Jumat, 31 Mei 2013

Berbuat Baik Kepada Mayit


Amalan Kesebelas
Memberi pengharum pada badan jenazah serta kain kafannya

Dari Jabir radhiyallahu 'anhu, ia berkata: 'Rasulallah shalallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda:
قال رسول الله r : «إذا أجمرتم الميت فأجمروه ثلاثًا». أخرجه أحمد في المسند والبيهقي في السنن، انظر: صحيح الجامع (1/113) (278).
"Apabila kalian memberi pewangi dengan (dupa) pada jenazah, lakukanlah sebanyak tiga kali".[1]

Masih dalam riwayat beliau, dia mengatakan: 'Rasulallah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
 قال رسول الله r : «إذا أجمرتم الميت, فأوتروا». صحيح موارد الظمآن إلى زوائد ابن حبان (1/332) (624).
"Jika kalian memberi wewangian pada jenazah, maka lakukanlah dengan bilangan ganjil".[2]

Amalan Kedua Belas
Membawa Jenazah dan bersegera, dengan berjalan kaki

      Di riwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: 'Rasulallah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
قال رسول الله r : «أسرعوا بالجنازة, فإن تك صالحة فخير تقدمونها إليه, وإن تكن غير ذلك فشر تضعونه عن رقابكم» [ رواه البخاري ] .
"Bersegeralah kalian di dalam memanggul jenazah, karena, jika sekiranya dia orang yang sholeh, maka itu adalah kebaikan yang kalian segerakan baginya, namun, bila dia orang yang buruk, maka setidaknya kalian telah meletakan kejelekan dari pundak-pundakmu".[3]
       Di kisahkan dari Abdurahman bin Jusyan, beliau mengatakan: 'Aku pernah menghadiri jenazahnya Abdurahman bin Samurah, dan para pengiring berjalan disisi kiri kanan keranda, adapun para lelaki dari anggota keluarga Abdurahman, serta para pelayannya bergantian membawa keranda tersebut, lalu berjalan dibelakang mereka. Sambil sesekali mengatakan: 'Pelan-pelan, barokallahu fiikum'.  Sehingga akhirnya mereka berjalan dengan pelan, sampai ketika kami sampai disebuah jalan, kami bertemu dengan Abu Bakar radhiyallahu 'anhu yang sedang naik di atas seekor bighal.
     Tatkala melihat orang-orang yang sedang membawa jenazah pelan seperti itu, maka beliau mendekati kami. Lalu mengatakan: 'Demi Allah, sungguh kami pernah membawa jenazah bersama Rasulallah shalallahu 'alaihi wa sallam, dan kami berjalan sangat cepat, sampai-sampai seperti berlari kecil'. Setelah mendengar hal tersebut, maka orang-orang berjalan dengan cepat.[4]





Amalan Ketiga Belas
Mengiringi jenazah muslim

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: 'Rasulallah shalallahu 'alaihi wa sallam baersabda:
قال رسول الله r : «حق المسلم على المسلم ست». قيل: ما هن يا رسول الله! قال: «إذا لقيته فسلم عليه, وإذا دعاك فأجبه, وإذا استنصحك فانصح له, وإذا عطس فحمد الله فشمته, وإذا مرض فعده, وإذا مات فاتبعه». رواه مسلم.
"Hak seorang muslim terhadap muslim lainnya ada enam perkara'. Di katakan pada beliau, apa saja wahai Rasulallah? Beliau menjawab: 'Apabila engkau bertemu memberi salam padanya, bila diundang engkau memenuhinya, jika diminta nasehat engkau menasehatinya, bila ia bersin dan mengucapkan alhamdulillah engkau mendo'akannya, jika sakit engkau menjenguknya, dan bila meninggal engkau mengiringi jenazahnya".[5]

