TASAWUF ( 1 )


TASAWUF ( 1 )

Muqoddimah : Allah SWT telah menciptakan manusia dengan sesempurna mungkin. Kemudian Allah SWT turunkan para nabi-Nya untuk membimbing mereka kearah jalan yang benar. Seluruh rangkaian kenabian ditutup dengan diutusnya Nabi Muhammad SAW dilengkapi dengan petunjuk Al Qur`an untuk seluruh ummat manusia dimana nabi-nabi sebelumnya hanya diutus kepada kaumnya yang jumlahnya menurut informasi Nabi SAW berjumlah 124.000 nabi alaihissalaam (HR.Bukhori dalam "Tarikh Kabir", Ahmad dalam "Musnadnya",Ibnu Hibban dalam "Mauridnya" dan Abu Nuaim dalam "Hilyahnya"(Manhajid Anbiya`fiddah wal ilallah,Dr.Rabi` bin Hadi Al-Madkholi,Darul Fath, Syariqoh,cet.I,th 1415-1994 H,hal 43). Rasulullah SAW menanamkan Islam kepada pengikutnya di Makkah dan kemudian menyebar ke Madinah selanjutnya berkembang ke semenanjung jazirah Arab sampai wafatnya beliau. Kemudian kendali pemerintahan Islam dilanjutkan oleh para khulafaurrosyidin sehingga da`wah semakin meluas dan penaklukan kota dan negara semakin luas sehingga banyak bergesekan dengan budaya lokal serta adat istiadat non Islam yang tidak jarang pada masa-masa berikutnya terjadi akulturasi ( perkawinan budaya ). Kalau pada abad pertama pertahanan aqidah dan syariat sangat kuat sehingga pengaruh budaya dan pemikiran dari luar Islam tidak dapat mempengaruhi kehidupan ummat Islam. Tetapi pada abad kedua diketemukan nilai-nilai Islam yang semakin mengendor dan kehidfupan semakin mewah, pada saat itu banyak upaya mengadopsi pemikiran dan budaya luar kedalam budaya dan pemikiran Islam. Diantara pemikiran luar yang masuk kedalam budaya Islam adalah tasawuf. Makanya istilah tasawuf tidak dikenal pada generasi pertama, tidak pula tertera dalam Al Qur`an maupun hadits. Sehingga Ibnu Kholdun, sejarawan muslim terkemuka, mengatakan " Sesungguhnya perkembangan tasawuf terjadi pada abad kedua dimana keadaan manusia bergelimang dunia, maka sejumlah orang meninggalkan kemewahan itu dan melakukan hidup zuhud dan ibadah, maka mereka disebut sufiyah"(Muqoddimah Ibnu Kholdun,hal 467 cet.4.(dari Mudhohir Inhirofat Aqodiyah oleh Idris Muhammad Idris,hal35)). Maka para ulama membuat landasan bahwa Islam telah sempurna dan konsep apapun harus diukur dengan Al Qur`an dan As Sunnah, manakala bersesuaian dengan Islam diambil, manakala bertentangan harus ditolak. Demikian halnya dengan tasawuf, marilah kita lihat sejauh mana jauh dekatnya dengan Islam.
Definisi Tasawuf
Para ulama dan peneliti tidak ada yang sepakat asal usul kata tasawuf, paling tidak ada tujuh perbedaan ;
1. Dari kata yang berarti bersih, seperti kata Mahmud Amin An-Nawawy, Artinya; "Segolongan ahli tasawuf berkata: bahwasanya pemberian nama menjadi sufiyah, karena kesucian rahasianya (hatinya) dan kebersihan kelakuannya."
2. Istilah sufi adalah nama yang dinisbatkan kepada kata yang bentuk jama`nya berarti shaf atau barisan. Hal ini sesuai dengan keterangan Mahmud Amin An-Nawawy yang mengatakan :" Segolongan (Ulama Tasawuf) berkata; bahwasanya mereka menamakan shufiyah, karena mereka berada pada posisi shaf yang terdepan disisi Allah `Azza Wa Jalla, dengan ketinggian cita-citanya (untuk mengahadap) kepada-Nya dan (keinginan) untuk bertemu dengan-Nya serta hatinya selalu tegak disisi-Nya."
