negara, tetapi pada skala pribadi dan masyarakat. Masyarakat tidak lagi memilah-milah dan membedakan mana yang kafir dan mana yang mukmin. Kita tidak pernah lagi mendengar orang berkata ini mukmin dan itu kafir. Mereka menganggap bahwa semuanya adalah sama, yaitu sebagai warga negara. Padahal, Alquran telah menetapkan bahwa manusia terbagi antara muslim dan kafir. Islam telah menetapkan perbedaan di antara keduanya dan menghilangkan persamaan. Pemahaman inilah yang ingin dihapuskan oleh orang kafir. Mereka ingin menghapuskan akidah wala' dan bara' dari jiwa kaum muslimin.
Hari ini Amerika telah menabuh genderang perang dan mengumumkan bahwa mereka akan menyerang Irak, menghancurkan tentaranya dan mengubah peraturannya. Tetapi, mengapa negara-negara Islam yang ada di Jazirah Arab, bahkan termasuk Indonesia justru menandatangani kerja sama militer dengan negara musuh tersebut. Mereka mengumumkan dengan rasa bangga penghianatan besar mereka itu.
Allah SWT berfirman, "Hai orang yang beriman janganlah kamu memanggil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpinmu; sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu memanggil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim."
Mereka beralasan bahwa yang mereka lakukan bukanlah bentuk partisipasi dan pertolongan kepada kaum kafir. Tetapi, mereka melakukan itu karena takut mendapatkan musibah. Allah SWT berfirman, "Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata, 'Kami takut akan mendapat bencana.' Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya) atau suatu keputusan dari sisi-Nya. Maka, karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka."
Mereka melakukan hal itu karena mereka telah terbiasa dengan kemunafikan, dan beragantung kepada negara musuh tersebut. Mereka adalah orang yang secara zahir tumbuh dan berkembang dalam keadaan Islam tetapi mereka tidak meyakininya. Inilah kenyataan yang sekarang tengah terjadi.
Maasyiral muslimin rakhimakumullah!
Ada sunah Allah yang telah ditetapkan, sebagaimana tersebut dalam sabda Rasulullah saw., "Sesungguhnya Allah menangguhkan orang zalim, sehingga ketika Allah mengazabnya, Ia tidak melepaskannya." Kemudian beliau membacakan firman Allah SWT,
"Begitulah azab Rabmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras."
Allahlah yang telah mengazab Amerika pada tanggal 11 September lalu, yang menimbulkan ketakutan luar biasa kepada pemimpin dan masyarakat Amerika. Allah Azza wa Jalla telah menghinakan Qarun, Firaun, dan Haman, maka Ia pun Maha Mampu untuk menghinakan Bush dan orang-orang yang ada di sekitarnya dan mengikuti dirinya. Mereka adalah para pemimpin muslim yang berwali kepada Amerika dan memeberikan kemudahan kepadanya dengan memberikan tempat dan fasilitas untuk menyerang kaum muslimim. Kemarin di Afghanistan dan Sudan, sedangkan besok di Irak. Allah SWT akan menjadikan Amerika sebab untuk menghinakan para pemimpin tersebut dan ini adalah sunatullah. Rasulullah saw. bersabda, "Barangsiapa yang menolong orang zalim, Allah akan mengalahkannya." Allah menimpakan musibah yang satu dengan yang lainnya, kemudian yang satu merasa dendam. Orang zalim dendam kepada orang zalim. Kemudian keduanya pun saling mendendam dan begitulah seterusnya.
Maasyiral muslimin rakhimakumullah!
Akidah wala' dan bara' inilah yang harus kita realisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai dasar dalam mendidik anak-anak dan menumbuhkan generasi yang berakidah kuat dan meyakini bahwa di bumi ini ada orang kafir dan orang muslim. Dan, antara keduanya akan saling bertolak belakang dan berlawanan.
Maasyiral muslimin rakhimakumullah!