     Dalam riwayat lain, dari Bara bin Azib radhiyallahu 'anhu, beliau mengatakan: 'Rasulallah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
قال رسول الله r : «من تبع جنازة حتى يصلى عليها, كان له من الأجر قيراط, ومن مشى مع الجنازة حتى تدفن, كان له من الأجر قيراطان. والقيراط مثل أحد» [ رواه النسائي ]
"Barangsiapa yang mengikuti jenazah sampai menyolatinya, baginya akan mendapat pahala satu qiroth, dan barangsiapa yang berjalan mengiringi jenazahnya sampai dikubur, baginya akan mendapat pahala dua qiroth, dan satu qiroth itu (besarnya) seperti gunung Uhud".[6]
     Dalam riwayatnya Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu 'anhu, ia mengatakan: 'Rasulallah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
قال رسول الله r : «عودوا المرضى, واتبعوا الجنائز, تذكركم الآخرة» رواه أبو يعلى في مسنده والبخاري في الأدب المفرد، انظر: السلسلة الصحيحة (4/636) (1981).
"(Seringlah) kalian menjenguk orang sakit, dan banyaklah mengiringi jenazah, sesungguhnya hal tersebut bisa mengingatkan kalian pada akhirat".[7]
Amalan Keempat Belas
Mensholati Mayit

Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata: 'Bersabda Rasulallah shalallahu 'alaihi wa sallam:
 قال رسول الله r : «لا يموت أحد من المسلمين, فيصلي عليه أمة من المسلمين يبلغوا أن يكونوا مائة فيشفعوا له إلا شفعوا فيه» [رواه الترمذي]
"Tidaklah seorang muslim yang meninggal, lalu ada yang menyolatinya dari kalangan kaum muslimin sejumlah seratus orang, yang mereka memintakan syafa'at padanya, melainkan pasti jenazah tersebut akan mendapatkan syafa'at".[8]
      Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, beliau mengatakan: 'Rasulallah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
قال رسول الله r : «ما من مسلم يموت فيقوم على جنازته أربعون رجلا لا يشركون بالله شيئا إلا شفعوا فيه».[ رواه مسلم ] .
"Tidaklah seorang muslim meninggal, lalu ada yang ikut menyolati jenazahnya sebanyak empat puluh orang, yang mereka tidak menyekutukan Allah sedikitpun, melainkan mereka pasti bisa memberi syafa'at padanya".[9]
Sedangkan riwayat Abu Hurairah, beliau mengatakan dari Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
قال رسول الله r : «من صلى عليه مائة من المسلمين غفر له». [ رواه ابن ماجه ] .
"Barangsiapa yang jenazahnya di sholati sebanyak seratus orang dari kaum muslimin, (pasti) dia akan diampuni dosa-dosanya".[10]
      Masih dalam riwayatnya Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, dia mengatakan: 'Rasulallah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
قال رسول الله r : «ما من رجل مسلم يموت فيقوم على جنازته أربعون رجلا لا يشركون بالله شيئا إلا شفعهم الله فيه» [ رواه مسلم ] .
"Tidaklah seseorang yang meninggal dari kalangan kaum muslimin, lalu ada empat puluh orang yang ikut mensholati jenazahnya, yang mereka tidak menyekutukan Allah sedikitpun, melainkan Allah pasti akan memberi syafa'at melalui mereka pada jenazah tersebut".[11]

Masih dari beliau, ia mengatakan: 'Rasulallah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
قال رسول الله r : «ما من أربعين من مؤمن يشفعون لمؤمن إلا شفعهم الله». رواه ابن ماجه.
"Tidaklah empat puluh orang dari kalangan orang yang beriman, yang memintakan syafa'at kepada mukmin lainnya, melainkan pasti Allah akan memberi permintaan syafa'atnya tersebut".[12]


Amalan Kelima Belas
Mendo'akan Mayit ketika sholat jenazah

     Di riwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: 'Rasulallah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
قال رسول الله r : «إذا صليتم على الجنائز, فأخلصوا لها الدعاء».  صحيح موارد الظمآن لزوائد ابن حبان (1/333) (626).
"Apabila kalian mensholati jenazah, ikhlaslah kalian di dalam mendo'akan jenazah itu".[13]
      Dari Auf bin Malik radhiyallahu 'anhu, ia berkata: 'Aku mendengar Rasulallah shalallahu 'alaihi wa sallam ketika beliau sholat pada jenazah, beliau berdo'a dengan mengatakan:
«اللهم اغفر له وارحمه وعافه واعف عنه وأكرم نزله ووسع مدخله واغسله بالماء والثلج والبرد ونقه من الخطايا كما نقيت الثوب الأبيض من الدنس. وأبدله دارا خيرا من داره, وأهلا خيرا من أهله, وزوجا خيرا من زوجه. وأدخله الجنة, وأعذه من عذاب القبر» [ رواه مسلم ] .
"Ya Allah, ampunilah dirinya, berikan rahmatMu kepadanya, selamatkan dirinya dan ampuni dosa-dosanya, muliakan dirinya dan luaskanlah kuburnya. Cucilah dirinya dengan air, es, dan embun, lalu bersihkanlah dirinya dari segala kesalahan sebagaimana pakaian putih dibersihkan dari noda. Berikanlah kepadanya tempat tinggal (pengganti) yang lebih baik dari tempat tinggalnya, keluarga yang lebih baik dari keluarganya, istri yang lebih baik dari istrinya, masukan dirinya kedalam surga, dan peliharalah dirinya dari siksa kubur".[14]
      Sedangkan dalam riwayat Abu Ibrahim al-Anshari dari bapaknya radhiyallahu 'anhuma, beliau mendengar Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam berdo'a ketika sholat jenazah:

«اللهم اغفر لحينا وميتنا وشاهدنا وغائبنا وذكرنا وأنثانا وصغيرنا وكبيرنا» [رواه النسائي] .
"Ya Allah, ampunilah orang yang hidup dan yang mati diantara kami, yang hadir disini dan yang tidak hadir, yang besar dan yang kecil, yang laki-laki dan perempuan".[15]
     Dan ada lagi do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam ketika menyolati jenazah. Diriwayatkan dari Watsilah bin al-Asqa' radhiyallahu 'anhu, beliau menceritakan bahwa Rasulallah pernah mengimami sholat jenazah, dan aku mendengar beliau membaca do'a:
«اللهم إن فلان بن فلان في ذمتك وحبل جوارك فقه من فتنة القبر وعذاب النار وأنت أهل الوفاء والحمد. اللهم فاغفر له وارحمه إنك أنت الغفور الرحيم» [ رواه أبو داود ]
"Ya Allah, sesungguhnya Fulan bin Fulan berada dalam tanggunganMu, berada dalam pendampingMu, maka peliharalah dirinya dari siksa kubur dan siksa neraka. Engkau selalu menunaikan janji dan Dzat yang layak di puji. Ampunilah dirinya dan berikanlah rahmatMu kepadanya, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".[16]
Amalan Keenam Belas
Sholat jenazah diatas kubur, bagi siapa yang tidak menjumpai sholat jenazahnya, dengan catatan waktunya tidak terlalu lama

       Di riwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, bahwa Rasulallah shalallahu 'alaihi wa sallam pernah melewati sebuah kubur yang baru saja dimakamkan jenazahnya semalam. Maka beliau bertanya: 'Kapan jenazahnya dikubur? Semalam, jawab para sahabat. Beliau mengatakan: 'Kenapa kalian tidak mengabariku? Mereka mengemukan alasannya: 'Karena kami mengubur pada waktu malam yang gelap gulita, dan kami tidak senang kalau sampai membangunkan tidurmu.
Maka kemudian beliau berdiri dan kami membikin barisan shof dibelakangnya untuk menyolati jenazah tersebut.
     Ibnu Abbas mengatakan: 'Dan aku salah seorang yang ada diantara mereka pada saat itu, lalu kami sholat pada jenazah yang telah dikubur tersebut".[17]
وعن يزيد بن ثابت وكان أكبر من زيد. قال: خرجنا مع النبي r فلما ورد البقيع. فإذا هو بقبر جديد. فسأل عنه. فقالوا: فلانة. قال: فعرفها. وقال: «ألا آذنتموني بها» قالوا: كنت قائلا صائما, فكرهنا أن نؤذيك. قال: «فلا تفعلوا, لا أعرفن ما مات منكم ميت ما كنت بين أظهركم إلا آذنتموني به, فإن صلاتي عليه له رحمة» ثم أتى القبر, فصفَّنا خلفه, فكبر عليه أربعا.  [رواه ابن ماجه]
Dari Yazid bin Tsabit, dan dia lebih tua umurnya dari Zaid, dia menceritakan: 'Pada suatu hari kami pernah keluar bersama Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam, manakala sampai di Baqi, kami melihat ada sebuah makam yang masih baru, maka beliau bertanya siapa penghuninya. Para sahabat menjawab: 'Fulanah'. Dan beliau mengenalinya, beliau bertanya: 'Kenapa kalian tidak memberitahuku? Mereka menjawab: 'Pada waktu itu engkau sedang berpuasa, maka kami tidak senang kalau menganggumu'. Beliau bersabda: 'Jangan kalian lakukan lagi. Kalau sekiranya ada orang yang meninggal diantara kalian sedangkan diriku kenal dan ada ditengah-tengah kalian, maka kabarilah diriku. Sesungguhnya sholatku padanya bisa memberi rahmat".
     Kemudian beliau mendatangi kuburannya, lalu menyuruh kami membikin shof di belakangnya, lantas beliau sholat dengan empat takbir'.[18]
      Dan dari Abu Sa'id radhiyallahu 'anhu, beliau menceritakan: 'Ada seorang perempuan hitam yang biasa membersihkan masjid Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam, kemudian dia meninggal pada malam hari. Pada keesokan harinya kami mengabarkan kepada Nabi tentang kematiannya. Maka beliau bertanya: 'Kenapa kalian tidak memberitahuku?
      Kemudian kami keluar bersamanya memberi tahu kubur, lalu berdiri diatas kuburnya, beliau kemudian bertakbir menyolati dan mendo'akannya, sedangkan para sahabat ikut sholat dibelakangnya'.[19]
       Dan dalam riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu, ia mengatakan: 'Sesungguhnya Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam pernah menyolati jenazah yang telah dikubur setelah lewat kematiannya tiga hari".[20]