3. Istilah sufi adalah nama yang dinisbatkan kepada perkataan yang diberikan kepada orang-orang Shufi dimasa Rasulullah SAW, karena mereka menempati gubuk-gubuk yang telah dibangun oleh Rasulullah SAW disekitar masjid Madinah. Hal ini sesuai dengan keterangan Abul`Alaa`Afiefy yang mengatakan :"(Istilah) Shufi, berkaitan dengan (perkataan) Ahlush Shuffah; yaitu nama yang dikhususkan kepada beberapa Fakir-Muslim pada masa permulaan Islam. Mereka itu termasuk orang-orang yang tidak memiliki rumah. Maka mereka menempati gubuk yang telah dibangun oleh Rasulullah SAW diluar Masjid Madinah".
Tetapi Mahmud Amin An-Nawawy mengatakan :"Segolongan (Ulama Tasawuf) berkata: Bahwasanya mereka menamakan dirinya Shufiyah, karena sifat-sifatnya mirip dengan sifat-sifat Ahlus Shuffah yang (hidup) dimasa Rasulullah SAW ".
4. Istilah sufi adalah nama yang dinisbatkan kepada kata yang artinya bulu atau wol. Karena orang-orang Tasawuf pada umumnya mengkhususkan dirinya dengan memakai pakaian yang berasal dari bulu domba. Hal ini dikatakan oleh Qusyairy :" Adapun orang-orang yang mengatakan bahwa (kata sufi itu) berasal dari kata Shuuf adalah dia berpakaian Shuuf (wol) jika ia memakai baju bulu; sebagaimana dikatakan, dia berpakaian kemeja bila memakai kemeja".
5. Istilah sufi adalah nama yang dinisbatkan kepada kata yang artinya pilihan (terbaik). Hal ini, dikatakan oleh Yusuf bin Al-Husein :"Setiap umat terdapat orang-orang pilihan (terbaik) ; dan mereka adalah titipan Allah yang tersembunyi dari makhluk-Nya Apabila terdapat orang-orang tersebut pada ummat ini (Islam), maka mereka itulah (yang dimaksudkan) Shufiyah".
6. Istilah sufi adalah nama yang dinisbatkan kepada keterangan (sifat) Karena pada umumnya orang-orang tasawuf menonjolkan dirinya dengan menunjukkan sifat-sifatnya yang terpuji. Hal ini, diterangkan oleh Mahmud Amin An-Nawawy :" Pernah Asy Syibly ditanya: Mengapa orang-orang Shufi dinamakan Shufi ? Ia menjawab : Karena padanya terlukis adanya gambaran (hati nurani) dan ketetapan sifat (yang terpuji)?..
7. Istilah sufi adalah nama yang dinisbatkan kedalam bahasa Yunani; dari kata "Sopos" atau "Sapis", yang dapat diartikan dengan "Ahli Mistik". Hal ini sesuai dengan keterangan Yoseph Founhamer dan Tholuck yang diterjemahkan oleh Abul `Alaa `Afiefy kedalam bahasa Arab, yang artinya :" ?dan sesungguhnya ada dua macam kata bahasa Arab "Shufiyyu" dan "Shaafiyyu" bersumber dari kata asli bahasa Yunani, dari kata "Sopos" dan "Sapis" ".
Banyak penulis lebih cenderung mengambil pendapat Al-Qusyairy sebagai pendapat yang paling kuat dari seluruh pendapat tersebut dimuka. Karena pada umumnya orang-orang memberikan nama panggilan kepada orang lain berdasarkan kebiasaan lahiriah yang paling menonjol padanya; misalnya pakaiannya. Karena ciri khas yang paling menonjol dan gampang diketahui pada orang Tasawuf adalah pakaian wolnya, maka ia dinamakan Shufi (pemakai bulu). (kuliah akhlak tasawuf, Drs. Mayuddin, hal. 49-54 dengan saduran)
Sejarah perkembangan Tasawuf
Sebagaimana telah kami kemukakan didepan bahwa istilah tasawuf tidak dikenal dimasa Nabi SAW dan para sahabatnya. Tetapi yang dikenal adalah zuhud (menjadikan dunia untuk akhirat) dan wara` (menjaga diri dari hal-hal yang dapat merusak akhirat). Istilah sufi pertama kali digunakan yaitu kepada Abu Hasyim Al Kufi (wafat th 150 H) dan ia orang yang pertama kali membangun tempat ibadah khusus bagi sufi (disebut Khoniqoh) di Ramlah, wilayah Syam (Palestina sekarang). Meskipun demikian orang sufi selalu menisbatkan tasawuf kepada Nabi SAW melewati Ali dilanjutkan oleh Hasan Al-Basri dst.
