Senin, 13 Mei 2013

Kisah Tamim ad-Dari Tentang Jasasah


Kisah Tamim ad-Dari Tentang Jasasah
Dari Amir bin Syaraahil asy-Asya'bi, bahwasannya beliau pernah bertanya kepada Fatimah binti Qais saudaranya Dhahak bin Qais.
Fatimah binti Qais adalah seorang shahabiyah yang ikut hijrah pada masa-masa pertama. Rawi mengatakan: 'Ceritakan padaku sebuah hadits yang engkau dengar langsung dari Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam, yang tidak engkau sandarkan pada orang lain. Maka beliau mengatakan: "Kalau sekiranya itu yang kamu ingin, pasti akan ku lakukan". Tentu, ceritakan hadits tersebut, jawab saya.
Beliau lalu bercerita: "Dulu Saya pernah menikah dengan Ibnu Mughirah, dia adalah seorang pemuda pillihan di kalangan Quraisy pada saat itu, kemudian dia meninggal pada jihad pertama bersama Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa salam.
      Ketika suami pertamaku sudah meninggal, kemudian datanglah Abdurahman bin Auf meminangku, beliau termasuk sahabatnya Nabi, setelah itu datanglah Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam meminangku untuk budaknya Usamah bin Zaid, dan saya pada waktu itu pernah mendengar sabda Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang mengatakan; "Barangsiapa yang mencintaiku maka cintailah Usamah". Tatkala beliau datang mengutarakan maksudnya, maka saya katakan padanya: "Keputusannya saya serahkan padamu. Nikahkan saya dengan siapa yang engkau inginkan".
Beliau menyuruhku untuk menyempurnakan masa iddah, sabdanya: "Tinggallah dirumah Ummu Syarik". Dan Ummu Syarik adalah seorang saudagar yang kaya raya, beliau dari kalangan Anshar, dan beliau sering berinfak di jalan Allah Shubhanahu wa ta’alla. Sehingga banyak orang yang sering mendatangi dia, dan pada saat itu ada dua orang yang sedang berada dirumahnya. Maka saya setujui perintah Rasulallah Shalallahu alihiawa sallam, saya akan lakukan, kata saya.
Namun beliau segera meralat perintahnya, lalu mengatakan: "Jangan, sesungguhnya Ummu Syarik banyak kedatangan tamu, dan saya tidak senang kalau sekiranya khimarmu jatuh, atau terbuka bajumu, sehingga ada orang yang melihat sebagian anggota tubuhmu yang tidak kamu senangi, akan tetapi pergilah ketempat pamannya, Abdullah bin Amr bin Ummi Maktum –beliau adalah seorang dari Bani Fahr dari Quraisy, dan dia masih satu keturunan dengan Ummu Syarik-". Maka saya pun ketempatnya.
Manakala sudah selesai masa iddahku, saya mendengar ada suara keras dari muadzin Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam yang memanggil; 'Sholat Jami'ah'. Maka saya segera keluar rumah menuju masjid, lalu sholat bersama Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan saya berada di antara barisan shaf kalangan wanita, yang berada di belakang kaum lelaki.
Tatkala Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam telah usai sholatnya, lalu beliau berdiri naik mimbar sambil tersenyum, lantas bersabda: "Hendaknya setiap orang duduk ditempatnya masing-masing, kemudian mengatakan: "Tahukah kalian kenapa kalian saya kumpulkan? Allah Shubhanahu wa ta’alla dan Rasul -Nya yang lebih tahu, jawab kami.
Beliau memberi alasannya: "Sesungguhnya, demi Allah. Tidaklah Aku kumpulkan kalian untuk memotivasi tidak pula untuk menakuti, akan tetapi aku kumpulkan kalian ditempat ini karena saudara kalian Tamim ad-Daari, dia adalah seorang Nashrani, yang datang kepadaku berbaiat dan menyatakan keislamannya. Dia menceritakan padaku sebuah kisah yang serasi sekali dengan apa yang pernah aku ceritakan pada kalian yaitu tentang Al-Masih dan Dajjal.
Dia menceritakan, bahwasanya dirinya pernah bersama rombongan, jumlahnya tiga puluh orang naik sebuah kapal, lalu kapal yang ditumpanginya terombang-ambing terbawa ombak yang dahsyat selama satu bulan. Kemudian mereka terdampar pada sebuah pulau tatkala matahari akan tenggelam, mereka duduk ditepi pantai dekat dengan kapal, lantas mereka memutuskan untuk masuk kepulau tersebut. Mereka bertemu dengan seekor binatang besar yang tubuhnya penuh dengan rambut, sampai-sampai mereka tidak bisa membedakan mana ekor dan kepalanya. Di karenakan begitu banyaknya bulu yang menutupinya.
Mereka berbicara pada binatang tersebut; 'Celaka! Apa kamu ini? Binatang tersebut menjawab: 'Saya adalah Jasaasah'. Apa Jasaasah itu?, tanya kami. Wahai manusia! Pergilah kalian ke orang yang ada didalam gua, dia akan memberitahu tentang apa yang kalian tanyakan, jawab binatang tersebut.