Amalan Ketujuh Belas
Sholat gho'ib terhadap jenazah yang sama sekali belum disholati
عن أبي هريرة -رضي الله عنه- قال: نعى لنا رسول الله r النجاشي صاحب الحبشة اليوم الذي مات فيه. فقال: «استغفروا لأخيكم» [ رواه البخاري ]
       Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: 'Suatu hari Rasulallah shalallahu 'alaihi wa sallam mengabarkan pada kami berita tentang kematian Najasi, penguasa Habasyah pada hari kematiaanya. Maka beliau bersabda kepada kami: "Mintakanlah ampun kepada Allah terhadap saudara kalian".
       Abu Hurairah menjelaskan bahwa Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam menyuruh kami membikin shof untuk sholat, lalu beliau sholat (ghoib) dengan empat takbir'.[21]
     Sedangkan dalam riwayat Hudzaifah bin Asid radhiyallahu 'anhu, beliau menceritakan, bahwa Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam keluar bersama mereka menuju tempat sholat, lalu mengatakan pada para sahabatnya: "Sholatlah pada saudara kalian yang telah meninggal jauh dari negerimu ini". Maka para sahabat bertanya: 'Siapakah dia, wahai Rasulallah? Beliau menjawab: 'Najasi".[22]

Amalan Kedelapan Belas
Menggali kubur untuk mayit serta berbuat baik padanya

      Di riwayatkan dari Abu Rafi radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulallah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله r : «من غسل مسلما فكتم عليه غفر الله له أربعين مرة. ومن حفر له فأجنه أجرى عليه كأجر مسكن أسكنه إياه إلى يوم القيامة. ومن كفنه كساه الله يوم القيامة من سندس وإستبرق الجنة». أخرجه الحاكم والبيهقي. انظر: أحكام الجنائز، للألباني ـ ص (51) رقم (30).

"Barangsiapa yang memandikan jenazah muslim lalu menyembunyikan aibnya, maka Allah akan mengampuni dirinya sebanyak empat puluh kali. Dan barangsiapa yang menggali kubur untuk jenazah lalu memakamkannya, maka dia akan diberi pahala seperti orang yang memberi rumah pada jenazah tersebut kelak pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang mengkafani mayit maka Allah akan memberinya pakaian dari sundus dan istabarak disurga kelak".[23]

     Sedangkan bentuk perbuatan baik ketika kita mengubur jenazah, bisa dengan beberapa perkara, diantaranya:
  1. Hendaknya membikin liang lahat baginya.

      Hal itu berdasarkan sebuah riwayat dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma yang mengatakan; 'Rasulallah shalallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda:
قال رسول الله r : «اللحد لنا والشق لغيرنا».[ رواه ابن ماجه ].
"Liang lahat adalah untuk mayit dikalangan kita sedangkan melubangi begitu saja maka itu untuk selain kita".[24]
     Dan yang dimaksud dengan liang lahat ialah galian yang condong kedalam sebelah kanan sebagai tempat mayit ketika dimasukan kedalam kubur.[25] Dan didalam hadits ini menujukan tentang keutamaan untuk membikin liang lahat, dan bukan sebagai larangan untuk galian yang tidak ada liang lahatnya.[26]
  1. Hendaknya kubur tersebut dalam dan tidak terlalu sempit.