Sederetan nama sahabat yang menjadi rujukan ahli tasawuf ; Abu Bakar As-Shidiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Salman Al Farisi, Abu Dzar Al Ghifari, Miqdad bin Al Aswad,dll.
Kemudian pada masa tabiin terkenal nama Hasan Al Basri (w.110 H) dan Sofyan Al-Tsauri (w.161 H). Baru kemudian murid-murid Abdul Wahid bin Yazid pengikut Hasan Al Basri membangun tempat khusus untuk warga sufi disebut duwairah, demikian pendapat Ibnu Taimiyah (Al Fatawa 11/hal 6-7).
Pada abad kedua dikenal nama-nama Ibrahim bin Adham Al Balakhi (w.160/162 H) dan Rabiah Al Adawiyah (w.135 H). Ciri menonjol pada pengikut Hasan Al Basri adalah rasa takut yang berlebih kepada Allah selain zuhud dan banyak ibadah, sementara pada Rabiah Al Adawiyah lebih menonjol rasa muhabbah (cinta) kepada Allah SWT. Sementara para ulama menyebutkan perlunya keseimbangan agar tidak menyimpang, kata mereka "Barang siapa menyembah Allah SWT hanya dengan rasa muhabbah saja dia menjadi zindik, barangsiapa menyembah Allah SWT hanya dengan rasa takut maka dia menjadi khawariij dan barang siapa menyembah Allah SWT dengan harapan (raja') maka dia menjadi murjiah dan barang siapa menyembah Allah SWT dengan cinta, rasa takut dan harapan maka ia mukmin sejati". (Fatawa Ibnu Taimiyah 10/hal 81).
Pada abad ketiga tasawuf semakin solid dan berkembang dengan tokoh sentral Abu Sulaiman Addaaroony (w.215 H), Ahmad Al Hawary (w.230 H), Abul Faidh Zunnun Al Misri (w.245 H), Bisyir Al Hafi (w.227 H), Abu Bakar Al-Syibli (w.234 H) , Al Haris Al Muhasibi (w.247 H), Assirri Assiqthi (w.251 H), Abul Yazid Al Busthami (w.261 H), Al-Junaid (w.297 H) dan Al Hallaj (w.309).
Pada masa ini dan sesudahnya tasawuf berkembang menjadi kelompok-kelompok yang ditokohi oleh seorang syaikh. Seperti diungkap oleh Al Hajwairi (w.465 H) :" Pada masa itu lahirlah tarekat-tarekat sufi berjumlah duabelas dan masing-masing menisbatkan dirinya kepada seorang syaikh dari syaikh-syaikh abad tiga dan empat". (Kasyful Mahjub 1/hal 58)
Pada abad keempat tasawuf lebih berkembang lagi sehingga mereka menyebutkan dirinya sebagai ahli hakekat/ bathin, sementara ulama lain terutama ulama fiqh disebut sebagai ahli dhohir. Pada masa inilah trend sufi ditetapkan mempunyai empat tahapan atau empat ilmu ;
  1. Ilmu syariah
  2. Ilmu Tariqoh
  3. Ilmu Hakekat
  4. Ilmu Ma`rifat
Pada abad kelima dan seterusnya tasawuf sangat dipengaruhi oleh paham syiah dan filsafat.
Ajaran Sufi
Ajaran sufi mengandung usaha mujahadah dan riyadhoh dimana seorang salik (penuntut ilmu sufi) harus melewati maqomat dan ahwaal. Maqomat menurut Assarraj Aththusi dalam kitab Alluma`, yaitu kondisi ketaatan seorang hamba dihadapan Allah .Maka dia menyebut maqom (stasiun) berupa : taubat, wara`(menjaga makanan dari syubhat), zuhud (hatinya tidak bergantung kepada dunia, faqir, sabar, ridho`, tawakkal dll). Kemudian salik akan mendapatkan ahwaal yaitu kondisi hati yang bersih karena banyak berdzikir berupa muroqobah (menyadari diri bahwa dia diperhatikan Allah , merasa dekat, cinta, rasa takut, rasa harap, rindu, rasa senang menyendiri dengan Allah (Al-uns) , tenang, menyaksikan kebesaran Allah ,yakin dll.