Nabi melanjutkan: "Tatkala ia memberi tahu nama orang tersebut, maka kamipun takut dan mengira, jangan-jangan dia adalah setan. Kemudian dengan segera kami pergi bersama-sama ketempat yang diisyaratkan tadi, sampai akhirnya kami memasuki sebuah gua, maka didalamnya kami menjumpai wujud insan yang sangat besar yang belum pernah kami lihat ada manusia sebesar itu sebelumnya, ia diikat dengan rantai yang sangat kuat, tangannya terikat dibelakang leher, demikian pula kedua lututnya dengan rantai besi. Kami memberanikan diri untuk bertanya: "Celaka! Siapakah kamu? Ia justru balik bertanya: "Saya akan buka identitas saya, akan tetapi kabarkan siapa kalian ini? Kami adalah kaum dari Arab, jawab kami.
Lalu kami ceritakan, kami naik sebuah kapal menyeberangi lautan nan luas, ditengah laut badai turun, sehingga kapal kami dilempar ombak kesana kemari selama satu bulan, kemudian akhirnya kami terdampar dipulaumu ini, lalu kami duduk di dekat kapal kami, dan memutuskan untuk masuk kepulau, disana kami bertemu dengan seekor binatang yang besar dan berbulu banyak, sehingga kami tidak tahu mana kepala dan ekornya, karena bulu yang begitu banyaknya, lantas kami tanya: "Celaka! Apa kamu ini? Ia menjawab: "Saya adalah Jasaasah". Siapa Jasaasah, tanya kami kembali. Lalu ia menjawab: "Mendekatlah kepada orang itu, yang ada di dalam gua. Sesungghnya ia akan memberitahu kalian". Lalu kami segera datang kemari, kami sangat kaget dengan binatang tersebut, sampai diantara kami mengira dia adalah setan.
Orang tersebut masih bertanya lagi: "Kabarkan padaku tentang kebun kurma Baisaan". Untuk apa kamu bertanya tentangnya, tanya kami heran. Saya bertanya pada kalian tentang pohon kurmanya, apakah ia telah berbuah, jawabnya. Kami jawab; 'Ya', kemudian ia berkata: "Ketahuilah, sesungguhnya kebun itu akan segera tidak berbuah".
Dia bertanya lagi: "Kabarkan padaku tentang danau Thabariyah". Kami menjawab: "Untuk apa kamu bertanya tentangnya". Ia justru bertanya: "Apakah masih ada airnya? Ya, sangat banyak airnya, jawab kami, lalu ia berkata: "Adapun airnya, sungguh nanti pasti akan segera habis".
Dia bertanya: "Kabarkan padaku tentang mata air Zughar". Kami bertanya: "Untuk apa kamu bertanya tentangnya? Ia bertanya lagi: "Apakah disumbernya masih ada air, apakah penduduk sekitar masih bercocok tanam dengan air dari sumber tersebut? Kami menjawab: "Ia, dan darinya banyak sekali air yang mengalir, dan pendudukpun mengairi tanaman dari sana".
Dia bertanya kembali: "Kabarkan padaku tentang seorang Nabi umi (yang tidak bisa baca tulis), apa yang sedang dilakukan? Kami menjawab: "Dia telah datang dari Makkah kemudian hijrah ke Yatsrib". Apakah orang-orang Arab telah memeranginya, tanyanya. Ya, jawab kami. Apa yang dilakukan olehnya atas mereka?
Lalu kami beri tahu tentang Nabi tersebut, tentang agama yang dibawanya serta para pengikutnya dari Arab yang mentaatinya. Dia bertanya; 'Apakah demikian adanya? Kami jawab: 'Ia'. Kemudian dia berkata: "Adapun mereka yang mengikuti serta mentaatinya maka itu merupakan kebaikan baginya. Sekarang saya akan beritahu kalian sejatiku, sesungguhnya saya adalah al-Masih. Sungguh saya takutkan atas kalian, sebentar lagi Allah Shubhanahu wa ta’alla mengizinkan saya untuk keluar. Jika saya keluar maka saya akan mengelilingi bumi, tidak akan saya tinggalkan sebuah kampungpun pasti saya akan singgahi, selama empat puluh hari, melainkan kota Makkah dan Thaibah. Kedua kota itu terlarang bagiku, karena setiap kali aku ingin memasukinya, sekali atau dua kali, ada seorang malaikat yang membawa pedang terhunus menghadangku, lalu mengusirku dari sana. Dan sesungguhnya setiap sudut dua kota tersebut dijaga oleh para malaikat.
Berkata Fatimah, yang menceritakan hadits ini: "Bersabda Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam, sambil menekan tongkatnya di mimbar: "Inilah Thaibah, sebanyak tiga kali, maksudnya adalah Madinah.
Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Ketahuliah, apakah saya telah ceritakan semuanya atas kalian? Para sahabat menjawab: "Ya", sesungguhnya menakjubkan bagiku cerita Tamim itu, bahwasannya ceritanya sepadan dengan cerita yang aku kisahkan pada kalian, tentang Madinah dan Makkah. Ketahuilah, bahwa Dajjal itu berada dilautan Syam atau dilautan Yaman, dan dia akan keluar dari arah timur, dia akan keluar dari arah timur, dia akan keluar dari arah timur". Beliau mengatakan itu sambil mengisyaratkan tangannya kearah timur.
Fatimah binti Qais mengatakan: "Sungguh saya hafal hadits ini dari Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam".
Hadits ini Shahih, dikeluarkan oleh Imam Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan selain mereka.


Poskan Komentar