     Seperti keterangan yang ada dalam sebuah hadits, yang diriwayatkan dari Hisyam bin Amir radhiyallahu 'anhu, ia berkata: 'Rasulallah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
قال رسول الله r : «احفروا وأوسعوا وأحسنوا». [ رواه ابن ماجه ].
"Galilah kubur (untuk mayat kalian), jangan terlalu sempit dan berbuat baiklah padanya".[27]
     Dan dalam riwayat yang lain, masih dari beliau, ia mengatakan: 'Rasulallah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
قال رسول الله r : «احفروا, وأعمقوا, وأحسنوا» [ رواه النسائي ].
"Galilah kubur (untuk mayat kalian), yang dalam dan berbuat baiklah padanya".[28]
  1. Tidak meninggikan makamnya terlalu berlebihan.

      Sebagaimana adanya larangan untuk mendirikan bangunan diatas kubur. Berdasarkan sebuah hadits dari Abul Hayyaj al-Asadi, dia bercerita: 'Ali bin Thalib pernah berkata kepadaku: "Maukah engkau aku utus untuk menunaikan tugas sebagaiman aku dahulu pernah diutus oleh Rasulalla shalallahu 'alaihi  wa sallam untuk menunaikannya? Yaitu, Janganlah engkau membiarkan satu patung pun melainkan engkau menghancurkannya, dan tidak pula mendapati satu makam yang menonjol[29] melainkan engkan meratakannya".[30]
     Dalam suatu riwayat, dari Tsumamah bin Syufayy, beliau menceritakan: 'Dahulu kami pernah bersama Fadholah bin Ubaid radhiyallahu 'anhu, di negeri Romawi -Burdus-, disana teman kami meninggal, maka Fadholah menyuruh kepada kami agar tidak meninggikan kuburnya, lantas beliau berhujah sambil mengatakan: 'Aku pernah mendengar Rasulallah shalallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan untuk meratakan makam'.[31]
  1. Tidak membangun serta memperbagusi makamnya.

      Seperti yang ditegaskan dalam haditsnya Aisyah radhiyallahu 'anha, dari Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam, dia bercerita, Rasulallah pernah bersabda ketika beliau sakit yang menyebabkan kematiannya:

قال رسول الله r : «لعن الله اليهود والنصارى اتخذوا قبور أنبيائهم مسجدا»  [ رواه البخاري ]
"Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nasrani. Mereka telah menjadikan kuburan para Nabinya sebagai tempat ibadah".
      Aisyah mengomentari: 'Kalau seandainya bukan karena takut laknat tersebut, niscaya kuburan beliau ditempatkan di tempat terbuka, hanya saja beliau takut kuburannya akan di jadikan sebagai masjid'.[32]
      Dan dari Jabir radhiyallahu 'anhu, ia berkata: 'Rasulallah shalallahu 'alaihi wa sallam melarang untuk memperbagusi makam, duduk-duduk di atasnya serta membangun makam tersebut'.[33]
  1. Tidak menguburnya di pemakaman orang-orang kafir atau di tempat-tempat kotor yang tidak layak. Sebagaimana kita dilarang untuk berlebih-lebihan didalam pemakamkannya demikian juga kita dilarang untuk menyepelekan jenazahnya.





Amalan Kesembilan Belas
Menurunkan jenazahnya sesuai dengan sunah Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam
    Ada beberapa amalan sunah yang dianjurkan untuk dikerjakan manakala kita menurunkan jenazah ke dalam liang lahat, di antaranya ialah:
1.     Disunahkan bagi orang yang menurunkan jenazah bukan orang yang malamnya sehabis berhubungan dengan istrinya.

     Hal itu berdasarkan sebuah hadits, dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, ia bercerita: 'Kami pernah mengiringi jenazah anak perempuannya Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam. Tatkala sampai dipemakaman beliau berdiri disisi kubur, dan aku melihat kedua mata beliau berlinang. Sambil menanyakan: 'Apakah ada diantara kalian seseorang yang semalam tidak habis berkumpul bersama istrinya? Maka Abu Thalhah menyahut, aku ya Rasulallah. Beliau lalu menyuruh untuk turun, lantas Abu Thalhah turun menerima jenazah tersebut'.[34]