Ajaran sufi yang paling banyak ditentang adalah konsep hulul yang dicetuskan oleh Abu Yazid Al Busthami (w.261 H), dimana Allah masuk kedalam diri seorang sufi sehingga dia mengucapkan syatahat yaitu ungkapan-ungkapan irrasional yang tidak bisa dipahami layaknya orang gila. Hal itu ditentang oleh para ulama karena dianggap bertentangan dengan aqidah Islam, dan ajaran seperti itu tidak dikenal dimasa Nabi SAW dan para sahabatnya. Konsep kedua yang ditentang adalah wihdatul wujud (manunggaling ing kawula gusti) menyatu dengan Allah SWT. Konsep ini dicetuskan oleh Al Hallaj (w.309 H) yang ditentang oleh ulama-ulama dimasanya kemudian dia diajukan kepengadilan karena tidak mau bertaubat akhirnya dihukum mati. Dan ajaran ini dikembangkan oleh Mahyuddin Ibnu Arabi dan dia dikafirkan oleh para ulama yang berjumlah lebih dari 37 orang ulama besar termasuk imam Nawawi. Diantara ajaran/ pendapat Ibnu Arabi dan pengikutnya antara lain ;
  • Wali lebih tinggi dari Nabi (Masra`:22)
  • Untuk sampai kepada Allah , tidak perlu mengikuti ajaran Nabi (Syara`). (Masra`:20).
  • Semua ini adalah Allah , tidak ada nabi/Rasul atau malaikat. Allah adalah manusia besar (Fushush-al Hukm:48,Masra`tasawuf:38)
  • Tidak sah khilafah kecuali insan kamil
  • Allah membutuhkan pertolongan makhluk ( Fushush-al Hukm:58-59)
  • Nabi Nuh A.s termasuk orang kafir (Masra`tasawuf:46-47)
  • Da`wah kepada Allah adalah tipu daya (Fushush-al Hukm:772/Masra`:66)
  • Al Haq adalah Al Khalq (Masra`:62)
  • Kesatuan muthlaq adalah agamanya (yang benar).
  • Hukum alam adalah Allah itu sendiri.(Masra`:70)
  • Hamba adalah Tuhan (Fushush-al Hukm:92-93,Masra`:75)
  • Neraka adalah syurga itu sendiri (Fushush-al Hukm:93-94)
  • Al Qur`an mempunyai dua arti yaitu lahir dan batin
  • Dalam anggapannya, dia berkumpul dengan para nabi
  • Perbuatan hamba adalah perbuatan Allah itu sendiri (Fushush-al Hukm:143)
  • Ad-Dhal (orang yang sesat) adalah al-muhtadi (yang mendapat petunjuk), Al Kafir adalah Al Mukmin.(Masra`108)
  • Orang-orang kafir tidak akan diazab oleh Allah sama sekali.( Fushush-al Hukm 116,Masra` 109)
  • Kebenaran berjalan atas unsur-unsur kebendaan/alam.( Fushush-al Hukm:181,Masra`111)
  • Hawa nafsu adalah Tuhan terbesar
  • Fir`aun adalah mukmin dan terbebas dari siksa neraka (Fushush-al Hukm 214)
  • Wanita adalah Tuhan (Fushush-al Hukm 216,Masra` 143)
  • Hakekat ke-Tuhanan tampak jelas dan utuh, pada Nabi-nabi a.s
  • Fir`aun adalah Tuhan Musa (Fushush-al Hukm 209, Masra` 122)
  • dll
Demikianlah pendapat-pendapat Ibnu Arabi dan pengikut-pengikutnya, yang kacau balau, dan jelas bertentangan dengan Al Qur`an dan sunnah, bertebaran dalam kitab-kitab yang mereka tulis. (Tentang Ibnu Arabi dan Syaitan Masuk Surga, Yayasan Al-Qalam, hal. 3-4)

Tidak ada komentar