Yang ketiga adalah bersatu. Marilah kita bersatu, berkumpul, dan saling membantu. Marilah kita mulai dari diri kita sendiri. Wahai para penghuni dan pemakmur masjid, wahai para pembaca Alquran, wahai orang yang duduk di halaqah ilmu dan zikir. Satukanlah hati kalian. Realisasikanlah rasa kasih sayangmu kepada saudara kalian. Adalah Rasulullah saw. memulai hal ini dari saf salat. Beliau bersabda, "Jagalah pundak dan kaki kalian." "Benar-benar luruskanlah saf kalian atau Allah akan benar-benar membuat kalian menjadi berselisih." Bagaimana mungkin kita akan meminta negara dan pemerintah untuk bersatu dan berpegang teguh, sementara kita ketika di masjid, di rumah Allah masih berselisih, saling membenci dan saling meninggalkan. Keadaan kita seperti keadaan seekor kambing yang akan disembelih oleh tukang jagal, tetapi ia justru sibuk dengan perkelahian bersama teman-temannya. Inilah keadaan kita sekarang. Tidak ada seorang pun yang menyelisihi bahwa kita kaum muslimin pada hakikatnya adalah besar dan lurus. Lurus dalam akidah, agama, dan keimanan. Namun, setelah itu kita sibuk dengan hal-hal yang tidak prinsip. Kamu berkata begitu dan aku berkata begini. Dan kita membuat umat ini sibuk dengan apa yang kita katakan tersebut.
Allah SWT berfirman, "Berpegang teguhlah dengan tali Allah dan jangan bercerai-berai."
Ini adalah pengobatan yang utama, yaitu bersatu dan berpegang teguh dengan Alquran, sunah, akhlak din, dan ketentuan syar'i. Tampakkanlah kelemahlembutan dan kasih sayang kepada saudaramu. Berbahagialah karena kebahagiaannya dan bersedihlah karena kesedihannya. Di samping itu, munculkanlah rasa perlawanan dan permusuhan kepada musuh-musuh kalian. Bencilah mereka dan buanglah rasa cinta dan kasih sayang untuk mereka.
Allah Ta'ala berfirman, "Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka." Inilah yang harus kita terapkan wahai kaum muslimin rakhimakumullah.
Ketika Perang Badar usai, Mushab bin Umair melewati saudaranya, Abu Aziz bin Umair yang tengah ditawan salah seorang Anshar. Lalu ia berkata kepada orang Anshar tersebut, "Ikatlah yang kuat, karena ibunya orang kaya yang akan menebusnya." Kontan Abu Aziz, saudaranya tersebut berkata, "Mengapa engkau berkata demikian? Aku adalah saudaramu, engkau Mush'ab bin Umair sedangkan aku Abu Aziz bin Umair." Mush'ab berkata, "Sesungguhnya engkau bukan saudaraku, saudaraku adalah orang Anshar ini. Islam telah memutuskan ikatan persaudaraan di antara kita." Inilah pemahaman yang harus kita bangun wahai maasyiral muslimin rakhimakumullah. Kepada saudaramu yang ruku dan sujud bersamamu, mengahadap kiblat yang sama denganmu, maka jadikanlah mereka sebagai saudara yang engkau cintai. Adapun musuhmu, maka jadikanlah ia sebagai musuh, yaitu siapa saja yang menentang Allah dan Rasulnya dan siapa saja yang kafir kepada Allah dan Rasul-Nya.
Maasyiral muslimin rakhimakummulah!
Yang terakhir adalah berdoa. Marilah kita mendoakan saudara kita yang tengah mendapat musibah dan berada dalam ancaman kekafiran. Mereka berada di bawah cengkeramaan penguasa zalim dan hukum yang menyimpang. Marilah kita berdoa untuk saudara-saudara kita kaum muslimin yang ada di Irak. Negara yang di dalamnya terdapat Baghdad sebagai pusat kekuasaan Islam. Kota yang telah banyak melahirkan para ulama, fuqaha dan orang-orang cerdas. Kita memohon kepada Allah semoga Allah menolong orang yang menolong din-Nya dan menghancurkan oang yang menghancurkan din-Nya. Ya Allah, hancurkanlah Amerika beserta orang-orang yang mengikutinya dan membantunya. Wallahu a'lam.
Poskan Komentar