2.     Membaca do'a.

     Do'anya ialah, seperti dalam haditsnya Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, bahwa Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam biasanya apabila menurunkan jenazah ke dalam kubur, beliau terkadang membaca do'a:
«بسم الله وبالله وعلى ملة رسول الله»
"Dengan menyebut nama Allah dan diatas agama Rasulallah".
Dan terkadang beliau membaca do'a:
« بسم الله والله وعلى سنة رسول الله r » [ رواه الترمذي ] .
"Dengan menyebut nama Allah dan mengikuti sunah Rasulallah".[35]







Amalan Kedua Puluh
Ikut serta mengubur jenazahnya

      Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulallah shalallahu 'alaihi wa sallam pernah menyolati jenazah, kemudian beliau ikut serta mengiringi sampai dikuburan, lalu ikut bergabung mengubur dengan menaburkan tanah sebanyak tiga kali di atas kepalanya'.[36]



[1] . Dikeluarkan oleh Ahmad dalam Musnadnya dan al-Baihaqi dalam Sunannya. Lihat Shahihul Jami' 1/113 no: 278.
[2] . Hadits Shahih, dalam Shahih Mawarid adh-Dhamaan ilaa Zawaaid Ibni Hiban 1/332 no: 624.
[3] . HR Bukhari 2/400 no: 1315.
[4] . Lihat dalam Shahih Sunan an-Nasa'i 2/412 no: 1804.
[5] . HR Muslim 4/1360 no: 2162.
[6] . Hadits Shahih, dalam Shahih an-Nasa'i 2/418 no: 1832.
[7] . Dirwayatkan oleh Abu Ya'ala didalam Musnadnya, dan Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad. Lihat Silsilah ash-Shahihah 4/636 no: 1981.
[8]. Hadits shahih dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi 1/300 no: 821.
[9] . HR Muslim 2/545 no: 948.
[10] . Shahih Sunan Ibni Majah 1/249 no: 1209.
[11] . HR Muslim 2/545 no: 948.
[12] . Shahih Sunan Ibni Majah 1/249 no: 1210.
[13] . Hadits shahih dalam Shahih Mawarid adh-Dhamaan lii Zawaaid Ibni Hibban 1/333 no: 626.
[14] . HR Muslim 2/552 no: 963.
[15] . Shahih Sunan an-Nasa'i 2/528 no: 1877.
[16] . Shahih Sunan Abi Dawud 2/617 no: 2742.
[17]. HR Bukhari 1/401 no: 1321.
[18] . Shahih Sunan Ibni Majah 1/255 no: 1239.
[19] . Shahih Sunan Ibni Majah 1/256 no: 1244.
[20] . Dikeluarkan oleh Daruquthni di dalam Sunannya. Lihat Silsilah ash-Shahihah 1-7/67 no: 3031.
[21] . HR Bukhari 1/404 no: 1328.
[22] . Shahih Sunan Ibni Majah 1/256 no: 1248.
[23] . Dikeluarkan al-Hakim dan al-Baihaqi. Lihat dalam kitab Ahkamul Janaiz karya al-Albani hal: 51 no: 30.
[24] . Shahih Sunan Ibni Majah 2/1261.
[25] . Nihayah fii Ghoribil Hadits wal Atsar oleh Ibnu Atsir 4/236.
[26] . Aunul Ma'bud karya al-Adhim Abadi 9/25.
[27] . Shahih Sunan Ibni Majah 1/260 no: 1266.
[28] . Shahih Sunan an-Nasa'i 2/432 no: 1899.
[29] . Yang dimaksud disini ialah meratakan bangunan yang terlalu berlebihan diatasnya, sehingga tidak ada pertentangan antara hadits ini dengan apa yang ditegaskan didalam Sunah mengenai disyari'atkannya peninggian tanah makam sekitar satu atau dua jengkal, supaya makam tersebut berbeda dengan tempat lainnya sehingga bisa terpelihara dan tidak diabaikan. Pent. Lihat kitab Tahdziru Saajid min Itikhad al-Qubur al-Masaajid karya al-Albani hal:100.
[30] . HR Muslim 2/555 no: 969.
[31] . HR Muslim 2/555 no: 968.
[32] . HR Bukhari 2/404 no: 1330.
[33] . HR Muslim 2/556 no: 970.
[34] . HR Bukhari 2/391 no: 1285.
[35] . Shahih Sunan at-Tirmidzi 2/306 no: 836.
[36] . Shahih Sunan Ibni Majah 1/261 no: 1271.
Posting Komentar