Getaran Allah di Padang Arafah
Materi Ceramah: “Getaran Allah di Padang Arafah”
Mukadimah
الحَمْدُ للهِ الَّذِيْ جَعَلَ الحَجَّ مَوْسِمًا لِلتَّوْبَةِ وَالغُفْرَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Amma ba’du.
Jamaah rahimakumullah,
Hari Arafah adalah hari paling agung dalam ibadah haji. Hari ketika jutaan manusia berkumpul tanpa membedakan jabatan, gelar, warna kulit, dan kekayaan. Semua memakai kain putih yang sama. Semua menangis di hadapan Allah. Semua memohon ampun kepada Rabb semesta alam.
1. Keutamaan Hari Arafah: Hari Pembebasan dari Neraka
Allah ﷻ berfirman:
وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْرٍ
“Demi fajar, dan malam yang sepuluh.”
(QS. Al-Fajr: 1–2)
Tafsir Ulama
Ibnu Katsir menjelaskan dalam Tafsir Ibnu Katsir bahwa “malam yang sepuluh” adalah sepuluh hari pertama Dzulhijjah, termasuk hari Arafah yang sangat mulia.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ
“Tidak ada hari ketika Allah lebih banyak membebaskan hamba dari neraka dibanding hari Arafah.”
(HR. Muslim)
Penjelasan Ulama
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan: Hari Arafah adalah hari pengampunan dosa, limpahan rahmat, dan kebanggaan Allah kepada para malaikat atas hamba-hamba-Nya yang datang dalam keadaan lusuh dan berdebu demi mencari ridha Allah.
2. Wukuf Mengajarkan Kerendahan Hati
Allah ﷻ berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)
Di Arafah semua sama. Menteri sama dengan tukang becak. Direktur sama dengan petani. Yang membedakan hanyalah takwa.
Ulasan Ulama
Al-Qurthubi dalam Tafsir Al-Qurthubi menjelaskan: Ayat ini menghancurkan kesombongan manusia yang bangga dengan nasab, kekayaan, dan kedudukan.
Humor
Ada orang datang haji bawa koper besar sekali. Ditanya:
“Pak, isinya apa?”
Dia jawab:
“Ini oleh-oleh buat keluarga.”
Temannya bilang:
“Yang penting jangan sampai pulang hajinya tinggal koper sama kulkas magnet Ka’bah doang… takwanya ketinggalan di Arafah!"
Karena memang kadang yang berubah setelah haji cuma foto profil WhatsApp:
dari pakai jas… jadi pakai ihram.
Tapi marahnya masih sama, pelitnya masih sama, gibahnya masih level internasional!
3. Bahaya Kesombongan
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walau sebesar biji zarrah.”
(HR. Muslim)
Penjelasan Ulama
Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami’ul Ulum wal Hikam menjelaskan: Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.
Kadang orang sombong bukan karena mobilnya mewah…
tapi karena merasa:
- paling benar,
- paling alim,
- paling suci,
- paling senior.
Padahal di sisi Allah belum tentu lebih mulia daripada tukang sapu masjid yang ikhlas.
4. Dunia Bukan Tanda Kemuliaan
Allah ﷻ berfirman:
أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُمْ بِهِ مِنْ مَالٍ وَبَنِينَ نُسَارِعُ لَهُمْ فِي الْخَيْرَاتِ ۚ بَلْ لَا يَشْعُرُونَ
“Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan itu berarti Kami bersegera memberikan kebaikan kepada mereka? Tidak, mereka tidak sadar.”
(QS. Al-Mu’minun: 55–56)
Penjelasan
Hasan Al-Bashri berkata: “Jangan tertipu dengan orang yang diberi dunia, karena bisa jadi itu istidraj.”
Humor
Ada orang bangga rumahnya tiga lantai.
Tetangganya bilang: “Masya Allah… hebat.”
Dia jawab: “Iya dong, hasil kerja keras.”
Tapi giliran azan subuh…
yang naik ke masjid malah cuma kucing komplek.
Rumahnya tinggi…
tapi derajatnya belum tentu tinggi.
5. Haji Mabrur Tandanya Akhlak Berubah
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ
“Haji mabrur tidak ada balasan baginya selain surga.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Apa tanda haji mabrur?
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan: Tanda haji mabrur adalah:
- hati lebih lembut,
- lebih tawadhu,
- lebih cinta akhirat,
- meninggalkan maksiat,
- dan semakin bermanfaat bagi manusia.
6. Sebaik-Baik Manusia Adalah yang Bermanfaat
Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”
(HR. Ahmad)
Sepulang dari haji jangan hanya ganti nama menjadi “Pak Haji”.
Tapi:
- tetangga tetap susah dipinjamin uang,
- istri tetap dimarahi,
- bawahan tetap dizalimi,
- masjid tetap sepi dari dirinya.
Kalau begitu yang berubah cuma tulisan di undangan:
dulu “Bapak Ujang”…
jadi “H. Ujang”.
Humor
Ada orang setelah pulang haji dipanggil “Pak Haji”.
Seminggu pertama rajin senyum.
Sebulan kemudian…
marah-marah lagi.
Akhirnya tetangga bilang: “Hajinya mabrur nggak?”
Dijawab: “Kurang tahu…”
Tetangganya bilang: “Kalau koper sih pasti mabrur, soalnya semua oleh-oleh nyampe.”
7. Persaudaraan dalam Islam
Allah ﷻ berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.”
(QS. Al-Hujurat: 10)
Di Arafah kita belajar:
- tidak ada superioritas bangsa,
- tidak ada kasta,
- tidak ada warna kulit paling mulia.
Penjelasan Ulama
Sayyid Qutb dalam Fi Zhilalil Qur’an menjelaskan: Islam membangun persaudaraan berdasarkan iman, bukan materi dan keturunan.
Penutup
Jamaah rahimakumullah…
Arafah mengajarkan:
- hidup ini sebentar,
- dunia hanya titipan,
- kematian pasti datang,
- dan tempat kembali hanyalah kepada Allah.
Allah ﷻ berfirman:
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً فَادْخُلِي فِي عِبَادِي وَادْخُلِي جَنَّتِي
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”
(QS. Al-Fajr: 27–30)
Doa
اللَّهُمَّ اجْعَلْ حَجَّنَا حَجًّا مَبْرُورًا، وَسَعْيَنَا سَعْيًا مَشْكُورًا، وَذَنْبَنَا ذَنْبًا مَغْفُورًا، وَعَمَلَنَا عَمَلًا صَالِحًا مَقْبُولًا.
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا إِلَى النَّارِ مَصِيرَنَا.
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.
آمين يا رب العالمين.
Post a Comment