Bunga Rampai Nasihat
Bunga
Rampai Nasihat
Mudah-mudahan Allah
yang Maha Menguasai segala-galanya selalu membukakan hati kita agar bisa
melihat hikmah dibalik setiap kejadian apapun yang terjadi. Yakinlah tidak ada
satu kejadian pun yang sia-sia, tidak ada suatu kejadian pun yang tanpa makna,
sangat rugi kalau kita menghadapi hidup ini sampai tidak mendapat pelajaran
dari apa yang sedang kita jalani. Hidup ini adalah samudera hikmah tiada
terputus. Seharusnya apapun yang kita hadapi, efektif bisa menambah ilmu,
wawasan, khususnya lagi bisa menambah kematangan, kedewasaan, kearifan diri
kita sehingga kalau kita mati besok lusa atau kapan saja, maka warisan terbesar
kita adalah kehormatan pribadi kita, bukan hanya harta semata. Rindukanlah dan selalu berharap agar saat kepulangan kita nanti, saat
kematian kita adalah saat yang paling indah.
Harusnya saat malaikat maut menjemput, kita benar-benar dalam keadaan siap,
benar-benar dalam keadaan khusnul khatimah. Harus sering dibayangkan kalau saat
meninggal nanti kita sedang bagus niat, sedang bersih hati, keringat sedang
bercucuran di jalan Allah SWT. Syukur-syukur kalau nanti kita meninggal, kita
sedang bersujud atau sedang berjuang di jalan Allah. Jangan sampai kita mati
sia-sia, seperti yang diberitakan koran-koran tentang seorang yang meninggal
sedang nonton di bioskop. Terang saja buruk sekali orang yang meninggal di
bioskop, apalagi misalnya film yang ditontonnya film (maaf) “Gairah Membara”,
film maksiat, na’udzubillah. Dia akan “membara” betulan di neraka nanti. Ingat
maut adalah hal yang sangat penting.
Tiada kehormatan dan kemuliaan kecuali dari Engkau wahai Allah pemilik alam
semesta, yang mengangkat derajat siapa pun yang Engkau kehendaki dan
menghinakan siapa pun yang Engkau kehendaki, segala puji hanyalah bagi-Mu dan
milik-Mu. Shalawat semoga senantiasa terlimpah bagi kekasih Allah, panutan kita
semua Rasulullah SAW.
Sahabat, percayalah sehebat apapun harta, gelar, pangkat, kedudukan, atau
atribut duniawi lainnya tak akan pernah berharga jikalau kita tidak memiliki
harga diri. Apalah artinya harta, gelar, dan pangkat, kalau pemiliknya tidak
punya harga diri.
Hidup di dunia hanya satu kali dan sebentar saja. Kita harus
bersungguh-sungguh meniti karier kehidupan kita ini menjadi orang yang memiliki
harga diri dan terhormat dalam pandangan Allah SWT juga terhormat dalam
pandangan orang-orang beriman. Dan kematian kita pun harus kita rindukan
menjadi sebaik-baik kematian yang penuh kehormatan dan kemuliaan dengan warisan
terpenting kehidupan kita adalah nama baik dan kehormatan kita yang tanpa cela,
kehinaan.
Langkah awal yang harus kita bangun dalam karier kehidupan ini adalah tekad
untuk menjadi seorang muslim yang sangat jujur dan terpercaya sampai mati. Seperti
halnya Rasulullah SAW memulai karier kehidupannya dengan gelar kehormatan Al
Amin (seorang yang sangat terpercaya).
Kita harus berjuang mati-matian untuk memelihara harga diri kehormatan kita
menjadi seorang muslim yang terpercaya, sehingga tidak ada keraguan sama sekali
bagi siapapun yang bergaul dengan kita, baik muslim maupun non muslim, baik
kawan atau lawan, tidak boleh ada keraguan terhadap ucapan, janji, maupun
amanah yang kita pikul.
Oleh karena itu, pertama, jaga lisan kita. Jangan pernah berbohong
dalam hal apapun. Sekecil dan sesederhana apapun, bahkan betapa pun terhadap
anak kecil atau dalam senda gurau sekalipun. Harus benar-benar bersih dan
meyakinkan, tidak ada dusta, pastikan tidak pernah ada dusta! Lebih baik kita
disisihkan karena kita tampil apa adanya, daripada kita diterima karena
berdusta. Sungguh tidak akan pernah bahagia dan terhormat menjadi seorang
pendusta. (Tentu saja bukan berarti harus membeberkan aib-aib diri yang telah
ditutupi Allah, ada kekuasaan tersendiri, ada kekhususan tersendiri. Jujur
bukan berarti bebas membeberkan aib sendiri).
Kedua, jaga lisan, jangan pernah menambah-nambah,
mereka-reka, mendramatisir berita, informasi, atau sebaliknya meniadakan apa
yang harus disampaikan. Sampaikanlah berita atau informasi yang mesti
disampaikan seakurat mungkin sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Kita
terkadang suka ingin menambah-nambah sesuatu atau bahkan merekayasa kata-kata
atau cerita. Jangan lakukan! Sama sekali tidak akan menolong kita, nanti ketika
orang tahu informasi yang sebenarnya, akan runtuhlah kepercayaan mereka kepada
kita.
Ketiga, jangan sok tahu atau sok pintar dengan
menjawab setiap dan segala pertanyaan. Nah, orang yang selalu menjawab setiap
pertanyaan bila tanpa ilmu akan menunjukkan kebodohan saja. Yakinlah kalau kita
sok tahu tanpa ilmu itulah tanda kebodohan kita. Yang lebih baik adalah kita
harus berani mengatakan “tidak tahu” kalau memang kita tidak mengetahuinya,
atau jauh lebih baik disebut bodoh karena jujur apa adanya, daripada kita
berdusta dalam pandangan Allah.
Keempat, jangan pernah membocorkan rahasia atau
amanat, terlebih lagi membeberkan aib orang lain. Jangan sekali-kali
melakukannya. Ingat setiap kali kita ngobrol dengan orang lain, maka obrolan
itu jadi amanah buat kita. Bagi orang yang suka membocorkan rahasia akan
jatuhlah harga dirinya. Padahal justru kita harus jadi kuburan bagi rahasia dan
aib orang lain. Yang namanya kuburan tidak usah digali-gali lagi kecuali
pembeberan yang sah menurut syariat dan membawa kebaikan bagi semua pihak. Ingat,
bila ada seseorang datang dengan menceritakan aib dan kejelekan orang lain
kepada kita, maka jangan pernah percayai dia, karena ketika berpisah dengan
kita, maka dia pun akan menceritakan aib dan kejelekan kita kepada yang lain
lagi.
Kelima, jangan pernah mengingkari janji dan jangan
mudah mengobral janji. Pastikan setiap janji tercatat dengan baik dan selalu
ada saksi untuk mengingatkan dan berjuanglah sekuat tenaga dan semaksimal
mungkin untuk menepati janji walaupun dengan pengorbanan lahir batin yang
sangat besar dan berat. Ingat, semua pengorbanan menjadi sangat kecil
dibandingkan dengan kehilangan harga diri sebagai seorang pengingkar janji,
seorang munafik, na’udzubillah. Tidak artinya. Semua pengorbanan itu kecil
dibanding jika kita bernama si pengingkar janji. Rasulullah SAW pernah sampai
tiga hari menunggu orang yang menjanjikannya untuk bertemu, beliau menunggu
karena kehormatan bagi beliau adalah menepati janji.***
Post a Comment